Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Categories:
Fandoms:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2017-07-02
Words:
1712
Chapters:
2/?

Mawar Liar dan Duri-Duri

Entire Work

Work Text

Ckrek!
Di tengah belantara hutan tropis, di bawah terik matahari, suara jepretan kamera menyaingi lagu-lagu kawanan burung dan serangga di pohon.
Ckrek!
Hampir setengah jam lamanya, Hikaru belum lelah memotret gadis asli Vietnam itu.Selama bekerja sebagai fotografer perang, tidak pernah dia seantusias ini.
Ckrek!
Sudah berapa puluh gambar yang diambilnya? Hikaru tak peduli. Dia terus memotret dari berbagai sisi—ah, dari sisi manapun juga, Princess (demikian si gadis sering dipanggil) tetap memesona. Kiri, kanan, depan, belakang. Dekat maupun jauh. Apa pun yang dimilikinya selalu indah di mata pemuda berdarah Amerika-Jepang itu. Rambut hitam lurus panjang yang diikat dua, kadang terurai lembut oleh embus angin, beriringan dengan bisik dedaunan pohon. Gaun tradisional Ao Dai merah jambu dengan celana hitam selutut nampak serasi menutupi kulit polosnya.Wajah itu. Tatapan mata dan senyuman seteduh mega-mega di langit fajar.“Berjumpa dengan seorang dewi” rasanya bukan suatu ungkapan yang berlebihan bagi Hikaru.Gerak demi gerik gadis itu ditangkapnya lewat lensa kamera dengan saksama. Tak boleh ada sedikit pun yang terlewat.Ketika Princess sedang mencuci pisau goloknya dari bercak darah, lalu membasuh kaki dan tangannya di danau hingga rambutnya menyentuh permukaan air. Ketika dengan lincahnya dia memanjat pohon untuk memetik buah. Ketika dia menengadah, menikmati angin sepoi-sepoi sembari bersenandung. Sesekali helai rambut serta lipatan sutra pada gaunnya mengayun, dan kaki-kaki jenjangnya yang tanpa alas menggesek tanah, membuat pola gerakan tertentu.“Kau... mau menari? Tidak apa-apa. Jangan malu-malu. Menarilah,” kata Hikaru ramah. Dia membiarkan gadis itu melakukan apapun yang dimau. Tentu, seorang fotografer yang handal tak boleh membuat modelnya tertekan atau merasa dipaksa. Di sini, justru kebebasan si model itulah yang menjadi nilai seni utama. Bebas, alami, tanpa dibuat-buat.Selain itu, sikap Princess yang tenang begini, adalah pertanda bahwa daerah hutan yang ditempati mereka aman dari intaian musuh.Di tengah situasi panas Perang Vietnam seperti sekarang, jatuh cinta pada gadis Viet Cong jelas memberi dilema tersendiri pada Hikaru—yang masih berstatus sebagai warga negara Amerika Serikat. Dia sadar, kemungkinan untuk bertemu apalagi berdekatan dengan Princess sangatlah kecil. Princess lebih banyak bersembunyi, bersiaga di titik-titik tertentu untuk menyerang tentara-tentara Amerika Serikat. Maka sekalipun bisa bertemu, bukan tidak mungkin Hikaru akan dibunuhnya juga.Tapi apa mungkin Princess punya niat untuk membunuh Hikaru, sementara saat ini dia terlihat nyaman di dekatnya?Sudahlah. Yang pasti, Hikaru sangat menghargai kesempatan langka ini.Tarian kecilnya selesai. Princess berbalik menghadap Hikaru. Menatapnya lekat-lekat.Detak jantung Hikaru meningkat.Perlahan Princess berjalan, semakin dan semakin dekat pada kamera.Detail wajah yang seperti ini terlalu berharga untuk dilewatkan.
Ckrek! Ckrek! Ckrek!
Eh?Isi filmnya habis. Sial!Begitu menurunkan kamera, Hikaru tersentak. Princess duduk berlutut tepat di hadapannya, tersenyum.Dari jarak tiga inci, mereka saling pandang. Waktu dan bunyi angin serasa terhenti.
“Chu~”
Kecupan kecil hinggap pada pipi kanan Hikaru.Satu-satunya momen terbaik yang tak sempat ditangkap kamera.Entah sudah semerah apa wajahnya sekarang.Princess tertawa geli—tawa khasnya sejernih denting genta angin....(Sebenarnya, sedari tadi Princess ingin melihat wajah Hikaru tanpa terhalang kamera.)* * *

----- CHAPTER BREAK -----

Selangkah demi selangkah. Melompati akar-akar pohon dan ilalang. Pada tanah yang agak berlumpur, jejak sepatu si pemuda yang setengah berlari, lebih tampak jelas ketimbang jejak kaki si gadis yang berjalan santai dengan pijakan ringan.Bila ada mata-mata yang tengah mengintai muda-mudi itu sekarang, pasti mereka bingung, apa mereka sedang bermain kejar-kejaran atau petak umpet. Mungkin dua-duanya?Setiap sekian langkah sekali, atau tiap kali berpapasan dengan pohon besar, Hikaru berhenti dan bersembunyi. Sembari berusaha mengendalikan napas dan detak jantung yang terpompa cepat lantaran senang tak tertahan, dia sesekali mengintip.Ah! Princess masih berdiri tenang di sana. Memandangi dedaunan pada ranting-ranting pohon, atau memeriksa apakah pohon-pohon pisang di sebelah sana sudah berbuah atau belum. Yang jelas, dia tak merasa terancam atau takut diikuti orang asing.Tentu saja tidak. Dia sudah tahu. Dirinya sedang dikejar diam-diam, dan yang mengejarnya pun bukan lagi orang asing baginya.Ini hanya permainan. Yang satu berpura-pura menjadi “mangsa”, yang satunya lagi berperan sebagai “pemburu”.(Benar. Mereka sedang bertukar peran. Sangat bertolak belakang dengan peran mereka yang sesungguhnya.)Princess tersenyum, memberi kode—sengaja memancing siapa pun yang mengejarnya, sebelum berjalan cepat menyusupi barisan pepohonan. Hikaru, dengan cengiran lebar, keluar dari persembunyian dan mengekorinya.Mereka nampak menikmati peran baru masing-masing. Tak heran. Pada dasarnya perempuan senang dikejar—bila tidak sampai diperebutkan. Sedangkan lelaki, sebagai ‘predator’ alami, tak akan segan mengerahkan segenap tenaga demi menangkap mangsanya.Di satu saat, Hikaru hampir dimakan oleh mangsanya sendiri.Karena lumpur pada sol sepatunya semakin menebal, dia kesulitan untuk berhenti berlari, bahkan hampir- terpeleset. Dia hendak bersembunyi pada batang pohon di sebelahnya, setelah melihat Princess berhenti di satu titik. Tapi Hikaru gagal. Princess sudah berbalik badan sebelum dia sempat sembunyi.Kena, deh.Hikaru tertawa menahan malu. Princess tertawa geli dan menjulurkan lidah, memecundangi si pemburu yang kalah telak.Menang kalah tidak penting. Yang penting, Hikaru bisa menahan gadis Vietnam itu di kawasan hutan, yang dekat dengan tempat Tim Lawrence dan kawan-kawan seregunya berkumpul. Tinggal sedikit lagi maka Tim bisa bertemu dengan Princess. Entah apa yang akan mereka lakukan padanya. Kalau hanya untuk memperoleh informasi tentang kelompok Viet Cong, menahannya tanpa siksaan pun sudah cukup, bukan? Hikaru tak dapat berbuat apapun selain menuruti perintah, jadi dia hanya bisa berharap begitu.Di samping itu, Hikaru tak akan melupakan momen-momen ini begitu saja. Jarang sekali dia bisa bermain sedekat dan seakrab itu dengan gadis idamannya. Sayang, kameranya baru saja rusak dua minggu yang lalu.Padahal wajah Princess yang mengejeknya tadi itu lucu. Lucu sekali. Kalau boleh, Hikaru ingin mencubit pipi itu dengan gemasnya.Baiklah. Ronde berikutnya. Hikaru bersembunyi lagi, menunggu Princess berpindah ke tempat lain dan—Wah. Suara gemericik itu...Hujan turun lagi.Hikaru langsung menepi, berteduh di bawah pohon. Dasar sial. Semestinya dia memperhatikan instruksi Tim sewaktu menjelaskan cara-cara memprediksi cuaca harian. Terlebih, iklim tropis di Vietnam kerap kali sulit ditebak—kadang panas menyengat, kadang hujan deras. Untuk lebih mudahnya, dengan kondisi tanah yang becek pun seharusnya dia sudah tahu tentang frekuensi hujan di hari-hari terakhir.Lelaki itu mulai bersin-bersin. Tubuhnya memang rentan terhadap cuaca dingin atau basah.Lalu di mana Princess—oh, dia masih di sana. Di bawah dua pohon tinggi. Berbeda dengan Hikaru, dia hanya berdiri diam, tanpa usaha untuk berlindung, mencari tempat berteduh dan sebagainya.Dia menghadap langit. Matanya berpejam khusyuk, seolah berterima kasih pada Dewa atas rahmat hujanNya.Hujan kian deras. Hikaru masih memandangi gadis itu, antara terpesona dan was-was.Princess membiarkan hujan membasahi wajah, baju, dan rambut hitamnya yang panjang dan berkilau. Kaki-kaki telanjangnya dipenuhi cipratan lumpur.Tiba-tiba pandangan khidmatnya menggelap, terhalang oleh selembar daun pisang yang lumayan lebar. Princess menoleh ke kiri.“Jangan berdiri di situ terus.” Hikaru berjinjit, setinggi mungkin mengangkat daun pohon pisang yang ditemukannya untuk memayungi Princess. Dahinya mengerut, khawatir sekaligus menahan dingin yang merasuki tulang. “Kau bisa sakit nanti. Ayo kita berteduh d-di... ah... achoo!”Princess menatap heran pada Hikaru yang sama-sama basah kuyup. Lelaki ini mau memayungi orang lain sementara dirinya sendiri menggigil begitu?Sepertinya payung daun ini tidak cukup lebar. Hujan masih bisa mengguyuri sebelah tubuh gadis itu. Aku harus apa? Hikaru bingung.“Sebentar, ya.”Dia mencari benda lain yang lebih besar dari daun pisang tadi, tak begitu jauh dari tempat Princess berdiri. Tak sampai lima menit kemudian, dia kembali dengan sebuah kain terpal kedap air. Pasti bekas tentara lain berkemah. Tidak terlalu besar, tapi kiranya cukup untuk menyelimuti satu orang.“Ini,” Hikaru memakaikan kain tebal itu sebagai jubah alternatif untuk Princess. “Bagaimana? Kau suka? Cukup hangat, ‘kan? Maaf, cuma itu yang kutemukan.”Princess mengamati kain yang melindunginya, meraba ujungnya. Lalu pandangannya kembali pada Hikaru. Pemuda itu masih berdiri di depannya, melindungi diri hanya dengan dua tangan yang memeluk dada sendiri. Tersenyum tanpa pamrih, walau embus napasnya memberat, hidung memerah, dan badan gemetar hebat.Tatapan gadis itu agak datar, namun penuh makna—bukan iba.“Brr...” Hikaru berbalik, hendak mencari jalan kembali ke tempat Tim dan kawan-kawan. “Sudah, ya. Jaga dirimu baik-baik.”Sebelum lelaki itu memalingkan muka, Princess membuka sisi kiri kain yang dikenakannya, menyisakan ruang kosong yang cukup untuk satu orang lagi. Dia tersenyum, memiringkan kepala dan mengangguk.Dia mengajak Hikaru ikut berteduh bersamanya. Di bawah kain terpal, berdua.Hikaru terkesima. Tidak ada waktu untuk menolak.“Te-terima kasih.”Menunggu hujan reda. Keduanya bertahan di tengah hutan, di bawah deru hujan bergemuruh.Mereka hampir harus berpelukan untuk menyesuaikan tubuh dengan kain payung darurat. Andai flu tidak mulai menjangkiti, Hikaru pasti sudah merasakan hangat tak karuan karena bisa menempel sedekat itu pada Princess.  Tapi kini dia lebih sibuk menggosok-gosokkan tangan pada tubuh untuk menghangatkan -diri. Sementara itu Princess menengok ke atas, memastikan kapan kiranya hujan akan reda.Sejenak Princess memandang pemuda di sebelahnya, cukup lama. Memperhatikan betapa dia kesulitan oleh tindakannya sendiri.Tapi semenderita apa pun kelihatannya, tidak ada sesal pada otot wajah Hikaru. Bahkan dia beberapa kali tersenyum pada gadis itu.Bisa saja tindakan Hikaru ini adalah bentuk dari balas budi, setelah Princess berkali-kali menyelamatkannya di ambang kematian.Tapi Princess merasakan kenyamanan yang aneh. Rasa aman yang belum pernah dia rasakan bersama lelaki manapun.Dia merasa terlindungi—rasa yang berbeda dengan ketika dia bersama sang nenek yang membesarkan dan melatihnya selama sebelas tahun.Pemuda ini tidak lebih kuat dari petarung-petarung yang pernah ditemuinya. Jauh lebih lemah, malah. Tapi dengan kemampuan yang seadanya, dia bertekad kuat melindungi orang yang disayangi sepenuh hati.Tekad, serta ketulusan, yang jarang dimiliki kebanyakan orang. Terutama di masa-masa seperti ini, di mana orang-orang serakah semakin berkuasa.Orang lemah yang memiliki kekuatan tersembunyi. Pribadi semacam inilah yang Princess cari. Karena jauh di lubuk hatinya, dia sadar akan kodrat dirinya sebagai perempuan. Sebesar apa pun kekuatan yang dia punya, dia tetap membutuhkan pendamping. Teman hidup yang mampu melengkapi kelemahan dalam jiwanya yang (sebenarnya) rapuh.Princess sudah menemukannya.Bahkan sejak pertemuan pertama mereka di Sai Gon, Princess tahu. Dia tidak salah memilih.Dia tersenyum sumringah. Kagum—bukan. Lebih dari itu.Sesaat dia menarik ujung kain pada sisi tubuh Hikaru, membiarkan lelaki malang itu mendapat bagian kain lebih besar untuk melindungi diri.Hikaru hanya terkekeh. Pipi sudah sama merahnya dengan hidung.Pandangan keduanya saling bertaut di bawah rinai hujan.Hawa hangat memeluk mereka. Setidaknya sampai hujan mereda, kurang dari setengah jam kemudian....Akhir tahun 1965.Keduanya mulai saling mengenal satu sama lain.Penghancuran dan pertikaian terus bergulir. Namun ruang hati si pemuda sudah terlalu penuh oleh bayang-bayang si gadis.Akan selalu ada hadiah tak terduga bagi kesatria pemberani, yang mampu menaklukan mawar liar dan duri-durinya. Termasuk, memliki mahkota mawar itu seutuhnya.* * *

↑ Top · Fandoms