Work Text
Shinrei POVKetika menemukannya…, aku rasa, aku sempat berhenti bernafas, berhenti bergerak, berhenti berpikir. Tubuhku kaku dan terus terdiam memandangnya. Tangisan bayi, tubuh wanita yang tercincang, serta…, setengah adikku yang terlumur luka dan darah.“KEIKOKU!” Pekikku tak lama setelah terdiam. Aku langsung menghampiri setengah adikku. Wajahnya berlumur darah, matanya terpejam, mulutnya setengah terbuka. Aku kembali menahan nafasku. Tubuhnya…, dingin. Ini tidak mungkin!Seandainya saja aku tidak mengabaikan perintah Yuan untuk mencarinya sejak tiga bulan lalu, aku tidak akan menemukannya dalam keadaan seperti ini. Sial…, bagaimana pun bencinya aku pada anak ini…, anak ini tetap adikku satu-satunya. Sial, sial….“Ja, ngan…, diam…, saja….” Aku angkat kepalaku. Kelopak mata yang tertutup itu terbuka perlahan, sangat lemah. “To, longlah…, Kei….”dan dia kembali tergolek.“KEIKOKU!!!” Pekikku panik. Aku memandang seorang bayi yang terus menangis, yang posisinya tadi memang dilindungi oleh adikku. Aku membaringkan adikku di pangkuanku, lalu menggendong bayi mungil itu. Menyelimutinya dengan jubahku dan memeluknya. Aku membuat naga air kecil dan segera melesatkannya, mencari bala bantuan.~…~…~…~Normal povAkari menghembuskan nafasnya, lelah jelas terlihat dari wajah cantik bak perempuan miliknya. Setelah hampir 3 jam berkutat dengan hidup atau matinya pasien yang ditanganinya, Akari akhirnya berhasil menyelamatkan nyawa sang pasien. Akari menggelengkan kepalanya, mengusir rasa pusing akibat terlalu lama melihat darah. Akari keluar dari ruangan dan memandang kerumunan orang di sana. Keluarga Yuan dan Shinrei…, keluarga sang pasien.“Nyawa Hotaru selamat. Hebat juga perempuan itu, bisa menyiksa samurai hebat seperti Hotaru. Dia pasti tahu kelemahan Hotaru dan memanfaatkannya.” Ucap Akari seraya duduk di kursi tunggu. Ia memegang kepalanya.“Kelemahan Hotaru? Dirinya yang cepat naik darah itu?” Tanya Shinrei.“Dirinya yang buta arah itu?” Tanya Yuan menimpali.“Bodoh. Bukan kelemahan sebagai seorang samurai! Tapi, kelemahannya sebagai seorang ‘Hotaru’.” Ucap Akari.“Perempuan?” Tanya Anna.“Bukan! Tapi….”“Pemerkosaan?” Tanya Anthony. Akari terdiam dan mengangguk. Seluruh keluarga Yuan termasuk Shinrei ikut memandang Anthony. “Aku pernah dengar, banyak selir di mulai dari ‘pemerkosaan’. Dan dari cerita Keikoku sendiri, ibunya adalah selir ayah Shinrei, kan? Makanya, aku cuma menebak.”“Ta, tapi Keikoku laki-laki…, mana mungkin….”“Sayangnya, laki-laki sekarang juga bisa menjadi korban pemerkosaan.” ucap Akari memotong ucapan Yuan. Akari menghembuskan nafasnya. “Saat penyamaranku menjadi wanita untuk mengenal lebih dalam dunia wanita…, aku pernah bertemu dengan sekumpulan wanita haus sex. Mereka akan melakukan apa saja demi memuaskan nafsu birahinya, termasuk menculik seorang pemuda dan memaksa pemuda itu menyetubuhinya. Meski memang kumpulan wanita itu tidak banyak.”“..., jadi…, bayi ini….” angelica mengangkat sedikit bayi yang sudah bersih dan sedang tertidur. Akari mengangguk lagi.“Mungkin memang anak Hotaru. Wanita seperti mereka hanya haus sex, setiap anak yang dikandungnya pasti dibunuhnya. Hotaru pasti mati-matian menjaga anak itu, hingga bisa lahir seperti itu.”“Lalu membunuh wanita itu, tanpa belas kasihan.” ucap Shinrei. “Tapi, kekuatan Keikoku saat itu sudah habis sehingga mungkin hanya bisa melakukan tebasan saja.”“Benar juga, perempuan itu terlihat hanya tercincang, tidak terbakar.” ucap Yuan.“Tapi aku akan tetap memeriksanya nanti.” ucap Akari seraya mengedipkan matanya.~…~…~…~“Aku tak menyangka si muka besi itu mau punya anak juga.” ucap Akira seraya menempelkan tangannya di dagu dan tersenyum penuh makna.“Benar. Aku pikir dia akan langsung membunuhnya bersama wanita gila itu.” ucap Bontenmaru yang bergidik membayangkan rupa wanita yang berani memperkosa Hotaru.“Ternyata dia berubah juga.” ucap Akira sembari menghembuskan nafas dengan ekspresi tidak rela. Bontenmaru melipat tangannya dan memandang langit-langit.“Hotaru itu…, mungkin tidak ingin menjadi sama seperti ayahnya.” ucap Sakuya seraya meletakan nampan berisi dua gelas teh dan sepiring kudapan.“Apa maksudmu?” tanya Kyo.“Hotaru mungkin merasa, bayi itu sama seperti dirinya. Saat dikandungan ibunya.” ucap Yuya. “Bagi Hotaru…, Hanya nasib baik yang membuatnya dapat terlahir di dunia dan terus bertahan hidup sampai sekarang. Mungkin…, dia tahu kalau bayi itu tidak akan mendapat nasib baik yang sama seperti dirinya. Makanya, dia yang harus memberinya nasib baik. Aah…, itu hanya menurutku saja kok!”“Yuya benar. Aku juga merasa Hotaru memang seperti itu.” ucap Kyoshiro sembari menuangkan sake pada Kyo.“Sudahlah, besok kita bisa menanyakannya langsung.”~…~…~…~Shinrei menyentuh perlahan tangan jari jemari bayi yang sedang tertidur itu. Shinrei baru menyadari satu hal setelah keluarga yuan membersihkan tubuh bayi itu. Bayi itu terlahir cacat. Bayi laki-laki itu hanya memiliki satu tangan. Awalnya Shinrei pikir itu tangan bayi itu putus saat Hotaru mempertahankan kehidupan bayi itu dan melawan wanita itu. Namun, Akari yang merawatnya mengatakan kemungkinan besar sedari dalam kandungan tangan kiri bayi itu tidak tumbuh. Shinrei mengusap lembut jari jemari bayi itu.“K, Kei….” Desah nafas itu menyadarkan Shinrei, ia menggenggam pedangnya dan bersiap membentuk pedangnya. Yang langsung ia urungkan begitu tahu siapa yang datang.“Keikoku!” Shinrei segera mendekati adiknya yang terduduk lemas. Shinrei memandang mata sayu adiknya yang terus mengarah pada bayi itu. Ia menarik nafasnya lalu memanggul adiknya, perlahan mendekati bayi itu.“Kei…, kamu…, baik-baik saja…, kan?” adiknya itu langsung menyentuh pipi mungil bayi itu. Sebuah reaksi kecil dari bayi itu, mengembangkan senyum sang adik. Sang adik menempelkan dua jarinya di kening bayi itu, lalu membacakan sesuatu. Shinrei terkejut, aslinya ia ingin menghentikan tindakan adiknya, tetapi akhirnya ia urungkan. “Segel.”Shinrei terperangah melihat tindakan adiknya, yang menitikkan air mata dan kembali terkulai lemas. Shinrei tahu persis apa yang dilakukan adiknya itu pada bayi itu. Menyengel kekuatan bayi itu. Dengan kekuatan adiknya yang bisa dibilang nyaris mati saat ini, seharusnya ia tidak punya kekuatan lagi untuk menyegel kekuatan anak itu. Shinrei menarik nafas.“Adik bodoh.” ucap Shinrei seraya menggendong adiknya itu dengan gaya bridal. “Nama anak itu Kei, ya. Biar aku tebak…, itu kamu lakukan supaya kau dapat aku panggil ‘Hotaru’, kan?”Shinrei menghembuskan nafas sembari tersenyum, memandang wajah tidur sang adik yang terlihat damai.Setelah mengembalikan adiknya ke kamarnya, Shinrei kembali berjalan menuju tempat perawatan bayi itu. Shinrei tiba-tiba terdiam di depan pintu ruang perawatan bayi itu. “Tunggu, kalau benar Kei adalah anak dari Ke…, Hotaru…, itu artinya…, aku jadi seorang paman?”“Lho? Baru sadar?” Kekeh Yuan. Di kursi yang ada di depan ruang perawatan. Shinrei jatuh terduduk. Terkejut dengan keberadaan Yuan.“Yuan!”“Aku jadi apanya ya? Pamannya? Kakeknya?” Yuan tertawa miris. Ia memandang jendela besar ruangan tempat bayi itu dirawat.“Kalau kau di panggil kakek, si tua Jyurian akan dipanggil buyut donk.” Tawa Shinrei, mencoba melucu. Yuan terkekeh.“Anak itu…, jadi anak pertama klan mibu yang lahir setelah masa keruntuhan klan mibu, ya.”“Kau benar juga.” Ucap Shinrei sembari duduk di samping Yuan. “Yang gak aku sangka hanya….”“Si Muka Besi itu yang membawa generasi baru bagi klan mibu ini.” Ucap Yuan dan Shinrei bersamaan.“Aku jadi khawatir dengan anak itu sebenarnya.” Ucap Yuan. “Ayahnya itu orang berdarah dingin dan tidak pedulian.”“Yha…, kau benar…, meski Akari bilang ‘Keikoku’ yang mempertahankan anak itu, tapi rasanya tetap mustahil. Dia kan orang yang bisa membunuh anak buahnya tanpa perasaan. Makanya, mungkin aku akan menjaganya dan menjadi ayahnya juga.” ucap Shinrei.“Yha…, syukurlah kalau kau mau menjaganya…, aku jadi gak perlu terlalu khawatir.” Kekeh Yuan.~…~…~…~“Aku baru bilang begitu kemarin! Dan sekarang anak ini hilang dariku?! Sialan! Siapa yang menculiknya?” Kesal Shinrei dan berlari ke sana kemari.“Kenapa kau panik seperti itu?” Shinrei berhenti dan memandang taman tempat sang penanya berada.“Aku mencari A….” Shinrei mendadak diam.“Ng? Kenapa kau Shinrei?”“Keikoku…, ngapain kau membawa keluar anakmu?!” Tanya Shinrei seraya berjalan-setengah lari- mendekati adiknya yang duduk di sisa pohon tumbang sembari mengendong bayi mungilnya.“Namaku Hotaru. Kata Akari, matahari terbit bagus untuk Kei meski gak boleh terlalu lama karena nanti Kei terbakar. Sebentar lagi aku akan masuk.” ucap adiknya itu. Shinrei. Mengerjap-ngerjapkan matanya.“Tapi kau juga masih sakit! Harusnya aku saja yang menjemurnya!”“Sudah gak sakit.”“Jangan bohong!”“Aku gak bo….” sang adik menutup mulutnya, ia menjauhkan sedikit tubuh anaknya itu dari dirinya.“Ck…, apa aku bilang….” Shinrei mengambil bayi itu dan menggendongnya. Shinrei menelan liurnya, melihat darah yang dimuntahkan oleh adiknya itu. “He, hei…, kau sudah dapat vaksin penyakit mematikan, kan?”“....”“Ck, pasti lupa.”“Kei….”“Kalau umurnya sudah tiga tahun baru bisa di vaksin. Kau dulu yang di vaksin makanya!”“Ini bukan karena penyakit mematikan kok.” Ucap sang adik lalu berusaha berdiri dari sisa pohon tumbang itu. Shinrei menggigit bibir bawahnya melihat upaya keras sang adik yang terlihat tidak membuahkan hasil.“Ugh, tunggu di sini! Aku akan menidurkan anak ini dulu! Setelah itu membantumu.”“Aku tidak butuh….” Shinrei sudah tidak mendengar dan pergi membawa anaknya. Hotaru menghembuskan nafasnya. “Ya sudahlah.”~…~…~…~“Aku tak menyangka kau jadi selemah ini Keikoku.”“Namaku Hotaru, lepaskan aku.”“Ck! Orang sekarat diam saja!”“Siapa yang sekarat?”“Kau Yang Sekarat!”“Aku enggak.”“Ck! Berhenti menyangkal! Dan berhenti bergerak ke arah berlawanan!”“Aku gak butuh bantuanmu.”“Diam aja kau! Dasar sekarat!”“Aku gak sekarat.”“Kalian akrab sekali ternyata.” ucap Anna seraya membawa centong nasi. “Nasi sudah siap.”“Orang sekarat ini sudah bisa makan, Anna?” tanya Shinrei.“Aku gak sekarat.”“Sudah, kalau makanan yang lembek. Aku sudah buatkan bubur telur untuknya.” ucap Anna dengan senyum lembut. Shinrei berjalan mendekati Anna, adiknya akhirnya terasa menurut dalam bantuan topangannya itu. Shinrei ingat perkataan Yuan dan adiknya untuk tidak membuat wanita itu marah. Mungkin hanya Anna dan Angelica saja perempuan yang disegani oleh adiknya itu. “Oh, ya. Mengenai makanan untuk anakmu, tenang saja. Kakak iparku datang dan mau membantu kita mengurusnya.”“Syukurlah.” ucap sang adik. Shinrei memandang senyum adiknya yang mengembang lega.“Kenapa tidak kau atau Angelica yang memberinya makan?”“Waktu aku tanya bagaimana caranya, Kak Asuka malah bilang jangan dan menawarkan diri merawatnya. Dan…, karena keponakanku ada 12….”“BIBI ANNA…, KAPAN MAKAN? LAPAR NIH!” Teriak anak-anak kecil yang umurnya terlihat tidak jauh beda. Anna tersenyum pada mereka.“Kalian boleh makan sekarang.”“Yeeii!!”“Maaf, ya anakku banyak dan ribut semua.” ucap Anri.“Siapa?”“Kau lupa? Dia kakak pertama kami, Keikoku.” ucap Anthony.“Jadi dia murid yang dibawa Yuan? Ini pertama kali kita ketemu kok.” Ucap Anri seraya mengulurkan tangannya. Shinrei membantu sang adik bergerak menyambut uluran tangan Anri. Sang adik memutar matanya.“Sudah-sudah! Ayo makan.” Ucap Yuan seraya duduk di samping meja makan. “Hari ini Kak Anri yang di memimpin.”“Sudah lama tidak aku pimpin, ya.”~…~…~…~“TADI DIA BEGITU?!” Pekik Yuan. Shinrei mengangguk.“Aku juga tidak percaya. Tapi…, begitulah.” Ucap Shinrei.Mereka sedang berjalan menuju kamar tempat dirawatnya bayi milik adik Shinrei itu. Kamar yang seharusnya hanya dijaga Asuka, kakak ipar Yuan dan Akari yang sesekali menjenguk.“Seperti ini?”“Benar-benar. Kau terampil, ya.”“Dia anakku. Aku harus bisa.”“Suamiku sendiri tidak bisa kok.”“..., aku satu-satunya keluarganya. Jadi aku harus bisa. Aku tak mungkin mengandalkanmu terus.”“Iya juga, ya.”Yuan dan Shinrei langsung membuka pintu itu. Asuka tertawa kecil memandang wajah panik adik iparnya dan seorang lagi yang merupakan kakak dari orang yang diajarinya ini.“Keikoku! Kau masih sekarat!” Kesal Shinrei.“Kak Asuka…, kenapa Kakak membiarkan anak itu?” Tanya Yuan. Asuka tertawa.“Akari-san sudah mengizinkan, kok. Lagipula Hotaru-kun terlihat semakin membaik kalau berdekatan dengan Kei.”“Kei?” Tanya Yuan.“Lho? Kamu kakeknya gak tau nama cucu sendiri?”“Sudahku bilang, Namaku Hotaru.”“..., AKU JADI KAKEK?!”“HYAAA….” tangis bayi itu.“Ah…, Kei sudah-sudah….” Asuka mengambil Kei dari tangan Hotaru dan mencoba menenangkannya. Hotaru terlihat berdiri, menendang Yuan dengan aura kemarahan yang gak main-main. Shinrei mengerjapkan matanya, memandang tindakan Hotaru pada Yuan.“..., ugh….”“Ke, Hotaru!” Shinrei segera mendekati Hotaru yang memegang bagian perutnya. Shinrei menghela nafas. “Lukamu terbuka lagi, kan. Sudah istirahat saja sekarang. Biarkan saja si kakek yuan itu.”“APA KATAMU SHINREI?!”“Kakek Yun-Yun.”“KE, HOTARU!”“ngomong-ngomong…, kenapa namanya hanya Kei, Ke…, Hotaru?”Hotaru memutar matanya tak menjawab.~…~…~…~Shinrei povSudah setahun setelah kejadian yang mengejutkan itu. Sudah setahun pula adikku ini berubah nyaris tidak bisa aku kenali lagi. Kehadiran Kei memang membawa angin baru dalam diri Hotaru. Sigh…, akhirnya aku terbiasa juga dengan nama barunya itu. Aku memang harus berterima kasih pada Kei sehingga akhirnya aku bisa membiasakan diri. Kei anak yang aktif, aku bersyukur Hotaru sudah sehat dan bisa menemani Kei mengeksplorasi klan mibu yang baru ini. Meski kadang aku tetap kasihan dengan Hotaru. Sejak kejadian mengejutkan itu, Hotaru divonis Akari tidak bisa menggunakan pedang dan apinya lagi. Pedang di punggungnya saat ini hanya sebagai aksesoris, dan alat penggertak bagi musuh yang akan menyerang mereka.“Pamaaaannnn….”Aku menghamburkan kertas yang aku pegang akibat teriakan Kei dan bukaan pintu yang keras itu. Kei tertawa senang, yang kalau tidak cacat aku yakin ia akan sambil bertepuk tangan. “Ada apa, Kei?” tanyaku sembari mengumpulkan kertas yang berhamburan.“paman juga gak cuka woltel?” tanya Kei sembari mendekatiku dan melompat-lompat.“Si, siapa yang bilang begitu? Semua makanan harus dimakan. Paman su, suka wortel kok.” jujur saja, aku emang gak suka wortel! Namun, anak ini masih dalam masa pertumbuhan, dia harus makan wortel.“Ayah yang bilang. Katanya kalau Kei gak makan woltel nanti jadi kayak paman yang pake kaca di matanya.”Harusnya sudah aku duga siapa yang bilang. “Memang…, kalau makan wortelmu kurang nanti jadi kacamataan kayak paman. Paman dulu hanya kurang banyak makannya kok. Makanya masih kacamataan.” Ucapku seraya mengusap kepala Kei.“Tapi Kei gak cuka woltel.” Lucu sekali melihat anak kecil yang harusnya baru bisa bicara itu sudah bisa berbicara lancar, mengerti, dan bahkan berekspresi seperti itu.“Hei, gak boleh begitu. Semua makanan itu baik untukmu. Kalau makannya kurang nanti kamu jadi kayak paman atau kayak ayahmu.”“Ayah?”“Ayahmu kurang kalsium, makanya cepet marah. Kasih dia minum susu.”“Sungguh?”“Aku sudah cukup minum susu. Kau sendiri lebih cepet marah. Itu karena pikiranmu sempit. Kei…, makan wortelnya!” Aku mengangkat kepalaku dan memandang Hotaru yang bersandar di pintu seraya membawa mangkuk.“Apa Katamu?!”“Iya, paman juga cepat malah. Paman juga butuh cucu.” Kei melompat-lompat sembari mengangkat tangannya.“Dan kamu butuh wortel. Ayo, makan dikit.” Kei terlihat mengangguk dan memakan makanan yang disuapi Hotaru. Aku menghembuskan nafasku, kadang aku masih tidak percaya Hotaru sangat cocok jadi orang tua tunggal. Berperan sebagai ayah dan ibu bagi Kei. Aku sendiri merasa, aku mungkin akan kesulitan menjadi sepertinya. “Kei suka kue?”“Cuka! Kei cuka kue yang banyak gulanya.”“Kau suka kue atau permen? Kok banyak gulanya….”“Kue yang banyak pelmennya!”“..., Aku baru inget. Kau kan gak suka permen, Hotaru.” ucapku.“....” aku terkekeh melihat Hotaru langsung membatu seperti itu. Kei berbalik memandangku, wajahnya bingung.“..., Ayah gak cuka? Itu kan enak.”“Nempel di gigi.”“Diemut aja ayah.”“Sama aja lengket. Sudah, habiskan dulu makananmu. Nanti ayah beliin kue yang ada permennya.”“Sungguh?”“Kalau gak habis, gak ayah beliin.” Kei terlihat mulai semangat menghabiskan makannya. Aku menggaruk pipiku. Ralat. Aku gak bakal bisa jadi sepertinya. Kei orangnya cepat belajar, sehingga orang tuanya harus cepat beradaptasi dengan cepat mengajari Kei. Hotaru, bisa melakukan itu bahkan membantuku beradaptasi dengan cara belajar Kei.Didikan Hotaru pada Kei itu manja, tapi tidak bisa dibilang manja juga. Seperti yang sudah aku bilang tadi, Kei beberapa bulan lalu baru satu tahun, tapi dia sudah memahami bahasa, bahkan lancar berbicara. Mungkin hanya beberapa huruf yang masih sulit diucapkannya, seperti S dan R. Hotaru saat itu hanya membelikan tabel 50 hiragana dan katakana yang di tempelnya di kamar Kei sebagai hadiah umur Kei yang genap 9 bulan. Saat itu Hotaru berkata biar nanti ketika Kei mulai bisa berbicara ia tidak akan lupa membelinya. Dan beberapa hari setelahnya aku ditarik oleh Kei untuk memberitahunya apa tulisan yang ayahnya tempel itu. Aku ingat Kei yang saat itu cuma bisa bicara ‘aan, aan’ terus terus menunjuk tempelan itu. Beruntung Hotaru paham apa yang diinginkan Kei dariku.“Shinrei…, ngapain kau bengong?”“Aah…, lu, lupakan.” Ucapku lalu membawa kertas-kertas yang sudah aku kumpulkan pergi dari ruangan itu.Aku jadi ingat, Kei sudah bisa berdiri di usia 8 bulan padahal bayi lainnya biasanya baru mulai berdiri di usia 9 bulan. Kei mungkin memang anak ajaib.“Paman, hati-hati pintu.”BRAK!“Haha…, makanya jangan meleng.” Tawa Hotaru. Aku memijat hidungku yang terbentur cukup keras seraya memandang Hotaru dengan tatapan tajam. “Thu, pamanmu gak suka makan wortel, makanya pintu didepannya aja gak keliatan.”“Iya ayah, Kei makan woltel.” Kekeh Kei. Aku menghembuskan nafasku dan kembali mengumpulkan kertas-kertas yang berhamburan. Aku berhenti sejenak.“Kau berubah, Hotaru.”“Ayah belubah? Ayah belubah jadi montel?”“Apa maksudmu? Aku tetaplah aku. Ayah gak berubah Kei. Memang wajah ayah mirip monster?”“Enggak.” Hotaru mengusap kepala Kei dan mencium keningnya.Berubah drastis sekali!~…~…~…~Gadis itu hanya wanita biasa. Bukan dari keturunan samurai. Yha…, seperti Shiina Yuya. Tapi, aku bersyukur dia yang menemukan Kei sehingga Kei tidak mungkin akan sampai terbunuh. Aku menghela nafas, pertunjukan tarian airku sepertinya bisa berjalan kembali dengan lancar. Hotaru yang ngamuk saat ini memang tidak sekuat dulu, tapi tetap saja merepotkan. Kei terlihat tertawa-tawa saja saat Hotaru cemberut dan bertanya sesekali menceramahinya.“Terima kasih, telah menemukannya.” Ucapku pada gadis itu.“Tak apa. Anak yang baik, ya. Ibu yang menjaganya pasti baik.” Ucap gadis itu.“Adikku itu orang tua tunggal. Ibunya meninggal setelah melahirkannya.” Ucapku menjelaskan sedikit kebohongan agar Hotaru tidak mengamuk kembali.“Wah, berarti ayahnya baik sekali, ya.”“Aku memang baik.”“Jangan Sombong!” Kesalku. “Kenapa begitu?”“Uhm…, sebenarnya aku tersesat di hutan. Awalnya aku pikir ini kota Kyoto, anak itu menemukanku dan mengajakku kemari. Katanya pamannya pasti punya peta dan akan membaginya padaku.” jelas gadis itu.“Kei….” Aku memandang Kei yang terlihat menyombongkan diri. Untuk ini, ayah dan anak sama aja. “Baiklah, setelah pertunjukan, aku akan memberimu peta menuju Kyoto. Hotaru, kau temani orang ini sampai pertunjukan airku selesai. JANGAN KABUR KAMU!”“Cih.”“Ayah gak boleh gitu. Kata ayah kita harus saling menolong.” Kekeh Kei. Aku ikut terkekeh, saat Hotaru berjongkok dan memeluk Kei.“Iya, iya….” Hotaru terlihat menggendong Kei, ia lalu memandang gadis itu, sedikit memicingkan mata. Aku menepuk keningku. Lupa akan sesuatu.“Lupakan soal orang itu Hotaru, orang ini tidak sama dengan orang itu.” ucapku. Hotaru tetap mendengus.“Terserahlah. Kau…, ayo ikut denganku.”“Maaf, ya. Dia emang agak ketus pada wanita sejak kematian ibu anak itu.” Ucapku berbohong lagi. Gadis itu terlihat menarik nafas memaklumi, lalu mengejar Hotaru.~…~…~…~Setelah selesai menghibur masyarakat dengan tarian airku, aku kembali menemui Hotaru dan gadis itu. Meski akhirnya aku urungkan pikiranku untuk segera menemui mereka. Hotaru terlihat tersenyum menanggapi ucapan perempuan itu. Tentu saja! Sepanjang aku mengenal Hotaru, Hotaru hanya tersenyum klo emosinya lagi naik saja! Itupun emosi kalau sedang bertarung! Ah…, dan karena Kei juga sekarang. Tapi tetap saja…, TIDAK PERNAH TERSENYUM SAMA PEREMPUAN! Sejak kejadian itu Hotaru bahkan terlihat tidak tersenyum lagi pada Anna, Angelica, dan bahkan pada Yuya dan Sakuya. Ahh…, tunggu-tunggu…, saat ini ada Kei…, mungkin saja itu senyum untuk Kei. Bukan untuk perempuan itu.“Seperti itu ayahku merawat kakak dan aku setelah kematian ibu.”“Begitu. Jadi sekarang kau ke Kyoto mau ketemu ayahmu itu?”“Iya. Aku ingin mengajak ayah ke Edo. Akan lebih baik aku merawat ayah di pusat pemerintahan. Calon suamiku juga orang pemerintahan, makanya aku rasa ayah pasti bisa terurus di sana.”“Jadi begitu.”“Ano…, itu permen…, bukan cerutu….”“Aku tahu.”“Aah…, pelmen Kei…, katanya ayah tadi gak suka pelmen.” Kei tiba-tiba menangis dan gadis itu sepertinya tahu sifat Hotaru yang gak mau 'salah' dan gak mau kalah itu.“Ssh, ayah salah makan. Sudah-sudah, senyum donk. Kalo nangis wajahmu jelek.”“Ung…, baiklah.”“Kakakmu lama sekali datangnya. Pertunjukannya sudah selesai beberapa saat lalu.”“Paling ganti baju. Atau dicegat anak buahnya menanda tangani berkas.”“Menanda tangani berkas? Kakakmu salah satu orang penting di desa?”“..., uhm raja…, uhm…, bukan apa itu namanya…, kepala klan? Ah, ketua klan. Ya, ya… ketua klan.”“PIMPINAN KLAN?”“Berisik.”“Maaf. Aku kaget soalnya. Jadi kamu wakil pimpinan klan donk?”“Gak mau.”“Ha? Ke, kenapa? Kan….”“Pokoknya gak mau.”Mereka terlihat cocok satu sama lain. Kalau saja gadis itu belum memiliki kekasih mungkin akan aku jodohkan mereka. Aku perlahan mendekati mereka yang masih berdebat mengenai ‘kenapa Hotaru gak mau jadi wakil pimpinan klan.’ Kei berteriak memanggilku yang mulai terlihat. Menghentikan perdebatan itu. Gadis itu berdiri tersenyum padaku.“Lama sekali, BakaShin.”“Sialan…, Sudahlah, ayo kita pulang. Kita ambil peta untuk gadis ini.”“Kei macih mau main.” rengek Kei. Aku memandang Kei dan berjongkok.“Kei main bareng paman kembar di rumah aja, ya. Paman dan ayahmu ada kerja.”“Gak mauu….”“Heii…, katanya mau tolong kakak ini? Ayo pulang kita tolong kakak ini dulu. Baru main.” Hotaru ikut berjongkok, ia menunjuk gadis itu. Kei memandang gadis itu lalu mengangguk kecil.“Huunngg…, gendong.”“Manja….” kekeh Hotaru lalu menggendong anaknya itu. “Ayo pulang.”~…~…~…~“Ngomong-ngomong…, nama gadis tadi siapa? Sial aku lupa menanyakan namanya.”“..., Kau suka padanya BakaShin?”“KA, KAGAK! Cuma buat administrasi aja.”“Hoo…, namanya Miyazawa Zakuro.”“..., kau bertanya?”“Dia yang duluan bertanya namaku dan memperkenalkan dirinya sendiri.”“Huh, suatu keuntungan juga. Kei sudah tidur?”“Yha, dari tadi dia lari-lari mengelilingi rumah Kyo. Yha, ini pertama kalinya Kei jalan-jalan sampai ke ujung desa.”“Sebelum menonton pertunjukanku, kau bertemu Kyo?”“Begitulah. Makanya tadi aku sempet kembali ke rumahnya aku pikir Kei tertinggal.”“Mustahil kamu yang sekarang akan meninggalkan Kei.”“Gak mustahil kok.”“Ngomong-ngomong…, kenapa kau gak mau jadi wakilku?” tanyaku sembari terkekeh. Mengulangi pertanyaan gadis itu.“Aku masih harus mengurus Kei.” aku mengerjapkan mataku. Hotaru menjawab pertanyaan itu padaku? Tapi kenapa pada gadis tadi dia…, ah…, benar juga…, meski mereka terlihat cocok Hotaru bisa dibilang masih trauma akan kejadian mengejutkan itu. Wanita mengerikan yang berani melakukan kekerasan pada seorang samurai hanya karena ingin melakukan sex. Meski Hotaru seorang mantan samurai…, tepatnya saat itu, samurai yang kuat dan diakui oleh Kyo, tetap saja membuatnya tidak berkutik melawan wanita itu. Bahkan aku yakin, Hotaru tidak berdekatan dengan Yuya saat ia di rumah Kyo tadi.~…~…~…~Gadis dan lelaki tua yang aku rasa ayahnya itu datang lagi. Aku menghela nafas, sedikit bersyukur karena Hotaru sedang pergi menemui Akari untuk melakukan imunisasi pada Kei. Sekalian mencari tahu apa Kei sudah di vaksin penyakit mematikan atau belum. Meski baru berusia setahun. Gadis itu tidak seceria seperti beberapa bulan lalu ketika datang kemari meminta peta.“Uhm…, terima kasih karena waktu itu sudah membantuku.”“Tak perlu berterima kasih. Ini memang tugasku.” ujarku. Lelaki tua itu ikut menunduk hormat, mungkin sudah tahu pangkatku di desa ini. Meski sebenarnya Kyo yang pimpinan Klan, tetapi Kyo terlihat tidak mau memimpin klan. Kyo waktu itu bahkan berkata. “Kenapa tidak kau saja yang memimpin mibu sekarang?” dan jadilah aku pimpinan Klan Mibu yang baru.“Sebenarnya kami enggak enak untuk meminta bantuan lagi.” ucap sang lelaki tua. Aku memandang lelaki itu.“Tidak apa. Wajarlah kalau kita saling menolong.”“..., kami…, ingin tinggal di desa ini.” ucap gadis itu. Aku mengerjapkan mataku. Sedikit terkejut dengan permintaan gadis itu. Klan Mibu yang sekarang tidak hanya diisi oleh boneka perang serupa manusia, tetapi juga makhluk-makhluk tak sempurna buatan boneka perang. Aku yakin mereka belum bertemu dengan salah satu dari mereka. “Ti, tidak bisa ya?”“Eh, ah…, bukan begitu…, hanya….” bagaimana ini…, Klan mibu memang butuh orang baru untuk tinggal di sini, tapi…, aku takut mereka tidak akan bisa berdampingan dengan para makhluk tidak sempurna itu.“Bukannya kalian akan tinggal di rumah calon suamimu? Atau malah sudah suamimu? Adikku bilang kau cerita mengenai alasan kau datang ke Kyoto.”Aku menggaruk pipiku, berharap aku tidak salah mengucapkan sesuatu. Suasana gadis itu terlihat semakin muram. Sementara suara sang lelaki tua terlihat marah.“Sebenarnya….” lelaki tua itu akhirnya menceritakan soal calon menantunya yang memutuskan pertunangan mereka sesaat setelah suatu kejadian yang menimpa gadis itu. Gadis itu diperkosa. Aku membelak tak percaya. Namun, sepertinya hal itu memang benar adanya. “Beruntungnya, anakku tidak mengandung anak bajingan itu. Namun tetap saja…, pria itu tidak mau menerima anakku lagi dan rumahku di Kyoto sudah dijual.”“Begitu….” gawat…, meski aku kasihan pada mereka, tapi aku lebih kasihan lagi pada mereka jika tahu tidak semua anggota Mibu saat ini memiliki rupa manusia.“Kalian boleh tinggal di sini, bahkan secara gratis.” suara ceria membuatku berbalik. Yuan terlihat mendekati tempat duduk kami. “Tapi, kalian yakin mau tinggal di desa yang setengah lebih penduduknya…, memiliki tubuh tak sempurna, bahkan ada yang mirip monster?”“Yu, Yuan!”“Pimpinan Klan gak boleh bimbang. Aku sebagai penasihatmu bisa malu.” kekehnya. Aku melipat tanganku, lalu menghembuskan nafasku. Aku lihat ayah dan anak itu sedang terlihat sedang berdiskusi.“Tidak apa, asal kami memiliki tempat tinggal.” ucap lelaki itu.“Oke! Aku antar kalian ke rumah baru kalian.” Yuan berdiri dari duduknya.“Yuan!!”“Tidak apa Shinrei. Kadang kau harus mengambil keputusan seperti ini.” kekeh Yuan. Aku menghembuskan nafasku. “orang-orang itu gak akan keberatan kok, klo kamu mengkhawatirkan mereka.”“sigh…, baiklah…, kalian bisa mengikuti penasihatku ke rumah baru kalian.”“Tenang saja, akan aku pilihkan rumah untuk kalian yang dekat dengan ‘manusia normal’, deh.”~…~…~…~Normal pov“Kau pindah ke sini? Bukannya kau mau tinggal di Edo?” tanya Hotaru yang terlihat baru pulang dari rumah praktek Akari. Yuan mengerjap-ngerjapkan matanya lalu memandang Hotaru.“Uhm…, ada sesuatu….” ucap Zakuro. Hotaru menghela nafas. Ia lalu memandang Yuan.“Yun-Yun…, pilih rumah yang dekat istana. Kasihan ayahnya sudah cukup tua.”“..., Ka, KAU KESAMBET APA, HOTARU?!” Pekik Yuan seraya mundur dan menempelkan punggungnya pada tiang penyangga teras.“Kakek Yun-yun kenapa panik begitu?” tanya Kei sembari terkekeh-kekeh.“Panggil aku Paman Yuan, Kei! Salahkan ayahmu si muka besi tak berperasaan yang tiba-tiba berbuat baik.”“Aku emang baik kok.”“BOHONG!”“Baik pada orang selain kau dan Shinrei. Ayo, kita masuk, Kei….”“SIALAN KAU!!”“Berisik. Kerjakan saja tugasmu.” Hotaru melambaikan tangannya. Yuan mengepalkan tangannya.“..., uh…, maaf membuat kalian bingung.” Ucap Yuan pada ayah dan anak gadisnya itu. “Dia itu adik pimpinan klan. Sifatnya dari kecil memang seenaknya.”“Tapi kelihatannya dia baik.”“Dia memang baik. Hanya nyebelin. Meski sifat menyebalkannya itu mulai berkurang sejak anaknya lahir.” Ucap Yuan sembari menuntun ayah anak itu.“Ah, aku dengar istrinya meninggal, ya? Setelah melahirkan anaknya….”“Istri? Hahaha…, Hotaru tidak punya istri…, tapi kejadian itu memang terlalu mengerikan bahkan bagi kami.” Yuan tertawa miris. “Tadi kau bilang kan…, Kalau kau diperkosa. Hotaru juga korbannya.”“EH?!”“Karena kalian akan jadi anggota klan juga, ada baiknya kalian tahu cerita ini. Meski cerita ini sangat taboo untuk diceritakan di desa. Setelah sampai di rumah yang mungkin cocok untuk kalian, aku akan menceritakannya.” Ucap Yuan sembari memaksakan senyum.~…~…~…~Shinrei pov“Kau sudah menceritakan soal aku dan Kei pada mereka?” aku berhenti merapikan berkas yang sedang aku susun lalu memandang Hotaru yang terlihat bersandar di dinding.“Soal apa, Hotaru?”“Mereka akan jadi anggota klan kita lho.”“Lalu?”“Ya sudahlah.” Aku menjedukkan kepalaku di meja. Kebiasaan anak ini mulai lagi. Sepertinya aku harus berpikir soal apa yang dia mau. Hm…, tadi dia bertanya apa mereka tahu soal Hotaru dan anaknya itu. Soal yang menyangkut kedua orang itu…, hanya masa lalu Hotaru.“Kenapa kau mau aku menceritakannya?” Tanyaku mencoba memastikan.“Mereka akan jadi anggota Mibu.”“Tapi bukan berarti mereka harus tahu kan?”“Bukannya kemarin kau bilang tidak ingin ada rahasia lagi antara pimpinan klan dan anggotanya.”Oh, aku paham maksudnya.“Kalau soal itu, kita pastikan dulu mereka akan benar-benar jadi anggota Mibu atau tidak. Kalau mereka jadi tinggal disini, baru diceritakan.”“Oh….”“Jangan khawatir. Akan aku ceritakan ketika tidak ada Kei seperti ini.”~…~…~…~Empat tahun sudah berlalu. Kei sudah berumur lima tahun. Hotaru dan Zakuro juga sudah cukup akrab. Aku jadi sedikit iri pada adikku. Haha, aku masih belum bisa melupakan Saisei ternyata. Meski dia mayat hidup yang dibangkitkan Saishi. Aku jadi ingin bicara dengannya mengenai perubahan drastis adikku si muka besi tak berperasaan itu. Kelahiran Kei, kedatangan Zakuro…, rasanya bagai mimpi bisa melihat Hotaru bisa ‘berdampingan’ dengan dua hal yang dulu paling dia hindari.“Shin…, aku pergi.”“Main lagi? Pergilah.” Aku terkekeh. Meski selama ini alasan yang digunakan Hotaru adalah menemani Kei bermain bersama Zakuro, bukan berarti aku tidak melihat adanya perubahan dalam diri Hotaru. Kadang aku malah melihat kedua orang itu berbicara berdua dan meninggalkan Kei bermain dengan ayah Zakuro. Yha…, baru kali ini aku mangkir dari tanggung jawabku demi melihat perubahan langka adikku satu-satunya itu.Aah…, rasanya hari ini aku ingin ikut bersama mereka. Sayang tugasku belum selesai. Ada penjahat yang lari menuju hutan dan mungkin menuju desa ini. Tokugawa Hidetada yang memperingatkan kami memang tidak begitu bermasalah, karena kami kuat. Yha…, kami memang kuat. Namun, klan Mibu secara keseluruhan masih belum pulih. Jadi, lebih baik aku berjaga-jaga.“Yo, Shinrei.” Akari datang, pasti membawa berkas mengenai perkembangan vaksin dari penyakit mematikan. Vaksin penyakit mematikan saat ini masih sebatas memperlama waktu kematian anggota Klan. Meski Lulu dan Sarutobi Sasuke sudah bekerja sama dalam pengembangan vaksin, tetapi tetap saja masih belum bisa menghindarkan klan Mibu seutuhnya dari penyakit mematikan.“Akhir-akhir ini aku sering liat bocah tembok itu keluar bersama anaknya.”“Oh, paling menemui Zakuro.”“Gadis manusia itu?!”“Iya. Teman main Kei, katanya. Kei tidak punya teman seumuran sampai saat ini, kan?” Ucapku. Akari terlihat mengangguk-angguk menerima alasanku. Aku dan Akari akhirnya membicarakan mengenai vaksin penyakit mematikan. Sampai sebuah aura membuat kami berhenti berbincang dan berdiri.“Ini…, Aura Hotaru kan?! Bodoh! Hotaru tidak boleh lagi menggunakan kekuatan dia!” Ucap Akari seraya berlari.“Ck, adik bodoh! Apa sih yang sampai membuat dia harus berbuat nekat begini?! Kemari Akari, aku tahu kemana Hotaru pergi.” Aku berjalan mendahului Akari. Aura Hotaru terlihat semakin menguat. “Chikewai?! Bodoh! Dia mau mati apa?”“Kau bisa tahu hanya dari auranya?”“Begini-begini aku pernah menggunakan jurus yang sama ini dengan bantuan Hotaru. Tentu sekarang aku tahu perbedaan dia saat menggunakan jurus biasa dan saat menggunakan jurus dengan Chikewai!”Aku tak mengerti…, kenapa rasanya perjalanan menuju rumah Zakuro terasa begitu jauh? Aura Hotaru perlahan mulai berkurang. Entah efek chikewai yang melemahkannya…, atau kemungkinan terburuk lainnya. Tidak, tidak. Meski menggunakan Chikewai, aku rasa Hotaru akan tetap bisa bertahan. Rumah Zakuro sudah terlihat di depan mata. Dan mendadak aku tidak merasakan aura Hotaru sama sekali.“HOTARU!” Aku berlari menuju halaman belakang, tempat biasa mereka bermain.Terlambat.“HOTARU!” Akari langsung mendekati tubuh Hotaru yang tergeletak di tanah memegang pedangnya. Mencoba menyelamatkan adikku satu-satunya. Tubuh gadis yang menjadi teman pertama Kei itu juga tergolek di dekat Hotaru. Sementara tubuh lelaki itu terlihat merenggang nyawa memeluk Kei yang ketakutan setengah mati.Aku berteriak dan mengeluarkan jurus airku, musuh itu, penjahat yang dikatakan Hidetada! Bodoh! Lagi-lagi aku tidak peka! Sialan! Seandainya aku lebih waspada akan keberadaan penjahat itu. Seandainya aku segera mencari penjahat itu, adikku tidak akan berbuat seperti ini!“Akari! Tolong jaga, Kei. Aku akan mengejarnya!”“TU, TUNGGU SHIN….”Aku pun tidak mendengar ucapan terakhir dari Akari.~…~…~…~Normal POV.Yuan memeluk Kei yang terlihat seperti boneka tanpa jiwa. Tubuh Hotaru dan Shinrei perlahan berubah menjadi pasir. Akhir hidup seorang anggota klan Mibu. Orang yang sudah ia anggap sebagai adiknya, anaknya, pergi mendahuluinya. Meninggalkan seorang anak yang sudah dianggapnya sebagai cucu, dalam keadaan terguncang. Ia sendiri sebenarnya tidak percaya melihat kedua kakak adik itu meninggal, hanya karena penjahat yang sampai sekarang masih buron. Shinrei yang dalam kondisi prima seharusnya mampu mengalahkannya. Entah apa yang menyebabkan Shinrei kalah dan akhirnya menyusul adiknya itu.Akari menutup mulutnya dan membiarkan air matanya mengalir. Ini kegagalan kedua Akari dalam menyembuhkan orang. Satu orang penting dalam klan mibu. Satu orang rekannya. Pergi ke tempat yang sudah tak terjangkau olehnya. Bontenmaru, sang Date Masamune sampai kabur dari klannya sendiri untuk menghadiri pengantaran terakhir rekannya sesama Shiseiten itu. Akira yang merupakan anggota Shiseiten paling tidak cocok dengan Hotaru itu bahkan datang dengan rasa tidak percaya kalau tubuh yang saat ini tinggal butiran debu itu adalah rekannya.Dua orang lain yang meninggal pun baru saja dikremasi dengan jurus api milik Yuan. Bersamaan dengan menjadi pasir seutuhnya kedua tubuh anggota klan mibu itu, abu milik mereka di kubur di sebuah makan yang digali khusus oleh Shihoudou.“Aku…, masih tidak percaya.” ucap Akira.“Aku pun tidak ingin mempercayainya! Tapi…, tapi…, aku ada di sana…, aku bahkan yang memberi…, memberi vonis mereka tak terselamatkan.” Ucap Akari sembari sesengukan.“Sudah, jangan membicarakannya di depan anak Hotaru. Dia lebih kehilangan daripada kita.” ucap Bontenmaru.“Yuan.” Akari mengusap air matanya. “Kau yang akan merawat Kei, kan?”“Tentu. Aku akan merawat cucuku ini.” ucap Yuan seraya memeluk Kei lebih erat.~…~…~…~Kei pov.Pedang ayah masih hangat. Ayah sudah pergi, paman juga pergi. Tapi, pedang ayah dan pedang paman masih terasa hangat. Sesaat setelah ayah memejamkan mata, aku merasa ada sesuatu dalam diriku yang menjadi retak. Lalu aku mulai bisa mendengar suara-suara dari orang-orang yang bahkan tidak bicara. Suara hati kakek Yun-Yun yang menangis mengetahui ayah mati. Suara hati paman cantik yang menyesal tidak bisa menyelamatkan ayah dan paman. Semua mendadak bisa terdengar. Bahkan aku tiba-tiba memiliki diri kembar dalam diriku, yang memberi tahu. Aku ini keturunan Samurai, yang punya kekuatan bernama kegelapan. Jika ayah Api, Paman Air, maka aku kegelapan. Dengan kegelapan aku bisa mendengar suara hati, menyusup sekaligus mengontrol pikiran orang, juga menggunakan bayangan sebagai kekuatan utamaku. Kekuatanku disegel oleh ayah, entah karena apa. Namun, apapun alasannya ayah pasti melakukannya demi kebaikanku.Pedang ayah masih hangat, meski pemiliknya sudah pergi. Aku…, punya kekuatan, tapi kenapa aku tidak bisa berbuat apa-apa saat ayah sekarat? Aku…, aku ingin bisa berguna. Aku ingin membalas kematian ayah dan paman. Orang itu harus ikut merasakan kematian seperti Ayah dan Paman!Pedang ayah tiba-tiba bercahaya terang. Aku menutup mataku dengan satu-satunya tanganku. Cahaya itu terlihat meredup, aku mulai membuka mataku. Di mana ini? Kenapa tiba-tiba aku ada di sini.“Kau pemilikku yang baru, ya? Masih kecil, tapi hebat sudah bisa bicara denganku.” Aku berbalik dan meniru kuda-kuda yang dilakukan ayah sesaat setelah bertemu musuh itu. Sosok orang yang berbicara denganku agak aneh. Dia seperti seorang pria, dengan dua pasang sayap di punggungnya.“Si, siapa kamu?” Tanyaku.“Aku? Aku pedang milikmu. Atau sebelumnya milik pemuda bernama Keikoku.”“Gak mungkin kamu itu pedang! Kamu pasti mau mencuri Pedang ini! Pedang ini milik ayahku! Dan ayahku bernama Hotaru!” Bentakku.“Tepatnya aku roh pedang ayahmu. Kau tidak tahu kalau dulu ayahmu bernama Keikoku? Anak yang menarik.”“A, ayahku…, tapi…, Kei itu namaku….”“Jadi kau tidak hanya mewarisi diriku. Namanya pun kau warisi. Fufufu, seperti yang bisa aku duga dari tuanku sebelumnya.”“Kau kenal ayahku?” Tanyaku lagi. Sosok itu memandangku dalam diam, lalu tertawa terbahak-bahak. Membuatku malu.“Tentu aku tahu. Sudah aku bilang. Aku roh yang mendiami pedang mendiang ayahmu. Setelah ayahmu bisa berdialog denganku, ayahmu terus berdialog denganku. Bahkan dalam penyiksaan ibu kandungmu dia masih menyempatkan diri berdialog denganku.”“Ibu kandungku…, menyiksa ayah?”“Yha…, aku bisa saja cerita, tapi aku malas menceritakannya. Soalnya ceritanya sangat panjang.” aku menunduk, banyak yang tidak aku ketahui tentang ayah. Mungkin karena aku sendiri masih kecil, jadi ayah menganggapku belum mampu. Tapi…, aku juga belum mampu kehilangan ayah.“Kau mau membalas kematian ayahmu?” Tanya sosok itu.“Te, tentu saja.” Ucapku sembari mengusap air mataku.“Aku akan pinjamkan kekuatan untukmu. Ayahmu adalah satu-satunya tuanku yang bisa membuatku mau memberi kekuatanku padanya, dari semua tuanku sebelumnya hanya dia…, Makanya, aku juga ingin membalas kematian tuanku itu.” Sosok itu mendekatiku lalu menyentuh keningku. “Akan aku berikan semua visualisasi gaya bertarung ayahmu dan jurus api milik ayahmu yang mungkin bisa memberimu petunjuk untuk menggunakan kekuatan kegelapanmu.”Aku mengangguk lalu memejamkan mata. Perlahan kelihatan gaya bertarung ayah. Form without Form style. Lalu jurus-jurus yang dikuasai ayah. Bahkan ada jurus yang ayahku buat sendiri. Semuanya mengalir dalam kepalaku, seperti sebuah film.“Apa kau siap?” tanyanya setelah semua berakhir. Aku mengangguk mantap. Namun, tiba-tiba aku teringat sesuatu.“Aku punya satu permintaan.”~…~…~…~Aku saat ini berjalan menuju suatu arah dengan tuntunan suara hati yang bisa aku dengar. Aku tak tahu bagaimana caranya, tapi tiba-tiba saja aku bisa memfokuskan pendengaranku itu pada satu orang saja. Selain itu, aku juga tiba-tiba bisa menggunakan tubuh bayangan. Tubuh bayangan ini memang sangat memudahkanku. Kata roh pedang milik ayah, aku lebih jenius daripada ayahku jadi secara tak langsung aku bisa menggunakan kekuatanku tanpa perlu diajari. Bicara soal pedang, pedang paman Shinrei juga aku bawa meski aku tidak bisa berdialog dengan roh dari pedang paman itu. Roh pedang ayah bilang, pedang paman bisa berguna.Tubuh bayanganku juga bisa memiliki bentuk berubah-ubah, sesuai dengan apa yang aku mau. Aku bahkan bisa memiliki empat tangan dengan tubuh ini.
“Huh, apanya yang klan Penggerak Jepang. Lemah sekali. Membunuh empat orang dari klan itu sangat mudah.”
Suara hati itu terus meremehkan ayah, paman, kakak Zakuro, dan kakek Miyazawa. Aku benci mendengarnya berulang, tapi hanya itu petunjuk arah yang aku bisa dapatkan. Sosok itu semakin terlihat, iya sosok itu sosok yang sudah membunuh ayah dan paman!‘ Jangan emosi. Tuan kami kalah darinya karena emosi.’ Aku mengerjapkan mataku. Aku menggenggam pedang pamanku, benar suara itu berasal dari pedang pamanku. Pedang pamanku memang pedang kembar. Seandainya aku punya dua tangan utuh, mungkin aku bisa berdialog dengan Pedang pamanku. Berada dalam tubuh bayanganku ini membuatku mulai bisa berdialog dengan roh pedang pamanku. Huft…, baiklah. Tenangkan diri, Kei. Paman kalah dan mati karena terbawa emosi. Kau jangan ikut emosi, Kei.~…~…~…~Normal POV“Cepat! Berpencar, cari Kei!” Bentak Yuan. Pada anak buahnya juga pada Akari dan Akira yang masih di klan mibu. Setelah mendapat surat tulisan tangan yang berantakan dan penuh air mata, Yuan tentu sangat khawatir pada nasib anak yang sudah ia anggap sebagai cucunya. “Ingin membalas dendam? Jangan bercanda Kei….”Yuan mencengkram kain pembalut matanya yang buta, ia berusaha mencari keberadaan cucunya itu dengan mata hatinya.~…~…~…~Kei POV“Kalau saja ayahku tidak sakit, kau pasti mati ditangan ayahku. Bukan di tanganku.” Ucapku. Tubuh bayanganku ternyata bisa mengeras dan meruncing. Menjadi tameng juga sekaligus pedang. Tubuh bayanganku sudah menusuk keempat alat gerak musuh itu hingga tidak bergerak. Pedang ayah di tangan kananku, dan salah satu pedang paman di tangan kiri bayangku. Keduanya aku tusuk bersama di jantung dan di otak musuh itu. Berhasil…, aku…, aku berhasil membunuhnya. Ayah…, paman…, aku berhasil…, aku…, aku akan segera menyusul kalian.~…~…~…~Normal POV“TUNGGU KEI!” Teriakan Yuan membuat Kei berhenti menggerakan pedang milik ayahnya itu. Yuan berlari memeluk Kei dan menciuminya. “Kamu mau meninggalkan kakek juga? Kakek ditugasi ayah dan pamanmu menjagamu…, kamu tidak boleh mati tanpa kakek.”“Tapi…, tapi…, ayah…, paman….”“Kakek ada di sini Kei. Kakek masih ada di sini, bersamamu.”“Gak mau…, aku…, aku mau ayah. Aku mau paman.”“Kei….”“Kakek ikut aku.”“Tapi….”“Kakek yang ikut aku. Atau aku tinggalkan kakek?”“Kei…, aku…, ikut denganmu.”
----- CHAPTER BREAK -----
Masa depan. Planet Mibu.
Yuan menghela nafas lelah, ia sedang malas untuk menghadiri rapat antar kerajaan. Kalau saja rajanya tidak memerintahkan remaja berumur 17 tahun itu untuk pergi, Yuan pasti tidak mau pergi. Yuan menginjak pedal rem mobilnya secara mendadak. Yuan berdecih kesal, ia baru saja mendapat sim, kalau sampai ia menabrak hewan yang tiba-tiba muncul dari pepohonan di sampingnya, simnya pasti akan di cabut. Yuan menenangkan diri sembari memberi sugesti ia tidak menabrak hewan yang tiba-tiba melompat ke depan mobilnya itu. Yuan keluar dari mobilnya untuk memastikan.
“Hei! Kau tidak apa?” Tanya Yuan. Ternyata yang tiba-tiba melompat ke jalan bukanlah hewan. Namun, manusia. Yuan memandang wajah gadis cantik yang terlihat pucat itu, dari rupanya Yuan yakin gadis itu masih seumuran dengannya.
“To, tolong aku. Orang itu…, orang itu pasti akan datang….” Ucap gadis itu. Yuan pun menggendongnya masuk ke dalam mobilnya. Yuan membaringkan gadis itu di jok bagian belakang mobilnya.
“Kau tenang saja, kita akan segera ke rumah sakit.” ucap Yuan. Persetan dengan tugasnya, rasa manusiawinya lebih berharga daripada tugasnya!
“..., Kau buta?” Pertanyaan tiba-tiba dari gadis itu membuat Yuan hampir melakukan rem mendadak untuk kedua kalinya.
“..., aku memang buta, tapi indera keenamku terbuka, sehingga aku bisa melihat, bahkan melihat rupamu yang cantik itu.” Kekeh Yuan. Gadis itu tersenyum kecil. ‘Meski entah kenapa wajahmu mengingatkanku pada seseorang di masa lalu.’ Lanjutnya dalam hati.
Yuan berhenti di lapangan parkir rumah sakit umum yang ada di pinggir perbatasan kota. Setelah menyelesaikan administrasi yang memusingkan, Yuan akhirnya dapat bernafas lega ketika gadis itu sudsh mendapat perawatan. Sekarang, ia yang butuh perawatan. Yuan mengeluarkan ponselnya dan menghubungi raja selatan saat ini.
“Maaf, saya tidak bisa hadir. Iya, saya baik-baik saja gajah yang saya tabrak juga baik-baik saja. Aku pikir aku akan mati muda. Iya hanya lecet sedikit, aku sudah mengobati kaki gajah itu juga kok. Tapi, mobil saya tidak baik-baik saja. Ini saya sedang di bengkel, kata teknisinya rusak berat.” ucap Yuan berbohong. Namun, kebohongan dari seorang buta sepertinya tidak akan ada yang tahu. Apalagi, ia saat ini bicara di telepon, ucapkan saja dengan nada sedikit bergetar menahan sakit. Selesailah sudah. Yuan menutup ponselnya dan dengan gembira harapannya terkabul. Meski harapannya terkabul akibat seorang gadis yang melompat ke jalan secara tiba-tiba.
“Kalian pasangan muda, ya? Selamat.”
“Ha?”
“Istrimu sudah mengandung, usianya baru dua minggu. Rawat baik-baik, ya.”
“..., Ha?” Yuan terkejut mendengar ucapan dokter itu. Dokter wanita itu tersenyum bahagia lalu pergi meninggalkan Yuan sendiri. ‘Tunggu…, ada yang salah di sini….’
Yuan masuk ke kamar rawat gadis itu. Wajah gadis itu masih pucat dan kini bertambah lesu. Gadis itu tersenyum memandang Yuan. “Maaf sudah berbohong.” Ucap gadis itu.
“Err…, aku hanya kaget sih.” Ucap Yuan. Gadis itu akhirnya menceritakan semuanya. Gadis itu ternyata pelacur. Sejak kecil ia sudah dipekerjakan oleh ayahnya untuk melayani nafsu buas para pria kaya. Selama ini ia tidak hamil, sehingga gadis itu terus dipaksa melayani nafsu binatang para pria itu. Orang yang terakhir ia layani seorang pria muda yang baru menikah. Usianya kira-kira 21 tahun. Mungkin karena pria itu masih muda atau pria itu memakai alat pengaman yang bocor…, gadis itu akhirnya mengandung anak pria muda itu. Pria itu tidak terima dan menuntut dirinya untuk mengaborsi anak yang dikandungnya. Ayahnya pun berkata seperti itu. Namun, gadis itu tidak mau.
“Ini juga anakku. Mana mungkin aku membunuh darah dagingku sendiri.” Ucap gadis itu mengakhiri ceritanya. Yuan mengulurkan tangannya mengusap pipi gadis itu yang basah karena air mata.
‘Meski aku bilang ibuku selir ayahku…, ibuku sebenarnya adalah seorang pelacur yang disewa ayahku.’
Suara seseorang muncul dalam pikiran Yuan. Yuan tidak tahu siapa yang berbicara itu, tapi Yuan merasa familiar dengan suara itu.
“Uhm…, Ano….”
“AGH! Maaf….” Yuan menarik tangannya dan mengusap kepala belakangnya. Gadis itu tertawa kecil.
“Tidak apa-apa.”
~…~…~…~
“Kakak?! Kakak baik-baik saja?” Tanya Anna yang khawatir. Gadis berumur 15 tahun itu langsung menghambur ke arah Yuan yang baru datang. Yuan terkekeh.
“Kau tidak lihat aku sebaik ini?” Ucap Yuan. “Oh, ya…, kenalkan anggota baru di rumah kita.”
Yuan melambaikan tangannya, seolah memanggil seseorang. Dari balik pintu terlihat seorang gadis cantik, berambut pirang bergelombang. Matanya yang berwarna coklat keemasan terlihat lembut. Bulu matanya lentik. Tubuhnya sangat seksi. Anna terpaku memandang kecantikan gadis itu.
“..., uhm…, namaku Shiraishi….”
“Ca, cantiknya…, Pacar kakak ya?”
“Istriku!” Ucap Yuan sembari tersenyum gembira. Gadis itu membelakkan matanya. Anna juga ikut membelakkan matanya.
“A, aku kan cuma bercanda….” Ucap Yuan di bawah sebuah kepala patung Buddha besar yang dilempar Anna. Gadis cantik itu terlihat panik melihat tindakan adik yang sangat tidak sopan pada kakaknya itu. “Tapi, sebentar lagi aku benar-benar akan jadi suaminya.”
“A, aku tidak perlu…, punya tempat tinggal saja…, sudah cukup bagiku.” Ucap gadis cantik itu malu-malu. Yuan melirik Anna yang sepertinya tahu alasannya, kepekaan adik perempuan pertamanya itu cukup tinggi.
“Kalau begitu…, selamat datang di rumah, Kak Shiraishi. Ayo makan dulu.” Ucap Anna seraya mendorong tubuh gadis itu. Anna melirik Yuan, menyampaikan pesan dari matanya. Yuan membentuk huruf ok dengan jarinya.
~…~…~…~
“Rasanya baru dua tahun lalu Anri menikah. Aku tak menyangka kau akan menyusul secepat ini.” Ucap Ian seraya menyisir rambut anak lelakinya itu.
“Memangnya tidak boleh, bu?”
“Kau benar-benar mencintainya kan? Jangan sampai kau menikahinya karena rasa tanggung jawabmu itu. Ibu bisa memahami perasaan gadis itu.” Ucap Ian lagi. Yuan menghela nafas.
“Ibu…, kalau aku tidak mencintainya, aku bahkan tidak akan membawanya ke rumah kita. Mungkin cinta pada pandangan pertama ya? bahkan sebelum dia cerita soal dirinya dan keberadaan anak dikandungnya…, aku sudah merasa familiar dengannya. Mungkin itu cara perasaan sukaku ditunjukan dalam pikiranku.” Ucap Yuan sejujur-jujurnya.
“Ibu juga sih. Padahal ibu belum pernah bertemu ayahmu, tapi begitu bertemu rasanya sudah kenal lama sekali. Kau ternyata memang anak ibu.” Kekeh Ian.
“Tentulah aku anak ibu.” tawa Yuan.
“Baiklah, ibu akan temui menantu ibu dulu.”
~…~…~…~
“Aku senang anak gadisku bertambah lagi, kok. Sebelum Yuan memutuskan begini, kamu juga sudah aku anggap sebagai anak gadisku.” ucap Jyurian seraya memetik gitar, mencoba menenangkan hati Shiraishi yang sangat gugup.
“Tapi…, Yuan mungkin menikahiku karena….”
“Jangan berkata begitu anak gadisku…, kalau Yuan tidak mencintaimu, meski kau tidak hamil pun, dia tidak akan menikahimu. Aku bisa lihat anak bujangku itu sungguh-sungguh mencintaimu. Sama seperti Anri pada Asuka, kakak-kakak iparmu.” ucap Jyurian. Ia menyampirkan gitarnya lalu melepas topinya. “Kau anak gadisku yang cantik. Percaya diri sedikit saja, oke?”
“Uhm…, iya ayah.”
“Nah begitu baru anak gadisku.” Jyurian mengusap lembut pundak Shiraishi. “Aku akan menemui Yuan. Kamu bersiap saja, ya.”
~…~…~…~
“Rumah kita gak jauh-jauh dari rumah keluargamu, ya.” tawa Shiraishi. Yuan menggaruk kepala belakangnya.
“Apa boleh buat. Keluargaku kan perpanjangan tangan dari kerajaan selatan ini. Aku juga gak bisa jauh-jauh dari istana.” jelas Yuan seraya mencoba peralatan elektronik yang ada di rumah itu.
“Maaf ya…, kita jadi tidak bisa malam pertama.” ucap Shiraishi lesu. Yuan mengembangkan senyumnya.
“Apaan sih. Malam pertama kita tetap bisa kok. Kalau untuk ‘itu’ yang pertama…, kita lakukan setelah anak itu cukup siap untuk punya adik saja. Aku malah bersyukur bisa punya anak duluan tanpa melakukan ‘itu’. Ngomong-ngomong, kau ingin menamai anakmu dengan nama apa? Anak lelaki kan?” Yuan tertawa kecil dan mencium pipi Shiraishi.
“Dasar….” Shiraishi tertawa sejenak. “Aku mau menamainya Hotaru.”
“Hotaru? Dia akan jadi lelaki, kan?”
“Aku tahu…, tapi…, bagiku dia adalah cahaya kecil penyelamatku. Seperti cahaya kunang-kunang yang menuntunku untuk bertemu denganmu, penyelamatku.” ucap Shiraishi seraya mengelus perutnya. Yuan merona dan memalingkan wajahnya.
“I, iya sih…, kita bertemu saat malam hari dan banyak kunang-kunang di luar. Baiklah. Namanya Hotaru saja.” kekeh Yuan. Shiraishi memandang Yuan.
“Kau sendiri mau menamainya apa?” tanya Shiraishi.
“Eh? Uhm…, awalnya ingin aku namai….”
‘
Bagaimana kalau nama ini? Keikoku…, itu nama planet yang melambangkan dewa perang yang selalu bersinar kemerahan. Menurutku nama itu cocok untukmu karena melambangkan kecerdasan, kekuatan, dan nyala “api arwah”.’
‘Planet Api…, Keikoku….’
‘Wah, rupanya kamu senang nama itu, ya…, mulai hari ini kamu akan kupanggil dengan nama “Keikoku”, ya! Selamat, ya, Keikoku…’
“Yuan…, kamu baik-baik saja?”
“Eeh? A, aku melamun ya? Hahaha…, maaf.” tawa Yuan canggung. ‘Tadi itu apa?’ lanjutnya dalam hati.
“Jadi…, kau mau menamai anak ini apa tadinya?”
“..., Keikoku.”
“Keikoku?”
“Itu dengan aksara China, YingHuo. Yang kalau dalam bahasa Jepang dibaca Keikoku. Artinya Planet Mars.”
“wah…, lebih bagus dariku.” ucap Shiraishi.
“Tapi kita udah setuju pakai nama Hotaru, kan?”
“Tapi nama Keikoku juga…, dibuang sayang.”
“Kita simpan saja nama itu. Untuk….”
‘Kau menamai anakmu dengan nama pemberianku?’
‘Cuma “Kei”nya. Aku berhutang budi padamu. Mana mungkin aku membuang nama yang kau bebankan padaku dulu.’
‘Tapi, Keikoku….’
‘Setidaknya sekarang kau bisa tetap memanggil cucumu dengan Keikoku.’
‘Hei…, paman donk, diliat darimana pun aku terlalu muda jadi kakek.’
‘Berusahalah agar dipanggil paman. Yun-Yun.’
“Yuan?”
“Uh…, maaf. Aku bengong lagi, ya?”
“Kau ini…, ada apa denganmu?”
“Uhm.., entahlah…, mungkin cuma kelelahan karena pesta tadi.” kekeh Yuan. Shiraishi tertawa.
“Benar juga, ini sudah malam. Ayo kita tidur.”
~…~…~…~
Yuan terbangun di tengah malam. Ia memandang istrinya yang masih tertidur dan bersyukur karena tidak membangunkannya. Yuan menarik nafas dan menghembuskannya lega. Ia memperbaiki selimut yang menyelimuti istrinya lalu pergi ke kamar mandi.
“A, aku….” Yuan membuka blind foldnya, matanya yang seharusnya berwarna jingga berubah menjadi merah. Yuan tertawa kecil lalu menyentuh keningnya di cermin. “Begitu, ya. Jadi mimpi itu benar-benar nyata. Pantas saja…, aku dulu anggota klan mibu dari Jepang, Planet bernama Bumi. Ini berapa ratus tahun setelah kejadian itu, ya? Haha…, aku tak menyangka aku akan bereinkarnasi jadi makhluk planet lain.”
Yuan mencuci mukanya. “Jadi seperti itu rupa ibumu hm…, gak anak gak ibu…, dua-duanya membuatku tertarik.”
Yuan menghembuskan nafas dan keluar dari kamar mandi. Ia memandang istrinya yang terlihat panik di tempat tidur. Yuan segera mendekati istrinya itu. “Hei? Ada apa sayang?”
“Syu…, syukurlah…, aku pikir kau meninggalkanku….” ucap Shiraishi lalu menangis. Yuan menghembuskan nafas, ia memeluk istrinya itu lalu mengelus punggungnya.
“Aku cuma mengalami panggilan ‘alam’ di tengah malam, kok. Jangan khawatir. Sekarang aku ada di sini, kan?” bisik Yuan seraya mencium kening istrinya.
“Iya…, maaf….”
“Jangan minta maaf. Kamu gak salah kok. Sudahlah, ayo tidur lagi.”
“Iya….”
Yuan tersenyum dan membantu istrinya itu untuk tidur lagi. Yuan menghampiri kamar mandi dan mematikan lampunya, hal yang ia lupakan ketika melihat istrinya panik. Yuan tersenyum dan berbaring di samping istrinya. Yuan memandang langit-langit, teringat sesuatu. ‘Ibunya manis begini, kenapa anaknya bisa begitu ya?’
‘Aku anak baik dan manis kok.’
‘Pembohong!”
‘Kalau saja ayahmu tidak membunuh ibuku.’
‘Ayah kita, Keikoku!’
‘Dia tidak pernah menganggapku anaknya. Berarti dia bukan ayahku.’
Yuan memejamkan matanya. ‘Oh iya, aku lupa kau pernah menyebut hal itu, pada Shinrei…, tunggu kalau tidak salah cucu Raja selatan kan bernama Shinrei.’
Yuan mendudukkan dirinya. ‘EEEEH?! JANGAN BILANG….’
“Yu, Yuan….”
“Ah, maaf…, aku tertinggal penutup mataku di kamar mandi. Kau pasti ngeri melihat mata ini.”
“Tidak, kok. Mata jinggamu sangat indah, sayang tidak bisa melihatku ya.”
Yuan memandang istrinya sejenak. “Aku bisa lihat kamu kok, dengan mata hatiku. Percayalah. Aku ambil dulu, ya.”
“Dasar…, mengagetkanku saja.” tawa Shiraishi. Yuan terkekeh kecil dan berjalan menuju kamar mandi.
“Dia benar, mataku kembali normal.” Yuan menggaruk kepala belakangnya. “mungkin setelah luka batinnya pulih, aku akan menanyakannya.”
~…~…~…~
Yuan POV
Dia benar-benar anak yang manis dan baik. Tak salah lagi, dulu Hotaru berubah karena kematian ibunya. Usia Hotaru saat ini hampir lima tahun. Kalau tidak salah Hotaru kehilangan ibunya di usia segini. Aku harus mencari cara agar bisa mempertahankan sisi manis dan baik anak ini.
“Yun-yun….”
Meski panggilan ini sama sekali tidak berubah. “Aku mau ikut.”
“Tidak boleh. Kamu harus jaga ibumu. Kamu anak lelaki, kan? Harus kuat ya.”
“Uhng….”
“Jangan keluar rumah kalau ibumu tidak keluar rumah. Kau tahu kan? Ibumu diincar pembunuh, jadi selama aku tidak ada, kamu yang harus melindunginya.”
Selain itu…, Aku juga tidak ingin kehilangan istriku yang sekarang. Kalau saja raja tidak memerintahkanku pergi, mungkin…, aah…. Tidak. Mau pergi atau tidak pergi aku harus tetap melindungi istriku dan anak ini. Setidaknya sampai Shinrei berumur 8 tahun, karena seingatku Shinrei diberitahu ayahnya soal Hotaru di usia 8 tahun.
“Ini aku berikan padamu.”
“katana kembar?”
“Iya bertahanlah dengan ini untuk sementara. Aku tidak mungkin memberimu pedang panjang.” Aku mungkin harus minta ayahku untuk membuatkannya pedang itu. Setelah semuanya dirasa aman.
“Aku bisa mengandalkanmu kan, Hotaru?”
“Percayakan padaku, Yun-Yun!”
Senyum anak ini, mirip dengan senyum anaknya. Beda sekali dengan yang dulu.
~…~…~…~
Sial! Sial! Aku berharap Shiraishi dan Hotaru selamat. Mendengar rumahku terbakar saja membuatku panik seketika. Aku segera melajukan mobilku sampai batas kesepatan yang diperbolehkan. Persetan dengan orang lain! Nyawa istri dan anak tiriku dalam bahaya!
‘Rumah milik tangan kanan istana selatan memakan seorang korban.’
TIDAK! Suara reporter itu terus mengatakan seorang korban, seorang korban! siapa…, Siapa yang tidak selamat? Istriku, anak tiriku?
‘Pemilik rumah yang dikabarkan sedang dalam misi dinas. Sedang dalam perjalanan menuju tempat ini.’
AKU TAHU! DAN AKU SEDANG MELAKUKANNYA. Sialan…, siapa…, siapa yang…, ck! Yuan Bodoh! Aku mengambil ponselku, menghubungi rumah ayah dan ibuku. Kumohon, amgkatlah.
“Menelpon juga, anak bujangku yang satu ini.”
“Ayah! Apa yang terjadi? Bagaimana istriku? Bagaimana anakku?”
“Wow, wow, sabar anak bujangku….”
“MANA BISA AKU SABAR, AYAH?!”
“..., aku baru tahu kamu bisa panik seperti ini sayangku.”
Suara ini….
“Shiraishi?!” tawa kecil memberiku kelegaan. Istriku…, selamat…, tunggu…. “Shirai…, anakmu…, bagaimana anakmu?”
“Itu….”
suara Shiraishi terdengar melemah. Ti, tidak mungkin.
“Hei! Jangan bilang Hotaru yang tidak selamat? Hei! Shirai….”
“Jangan membunuhku seenaknya, Yun-yun.”
“Ho, Hotaru?!” Aku melakukan rem mendadak. Beruntung tidak ada mobil di belakangku. Lalu, siapa yang meninggal itu.
“Kau memanggilku dengan nama itu, ya. Ah…, bukan apa-apa ibu.”
Memanggil nama….
“Kau sudah ingat?”
“Cepet pulang Yun-Yun bodoh.”
“..., Baiklah. Nanti kita bicara, ya.”
~…~…~…~
“Ibu tetap nyaris mati sih tadi. Kalau aku tidak segera ingat. Mungkin aku tidak akan mengeluarkan Flame wall untuk ibu dan membunuh orang itu dengan Shakuran entai. Mungkin ibu akan takut padaku.”
“Kau kembali seperti semula, padahal kemarin kau sangat baik, ceria, dan manis.” keluhku. Hotaru kecil mengusap double-sided swordnya.
“Aku masih anak baik dan manis kok. Ibuku masih hidup.” tawanya.
“Ngomong-ngomong, pedang itu….”
“Pedang ini milik pembunuh ibuku. Aku baru ingat setelah menyentuh pedang ini. Ah…, tepatnya ketika pedang ini melukai keningku.” jelasnya sembari menunjukkan keningnya yang di perban. “Dulu aku setengah sadar akibat luka ini, sehingga aku hanya ingat ibu yang saat itu sebenarnya masih hidup langsung dijerat oleh tali dan di gantung. Setelah sadar, aku gunakan pisau ibu untuk membalas dendam dan akhirnya mendapatkan pedang ini.”
“Tapi sekarang kau mendapat katana dariku.”
“Haha…, setelah luka di kening yang membuatku ingat, aku langsung melompat dengan kedua katanamu ini menggunakan style yang dimiliki Shinrei untuk memutuskan tangannya yang saat itu berusaha memasang tali jerat di leher ibuku. Lalu aku ambil pedang ini dan berdialog dengan pedang ini. Dia masih ingat aku ternyata.”
“Fufu…, ternyata kehidupan kedua memang sedikit berbeda dengan yang dulu. Dulu aku menyelamatkanmu setelah kau mendapat pedang ini. Sekarang, aku menyelamatkanmu saat dikandungan ibumu.”
“Yha…, kau benar.”
“Hei, Hotaru. Kau ingat Shinrei?”
“Aku ingat kok…, tapi…, ingatanku terputus sampai mengalahkan raja merah. Apa aku mati saat sedang mengalahkan raja merah?”
“Ha? Tidak kok…, kamu malah….”
“Malah apa?” Tunggu, kenapa dia tidak ingat kalau dia memiliki anak? Kenapa ingatannya terputus hanya di saat itu? Ukh…, jangan-jangan….
“Ah…, tidak. Aku hanya ingat kamu mengembara ke seluruh dunia setelah mengalahkan raja merah.”
“..., mungkin aku mati diperjalanan, ya.”
Selain kejadian Hotaru dan Shinrei yang setengah saudara…, Kejadian lahirnya Kei mungkin akan sama seperti kejadian yang dulu.
----- CHAPTER BREAK -----
Normal POV
“Aku mau namain Hirari kalau cowo. Kalau cewe terserah Ibu dan Yun-yun aja.” ucap Hotaru dengan senyum mengembang memandang ibunya. Shiraishi tertawa kecil dan mengusap kepala Hotaru.
“Panggil ayah donk.” ucap Shiraishi. Hotaru mengembungkan pipinya, merajuk. Shiraishi masih tertawa kecil, ia memeluk Hotaru dan mencium keningnya.
“Masih sakit?” tanya Shiraishi. Hotaru menggeleng dan balas memeluk ibunya itu.
“Sudah setahun bu…, sudah sembuh.”
“Aku pulang.”
“Oh…, Yuan, selamat datang.”
“Pulang juga Yun-yun.” Yuan langsung berlari dan mencubit bibir Hotaru pelan.
“Mulut ini bandel ya.” tawa Yuan. Ia merangkul Shiraishi dan mencium keningnya.
“Yuan…, apa Keikoku bisa untuk nama perempuan?” tanya Shiraishi. Hotaru dan Yuan sama-sama menelan liur. “Habis Hotaru ingin kalau adiknya laki-laki dinamai Hirari. Kalau perempuan baru terserah kita. Nama Keikoku itu dibuang sayang sih.”
Yuan menggaruk pipinya. “Boleh banget. Toh, Hotaru kan anak lelaki bernama perempuan, gak apa donk kalau anak perempuan kita dinamai lelaki?”
“Sungguh?” Mata Shiraishi terlihat berbinar, ia memeluk Yuan setelah Yuan mengangguk setuju. Yuan meleletkan lidahnya pada Hotaru. Hotaru hanya mendengus saja.
‘Yha…, meski aku yakin pasti Shiraishi akan memiliki anak lelaki. Nama itu…, akan di pakai untuk nama cucunya sih.’ Batin Yuan sembari menciumi rambut Shiraishi.
“Terlalu dekat!” Hotaru melompat dan duduk ditengah-tengah ibu dan ayah tirinya itu. Yuan berdecih sebal, sementara Shiraishi tertawa kecil.
~…~…~…~
Hotaru masuk ke kelasnya seolah-olah dia sudah sering masuk ke kelas, padahal ini hari pertamanya sekolah. Hotaru memandang sekelilingnya, ada sosok yang ia kenal dari masa lalu, ada yang tidak.
‘Si centil dan Saisei jadi anak kembar. Si Buta. terlihat memiliki orang tua. Si kepala bandana ganti nama, meski tetap benitora. Dan Shinrei, ibunya juga hidup seperti ibuku?’ Batin Hotaru. Hotaru duduk di kursi belakang dekat jendela, ia tidak ditemani oleh ibunya, maupun Yuan. Ibunya harus memeriksakan kandungannya, sementara Yuan tentu mendapat kerjaan dari raja selatan. Hotaru memandang keluar jendela, kehidupan keduanya berbeda jauh dengan kehidupan masa lalunya. Tidak ada pertempuran, tidak ada persaingan hidup dan mati, semuanya terasa damai. Meski tetap saja. Hotaru melirik teman-teman sekelasnya yang membawa senjata kecil. Benitora dengan mini tombak HakurakuSimonnya. Saisei dengan tombak pedang mininya. Shinrei dengan dua pedang kembar miliknya yang tentu saja terbuat dari air. Hanya ia yang membawa pedang dengan ukuran orang dewasa.
“Selamat pagi anak-anak.” Sapa guru mereka. Hotaru memandang guru wali kelas mereka. Hotaru ingat sosok itu, sosok yang dulu jadi teman kakek tirinya itu. Shihoudou.
‘Hmmm…, rasanya hari ini akan menyenangkan.’ Batin Hotaru.
~…~…~…~
Hotaru memandang Kyo yang ternyata sudah kelas 6 SD, bersama Kyoshiro dan Sakuya, bahkan Chinmei dan Taihaku sedang duduk di kantin sekolah. Sekolah ini memang menyediakan makanan dan tempat makan khusus untuk semua anak muridnya. Sehingga anak dari kelas satu hingga kelas enam semua dapat berbaur. Kyo tidak banyak berubah, tetap malas dan sedikit egois. Sakuya sepertinya tidak berubah, Hotaru tidak begitu akrab dengan perempuan yang disukai Kyoshiro itu. Taihaku sama sekali tak berubah. Kyoshiro sedikit berubah, dia menjadi lebih sering bertingkah konyol di depan Sakuya. Chinmei berubah drastis, dia layaknya anak kelas 6 SD biasa yang tidak gila.
“Aku masih tidak menyangka kita akan jadi kembar lima.” Hotaru memandang dua orang lagi yang baru datang. Salah satunya Hotaru yakini sebagai raja merah terdahulu.
“Bisakah setiap istirahat makan siang kau gak berkata.... ‘aku masih tak menyangka kita kembar lima?’ hei, Ichiro!” bentak Kyo. Sang raja merah terdahuku terdiam sejenak lalu tertawa.
“Ahaha, maaf, Kyo.”
“Kyo…, panggil dengan kakak pertama donk.”
“Aku tidak mau.”
“Sudahlah, Shiro. Si bungsu kita ini memang yang paling egois dan sombong.”
Hotaru berjalan mendekati anak-anak kelas enam itu. Kyo memandang kedatangan Hotaru dengan tampang sedikit ragu. “Kalian juga sudah ingat?”
“Sudah ingat? Hotaru, kamu masih kelas satu dan sudah ingat?” ucap Chinmei balik bertanya. Hotaru menghembuskan nafas.
“Tidak semuanya. Yun-yun bilang mungkin ada kejadian di masa laluku yang akan terjadi lagi di masa ini. Well, Yun-yun bilang lebih baik aku tidak tahu.” Ucap Hotaru.
“Duduklah Hotaru-kun. Kau mau aku ramal? Siapa tahu kamu bisa langsung ingat.” Tawar Sakuya. Hotaru menggeleng.
“Biarkan saja. Aku rasa lebih baik tidak tahu dari pada tahu tapi tak bisa berbuat apa-apa.” Ujar Hotaru dan mulai memakan makanannya. Sakuya terdiam sejenak. Ia lalu tersenyum.
“Kau ternyata memang berubah, ya.” Ucap Sakuya lagi.
“Berubah? Apa maksudmu?” Tanya Kyo.
“Bintang memberitahuku. Di masa ini, ada banyak orang yang berubah nasib dan sifatnya. Yuan, Hotaru, Shinrei, Akari, dan masih ada yang lainnya.”
“Shinrei?” Tanya Taihaku.
“Iya…, kedua orang tua dan kakek Shinrei masih hidup, bahkan kakeknya menjadi raja kerajaan selatan.”
“Wah, hidup enak, ya.” Ucap Chinmei seraya mengipasi dirinya.”
“Kalian sendiri lima kandidat raja kerajaan pusat kan?” Ucap Sakuya sembari tertawa kecil.
“Lalu soal Yuan?” tanya seorang diantara mereka yang tidak Hotaru ketahui.
“Hotaru lebih tahu kok.” Ucap Sakuya. Hotaru memutar matanya.
“Yuan jadi ayah tiriku dengan memperistri ibuku. Sebentar lagi aku bahkan akan punya adik dari ibuku dan Yun-Yun.” jelas Hotaru. “Lalu Akari?”
“Dia jadi adiknya Hishigi. Bicara soal Akari, dia tetap laki-laki, tapi tetap saja tampilan dan tingkahnya perempuan.”
“Dia masih tetap banci?” ucap Hotaru.
“Iya. Dia kelas 4 SD kok.” Ucap orang yang tidak diketahui oleh Hotaru itu. Hotaru memandangnya.
“Kau siapa?”
“Astaga Hotaru? Kamu gak tau?” Pekik Kyoshiro kaget. Hotaru memandangnya dan mengamat-amatinya.
“Haha, wajar ya. Soalnya aku sudah mati juga, tapi hidupku ada di tubuh kakak pertama sih.” ucap orang itu sembari melirik raja merah terdahulu yang memalingkan wajahnya. “Namaku Kyosaburo.”
“mereka lebih dikenal sebagai Lima Kyo.” Ucap Taihaku seraya tertawa kecil.
“Hee…, karena anak bungsu…, Kyo jadi Kyogoro?”
“MANA MUNGKIN!” Kesal Kyo.
“Haha…, bagaimana kau tahu Hotaru?” Tanya Raja merah terdahulu itu. Hotaru menunjuk sang raja merah.
“KyoICHIro. Satu.” lalu menunjuk Chinmei.
“Nama aslimu KyoJIro. Dua.” lalu menunjuk Kyosaburo.
“KyoSAburo. Tiga.” Lalu menunjuk Kyoshiro.
“KyoSHIro. Empat. Berarti kalau lima harus ada go kan? Dan karena akhiran kalian semuanya juga ro. Berarti Kyo ganti nama jadi KyoGOro.” Hotaru tersenyum pada Kyo.
“….”
“GYAA! MATA MERAH YANG SESUNGGUHNYA!” Pekik Kyoshiro yang melihat perubahan atmosfer Kyo.
“..., bicara soal mata merah…, kalian berenam akhirnya memilikinya.” Ucap Taihaku.
“Berenam?” Tanya Hotaru sebelum mengepalkan tangan dan menumbuknya ke tangan yang satu lagi. “mata kanan merahku tetap bertahan sejak lahir kata Yun-yun. Yun-yun juga warna matanya berubah jadi merah setelah ingat. Membuat ibu sempat syok pas tahu mata Yun-yun berubah dari jingga jadi merah.”
“Karena dulu kamu anggota klan mibu.” Ucap Kyo.
“Semua anggota klan mibu warna matanya merah kok, baik anggota mibu sesungguhnya maupun yang boneka perang seperti kita. Memang ada yang langsung dari lahir seperti kami dan dirimu, ada yang harus menunggu ingat seperti Yuan, dan mungkin kakakmu Shinrei.” Jelas Raja merah terdahulu.
“Shinrei belum ingat? Baguslah.” Ucap Hotaru seraya tersenyum dan memakan makanannya.
~…~…~…~
Hotaru pulang ke rumahnya agak sore. Ibunya terlihat khawatir padanya, terlihat saat ibunya sedang menelepon pihak sekolah. Hotaru tertawa kecil melihat tindakan ibunya yang protektif. Hotaru jadi ingat alasan kenapa ia ingin membunuh semua orang dan menjadi kuat seorang diri setelah kematian ibunya ini.
“Aku cuma main ke rumah temen baru, ibu. Kapan-kapan mereka akan ke sini kok.” Ucap Hotaru mencoba menghentikan pertanyaan ibunya. Shiraishi menghela nafas lega dan memeluk Hotaru.
“Ibu takut kejadian setahun lalu terulang, sayang. Lagipula, rasanya tidak enak menumpang di rumah keluarga Yuan terus. Ibu takut menyusahkan mereka.” Ucap Shiraishi. Hotaru menggaruk kepala belakangnya.
“Gak apa ibu. Ibu kan lihat sendiri setahun lalu aku berhasil mengalahkan orang itu.”
“itukan juga karena bantuan saudara Yuan…, kamu kan masih kecil juga sayang. Kamu anak ibu, kamu gak boleh luka.”
“Aku kan harus sering terluka ibu. Aku kan anak pertama, aku harus jadi kakak yang bisa melindungi adiknya. Kalau aku gak luka, nanti adikku yang luka. Kan gak mungkin kalo dua-duanya gak luka, bu. Aku akan tetap berhati-hati biar gak luka berat kok. Ibu jangan khawatir.” ucap Hotaru. ‘Meski aku anak kedua dari ayah kandungku sih.’ lanjutnya dalam hati.
“Uh…, baiklah…, Ibu percaya padamu.” ucap Shiraishi menyerah. Hotaru tersenyum memeluk ibunya.
“Ngomong-ngomong ibu, adikku jadinya lelaki atau perempuan?” tanya Hotaru semangat. ‘Karena ini kali pertama aku punya adik, aku harus jadi kakak yang berbeda dengan Shinrei. Entah aku kakak yang baik atau tidak untuknya nanti.’
“Wah bagaimana, ya?” kekeh ibunya. Hotaru cemberut. “Bagaimana kalau tunggu ayahmu pulang saja?”
“Aah, ibu mah gitu.” keluh Hotaru.
“Ini balasan karena pulang telat dan gak bilang ibu.” Ucap Ibunya itu sembari tertawa kecil. Hotaru menghembuskan nafasnya.
“Yha, nanti pas ibu lahiran aku juga akan tahu.” Kekeh Hotaru.
“Dasar…, anak ini pinter banget cari alasan.”
“Mirip Yun-Yun kan? Aku kan anak ayah dan ibu.” Ucap Hotaru yang langsung memeluk ibunya, menggoda ibunya. Meski ia sendiri sudah tahu dirinya bukan anak kandung Yuan. Hotaru tahu perubahan ekspresi ibunya, tapi ia berusaha membiarkan.
“Iya, kau anakku dan Yuan.” Ucap ibunya agak lirih. Shiraishi memeluk Hotaru lebih erat.
~…~…~…~
“Ayo dipotong kuenya. Biar kamu tahu adikmu ini laki atau perempuan.” Kekeh Yuan. Hotaru menggaruk kepalanya sedikit bingung.
“Masa hanya motong kue bisa tahu?” Tanya Hotaru.
“Sudahlah, potong aja.” Ucap Yuan lagi. Shiraishi tertawa kecil melihat ketidak percayaan anaknya itu. Hotaru menghela nafas lalu memotong kuenya. Kue di dalam krim putih itu berwarna biru. Hotaru menggaruk kepalanya makin bingung.
“Laki-laki?”
“Tepat sekali.” Ucap Shiraishi seraya bertepuk tangan.
“Jadi Hirari yang akan lahir?” Ucap Hotaru bersemangat. Shiraishi mengangguk.
“Selamat ya, Hotaru.” ucap Yuan seraya mengacak-acak rambut anak tirinya itu. Hotaru mengangkat tangannya senang. Sebenarnya ia tidak peduli perempuan atau laki-laki yang akan jadi adiknya, yang penting ia akhirnya punya adik yang bisa ia lindungi dan jaga.
“Ngomong-ngomong kenapa harus pakai kue segala sih? Kenapa ibu gak kasih tahu aku langsung aja?”
“Yuan bilang biar lebih seru.” Ucap Shiraishi. Yuan terkekeh.
“Dulu waktu Angelica dan juga Anthony di kandungan ibuku, ayahku juga melakukan ini pada Kak Anri, aku, dan Anna. Ahaha…, Aku selalu benar menebak gender adikku. Dapat bunga untuk Angelica dan dapet pesawat jet untuk Anthony…, kamu kue aja. Toh, kalo kue kamu bisa langsung makan.” tawa Yuan.
“Ada-ada aja.” Ucap Hotaru dan mulai memakan kuenya.
“Hotaru baru umur 6 tahun, tapi rasanya sudah dewasa sekali.” Ucap Shiraishi. Hotaru menghentikan gerakan mulutnya sejenak. Yuan tertawa kecil.
“Bagus kan? Dengan sikap dewasanya, kita tidak perlu repot dia akan cemburu karena punya adik.” Kekeh Yuan.
“Oh, ya…, ada surat dari sekolah. Katanya semua orang tua diminta ke sekolah atau apalah.” ucap Hotaru lalu berlari menuju kamarnya. Yuan menghela nafas.
“Diminta ke sekolah?” tanya Shiraishi.
“Oh ya…, kamu gak pernah sekolah, ya.”
“..., maaf.”
“Eh, ah…, harusnya aku yang minta maaf.” Ucap Yuan agak panik. Shiraishi tersenyum lembut, ia menganggu kecil. “Ini tradisi sekaligus memberi tahu kalau kita tidak perlu khawatir dengan perkembangan anak-anak di sekolah. Tapi, Hotaru kan baru masuk…, kok sudah ada surat pemberitahuannya?”
“Di, di sekolah aku harus ngapain?” tanya Shiraishi sedikit gugup. Yuan mengerjapkan matanya.
“Ah…, biar aku aja yang ke sekolah kalau begitu. Lagipula kamu lagi hamil besar.” ucap Yuan seraya mengusap perut istrinya yang sudah membesar. Shiraishi menunduk kecil.
“Ta, tapi aku ingin tahu.” ucapnya. Yuan menghembuskan nafas.
“Baiklah, kita ke sekolah bersama.”
~…~…~…~
Hotaru POV.
Ini akhir bulan April, Hari kunjungan orang tua yang sudah direncanakan dari jauh-jauh hari. Aku datang bersama Yun-yun dan ibuku, berbeda dengan anak-anak lain yang hanya didampingi oleh salah satu orang tua mereka. Aku sempat melihat kelima Kyo datang bersama seorang pria berbadan besar, berambut merah sedikit berantakan. Dan pria itu memiliki mata merah sesungguhnya seperti Kyo…, Kyo yang terakhir. Aku pernah denger dari Kyo, kalau ayahnya saat ini adalah raja merah pertama klan Mibu. Yang dulu rohnya menjadi roh pedang Kyo, Tenro. Bicara soal roh pedang, roh pedangku tetaplah makhluk bersayap ganda itu. Mungkin roh pedang Tenro berubah mengingat roh pedang itu menjadi ayah Kyo sekarang. Aku juga lihat Akari datang bersama Hishigi. Kelihatan sekali kalau Akari belum ingat apapun soal kehidupan lamanya, kalau sudah ingat dia pasti akan bersikap keras pada Hishigi. Akira datang dengan seorang wanita tua yang tidak dikenalku. Usia wanita tua itu membuatku ragu kalau dia ibu Akira, mungkin neneknya. Shinrei datang bersama ibunya, yang langsung aku syukuri. Bisa gawat kalau ayah kami juga datang. Apalagi Ibu sedang mengandung adikku, usia kandungan adikku hampir 7 bulan. Aku gak ingin ibu dan adikku kenapa-kenapa. Dan ini pertama kalinya aku melihat Bontenmaru, dia datang bersama ayahnya. Dia ternyata kelas 6 juga tetapi beda kelas dengan kelima Kyo. Baik Shiseiten maupun Goyousei semuanya udah aku temui.
“Liat saja aku akan menjawab semua pertanyaan guru, bu.” ucapan Shinrei terdengar saat aku melewati pintu kelasku.
“Iya, iya.” ucapan ibunya yang tertawa senang membuatku tahu. Ibunya tidak begitu peduli anaknya bisa menjawab semua pertanyaan dari gurunya atau tidak. Yha…, aku rasa ibu dan Yun-yun tidak akan peduli juga sih.
Pelajaran pertama di mulai, dan semua langsung berebut unjuk kebolehan mereka. Aku melirik ibu yang berdiri di belakang kelas. Yun-yun sudah mengingatkan ibu, bahkan memberi ibu tempat duduk, tapi ibu terlihat bersikeras berdiri. Aku menghela nafas. Ibu jangan keras kepala, ku mohon. Aku melirik ibunya Shinrei, semua orang tua hormat padanya, sehingga tidak ada orang tua yang berdiri berdekatan dengannya. Aku kadang merasa kasihan melihat itu. Mungkin Shinrei yang sekarang juga merasakan hal yang sama.
“Hotaru, coba kau jawab pertanyaan ini….” Kekeh Shihoudou seraya menunjuk papan tulis yang ada persoalan matematika yang sangat gampang. Aku menghembuskan nafas, kalau di depan ibu mungkin aku harus menunjukan kepintaranku.
“Lima.” Jawabku. Shihoudou terdiam sejenak lalu bertepuk tangan.
“Bagus. Anak yang pintar.” Ucap Shihoudou.
“Hotaru tahu jawabannya?”
“Kok bisa?”
“Bahkan Shinrei dan Akira yang pintar tadi menjawab aja salah.”
Aku menghela nafas, ini persoalan mudah kok. Aku yang gak pernah belajar di masa lampau aja bisa menjawabnya. Aku dengar orang tua lain berbisik-bisik. Posisi dudukku memang di bangku paling belakang, dekat jendela. Sehingga mudah mendengarnya.
“Anak dari tangan kanan kerajaan itu pintar, ya.”
“Bahkan lebih pintar dari cucu raja, lho.”
“Tapi dari tadi dia tidak menjawab. Mungkin hanya kebetulan.”
“Aku rasa enggak deh. Soal tadi memang agak sulit untuk anak kelas satu. Mungkin dia orangnya memang pasif. Karena ayahnya kan tangan kanan raja, yang harus bergerak atas perintah raja.”
“Oh, benar juga, ya.”
Well, boleh lah kalian menganggap seperti itu. Aku melirik pergerakan di belakangku. Ibunya Shinrei terlihat mendekati arahku. Tepatnya ke arah Yun-yun dan ibuku. Aku memicing tajam, tentu saja aku tidak tahu apa ibunya Shinrei tahu aku anak tirinya atau tidak, yang pasti bahaya kalau dia tahu soal ibuku.
“Hei…, kamu lagi hamil, duduk saja.” Ucap ibunya Shinrei sembari berbisik.
“Nyo, nyonya.” Yuan menunduk hormat pada ibunya Shinrei itu. Ibunya Shinrei tersenyum dan mengangguk kecil pada Shinrei.
“Kenapa gak mau duduk?”
“Ha, habisnya yang lain berdiri, nyonya….” Ucap ibuku agak panik.
“Tapi, kamu lagi hamil. Duduklah. Atau aku harus memberimu perintah?” kekeh ibu Shinrei seraya mengedipkan satu mata.
“Uh…, ba, baiklah aku duduk.” ucap ibuku. Aku menghela nafas, akhirnya ibuku duduk juga. Aku memandang ke depan lagi dan mendengarkan penjelasan Shihoudou yang membosankan.
“Sudah aku duga…, anakmu khawatir padamu.” Aku mendengar suara ibunya Shinrei lagi.
“Eh?”
“Sedari tadi anakmu melirikmu yang tidak mau duduk meski suamimu sudah memintamu duduk. Mungkin karena itu anakmu tidak ikut berebut menjawab soalan dari guru.”
“Eh, su, sungguh?”
“Kamu gak pernah sekolah, ya?”
“I, itu….”
“Istriku memang tidak sekolah, tapi aku bangga memilikinya.” Ucap Yun-yun mencoba mengambil alih pembicaraan.
“Fufufu, kau ternyata dapat istri yang baik Yuan. Istrimu juga dapat suami yang baik.”
“Hehehe, terima kasih Nyonya.”
Aku menghela nafas lagi, ternyata capek juga pura-pura berebut menjawab soalan dari guru seperti ini. Mana gurunya Shihoudou…, tapi, demi membenarkan apa yang ibunya Shinrei katakan, aku harus membuktikannya. Toh, ini jawaban mudah semua, tinggal mastiin dipilih sama Shihoudou.
“Dia khawatir sama ibunya toh. Pantas saja….”
“Dia ternyata memang pintar, ya.”
~…~…~…~
Jam pelajaran kedua anak-anak kelasku lebih berambisi lagi. Tapi, karena pelajaran kali ini lebih ke membuat prakarya…, mereka lebih ke unjuk kebolehan membuat sebuah karya simpel jadi rumit. Haha. Padahal cuma membuat layangan. Mungkin aku akan membuat gambar anak ayam yang dibuat anna di mangkukku. Yha, meski tidak semudah dugaanku.
“Anakmu membuat layangan yang simpel sekali.” ucap Ibu Shinrei. Aku tetap memfokuskan diri untuk tetap menggambar.
“Hotaru memang suka sesuatu yang simpel. Satu-satunya yang gak simpel cuma pedangnya.” kekeh ibuku.
“Memang sih. Meski gak bisa dibilang rumit, tapi pedang itu punya desain yang unik dan gak simpel. Pedang itu dapet dari mana? Dibuat ayahnya Yuan? Si pembuat pedang no. 1?”
“Pedang itu milik perampok dirumah kami yang terbakar setahun lalu. Aku tidak tahu bagaimananya, karena aku pingsan saat itu. Tapi begitu sadar keluarga Yuan sudah datang menyelamatkanku serta anakku dan membawa pedang itu karena mereka pikir itu pedang baru Yuan.”
“Lalu daripada tidak dipakai mending untuk anakmu ya?”
“Nyo, nyonya tahu?”
“Seandainya aku jadi kamu aku akan menyarankan itu juga kok. Kan sayang kalau pedang sebagus itu gak dipakai.”
Baguslah Yun-yun dan keluarganya tidak menceritakan apa-apa soal aku membunuh pembunuh bayaran ayah itu. Sepertinya ibu gak tahu kalau orang itu adalah pembunuh bayaran yang mencoba membunuh ibu. Semua keluarga Yun-yun mendadak ingat setelah kelahiranku, kecuali Ian yang memang tidak memiliki ingatan akan aku. Tapi setidaknya ‘nenek tiri’ku itu ingat kalau dia dulu anggota klan mibu. Gambarku jadi. Meski gak sebagus buatan Anna, tapi aku puas dengan hasilku.
“Ah…, itu anak ayam dimangkuk nasinya.”
“Anak ayam dimangkuk nasi?”
“Adikku Anna pengerajin mangkuk nasi bergambar kan? Aku, Shiraishi, dan Hotaru mendapatkannya juga. Hotaru bergambar anak ayam, Shiraishi burung merpati, dan aku panda disebabkan karena panggilan seseorang....”
“Ahahah, tapi kamu cocok jadi panda. Terlihat tenang dan lucu, tapi kau cukup garang dan kuat kalau menyangkut keluargamu.”
“Wah, terima kasih.”
~…~…~…~
Setelah kunjungan orang tua selesai, kami akhirnya melakukan makan siang. Ibu membuatkan bekal untukku kali ini. Dan kali ini aku juga duduk sendiri, karena lima Kyo pun hari ini terpencar tempat makannya. Aku makan dengan tenang, sembari sesekali melihat sekelilingku. Seseorang duduk di depanku, dari badan dan pakaiannya aku sudah bisa menebak siapa yang duduk di depanku.
“Aku gak tahu kamu pintar, Hotaru.” Ucapnya.
“Kau aja yang gak tau, Shinrei.” Ucapku membalas ucapan setengah kakakku itu. Aku lihat Shinrei terlihat gusar, tapi tidak berkata apa-apa lagi. Aku menghela nafas dalam hati. Apa dia juga berubah? Biasanya dia akan membalas perkataanku dengan membentakku. “Aku cuma mau buat orang tuaku senang.”
“Ha?” Shinrei berwajah bingung. “Jadi kamu gak benar-benar pintar?!”
“Bukan gitu…, aku hanya…, malas.” Ucapku sembari melanjutkan makanku. Shinrei mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia mendadak tersenyum dan melipat tangannya.
“Cih, jadi secara tak langsung kau gak mau bersaing denganku?” Tanyanya. “Oi! Jangan berwajah begitu kenapa?!”
“Kau berkata aneh.”
“A, aku gak aneh!”
“Kau aneh.”
“Enggak!”
“Kenapa kau terobsesi padaku? Akira juga pintar.”
“Memangnya aku gak bersaing dengannya.” Shinrei berwajah sombong. Aku menghela nafas. “DIH! JANGAN GITU DONK!”
“Kenapa harus bersaing sih?” aku ingin kehidupan keduaku tenang dari persaingan denganmu. Setidaknya sampai orang ini ingat, hubungannya dan aku.
“Cih, dunia kerja itu bersaing! Kalau gak bersaing….”
“Kau cucu kerajaan selatan. Gak perlu kerja udah pasti jadi raja.”
“Kau tau?”
“Memang yang lain gak tau?”
“Eh, itu…, ya….” Shinrei memalingkan wajahnya ke sekitar sebelum menatapku lagi. “Mereka gak tau. Mereka tahu ada ‘pangeran’ dikelasnya, tapi tidak tahu kalau aku yang dimaksud.”
“Hng…, pantas.”
“Lalu kenapa kau tahu?”
“..., kau tidak lihat, Yu…, ayahku?”
“Hngg…, wajahnya memang familiar sih di rumah. AH!”
“Sudah tahu? Kalau gitu jangan tanya kenapa.”
Dia jadi sedikit polos. Dia cinta kerajaan ini, tapi dia tidak terikat rantai seperti saat di klan Mibu. Aku sedikit bersyukur karenanya. Meski aku tetap harus jaga-jaga. Mungkin saja Shinrei memang belum diikat oleh rantai tak kasat mata itu. Aku malas menasihatinya dua kali. Lagipula…, aku masih ingin hidup damai. Aku masih ingin mempunyai adik, hidup bersama Yun-yun dan ibu dengan bahagia. Meski aku tidak bisa tersenyum selain kepada mereka, aku cukup puas.
“Hei…, kau dengar aku?”
“Kau bilang apa?”
“Heii!!”
“Ah…, loncengnya sudah bunyi.” ucapku membereskan kotak bekalku. Shinrei terlihat ikut membereskan kotak bekalnya. Kami masuk bersama ke kelas.
----- CHAPTER BREAK -----
Shinrei POVAku tidak menyangka Hotaru yang dulu bodoh itu ternyata sepintar ini. Memang dulu aku akui dia jenius dalam mempelajari gaya berpedang, dia bahkan bisa meniru gaya berpedangku dengan sempurna. Aku hanya tidak percaya dia juga pintar dengan hal lain. Meski dia hanya menunjukkannya di depan ibunya. Bicara soal ibunya, ibunya ternyata sangat cantik dan tentunya sangat mirip dengannya. Kalau ibuku tahu, dia pasti akan…, bertindak sama seperti ayah. Meski tadi aku lihat ibu akrab dengan ibunya, tapi itu tidak menjamin akan tetap seperti itu.“Kenapa lesu anakku sayang?”“Ibu….”“Kamu sedih karena dikalahin teman sekelasmu itu?” Kekeh ibuku. Aku mengangguk.“Habis biasanya dia tidur di kelas! Hampir gak pernah ngerjain tugas lagi! Aku kaget dia bisa pinter seperti itu!” Keluhku berusaha menjadi seperti anak-anak. Ibuku tertawa kecil.“Ada yang bilang orang jenius itu salah satu cirinya adalah malas. Malas karena dia sudah tahu tanpa perlu dikasih tahu.” Jenius, ya….“Tapi kan aneh, bu!”“Menurut ibu nggak aneh kok. Ibu dulu pernah bertemu dengan orang jenius seperti itu.”“Ibu pernah?”“Iya. Kau tahu Hishigi, salah satu pangeran dari kerajaan Utara? Dia juga jenius seperti itu.”“Tapi, Paman Hishigi memang pintar! Dia kan….”“Tapi waktu sekolah dulu, dia juga selalu tidur, kok.” kekeh ibuku. Aku menggaruk pipiku, aku rasa Hishigi belum ingat kalau dia anggota klan Mibu saat itu. “Sudah jangan bersedih lagi. Bagi ibu, kamu tetap anak ibu yang paling pintar.”“Baiklah Ibu!” ucapku semangat. Ibuku mengusap kepalaku sejenak lalu pergi dari kamarku. Aku melipat tanganku memandang keluar jendela. Langit malam terlihat cerah. Apa Hotaru belum ingat aku setengah kakaknya? Sifatnya juga berubah drastis, meski ekspresinya masih hampir sama. Tapi…, matanya itu…, aku masih belum bisa mempertahankan mata merah kiriku, yang aku dapat setelah aku mengingat semuanya saat aku pertama kali bertemu Hotaru. Sementara Hotaru sudah mendapatkan mata merah kanannya secara sempurna yang itu artinya dia seharusnya sudah ingat. Menurut Hishigi dan Fubuki-sen…, Fubuki, boneka perang klan mibu yang sudah mendapat semua ingatannya akan bisa mempertahankan mata merahnya menjadi mata merah sempurna. Ya, aku memang belum mengingat semua. Yang terakhir aku ingat adalah pertarungan melawan Kyo tepat setelah Hotaru melindungi dan meminta ampunan atas nyawaku dari Kyo. Setelah itu aku ingat samar-samar. Bahkan saat Fubuki…, mengatakan aku tahu kebenaran dan berbalik membelot dari perintah Fubuki…, aku tetap tidak begitu bisa mengingatnya.‘Sepertinya kau harus berinteraksi dengan setengah adikmu itu supaya mengingat seutuhnya.’ itu yang disarankan Hishigi. Dan memang, perlahan tapi pasti aku mulai ingat. Masa-masa aku membelot pada Fubuki karena tahu Fubuki sudah jatuh dalam kejahatan. Masa-masa dimana aku takut kehilangan satu-satunya keluargaku saat itu, akibat pertarungannya dengan Yuan, dan lainnya. Tapi, mata merah kiriku ini masih belum bisa aku pertahankan.Mungkin masih ada yang belum aku ingat. Aku rebahkan diriku lalu menuju ke alam mimpi.~…~…~…~Pagi ini adalah awal libur golden week. Ini pertama kalinya juga ayah ingin bicara denganku berdua saja. Mungkin ini terdengar aneh, tapi…, sekarang aku takut pada ayahku. Aku tidak tahu kenapa aku takut padanya, padahal ayah saat ini hanya menantu raja. Jadi, seharusnya aku lebih takut pada kakekku yang raja. Aku duduk bersila di tempat biasa kakek dan ayah mengajakku melakukan meditasi. Ayah menarik nafas agak berat.“Sepertinya kau sudah cukup besar untuk tahu.” ucap ayahku mengawali pembicaraan. Sepertinya aku tahu ke arah mana pembicaraan ini. “Shinrei…, kau punya seorang adik laki-laki.”Sudah aku duga. Aku tentu ingat saat ayah memberitahuku tentang ‘Keikoku’ untuk pertama kalinya. Jujur saja dulu, aku kaget. Tapi, sekarang aku sudah ingat dan…, aku hanya akan berpura-pura kaget.“Namanya, Nakayama Hotaru. Hidupnya bebas seperti awan. Benar-benar anak yang jahat. Aku sudah mengirim banyak pembunuh bayaran untuk melenyapkannya. Tapi dia selalu lolos dari kejaran maut.”Well, itu karena Yuan sekarang melindunginya sebagai ayah tirinya. Ayah terus menceritakan soal bagaimana kecelakaan saat ayah ‘bermain dengan seorang pelacur’ dan menghasilkan Hotaru. Aku masih tidak percaya kalau ibunya itu pelacur saat ini. Mungkin kalau ada kesempatan aku akan mencari data soal ibunya di kehidupan kedua ini.“Ayah…, hentikan. Biar aku saja yang menghabisinya.” biar aku saja yang membantu Yuan melindungi mereka. Ayah terlihat senang dan mengusap kepalaku.“Baiklah, ayah percaya padamu.”~…~…~…~“Shinrei…, ibu lihat tadi pagi kau bicara dengan ayahmu. Apa yang kalian bicarakan?” tanya ibuku sembari menutup pintu kamarku dan menguncinya. Sial. Satu-satunya orang yang tidak ingin aku beri tahu malah mendatangiku.“Bu, bukan apa-apa, bu.”“Shin…, kamu gak bisa bohong sama ibu. Katakan pada ibu. Rahasia apa yang ayahmu sembunyikan dariku?” sial. Aku baru saja bertekad akan melindungi Hotaru dan kebahagiaannya. Aku tidak mau setengah adikku berubah lagi menjadi samurai berdarah dingin yang bahkan tak segan-segan membunuh anak buahnya sendiri. “Shin….”“Tapi…, ibu janji gak marah ke orang yang akan aku ceritain.” ucapku malu-malu layaknya anak kecil ketahuan berbohong. Ibuku menghela nafas.“Kalau begitu, aku boleh marah ke ayahmu kan?”“Uh…, ayah sih terserah…, tapi akan lebih baik kalau ibu juga enggak marah ke ayah.”“Baiklah, ibu janji.” Ibuku mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingkingku. Aku menarik nafas panjang dan menceritakannya. Aku juga menceritakan ucapanku dan tekad asliku untuk melindungi Hotaru dan ibunya dari ayah. Aku bahkan menceritakan ingatanku akan masa laluku. Mata ibu terlihat sudah merah sejak aku lahir, jadi aku anggap ibu sudah ingat juga kalau dia anggota klan Mibu. Ibu menunduk setelah mendengar ceritaku.“Ibu boleh marah kepadaku.” ucapku akhirnya. Ibuku mengangkat wajahnya, matanya berkaca-kaca.“Ahh…, ibu tidak marah padamu, kok.” ucap ibuku dengan suara bergetar. “Ibu hanya tidak menyangka…, ayahmu…, tega.”“Ibu….”“Aku juga tidak menyangka…, kehidupan Hotaru dulu pasti sangat berat sampai-sampai ia menutup hatinya rapat-rapat.”“Ibu….”“Sssh…, sigh…, apa Hotaru tahu kalau ayahnya saat ini bukan ayah kandungnya?”“Aku enggak tahu. Aku saja tidak yakin, Hotaru sudah ingat kehidupan masa lalunya.”“Ibu akan coba cari tahu soal ibunya Hotaru. Melihat Shiraishi yang polos aku rasa dia jadi pelacur bukan karena keinginannya sendiri juga. Buktinya, sudah 6 tahun pernikahannya dengan Yuan dan baru sekarang ia akan memiliki anak bersama Yuan.”“Ibu tidak marah pada ibunya Hotaru?”“Meski baru kemarin bertemu dengannya, ibu merasa sudah akrab lama dengannya. Rasanya sudah berteman sejak kecil. Ibu sudah ingat masa lalu ibu, dan kematian ibu saat melahirkanmu. Tapi, ibu tidak merasa punya ingatan dengan Shiraishi. Anehnya…, ya kayak pernah bertemu gitu.” ucap Ibuku sembari bertopang dagu.“Lagipula, seperti yang aku bilang tadi. Shiraishi itu polos. Aku rasa ayahmu atau ada pihak lain yang memaksa Shiraishi melayani ayahmu. Ibu sebenarnya hanya ingin marah ke ayahmu. Ibu tahu ayahmu cuma menantu kakekmu, sehingga ia tidak akan mendapat tahta. Tapi…, berselingkuh dariku padahal dia yang meminangku? Kalau dengar ini ayah pasti marah besar. Menantunya itu sudah bertindak kurang ajar.”“Itu sebabnya ayah ingin membunuh Bibi Shiraishi dan Hotaru.”“Hei, kamu panggil Shiraishi dengan mama.” aku mengerjapkan mataku mendengar ucapan ibuku.“Uh, baiklah….”“Justru ingin membunuh itu lebih buruk lagi, Shin. Untung saja Yuan melindungi mereka.”“Ibu sepertinya bahagia sekali bertemu, bi…, mama Shiraishi?”“Jelas donk! Hanya dia yang tidak takut padaku. Yha…, mungkin karena kepolosannya itu sehingga ia tidak tahu kalau aku ini atasan suaminya. Lagipula, kalau memang Shiraishi yang saat itu menggoda ayahmu…, Shiraishi tidak akan hidup bahagia dengan Yuan. Jelas sekali terlihat Shiraishi sangat bahagia punya suami seperti Yuan. Ibu juga ingin melindungi kebahagiaan teman pertama ibu.”“Ibu.” aku berdiri ke depan ibuku.“Ya, Shin? Kenapa?” aku memeluk ibuku yang duduk di kursi belajarku. Aku memeluknya dengan erat. Aku ingat, Hotaru mengajarkanku cara mengetahui perkataan yang tulus dan yang tidak saat aku menjadi pimpinan klan mibu yang baru. Aku tahu. Ibuku berkata tulus dan jujur ingin melindungi ibu Hotaru.“Aku bangga sekali memiliki ibu berhati besar seperti ini.” Ucapku seraya memejamkan mataku.“Ibu juga bangga punya anak berhati besar sepertimu.”~…~…~…~Hotaru POVLibur golden week sudah berakhir. Dan saat masuk sekolah, mata kanan Shinrei berubah menjadi merah. Aku menarik nafasku berat. Dia pasti sudah ingat. Aku berjalan menuju bangkunya, mumpung kelas belum di mulai. Aku menarik kursi di depannya lalu duduk menghadapnya.“Kau sudah ingat sekarang?” Tanyaku langsung. Aku lihat Shinrei sedikit terkejut. Shinrei berdeham.“Be, begitulah. Meski aku rasa, tidak semua aku ingat.” Ucapnya. Dasar tsundere.“Aku juga tidak semuanya. Aku hanya ingat sampai Kyo mengalahkan raja merah. Setelah itu Yun-yun bilang aku mengembara. Mungkin saat perjalanan itu aku meninggal.” Ujarku. Aku lihat Shinrei terkejut.“Kau gak ingat soal….”“Hn?”“Ah…, tidak. Soalnya aku ingat dulu kau pernah kembali pulang ke Mibu. Tapi, aku juga gak begitu ingat sebenarnya.”“..., aku sama sekali gak bisa ingat. Yun-yun dan Sakuya bilang ada kemungkinan kejadian itu akan terulang lagi padaku. Mungkin itu juga akan terjadi lagi padamu.”“Sakuya? Dia sudah ingat?”“Kelima Kyo dan Taihaku juga sudah ingat. Well, Yun-yun juga.”“Hishigi, Fubuki, dan ibuku juga sudah ingat.”“Ibumu?”“Ibuku juga anggota klan mibu, yang mati saat melahirkanku. Karena penyakit mematikan sih.”“Ibuku tidak ingat apa-apa. Dan aku memang tidak ingin ibu mengingatnya.” Aku menunduk. Teringat akan senyum ibu di rumah. Dan teringat akan sesuatu. “Bagaimana kau bisa ingat? Aku ingat ketika pedang milik pembunuh suruhan ayahmu ini menyentuh keningku.”“Ah…, aku diberitahu ayahku soal kamu setengah saudaraku. Dan…, ingatan itu mengalir begitu saja.”“Hng…, bagimu aku penting, ya? Sama kayak yun-yun.”“A, apa maksudmu?”“Lonceng sudah bunyi.” Aku berdiri dari bangku yang aku duduki dan berjalan menuju bangku asliku. Aku memandang langit biru. ‘Yang penting bagiku bukan pedang ini sih, tapi ibu. Dan dua orang lagi yang entah kenapa tak bisa aku ingat.’~…~…~…~Normal POV“Whoho…, kau sudah ingat, Shinrei. Selamat, ya.” Ucap Kyojiro sembari mengipasi dirinya sendiri. Shinrei menggaruk pipinya agak kaget ketika Hotaru membawanya ke sebuah tempat di kantin saat makan siang.“Hm…, jadi apa kalian akan jadi akrab? Atau bermusuhan lagi?” Tanya Kyoshiro sedikit canggung.“Aku ingin damai. Lagipula aku akan punya adik sendiri. Jadi, Aku memilih akan akrab.” Ucap Hotaru seraya mengeluarkan bekalnya. Shinrei menarik nafas.“Well, aku juga lelah bersaing dengan si jenius yang selalu pura-pura bodoh ini.” Ucap Shinrei. Hotaru memutar matanya. “Lagipula…, aku berjanji pada Ibuku….”“Janji dengan ibu?” tanya Sakuya dengan senyum lembut.“Ah, ti, tidak bukan apa-apa!” ucap Shinrei sembari membuka kotak bekalnya. Ia melirik Hotaru yang sudah mulai makan.“Hmm…, Hotaru sekarang beruntung, ya.”“Hn? Sudah sejak dulu aku beruntung. Hanya saja…, kali ini beruntungnya dua kali lipat.”“Pandai membual.” keluh Kyo. Hotaru hanya memutar matanya.“Hotaru tidak membual Kyo. Bintang sudah memberitahuku soal itu.” ucap Sakuya. Kyo mendengus. Kyoichiro menepuk-nepuk kepala Kyo.“Calon raja yang satu ini masih tetap sombong, ya. Aku jadi penasaran kapan cewe itu akan ingat.”“Cewek apaan?”“..., Kyo gak inget soal….” Shinrei memandang Kyo sembari mengernyit.“Ingat kok. Kyo cuma menyangkal. Soalnya Yuya-chan sepertinya belum ingat.” kekeh Kyoshiro. “GYAAA!! MATA MERAH YANG SESUNGGUHNYA!!”“Ngo…, ngomong-ngomong…, tadi di kelas Hotaru bilang…, bagiku Hotaru itu penting makanya aku bisa ingat… Itu maksudnya apa?”“Berbeda dengan aku, keempat adikku, serta Sakuya dan Taihaku yang ingat sejak lahir. Kamu ingat setelah waktu berlalu. Hotaru juga, kalau waktu itu dia gak menceritakan, mungkin aku menganggap dia juga sama seperti kami. Nah begini…, ingatan yang muncul setelah waktu berlalu itu biasanya muncul oleh beberapa faktor. Salah satunya faktor pentingnya ingatan itu untukmu. Ingatan soal Hotaru adalah setengah saudaramu itu penting bagimu. Makanya begitu mendengar Hotaru saudaramu kau langung ingat. Untuk Hotaru, ingatan akan kematian ibunya begitu membekas dalam ingatannya. Tekad kuat untuk merubah ingatan masa lalunya itu pun menjadi pemicu dia bisa ingat semuanya. Pedangnya yang menyentuh kening Hotaru itu hanya sebagai perantara agar ingatan Hotaru kembali.” jelas Kyoichiro.“Be, begitu rupanya.” ucap Shinrei paham. “Sebenarnya…, aku sudah mulai ingat sejak bertemu Hotaru…, dan Saisei di kelas. Hanya saja saat itu masih samar-samar. Dan baru kemarin aku bisa mengingatnya, hampir lengkap.”“Berarti ada kejadian yang akan terulang lagi padamu.” ucap Taihaku.“Iya, aku udah dengar dari Hotaru. Ngomong-ngomong…, selain mata merah…, apa tanda-tanda seseorang dari kita sudah ingat? Khususnya kamu Taihaku.”“Yang bukan anggota Mibu? Itu akan sedikit sulit karena memang tidak ada tanda-tandanya.” ucap Kyosaburo. “Memang siapa bukan anggota Mibu yang ingin kau ketahui? Sakuya masih bisa meramal, jadi dia sudah tahu kapan dan karena apa kita semua bisa ingat.”“Saisei, kan? Dia sudah ingat saat pertama bertemu denganmu. Coba kau perhatikan saja Saisei di dalam kelas. Dia kan menyukaimu. Tapi berhati-hatilah. Saishi masih belum mengingatnya. Bahkan ada kemungkinan dia tidak akan mengingatnya. Bintang memberi tahuku, Saishi dan ibunya Hotaru adalah salah dua dari anggota klan yang tidak akan ingat dengan masa lalunya.”“Hee…, baguslah ibu tidak akan mengingatnya. Dan…, pantas Saisei mengambil duduk di sampingmu.” ucap Hotaru menutup kotak bekalnya. “Kau juga suka padanya Shin?”“Di, diam!”“Wah, beneran, ya.”~…~…~…~Hotaru menghela nafasnya, sepertinya ia harus menelepon ibunya untuk mengabarkan kepulangannya yang akan telat. Ia saat ini ada di kelas, bersama Shinrei, Saisei, Sakuya, Taihaku, dan kelima Kyo. Membicarakan hal-hal yang tidak diketahui Saisei yang terjadi di masa dulu. Untuk meminimalisir kesalah pahaman yang mungkin terjadi. Saisei memandang Hotaru yang sedang menelpon ibunya.“Gak apa ibu. Aku gantiin teman tugas piket. Iya, setelah piket aku pulang kok. Gak kemana-mana.”“Keikoku itu setengah saudaramu? Bahkan dari dulu, Shinrei?” Tanya Saisei tidak percaya. Shinrei menghela nafas.“Begitulah. Tapi, ibunya Hotaru tidak boleh tahu. Ngomong-ngomong namanya sekarang Hotaru. Dan entah kenapa aku merasa kau tidak boleh menyebut nama itu padanya lagi. Tapi, aku gak bisa ingat alasannya.” jelas Shinrei.“Itu nanti biar aku saja yang jelaskan. Soalnya baik Shinrei maupun Hotaru tidak boleh tahu dulu sekarang.” Ucap Sakuya manis. Saisei mengangguk mengerti. Shinrei memutar matanya.“Sudah?” Tanya Shinrei pada Hotaru. Hotaru melipat ponselnya dan mengangguk. “Enak sekali yang punya ponsel.”“Ibu memaksa Yun-yun membelikannya untukku. Ibu trauma dengan kejadian…, luka ini. Dan ingatan sial trauma tidak bagus untuk wanita hamil.” Ucap Hotaru sembari mengangkat poninya. “Salah ayahmu, Shin.”“Iya, iya. Ayahku salah….” Shinrei terdiam sejenak. “EH?! DIA AYAHMU JUGA HOTARU!”“Pokoknya dia yang salah.” Ucap Hotaru.“..., kau berubah Keikoku.” ujar Saisei.“Namaku Hotaru sekarang. Mungkin karena ibuku masih hidup.” Ucap Hotaru seraya mengangkat bahu.“Yang gak berubah cuma ekspresimu. Kau gak kena penyakit otak di usia muda kan?” tanya Saisei. Hotaru berwajah kaget khasnya.“DIH, JANGAN BERWAJAH BEGITU DONK!” pekik Shinrei.“Habis cewemu mengatakan hal aneh.”“HOTARU!!!” Shinrei merona hebat sembari melempar tas sekolahnya, Hotaru hanya melompat menghindar, meleletkan lidahnya. Saisei ikut merona dan memalingkan wajah.~…~…~…~Tiga bulan berlalu, libur musim panas. Shinrei dan ibunya datang bersama ke rumah Hotaru. Berkunjung menemui Shiraishi dan dan anaknya yang baru lahir. Shinrei juga ingin tahu seperti apa jika Hotaru menjadi ‘kakak’. Sesuatu yang dulu sama sekali tidak bisa ia bayangkan, mengingat Hotaru agak egois dan seenaknya. Meski tidak separah Kyo.“Sachika…, terima kasih mau berkunjung.” ucap Shiraishi di depan pintu rumahnya. Sachika, ibu Shinrei tersenyum dan mengusap kepala Shiraishi.“Sudah sewajarnya kan? Hehe, bagaimana kesehatanmu dan bayimu?” Tanya Sachika seraya menepuk pundak Shiraishi. Shiraishi tersenyum dan menuntun Sachika masuk rumah.“Bayiku sudah sehat. Kondisiku masih belum bisa dibilang normal, jalan seperti ini saja aku masih kelelahan. Tapi, untunglah Hotaru mau membantuku.” Ucap Shiraishi. Sachika melirik Shinrei.“Kalau Shinrei punya adik dia bakal membantuku juga gak ya?” Shinrei berwajah pucat.“Entahlah, tergantung anaknya sih. Tapi aku rasa Shin-chan mau membantu ibunya, kan?” Shinrei mengangguk mendengar ucapan Shiraishi. Sachika tertawa kecil.‘Seandainya kau tahu yang sebenarnya, Shirai.’“Ibu…, Hirari Lapar thu. Kayaknya.” Ucap Hotaru yang muncul dari balik pintu dengan senyum lebar, suara bayi juga terdengar di belakangnya. Shinrei jatuh terduduk melihat senyum Hotaru yang tidak biasa itu.“Ah, sebentar.” Shiraishi terlihat agak terburu-buru. Sachika ikut menemani Shiraishi.“Hota-chan. Kamu temani Shinrei aja, ya. Biar mama yang bantu ibumu mengurus adikmu.” ucap Sachika seraya mengusap kepala Hotaru.“Ung…, baiklah. Ayo ketua kelas, kita ke kamarku.” ucap Hotaru. Shinrei mengangguk ragu-ragu. Ia bangkit berdiri lalu mengikuti Hotaru ke kamarnya yang ada di lantai dua. Hotaru membuka kamarnya, begitu Shinrei masuk, ia mengunci pintu kamarnya. “Ibumu tahu?”“Eh, apa?” Tanya Shinrei. Hotaru memutar matanya.“Ibumu sudah tahu soal aku?”“Iya…, aku yang memberi tahunya.” Hotaru berjalan menuju pintu kamarnya. Shinrei mencegahnya. “Tak apa, ibuku sudah janji padaku. Dia tidak akan memberi tahu siapapun. Bahkan pada ibumu.”“Ck.”“Percayalah padaku. Kali ini aja.”Hotaru menarik nafas dan menghembuskannya. “Yha…, Yun-yun juga bentar lagi pulang.”“Kau protektif sekali pada ibumu.”“Apa boleh buat.” ucap Hotaru seraya merebahkan diri di ranjangnya. Shinrei duduk di meja belajar milik Hotaru. Kamar yang kecil, tapi terasa nyaman.“Hotaru. Menurutmu aneh tidak sih, kita bisa mengingat kejadian masa lalu kita?”“Aku rasa tidak. Lagipula, planet ini bukan planet bumi lagi. Tapi, planet Mibu. Rasanya seperti sebuah desa yang tiba-tiba pindah ke sebuah planet, ya. Tapi memang seperti itu adanya. Jadi, aku rasa wajar karena kita pindah ‘planet’ makanya bisa ingat.”“Yha, kau benar juga.”~…~…~…~“Kau bahagia sekali Shirai.” kekeh Sachika. Shiraishi yang sedang menyusui anaknya itu tersenyum kecil.“Ini kedua kalinya aku menemukan kebahagiaan dalam diri kecil ini. Aku tentu bahagia.” ucap Shiraishi.“Yuan memberimu semua kebahagiaan ini, kan? Kamu beruntung sekali.”“Uhm…, Sachika-san ada masalah dengan suamimu?”“..., bagaimana kamu tahu?”“Habisnya…, perkataan Sachika-san tadi seperti…, mengatakan kalau Sachika-san ada masalah.” ucap Shiraishi dengan wajah lesu.“Ah…, ketahuan, ya? Iya aku ada sedikit masalah dengan suamiku. Sejak Shin lahir, dia sama sekali tidak mendekatiku lagi. Seolah dia hanya memanfaatkan aku agar keturunannya menjadi raja.” ucap Sachika. Shiraishi memandang Sachika, ia mengusap pundak Sachika sembari tersenyum.“Jangan berkata seperti itu. Nanti jadi kenyataan, lho.”“Memang sudah kenyataan, Shirai. Akhir-akhir ini aku tahu dia berselingkuh dengan beberapa gadis muda. Aku tahu aku aneh…, tapi aku sebenarnya cemburu. Baik pada gadis-gadis muda itu, maupun padamu.”“Tidak aneh, kok Sachika-san.” ucap Shiraishi. Ia memperbaiki posisi anak keduanya itu, lalu tersenyum lembut. “Wajar seorang wanita cemburu. Itu tanda kalau kau mencintai suamimu. Mungkin saja suamimu ingin mengetes kesetiaanmu. Yuan pernah beberapa kali pulang dalam keadaan setengah mabuk dan tercium bau wanita dari pakaiannya. Tentunya aku marah. Dan kau tahu apa yang ia katakan padaku?”‘ Hihihi, aku senang kamu masih merasa cemburu, Shirai sayangku…, kamu begitu mencintaiku ya. Aku janji gak akan bermain ke klub malam lagi kok. Kecuali kalau raja yang membawaku ke sana. Tenang saja, aku tidak bermain seperti itu kok. Gadis-gadis itu cuma berusaha menggodaku dengan menyentuh dirinya ke diriku.’
‘Pokoknya aku gak suka ada bau wanita lain! Kamu…, kamu kan yang memilihku. Hiks….’
‘Ara…, iya sayangku, iya…, aku tidak akan lagi kok. Sungguh. Jangan nangis lagi, ku mohon.’
“Jadi, aku rasa kamu boleh memarahi suamimu, Sachika-san. Yha, tapi tetap dalam batas wajar. Aku gak mau nama teman pertamaku tiba-tiba masuk koran pagi….” ucap Shiraishi seraya menggaruk pipinya. Sachika memeluk Shiraishi dari belakang.“Hnng…, kamu termasuk wanita yang tegar ternyata.” ucap Sachika.“Menurutku Sachika-san juga tegar, kok. Meski ada masalah dengan suami, kamu tetap mengurusi anakmu dengan baik.”“Hanya anakku yang mengerti aku sekarang sih. Anakku bersikap dewasa waktu aku cerita soal ayahnya yang selingkuh. Dia bilang, ‘ibu kan masih ada aku’. Aku tak tahan liat wajah polosnya mencoba menghiburku.” ucap Sachika.“Ahaha…, waktu pertama kali juga Hotaru juga bilang begitu padaku. Besoknya Hotaru malah menendang kepala Yuan yang sedang tidur dan marah-marah karena selingkuh dariku. Gak sopan sih, tapi saat itu Yuan dan Hotaru terlihat seperti ayah dan anak yang sedang bercanda.” kekeh Shiraishi.“Anakmu itu berani sekali, ya?” tawa Sachika. Shiraishi ikut tertawa, tawa yang dipaksakan.“Itu karena, dia bukan anak kandung Yuan.” Ucap Shiraishi lalu menitikkan air matanya.~…~…~…~“Baiklah…, aku dan anakku pulang dulu, ya. Mungkin lusa atau minggu depan aku akan mengunjungimu lagi, kok.” Ucap Sachika. Shiraishi tersenyum dan mengangguk.“Sachika-san.” Sachika berbalik dan memandang Shiraishi. “Berjuanglah.”Sachika terdiam sejenak sebelum tersenyum lebar. “Terima kasiih!”Setelah berjalan cukup jauh, Sachika berjalan menempelkan diri ke dinding pembatas sebuah rumah. Shinrei memandang ibunya yang menangis. “Ibu? Ibu kenapa?”“tidak…, ibu…, ibu hanya….” Shinrei memeluk kaki ibunya, tingginya yang baru sepinggang ibunya itu sedikit menyulitkannya untuk menenangkan ibunya.“Ibu…, ibu kenapa…, cerita pada Shinrei.”“Ibu…, ibu tidak tega mengatakan kalau ayahmu…, orang yang pernah memperkosanya dan memberi anak pertama padanya. Shirai menceritakan padaku…, kehidupannya yang dulu. Dia bahkan mempercayakanku untuk menyimpan fakta bahwa Hotaru bukan anak Yuan. Yang sudah aku tahu….” ucap Sachika. Shinrei memeluk kaki ibunya lebih erat.“Gak apa, ibu. Aku rasa ibu berbuat hal yang benar. Mama Shirai terlihat masih lemah fisiknya, kalau sampai mama Shirai tahu, ayah adalah pengguna terakhirnya mama Shirai pasti akan terguncang. Apalagi kalau mama Shirai tahu kalau ayah adalah suami ibu.”“Shin….”“Hotaru sudah cerita padaku, dia sudah ingat aku setengah kakaknya. Begitu juga Yuan-san. Tapi, Hotaru meminta Yuan-san tetap menyembunyikannya pada mama Shirai. Dan memang Yuan-san tidak mau menceritakannya juga.”“Hota-chan meminta Yuan untuk tidak bilang pada Shirai?”“Iya. Hotaru bilang, psikis mama Shirai lemah. Bahkan mungkin sebelum bertemu dengan Yuan-san…, ibu tahu kan mama Shirai dipekerjakan oleh ayah kandungnya sendiri untuk jadi pelacur? Kalau sampai mama Shirai tahu, mungkin mama Shirai akan hancur.”“Kau benar nak.” Sachika berjongkok dan memeluk anaknya. “Tapi…, cepat atau lambat Shirai harus tahu. Kalau anak pertamanya akan bersaing denganmu untuk jadi pewaris kakekmu. Meski Hotaru berasal dari ayahmu, mungkin saja kakekmu akan tetap membuat kalian bersaing.”“..., aku tahu ibu. Hotaru bilang dia memilih untuk lambat. Aku gak paham sih tadi…, tapi sekarang aku tahu maksudnya.”“Lebih baik ibunya terlambat tahu sehingga dia sudah cukup punya kekuatan untuk menerima kenyataan, kan?”“Kok, ibu tahu?”“Ahaha…, pikiran ibu dan pikiran Hotaru sepertinya sama kalau menyangkut Shirai. Sudahlah, ayo pulang. Bisa bahaya kalau banyak orang lihat ibu menangis di sini.”“Ah, ibu….”
----- CHAPTER BREAK -----
6 tahun kemudian. Hotaru merenggangkan badannya setelah tidur seharian kemarin. Kemarin adalah hari terakhir liburannya, sebelum ia akhirnya masuk sekolah menengah pertama hari ini. Hotaru bangkit dari ranjangnya dan berjalan menuju kamar mandi. Suara pagi ini terdengar lebih ceria. Adiknya akan masuk SD untuk pertama kalinya. Berbeda dengannya yang langsung masuk ke SD, adiknya sudah belajar dulu di TK. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat adiknya untuk masuk ke sekolah.“KAKAK!! KAKAK! KAKAK!” teriak adiknya semangat pada Hotaru yang baru keluar dari kamar mandi. Hotaru menutup telinganya. Adiknya itu punya semangat luar biasa. Hotaru, mengangkat adiknya dan menggendongnya.“Semangat amat adikku ini….” ucap Hotaru seraya tersenyum lebar dan mencubit pelan pipi adiknya. Adiknya tertawa lebih lebar dan memeluk kakaknya itu.“Aku mau masuk SD yang sama dengan SD kakak.”“Bukannya memang cuma ada satu SD di sini?” kekeh Hotaru.“Iyaa…, aku akan pakai seragam yang sama dengan kakak.” Hotaru tertawa.“SD kan tidak ada seragam…, ya sudah…, kamu sudah mandi? Makan?”“Aku udah mandi! Kita, nunggu kakak Makan.”“Baiklah Hirari. Ayo makan.”Hotaru menggendong adiknya itu turun dari lantai dua tempat kamarnya berada. Adiknya memeluknya dengan erat. Hotaru tersenyum senang. Rasanya berbeda ketika ia memiliki adik sendiri, dan meski ia sendiri masih belum yakin, ia merasa sudah menjadi kakak yang baik. Yuan dan Ibunya menyambutnya dan adiknya di ruang makan. Rasanya tenang dan damai. Hotaru mendudukkan adiknya di kursi lalu duduk di sampingnya. Hotaru mengambil mangkuk nasi yang sudah disediakan ibunya mereka akhirnya makan bersama. Hotaru berdiri memanggul tasnya setelah selesai makan.“Hotaru…, kancingkan gakuranmu dengan benar.” Ucap Shiraishi. Hotaru menarik nafasnya. Shiraishi melirik Yuan,Yuan terkekeh dan mengancingkan gakuran hitam milik Hotaru.“Sesak.”“Ibumu yang memaksamu.” Kekeh Yuan. Hotaru cemberut lalu tersenyum kecil.“Yuan. Nanti temani Hotaru ke sekolahnya, ya. Aku yang akan menemani Hirari.” Yuan terkekeh melirik Hotaru yang kembali cemberut.“Hirari mau ditemani Kakak.” Keluh Hirari.“Jangan Hirari sayang..., nanti kakakmu telat.” ucap Yuan.“Mau ditemani kakaaakk….” Tangis Hirari. Yuan menggaruk kepalanya. Hotaru menarik nafasnya. Ia berjongkok lalu mengusap kepala Hirari.“Besok kakak temani. Hari ini Hirari sama ibu, ya. Kakak belum tahu kelas kakak, jadi kakak harus datang lebih dulu. Sekolah kakak kan lebih jauh dari sekolah adek sekarang.” Ucap Hotaru lembut. Hirari menggusap air matanya.“Kakak janji?”“Janji.” Kekeh Hotaru lalu mencium pipi Hirari. Hirari tersenyum senang lalu mengangkat tangannya, memeluk leher kakaknya.~…~…~…~“Kalau Shinrei yang melakukan itu padamu, apa reaksiku, ya?” Tanya Yuan yang berjalan disamping Hotaru. Hotaru menghela nafas sembari melepaskan kancing gakurannya.“Aku akan menangis merengek seperti Hirari pun, kau pasti bingung dengan reaksimu sendiri.” Ucap Hotaru.“Hei…, kalau ibumu tahu ibumu akan menangis lho.” Ucap Yuan menunjuk gakuran Hotaru. Hotaru menarik nafas.“Pulang nanti aku kancing lagi. Lalu, kenapa kau menemaniku ke kerajaan barat?”“Memastikan kau sembuh dari buta arahmu.” Kekeh Yuan. Hotaru kembali cemberut. “Kerajaan Barat, ya…, salah satu pangerannya itu temanmu, lho.”“Aku tidak punya teman.”“Jangan menyangkal donk.” Kekeh Yuan. “Temanmu yang bertubuh besar itu. Yang dulu Date Masamune.”“Bontenmaru?”“Yup.”“Ngomong-ngomong…, kenapa setiap jenjang sekolah beda kerajaan sih?” Ucap Hotaru. Yuan mengeluarkan ID card miliknya lalu menempelkan ID card itu ke card reader di tiang pendek buatan sebagai pembatas masuk stasiun. Yuan berbicara dengan petugas stasiun sejenak. Petugas itu membuka pembatas masuk untuk Hotaru. Hotaru berjalan melewatinya sembari menunduk.“Planet ini ukurannya kecil sih. Antara seukuran bulan atau planet Mars sedikit lebih kecil. Kalau dibagi jadi 5 bagian juga udah habis tanahnya. Warga di sini juga sedikit. Rata-rata anggota klan mibu dulu. Dan banyak yang seperti Hirari. bahkan di kerajaan Timur ada satu desa yang semua isinya adalah orang-orang bukan klan mibu.” ucap Yuan setelah mencari kereta menuju kerajaan Barat.“Makanya diputuskan jadi satu jenjang sekolah satu kerajaan? Mending satu sekolah yang khusus dari TK sampai akademi ada di satu kerajaan. Biar gak lelah. Ngomong-ngomong apa dan kapan aku mendapatkan itu?”“Coba saja kau usulkan ke kelima Kyo.” Kekeh Yuan. “Ini? Sebenarnya kartu pelajarmu ketika SD masih bisa kok. Cuma lebih baik kamu pakai yang SMP saja lebih aman. Nanti dibagikan, kok.”“Jadi mereka yang dari kerajaan lain dulu pakai ID card juga?” tanya Hotaru sembari memasuki kereta menuju kerajaan barat.“Yup! Duduk di sini Hotaru.” Kekeh Yuan. “Karena kamu langsung masuk SD jadi kamu gak tau.”“Berarti Hirari kemarin….”“Aku yang mengantar terus kok. Toh, ayah tirimu ini udah pensiun sejak tahun lalu.” ucap Yuan. Hotaru menarik nafas lalu mencengkram baju Yuan.“Kalau kau gak kerja Ibu dan Hirari akan makan apa?!”Yuan terkekeh.“Aku pensiun dari kerjaan sebagai tangan kanan kerajaan, kok. Aku masih bekerja sebagai guru olahraga di SMU kok. Selesai mengantarmu aku langsung ke kerajaan Utara kok. Toh, ini kereta yang juga melaju ke kerajaan Utara.” Hotaru melepaskan cengkraman baju pada Yuan.“Berarti tiga tahun lagi aku diajar dirimu? Lagi?”“Bersenang-senanglah selama tiga tahun ini.”“Sial.”Mereka akhirnya terdiam di kereta. Hari masih pagi, sekitar pukul 6.30 pagi. Kereta berjalan sedikit terasa lambat bagi Yuan dan Hotaru. Hotaru menempelkan kepalanya di bahu Yuan. Yuan menghembuskan nafas sembari tersenyum lembut, ia mengusap lengan kiri anak tirinya itu. Terkadang, Yuan berharap dialah yang sungguhan menjadi ayah kandung bagi Hotaru. Kereta berhenti di stasiun tujuan sekitar pukul 7.30, perjalanan memakan waktu satu jam. Berbeda dengan waktu SD yang masuk pukul 9, SMP masuk pukul 8.30. Masih ada sekitar satu jam lagi sebelum pelajaran pertama dimulai. Hotaru menggaruk pipinya, berarti ia besok terpaksa membolos di jam pertamanya demi Hirari. Hotaru memandang papan pengumuman yang terpasang di sekitar pintu masuk. Semua siswa baru terlihat sudah berkumpul di depan papan pengumuman yang berisi nama dan kelas siswa baru itu. Hotaru di kelas 1-B.“Dah, baik-baik di kelas barumu.” ucap Yuan seraya menepuk-nepuk pundak Hotaru. Hotaru mengangguk kecil.“Yun-yun juga…, hati-hati di jalan.” ucap Hotaru sambil berlalu. Yuan memandang punggung Hotaru sejenak. Yuan lalu tersenyum di depan pintu gerbang sekolah itu.“Anak itu, hanya karena ibunya masih hidup saja bisa berubah sedrastis ini.” kekeh Yuan sembari berjalan lagi menuju stasiun.~…~…~…~“Kita sekelas lagi?” tanya Hotaru pada Shinrei dan Saisei yang sudah ada di kelas barunya. Hotaru berjalan menuju bangku ia biasa duduk selama di SD. Shinrei dan Saisei mengangguk.“Minus adikku dan Benitora.” ucap Saisei.“Begitu? Baiklah.” ucap Hotaru lalu memandang keluar jendela. “Lanjutkan pacaran kalian. Anggap aku tidak ada.”“Ka, kami belum pacaran!” Ucap Saisei dan Shinrei bersamaan. Hotaru mendengus tidak peduli. Ia memandang langit biru yang begitu indah. Memang benar kata Yuan, bahkan dari gedung sekolahnya ini, ia bisa melihat 2 dari 5 ujung menara yang menjadi istana kerajaan. Itu sudah lebih dari cukup untuk menandakan bahwa daratan di tempat ini tidak begitu luas. Atau mungkin belum terjamah semua? Hotaru beralih memandang meja guru, ada sebuah benda yang menarik perhatiannya.Globe. Sesuatu yang belum pernah ada di zaman mereka hidup di Bumi. Hotaru memutar benda berbentuk bulat itu dan memperhatikan setiap wilayahnya. Benar dugaannya, ada daratan lagi di bagian belakang dari lima pulau besar yang menjadi pulau utama di planet ini. Daratan yang memang hanya pulau-pulau kecil. Jika dulu Bumi memiliki 70 persen lautan dan 30 persen daratan, maka planet Mibu ini memiliki hampir 90 persen lautan dan kurang dari 10 persen daratan. Hotaru menopang dagunya, itu sebabnya ia lebih sering makan hewan laut ketimbang hewan darat. Bagus juga, karena Hotaru sendiri suka merasa kasihan dengan hewan darat yang akan jadi makanannya. Pulau-pulau kecil itu masuk wilayah 4 pulau besar. Pulau Utara, Timur, Barat, dan Selatan. Sementara pulau pusat sendiri adalah pulau paling besar di planet ini sudah di kelilingi beberapa pulau kecil.‘Tapi, jarak segini tetap termasuk jauh…, lalu kenapa tadi memakan waktu satu jam lebih 15 menit saja? Aneh.’ batin Hotaru begitu melihat area rumahnya dengan stasiun, serta dari stasiun selatan menuju stasiun barat di globe itu. Hotaru kembali menuju kursinya. Jendela kelasnya tidak mengarah ke stasiun, sehingga Hotaru tidak bisa melihat seberapa cepatnya kereta yang ia naiki itu.“Kagum dengan keindahan kerajaan Barat, Hotaru?” Hotaru berbalik memandang seorang pemuda seumurnya, bermata biru dan berambut coklat terang. Hotaru menghela nafas.“Akira….”“Kerajaan Timur lebih bagus lagi.” ucapnya seraya tersenyum puas. “Hanya kamu Shiseiten yang tidak menjadi pangeran, lho.”“Hoo…, kapan kau ingat? Aku memang gak ingin jadi pangeran juga kok.” ucap Hotaru. Akira duduk di depannya.“Well, sejak pertama bertemu juga udah merasa familiar denganmu, kok. Tapi aku baru ingat setelah ketemu Bontenmaru dan Kyo pas liburan kemarin.” ucap Akira. “Aku dengar dari Kyo…, kamu anggota Shiseiten yang pertama ingat, ya?”“Well, tapi juga yang tidak bisa mengingat semuanya.”“Tidak semua?” tanya Akira.“Ingatanku terputus saat Kyo mengalahkan raja merah. Entah setelahnya aku mati…, atau mungkin ada kejadian yang terulang lagi di saat ini.” jelas Hotaru seraya memandang keluar jendela lagi. “Ngomong-ngomong Akira…, aku memang bukan pangeran. Tapi…, Shinrei tetap kakakku dan dia pangeran.”“Intinya darah kerajaan tetap ada di dirimu, ya? Dasar sombong.”“Enggak juga. Ayah Shinrei menantu keluarga kerajaan Selatan Utama. Jadi aku gak ada darah kerajaan Selatan Utama sama sekali. Tapi, mungkin darah kerajaan kecil di selatan lainnya ada.”“Memang sih. Ibuku berasal dari kerajaan kecil di Timur yang dipinang ayahku yang berasal dari kerajaan Timur Utama. Hingga akhirnya aku jadi pangeran tunggal kerajaan Timur Utama. Dan itu sebabnya pula aku lebih diasuh oleh nenekku.”“Hng…, ngomong-ngomong, sekarang kau enggak buta, ya….”“well, mungkin belum buta.” ucap Akira sembari memalingkan wajahnya. “Dan kau sendiri berubah drastis Hotaru. Baru kali ini aku tidak sebal oleh perkataanmu.”“Mungkin kau terbiasa.”“Mana Mungkin!” keluh Akira. “Ah, iya juga…, kamu berubah setelah punya….”“Apa itu ingatan masa laluku? Tolong jangan diucapkan. Aku gak mau dengar.”“Ha? Kenapa?”“Kejadian itu mungkin akan terulang, lho. Kalau sampai aku dan Shinrei tahu sebelum kejadian itu terulang…, mungkin kejadian itu akan terulang dengan cara yang lebih mematikan lagi.”“..., iya sih…, waktu itu….” Akira menghentikan ucapannya. Hotaru menghela nafas. Ia tidak bisa memungkiri ia penasaran, tapi ia tidak ingin apa yang terjadi nantinya akan merubah sejarahnya sendiri. Seperti yang ia lakukan pada sejarah ibunya itu. Ia memang senang ibunya berhasil bertahan hidup, tapi sebagai konsekuensinya ibunya tidak punya ingatan masa lalu serta sifatnya yang berubah jauh. Meski begitu, Hotaru bersyukur sifat ibunya saat ini lebih menyenangkan dibanding dahulu. “Tapi, Sakuya-san bilang lebih baik salah satu dari kau atau Shinrei tahu sih. Karena Sakuya-san bilang kejadiannya memang terulang, tapi mungkin kali ini kau tidak akan mendapat bantuan siapa-siapa kalau sampai kejadian. Bagaimana pun, kamu temanku dan aku tidak ingin kau mati karena itu.”“Kalau begitu, beri tahu Shinrei, saja.” Ucap Hotaru seraya menunjuk Shinrei. Shinrei dan Saisei sedari tadi hanya diam mendengarkan percakapan dua mantan Shiseiten itu. “Oh, ya…, Saisei gak dendam ama Akira, kan?”“Mana mungkin…, dia orang kedua yang waktu itu mengakui kehidupanku kan? Tentu saja aku tidak dendam.” ucap Saisei lembut. “Lagipula, sekarang aku benar-benar manusia…, sudah tidak butuh lagi.”“Baguslah. Aku gak mau kakak iparku, dan mungkin kakakku juga, bertengkar dengan teman baikku.”“Hotaru….” ucap Akira, Shinrei, dan Saisei bersamaan.“Kamu memang berubah, ya.” Ucap Akira.~…~…~…~“Karena semua anggota Shiseiten sudah ingat. Ayo kita karaokean dulu!” Ucap Bontenmaru yang tiba-tiba nongol di pintu gerbang SMP mereka. “Karaoke di kerajaanku lebih bagus dari tempat kalian!”“Tepatnya yang paling dekat sekarang.” Ucap Hotaru, Akira, dan Akari bersamaan.“Ngomong-ngomong, kapan kalian ingat? Dan bukannya kalian sudah SMA di kerajaan Utara?” ucap Hotaru. Akari tersenyum manis ala cewe, khasnya.“Aku yang kedua ingat setelah dirimu. Kejadiannya karena pernah ketemu Kyo saat dia mampir ke istana Utara.” Ucap Akari dengan senang.“Aku yang ketiga setelah dirimu. Saat pertama masuk SMP, aku sekelas dengan Kyo dan Kyoshiro.” Jelas Bontenmaru sembari berjalan menuntun mereka. “Hanya kau anggota Shiseiten yang ingat bukan karena Kyo. Ibumu lebih penting daripada Kyo, ya?”“Kalau bukan karena tekad ibuku dulu…, aku gak akan lahir dan gak akan bertemu kalian dan menjadi anggota Shiseiten.”“Iya juga sih.” Ucap ketiga Shiseiten lainnya.“Ano…, kalian beneran yakin mengajak kami juga? Kami anggota Goyousei, lho.” Ucap Saisei di belakang Hotaru. Shinrei yang disampingnya mengangguk mengiyakan.“Tidak masalah. Lagipula Shinrei pangeran kerajaan selatan pusat. Orang-orang disini pasti melihat kita sebagai teman sesama pangeran.” Ucap Bontenmaru bangga. “Oh, ya…, kau tidak dendam kan pada Akira?”“Lagi?” Tanya Saisei. Bontenmaru menggaruk kepala belakangnya. “Gak Hotaru, gak Bontenmaru…, pertanyaan kalian sama saja…, Enggak kok. Karena…, Akira orang kedua yang mau mengakui hidupku.”“Dan setelahku lihat…, kali ini sepertinya berjalan lancar.” Ucap Akira seraya bertopang dagu dan tersenyum khasnya. Saisei merona dan mengangguk.“..., kau suka pada Saisei juga Akira? Saingan Shinrei donk.” Tanya Hotaru.“A, apa maksudmu Hotaru?” Tanya Shinrei dengan wajah merona.“KA, KAGAK!”“Dia mah sudah suka sama mantan Taishirou kecil itu lho.” Ucap Bontenmaru seraya terkekeh.“BO, BONTEN!”“Karaokenya lama tidak? Kalau lama aku mau menelpon Yun-yun dulu.” Ucap Hotaru mengalihkan pembicaraan.“Ha? Kau masih harus seperti itu? Kau sudah SMP, kan Hotaru?!”“Bukan begitu. Kali ini, meski Shinrei sudah bilang dia yang akan mengurus ‘pembunuhku dan ibuku’, tapi nyatanya ayahnya masih mengirimkan beberapa pembunuh ke tempat ibuku. Harusnya aku yang menjaga ibu dan Hirari sore ini. Aku harus bilang Yuan soal ini untuk menjaga ibu dan Hirari.”“Yuan kan akan pulang malam, Hotaru. Dia kan guru.”“Tapi hanya Yun-yun yang tahu siapa giliran jaga selanjutnya kalau aku berhalangan seperti ini. Mungkin antara Yurian atau Kirian yang menjaganya.”“Aku juga akan mengontak ibuku untuk bermain ke rumahmu. Jaga-jaga kalau Yuan-san mendadak tidak bisa memberi perintah pada saudara-saudaranya.” Ucap Shinrei seraya mengeluarkan ponselnya.“Well, terima kasih.” Ucap Hotaru.“..., Hotaru mengucapkan terima kasih pada Shinrei.”“Kalau ini di zaman klan mibu mungkin dunia kiamat, kali, ya?”“Jangan-jangan sekarang juga sedang akhir zaman?”“Sembarangan.” Ucap Hotaru sembari memandang ketiga Shiseiten lainnya yang menjauh sembari berbisik-bisik.“Apa boleh buat. Perubahanmu terlalu drastis untuk orang yang ‘baru ingat’. Aku yang ingat sejak kita pertama bertemu juga menganggap dunia mungkin sedang kiamat saat pertama melihatmu begini.” Ujar Saisei.“Sembarangan.” Keluh Hotaru kedua kalinya. “Yun-yun biasa aja tuh.”“Dia mah….” Kelima lainnya diam sembari membayangkan Yuan yang tertawa khasnya. Hotaru menghela nafas sembari menempelkan ponsel di telinga kirinya.~…~…~…~“Kuakui tempat karaokemu memang lebih bagus dari kerajaan Timur.” Ucap Akira.“Juga dari kerajaan Selatan.” Ucap Shinrei.“Cih…, akan aku perlihatkan kalau kerajaan Utara juga akan lebih bagus dari tempat ini!” Ucap Akari.“Jadi ini yang namanya karaoke?” Tanya Hotaru.“Ka, kamu gak pernah Hotaru? Perpisahan SD kan juga ke karaoke di kerajaan selatan….” tanya Shinrei.“Aku gak ikut karena saat itu aku yang menjaga ibu dan Hirari saat perpisahan di TK.”“Ah, yang kau izin mau naik gunung itu, ya…, aku lupa.” ucap Shinrei.“Ngomong-ngomong siapa Hirari yang dari tadi kalian sebut?” Tanya Bontenmaru yang diikuti anggukan oleh Akari dan Akira. Saisei tertawa kecil.“Adiknya Hotaru. Anak Yuan-san dan Shiraishi-san.” Jelas Saisei. Ketiga Shiseiten lainnya terdiam sejenak. Hotaru menutup telinganya.“EEEEH?! KAMU PUNYA ADIK?” Teriak ketiganya bersamaan. Shinrei dan Saisei hanya tertawa miris dan telinga mereka yang sedikit berdenging. Hotaru membuka telinganya.“Memangnya kenapa?” Hotaru langsung menutup telinganya lagi.“YHA ANEH LHA!!” teriak mereka lagi.“Memangnya kamu jadi adiknya Hishigi gak aneh, Akari?”“Eh? Itu…, yha….” Akari menggaruk kepala belakangnya.“Ah…, sudah-sudah! Ayo karaoke sekarang!” Ucap Bontenmaru. “Aku pilih lagu pertama ya.”~...~...~...~
Yuan menghela nafas, begitu kerjaannya selesai ia segera pulang. Tentu karena khawatir dengan keadaan istri dan anaknya itu. Meski Hotaru bilang mungkin ibu Shinrei akan bermain ke rumah, tapi tetap saja itu tidak cukup meyakinkan bahwa istri dan anaknya akan baik-baik saja. Meski ia sudah meminta Anthony juga untuk menemaninya. Yuan mencoba mengatur nafas. Lari dari stasiun ke rumahnya cukup memakan tenaga. Yuan memasuki gerbang rumahnya, berjalan sejenak sebelum membuka pintu rumahnya.
“Aku pulang.” Ucapnya. Tawa Shiraishi yang tadi terdengar langsung terhenti dan langsung disambut dengan ucapan selamat datang. Yuan berjalan menuju ruang tamu dan melihat Shiraishi dan Hirari yang tertidur ada di sana. Sachika, ibunya Shinrei, juga ada di sana. Yuan menghela nafas lega.
“Ah…, aku pikir kau bersama Hotaru, Yuan.” Ucap Shiraishi.
“Shinrei yang bersamanya. Mereka sepertinya sudah dapat tugas bersama di hari pertama masuk.” Kekeh Yuan.
“Begitu kah?” Shiraishi mengerjap tidak mengerti. Sachika tertawa kecil.
“Makanya aku mampir ke rumahmu Shirai…, bosan aku di rumah sendirian.” Tawa Sachika.
“Air mandi sudah siap? Hari ini aku terlalu semangat mengajar anak-anak.” Ucapnya seraya mengangkat sedikit baju trainingnya. Shiraishi tertawa.
“Sudah siap, kok. Hirari juga sudah mandi tadi. Iya kan, Sachi-san?”
“Tentu Shirai.”
“Well, kalau bagitu aku mandi dulu.” Kekeh Yuan lalu pergi dari ruang tamu. Yuan berjalan menuju dapur. “Kau sudah boleh pulang Anthony.”
“Well, baiklah, Kak.” ucap Anthony lalu turun dari balik atap dapur. Ia memandang kakak keduanya itu lalu menunduk kecil. Yuan ikut menunduk.
“Anthony…, maaf merepotkanmu.”
“Gak masalah, kak. Kakak ipar kan keluarga kita juga.” ucap Anthony.
“Yha, kau benar.”
“Tapi, aneh…, waktu dulu, saat Shinrei bilang akan menghentikannya, ayahnya langsung percaya penuh padanya. Sementara sekarang….”
“Mungkin karena ia belum melihat pergerakan yang membuahkan hasil dari Shinrei. Yha, percuma juga sih, karena Shinrei sendiri sekarang ingin melindungi Hotaru. Bahkan Nyonya Sachika yang aku pikir akan paling memusuhi Shiraishi ternyata malah berbalik melindunginya.”
“Benar juga sih. Berarti…, kita selama ini hanya bisa mencegah selama dia sendiri tidak turun tangan.”
“Maksudmu?”
“Ayahnya Shinrei ahli jurus air kan? Mungkin tidak sekuat Fubuki. Tapi, aku sendiri yakin, aku tidak bisa melawannya.” ucap Anthony. Yuan tersenyum kecil.
“Mengulur waktu sampai aku atau Hotaru datang sudah cukup. Kemampuan Hotaru dulu sudah cukup untuk mengalahkan ayahnya itu. Bahkan Shinrei sendiri pun, sudah mampu.”
“Tapi bukan berarti saat ini, Touhaku tidak memperkuat diri.” Ucap Anthony. Yuan mengangguk kecil.
“Kau benar sih.”
~…~…~…~
Hotaru pulang agak larut, bersama Shinrei tentunya. Sachika hanya tersenyum menyambut anaknya dan anak tirinya di rumah Yuan itu. Sachika mengusap kepala Hotaru, lalu berpamitan pada Shiraishi. Shiraishi tersenyum dan mengangguk, mengantar Sachika hingga ke pintu gerbang rumahnya.
“Ada Shinrei, kok. Jangan khawatir. Lagipula dekat kok.” Ucap Sachika sembari menunjuk istana yang memang sangat dekat dengan rumah Yuan ini.
“Tapi, tetap sudah malam.”
“Santai, Shirai. Sudah ya.”
“Uuh…, Yuan…, temani Sachi-san, ya…, aku mohon.” Ucap Shiraishi pada Yuan yang ada di sampingnya.
“Well, apa boleh buat. Hotaru jaga ibumu dan adikmu di rumah, ya. Sampai aku kembali lagi.” Kekeh Yuan lalu menepuk bahu Hotaru. Hotaru mengangguk. Yuan menemani Shinrei dan Sachika pulang ke istana.
“Jadi…, seandainya aku tidak datang, siapa yang menjaga Shirai dan Hirari?” Tanya Sachika pada Yuan.
“Anda datang pun masih adikku jaga sampai aku datang, kok. Jaga-jaga kalau perintah Nyonya tidak digubris oleh anak buah suami anda. Hari ini Anthony.” Jelas Yuan.
“Bukan Kirian atau Yurian? Hotaru bilang mungkin mereka.” tanya Shinrei.
“Mereka gak mungkin sendirian. Harus berpasangan. Dan karena Kirian ada kegiatan klub, aku gak mungkin meminta Yurian yang lebih ke ahli strategi itu menjaga sendirian.” Jelas Yuan.
“Hm…, begitu, ya.”
“Berlaku juga untuk Marian dan Lilian. Juga Angelica dan Erian. Hanya Anna dan Anthony, juga ayah dan ibuku, yang bisa aku tugas kan untuk menjaga sendiri.” Ucap Yuan. “Apalagi kalau Ibuku. Dia bisa saja berlaku seperti Nyonya. Berkunjung untuk melihat kabar sembari berjaga-jaga. Lagipula, Hirari sepertinya cucu kesayangan ibuku.”
“Ian memang sangat kuat, ya. Aku dengar, dulu Ian yang menggantikan Shihoudou menjadi Taishirou.” Ucap Sachika.
“Sungguh?” tanya Shinrei.
“Iya, ibuku ahli pedang wanita nomor satu di Mibu. Tapi, aku gak berani meminta ibuku terus untuk menjaga Shiraishi. Meski dia lebih banyak menganggur sekarang.” ujar Yuan.
----- CHAPTER BREAK -----
Hotaru memandang ibunya yang sedang melipat baju, hal yang terhenti tadi ketika ia dan Shinrei akhirnya pulang. Ibunya itu tersenyum senang dan sesekali bersenandung. Hotaru bersyukur ia masih bisa melihat ibunya hidup sampai saat ini. Ia melirik Hirari yang tidur di futon yang terpaksa di bawa ke ruang tamu, agar ibunya Shinrei juga dapat menjaganya. Hotaru memandang langit-langit rumahnya, sembari merebahkan diri.“Hotaru…, mandi dulu, gih. Ibu juga masih agak lama melipatnya.”“Nanti kalau Yun-yun sudah pulang.” Ucap Hotaru sembari memiringkan badannya.“Jangan begitu, ah. Ayo mandi lalu tidur. Udah malam, lho.”“Aku tahu, bu. Tapi…, aku masih ingin mengeringkan keringat dulu. Kata guru gak bagus mandi pas keringatan. Jadi, Hotaru ingin manja-manja sama ibu dulu.” Ucap Hotaru sembari tertawa kecil. Ia mendekati ibunya dan meletakan kepalanya di kaki Shiraishi. Shiraishi ikut tertawa kecil.“Dasar, anak ibu yang satu ini.” ucapnya seraya mengusap rambut Hotaru.“Aku bersyukur ibu sekarang bisa melihatku tumbuh besar.” Ucap Hotaru lalu memejamkan matanya.“Apa maksudmu sayang? Ibu kan melihatmu tumbuh dari bayi sampai segede ini.” Ucap Shiraishi.“Iya, ya.” Ucap Hotaru sambil tersenyum memejamkan mata. Shiraishi ikut tersenyum sembari melipat baju. “Berarti beneran mimpi, ya.”“Kamu mimpi apa, nak?”“Aku mimpi, saat perampokan itu, pas umurku 5 tahun ibu meninggal dan aku hanya seorang diri di rumah ini. Aku sampai tidak bisa berpikir rasional karena kehilangan ibu. Bahkan sampai tumbuh besar pun, aku sendirian.”“Hotaru…, itu cuma mimpi. Ibu ada di sini, kan? Sudah, ya. Jangan menangis.”“Aku…, menangis?” Hotaru membuka matanya dan merasakan pipinya basah. Ia wajah ibunya, wajah ibunya terlihat tersenyum tapi…, Hotaru mendudukan diri lalu memeluk ibunya. “Yang menangis ‘kan, ibu. Hotaru buat ibu sedih ya? Maaf.”“Tidak apa, sayang. Tidak apa.” ucap ibunya itu. Hotaru menghembuskan nafasnya lega. Hotaru melirik jendela rumahnya, dengan pandangan waspada. Hotaru berbisik kecil sembari mengusap punggung ibunya yang masih menangis.~…~…~…~“Mao’en.”“GUARGHH!” Pekik bayangan hitam yang bersembunyi di semak-semak. Hotaru dengan geta tengunya berjongkok di dinding pagar rumahnya.“Memang jam-jam segini, ya. Mereka pada beraksi.” Hotaru menarik nafas lalu berdiri di atas dinding itu. Yuan terlihat melambaikan tangannya.“Hei…, kenapa kau diluar? bagaimana keadaan ibumu?” Tanya Yuan. Hotaru tersenyum lalu mengangkat bahunya, tubuhnya perlahan-lahan berubah menjadi api. “Clone ternyata.”Yuan menarik nafas dan membuka pintu gerbang rumahnya lalu menguncinya setelah masuk. Yuan menghela nafasnya dan membuka pintu. “Aku pulang.”“Ah, selamat datang.”Setelah melepaskan sepatu di rak, Yuan berjalan ke ruang tamu dan memandang Shiraishi yang terlihat mengusap air matanya. Hotaru menghembuskan nafasnya. “Kau apakan ibumu, Hotaru?” Yuan berlari mendekati Hotaru dan merangkulnya lalu mencubit pipinya.“Hibu, whenanghis dhenghar mwimphi wurukhu! Wepasghan!!”“Kau mimpi buruk?” Tanya Yuan melepas pipi Hotaru. Hotaru mengusap pipinya yang memerah dan tersenyum penuh makna. Yuan menghembuskan nafas. “Shirai, itu kan hanya mimpi anakmu. Gak beneran kan? Jadi, jangan menangis donk.”“Iya…, maaf.” Ucap Shiraishi lalu tersenyum.“Hirari tidur nyenyak banget kayaknya.” Ucap Hotaru lalu mendekati tempat tidur Hirari. Hirari terlihat tidur mengunyah udara. “Malam ini tidur di sini semua yuk.”“Hei, kau sudah besar Hotaru.” Ucap Yuan. Hotaru terkekeh.“Aku tahu, kok. Tapi, gak ada salahnya kan?”~…~…~…~“Kakak kenapa pakai baju ini lagi?” tanya Hirari saat ia diantar kakaknya menuju sekolah. Hotaru terkekeh.“Namanya juga seragam. Nanti Hirari juga bakal pakai baju yang sama terus kayak gini, kok.” jelas Hotaru. Hirari memandang wajah kakaknya.“Hirari gak bisa dapat sekarang?”“Hm? Kamu mau pakai juga?” tanya Hotaru. Hirari mengangguk mantap. “Panas, lho.”“Tapi kakak keliatan cakep. Hirari juga mau.”“Jangan jadi cakep sebelum waktunya. Nanti nikah muda kayak Yun…, maksudku ayah kita.”“Hirari mau seperti ayah!”“Kakak gak melarang sih…, tapi repot, lho. Ayah aja harus bolak balik cari kerjaan. Hirari memangnya sudah mau kerja?”“Iya sih. Hirari masih mau main.” Ucap Hirari lalu menunduk.“Nah, sekarang pikirnya main dan belajar dulu ya. Nanti kalau sudah pakai seragam yang kayak gini baru boleh mikir mau jadi kayak ayah.” Ucap Hotaru lalu memperlihatkan sebuah foto di ponselnya. Hirari terlihat berbinar melihat foto itu.“Kereen….”“Keren kan? Kakak masih tiga tahun lagi pakai baju ini.” Ucap Hotaru.“Eh? Kak Shinrei?”“Hng?” Hotaru membalik layar ponselnya. Ia melihat Shinrei sedang menghubunginya. Hotaru menggandeng tangan Hirari lagi, sembari menekan tombol angkat. “Ada apa ketua kelas?”“KAN KAMU KETUANYA! sial…, kemana aja kamu? Dicariin wali kelas nih.”“Masih di rumah. Aku skip pelajaran pertama.”“Whoy!”“Berisik. Sudah, ya.”“Oi, tu….” Hotaru melipat ponselnya lalu menyakukannya di celana. Hotaru menghembuskan nafas lalu melirik Hirari yang tertawa-tawa. Hotaru lalu menggendong adiknya dan berlari menuju sekolah adiknya itu.~…~…~…~Hotaru melirik ke arah lain sementara guru kelasnya terlihat berbicara padanya soal keterlambatannya. Well, dia memang sudah menduga. Guru kelas Hotaru adalah wanita tua yang dulu pernah bertemu Kyo di Hutan Aokigahara saat Kyo mencari tubuh aslinya. Hotaru dengar dari Bontenmaru yang waktu itu juga menjadi murid kelas dari guru kelasnya itu. Tentunya bersama Kyo. Wanita tua bertubuh pendek dan bermata tiga itu bernama Haruna, atau sekarang bernama Haruna. Hotaru berjongkok memandang wanita itu.“Aku bolos karena adikku ingin aku yang antar dia ke sekolahnya. Haruna-sensei jangan marah-marah gitu donk.” Ucapnya dengan wajah datar. Haruna menghembuskan nafasnya.“Adikmu kan bisa diantar oleh orang tuamu.”“Masalahnya aku sudah janji mengantarnya hari ini.” Ucap Hotaru seraya menggaruk pipinya. “Lagian, aku gak mau jadi ketua kelas.”“Gak bisa. Aka no Ou…, maksudku, Kyo memintaku untuk menjadikan setiap anggota Shiseiten jadi ketua kelas.”“Kalau gitu Akira saja yang ketua kelas. Dia juga anggota Shiseiten.”“Kalau dia jadi ketua kelas, kau yang jadi ketua osis.”“Ha?”“Kyo jadi ketua osis dulu, Bontenmaru jadi ketua kelas. Akari juga jadi ketua kelas. Karena kamu dan Akira sekelas seperti Bontenmaru dan Kyo…, salah satu dari kalian akan jadi ketua osis.”“Cih, Merepotkan.”“Bagaimana lagi…, soalnya kalau Kyo jadi Aka no…, maksudku…, jadi raja kerajaan Pusat dia ingin agar Shiseiten yang memerintah 4 kerajaan besar lainnya. Dan kau jadi penguasa selatan.” Jelas Haruna-sensei. Hotaru memutar matanya.“Well, ini namanya pemaksaan. Aku terlahir bukan sebagai pangeran selatan lho.”“Tapi kakakmu pangeran selatan.”“Aku lahir dari menantu penguasa selatan dan selingkuhannya. Jadi, bagaimanapun aku tetap tidak berhak.”“Kyo pasti akan memikirkan sesuatu.”“Ugh…, Kenapa Kyo sekarang haus kekuasaan sih?” Keluh Hotaru.“Dia berubah. Kamu pun juga. Meski aku kepala desa dari desa iblis, desa para makhluk tak sempurna, tidak pernah melihatmu…, tapi reputasimu sebagai ‘Keikoku from Goyousei’ dapat aku dengar.” Ucapnya. Hotaru menegakkan badannya.“Jangan sebut nama itu lagi. Namaku Hotaru. Nama itu adalah nama a….” Hotaru mengerjapkan matanya lalu memegang kepalanya.“Ma, maaf, Hotaru-sama…, anda tidak apa?”“..., aku baik-baik saja. Pokoknya jangan sebut nama itu lagi padaku!”“Baik, Hotaru-sama.”“..., Haruna-sensei…, kalau aku jadi ketua osis, aku boleh memilih wakilku?”“Eh? Itu akan aku bicarakan dengan Kyo-sama.”“Kalau sudah dapat hasilnya. Aku akan memutuskannya dengan segera. Sepertinya aku harus bertahan sedikit lebih lama dengan posisi ketua kelas ini.”~…~…~…~Shinrei memandang Hotaru yang sedari tadi bengong menatap bekalnya. Ia melirik Saisei yang duduk di depannya, di samping Hotaru. Saisei melirik Hotaru. Ia menepuk pundak Hotaru. Hotaru mengerjapkan matanya beberapa kali lalu memandang Saisei.“Ada apa? Kok gak dimakan?” tanya Saisei. Hotaru menghela nafas.“Gak ada apa-apa.” ucap Hotaru.“Jangan bohong. Kamu yang sekarang gak bisa bohong lagi. Kau aneh setelah datang di jam kedua, setelah bicara dengan Haruna-sensei tepatnya.” ucap Akira yang duduk di sebelah Shinrei. Hotaru menarik nafasnya.“Aku merasa sempat ingat soal masa laluku. Cuma itu.”“Oh, bagus donk.”“Tapi langsung lupa.” Shinrei dan Akira jatuh dari kursinya, sementara Saisei menepuk keningnya. Hotaru memiringkan kepalanya.“La, lalu kenapa kau bengong jadinya?” tanya Saisei. Hotaru menarik nafas lalu menghembuskannya agak keras, lebih mengarah pada kekecewaan.“Justru karena lupa itu…, entah apa yang memicu aku mengingatnya dan entah apa yang membuatku langsung melupakannya. Dan jujur saja…, kata-kata Haruna-sensei sebelumnya juga tidak dapat aku ingat.” jelas Hotaru.“Oh…, kalau begitu memang aneh, sih.” ucap Shinrei yang sudah kembali duduk di kursinya.“Hm…, memang kalian bicarain apa sebelumnya?” tanya Akira yang juga sudah kembali duduk. Hotaru menopang wajahnya dengan tangan kirinya.“Soal aku jadi ketua kelas dan kau wakilnya, Akira. Haruna-sensei bilang, ini permintaan Kyo saat dia masih SMP.” ucap Hotaru.“Kau protes lagi? Padahal sudah bagus kamu jadi ketua kelas.” ucap Shinrei. Akira mengangguk.“Benar. Lagipula, kamu yang sekarang memang ada sesuatu yang membuatku ikut hormat padamu.” Ucap Saisei. Hotaru memutar matanya.“Aku gak masalah jadi ketua kelas. Asalkan aku tidak jadi orang yang pulang terakhir seperti ini. Aku sudah bilang kemarin soal ibuku….”“Memang sih. Tugasmu di rumah juga lebih penting. Kadang…, aku juga kasihan pada ibuku yang mungkin harus terus menjaga ibumu. Meski keliatannya ibuku tidak keberatan.” Ucap Shinrei.“Makanya…, apalagi…, Haruna-sensei ingin menjadikanku kandidat ketua osis. Ketua osis pulangnya lebih lama lagi.” Ujar Hotaru.“Hmm…, tidak ada yang aneh seharusnya…, lalu kenapa tiba-tiba kau bisa ingat? Dan seketika itu juga melupakannya? Ah…, sebelum kau merasa mengingatnya, Haruna-sensei atau kamu pasti bicara sesuatu…, apa yang kau atau sensei bilang?” Tanya Akira.“Aku cuma bilang, kenapa Kyo saat ini lebih mengincar kekuasaan? Well…, aku sampai sekarang juga gak ingat jawabannya.” Ucap Hotaru.“Hm…, aku akan coba tanyakan pada Sensei. Mungkin jawabannya bisa membantumu mengingatnya lagi.” Kekeh Saisei, lalu menutup kotak bekalnya.“Eh, Saisei….”“Tak apa, santai saja.”~…~…~…~“Saisei dari Goyousei…, ada apa?” Tanya Haruna-sensei. Saisei tersenyum kecil.“Hotaru bersikap aneh setelah bicara dengan sensei…, aku hanya ingin tahu alasannya.”“Bukannya anda menyukai Shinrei dari Goyousei?”“Aaah…, i, itu bu, bukan begitu…, sebagai teman aku hanya penasaran…, dan…, membantu Shinrei juga. Shinrei penasaran kenapa ad…, rivalnya itu mendadak bertingkah aneh.” Ucap Saisei malu-malu. Haruna tertawa kecil. Wanita tua bertubuh pendek itu turun dari kursinya.“Kami bicara soal protes Hotaru-sama saja kok.”“Tapi…, dia agak bersikap aneh…, Sensei yakin cuma itu saja?”“..., well, Hotaru sempat memarahiku dan tiba-tiba memegang kepalanya. Itu sendiri sudah cukup aneh.”“Eh?! A, apa yang dia katakan pada Sensei? Dan apa yang sensei bilang sebelumnya?”“Well…, kalau tak salah aku bilang kalau Kyo-sama berubah, seperti dirinya. Meski aku tidak pernah bertemu dengannya tapi, reputasinya sebagai ‘Keikoku dari Goyousei’ sudah pernah aku dengar. Dan Hotaru-sama tiba-tiba berkata jangan sebut nama Keikoku lagi untuknya, nama itu adalah nama…, ucapan Hotaru-sama terputus saat itu. Dan dia langsung memegang kepalanya.”“ITU DIA! Terima kasih Sensei. Aku berhutang budi pada Sensei.”“Ara, jangan begitu Saisei. Aku ini mahkluk tak sempurna buatan generasi kalian dahulu.”“..., dan aku mayat hidup yang dibangkitkan klan Mibu, sensei. Kita sama sebenarnya.” ucap Saisei.~…~…~…~“Nama ‘Keikoku dari Goyousei.’ itu yang membuat Hotaru mendadak bersikap aneh.” ucap Saisei pada Akira dan Shinrei. “Aku tidak membicarakan ini di depan Hotaru. Tapi sepertinya Hotaru ingat sesuatu yang berhubungan soal nama itu. Atau tepatnya penggunaan nama lamanya itu.”“Maksudnya dia ingat kalau Keikoku dulu adalah nama yang diberikannya kepada anaknya?” tanya Akira.“ANAK?” pekik Shinrei terkejut.“Lho? Shinrei? Kamu juga lupa?” tanya Akira. Shinrei memegang kepalanya. Saisei dan Akira mendadak panik melihat reaksi Shinrei.“Uh….” Shinrei terlihat terengah-engah.“Shinrei…, kau tidak apa?” tanya Saisei masih panik.“Aku…, ingat…, tapi….”“Jangan bilang langsung lupa juga.” ucap Akira berspekulasi.“Bukan begitu…, aku mendadak ingat…, ingat bagaimana aku menemukan Hotaru yang nyaris mati karena disiksa oleh ibu dari anaknya itu…, hanya sampai di situ.” ucap Shinrei lalu mencengkram rambutnya.“Aku juga dengar dari Akari. Wanita mengerikan yang sekaligus hebat karena sudah membuat Hotaru di masa lalu, ‘Hotaru si muka besi, egois, dan tak berperasaan’ akhirnya cacat sebagai seorang samurai.” ucap Akira. “Well, meski aku juga cacat, setidaknya aku masih bisa menggunakan jurus iceku untuk waktu terbatas, sekitar 3 jam. Tidak sepertinya yang tidak boleh menggunakannya jurus apinya sama sekali.”“Kalau dipikir, itu juga pertama kalinya aku benar-benar mengakui dia adalah adikku. Yang terbawa sampai sekarang.” ucap Shinrei.“Anaknya pasti membawa perubahan besar pada Hotaru, ya. Coba aku masih hidup.” Ucap Saisei. Shinrei menggaruk pipinya.“Well, aku masih tidak ingat. Tapi entah kenapa tubuhku berkata iya. Dia berubah drastis.”“Sayang ya…, padahal hanya kamu yang melihat perubahan Hotaru setiap harinya, dulu.” Ucap Akira. “Yha tidak apa. Kalian sendiri bilang kejadian itu akan terulang lagi, kan? Shinrei…, karena kamu ingat kejadian itu…, aku rasa bagian penyiksaan Hotaru akan sedikit berubah.”“Yha…, tapi hasilnya pasti akan tetap sama.” Ucap Shinrei.
----- CHAPTER BREAK -----
Hotaru memandang Saisei yang sesekali meliriknya ketika mereka berada di kereta. Saisei tertawa canggung dan langsung memalingkan wajahnya. Hotaru mengangkat bahunya lalu kembali memandang televisi yang ada di kereta. Shinrei ikut mengamati Hotaru. Ia masih agak kaget ketika ingatannya akan anak Hotaru datang dalam pikirannya. Hotaru yang biasanya lebih mementingkan dirinya sendiri, saat itu mendadak memintanya menyelamatkan bayi yang terus menangis itu. Shinrei menggelengkan kepalanya, meski ia hanya ingat sampai di situ, tapi itulah keanehan pertamanya.“Kalian kenapa sih?” tanya Hotaru lalu berbalik tiba-tiba. Saisei dan Shinrei tertawa canggung dan menggeleng.“Kau masih aneh kali.” Ucap Akira sambil tersenyum menopang dagu khasnya.“Sembarangan.” ucap Hotaru lalu memasang kembali kancing gakurannya.“Nanti aku mampir ke rumahmu, ya. Fufufu…, aku penasaran dengan ibu dan adikmu itu.” Ucap Akira.“Aku juga boleh?” Tanya Saisei semangat. Hotaru menarik nafasnya.“Baiklah.” Ucapnya pasrah. Akira tersenyum menopang dagu dan Saisei tersenyum senang.“Kalau begitu, aku akan menahan ibuku lebih lama.” Ucap Shinrei.“Ibumu main ke rumahku lagi?”“Rencananya setiap hari ibuku emang mau main.” ucap Shinrei. “Mama Shirai gak mungkin main ke rumahku kan…, dan ibuku kelihatannya senang aja tuh.”“Hngh…, Mama Sachi memang luar biasa.”~…~…~…~“KAKAK OKAERIIII!!!” Teriak Hirari lalu berlari menerjang kakaknya yang baru membuka pintu gerbang. Hotaru langsung menangkap dan menggendong adiknya itu. Hirari tertawa senang dan memeluk Hotaru dengan erat. “Itu siapa?” Lanjutnya.“Tadaima. Mereka teman kakak. Ayo masuk.” Ucapnya. Hirari melompat turun dan menghampiri Akira dengan senyum lebar.“NAMAKU HIRARI!! SALAM KENAL!!” Teriaknya memperkenalkan diri. Akira bertopang dagu.“Namaku Akira. Salam kenal adik manis.”“KAKAK! AKU DIBILANG MANIS LHO!!” Teriak Hirari lagi. Hotaru berjongkok dan tersenyum lebar, ia lalu mencubit pelan pipi Hirari.“Apa kakak bilang…, kamu kan memang adik kakak yang manis.”“Du, dunia kiamat!” Pekik Akira sambil jatuh terduduk.“Gak, gak kiamat kok.” Ucap Saisei dan Shinrei sambil tertawa. Mereka membantu Akira berdiri. Hotaru yang sudah menggendong Hirari lagi hanya mendengus. Ia menggunakan gerakan tangannya untuk mengikuti.“Kau sudah pulang, Hotaru? Kalau gitu mama pu….”“Ibu, Shinrei masih mau main sebentar sama Hotaru. Ibu main lagi sama mama Shirai aja dulu.” Ucap Shinrei pada Sachika yang ada di depan pintu utama, baru mau pulang. Sachika tersenyum simpul.“Oke!” Ucap Sachika. Ia melirik Shiraishi yang juga ada di depan pintu utama. “Kita lanjutkan belajarnya, ya.”“Baiklah.”“Ibu belajar apa?” Tanya Hotaru.“Uh…, sedikit membaca sama masak makanan. Masakan Sachi-san enak lho.” Ucap Shiraishi. Hotaru mengangguk-angguk. “Oh, siapa ini?”“Namaku Akira, tante. Aku wakil ketua di kelas Hotaru.” Ucap Akira memperkenalkan diri.“Wah…, masuk-masuk. Jangan di depan pintu seperti ini. Nak Saisei juga.”“Baik bibi.”~…~…~…~“Gila…, kau berubah banget di rumah.” Ucap Akira yang duduk di lantai kamar Hotaru. Hotaru meletakan nampan berisi beberapa gelas teh, lalu menghela nafas.“Berubah drastis kan? Waktu pertama aku mampir juga aku kaget abis.” ucap Saisei.“Oh, yang waktu kita dan adikmu ada tugas itu, ya.” Ucap Hotaru lalu duduk di meja belajarnya. “Well, sebelum aku ingat, aku mirip dengan Hirari saat ini. Well, minus suaranya. Jadi meski aku ingat, aku harus tetap terlihat seperti anak manis dan ceria setidaknya di depan ibuku. Ibuku kan tidak tahu aku berubah karena kematiannya dulu.” jelas Hotaru.“Benar juga sih. Kalau pas kamu ingat lalu tiba-tiba sifatmu berubah, ibumu pasti akan merasa aneh.” Ucap Saisei.“Ibu bahkan pernah bolak balik membawaku ke psikiater karena sikapku mendadak jadi dewasa. Yha…, soalnya hanya itu saja yang susah aku sembunyikan.” Ujar Hotaru. Hotaru memandang ke arah lain.“..., ternyata ibumu juga protektif padamu.” ucap Akira. Hotaru menghembuskan nafasnya dan tersenyum kecil.“Yha…, meski tidak ingat…, mungkin ibu pernah merasa….”“KAKAK! KAKAK! KAKAAAAAKK!!!” Ketukan pintu yang tak berhenti dan teriakan keras sang adik menghentikan perkataan Hotaru. Shinrei tertawa kecil. Hotaru menghela nafas lalu berjalan menuju pintu kamarnya.“Ada apa Hirari…, kakak ada ta….”Lantai tiba-tiba saja bergetar sengat hebat. Hotaru langsung memeluk Hirari dan menjauh dari pintu. Shinrei, Saisei, dan Akira langsung melindungi kepala mereka dengan bantal dan ada yang bersembunyi di bawah meja belajar. Hotaru menatap Hirari yang sedari tadi memang berwajah pucat. Hotaru menggendong adiknya itu lalu berlari menuruni tangga rumahnya.“Bodoh!” Keluh Shinrei dan Akira yang melihat pergerakan Hotaru. Tak lama gerakan tanah berhenti, membuat ketiga orang yang tadi bersembunyi itu akhirnya menghembuskan nafas lega.“Well, gempa yang cukup besar. Tapi, mungkin tidak akan membuat kerusakan parah.” Ucap Shinrei mencoba menenangkan diri.“Iya, kau benar. Tapi tetap saja ngeri, ya.” Ucap Saisei.“Ngomong-ngomong…, kemana si muka besi itu?”Saisei dan Shinrei terdiam. Mereka bertiga akhirnya menyusul keluar dari kamar dan berlari menuju pintu utama rumah Hotaru. Pintu itu terbuka dan memperlihatkan tanah lapang. Tanah lapang di mana Sachika terlihat menenangkan Shiraishi dan Hotaru mengusap kepala Hirari yang terus menangis. Ketiga orang itu menghela nafas lega.~…~…~…~Pemberitaan di pagi itu semuanya berkaitan dengan gempa yang terjadi kemarin sore di daerah kerajaan Selatan dan sebagian kerajaan Timur. Akira baru mendapat kabar tak lama setelah gempa di wilayah Selatan terjadi, gempa yang sama pun dirasakan di kerajaan Timur. Hal itu menyebabkan ia semakin terlambat pulang kemarin. Sekolah untuk anak TK dan SD bahkan diliburkan akibat gempa kemarin. Hotaru menopang kepalanya mendengar pemberitaan di televisi pagi itu.“Hirari enak, ya…, bisa libur padahal baru masuk.” kekeh Hotaru sembari memakan sarapannya. Hirari mengunyah makanannya sembari tersenyum bangga. Hotaru tertawa lalu mengusap kepala Hirari.“Karena kerajaan Barat dan kerajaan Utara tidak kena dampak yang berarti. Selain keterlambatan kereta.” ucap Yuan. Yuan kemarin merasakan dampaknya. Disaat ia buru-buru pulang demi istri dan anak-anak tercintanya itu, ia terpaksa harus terjebak di dalam kereta yang berhenti selama setengah jam. Untungnya kemarin juga tidak ada penyerangan untuk istrinya.“Iya, aku tahu.”“Tapi mungkin teman-temanmu dari kerajaan Timur akan terlambat semua. Jadwal kereta dari dan menuju kerajaan Timur di putar melalui kerajaan Utara atau kerajaan Pusat dulu. Kerajaan Selatan juga. Untungnya kau dan aku pergi ke kerajaan Barat dan Utara, jadi kita masih bisa naik kereta. Aku lagi malas meminjam mobil ayah.” jelas Yuan. Sejak berhenti jadi tangan kanan kerajaan, Yuan memang tidak lagi memiliki mobil. Bukannya mereka tidak sanggup beli, dengan uang pensiun dari kerajaan keluarga Yuan harusnya dapat hidup berfoya-foya, tapi Yuan tipe yang malas membayar pajak hanya untuk sebuah mobil. Bahkan untuk mengeluarkan uang lebih untuk berfoya-foya saja ia malas. Pengaruh istrinya juga yang lebih ingin menjadi keluarga sederhana yang bahagia.“Pantas Akira bilang dia harus memutar ke kerajaan Pusat dulu. Aku pikir mau menemui Kyo.” ucap Hotaru.“Yha…, tapi tak menjamin aku tepat waktu ke SMA sih.” bisik Yuan. Hotaru menghela nafas.“Ibu, kami berangkat lebih pagi, ya.” Ucap Hotaru sembari memasukan sisa sarapan paginya ke dalam kotak bekal yang biasa ia bawa.“Eh? Kenapa buru-buru, Hotaru?”“Takut kereta hari ini membludak dan aku terlambat. Aku kan calon ketua osis saat ini.” ujar Hotaru. Yuan mengerjapkan matanya.“HA?! SEJAK KAPAN?” Pekik Yuan.“Ketua osis itu apa?” Tanya Hirari dan Shiraishi bersamaan. Hotaru memijit keningnya.“Uhm, semacam ketua seluruh siswa gitu, bu, Hirari. Nanti aku jelaskan di kereta, Yu…, ayah…, sudahlah, ayo berangkat.”~…~…~…~“Ooh, aku pikir kau yang mencalonkan sendiri.” Ucap Yuan lega.“Mana mau.”“Iya sih, mengingat ada beberapa sifatmu yang tidak berubah…, mustahil kamu mencalonkan diri…, tapi menerimanya? Aku tetep saja agak kaget….” Yuan menggaruk kepalanya dengan gerakan sesedikit mungkin kereta yang sangat penuh hari ini membuatnya hampir tidak bisa bergerak banyak.“Yha…, alasannya bikin aku gak bisa menolak sih. Nanti Yun-yun gak usah turun kereta saja. Aku bisa jalan sendiri.”“Apa alasannya? Yakin bisa sendiri?”“Kyo yang memintaku. Aku sudah besar Yun-yun. Toh, hari ini lebih banyak yang arah tujuannya sama.” Hotaru melihat sekelilingnya dan dengan gerakan matanya menunjuk beberapa siswa yang memakai seragam yang sama dengannya.“Oh, pantas saja. Kalau begitu nanti di jalan jangan meleng. Biarin aja kupu-kupu terbang, jangan dikejar.”“..., iyaa….” Hotaru cemberut, ia berusaha melipat tangannya yang agak mustahil untuk dilakukannya akibat sesaknya keadaan kereta saat ini.~…~…~…~Beruntung ketika keluar kereta, Hotaru bertemu dengan Saisei dan Saishi yang ternyata naik kereta yang sama dengannya. Hanya beda gerbong. Hotaru mengikuti Saisei dan Saishi, jujur saja, ia bahkan sudah lupa arah menuju sekolahnya kalau ia tidak bersama Yuan. Saat pulang pun, ia selalu mengikuti Shinrei atau Saisei dan Saishi menuju ke stasiun. Hotaru memandang sekeliling dan tetap melirik Saisei dan Saishi di depannya.“Nee, Hotaru…, katanya kau mencalonkan diri jadi ketua osis, ya?” Tanya Saishi dengan nada centilnya. Hotaru memutar matanya sejenak sebelum memandang Saishi.“Begitulah? Tidak sesuai ekspektasi?”“Bukan gitu…, aku juga mencalonkan diri! Tapi aku ingin jadi bendahara.” Ucap Saishi ceria. “Kak Saisei juga kan?”“Begitulah. Tapi aku tidak menargetkan diri jadi apapun.”“Target kakak Pangeran Shinrei yang juga ikut mencalonkan, kan? Ufufufu….” tawa Saishi. Saisei memukul kepala adiknya itu pelan. Wajahnya merona hebat.“Shinrei?”“Sejak tahu kau dicalonkan jadi ketua osis, dia berambisi bersaing denganmu. Kau kan….” Saisei menghentikan ucapannya dan memandang Saishi.“Ternyata dia masih berniat untuk bersaing dengan orang yang lebih hebat menurutnya..” Hela Hotaru. Saisei tersenyum kecil sementara Saishi tertawa.“Begitulah sifat pangeran kita. Anehnya dia anak tunggal, ya. Ayah bilang biasanya anak lelaki punya sifat begitu muncul karena punya saudara lelaki juga.” Saishi bingung sembari terus berjalan sementara Hotaru dan Saisei sempat berhenti berjalan.“Saisei…, lain kali kau bicara dengan Shinrei soal hal ini.”“Aku mengerti.”~…~…~…~Sorenya, Hotaru mengikuti Shinrei, Akira, dan Saisei mencari kereta yang menuju ke kerajaan pusat. Ada satu tugas sekolah yang membuat mereka mau tak mau harus pergi ke perpustakaan terlengkap di planet itu. Hotaru menghela nafas, ia lagi-lagi harus meminta Ibu Shinrei dan Anna untuk menjaga ibu dan adiknya. Sesampainya di kerajaan pusat, mereka dibuat terkejut dengan keadaan yang sangat amat modern itu. Setelah mencari kota tujuan mereka di peta besar yang ada di depan stasiun, mereka menaiki sebuah bus yang menuju kota tujuan. Dan bertemu dengan beberapa orang yang mereka kenal.“YO! Ketemu lagi!” Ucap Bontenmaru.“Bonten…, kenapa kau ada di sini? Akari dan Kyo juga.” Ucap Akira. Hotaru memutar matanya.“Kalau menaiki bus ini, aku rasa tujuan kita semua sama, Perpustakaan Kéntro.” Ucap Akari seraya mengait tangan Kyo.“Kalian ada tugas juga?” tanya Kyo.“Begitulah.” ucap Shinrei.“tugas apa? Rasanya cepat sekali kalau kalian sudah dapat tugas untuk pergi ke perpustakaan Kéntro.” Ucap Bontenmaru.“Well…, sebenarnya bukan tugas berat…, cuma ketua kelompok yang satu ini banyak maunya.” Ucap Akira.“Apa katamu?” bentak Shinrei.“Memang benar, kan?”“Kyo…, aku mau bicara sesuatu.” Ucap Hotaru. “Berdua.”“Kau mau….” Kyo mengangkat tangannya di depan Akari yang protes, lalu berpindah ke bagian depan bus dan duduk bersama Hotaru. Keduanya terlibat pembicaraan serius tanpa suara.~…~…~…~“Ini dia.” Ucap Shinrei seraya memperlihatkan sebuah buku sedikit tebal. Akira menghela nafas.“Oke, ayo segera kerjakan. Dampak gempa di kerajaan Timur masih perlu aku perhatikan.” Ucap Akira.“Kau…, cih, baiklah.” Ucap Shinrei lalu mencari tempat Saisei dan Hotaru mencari tempat duduk. Saisei tersenyum sembari memperlihatkan buku yang sudah siap untuk ditulisi.“Mana Hotaru?” Tanya Shinrei. Saisei menunjuk ke arah salah satu lorong rak buku. Hotaru bersama Kyo ada di sana.“Apa yang dia lakukan disana?!” Kesal Akira.“Sudahlah…, kita mulai saja sekarang. Aku juga harus membantu kakek mengembalikan kerusakan di kerajaan selatan.” Ucap Shinrei dengan pandangan meremehkan. Akira yang kesal lalu duduk dan mulai mengerjakan. Hotaru datang dengan terburu-buru saat mereka hampir menyelesaikan tugasnya. Ia meletakan sebuah album di depan Shinrei.“Apa-apaa….” Shinrei diam lalu membaca album itu dengan seksama.“Inilah yang Haruna-sensei bilang…, dengan cara apapun Kyo akan menjadikan semua Shiseiten sebagai Raja…, bahkan aku….” Ucap Hotaru.“..., Ta, tapi ini tidak mungkin! Lihat…, Buyut Houou meninggal dalam pelayaran menuju kerajaan pusat…, ke, kenapa ibumu mirip dengan Buyut Houou?”“Kalian! Kerjakan tugas dulu kenapa?! Hari sudah gelap juga!” Kesal Akira. Hotaru menghela nafasnya, ia mengambil buku yang sudah ditulisi dan membacanya sejenak. Hotaru mengambil pena dan mulai mengisi buku itu tanpa melihat isi buku lainnya. Tak lama Hotaru meletakan buku tulis itu di depan Akira.“Kalau tugas yang seperti ini, aku sendiri bisa mengerjakannya dalam waktu satu jam.” ucap Hotaru. Akira membaca hasilnya sekaligus membandingkan hasil di buku refrensi dengan tangan gemetar.‘Je, jenius.’ batin Akira.“Karena sudah selesai…, memang apa yang kalian bicarakan tadi?” tanya Saisei lalu mendekati Shinrei.“Ini…, Kakak perempuan dari ibu kakekku…, terlihat mirip sekali dengan Mama Shirai dan Hotaru.” ucap Shinrei dengan tangan gemetar. Akira membulatkan matanya dan ikut mendekatkan diri pada Shinrei dan melihat buku album yang dibawa Hotaru sesaat tadi. Hotaru duduk di kursinya dengan ekspresi lelah lalu memandang Kyo, Bonten, dan Akari yang juga mengerjakan tugas di meja yang agak jauh dari mereka. Hotaru memandang ke langit-langit perpustakaan itu.‘Jadi, ayahnya Kyo sudah tahu dari awal, ya…, sejarah yang tidak jauh beda dengan dulu…, hanya saja kali ini ayahnya Kyo dan Nenek buyutku yang melakukan…, pengambil alihan kekuasaan? Yha…, sehingga planet ini jadi sangat damai.’ Batin Hotaru.“Well, aku akan coba tanya ibuku soal ini.” Ucap Shinrei seraya memperlihatkan ponselnya yang sudah memotret foto buyutnya itu. Hotaru teringat sesuatu.“Aku akan coba tanya ibu juga…, siapa tahu ibuku juga mengetahuinya.” Ucap Hotaru lalu memotret foto di album itu.~…~…~…~“Aku pulang.”“Yo! Terlambat pulang hm…, terjebak di kereta setelah pulang dari perpustakaan pusat itu?” Ucap Yuan di depan pintu. Hotaru menghela nafasnya sembari melepas sepatunya.“Begitulah. Oh, ya Yun-yun….” Hotaru melempar ponselnya ke arah Yuan. Yuan terkejut dan segera menangkap ponsel Hotaru dengan hati-hati.“Whoy! Kalau ponselmu rusak, aku gak akan beliin yang baru!”“Aku bisa beli sendiri nanti. Kau lihat foto di ponsel itu. Bagaimana apa menurutmu?”“I, ini….” Yuan membulatkan matanya. “Layarmu hitam Hotaru.”Hotaru melempar tas sekolahnya. Yuan tertawa canggung dan menangkap tas sekolah anaknya itu. ‘Dia masih mudah marah juga ternyata.’ batin Yuan. Yuan menutup dan membuka kembali ponsel Hotaru. Foto yang sepertinya diambil dari sebuah buku terlihat familiar di matanya. Foto dari album itu menunjukan nama calon penerus sesungguhnya kerajaan Selatan, yang sayangnya meninggal sebelum waktunya dan akhirnya kepemimpinan jatuh pada adiknya.“Sudah liat?” Tanya Hotaru yang sudah berdiri di depan Yuan, mengambil tas sekolahnya.“Yha…, wajahnya fami….” Yuan terdiam sejenak memandang Hotaru, lalu kembali memandang layar ponselnya. “KOK MIRIP DENGANMU?” Teriak Yuan.“Yu, Yuan? Ada apa?” tanya Shiraishi yang datang terburu-buru. Yuan memandang Shiraishi lalu mengerjap-ngerjapkan matanya.“Ah, enggak. Aku hanya kaget Hotaru nanti harus ikut pelatihan kepempinan ketika nanti jadi ketua osis.”“..., aku gak paham.”“Ahaha, gak apa. Nanti aku ajari sayang. Lanjutkan kerjaanmu, ya.” Ucap Yuan lalu mencium kening Shiraishi. Hotaru meleletkan lidahnya melihat kemesraan orang tuanya.~…~…~…~“Kamu gak ngajar sayang?” Tanya Shiraishi saat Yuan pulang lebih siang hari itu. Yuan tertawa kecil.“Begitulah. Untuk hari ini aku cuma mengajar satu kelas. Jadi pulang lebih awal.” Jelas Yuan. Yuan memeluk istrinya yang terlihat sedang memasak makan siang.“Hng…, berarti aku harus masak untuk kamu juga.”“Tidak usah. Bekalku masih ada.” Yuan mencium rambut puncak rambut Shiraishi. “Nanti Sachi-Hime akan datang?”“Aku gak tahu. Sachi-san biasa datang setelah aku menjemput Hirari.”“Hoo….” gumam Yuan. “Shirai…, selama 12 tahun ini kamu belum pernah menceritakan soal ibumu. Aku tahu soal ayahmu yang err…, begitu…, Tapi, bagaimana ibumu? Kita cerita sambil makan, ya.”Shiraishi sedikit lesu, ia mengangguk lemah sembari melanjutkan memasaknya. Yuan menghela nafas melihat betapa beratnya helaan nafas Shiraishi ketika mendengar pertanyaannya itu. “Kalau kau tidak mau tidak apa. Aku gak maksa kok.”“A, ah…, e, enggak apa…, aku akan cerita.”“Sungguh, Shiraishi… Aku hanya penasaran. Jadi kamu berhak menolak permintaanku.” Yuan mencium pipi istrinya itu. Istrinya menempelkan punggungnya pada dada Yuan lalu meletakan kepalanya di bahu Yuan.“Kalau cerita soal ibuku, tidak apa kok. Aku…, tadi hanya takut karena kau menyebut….”“Ah, maafkan aku sayang.” Yuan mengusap rambut Shiraishi. “Aku tunggu cerita dan makanannya, ya. Cintaku.”~…~…~…~“Aku hanya mengenal ibuku sampai berumur 10 tahun. Ibuku memang sering sakit, jadi saat ini aku mengerti kenapa ibu meninggalkanku secepat itu.” Ucap Shiraishi memulai ceritanya. Yuan tersenyum kecil dan mengusap rambut keemasan Shiraishi.“Apa tidak apa kau menceritakannya? Kau juga akan menceritakan….”“Gak apa. Lagipula…, rasanya saat itu…, ayahku…, masih normal. Oh ya, Nama ibuku Yuiko.” potong Shiraishi.“Sungguh? Jadi…, setelah ibumu meninggal baru…, uhm…, ya lupakan itu. Ceritakan lagi soal ibumu.” ucap Yuan sembari menatap Shiraishi.“Uhn…, ibuku memang sering sakit dan ayah saat itu bekerja keras mencari uang untuk mengobati ibu sampai-sampai aku gak sekolah. Nenekku juga mengurus ibu, tapi nenek akhirnya meninggal setahun sebelum ibuku meninggal. Katanya karena kelelahan.”“Nenekmu?”“Iya. Nenek dari ibuku. Rambut pirangku turunan dari nenekku. Namanya Nenek Houou! Nenek yang paling menyayangiku. Sifat nenekku agak mirip denganmu juga Yuan.” Ucap Shiraishi sembari tersenyum manis pada Yuan. Yuan merona, ia berdeham lalu mengelus kepala Shiraishi.“Sifatmu juga mirip dengan nenek dari ayahku, kok. Mungkin ini yang namanya jodoh.” Ucap Yuan. Shiraishi memandang Yuan sejenak lalu tersenyum lebar dan memejamkan mata.‘Hotaru benar. Mereka keturunan dari Ratu sebenarnya kerajaan selatan…, TUNGGU?! AKU MENIKAHI CUCU RATU SELATAN SEBENARNYA?!’“Yuan kau kenapa?”“..., lidahku tergigit.” Ucap Yuan berbohong.
----- CHAPTER BREAK -----
Sachika membantu sang ayah memasuki sebuah ruangan di istana. Ucapan Shinrei semalam mengenai teman pertamanya yang mirip dengan salah satu neneknya membuatnya sedikit syok. Jika memang benar apa yang dikatakan Shinrei soal kemiripan Shiraishi dengan kakak neneknya itu. Sachika memandang ayahnya, Ryuhei, yang meski sudah memutih tetapi masih terlihat beberapa helai rambut keemasan di sana. Ayahnya belum termasuk tua, untuk ukuran seorang anggota Mibu, tetapi penyakit rematiknya membuat sang raja dari kerajaan selatan itu harus segera mencari pengganti dirinya dan pensiun di usia muda. Itu sebabnya juga Shinrei benar-benar dipersiapkan untuk jadi raja selanjutnya. Bahkan akhir-akhir ini sang raja sering bercerita pada anak perempuan pertamanya itu mengenai keluarga mereka seolah-olah ia akn pergi untuk selamanya dalam waktu dekat.
“Nah….” raja selatan saat itu tersenyum memandang sebuah pigura foto yang sangat besar. Sachika tersadar akan sesuatu. “Ini Kakak dari ibuku. Kakak Nenekmu.”
Sachika mengangguk kecil, ia tetap memandang foto perempuan muda yang terlihat gagah dengan pedang besar di bahunya juga kobaran api di sekelilingnya. Sachika mengerjapkan matanya sejenak, cerita ayahnya sampai pada masa-masa di mana perempuan muda itu bergabung bersama Shodai, raja kerajaan pusat saat ini, merebut tahta kerajaan pusat. Hubungan keluarga kerajaan pusat saat itu benar-benar kacau dan membuat kerajaan lainnya menjadi terkena imbasnya. Sachika tentu sudah membaca sejarah yang diajarkan ketika ia masih SMA. Ia juga tahu, kakak neneknya itu seharusnya menjadi Ratu kerajaan selatan, atau minimal yang menurunkan garis keturunan Raja seperti dirinya. Tapi, entah karena alasan apa, neneknyalah yang akhirnya terpilih menjadi wanita yang menurunkan garis keturunan raja.
“Shodai-sama bilang…, mungkin sebenarnya bibi Houou…, maksudku kakak nenekmu itu masih hidup.” Ucap ayahnya membuat Sachika kembali ke kenyataan. “Atau tepatnya dulu sebelum aku menjadi raja, dia masih hidup.”
Sachika memandang ayahnya. Ayahnya terlihat mengamati perubahan ekspresinya. Sachika menggaruk pipinya, seperti sudah ketahuan akan sesuatu. “Apa yang kau pikirkan, nak?”
“Ti, tidak ada apa-apa, ayah.” Ucap Sachika. Lalu kembali memandang figura foto itu.
“Jangan berbohong.”
“Aku ti….”
“Ayah tahu kamu berbohong. Kakak nenekmu memang pengendali api, tapi nenekmu dan aku adalah pengendali air. Aku tahu kau berbohong dari gejolak air di tubuhmu.” Jelas Ryuhei. Sachika menghembuskan nafas. Ia berlutut di hadapan ayahnya lalu meletakan kepalanya di pangkuan Ryuhei.
“Ayah…, ayah tahu kalau akhirnya aku punya seorang teman, kan?”
“Tentu saja. Ini pertama kalinya bagimu dan ayah bangga.” Ucap Ryuhei seraya mengusap kepala anak pertamanya itu.
“Rupa teman pertamaku itu…, entah bagaimana mirip dengan nenek Houou.” Ucap Sachika langsung. Sachika dapat merasakan usapan ayahnya di kepalanya sedikit menegang, tetapi akhirnya tetap melanjutkan usapannya. “Apa mungkin temanku itu dan Nenek Houou punya….”
“Hanya tes yang bisa melakukannya. Tapi karena mungkin kamu sudah terpaut nenek, jadi sulit, ya. Ibuku juga sudah tiada.”
“Iya, ya.” Ucap Sachika.
“Kalau seandainya teman pertamamu itu ternyata sepupu jauhmu…, apa yang kau lakukan?” Tanya Ryuhei. Sachika mengangkat kepalanya dan tersenyum senang.
“Bagus donk. Aku akan senang sekali punya adik sepupu sepertinya.” Ucap Sachika. Ryuhei membulatkan mata sejenak lalu tersenyum mengusap pipi anaknya.
“Kau tidak cemburu?”
“Tidak. Untuk apa pula? Aku tahu aku menang satu hal darinya.”
“Hmm? Kenapa bisa begitu?”
“..., uhm…, ayah sepertinya belum siap untuk tahu.”
“Ayahmu ini keras kepala, lho. Beritahu ayah.”
~…~…~…~
Hotaru menggaruk kepalanya dan melirik ke kanan dan kekiri. Ia tadi tidak pulang bareng Shinrei dan juga Saisei karena ia harus menjalankan tugasnya sebagai ketua kelas. Pemilihan ketua osis masih akan lama, sehingga ia masih harus menjadi ketua kelas. Hotaru menggaruk kepalanya melihat sekelilingnya dan meyakinkan dirinya kalau ia tersesat. Hotaru menghembuskan nafas, Hotaru mengeluarkan ponselnya dan mencoba mencari informasi apapun mengenai dimana ia berada saat ini.
“Ano…, ada yang bisa ku bantu?” Tanya seorang gadis berambut hitam kemerahan yang dikuncir layaknya ekor kuda. Hotaru berbalik dan memandang gadis itu. Dari pakaiannya, Hotaru tahu kalau dia juga murid SMP yang sama sepertinya.
“Aku mencari stasiun.” Ucap Hotaru.
“Eh? Stasiun, ya…, tadi seharusnya kamu belok ke arah timur bukan ke barat.” Ujar gadis itu.
“..., ini di barat?”
“Kau buta arah, ya?” Tanya gadis itu. Hotaru menghembuskan nafasnya.
“Ada masalah dengan itu?”
“Tidak. Hanya saja…, langka sekali ada orang yang seperti itu. Yuk, aku temani ke stasiun.” Ajak gadis itu. Gadis itu tanpa basa-basi langsung menarik tangan Hotaru untuk mengikutinya. Hotaru menghembuskan nafas untuk ke sekian kalinya. “Oh, ya. Namaku Miyazawa Zakuro, kelas 3. Siapa namamu?”
‘Namaku Miyazawa Zakuro, siapa namamu dan nama anakmu itu?’
‘Untuk apa?’
‘Eh? Bolehkan untuk berkenalan saja? Ayo, siapa namamu?’
‘Hotaru. Mibu Hotaru. Kei nama anakku.’
‘Mibu Hotaru dan Mibu Kei ya? Salam kenal! Tapi…, bukannya Hotaru itu nama untuk perempuan?’
“Hei…, jangan melamun. Pantas saja kau buta arah.”
“Eh? Apa?”
“Aku tanya siapa namamu?”
“Nakayama Hotaru.”
“Hotaru? Bukannya itu nama perempuan?”
“Ibuku menamaiku seperti itu. Jangan protes.” ucap Hotaru.
“Ibumu lucu juga ternyata.” Tawa gadis itu. “Ibumu mungkin ingin anak perempuan, ya…, makanya memberi namamu seperti itu.”
“Mungkin. Adikku juga laki-laki.”
“Kamu anak pertama?”
“Begitulah.”
“Oh, ya…, kamu kelas berapa?”
“..., kelas 1.”
“Ah! Adik kelas ternyata. Pantas saja kita tidak pernah bertemu di sekolah.” Tawa gadis itu lagi. Hotaru menggaruk pipinya dengan tangannya yang bebas.
‘Tadi itu…, seperti ingatan masa laluku. berarti gadis ini adalah orang yang pernah aku temui dimasa setelah Kyo berhasil mengalahkan raja merah. Orang ini bertanya soal namaku dan nama anakku. Tunggu…, itu berarti aku punya anak? Kenapa aku tidak bisa mengingat kejadian itu? Lalu kenapa orang ini….’
“Nah! Sudah sampai. Kamu mau ke kerajaan mana?”
“..., Selatan.”
“Rumahmu di sana, ya? Kamu ingat jalan menuju rumahmu tidak setelah sampai di kerajaan selatan?”
“..., kalau kerajaan selatan aku hapal.”
“Wah, syukurlah kalau begitu. Aku hanya bisa mengantar sampai stasiun ini sih. Jangan tersesat lagi di sana, ya.” Ucap gadis itu lalu mendekati salah satu petugas stasiun yang ada di sana.
‘Orang ini aneh. Tapi…, entah kenapa aku merasa aku akan bertemu orang ini lagi dan pertemuan selanjutnya akan lebih lama dari pertemuan hari ini.’
“Aku sudah minta petugas ini menemanimu menaiki kereta. Sudah, dek Hotaru, jangan tersesat lagi, ok.” Ucap gadis itu lalu melambaikan tangan dan kembali menyusuri jalan yang tadi mereka lewati.
“Aku tak tahu kalau anak dari mantan tangan kanan kerajaan selatan buta arah.” Kekeh petugas itu.
“Well, itu sebabnya Yun-yun selalu turun mengantarku ke sekolah, kan?” Ucap Hotaru agak ketus. Petugas itu tertawa kecil. “Ngomong-ngomong…, bukannya kamu cuma jaga pagi?”
“Aku menggantikan temanku yang gak bisa hadir. Sebagai gantinya, lusa pagi aku tidak berjaga.” Kekeh petugas itu. “Nah, ini keretamu. Seratus persen benar menuju kerajaan selatan kok!”
“Kau memberiku kereta menuju kerajaan lain juga gak masalah, kok. Paling-paling Yun-yun akan memarahimu.”
“Wah, meski sudah mantan tangan kanan kerajaan, tapi tetap membuatku tak ingin berurusan panjang dengannya.” Ucap petugas itu. Hotaru menghembuskan nafasnya.
“Baiklah. Sampai jumpa.”
~…~…~…~
Hotaru menggenggam pedangnya selama perjalanan menuju rumahnya. Sesaat tadi, pedangnya berpendar di dalam kereta. Membuatnya tahu kalau sang pedang ingin menceritakan sesuatu padanya. Hotaru menarik nafas ia berhenti di sebuah taman lalu duduk di ayunan. Ia memejamkan matanya ketika pedang itu bersinar semakin terang.
“Ternyata di zaman ini kau bertemu kekasihmu terlebih dahulu sebelum memiliki anak.” Ucap pemuda bersayap ganda itu. Hotaru memutar matanya. Lalu mendadak terdiam. Ia memandang pemuda bersayap ganda yang menjadi penghuni pedang miliknya.
“Kekasih?”
“Ternyata tuanku beneran lupa.” Ucapnya. “Benar tuanku. Meski dahulu hanya sempat berkenalan dengannya beberapa tahun, tapi dulu tuan sangat menyayangi gadis itu. Bahkan tuan muda sudah memanggilnya dengan sebutan ‘mama’.”
“Tuan muda?”
“Aduh, tuanku…, aku tidak tahu apa yang membuat tuanku tidak bisa mengingat kejadian setelah pemberontakan itu…, tapi jujur ini sangat menyebalkan.” Ucapnya.
“Naraka…, tumben kamu berbelit-belit begini?”
“Karena Tuanku benar-benar lupa. Fuuh…, selama ini aku berpikir anda hanya berpura-pura.”
“Heii….”
“Iya. Tuan muda Kei. Tuanku punya seorang anak kandung. Aku tidak ingin menceritakan bagaimana tuanku bisa memilikinya…, tuanku dulu ada kecenderungan PTSD. Jadi…, begitulah.”
“Jadi menurutmu nanti aku akan….”
“Enggak sih. Aku tetap merasa Tuan muda akan lahir dari ibu yang berbeda dengan Nyonya. Tapi, di zaman ini, kemungkinan besar Tuan akan bersama Nyonya sangatlah besar. Ahh…, seandainya aku seperti Shodai-sama yang bisa hidup bersama anda.”
“..., Shodai?”
“Raja merah Pertama.”
“Bukannya Tenro?”
“Tenro itu hanya nama pedangnya. Yha, sama sepertiku. Namaku kan Naraka. Tapi pedang tempat tinggalku ini aslinya tidak bernama, kan?”
“..., aku pikir sama.”
“Aih, Tuanku….”
“Apa boleh kau menceritakan soal ini padaku yang lupa seperti ini? Nanti kejadian kedepannya berubah….”
“Boleh, kok. Dan bukannya sekarang sudah berubah?” Kekeh Naraka. Hotaru menggaruk pipinya. “Bukan cuma itu…, dulu Nyonya berumur 2 tahun lebih muda dari anda. Sementara di zaman ini.., nyonya berumur 2 tahun lebih tua dari anda. Yang tidak berubah dari hubungan anda sepertinya hanya Tuan Muda. Tuanku sampai sekarang tidak ingat rupa Tuan muda kan?”
“Begitulah.”
“Jadi dalam sejarah Tuan hanya kedatangan Tuan Muda yang tidak akan berubah. Makanya aku tidak akan menceritakan lebih lanjut soal Tuan Muda selain namanya….”
“Well, setidaknya terima kasih.”
“Sama-sama, Tuan.”
~…~…~…~
Hari ini hari pertama libur musim panas. Namun, ternyata tidak membuat Hotaru bisa bermalas-malasan. Sejak pagi, adiknya terus berteriak-teriak memaksanya untuk ikut pergi ke laut. Kali ini, Hotaru harus menyalahkan Shinrei yang beberapa hari lalu menceritakan soal laut pada adiknya itu. Hotaru mengikat pedang di punggungnya lalu menghela nafasnya. Hirari terlihat mengawasinya agar sang kakak tetap ikut bersamanya.
“Ayo kak! Ayoo!!” Teriak Hirari seraya menarik tangan kakaknya itu.
‘Adikmu itu punya tenaga yang luar biasa.’
‘Diamlah, Naraka.’
“Ah, pagi Hotaru.” Ucap ibunya dengan mengenakan topi pantai. Hotaru mengerjapkan matanya.
“Ibu juga ikut?” Tanya Hotaru. Shiraishi mengangguk senang.
“Ini pertama kalinya ibu ke laut juga.” Ucapnya.
‘Ibumu cantik sekali seperti itu.’
‘Naraka….’
“Haha, gak apa kan Hotaru? Sesekali kalian semua harus aku ajak pergi keluar juga.” Ucap Yuan yang terlihat sudah mengenakan celana pantai. Hotaru menepuk keningnya.
‘Dan ayah tirimu sejak dulu sangat tampan.’
‘Yun-yun tampan?’
“Baiklah-baiklah…, sekalian kita menginap saja di sana kalau begitu.”
“Memang itu rencana kami.” Ucap Yuan dan Shiraishi bersamaan.
‘Orang tuamu itu kompak sekali.’
‘Mungkin ini yang namanya jodoh.’
“Kalau begitu, aku siapkan baju untuk menginap dulu.” ucap Hotaru.
~…~…~…~
Hotaru memandang ibunya yang terlihat senang sekali untuk mendapat kartu kereta pertamanya. Yuan tersenyum kecil dan menggenggam tangan Shiraishi, mencegah istrinya itu tersesat di perjalanan. Hotaru menggendong Hirari yang juga terlihat bersemangat untuk pergi berjalan-jalan. Mereka berempat duduk berjajar selama kereta membawa mereka ke salah satu pulau tak berpenghuni kecil milik keluarga kerajaan selatan. Hirari berteriak senang ketika laut mulai terlihat dari balik jendela. Hotaru menggaruk kepalanya sementara Yuan menunduk malu memandang penumpang lain yang sedikit tertawa. Hotaru menghembuskan nafas.
‘Laut, ya….’
‘Dulu Tuanku pernah berlayar kan?’
‘Yha….’
‘Ada sesuatu yang menarik?’
‘Hanya…, kepikiran kalau mungkinkah para perompak itu…, juga hidup di zaman ini.’
‘Well, aku gak tahu. Aku berbeda dengan Tenro-san yang tahu.’
‘Kali ini Tenro? Jadi sebe…,’
‘Iya…, penghuni asli pedang Kyo-sama memang bernama Tenro. Dia tinggal bersama Shodai-sama dalam satu pedang yang sama.’
‘Berarti pedang ini bernama Naraka donk?!’
‘Bukan. Begini-begini aku roh dari besi asal pedang ini. Bukan Roh yang ditiupkan sang pembuat ke dalam pedang ini. Seperti Tenro oleh Muramasa.’
‘Jadi…, kau seperti Shodai?!’
‘Begitulah. Bedanya…, Shodai-sama sendiri yang masuk dan berbagi tempat dengan Tenro. Aku sih…, roh pemilik pertama pedang ini.’
‘HA?!’
‘Tuanku sekarang bisa terkejut normal, ya.’
‘..., well….’
‘Kita sudah sanpai tuanku.’
“Ru…, Hotaru…, bangun…, sudah sampai.”
Hotaru mengerjapkan matanya. Ibunya tersenyum lega lalu akhirnya membawa barang-barang mereka. Hotaru ikut mengambil barang dengan terburu-buru lalu mereka berempat keluar dari kereta. Hotaru memandang pemandangan di sekelilingnya. Banyak penginapan yang menawarkan tempatnya pada mereka. Yuan menolaknya dengan halus, ia sudah membooking sebuah penginapan. Katanya. Sampai di tempat penginapan yang Yuan bilang sudah di bookingnya. Mendadak mereka mendapat masalah. Shiraishi duduk di kursi tunggu dengan wajah sedikit muram, begitu juga dengan Hirari. Hotaru yang tidak peduli hanya memandang ke arah laut biru.
“Lho?! Shiraii!” Hotaru memalingkan wajahnya dan memandang Sachika yang berlari dan langsung memeluk ibunya. Shiraishi yang terkejut dan tidak siap menampilkan wajah panik dan bingung. “Kamu akhirnya ke laut juga!”
“eh, ah…, iya…, habisnya….”
“Kau menginap di sini juga?”
“Juga?”
“Seluruh keluargaku menginap disini.” Sachika segera melirik Hotaru. Hotaru menarik nafas dan mengangguk.
“E, ehh…, tapi…, Yuan….” Shiraishi melirik Yuan yang masih berdebat dengan manager penginapan. Sachika melirik Hotaru. Hotaru terlihat mengizinkan apapun yang ingin dilakukan Sachika itu.
“Serahkan padaku.” Ucap Sachika. Shiraishi memandang bingung punggung Sachika. Hotaru menghela nafas.
‘Berarti kau harus berhadapan langsung dengan pria itu untuk melindungi ibumu.’
‘Mau tidak mau.’
‘Aku rasa kau harus menghadapinya sekarang.’
Hotaru membuka matanya, ia memang sempat melihat ayah kandungnya itu datang dari tangga, untungnya ia langsung menuju bagian resepsionis. Hotaru memandang ibunya dan Hirari. Ibunya gemetar hebat sementara Hirari terus menerus menanyakan kabar ibunya itu. Hotaru berdiri dan mengusap punggung ibunya. “Ibu sakit?”
“A, aaah…, ti, tidak kok. I, ibu baik-baik saja.”
“Shiraii…, suamiku bilang kau sudah bisa menginap di sini.” Ucap Sachika seraya berlari menghampiri Shiraishi.
“Su, suami….” Sachika mengangguk senang.
‘Akting ibu tirimu itu bagus.’
‘Karena mungkin sudah direncanakan matang-matang.’
Pandangan suami Sachika itu bertemu dengan pandangan Shiraishi. Shiraishi langsung menutup wajahnya dengan topi pantainya. Yuan yang menyadari itu langsung merangkul suami Sachika itu. Ia berbisik sejenak sebelum berjalan mendekati istrinya itu. Sachika mengusap pundak Shiraishi lembut.
‘Aku rasa ibumu belum siap untuk menghadapi kenyataan.’
‘Tidak. Melihat perkembangan saat ini…, aku dan Mama Sachi sudah tahu, kalau ibuku sudah siap. Mungkin hanya masih syok saja. Karena ternyata ayah kandungku itu suami teman pertamanya.’
‘Well, aku rasa begitu. Aura bersalah dari ibumu menguar sedemikian kuat.’
‘Jadi roh pedang itu praktis, ya.’
‘Gak juga.’
~…~…~…~
“Sa, Sachi-san…, a, aku…, aku mau minta maaf.” Ucap Shiraishi saat mereka berada di depan pintu kamar mereka. Sachika melirik suaminya dengan tatapan tajam lalu memandang Shiraishi dengan tatapan lembut.
“Kenapa minta maaf? Ini kan masalah kecil. Salah pemilik penginapan yang berbohong….”
“Bu, bukan itu….” Shiraishi menunduk dan menggenggam ujung kimono Sachika. Sachika membulatkan matanya, paham apa yang terjadi.
“Lalu kenapa minta maaf? Kita bicara berdua, ya? Yuan-san boleh kan?”
“Wah, itu gimana, ya…, Hotaru, Kau temani ibumu.”
“Gak mau. Percakapan perempuan dewasa…, aku gak paham.” Tolak Hotaru. Yuan memandang Hotaru yang sedari tadi memang menyentuh pedangnya.
“Hirari yang temani ibu boleh?” Tawar Hirari. Yuan terlihat tersenyum dan mengangguk. Hirari tersenyum lebar.
“Well, kalau begitu kami tunggu di depan pintu saja.” Ucap Yuan seraya terkekeh. Sachika tersenyum lalu membawa Shiraishi dan Hirari masuk ke kamarnya. Yuan menempelkan punggungnya di dinding memandang suami Sachika itu. Hotaru ikut bersandar.
“Pantas saja orang itu dan anaknya sulit sekali di bunuh. Ternyata perpanjangan tangan kerajaan selatan ini yang menjaganya.” Ucap suami Sachika itu. Yuan merentangkan tangannya di depan Hotaru yang terlihat akan maju.
“Karena dia istriku sekarang. Tentu saja aku yang akan menjaganya, Touhaku-san.”
“Istrimu? Hahaha…, kenapa aku tidak menyadarinya sejak dulu? Hahaha….”
“Mungkin karena kau Bodoh.” Kekeh Yuan. Touhaku mengerjap-ngerjapkan matanya, ia lalu terkekeh dan tertawa.
“Kau hanya ‘pembantu’ kerajaan sudah sombong padaku yang turunan kerajaan ini.”
“Kau hanya menantu Raja selatan, bukankah kau yang sombong?” Touhaku terdiam dan memandang Yuan tajam. Yuan terkekeh. “Hoo…, tepat sasaran rupanya.”
Hotaru menelan liurnya, ini aura yang sama seperti saat Yuan serius melawannya di masa lalu. Hotaru menarik nafasnya dan bersiap akan pertarungan yang akan terjadi. Namun tiba-tiba pintu kamar terbuka dan menampilkan sosok Sachika yang memiliki aura permusuhan yang sama. Hotaru menggaruk kepalanya. “Kalian…, JANGAN RIBUT DI DEPAN KAMAR!”
Dan pintu kembali tertutup. Hotaru mengerjap-ngerjapkan matanya.
“Teriakan keras Shinrei itu dari ibunya ternyata.” Gumam Hotaru.
“Huh…, Jadi begitu…, Sachi juga sudah tahu.” Ucap Touhaku dengan suara pelan. “Kita lanjutkan di pantai.”
“Hoo…, aku juga setuju untuk itu.” Ucap Yuan. “Hotaru…, jaga Shiraishi dan Hirari untukku.”
“Gak perlu kau suruh, aku akan melakukannya, Yun-yun.” Ucap Hotaru. Hotaru menunduk sejenak. “Yun-yun….”
“Aku pasti kembali, kok. Tenang saja.”
~…~…~…~
Hotaru mengerjapkan matanya, dan tanpa pikir panjang langsung membantu seorang pria tua yang berusaha menaiki tangga. Pria tua itu entah kenapa terasa sedikit mirip dengannya. Pria itu menepuk pundak Hotaru, berterima kasih karena sudah dibantu. Pria itu memandang Hotaru sedikit lebih lama.
“Siapa namamu anak muda?”
“Namaku? Uhm…, Nakamura Hotaru.” ucap Hotaru menjawab pertanyaan pria itu. Pria itu sedikit terkejut.
“Oh…, Kamu anaknya Yuan, ya?”
“Uhm…, anda kenal Yun…, ayahku?”
“Tentu saja kenal. Tapi aku tak menyangka anaknya Yuan tidak kenal aku.”
“..., uhm, maaf?” Pria itu tertawa dan mengusap kepala Hotaru.
“Kamu jarang nonton tv?”
“Well, bukannya jarang…, hanya saja aku gak begitu suka nonton tv.” Jelas Hotaru.
“Ah, pantas….”
“Ini kamar anda? Ada kunci atau orangnya?” Tanya Hotaru seraya menunjuk sebuah kamar. Pria itu mengangguk dan tersenyum saja. Hotaru menekan bel di samping pintu kamar pria itu lalu menunggu seseorang membukakan pintu. Hotaru mengerjapkan matanya, begitu pula dengan orang yang membukakan pintu.
“Shinrei?!”
“Hotaru?!”
“Hoo…, sudah kenal ternyata.”
“Kakek?!”
“Kakek Shinrei? …, Eh?! A, anda…, yang mulia raja selatan?” Hotaru membulatkan matanya terkejut. Pria itu tertawa kecil lalu mengusap rambut keemasan Hotaru.
“Akhirnya sadar juga.” Hotaru menunduk hormat. “Aduh, tidak usah seperti ini. Justru aku yang harusnya begitu.” Ucap sang raja selatan. Hotaru mengerjapkan matanya sembari memiringkan kepalanya.
~…~…~…~
“LAAAUUUUTTT!!!” Teriak Hirari keesokan harinya. Ia berlari menuju ke arah air laut yang bergelombang. Yuan segera mengejar anaknya itu, memastikan tidak ada bahaya untuk anaknya. Shiraishi memandang lautan dan langit yang melebur menjadi satu. Wajahnya sudah terlihat lebih segar. Sachika di sampingnya tertawa kecil.
“Baru kali ini kan? Kamu pergi ke laut seperti ini?” Tanya Sachika. Shiraishi tersenyum lebar.
“Iya!”
“Syukurlah kita masih tetap bisa berteman.” Bisik Sachika. Shiraishi tersenyum lembut lalu menarik tangan Sachika.
“Bukannya harusnya aku yang bilang begitu?”
“Yha…, bisa saja kamu jadi menghindariku.” Ucap Sachika. Shiraishi menggaruk pipinya.
“Uhm…, tapi bisa saja kamu jadi marah karena aku….”
“Aku udah tahu dari dulu, kok. Sejak Hirari lahir aku sudah cerita, kan?” ucap Sachika. Shiraishi mencoba mengingat-ingat, ia mendadak teringat dan wajahnya langsung memerah. “Kalau aku marah, sejak dulu aku gak akan berteman denganmu. Dan gak akan melindungimu dan Hota-chan.”
“Melindungiku?”
“Kau tak tahu? Suamiku mengirim pembunuh untuk membunuhmu dan Hota-chan. Itu sebabnya aku sering bermain ke rumahmu dan Shin-chan terus bersama Hota-chan di sekolah.” jelas Sachika. Shiraishi bergidik. “Tenang saja. Sekarang kau aman.”
“Sungguh?”
“Iya, sungguh.” Ucap Sachika sembari melirik ayahnya yang sedang memarahi menantunya itu. Shiraishi melirik ke arah raja dan menantunya itu lalu menggaruk pipinya. “Sudahlah, Shirai…, ayo kita bermain di pantai. Ini pertama kalinya untukmu kan? Aku akan menunjukkan semua hal yang menarik di pantai!”
“Ayo!”
Hotaru memandang ibu dan ibu tirinya itu berlarian di pantai dengan senyum lebar. Ia duduk di pasir pantai, dengan payung yang menutupi dirinya. Ia memang menyukai panas, tapi ia berada di tempat ini karena ia masih tidak menyukai air. Entah apa yang membuatnya masih tidak ingin bersentuhan dengan air yang satu ini. Hotaru merebahkan badannya dan melihat payung yang melindunginya dari sinar matahari. Ia bersyukur rencana ibu tirinya dapat berjalan dengan baik. Sejak jadi ketua osis, ia memang hampir tidak bisa lagi untuk menjaga ibunya di rumah. Tiap-tiap hari pulang malam, bahkan lebih malam dari Yuan karena ia terus tersesat menuju ke stasiun. Mungkin ia memang harus belajar menggunakan fitur di ponselnya. Bicara soal tersesat, ia beberapa kali bertemu lagi dengan gadis bernama Zakuro itu.
‘Ketua osis kok buta arah.’
itu memang ejekan, Hotaru tahu itu. Namun, entah kenapa Hotaru merasa senang ketika gadis itu yang mengejeknya. Hotaru menggaruk pipinya yang entah kenapa memanas. ‘Naraka benar, aku berubah.’
“Hotaru!! Kulitmu terbakar!!” Pekik Shinrei. Hotaru memandang kulitnya, tidak ada api, tetapi kulitnya memang sangat memerah. “Kau pasti lupa pakai sunblock!”
“Untuk apa? Tidak berguna.”
“BODOH! tentu saja berguna agar kulitmu tidak sakit dan menghitam!! Ah, percuma kalau aku bilang sekarang sebenarnya. Sudah, pake ini supaya kulitmu tidak bertambah rusak!”
“Kau yang pakaikan. Aku gak ngerti.”
“Cih. Baiklah! Tiduran! Biar aku yang pakaikan!”
~…~…~…~
“Ketemu lagi ketua osis yang buta arah.” Tawa Zakuro. Hotaru bermuka masam, kali ini ia bertemu dengan Zakuro saat ia akan memasuki gerbang sekolah. Hari ini hari pertama masuk sekolah setelah libur musim panas. Zakuro tertawa kecil dan menepuk punggung adik kelasnya itu. “Selama ini aku merasa aneh…, kamu tidak tersesat, kalau pagi-pagi….”
“Ternyata benar kamu masih buta arah!” wajah Hotaru semakin masam mendengar ucapan Yuan yang sesaat tadi sudah berbalik. Yuan terlihat kembali ke dekatnya dan menyentil keningnya. Wajah Hotaru semakin masam. Zakuro mengerjapkan matanya.
“Setiap pagi Yun…, ayahku mengantarku.” Ucap Hotaru pada Zakuro dengan wajah masam. Yuan memandang Zakuro dari atas sampai bawah.
‘Gadis ini…, yang waktu itu?’ Batin Yuan. ‘Hoo…, kali ini kamu bertemu dengannya sebelum Kei lahir ya….’
“Eh, uhm salam….” Gadis itu menunduk sopan pada Yuan yang masih memandangnya. Yuan tertawa kecil.
“Boleh juga seleramu, anak muda….”
“Eh?!”
“Yun-Yun Diam!” bentak Hotaru.
“Menyangkal, ya…, aaah…, aku tak menyangka kau sampai pada usia ‘itu’ secepat ini.”
“Sudah aku bilang diam!” Kesal Hotaru lalu mendorong ayah tirinya itu keluar dari gerbang sekolahnya. Zakuro mengerjapkan matanya lalu tertawa kecil. Hotaru berbalik dan berjalan menuju pintu masuk gedung sekolahnya. Zakuro mendekatkan dirinya pada Hotaru, berjalan berdampingan.
“Ayahmu itu rasanya familiar.”
“Kamu pernah ke SMA?”
“Pernah. Kakakku juga siswa SMA, kadang aku diajak ke SMA kalau aku libur.”
“Berarti kamu memang pernah melihatnya.” ucap Hotaru.
“Kenapa begitu?”
“Dia guru olahraga di SMA.”
“Ooh!! Aku ingat! Guru olahraga yang buta, tapi tindakannya seperti tidak buta!”
“Jangan salah sangka dengan buta. Yun-yun…, ayah memang buta sejak lahir, tapi mata batinnya terbuka sehingga dia bisa melihat dengan cara yang berbeda dengan kita. Yha…, seperti ketika ada orang yang bisa melihat hantu sementara kita tidak.”
“Wah, ayahmu orang hebat, ya. Pantas anaknya juga jadi ketua osis…, sayang buta arah.” Kekeh Zakuro. Hotaru tersenyum masam dan berjalan menuju rak sepatunya. Zakuro menemani di sampingnya. Selesai memakai sepatu ruangan Hotaru berbalik memandang Zakuro. “A, apa?”
“Cepat ganti sepatu. Meski masih pagi, bukan berarti kau bisa bersantai-santai.”
Zakuro mengerjapkan matanya lalu tertawa kecil, ia berjalan menuju rak sepatunya Hotaru menghembuskan nafas dan berjalan menemaninya.
~…~…~…~
“Siapa gadis tadi pagi, ketua osis?” Kekeh Saishi. Hotaru mematahkan pensilnya, lalu memandang Saishi yang terkekeh sembari menghitung sesuatu dengan kalkulatornya. Saisei dan Shinrei terlihat tertarik dengan perkataan Saishi sesaat tadi.
“Apa? Apa? Ada sesuatu yang sepertinya menarik.” Ucap Saisei yang terlihat bersemangat.
‘Gadis?’ batin Shinrei.
“Hanya kebetulan sering bertemu saat pulang.”
“Arere…, aku tak menyangka kau suka perempuan juga…, menurut pengalamanku…, orang sepertimu hampir susah jatuh cinta.” Kekeh Saishi lagi.
“Dibilang cuma sering ketemu…, lagipula…, dia juga ketua osis generasi sebelumnya, dia cuma memberi masukan beberapa hal yang menurutnya perlu ditingkatkan di generasiku..” ucap Hotaru sembari melirik foto-foto mantan ketua osis yang menjabat di sudut dinding.
“Oh, iya…, pantas dari tadi pagi aku pikir aku pernah melihatnya.” Ucap Saishi.
“Oh, Miyazawa Zakuro-san, ya…, kalau dipikir-pikir, dia juga ketua osis perempuan pertama di sekolah ini.” ucap Saisei.
‘Miyazawa Zakuro?’
“Ngomong-ngomong…, nama gadis tadi siapa? Sial aku lupa menanyakan namanya.”
“..., Kau suka padanya BakaShin?”
“KA, KAGAK! Cuma buat administrasi aja.”
“Hoo…, namanya Miyazawa Zakuro.”
“..., kau bertanya?”
“Dia yang duluan bertanya namaku dan memperkenalkan dirinya sendiri.”
‘Ya, yang tadi itu….’
“Ngomong-ngomong, sejak kapan kalian bertemu ketua?” tanya Saisei.
“Sejak kalian meninggalkanku untuk kencan dan membuatku mengurusi urusan administrasi kelas yang akhirnya membuatku tersesat sampai malam. Sebelum aku menjadi ketua osis.” Hotaru memajukan bibirnya ngambek. Saisei menggaruk pipinya dan melirik Shinrei malu-malu. Hotaru memandang Shinrei yang terlihat bengong. “Iya…, dia yang dulu.”
“Eh? Apa maksudmu, ketua?” Tanya Saishi.
“Te, terus dia ingat?” tanya Shinrei. Saishi mengerjapkan matanya bersama Saisei.
“sepertinya belum. Ingatanku juga masih samar-samar tentangnya.”
“Begitu rupanya.” Shinrei menghela nafas lega. “Dulu kau….”
“Ceritanya nanti saja. Kerjakan dulu urusanmu.” ucap Hotaru lalu melirik Saishi dan Saisei yang masih kebingungan. Shinrei mengerjapkan matanya lalu tersenyum canggung.
~…~…~…~
“HA?! JA, JADI GADIS ITU….” pekik Saisei. Shinrei langsung mendesis dan mencoba menghentikan teriakan Saisei. Shinrei menghela nafas setelah Saisei diam.
“Yha…, dulu dia orang yang akan jadi istri dan ibu dari anaknya…, seandainya mereka tidak meninggal.” Ucap Shinrei.
“Si datar dan bodoh itu…, dulu berubah drastis sekali kehidupannya….”
“Lebih drastis daripada kehidupannya sekarang. Mungkin memang harusnya mereka bertemu seperti ini dulu.” Ucap Shinrei. “Tapi seingatku, usia gadis itu dulu 2 tahun lebih muda dari pada Hotaru…, sekarang malah Hotaru yang 2 tahun lebih muda.”
“Karena sekarang kehidupan kita berbeda dengan yang dulu, Shinrei. Aku juga aslinya 2 tahun lebih tua darimu kalau menggunakan umur saat aku dibangkitkan Saishi. Sekarang kita cuma beda beberapa bulan, bahkan beda 3 hari dengan Hotaru.”
“..., MASA’?!”
“Jadi kamu gak sadar dulu?” Kekeh Saisei.
“Ituuu…, maaf.”
Saisei tertawa kecil. “Tidak perlu begitu…, well, semoga di kehidupan sekarang Hotaru dan Zakuro-senpai bisa bersama, ya.”
“Iya, kita juga.”
“Eh? Kamu bilang apa?”
“Lu, lupakan Saisei. A, aku hanya gumam sendiri.” ucam Shinrei sembari memalingkan muka, wajahnya sedikit memerah. Saisei tersenyum kecil.
“Iya…, kita juga.”
~…~…~…~
Hotaru menggaruk kepalanya, pulang sekolah ini, ia bertemu lagi dengan Zakuro. Kali ini dengan Shinrei, Saisei, dan Saishi. Hotaru yakin ketiga orang itu pasti akan memusingkan dirinya. Benar saja Saishi mulai tertawa kecil ketika Zakuro malah menghampirinya. Hotaru menghela nafas.
“Yo, ketua osis buta arah. Kali ini kau pulang bareng temen, ya?” kekeh Zakuro. Hotaru menggaruk kepalanya.
“Begitulah.”
“Gak akan tersesat donk, kan?”
“Begitulah.”
“Kalau begitu gak perlu aku temani lagi kan?”
“Yha…, tidak perlu.” Hotaru menggaruk kepalanya lagi. Zakuro tersenyum lalu mengusap kepala Hotaru.
“Hati-hati di jalan, ya. Aku pulang dulu.”
“..., kamu…, juga....”
“Terima kasih.” Zakuro tersenyum dan berjalan mendahului mereka keluar gerbang sekolah. Shinrei langsung merangkul Hotaru
“Hoo…, jadi selama ini kalian selalu pulang bareng?” kekeh Shinrei.
“Diam!” bentak Hotaru lalu memalingkan wajahnya dan berjalan duluan. Saishi masih tertawa kecil di belakangnya. Saisei berjalan menghampiri Hotaru dan mengelus punggungnya.
“Tidak apa kok mengekspresikan dirimu sekarang, Hotaru. Aku sudah dengar dari Shinrei soal kehidupan masa lalumu dan dirinya.” ucap Saisei. Hotaru nenghembuskan nafasnya, wajahnya langsung memerah dan ia menunduk. Saisei tertawa kecil dan terus mengusap punggungnya.
“Tapi…, kali ini aku yang lebih muda.”
“Tidak ada masalah dengan itu. Kalau kamu masih suka dengannya, sukailah dengan sepenuh hati sekarang. Kesempatan kali ini mungkin tidak akan terulang lagi lho, rajaku.”
“..., Apa kau mengatakan ini pada dirimu juga?” Hotaru mengangkat kepalanya. Saisei tersenyum lebar.
“Iya.”
“Dan aku bukan raja.”
“Well, tapi aku punya firasat kau yang akan jadi raja selanjutnya. Apalagi aku dengar dari Shinrei, kakekmu mulai memberi pelatihan yang sama padamu kan? Meski tidak seintens Shinrei.”
“Yha…, sejak kakek tahu…, hidupku jadi tidak tenang lagi.” keluh Hotaru.
~…~…~…~
Hotaru menghela nafas panjang. Tahun pertamanya di SMP hampir berakhir, tetapi kerjaannya sebagai ketus osis malah mengharuskannya pulang malam seperti ini. Ditambah dengan penyakit buta arahnya, menjadikannya akan pulang sangat larut. Hotaru melihat sebuah kuil kali ini. Dan seingat perjalanan Hotaru menuju stasiun, tidak pernah ada kuil di sana. Hotaru yakin ia tersesat semakin jauh.
“Dimana jalannya….” ucap Hotaru lalu berjongkok sejenak. Hotaru menarik nafas lalu berdiri dan berjalan lagi. Hotaru berjalan lurus menaiki bukit kecil dan akhirnya sampai di gerbang kuil. “Sebaiknya aku berdoa dulu di sini agar ditunjukan jalan menuju stasiun.”
Selesai berdoa, Hotaru dikejutkan dengan sosok pendeta wanita yang berdiri di sampingnya. Hotaru yang dulu punya kewaspadaan tinggi, kini sampai jatuh terduduk melihat sosok pendeta wanita di sampingnya. “Tersesat lagi, ketua osis?”
“Za, Zakuro-senpai….”
“Kaget?”
“Sangat.”
“Fufufu…, ayo masuk dulu. Kau pasti lelah sudah tersesat lebih dari 2 jam ini.”
“Sungguh?”
“Aku yakin kau keluar sekolah jam 7 malam kan? Sekarang sudah jam 9. Sudah masuk dulu, nanti aku antar kau ke stasiun.”
“..., maaf merepotkan. Aku di sini saja.”
“Eits, gak boleh gitu…, ayo masuk.” Zakuro mengapit tangan Hotaru, memaksanya berdiri.
Hotaru duduk sedikit tegang di dalam kuil itu. Rasa tegangnya bukan karena ini rumah untuk menyembah dewa…, tapi tatapan ayah Zakuro padanya. Biksu itu memandang Hotaru seolah-olah sedang menguliti dirinya. Hotaru tahu dia pasti sudah salah karena menerima ajakan, tepatnya paksaan, kakak kelasnya yang sebentar lagi akan lulus. Zakuro terlihat datang dengan tiga cangkir teh.
“Diminum dulu ketua osis.” ucap Zakuro. Hotaru menunduk kecil dan meninun tehnya.
“Jadi kamu ketua osis yang sering tersesat itu?” Ucap sang Biksu. Hotaru meneguk tehnya berat, ia meletakan cangkir tehnya lalu berdeham dan mengangguk kecil.
“Maaf merepotkan anak anda.” Ucap Hotaru. Sang Biksu tersenyum ramah. Meski dimata Hotaru, itu senyum menyeringai.
“Zakuro…, kali ini biar ayah yang mengantarnya. Kamu belajar saja untuk beasiswa SMA, kakakmu sebentar lagi juga akan masuk universitas. Ayah tidak yakin dengan biaya sekolah kalian berdua nanti.”
“Uhm…, baik ayah.” Ucap Zakuro.
‘I, ini buruk.’ Batin Hotaru.
~…~…~…~
“Jadi benar dugaanku…, kau anak dari tangan kanan kerajaan selatan yang dulu, ya. Si Yuan.” Ucap Biksu itu seraya mengusap kepala Hotaru. “Wajahmu mirip ibumu, tapi beberapa sifatmu mirip sekali dengan Yuan.”
“Uhm…, bapak kenal Yu…, ayah dan ibuku?”
“Haha, tentu kenal. Dulu…, aku yang menjadi pendeta saat menikahkan orang tuamu.”
“Sungguh?”
“Tentu saja. Coba saja tanya orang tuamu. Dulu sebelum aku pindah ke kerajaan barat, aku tinggal di kerajaan kecil di kerajaan selatan. Jadi aslinya, kami semua orang kerajaan selatan.”
Hotaru menggaruk kepalanya. Ternyata diantar oleh orang tua Zakuro tidak seburuk yang ia duga.
“Kenapa Bapak pindah?”
“Panggil paman saja, Hotaru-kun. Well, mungkin karena Zakuro, ya…, beberapa hari lagi mungkin aku juga akan pindah ke kerajaan Utara. Aku menjadi biksu di kerajaan ini juga…, karena hanya ini yang diberikan kerajaan barat untuk aku tinggali. Makanya aneh kan liat biksu yang berpindah-pindah tempat?”
“..., menurutku tidak. Tidak ada peraturan kan? Kalau biksu tidak boleh pindah?”
“Benar. Tidak seperti di kehidupan dulu.” Hotaru berhenti dan memandang ayah Zakuro itu. Biksu itu tersenyum sembari menghela nafasnya. “Aku sudah ingat, juga tentang kamu.”
“Begitu, kah? Jadi…, Zakuro….”
“Tidak. Dia hanya ingat sebagian, kehidupan saat kita tinggal di desa kalian belum dia ingat sama sekali. Lagipula, di kehidupan kali ini dia punya kakak perempuan, aku jadi gak yakin dia akan ingat seutuhnya.”
“Begitu…, sebenarnya aku juga agak lupa. Yang aku ingat dalam kehidupan lamaku lebih banyak terpotongnya, terutama di zaman kebangkitan kembali klan. Jujur saja…, aku hanya ingat aku dan Zakuro dulu sering bertemu. Hanya saja aku tidak ingat detail, aku bertemu karena apa dan membicarakan apa.”
“Kamu masih lebih beruntung berarti.”
“Terima kasih.”
“Oh, kita sudah sampai.” ucap biksu itu. Hotaru mengangguk, ia lalu membungkuk. Pada biksu itu.
“Aah! Disini kau rupanya! Dasar! Ponselmu mati dan kau tidak pulang-pulang!” keluh Yuan yang terlihat baru turun dari kereta. Hotaru mengangkat badannya lalu berbalik. Biksu itu tertawa kecil. “Oh, pak pendeta, salam….”
“Salam. Apa kabar Yuan? Anakmu ini tersesatnya parah sekali.”
“Baik, pak pendeta. Kalau tidak baik aku tidak akan menjemput anakku ini. Dia tersesat sampai di rumah anda?”
“Benar. Untung Zakuro menemukannya sedang berdoa di kuil kami.”
“Wah, tindakanmu tepat untuk berdoa di kuil bocah.” Yuan mengacak-acak rambut Hotaru.
“Kali ini kalian jadi ayah anak, ya?”
“..., ayah dan anak tiri, tepatnya. Masih sama seperti dulu, bedanya kali ini lebih resmi.”
“Anak tiri?”
“Istriku sudah mengandung anak ini saat kami menikah pak pendeta. Sepertinya ikatan kami kuat, tapi hanya sebagai ayah dan anak tiri. Anda sudah ingat rupanya.”
“Begitu. Aku bahkan sudah ingat saat menikahkan kalian lho. Aku pikir dulu anak ini berubah gender dan akhirnya menikahimu. Syukurlah…, ternyata itu ibunya.”
“Kau dapat restu sepertinya, bocah.” Kekeh Yuan sembari merangkul Hotaru. Hotaru memalingkan wajahnya yang sedikit memerah. Biksu itu tertawa kecil.
“Beda dengan dulu, ya. Semoga kali ini…, kehidupannya lebih baik.”
----- CHAPTER BREAK -----
Dua tahun kemudian.Hirari memeluk punggung kakaknya yang sedang memasukan baju-bajunya ke dalam koper. Ia cemberut dan terus merajuk agar kakaknya tidak pergi dari rumahnya. Hotaru memang berencana untuk menyewa kontrakan di kerajaan Utara, mengingat penyakit buta arah Hotaru yang tidak pernah kunjung sembuh. Yuan dan Shiraishi sudah setuju, meski awalnya Shiraishi menolak. Namun, perkataan meyakinkan dari Yuan membuat akhirnya Shiraishi akhirnya memperbolehkan anak pertamanya itu tinggal di kerajaan Utara. Menyisakan Hirari yang tidak setuju, bahkan sampai sehari sebelum Hotaru pergi, hari ini. Hotaru menghembuskan nafas dan mengusap kepala Hirari di belakang punggungnya, ia lalu melanjutkan kegiatannya. Mengabaikan rengekan Hirari yang makin menjadi.“Hirari…, jangan ganggu kakak gih.” ucap Yuan. Hirari merengek tidak mau. Hotaru memijat keningnya. Yuan terkekeh kecil, dan beberapa saat setelahnya Yuan sudah membawa adiknya itu pergi dari kamarnya. Hotaru menghela nafasnya.“Akhirnya tenang…, Hirari benar-benar aktif, persis seperti Yuan.” gumam Hotaru. Hotaru kini memasukan barang-barang pentingnya ke dalam kardus. Hotaru memandang sebuah figura foto, ia tersenyum sejenak lalu membiarkan figura foto itu tetap di kamarnya bersama sebuah figura foto lain. Foto dirinya dirangkul Zakuro saat upacara kelulusan Zakuro, bersebelahan dengan foto keluarga besarnya. Hotaru menggaruk pipinya, rasanya aneh melihat dirinya yang terlihat datar bersanding dengan Zakuro yang tersenyum ceria, dengan tinggi gadis itu yang masih lebih tinggi darinya itu. Hotaru juga merasa aneh dengan foto keluarganya sendiri. Hanya dia yang tidak tersenyum meski seluruh keluarganya tersenyum saat itu. Beruntung karena keluarga besar, hampir tidak ada yang menyadari ekspresinya yang datar itu.“Hotaru….”“Oh, ibu…, ada apa?” Hotaru menggeser tubuhnya, membuka ruang untuk ibunya duduk. Ibunya tersenyum dan memeluk Hotaru.“Bolehkan hari ini ibu memanjakanmu?” pinta ibunya. Hotaru menggaruk pipinya.“Baiklah.” ibunya tersenyum manis.~…~…~…~Hotaru memandang gedung sekolah barunya. Benar-benar Kerajaan Utara sang kerajaan penuh pendidikan, gedung sekolahnya ini memiliki fasilitas lengkap hanya untuk gedung sekolah. Bahkan Kerajaan Utara sedang membangun universitas di kerajaan tersebut, hal pertama dan menjadi percobaan untuk seluruh kerajaan untuk mendirikan semua jenjang pendidikan di satu kerajaan. Yha, idenya dulu disetujui oleh raja kerajaan pusat saat ini. Hanya saja, perlu ada percobaan untuk melihat efektifnya. Dan karena itulah Kerajaan Utara yang dipilih. Pulau Kerajaan Utara bisa dibilang lebih jauh dari hampir semua kerajaan dan pulau utama kerajaan Utara adalah pulau terbesar kedua setelah pulau kerajaan pusat, itu sebabnya Kerajaan Utara yang dipilih untuk percobaan pertama.Hotaru harus menahan keseimbangannya ketika seseorang melompat ke belakang punggungnya. Hotaru memandang sinis pada orang di belakangnya, tetapi akhirnya dia berbalik memandang gedung sekolahnya. Orang itu tertawa kecil dan mengusap kepala Hotaru dengan sayang. Hotaru menghembuskan nafasnya, ia memandang ke arah lain. “HOHOHO!!! Bocah api ini akhirnya tidak tersesat di kerajaanku!!”“Akari…, kau tidak ke kerajaan pusat?”“Hm? Kuliah berbeda dengan sekolah biasa bodoh. Aku bisa mengatur jadwal masukku dan hari apa saja aku akan ke kampus. Hari ini aku masuk siang.”“Wah, kayaknya enak.”“Enggak juga. Kalau kalau boleh milih, mending gak usah sebenarnya. Hohoho….”“Oh, ya…, aku tidak tersesat karena Yun-yun membelikan rumah untukku di samping sekolah.”“EEH?! CURANG!”“Memang curang.” Hotaru tersenyum kecil lalu berjalan memasuki gedung sekolahnya, Akari mengikutinya masuk.“Aaah, rasanya nostalgia.” Ucap Akari. “Hnggg…, mana lokerku?” Gumam Hotaru. Akari tertawa kecil.“Ini loker khusus wanita, yang di sana baru khusus lelaki. Oh, sedikit tambahan, ini loker untuk kelas tiga. Jadi setiap tahun kamu bakal pindah loker.”“Ini kelas tiga perempuan?”“Iyup.”“....” Hotaru terlihat menyelidiki loker tersebut satu-persatu. Akari mengernyit melihat tindakan aneh Hotaru itu. “Ah.”“Siapa? Siapa yang kau cari.” Kekeh Akari. Hotaru berdiri tegak lalu berjalan menuju loker milik lelaki. Akari cemberut lalu berjalan menuju tempat loker yang tadi membuat Hotaru terpekik sedikit. ‘Mizuhara Naomi, Miyazawa Zakuro…, ooh…, gadis yang dulu….’ Akari mengerjapkan mata sejenak. “EH?! Kamu udah ingat?!”“Soal dia masih belum sepenuhnya.” Ucap Hotaru.“Wah, sayang sekali. Padahal dulu kalian mes…, oh! Zaku-chan…, datang pagi sekali.” Ucap Akari. Hotaru berhenti membuka lokernya.“Wah, Tokichiro-senpai. Apa kabar?”“Iih, panggil Akari donk. Baik kok. Hari ini aku datang untuk bertemu temanku yang sejak di kehidupan sebelumnya sering tersesat. Hahaha, tapi tau-tau dia beli rumah di sini, sebelah sekolah lagi katanya.”“Bagus donk, karena dia tau akan tersesat, makanya pindah ke sini. Aku jadi ingat sama adik kelasku yang hampir tiap hari tersesat saat pulang.”“Orang itu sama kok.” Ucap Hotaru yang memunculkan dirinya di belakang Zakuro. Hotaru menggaruk kepala belakangnya. Zakuro berbalik dan memandang Hotaru, wajahnya sumringah.“Ah, ketua osis tersesat ini akhirnya masuk SMA juga.” tawa Zakuro.“Aku sudah bukan ketua osis.”“Hohoho…, kalian bertemu kapan?”“Tiga tahun lalu saat pulang sekolah.” Ucap mereka kompak. Akari tertawa melihat Hotaru dan Zakuro saling berpandang akan kekompakan mereka.“Hohoho…, kalian cocok sekali!” Hotaru dan Zakuro langsung mencondongkan badan mereka ke arah Akari lalu berteriak menyangkal. Akari malah semakin tertawa mendengar sangkalan kedua orang itu. “Baiklah-baiklah. Tapi, kalian memang cocok kok. Sudahlah lupakan. Oh, ya Hotaru…, lebih baik kita cari kelasmu sekarang.” Ucap Akari.“Oh, benar juga. SMA kan berbeda dengan SMP yang papan pengumumannya dipasang di halaman depan sekolah.” Ucap Zakuro.“Senpai juga nyari kelas, makanya datang pagi?” Tanya Hotaru. Zakuro menggaruk pipinya.“Enggak, aku sudah tahu kok. Kan ada di email sekolah yang langsung dikirim.”“Email?”“..., Jangan bilang kamu juga gaptek ya?!” Pekik Zakuro. Hotaru menyipitkan matanya.“Aah, enggak. Dia malah jenius soal teknologi, dia bahkan pernah beberapa kali meretas. Hari ini kan hari pertama dia masuk, tentu dia belum dikasih tau email siswa.” Jelas Akari. Zakuro teringat lalu meleletkan lidah dan menggaruk kepalanya. Mereka lalu berjalan menaiki tangga.“Aku lupa, ketua osis itu beda dua tahun denganku.”“Sudah aku bilang aku sudah bukan ketua osis.”“Paling nanti juga jadi ketua osis lagi.” Ucap Akari dan Zakuro bersamaan. Hotaru memberengut. Akari tertawa terpingkal-pingkal.“Ngomong-ngomong…, ayahmu kan guru di sini juga, jadi kalau pulang kamu gak akan tersesat lagi pasti. Kenapa kau memutuskan tinggal di sini?” Tanya Zakuro. Hotaru menggaruk kepalanya.“Eh, Zakuro tidak tahu? Yuan…, sensei mulai tahun ini berhenti bekerja sebagai guru. Dia secara aktif kembali jadi tangan kanan kerajaan selatan. Mengingat kondisi raja selatan yang semakin menurun, sementara pewarisnya belum dite….”“dianggap belum mampu untuk menggantikannya.” Potong Hotaru.“Hee?! Aku baru tahu! Berarti nanti akan ada guru olahraga baru donk?”“Guru olahraganya kakak Yuan…, sensei kok. Yang tinggal di kerajaan ini sejak menikah.” Ucap Akari.“Paman Anri?”“Siapa lagi kakaknya selain Anri-sensei?”“Kalau paman Anri aku bisa tenang.” Ucap Hotaru.“Kenapa?” Tanya Zakuro.“Kalau Yun…, ayahku atau paman lainnya, aku bisa-bisa dihajar habis-habisan. Aku anak lelaki pertama…, yang harus mewarisi keahlian keluarga ayahku. Paman Anri juga pasti begitu…, tapi paman Anri masih bersikap lebih baik padaku.” jelas Hotaru.“Hm…, begitu.”~…~…~…~“Nah, ini kelasmu Hotaru. Ternyata kelas kita sebelahan.” Ucap Zakuro.“Beda dengan dulu.” Ucap Hotaru. Zakuro mengerjapkan matanya.“Apanya yang beda?”“Paling tempat kelasnya. Dulu di SMP, ruang kelas anak kelas satu dan anak kelas tiga kan jaraknya jauh. Mereka baru bisa dekat kalau mereka lagi ada di ruang khusus seperti ruang lab atau ruang musik. Kalau di sini, semuanya berdekatan. Tepatnya memang semuanya dibuat dalam lorong ini dan hanya beberapa kelas saja yang ada di bawah....” Jelas Akari.“Benar juga, sampai sekarang aku merasa aneh karena kelasku gak jauh-jauh dari ruangan di sini.” ujar Zakuro.“Ruang kelas ditaruh paling tinggi supaya gak ada yang bisa bolos, ya?” ucap Hotaru.“Tepat.”“Satu-satunya tempat bolos cuma di atap, ya….”“Wah, itu juga mungkin gak bisa. Di dekat tangga menuju atap itu ada ruang guru dan kepala sekolah.” Kekeh Akari.“Jadi dulu Kyo gak pernah bolos donk?”“Kyo pengecualian…, Muramasa, kepala sekolah di sini lho.”“Aah…, pantas.”“Hotaru kenal kepala sekolah?” tanya Zakuro. Hotaru terkejut sesaat.“Cu, cuma pernah bertemu ketika pesta kerajaan selatan….” ucap Hotaru. Akari mengerjapkan matanya. Ia lalu mendekatkan mulutnya ke telinga Hotaru.“Dia belum ingat?” Hotaru hanya menghembuskan nafas pasrah. Akari mengangguk lalu menegakkan badannya.~…~…~…~Pulang sekolah ini, Hotaru masih ada di kelas sembari melihat selebaran yang diberikan kepadanya, selebaran-undangan- untuk masuk ke klub mereka. Hotaru sudah pasti untuk mengikuti klub pedang kayu, yang Yuan paksa untuk masuk ke dalamnya, tapi ia ingin menggunakan klub lain sebagai alasan agar ia tidak jadi ketua osis. Kali ini Hotaru ingin Akira saja yang jadi ketua osis. Entah beruntung atau tidak, Akira sekelas lagi dengannya tahun ini dan Akira dengan senang hati mencalonkan diri jadi osis jika ada pemilihan nanti. Sebagai gantinya, Hotaru yang saat ini jadi ketua kelas, Hotaru tidak begitu keberatan soal ini. Hotaru masih memandang selebaran klub dan mencermati setiap kegiatan yang tertulis dalam selebaran.“Hmm…, mantan ketua osis lagi bingung masuk klub ya?” Hotaru melirik sedikit. Ke arah depannya.“Senpai kenapa ke kelasku?”“Hmm…, mengajakmu pulang bareng.” jawab Zakuro. Hotaru menelan liurnya. ‘Serangan langsung…, senpai memang hebat.’ Hotaru merapikan selebarannya. “Aku lanjut di rumah saja. Yuk.”Zakuro tersenyum lalu merangkul Hotaru. Hotaru sedikit memalingkan wajahnya yang terasa memanas. “Kamu sekelas dengan siapa saja jadinya?”“Hm…, teman yang aku kenal cuma, Akira dan Benitora. Sisanya cuma asal tahu.”“Kamu temenan dengan pewaris kerajaan Timur itu ya? Bicara soal temenan, kayaknya kamu juga temenan dengan pewaris kerajaan Pusat dan Utara tadi.”“Bontenmaru…, senpai juga kok.”“WUIH! Kamu hebat banget.” ucap Zakuro semangat.“Aku gak hebat. Mereka di kehidupanku sebelumnya adalah teman-teman akrabku…, mereka bahkan bilang aku punya daya tarik aneh yang membuat mereka tak bisa diabaikan, meski sudah di kehidupan sekarang.” jelas Hotaru. Zakuro tertawa kecil. ‘Memang, ada daya tarik aneh yang membuatku juga tertarik padanya. ’ batin Zakuro.“Ngomong-ngomong…, senpai dulu ketua osis lagi?”“Hm? Enggak, sih. Karena aku murid beasiswa, aku tidak yakin kalau nilaiku akan tetap bagus kalau ikut osis.”“Begitu….”“Aku ikut klub panahan, serta klub membuat kue. Lalu dulu juga sempat masuk klub musik, sayangnya waktu itu aku masuk beberapa saat sebelum aku naik kelas 3, dan setelah libur musim panas nanti aku sudah tidak bisa ikut kegiatan klub lagi.”“Klub musik? Memang ada?”“Ada kok, tapi emang agak jarang diminati sebenarnya. Senpai Akari tadi juga masuk ke klub musik, sebagai vokalis dan violinist. Aku sih, manager dan juga Flautist.”“Klub musik, ya….” Zakuro mencubit pipi Hotaru lalu tertawa kecil.“Masuk saja, aku jamin mereka orangnya baik-baik, kok.”“Baiklah senpai.”~…~…~…~“Hoo…, memang benar-benar dekat, ya. Rumahmu. Dan…, agak mencolok.”“Yun-yun bilang agar aku gak salah jalan lagi. Kalau dalam 100 langkah rumah ini gak keliatan berarti aku salah jalan. Begitu.”“Yun-yun?”“Ma, maksudku ayahku.” Ucap Hotaru cepat seraya mengeluarkan kunci rumahnya. Ia mencoba memasukan kunci dan ternyata sudah tidak terkunci. “Senpai mau masuk dulu?”“Boleh.” Zakuro lalu masuk ke dalam rumah itu lalu melepas sepatunya. Hotaru di belakangnya, ikut melakukan hal yang sama. “Rasanya rumah ini terlalu besar untuk tinggal seorang diri.”“Aku gak sendiri, kok.”“Eh?”“Oh, akhirnya pulang juga Hotaru. Eh, lho…, ada Senpai.”“Raja selatan memintaku mengurusnya, sekalian dia berlatih untuk jadi raja selanjutnya.” jelas Hotaru. Zakuro mengangguk-angguk melihat Shinrei yang datang dari arah dapur. Ia terlihat memakai celemek, mungkin sedang memasak.“Permisi.”“Silahkan.” ucap Shinrei dengan susah payah menahan tawa. Hotaru cemberut, ia berjalan cepat ke arah Shinrei dan menariknya masuk ke dapur lagi.“Eh?” Zakuro terdiam memandang kedua adik kelasnya yang kelihatannya sedang ribut di dapur. Seseorang terlihat turun dari tangga untuk memastikan kedatangan seseorang.“Lho, Zakuro-senpai, ya? Ayo, masuk dulu.” “Saishi-chan, ya?”“Aku Saisei, Saishi sedang mandi diatas.”“Ah, maafkan aku.”“Gak apa Senpai. Ayo duduk dulu, aku sediakan minuman.”“Terima kasih.”~…~…~…~Shinrei menemani Zakuro pulang ke rumahnya malam itu. Mengingat Hotaru yang masih buta arah membuat Shinrei tidak mungkin memberikan tugas mengantar itu pada Zakuro. “Senpai suka pada Hotaru, ya?”“Jangan bilang padanya.” ucap Zakuro tiba-tiba dengan wajah merona. Shinrei mengerjap-ngerjapkan matanya lalu tertawa kecil.“Baiklah senpai.” ucap Shinrei. “Senpai sebenarnya suka apanya dari Hotaru?”“Hm…, kalau dibilang apanya…, aku sendiri gak tahu. Tapi, rasanya nyaman bersama dengannya. Meski buta arah, tapi saat berjalan bersamanya aku merasa aman. Kemarin saat kalian masih SMP dan aku sudah SMA seperti ini, aku sedikit merasa takut untuk jalan pulang sendiri. Saat aku kelas satu, untungnya masih ada kakakku. Tapi, saat kelas dua, aku tidak pernah berani pulang lebih malam dari jam 5.”“Begitu, ya. Selain itu?”“Hehe, jujur, dia cukup tampan sih.” Ucap Zakuro seraya menggaruk pipinya.“Tam….” Shinrei menampar dirinya sendiri, lalu tertawa terbahak-bahak. Zakuro cemberut.“Dia cukup tampan tahu.”“Ahahaha…, iya, senpai…, maaf…, hahaha….” Shinrei berusaha menghentikan tawanya, ia kembali berjalan bersama Zakuro. “Senpai katanya sudah ingat kehidupan saat di bumi?”“Oh…, tahu dari mana? Iya aku sudah ingat.”“Kalau begitu, ingat aku?”“..., he? Memang kita pernah bertemu sebelumnya?”“Berarti senpai belum ingat sepenuhnya, ya. Sama sepertiku. Iya kita pernah bertemu. Meski ingatanku juga samar-samar soal pertemuan kita di bumi.”“Wah, pantas, ya dulu waktu kita pertama bertemu aku merasa familiar…, juga dengan Hotaru.”“Gak usah dipaksa ingat senpai. Aku juga gak ingat pasti kok, apa itu beneran senpai atau orang lain yang sebenarnya mirip senpai. Nanti juga bakal ingat.”“Iya, ya…, ah kita sudah sampai.” Ucap Zakuro lalu memasuki pintu gerbang.“Kalau begitu aku kembali, Senpai.”“Oke, hati-hati di jalan, ya.”~…~…~…~Sehari sebelum libur musim panas dimulai, Hotaru dengan sedikit ragu berjalan menuju kelas kakak kelas…, ia tidak mengakuinya secara resmi, yang ia sukai. Hotaru ragu untuk mengajak kakak kelasnya itu untuk pergi menonton di bioskop besok siang. Aslinya, itu rencana Shinrei yang dipaksakan kepada dirinya. Sejak Shinrei tahu dirinya suka pada kakak kelasnya itu, semua hal jadi rumit baginya. Padahal saat itu Hotaru tidak mengatakannya secara resmi, Shinrei saja yang menduga seperti itu. ‘Jangan lagi jadi seperti dulu, Hotaru! Kau sudah bisa menyukai seseorang dan itu sangat bagus! Jangan kau sia-siakan dan jadi seperti dulu lagi! Lusa sudah libur musim panas! Dan mungkin kau akan sulit bertemu lagi dengan senpai! Makanya, ajak dia nonton! Aku sudah beli tiket pasangan untukmu dan dia!’ bentakan nasihat Shinrei kembali terngiang di telinganya. Hotaru tak menyangka tiket itu benar-benar sudah dibeli oleh Shinrei. Tiket nonton film horor yang katanya pasti akan membuat kakak kelasnya itu menjerit takut dan akhirnya memeluk dirinya. Hotaru tidak mengerti kenapa ia harus membuat senpainya itu takut. ‘Mungkin nanti aku akan beli tiket sendiri, menyesuaikan film yang ingin dia tonton nanti.’ Batin Hotaru.“Sen….”“Sebenarnya…, aku suka kamu.” Hotaru mengerjapkan matanya. Untung ia belum membuka pintu kakak kelasnya itu. Hotaru memang melihat kakak kelasnya dari jendela kecil di samping pintu, tapi suara tadi lebih berat dari suara senpainya. Itu berarti kakak kelasnya ada bersama seseorang. Hotaru melirik sedikit ke atas, jendela kecil sebagai tempat udara masuk ke lorong dilihatnya masih terbuka. Hotaru melompat tanpa suara dan mencoba melihat ke dalam. Ada seorang laki-laki disana, kira-kira seumur kakak kelasnya itu. Anak laki-laki itu terlihat merona, sementara kakak kelasnya itu hanya diam belum merespon. “A, aku mengerti…, Zakuro-san bisa menjawabnya lain ka….”“Tidak perlu. Sekarang juga bisa.” Ucap Zakuro merespon. Hotaru menggenggam sedikit dinding yang membuatnya tetap berada di udara. Ia menghela nafas kecil merasa yakin dengan jawaban kakak kelasnya itu. “Maaf, aku menyukai orang lain. Jadi…, maaf.”Hotaru mengerjapkan matanya, hampir saja ia turun dan pergi tadi. Hotaru memandang wajah laki-laki itu yang terlihat menghela nafas dan seperti memaklumi.“Jadi benar…, kau menyukai ketua kelas 1-E itu.” Hotaru mengerjapkan matanya.
‘Ketua kelas 1-E? Aku?!’
“Ta, tau dari mana?”“Aku sering melihat kalian jalan bareng kok. Baik pulang maupun datang. Tingkahmu kelihatan sekali lho, kalau kau menyukainya. Tapi…, anak itu seolah tidak merespon semua tindakanmu. Aku jadi kesal, karena laki-laki itu tidak peka padamu yang menyukainya…, padahal aku di sini ingin jadi seperti laki-laki itu.” Ucap laki-laki itu. Hotaru melompat turun, berusaha tidak menimbulkan bunyi dan getaran. Ia lalu bersandar di dinding.“Itu yang terlihat di matamu kan?”“Eh?” Ucapan dan suara batin Hotaru tersinkronisasi.“Aku bisa melihat kok, kalau dia meresponku. Lebih tepatnya, mungkin dia menahan diri untuk meresponku agar tidak berlebihan.”“Kenapa? Kenapa dia melakukan itu?”“Aku perempuan…, Dan aku kakak kelasnya, kan?” Ucap Zakuro, membuatnya terasa masuk akal. “Mungkin dia menahan diri supaya aku dan dia tidak diejek sesuatu yang buruk. Atau mungkin juga dia hanya ingin menunjukkannya di waktu yang tepat, yang manapun menurutku oke....”“Zakuro-san….”“Makanya aku tidak bisa menerimamu.”“Aku mengerti itu, Zakuro-san. Aku menghormati keputusanmu. Tapi…, seandainya nanti dia mencampakanmu…, bolehkah…, aku menggantikan dirinya?”“Kalau nanti memang itu terjadi.”~…~…~…~Hotaru memposisikan diri seolah ia baru akan jalan ke kelas kakak kelasnya ketika kakak kelasnya yang laki-laki itu keluar lebih dulu. Laki-laki itu memandangnya. Hotaru menunduk hormat, lalu diikuti dengannya. Hotaru berjalan menuju pintu kelas kakak kelasnya itu lalu memanggilnya, mengajaknya pulang bersama. Laki-laki itu terlihat menyadari sesuatu, ia menghela nafasnya lalu pergi meninggalkan Hotaru yang dipeluk erat oleh teman sekelasnya itu.“Se, senpai…, le, lepas…, malu….”“Gak apa donk. Udah gak ada yang liat ini!”Laki-laki itu tersenyum dan terus berjalan. ‘Bahagiakan dia, ya.’ Gumamnya. ‘Meski awalnya kami akan sulit bersatu, tapi tentu akan aku bahagiakan dia setelah kami menyatu.’ Laki-laki itu berhenti dan berbalik melihat wajah Hotaru yang merona merah karena diperlakukan seperti balita oleh teman sekelasnya itu. Ia tersenyum lalu pergi dari tempat itu.~…~…~…~“Nonton besok? Mau, mau! Aku mau nonton film Horor baru yang katanya bagus itu…, apa ya judulnya?” Hotaru mengerjapkan matanya, ia melirik sedikit tiket yang diberikan Shinrei lalu mencoba menyebutkan nama judul yang tertera dalam tiket itu. Zakuro langsung sumringah dan memeluk Hotaru lebih erat. “Iya itu!! Katanya seru! Aku dari kemarin ingin nonton, tapi gak ada temen yang bisa aku ajak nonton.”“Well, syukurlah kalau gitu…, aku.., memang ingin mengajak nonton itu juga.” Ucap Hotaru, mencoba memalingkan wajahnya. Zakuro berwajah jahil.“Apa kau takut nonton sendiri?”“Takut? Enggak…, soalnya tiket berdua lebih murah daripada tiket sendiri.” ucap Hotaru. Zakuro mengerjapkan matanya, ia lalu tersenyum dan membisikan sesuatu pada Hotaru. Hotaru merona. “I, itu juga…, iya….”Zakuro yang awalnya hanya jahil mendadak diam. Mereka berdua berhenti tepat di depan pintu gerbang. “Sungguh?”“Sungguh…, tapi…, aku rasa masih akan cukup lama…, sebentar lagi senpai akan pergi ke kerajaan pusat juga untuk kuliah…, sementara aku masih terpendam di bangku SMA. Mungkin…, saat aku kuliah baru….”“Fufufu…, baiklah, aku akan menunggumu. Kalau begitu ini dulu saja, untuk saat ini….” Zakuro mencium pipi Hotaru. Hotaru memalingkan wajahnya yang merona hebat. Zakuro tertawa melihatnya.~…~…~…~Hotaru melihat Shinrei dan Saisei ada di dalam gedung bioskop yang sama dengannya. Meski bangku tempat mereka duduk berjauhan, tapi Hotaru dapat dengan pasti menerka tempat duduk mereka dapat mengawasinya dan kakak kelasnya itu dengan seksama. Hotaru memandang kakak kelasnya yang sudah sangat siap menonton film tersebut. Hotaru menghembuskan nafasnya, lalu tersenyum kecil. ‘Ini mungkin memang satu-satunya kesempatan untukku berubah tentang hal yang satu itu.’ “Hota-chan? Ada apa?”“Enggak…, aku hanya baru kali ini ke bioskop sebenarnya. Jadi….”“Fufufu, santai saja. Duduklah, Hota-chan.” Hotaru duduk di samping kakak kelasnya itu, ia mengamati kakak kelasnya yang tersenyum memandangnya. “Setelah nonton, temani aku ke naik roller coaster, ya. Toh, ini bioskop dalam taman bermain, sayang kalau kita tidak ikut main ke dalamnya.”“..., ini…, kencan?”“Bukannya kemarin kamu bilang kemarin sekalian kencan, kan? Ah, filmnya sudah mau dimulai.” kakak kelasnya itu menyentuh tangannya lalu mengusap tangannya. Hotaru menghela nafas sembari tersenyum.“Iya…, benar juga.”Di lain pihak. Selama film berlangsung, Saisei hanya bisa menahan tawa melihat Shinrei yang sangat pucat saat menonton adegan kemunculan sang setan. Saisei beralih memandang kakak kelas dan juga temannya yang sama-sama terlihat serius seolah larut dalam peran exorcist dalam film. Ia kembali menahan tawanya. Ia berbisik pada Shinrei.“Sepertinya kalau kita…, kamu yang berteriak takut memelukku deh. Bukan aku yang takut dan memelukmu.”“A, aku gak takut!” Balas Shinrei berbisik, wajahnya masih pucat. Saisei tertawa kecil.“Dan kedua orang itu malah sama-sama tidak takut.”“Eh?” Shinrei memalingkan wajahnya, benar saja, ia melihat adiknya dan kakak kelasnya itu sedang serius menonton film, sesekali terlihat seperti sedang berpikir. Saisei menahan tawanya lagi. Shinrei menggaruk pipinya, ia seharusnya memang lebih memperhatikan tindakan adiknya itu, bukan larut dalam filmnya seperti ini. Namun, tak bisa dipungkiri, Shinrei benar-benar ketakutan melihat special efek serta sounding yang terus-menerus memberinya kejutan sekaligus membuat bulu kuduknya berdiri. Meski Shinrei tahu pasti mana hantu sungguhan dan mana hantu yang dibuat-buat seperti ini, tapi bagi Shinrei hantu buatan ini lebih seram dari hantu aslinya. Shinrei menggelengkan kepalanya, ia harus fokus pada adiknya itu.~…~…~…~“Aduh, kita kehilangan mereka!” keluh Shinrei.“Siapa juga yang pingsan di adegan terakhir film?” keluh Saisei membalas. Shinrei menggaruk kepalanya.“Su, sudahlah, yang penting ayo cari mereka!” Shinrei menarik tangan Saisei dan pergi keluar dari area bioskop di taman bermain itu. Saisei menghela nafasnya, lalu tersenyum dan membiarkan dirinya terbawa oleh Shinrei. Meski hari ini mereka lebih fokus pada mengamati ‘perubahan’ dan ‘perkembangan’ cinta adik Shinrei yang dulu terkenal sebagai muka besi tak berperasaan, Saisei tetap merasa ini kencan baginya.Shinrei di lain pihak juga menganggap hal ini sebagai kencan. Double date, kalau dalam istilahnya. Meski tugasnya mengawasi sang adik itu lebih penting ketimbang kencannya saat ini. Toh, mereka sebenarnya sudah sering kencan bersama. Saisei yang juga putri suatu kerajaan kecil di daerah selatan menjadikan hubungan mereka dengan cepat direstui oleh orang tua mereka, juga kakek Shinrei. Yang menjadi masalah nanti hanya…, bagaimanapun Hotaru sudah resmi jadi anggota kerajaan selatan pusat…, ada kekhawatiran di benak Shinrei kalau kakeknya mungkin tidak akan menerima Zakuro yang berasal dari rakyat biasa. Itu sebabnya, Shinrei dan Saisei berencana untuk mengawasi hubungan mereka sekaligus memberi laporan soal hal itu pada orang tua Shinrei, khususnya kakeknya.Namun…, bagaimana memberi laporan jika mendadak objek yang ditelitinya malah menghilang dari pengawasannya. Shinrei jadi merasa bersalah karena sudah terlanjur berjanji akan memberikan laporan itu pada ibunya.“Ah…, itu mereka!” pekik Saisei sembari menghentikan jalannya Shinrei. Shinrei berhenti dan melihat ke arah yang ditunjuk Saisei. Adiknya memang pendek, tapi rambut pirang dengan pakaian berwarna merah itu memang terlalu mencolok sehingga mudah dikenali. Shinrei memandang antrian tempat adiknya dan Zakuro berada, dan Shinrei langsung merasa sesak.“Haruskah aku saja yang naik Shinrei?” tanya Saisei sembari menahan tawa. Terakhir kali mereka kencan di taman bermain kerajaan barat, Shinrei berkata ia tidak akan pernah naik permainan itu lagi saking takutnya ia ketika menaiki permainan itu. Shinrei berwajah pucat pasi.“Mo, mohon bantuannya.”~…~…~…~Hotaru tersenyum memandang Zakuro yang puas sekali menaiki wahana permainan tadi. Hotaru sendiri cukup menyukainya, apalagi wahana tadi juga menyediakan efek yang persis seperti di film yang tadi mereka tonton. Zakuro saat ini menariknya menuju sebuah booth permainan. “Kamu bisa bermain menembak Hota-chan?”“..., apa itu?”“..., oh iya…, ini pertama kalinya kamu kemari, ya. Hmm…, ayo kita main…, aku tunjukin dulu caranya.” ucap Zakuro lalu berbicara pada pria muda yang tersenyum menawarkan dagangan yang bukan dagangan biasa. Hotaru mengamati tindakan Zakuro saat itu. Hotaru menggaruk kepalanya saat Zakuro berdecih karena tumpukan kaleng yang menjadi bidikannya tidak jatuh sesuai harapannya. Hotaru tersenyum, tangannya seperti meminta. Zakuro menghela nafas dan memberikan alat permainan ditangannya pada Hotaru. Hotaru mencoba meniru tindakan Zakuro tadi dan membidik tumpukan kaleng yang sama dengan yang dibidik Zakuro.“Selamaat!” pria muda itu membunyikan lonceng di tangannya saat bidikan Hotaru kali ini tepat mengenai tumpukan kaleng itu dan menjatuhkannya. Zakuro melompat senang dan langsung memeluk Hotaru. Pria muda itu pun memberi sebuah boneka anjing hutan berwarna ungu pada Zakuro. Hotaru tersenyum.“Kau suka boneka anjing hutan?”“Iya…, entah kenapa terlihat berbeda dengan anjing biasa, dan yang ini lebih manis.” Hotaru tersenyum lebih lebar.“Kamu memakanku donk?”“Ha?”“Aku suka anak ayam.”“Aaah…, pantas kamu lucu.” wajah Hotaru langsung memerah. Ia dan Zakuro akhirnya pergi dari booth itu.
‘Mereka, pasangan yang sangat serasi…, entah kenapa.’
~…~…~…~“Aah…, kita kehilangan mereka lagi.” Pekik Shinrei. Saisei menghela nafas.“Siapa suruh ikutan bermain seperti ini?”“Iya, iya…, aku salah.” Saisei tersenyum kecil.“Well, ayo kita cari lagi. Aku rasa mereka masih ada di sekitar sini.”“Saisei…, baiklah.”~…~…~…~“Kita belum resmi jadian, tapi sudah kencan seperti ini…, kadang aku merasa…, ini terlalu aneh.” Ucap Hotaru seraya memakan pesanannya. Zakuro tertawa kecil.“Benar juga ya.”Hotaru mengulurkan tangannya lalu merapikan rambut panjang Zakuro yang hampir masuk ke dalam mulutnya sendiri. Wajah Zakuro memerah, ia memandang wajah Hotaru yang juga memerah. Hotaru menarik tangannya. “Ma, maaf.”“Ti, tidak apa-apa.”~…~…~…~Hari sudah sore, Hotaru mengantarkan Zakuro pulang ke rumahnya. Setelah diajarkan oleh Zakuro untuk membaca peta, Hotaru yakin ia tidak akan tersesat. Zakuro mengusap kepala adik kelasnya itu. Memberinya semacam berkat agar adik kelasnya itu tidak tersesat saat perjalanan kembali ke rumahnya sendiri. Hotaru akhirnya pulang setelah berpamitan pada kakak kelasnya, juga ayah dari kakak kelasnya itu.Hotaru kembali menampakkan wajah lesunya. ‘Semalam tadi…, aku mendapat semua ingatanku. Bahkan tentang Kei dan tentang Zakuro. Padahal Kei belum ada…, itu berarti beberapa hari lagi kejadian saat aku mendapat Kei akan terulang. Aku bersyukur aku sudah ingat sekarang…, tapi mengingat Zakuro, aku jadi sedikit kasihan padanya seandainya nanti dia menemukanku bersama Kei.’
‘Jadi tuanku sudah ingat semua?’
‘Naraka?! Kau membaca pikiranku!’
‘Kau membawaku, tentu aku bisa mendengar pikiranmu. Kali ini, aku berjanji tidak akan membiarkanmu sampai lemah seperti dulu.’
‘Dulu aku melemah karena efek chikewai juga…, kata Akari. Jadi…, seharusnya sekarang efeknya tidak sebesar dulu.’
‘Benar juga…, belok kanan tuanku.’
‘..., kalau kau bisa baca arah…, dari dulu kau harusnya memberi tahuku.’
‘Haha…, maaf deh. Habisnya kau tidak bertanya.’ Hotaru menghela nafasnya. Ia berbelok ke kanan dan memandang sekitarnya. ‘..., Tuanku…, sepertinya aku mengerti kenapa anda ingat semuanya tadi malam.’
‘Hm, kenapa?’
‘Genggam erat aku sebelum tuanku ditangkap.’
‘Ha?’ Hotaru menghela nafasnya lalu memindahkan pedangnya dari belakang ke depan, lalu mencoba mengeluarkan pedangnya. Namun gas tidur lebih cepat bereaksi daripada gerakannya. Hotaru menggenggam erat pedangnya dan jatuh ke alam bawah sadar.~…~…~…~“Hotaru belum pulang?” teriak Shinrei. Saishi mengangguk sembari memakan biskuit.“Mungkin mengantar kakak kelas itu dulu?” ucap Saishi seraya pergi ke arah dapur. Shinrei melipat tangannya.“Kenapa Shin?” tanya Saisei.“..., aku mendadak merasakan perasaan buruk saat kita memutuskan untuk pulang tadi. Tapi….”“..., Aku akan memastikan dulu keadaannya di rumah senpai. Dia buta arah, jadi mungkin aku akan menemukannya juga nanti.” ucap Saisei.“..., Aku ikut denganmu.”“Kalian mau kencan lagi? Aah…, aku iri padamu Kak.” keluh Saishi sembari membawa camilan baru dari dapur.“Bukan kencan. Kami mau cari Hotaru. Kamu nanti kabari kalau seandainya Hotaru pulang duluan saat kita mencarinya.”“Ouh…, aku lupa Hotaru itu buta arah. Oke, hati-hati di jalan kak…, Shinrei…, jaga kakakku dengan baik, ya.” Ucap Saishi dengan aura mengerikan. Shinrei menelan liurnya lalu mengangguk.Shinrei dan Saisei berjalan menuju rumah Zakuro. Hari yang sudah malam membuat mereka harus segera bergegas agar bisa segera mencari sebelum matahari muncul kembali dari ufuk timur.~…~…~…~“Eh? Masih belum pulang? Padahal aku sudah mengajarinya membaca peta dan waktu di taman dia bisa!”“Berarti dia memang tersesat ya. Baiklah senpai, kami pamit dulu. Kami akan mencari Hotaru.” ucap Saisei.“Ah…, kenapa kalian tidak telepon saja? Dia kan membawa ponsel. Begitu kan jadi lebih mudah.”“Benar juga. Baiklah senpai. Kami akan menelponnya dan mencarinya.” ucap Shinrei lalu berpamitan. Zakuro mengangguk. Shinrei dan Saisei lalu pergi dari rumah kakak kelasnya itu. Saisei lalu mencoba menelepon Hotaru sembari berjalan.“Tidak aktif…, apa jangan-jangan dia tersesat karena ponselnya mati dan dia jadi tidak bisa liat peta?” Ucap Saisei berspekulasi. Shinrei mendengus sebal.“Ya sudah, ayo kita berpencar mencarinya. Baterai ponselmu masih penuh kan? Nanti hubungi aku kalau sudah ketemu.” Ucap Shinrei.“Baiklah.”“Ah iya…, hati-hati. Kalau kau merasa tidak aman, kamu langsung menghubungiku juga.”~…~…~…~Saisei segera menghampiri benda yang ia temukan di jalanan menuju ke arah rumahnya itu. Sebuah ponsel berwarna merah dengan gantungan burung berwarna jingga. Ponsel yang sangat akrab dengan orang yang yang dikenalnya, sekaligus sedang dicarinya itu. Saisei segera menghubungi Shinrei setelah mendapatkan petunjuk itu. Saisei menyalakan ponsel itu, baterai ponsel itu ternyata masih ada. Ponsel itu memang sengaja dimatikan. Sepertinya tidak ada tanda-tanda dinyalakan sebelumnya. Itu berarti orang itu tidak melihat peta di ponselnya.“Apa yang kau temukan Saisei?” Tanya Shinrei setelah mengatur nafasnya sejenak. Saisei memperlihatkan ponsel yang ia temukan.“Ponsel Hotaru aku temukan tergeletak di sini dalam keadaan mati tadi…, saat aku nyalakan baterainya masih penuh seperti ini.” Jelas Saisei. Shinrei mengambil ponsel itu lalu menelitinya. Shinrei mencoba menghubungi ponsel itu dengan ponselnya.“Ponsel ini…, Tidak ada nomornya….” ucap Shinrei setelah tidak melihat respon yang diharapkannya dari ponsel itu. “Jatuhnya seperti apa Saisei?”“..., uhm…, kalau tak salah terbuka dan terbalik. Untungnya tidak terinjak sehingga mematahkannya….”“..., aneh. Kalau begitu kenapa ponselnya jatuh dalam keadaan mati? Lalu kenapa tidak ada nomornya?” Tanya Shinrei lalu mematikan ponsel itu dan membuka ponsel itu, SIM card di ponsel itu memang sudah dicabut. Dan digantikan sebuah kertas. Shinrei mengambil kertas itu. Kertas itu hanya bertuliskan tiga huruf saja. ‘KEI’ .“Kei?” Saisei mengernyitkan keningnya. Shinrei terlihat limbung lalu menyandarkan punggungnya. “A, ada apa Shinrei?”“Ti, tidak…, hanya…, aku merasa kita tidak akan menemukan Hotaru dalam waktu dekat.” Shinrei meremas kertas itu. “Aku akan meminta kakek untuk mencarinya.”“..., aku akan coba menghubungi Kyo dan shiseiten lainnya untuk meminta bantuan.”“..., benar juga…, tahun ini Kyo dan Bonten sudah resmi jadi pewaris raja kerajaan pusat dan barat, koneksinya pasti lebih bagus lagi karena banyak berlatih bersama rakyat-rakyatnya.”
----- CHAPTER BREAK -----
Libur musim dingin ini…, Shinrei akhirnya berencana memberi tahu ibunya Hotaru soal keadaan Hotaru yang masih belum ditemukan. Shinrei sudah meminta Yuan untuk tidak memberitahu hal itu sampai ada kejelasan. Namun, libur musim dingin adalah libur yang sudah direncanakan Hotaru untuk kembali pulang ke rumahnya. Itu sebabnya ia tidak bisa berbohong lebih lama lagi pada ibu keduanya itu. Shinrei memandang kelas Hotaru yang saat ini dipimpin oleh Benitora sebagai ketua kelas sementara selama Hotaru menghilang. Kabar soal hilangnya Hotaru memang sudah tersebar di sekolahnya. Hilangnya yang secara misterius itu juga membuat semua siswa SMA lebih berhati-hati, terutama saat-saat pulang sekolah.“Ah…, Shinrei….” panggil seorang gadis. Shinrei mengalihkan pandangnya lalu mencoba tersenyum.“Senpai….”“Hota-chan masih belum ketemu?” tanya gadis itu. Shinrei menggeleng.“Aku khawatir sebenarnya…, di zaman dulu juga…, Hotaru pernah menghilang begini selama setahun, dan saat ditemukan…, Hotaru terluka sangat parah sampai-sampai ia tidak bisa lagi menjadi seorang samurai.”“Ah, iya…, aku ingat pernah diceritakan ayahku kalau kalian dulunya adalah klan samurai.”“..., oh, ya…, bicara soal ayah senpai…, aku turut berduka.” Shinrei menunduk. Gadis itu memaksakan untuk tersenyum kecil.“Terima kasih.”“Oh, ya…, senpai jadinya sekarang tinggal dimana?”“..., ikut kakakku tinggal di kerajaan pusat. Aku jadi agak malu sebenarnya karena pacar kakakku juga tinggal di tempat yang sama…, makanya sebenarnya aku juga sedang mencoba mencari tempat tinggal baru.” Jelas Zakuro. Shinrei mendadak teringat sesuatu.“Senpai boleh kok, kalau ingin tinggal bareng kami. Aku yakin, ayahnya Hotaru akan mengizinkan. Hari ini, aku berencana bertemu ayah dan ibunya, kalau senpai mau ikut, aku antar.”“Sungguh? Terima kasih Shinrei.”~…~…~…~Reaksi dari ibunya Hotaru benar-benar seperti pemikirannya. Shinrei jadi merasa bersalah karena tidak memberi tahu dari awal. Shinrei juga bersyukur reaksi Hirari tidak begitu se-hyper biasanya. Atau hanya belum. Shinrei memandang Yuan yang juga terlihat merasa bersalah dan kelabakan melihat reaksi istrinya. Shinrei mengerti kenapa Hotaru dulu sangat protektif pada ibu dan adiknya ini. Ibunya sendiri protektif padanya. Shinrei melirik kakak kelasnya yang datang bersamanya itu. Ia jadi merasa bersalah juga karena mengajaknya di saat yang tidak tepat.Yuan tersenyum kecil ketika ia mulai berhasil menenangkan keadaan istrinya itu. Meski tetap saja istrinya masih menyalahkannya yang memberi izin Hotaru untuk tinggal jauh dari rumah. Yuan mengusap kepala Hirari yang menangis tersedu-sedu. Ia membawa Hirari ke pangkuannya dan menenangkannya. Yuan lalu tersenyum manis memandang Zakuro.“Lalu…, Zakuro-chan ada apa datang kemari?” Tanya Yuan mencoba mengalihkan perhatian. Zakuro terkejut sedikit lalu mengusap tangannya.“I, itu….”“..., Sejak ayah senpai meninggal…, senpai jadi tidak punya rumah. Aku, Saisei, dan Saishi sudah sepakat memberi kamar terakhir untuk senpai. Setidaknya, Senpai bilang ia berencana untuk kuliah di Kerajaan Utara juga sebagai mahasiswa angkatan pertama. Jadi setelah aku, Saisei, dan Saishi keluar…, rumah itu masih bisa terurus.” Jelas Shinrei. Yuan menengadah sedikit seraya berpikir.“Boleh banget. Dari pada dijual lagi juga sayang.” Ucap Yuan. Shiraishi mengusap air matanya lalu memandang Zakuro.“Oh, ya…, kamu siapa?” Tanya Shiraishi.“Eeh…, itu…, saya….”“Itu, pacarnya Hotaru.” Ucap Yuan seraya terkekeh. Shiraishi mengerjapkan matanya.“Ooh! Yang diceritakan Hotaru itu? Memang cantik ternyata.” Ucap Shiraishi mulai ceria. Yuan tersenyum memandang istrinya itu.“Ka, kami belum berpacaran….”“Lho? Belum? Tapi, sebelum Hotaru hilang, dia menghubungiku karena ingin berkencan denganmu.” Jelas Yuan.“Oh, telepon terakhir Hotaru itu? Iya juga, ya…, itu telepon terakhir dari anak itu….”“A, aah…, sudah Shiraishi…, aku sudah bilang akan menemukannya kan. Tenanglah…, lagipula dia anak yang sudah kudidik agar jadi anak yang kuat. Dia pasti baik-baik saja dan hanya tersesat seperti biasa.”“Tapi, ini sudah hampir enam bulan dia menghilang…, dan kau juga baru mengabariku sekarang! Anakku….”“Iya…, aku minta maaf…, karena aku pikir mudah menemukannya…, seperti biasanya. Lagipula…, ini kan tanggung jawabku yang sudah mengizinkannya….” Ucap Yuan. Shiraishi menarik nafasnya lalu memandang Yuan.“Permintaan maaf diterima.”“..., like mother like son.” Gumam Yuan lalu mencium kening Shiraishi.“Maaf Senpai…, orang tua Hotaru memang begini.” Keluh Shinrei. Zakuro tertawa kecil.“Tidak apa. Aku jadi mengerti kenapa Hotaru agak malas menceritakan soal ayahnya.”“..., Eh? Kakak, pacar kakakku?” Tanya Hirari. Zakuro merona.“A, aku belum….”“Aku boleh panggil kakak dengan kakak ipar berarti.” Senyum Hirari ceria seperti biasa. Shinrei tertawa.“Jangan Hirari…, kakakmu nanti marah lho.”“Kayak Kak Shinrei waktu aku memanggil kakak Saisei dengan kakak ipar?”“Uhuk…, begitulah.” Shinrei mengusap kepala Hirari.~…~…~…~Zakuro menghela nafas sangat panjang, ia tak menyangka teman sekelasnya itu memanfaatkan hilangnya orang yang disukainya itu dengan baik. Namun, Zakuro tetap menolak permintaan temannya itu, ia masih ingin percaya pada teman dan sekaligus orang disukainya itu. Temannya itu terlihat memaklumi…, dia memang belum menyerah tetapi ia tetap masih menghargai keputusannya itu. “Osamu…, maafkan aku, ya….”“Tidak apa Zakuro. Aku paham aku tidak bisa mengalahkan orang itu di hatimu.”“Osamu….” Osamu menepuk pundak Zakuro dan mengajaknya berjalan ke arah lorong. Osamu menghela nafas.“Ahaha, tidak apa Zakuro…, aku jadi ingin berusaha mencarinya juga…, aku ingin memarahinya karena sudah membuatmu sedih.”Zakuro tersenyum kecil lalu tertawa.“Wah, aku gak bisa menahanmu untuk berlaku seperti itu.”“Selain itu…, kalau dia terus hilang…, atau ditemukan dalam keadaan telah berpulang…, kerajaan selatan akan repot juga….”“Ah? Kamu dari kerajaan selatan, ya?”“Apa aku belum bilang? Aku salah satu pangeran di kerajaan selatan. Kerajaan kecil sih…, jadi gak bisa menyaingi status Hotaru….”“Eh? Hotaru kan hanya anak tangan kanan kerajaan selatan. Tentu kamu lebih tinggi.”“..., kamu…, gak tahu?”“Gak tahu apa?”“Kalau Hotaru sebenarnya….”“Osamu!”Zakuro dan Osamu berbalik memandang Shinrei yang tiba-tiba muncul di belakang mereka. Shinrei mendekati mereka lalu menarik Osamu menjauh dari Zakuro. Zakuro mengerjapkan mata dan memandang teman sekelas dan adik kelasnya itu berbicara sesuatu yang tak bisa ia dengar. Pekikan Osamu sesaat itu membuat Zakuro merasa ada sesuatu yang tersembunyi dari diri Hotaru. Terutama Hotaru sebagai anggota kerajaan selatan. Osamu kembali menemui Zakuro seraya tertawa canggung. Shinrei masih di sana sembari melipat tangan.“Lupakan soal itu…, ternyata hal itu masih off the record.”“..., he? Kalau begitu jangan dikatakan. Nanti kamu kena marah.”“..., sudah kena marah kok. Dia kan Pangeran kerajaan selatan…, kalau aku pangeran kecil, dia pangeran besar.” Ucap Osamu. Zakuro mengerjapkan matanya.“Pantas aku rasanya pernah dengar nama Shinrei. Ngomong-ngomong…, nama keluarga Shinrei dan Hotaru ternyata sama, ya.”“..., Nakayama, ya…, aslinya nama Hotaru menggunakan nama Nakamura, Nakamura Hotaru. Yuan-san kan nama aslinya Nakamura Yuan. Hanya saja, karena keluarga Nakamura sudah mengabdi pada keluarga Nakayama bahkan sejak zaman raja pertama…, keluarga Nakamura dianggap sebagai bagian tak terpisahkan dari keluarga Nakayama…, makanya Hanya keluarga Nakamura yang diperbolehkan memakai nama keluarga Nakayama. Bahkan sejak Ratu Rallie, nama Nakamura itu sudah tidak boleh dipakai lagi untuk keluarga Nakamura itu sendiri.” Jelas Osamu.“Kamu hebat, ya….” ucap Zakuro. Osamu menggaruk surai kebiruannya malu-malu.“Itu pengetahuan umum sebagai anggota kerajaan selatan, kok.” Ucap Osamu.“Berarti Hotaru tahu donk?”“Harusnya tahu.”~…~…~…~“Sudah hampir setahun…, padahal saat itu Hotaru menghilang selama sembilan bulan.” Gumam Yuan seraya membaca koran, mencari berita mengenai anaknya. “Jangan bilang dia gak bertahan saat ini?” Yuan meremas korannya lalu berdiri. Ia berpamitan pada Shiraishi untuk kembali mencari Hotaru. Kali ini dia ingin mencari di kerajaannya sendiri. Pencarian selalu terpusat di kerajaan Utara, tempat pertama Hotaru menghilang. Dan beberapa kali di lakukan pencarian di kerajaan Pusat, Barat, dan Timur sebagai yang terdekat dengan kerajaan Utara. Namun, belum pernah sekalipun dicari di dalam kerajaan Selatan sendiri. Meski raja selatan saat ini sudah memerintahkannya, sikap rakyat tetap mengabaikannya perintahnya seperti biasanya. Yuan tidak memungkiri, hubungan rakyat dan raja dalam kerajaan selatan menjadi sangat buruk sejak hilangnya ratu Houou.Setelah berpamitan dari istrinya, Yuan juga berpamitan pada raja kerajaan selatan. Menghindari permasalah yang mungkin terjadi nantinya. Lagipula, ia berdalih dengan kata-kata melakukan untuk kesejahteraan kerajaan selatan sendiri. Yuan akhirnya berangkat menuju kereta kecil yang bergerak menuju pulau-pulau kecil milik kerajaan selatan. Mengingat status Hotaru sebagai pangeran kedua kerajaan selatan yang sudah disebarkan di pulau utama kerajaan selatan, Yuan yakin Hotaru tidak ada di pulau utama. Kemungkinan lainnya hanya ada di pulau-pulau kecil yang bahkan akses informasi masih bisa terbilang terbatas selain karena pengabaian perintah raja dari rakyatnya itu.Yuan mencoba merasakan aura Hotaru, saat kereta yang dinaikinya akan memasuki sebuah pulau kecil. Yuan merasakan sakit di kepalanya, ia menahan kepalanya lalu menghembuskan nafasnya. “Sepertinya tidak ada di pulau yang ini.” Gumam Yuan.“Permisi…, kalau anda tidak ingin keluar, bisa berpindah ke sebelah sini?”“Oh, maaf nona….” ucap Yuan lalu bergeser.“Terima kasih.”Yuan menghela nafas dan memandang sebagian pemandangan di pulau kecil dari balik jendela. Yuan memandangnya sembari mengamankan slot tempat duduk barunya. “Pulau ini pemandangan masih saja indah…, mungkin sesekali akan aku ajak Shiraishi berlibur ke pulau ini.”Kereta kembali bergerak ke arah pulau lain. Yuan sengaja menggunakan kereta pengubung yang akan berhenti di stasiun yang tepat berada di tengah kota. Dengan mata hatinya tentu ia bisa merasakan aura di seluruh pulau. Seandainya, tidak bisa, Yuan bisa turun sejenak dan memperluas area pencariannya di sekitar stasiun. Dan juga bisa sekaligus makan siang jika waktunya sudah tiba nanti. Pulau kedua memiliki jarak yang cukup jauh, beruntung Yuan kali ini mendapat tempat duduk. Keadaan kereta saat ini memang sudah tidak seramai saat pertama tadi. Yuan memandang sekelilingnya yang terlihat sibuk dengan buku, koran, dan gadget milik mereka. Yuan membuka ponselnya dan membaca jam serta tanggalan di sana. “Tanggal 16 Juli ya…, kalau tak salah Hotaru menghilang tanggal 23 tahun lalu.” Gumam Yuan.
‘Sesaat lagi kereta akan tiba di stasiun…, HongLobo!’
Yuan kembali mencoba merasakan aura Hotaru di pulau kecil itu. Yuan berdiri, ia berjalan dari gerbongnya, ke arah gerbong lain. Ia melewati 3 gerbong dari gerbong asalnya, ia lalu mengamati penumpang yang duduk satu persatu. Yuan lalu berdiri di depan seseorang berjubah dan mengenakan tudung, ia baru saja duduk di tempat itu. Ia juga menggendong sesosok bayi yang tertidur di pelukannya. Yuan berjongkok lalu mengusap pipi orang itu yang basah.“Akhirnya aku menemukanmu, Hotaru.”“Yuan…, Maaf.”“Tak apa…, aku tahu ini yang akan terjadi…, syukurlah kamu tidak sampai pingsan seperti dulu.”“..., aku…, tahu…, tapi…, baru kali ini…, air mataku tak bisa berhenti.”Yuan juga tidak mengerti kenapa Hotaru terlihat sangat sensitif saat ini. Yuan berusaha mengabaikannya. Ia mengambil tempat duduk di sebelah Hotaru lalu menarik kepala anak tirinya itu ke bahunya. “Tak apa…, yang penting saat ini kamu sudah ingat dan Kei sudah lahir. Ayo kita pulang.”~…~…~…~“Dulu aku yang menemukanmu…, sekarang Yuan-san yang menemukanmu.” Ucap Shinrei di kamar perawatan Hotaru. Hotaru memalingkan wajahnya, memandang Shinrei.“Dan…, jika dulu kamu trauma fisik, sekarang trauma mental.” Ucap Akari yang datang bersama Hishigi. Saat ini mereka sedang ada di rumah sakit besar yang ada di kerajaan utara. Tentunya karena perintah sang raja selatan saat ini, yang menginginkan perawatan terbaik bagi pewarisnya itu. “Itu sedikit mengganggu sih…, aku jadi bingung menghadapi ibuku dan…, dirinya nanti.” Ucap Hotaru seraya menggaruk kepalanya. Akari melipat tangannya, agak berpikir juga. Reaksi pertama Hotaru saat bertemu dengannya tadi benar-benar diluar dugaan. Beruntung Akari bisa mengubah tampilannya jadi berwajah sedikit laki-laki, sehingga saat ini Hotaru sedikit tenang.“Kamu akhirnya punya ibu dan seorang kekasih lho…, jangan sia-siakan. Coba kamu pikirkan apa yang membuatnya berbeda dengan ibumu dan Senpai.” pinta Shinrei.“Rambut ibu dan Senpai panjang. Sementara orang itu pendek.”“Nah…, itu saja. Kamu hindari saja perempuan berambut pendek.” Ucap Shinrei.“Kalau kau lakukan itu, bisa-bisa dia akan menghindari ibumu dan kekasihmu juga, Shinrei. Rambut ibumu dan Saisei kan pendek, meski sebahu itu sebenarnya sudah termasuk panjang....” Ucap Akari. Shinrei menepuk keningnya. ‘Benar kata Akari. setidaknya Hotaru harus bisa menghadapi keluarganya yang perempuan.’ Batin Shinrei. “Se, selain itu ada lagi?”“Hentikan, Shinrei…, kau bisa-bisa semakin membuatnya trauma. Aku akan tanya kakakku untuk mencari psikolog terbaik kenalannya itu. Bagaimana pun, luka fisik dan luka mental itu beda cara penanganannya.” Jelas Akari.“Baiklah…, aku mengerti.”“Ngomong-ngomong…, Shinrei…, bagaimana reaksi ibuku? Aku….”“Dia memang menangis dan sempat memarahi Yuan-san yang menurutnya sangat terlambat mencarimu. Saat Yuan-san bisa mengatasinya dengan baik, ibumu akhirnya tenang…, dan saat ini sepertinya sedang merawat Kei bersama ibuku.”“Bilang pada ibuku…, kalau nama anak itu Keikoku. Aku rasa ibu akan semakin tenang.”“Oke, nanti aku sampaikan.”“Sekarang kamu istirahat Hotaru. Meski gak sampai separah dulu, tapi kamu tetap butuh istirahat.” Ucap Akari lalu mengusap kepala Hotaru. Ia mengeluarkan sedikit kekuatan penyembuhnya sembari membantu Hotaru kembali merebahkan diri di ranjangnya. Hotaru menghembuskan nafas dan mengangguk. Ia memejamkan mata setelah tubuhnya berada di posisi yang nyaman untuknya tidur.~…~…~…~Saat ini libur musim panas, Zakuro dengan senang hati menerima tawaran Saisei untuk mengunjungi Hotaru yang sudah pindah ke rumah sakit di kerajaan selatan. Zakuro bertemu dengan Osamu saat itu. Osamu terlihat keluar dari kamar perawatan khusus tempat Hotaru berada. Wajah Osamu terlihat lebih ceria. Zakuro tahu pasti…, mantan teman sekelasnya itu akhirnya bertemu dengan seorang gadis lain yang menarik perhatiannya. Zakuro tertawa kecil saat Osamu curhat padanya soal gadis incarannya di kampus kerajaan pusat. Osamu terlihat rela pergi ke kerajaan utara demi curhat pada Zakuro yang berada di kampus kerajaan utara. Juga pada Hotaru, yang akhirnya ditemukan di kerajaan asalnya, kerajaan selatan.“Ah, Zakuro, Saisei-sama…, kalau kalian mau menemui Hotaru-sam…, Hotaru-san…, kalian harus ditemani oleh Shinrei-sama atau Akari-senpai. Shinrei-sama bilang, Hotaru-san…, ada kecenderungan PTSD pada perempuan…, bahkan kata Shinrei…, Hotaru-san masih ketakutan untuk bertemu dengan ibu kandungnya sendiri.” Jelas Osamu.Zakuro mengangguk kecil. Ia tahu…, ia sendiri tinggal bersama Shinrei serta Saisei dan Saishi…, Shinrei sudah memberi tahunya tentang keadaan Hotaru yang saat ini mengalami trauma mental berat. Entah apa yang terjadi selama masa penculikan Hotaru sampai-sampai ia mengalami gejala PTSD seperti itu. Zakuro hampir saja membuka pintu kamar itu secara langsung, seandainya Saisei tidak menahannya. Zakuro memandang Saisei dengan tatapan sendu, Saisei hanya tersenyum kecil dan membiarkan Shinrei membukakan pintu dari dalam.“Aku rasa, Hotaru sudah siap menemui kalian.” ucap Shinrei. Zakuro dapat mendengar suara nafas tertahan dan dihembuskan secara paksa. Ia memandang Hotaru yang terlihat kaku dan sedikit gemetar. Zakuro melihat Ibu Hotaru sedang mengusap kepala anak pertamanya, mencoba menenangkannya. Sepertinya Hotaru sudah tidak mengalami gejala PTSD pada ibunya Zakuro tersenyum canggung. Ibu Hotaru itu sedang menggendong bayi. Bayi yang Shinrei bilang adalah anak Hotaru. Zakuro sendiri tidak menyangka ada perempuan yang seberani itu untuk menculik anak muda dan membuat anak muda itu menanggung beban memiliki anak di usia muda sendirian. Zakuro dan Hotaru hanya bisa bicara seadanya. Zakuro yakin, selain karena PTSD yang dideritanya…, Hotaru juga mungkin merasa bersalah padanya karena tidak menepati janji. Padahal, Zakuro tidak begitu mempermasalahkan hal itu. Ia akan dengan senang hati menanggung beban Hotaru mengurus anak itu, Zakuro lebih tua dari Hotaru, sehingga ia bisa memutuskan mana yang baik dan mana yang tidak untuk kehidupannya. Lagipula, Zakuro sudah berjanji pada ayahnya…, kalau dia akan menerima Hotaru apa adanya, karena Ayahnya saat masih hidup dulu sudah menganggap Hotaru sebagai menantunya.~…~…~…~“Kakak!! Kei-chan akhirnya bisa tengkurap sendiri!!” pekikan Hirari terdengar. Hotaru mengerjapkan matanya, ia mematikan kompor dan berjalan mendekati adiknya yang sedang menjaga anaknya. Ini bulan keempat setelah Hotaru ditemukan oleh ayah tirinya setelah disekap selama setahun. Ibu dan ayah tirinya sedang pergi dinas ke kerajaan kecil di bawah kepemimpinan kerajaan selatan, sehingga ia sebagai kakak tertua harus menjaga adiknya dan anaknya sendiri. “Perkembangan Kei di zaman ini sedikit lebih lambat daripada masa-masa aku di Bumi…, tepatnya perkembangannya sekarang seperti bayi pada umumnya.” gumam Hotaru. “Apa dulu segel yang aku tanam padanya terlalu lemah, ya?”“Kakak?” “Oh?! Maaf Hirari…, kakak melamun….” ucap Hotaru. Hirari menggeleng lalu memeluk kakaknya itu.“Kakak masih sakit? Mau Hirari keluar beliin obat buat kakak?”“Gak usah Hirari. Kakak udah sehat kok….” Hotaru mengusap kepala Hirari. Hirari tersenyum lalu teringat sesuatu. Ia berlari menuju kalender dan melingkari tanggalan hari ini. 4 November. Hotaru tertawa kecil ketika Hirari menuliskan ‘Kei bisa tengkurap sendiri’ di atas lingkaran itu. Hotaru mengusap lembut kepala anaknya itu. Anaknya langsung tersenyum dan mengeluarkan bunyi-bunyian aneh, khas bayi.“Kei pintar, ya.”“Kakak kan pintar. Kei juga pasti pintar!” ucap Hirari membanggakan diri. Hotaru tertawa.“Tapi Hirari lebih pintar kok dari kakak.”“Iih…, Hirari belum sepintar kakak!” ucap Hirari sembari memajukan bibirnya. Hotaru tertawa kecil.Suara bel pintu terdengar di dalam rumah. Hirari terlihat akan membukakan pintu, tetapi Hotaru beruntung dapat menahan Hirari dan memintanya menjaga Kei. Hirari mengangguk, ia mendekati Kei dan menggendong Kei yang baru saja kembali terlentang itu. Kei terlihat memberontak dan mulai menangis. Hotaru mengusap pipi Kei lalu kepala Hirari. Hotaru pun berjalan membukakan pintu, dengan tangan menggenggam pedang terbaiknya itu.“Halo, Hotaru.” sapa sang tamu.“..., Senpai….”“Za~ku~ro~…, bagaimana kabarmu?”“Hm…, lumayan.”“Aku dengar dari Shinrei, Yuan-san dan ibumu sedang pergi, ya? Aku akan memasak untukmu dan adikmu.”“Aah…, tidak perlu repot…, aku bisa masak sendiri.”“Lalu Kei? Dia masih belum boleh minum susu formula, kan?”“..., me, memangnya senpai bisa?”“Mou…, panggil Zakuro saja! Tentu bisa. Aku perempuan tahu!”“Maksudku…, ibuku…, dulu sempat kesulitan menyusuiku…, karena…, susunya…, sempet tidak keluar….” ucap Hotaru dengan wajah memerah. Zakuro tersenyum kecil.“Well, ada beberapa perempuan pengecualian sepertiku.”“Ah…, kalau begitu…, silahkan. Di luar mulai turun salju.”“Oh benar. Permisi….”“Oh! Kakak Ipar, selamat datang.” sapa Hirari sembari menggendong Kei. Hotaru memalingkan wajahnya, sementara Zakuro tertawa kecil.“Halo, Hirari…, halo Kei. Ceria sekali kamu….” ucap Zakuro seraya mencubit kecil pipi Kei. Kei tertawa dan menggerak-gerakan tangannya.“Kei baru bisa tengkurap sendiri tadi, kak!” ucap Hirari.“Sungguh? Kakak mau liat donk. Ayo kita masuk ke kamar.”“Senpai…, nanti…, kita bicara, ya.” ucap Hotaru. Zakuro berbalik dan tersenyum.“Tentu.”~…~…~…~“Ternyata kamu masih menyebalkan, ya.” Kekeh Zakuro lalu menepuk kepala Hotaru. Hotaru menghembuskan nafas, ia sudah biasa dibilang sebagai orang yang menyebalkan. Namun, dari orang yang dia sayangi ini…, rasanya agak…, menyebalkan. Meski baru benar-benar akrab ketika SMA dan mereka sempat tidak bertemu selama setahun, Zakuro tentu sudah hapal kebiasaan Hotaru, termasuk kebiasaan buruknya. Dan sejak kelahiran Kei, Zakuro mendapat kembali seluruh ingatannya ketika berada di bumi. “Meski gak semenyebalkan ketika di Bumi dulu.”“Kau juga mulai menyebalkan lagi, Senpai.”“Mou!! Panggil saja Zakuro! Dulu di Bumi bisa!”“Senpai ini tidak mengerti, ya?”“Iish! Aku paham! Tapi tetap aja gak usah seperti itu! Lagipula, seperti janjiku dulu, aku akan menjadi ibu bagi Kei! Jadi, kau harus bisa memanggil namaku, atau bahkan memanggilku dengan ‘sayang’..., seperti di drama-drama.” Ucap Zakuro sembari melipat tangannya, dan tersenyum sumringah menatap langit. Hotaru berwajah aneh, untuk sesaat.“Soal itu…, aku tidak ingin membebanimu….”“Sudah kubilang aku tidak terbebani!”“Dia bukan anak kandungmu…, nantinya kau pun akan merasa terbebani!”“Tidak akan! Mouuu!! Dengar Hotaru…, aku tidak peduli kau masih trauma pada perempuan atau apapun! Aku hanya ingin menjadi ibu bagi Kei, terserah sekarang kau akan menikahiku atau tidak! Tapi, aku tetap akan merawat Kei sebagaimana aku akan merawat anakku!”“Kau bahkan belum punya anak di masa lalu.”“Tapi aku sudah merawat Kei saat itu!”“Kau merawatnya sejak dia berumur satu atau dua tahun. Sekarang berbeda.”“Aku sudah bilang aku tidak peduli itu!! Mouu!! Lagi-lagi kita mendebatkan hal yang sama sebelum kejadian hari itu! Tolonglah, Hotaru! Aku tidak peduli kau membenciku sekarang, tapi aku tetap akan menjadi ibu Kei! Suka atau tidak suka!”“Keras kepala sekali.”“Kau tuh lebih keras kepala…, uuh…, kenapa dulu aku suka padamu sih?” Keluh Zakuro seraya melipat tangannya. Ia lalu melirik Hotaru yang menghembuskan nafasnya. Hembusan nafas lelah berdebat.“Aku juga…, bagaimana bisa aku tertarik padamu dulu.” Keluh Hotaru.Keduanya lalu terdiam di kamar milik Hirari itu. Saat ini, Hirari tidur di kamar Hotaru, bersama Kei. Meski sedang libur akhir pekan, bukan berarti Hirari boleh bergadang. Makanya, mereka berbicara di kamar Hirari. Hotaru sebenarnya tidak ingin berbicara di kamar tertutup berdua saja. Ingatannya saat disekap untuk pertama dan kedua kalinya bercampur aduk dalam pikirannya dan membuatnya jadi trauma akan keadaan seperti itu. Itu menurut diagnosis Naraka dan juga Akari. Namun, Hotaru kenal Zakuro, senekat apapun gadis itu di masa lalu, Zakuro tidak pernah berbuat hal-hal seperti itu padanya. Meski Hotaru sendiri merasa ia tetap harus waspada.Zakuro menghembuskan nafas melihat Hotaru yang masih tenggelam dalam pikirannya. Zakuro mengulurkan tangannya, meraih pipi dan dagu Hotaru. Zakuro tahu, orang di hadapannya ini masih trauma akan penyekapan dan tindakan pemerkosaan. Meski lelaki, Hotaru ternyata tidak sekuat dugaannya. Mentalnya sebagai samurai memang tidak perlu diragukan, tetapi sebagai seorang lelaki pada umumnya…, ternyata tidak sama. Mungkin trauma yang tidak disadari sudah terbawa olehnya sejak lahir itu jugalah yang membuat mental Hotaru sebagai seorang lelaki sangat lemah. Zakuro berpikir begitu. Zakuro mencium kening Hotaru, ia tahu sesaat tadi Hotaru sadar dari lamunannya dan mulai terlihat kembali gejala traumatisnya. Zakuro melepaskan diri dari wajah Hotaru lalu memeluknya. Ia tahu…, harusnya seorang lelaki yang melakukan ini pada seorang perempuan yang telah mengalami kejadian mengerikan, dan mereka justru melakukan kebalikannya. Namun, Zakuro tidak peduli itu.“Tidak apa…, aku…, berbeda dengan orang itu.” Bisik Zakuro lalu membenamkan wajahnya di rambut keemasan Hotaru.“Kau memang sangat berbeda, Zakuro. Bahkan dari perempuan kebanyakan.”Zakuro ingin mencengkram erat tengkuk yang sedang dipeluknya ini, tetapi ia urungkan begitu merasakan tubuh Hotaru berguncang pelan. Zakuro mengusap punggung Hotaru, meski sebagai samurai ia adalah seorang berdarah dingin, sebagai manusia biasa ia adalah orang yang sangat rapuh.~…~…~…~Yuan dan Shiraishi tertawa kecil melihat pemandangan di depan mereka saat mereka baru tiba di rumah mereka. Kepulangan mereka yang sangat cepat ternyata tidak begitu berguna. Saat sampai di pintu gerbang dan mereka terburu-buru akan mengetuk pintu, Hirari sudah membuka pintu dan menyuruh kedua orang tuanya itu untuk diam. Berbeda dengan Hotaru, Hirari tipe orang yang bangun lebih awal. Sehingga begitu terbangun dan melihat sesuatu yang langka, ia memutuskan untuk menghentikan tindakan tergesa-gesa sang ayah dan ibu saat memasuki gerbang rumah mereka. Hirari lantas membawa kedua orang tuanya melihat ke dalam kamarnya. Pintu kamar Hirari yang tidak tertutup membuat mereka bertiga dapat melihat dengan jelas pemandangan itu.“Aku merasa ketika menikah nanti, Hotaru akan diatur oleh Zakuro.” Bisik Yuan pada Shiraishi. Shiraishi tertawa kecil.“Terbalik dari kebiasaan keluarga saat ini, ya….” Bisik Shiraishi. Yuan mengangguk dan tertawa kecil.“Hirari jadi iri sama Kakak….”“Nanti kamu juga akan bertemu, Hirari…, ayo kita tinggalkan mereka.” Bisik Yuan lalu mendorong Istri dan anaknya itu ke dapur.Setelah kedua orang tua resminya dan adiknya itu menghilang, Hotaru membuka matanya dan segera memposisikan diri sedikit menjauh dari posisi awalnya saat ini. Hotaru menyelidiki dirinya sendiri, lalu menghembuskan nafas lega. “Aku tidak akan melakukan itu padamu, kok. Kamu juga kan?”“Kau sudah bangun?”“Siapa yang bisa lanjut tidur dengan bisikan yang masih terdengar keras dari kedua orang tuamu itu?” Kekeh Zakuro. Ia memperbaiki posisi dirinya. Hotaru menggaruk pipinya, memang benar…, ia juga terbangun ketika mendengar ucapan pertama Yuan saat melihat dirinya tidur di atas pangkuan Zakuro. Zakuro merenggangkan badannya yang kaku karena tidur dalam keadaan duduk.“Maaf….”“Tidak masalah.” Kekeh Zakuro. “Sewaktu kecil ibu dan ayahku juga pernah seperti ini. Yha, sebelum ibuku meninggal akibat penyakit yang dideritanya.”“Mereka sudah suami istri…, kita….”“Aku tetap ibunya Kei, ingat?”“Aaah…, baiklah terserahmu saja.” Ucap Hotaru seraya mengacak-acak rambut keemasannya. Zakuro tersenyum lalu merebut ciuman dari Hotaru. Tentu di balas dengan kekakuan dari Hotaru. Zakuro terkekeh dan mengusap kepala Hotaru. “Soal kita menikah…, aku akan tetap menunggumu lulus.”“Jadi kau melamarku?”“..., aku harus menemui ayahmu kalau ingin melamarmu. Bicara soal ayah…, tidak apa kamu bermalam di sini?”“..., oh, ya…, kamu belum tahu berarti.” ucap Zakuro lalu menarik nafasnya. Hotaru mengerjapkan matanya. “Ayahku meninggal kemarin malam tahun lalu.”“Eh?”“Itu sebabnya juga aku menemuimu. Aku sedang tidak ingin berada di tempat ayah menghembuskan nafas terakhirnya dengan tragis…, dan tanpa dirimu.” Zakuro menahan aliran matanya. Hotaru tanpa sadar mengulurkan tangannya dan memeluk Zakuro. Zakuro balas memeluk Hotaru, ia menangis tersedu-sedu. Hotaru tersadar akan tindakannya, tapi ia membiarkan tubuhnya bergerak sendiri. Hotaru memeluk Zakuro lebih erat lalu mencium puncak kepalanya.“Maaf…, aku tidak ada saat kau kehilangan ayahmu.”Zakuro menggeleng, ia mendorong Hotaru sedikit lalu memaksakan senyum. “Sekarang kau ada di sini, kan?”Hotaru mengangguk kecil. Lalu suara tangisan bayi menghentikan semua kegiatan di rumah itu.~…~…~…~Hotaru mendudukkan Kei di pangkuannya, kereta saat itu penuh sesak dan kehadiran Kei saat itu sangat berguna bagi Hotaru. Kei bergerak dengan semangat memukul-mukul benda terdekatnya, membuat Hotaru harus ekstra keras menghentikan anaknya yang sangat bersemangat itu. Kereta akhirnya bergerak melaju menuju kerajaan Pusat. Hotaru melirik pengawalnya, yang berdiri di depannya, mengawasi tindakan mencurigakan semua orang di sampingnya. Hotaru sekarang paham dengan perasaan ibu tirinya ketika kunjungan sekolah mereka yang pertama. Kei bergerak dan terus bergumam, menunjuk benda-benda yang baru pertama kali ia lihat. Gumaman tidak jelas khas bayi itu terdengar ceria. Hotaru menggaruk pipinya. ‘Rasanya seperti memiliki Hirari kedua.’ batin Hotaru. ‘Bukannya seperti memiliki Kei yang ketiga? Dulu Kei juga seaktif ini kan?’ Kekeh Naraka. Hotaru memejamkan matanya.
‘Iya sih.’
“Aaahhh!!” Kei menepuk-nepuk pipi ayahnya, Hotaru langsung membuka matanya. Wajah Kei terlihat seperti mau menangis. Hotaru mengerjapkan matanya. ‘Apa dia sudah ingat soal kematianmu?!’ tanya Naraka. Hotaru mengerlingkan matanya.
‘Mustahil. Tenro-san sendiri yang bilang, selain anggota mibu sesungguhnya dan boneka perang pertama klan mibu aka red cross knight, tidak akan ada dari kita…, yang ingat masa lalu kita sejak lahir. Oh ya, pengecualian juga roh pedang.’
‘Memang sih…, tapi rasanya aneh kalau melihat hal tadi sebagai kebetulan.’ Ucap Naraka. Hotaru menghembuskan nafasnya lalu memelul erat Kei dan mencium pipinya. Kei menepuk-nepuk kembali pipi Hotaru. Hotaru tertawa kecil lalu mengusap pipi anaknya itu.“Yoko….” Panggil Hotaru pada salah satu pengawal pribadinya. Pemuda yang dipanggil mendekati tempat duduk Hotaru. “Biarkan mereka berbaur denganku, yang penting mereka tidak mencelakakanku kan?”“Uh, baik pangeran.”“Dan satu lagi…, sesampainya di Kerajaan Pusat jangan ada yang memperlakukanku sebagai pangeran. Kalian boleh menjagaku, tapi…, tolong jaga jarak. Selain masyarakat Kerajaan Selatan, tidak ada yang tahu aku pangeran kan? Oh, ya…, kalau kalian merasa aku dalam bahaya…, kalian harus memberitahuku…, tapi, tidak boleh bergerak sampai aku memberi tanda kalau kalian boleh bergerak.”“Benar, Tuanku. Baik. Kami akan menjaga jarak dengan anda nanti.”“Baguslah.” ‘Kenapa kamu tidak mau memberi tahu kalau kau pangeran kedua kerajaan selatan, Tuanku? ’ Tanya Naraka. Hotaru memejamkan matanya lagi.
‘Aku tidak mau kali ini Zakuro menyukaiku karena aku pangeran kerajaan. Dulu, salah satu alasan dia menyukaiku selain kehadiran Kei adalah….’
‘Kau adik dari pimpinan klan mibu saat itu? Benar, Kan?'
‘Tepat. Aduh!’ Hotaru membuka matanya kembali. Kei masih mencubit hidungnya, wajahnya tertawa-tawa senang. Kei melepas cubitannya dan bergerak seolah menepuk tangan, yang tentu tak bisa dilakukannya dengan satu-satunya tangan yang dimilikinya itu. Hotaru tersenyum lalu mencium gemas anaknya itu.“Nanti di pesta jangan berisik, ya.” ucap Hotaru. Kei terlihat menggeleng dan mengeluarkan suara-suara khasnya. Hotaru menghela nafas pasrah. ‘Pesta pelantikan Kyo menjadi Raja Pusat sepertinya akan sangat heboh. Dengan teriakan Kei.’ tawa Naraka.
‘Ck…, mau gimana lagi? Semua keluargaku kan datang semua ke pelantikan.’
‘Kenapa tidak titip kekasihmu itu?’ Hotaru menghembuskan nafas lagi.
‘Kalau begitu aku harus ke kerajaan utara dulu…, banyak waktu terbuang. Apalagi aku masih buta arah. Meski kau memberitahuku.’
‘Benar juga.’
~…~…~…~Zakuro menggaruk kepalanya, ragu dengan ajakan orang di rumahnya itu. Meski begitu, Zakuro memang merasa tidak ada salahnya ia melihat pelantikan itu. Saisei dan Saishi bahkan sudah membelikan sebuah pakaian untuknya. Kedua kembar itu tersenyum dan mendorong Zakuro ke kamar untuk mengenakan pakaian itu. Zakuro akhirnya hanya bisa pasrah dan berganti pakaian.“Jadi, senpai ikut gak?” tanya Shinrei, pakaian kerajaan berwarna dominan merah itu entah kenapa kurang begitu cocok di tubuhnya. Saishi mengulum senyumnya.“Ikut sih. Senpai lagi ganti baju. Kamu sendiri, mending ganti juga deh. Setidaknya kau pakai celana kerajaan yang warna biru atau hitam, kek. Kakak iparku gak modis sekali sih.” keluh Saishi.“Si, siapa yang kakak ipar? Uh…, aku ganti sebentar.” ucap Shinrei lalu pergi. Saisei melipat tangannya.“Dan kakak…, jangan lupa pakai topinya.”“Iya, iya….” Saisei tertawa kecil melihat semangat Saishi saat ini. Saisei sampai berpikir, seandainya Saishi di masa lalu memiliki sifat seperti ini…, mungkin Saisei akan diperlakukan dengan lebih baik ketimbang dulu. Saisei sangat bersyukur, Saishi tidak mengingat masa lalunya sama sekali. Saisei terkekeh geli, melihat wajah kebingungan Saishi. Ia mengusap kepala Saishi. “Semoga kau bertemu jodohmu di pesta ini.”“Pasti!” ucap Saishi seraya membanggakan dirinya. Hanya sifat pemilih ini saja yang masih melekat dalam diri Saishi. Saisei sebenarnya sedikit ragu ucapannya tadi akan berlaku saat ini.“Ano….” Saisei dan Saishi berbalik, mereka langsung terpana melihatnya. “Aneh, ya?”“CANTIKNYA SENPAI!!” teriak Saishi dan Saisei bersamaan.“Eh? Ah…, enggak seperti itu kok…, lagipula…, ini merepotkan.” Zakuro mengangkat sedikit gaun roknya.“Senpai hanya belum terbiasa pasti…, untung Senpai sudah ada Hotaru…, bisa-bisa pria tampan dan tajir itu lari pada Senpai semua.” Saishi memajukan bibirnya. Zakuro dan Saisei tertawa.“Hidupmu masih panjang Saishi…, nanti juga pasti ketemu, kok. Kau kan putri kerajaan juga, pasti adalah pangeran yang mau denganmu.” ucap Zakuro. Saishi merona kecil dan mengangguk sembari tersenyum. “Ngomong-ngomong…, ini gimana cara jalannya?”Saishi nyaris terjungkal.“Aduh…, seharusnya kita ajak senpai dari kemarin-kemarin agar bisa latihan….” ucap Saisei seraya memijit keningnya. Zakuro menggaruk rambut belakangnya lalu terkekeh.“Gaunnya panjang sekali sih.” tawa Zakuro canggung.~…~…~…~Kei menangis kencang tepat di tengah-tengah upacara pelantikan. Hotaru yang panik segera keluar dari tempat pelantikan. Sesampainya di luar Hotaru menghembuskan nafasnya sedikit kesal lalu mencari penyebab anaknya itu menangis. Hotaru mencari tempat duduk, ia mengeluarkan botol susu dari tas besarnya lalu meminumkannya pada Kei. Kei terlihat ceria ketika mendapat apa yang ia mau. Hotaru menghela nafas lagi.“Kyo pasti marah besar padaku.” ‘Gak bisa dipungkiri, kemungkinan itu ada.’ Hotaru menghela nafasnya mendengar ucapan Naraka. Ia melirik Kei yang terlihat tak bersalah atas perbuatannya yang mungkin akan membuat orang yang dihormatinya itu marah.“Benar-benar deh…, untung bukan masalah besar.” ucap seseorang. Hotaru melirik ke arah lain. Zakuro terlihat kesulitan untuk berjalan dengan gaun panjang itu, tapi akhirnya ia berhasil duduk di samping kiri Hotaru.“Kenapa kau ada di sini?”“Well, Saisei dan Saishi mengajakku. Shinrei bahkan memaksaku datang. Padahal aku bukan orang kerajaan, dan bukan penduduk kerajaan Pusat.” ucap Zakuro sembari memalingkan wajahnya. Hotaru menghela nafas, Kei terlihat semakin senang melihat kedatangan Zakuro. Ia menggerak-gerakan tangannya ke atas kepala, ke arah Zakuro duduk.
‘Untung kau tidak jadi memintanya menjaga Kei.’
‘Yha…, kau benar, Naraka.’
“Tapi aku juga agak kaget, kamu ikut ke pelantikan ini.”“Well, meski aku bukan anggota kerajaan yang sesungguhnya, tapi aku kan keluarga kepercayaan kerajaan selatan yang bahkan bisa menyandang nama keluarga kerajaan selatan. Jadi, raja mengatakan penting bagiku untuk ikut. Apalagi…, Kyo secara khusus mengundangku.” jelas Hotaru sembari memperlihatkan amplop perak.“Oh, iya…, kamu juga berteman dengan pewa…, eh, raja kerajaan pusat saat ini, ya.”“Benar. Lagipula, pergantian raja pusat bisa berdampak dengan pemilihan raja-raja selanjutnya dari 4 kerajaan utama lainnya. Yuan bilang aku perlu tahu agar saat meneruskan jejaknya nanti, aku gak perlu kebingungan.” Jelas Hotaru semasuk akal mungkin.Kenyataannya, pelantikan raja pusat tidak hanya untuk melantik raja, tetapi juga untuk memilih 4 raja besar yang akan membantunya. Yha, semacam penentuan pewaris utama gitu. Makanya saat Shodai yang awalnya memilih nenek Houou sebagai ratu selatan mendadak hilang, Shodai dengan berat hati harus mencari pengganti neneknya itu. Dan akhirnya Rallie, adik kembar Houou yang mendapatkan posisi kakaknya itu. Beruntung juga Rallie sangat dekat dengan Houou, dan meski tidak setegas Houou, Rallie juga memiliki kemampuan memimpin yang baik. Bahkan Shodai juga yang melantik Kakek Shinrei menjadi raja selatan saat Ratu Rallie meninggal karena sakit. Hotaru yang saat itu diceritakan oleh kakek tirinya itu sempat bertanya bagaimana bisa Shodai hidup selama itu. Ia memang sempat berpikir kalau Shodai bisa hidup panjang karena ia adalah anggota klan mibu pertama yang sesungguhnya, tapi ternyata jawaban kakeknya itu membuatnya harus berpikir ulang. ‘Hotaru…, kenapa kamu bertanya hal aneh? Bukannya kamu tahu kalau kita semua berumur sangat panjang? Selain karena dibunuh atau sakit keras, umur kita bisa mencapai 1000 tahun lebih sayang. Bahkan rekor saat ini adalah usia 1331 tahun, yang kalau tidak salah di pegang oleh raja pertama kerajaan selatan, Suzaku-sama.’ Jelas kakek tirinya saat itu. “Hotaru?” Panggilan Zakuro mengembalikan Hotaru ke kenyataan. Zakuro menunjuk ke arah depan dengan takut-takut. Hotaru mengangkat kepalanya dan melihat Kyo melipat tangannya dengan wajah seriusnya.“Kau! Urus anak kecil itu, aku ada urusan dengan orang ini.” Ucap Kyo seraya menunjuk Zakuro. Hotaru menghela nafas.“Maaf, senpai. Aku titip Kei sebentar padamu, ya.” Ucap Hotaru.“Lama juga tidak apa, kok.” Ucap Zakuro lalu mendudukkan Kei di pangkuannya. Kei mau menangis karena minumnya dicabut saat ia mulai didudukkan dan akhirnya direbahkan perlahan seperti itu. Zakuro menerima botol susu Kei lalu meminumkannya pada Kei. Kei bergerak kecil menyamankan posisinya di pelukan Zakuro. Zakuro mengerjapkan matanya melihat Hotaru yang tidak bergerak pergi, ia lalu memandang Hotaru yang terlihat sangat khawatir. “Aku tidak akan menculiknya, kok.”“Bukan itu….”Kyo menepuk tangannya dan semua pengawal Hotaru, bahkan Yoko datang mendekat. Hotaru sebenarnya agak tidak setuju, ketika semua pengawalnya malah datang. Kyo menunjuk beberapa orang. “Kalian berjaga di sini. Yang lainnya ikut aku.”Pengawal-pengawal itu menunduk hormat pada Kyo. Kyo menarik Hotaru pergi menjauh. Setelah kembali memasuki ruangan, Kyo akhirnya angkat bicara lagi. “Tenang saja…, mereka sudah aku suruh berakting layaknya pengawalku. Kepadanya kan kamu gak mau ketahuan?”“..., yha…, dia memang yang paling utama. Tapi, seluruh masyarakatmu, sebisa mungkin juga tidak tahu.” ucap Hotaru setengah tersenyum. Kyo melepas tangan Hotaru yang digenggamnya, ia berbalik lalu menyentil kening Hotaru.“Mana bisa aku biarkan begitu.” ucap Kyo. Hotaru menahan rasa sakit di keningnya. Kyo tertawa terbahak-bahak melihat wajah jengkel Hotaru yang sama seperti dahulu. Kyo akhirnya menarik lagi tangan Hotaru menuju suatu tempat.“OH! Yang mulia sudah kembali…, jadi….”“Semuanya! Inilah raja selanjutnya dari Kerajaan Selatan!” Ucap Kyo lalu mendorong Hotaru. Hotaru bersalto kecil, menjaga keseimbangannya untuk berdiri. Hotaru menepuk-nepuk bajunya lalu memandang ke arah depan. Hotaru membulatkan matanya terkejut melihat apa yang ada di depannya.“Yo…, ternyata benar kau yang akan jadi raja selatan.” Ucap Bontenmaru yang mendekat ke arah Hotaru, begitu juga Akari dan Akira. Mendadak ruangan pelantikan dipenuhi bisikan.“Bukannya pewaris kerajaan selatan saat ini tunggal? Siapa orang itu berani mengambil posisi pewaris tunggal?”“Aku dengar dia cucu penasihat kerajaan.”“Dia pasti menyogok raja pusat agar menjadikannya raja.”“Huh, pasti begitu. Mana mungkin anak seperti itu bisa mengalahkan pewaris selatan?”Hotaru menghela nafas lalu melirik Kyo yang terlihat kesal dengan bisikan orang-orang disana yang semakin terdengar. Tepukan dari Raja Selatan saat ini mendadak membuat semua orang di sana tenang. Hotaru berbalik melihat kakek tirinya yang juga terlihat marah di balik kursi empat raja saat itu.“Jangan menjelek-jelekkan cicit ratu selatan yang sebenarnya!” bentak raja selatan. Hotaru menghela nafas.“Kan belum pasti….” ucap Hotaru lalu mendekati kakek tirinya itu.“Enggak, enggak. Kakek sudah pasti kok. Kakek sudah memastikannya kok.” ucapnya lalu mengusap kepala Hotaru.“..., bagaimana….”“Shodai-sama punya sampel rambut nenek Houou, serta raja lainnya saat itu, dan ibumu sudah kerja sama dalam menguji hal itu. Makanya di kerajaan selatan poster pencarianmu saat itu adalah pangeran kedua kan?” Jelas raja selatan sembari melirik Tenro yang tersenyum angkuh. Hotaru yang melihatnya langsung cemberut. Raja selatan tertawa kecil. “Tenang…, Shinrei pasti akan membantumu menjadi penasihat kok. Sejak kecil aku memang merasakan bakatnya itu.” Ucap raja selatan dengan wajah bangga. “Kyo….”“Kau tidak ada hubungan apapun dengan ratu siapalah itu aku tetap akan memilihmu jadi raja selatan. Shinrei memang bagus, tapi dia bukan anak buah resmiku. Jadi kesetiaannya padaku belum bisa terbukti!” Ucap Kyo lalu tertawa puas. Shinrei yang duduk di kursi terdepan terlihat kesal. Hotaru menghela nafas lalu mengangguk, menyetujui ia akan menjadi raja selatan. Bonten, Akira, dan Akari langsung berbinar. Mereka bertiga langsung menarik Hotaru duduk di kursi yang memang disediakan untuk calon raja pilihan raja baru kerajaan pusat. “Kalian ini….” Hotaru menghela nafas lalu berdiri. “Aku boleh pergi sekarang?”“Tunggu sebentar lagi.” Ucap Shodai. Hotaru menghela nafas, terlihat gelisah. “Mereka akan baik-baik saja. Upacaranya akan memakan waktu 5 menit saja.”~…~…~…~“Maaf sudah merepotkanmu.” Ucap Hotaru akhirnya. Ia mengatur nafasnya lalu menggaruk kepala belakangnya canggung. Zakuro mengangkat kepalanya dan tersenyum. Kei ikut memandang wajah ayahnya lalu bergerak ke arah ayahnya.“Dimarahi?”“Yha, begitulah. Tapi, ini memang salahku.”“Jangan begitu, donk! Ini bukan salahmu ataupun salah Kei.”“Ah…, kalian boleh kembali.” Ucap Hotaru pada para pengawalnya. Mereka semua mengangguk lalu kembali ke posisi jaga mereka masing-masing. “Tapi Kyo bilang ini salahku. Termasuk…, kau jadi ikut menemaniku.” Zakuro menaikan sedikit sudut bibirnya.“aku senang menemanimu, kok. Sebenarnya aku penasaran siapa calon raja terpilih selanjutnya. Tapi, melihat raja pusat sudah keluar tadi…, pasti tidak ketahuan siapa…, aku hanya tahu kerajaan Utara tadi Tokichiro-senpai yang akan jadi rajanya. Tapi kerajaan lainnya aku udah gak dengar.” Ujar Zakuro. Hotaru duduk di samping Zakuro.“Harusnya…, mereka yang terpilih semua teman dekat Kyo.” ucap Hotaru. Zakuro memandangnya. Hotaru melanjutkan ucapannya. “Pangeran teman dekatnya. Akari, Bontenmaru, Akira dan Shinrei. Shinrei sih karena dia calon tunggal kerajaan selatan.”“Wah…, kalau kamu pangeran, kamu pasti yang dipilih.” Ucap Zakuro memandang Hotaru dengan intens.Meski tidak sehebat zaman dulu, Hotaru bersyukur ia masih bisa melakukan wajah pokernya di zaman ini. “Mungkin juga, ya.”“Ih, pasti itu. Jangan rendah diri gitu ah!”“Iya, iya. Sini, biar aku gendong lagi.”“Ah…, sebentar lagi saja, ya?” Zakuro tersenyum lalu bermain-main kecil dengan Kei yang masih terlihat bersemangat. Hotaru menghela nafasnya lalu tersenyum.“Baiklah, terserahmu saja.”~…~…~…~“Ibu ingin sih tinggal di istana…, tapi, ibu sebenarnya gak mau merepotkanmu.” Ucap Shiraishi malam sehari setelah pelantikan raja pusat. Yuan menghembuskan nafasnya.“Kalau ibumu gak ikut, aku juga gak ikut.” Ucap Yuan.“Hirari ngikut ibu saja….” Timpal Hirari. Hotaru menghela nafasnya.“Enggak merepotkan, kok. Ibu malah akan sangat membantu karena bisa merawat Keikoku.” Bujuk Hotaru. Shiraishi terlihat menimbang-nimbang keputusannya. “Ibu bisa menjawabnya lain kali.”“Ibu maunya tinggal di samping istana saja. Lagipula, kamu masih tidak mau nak Zakuro tahu kamu raja selatan kan?”“..., yha itu….”“Atau buat apartemen? Biar aku dan Shirai bisa mengelolanya. Setelah kau resmi dilantik nanti, aku kan pensiun. Aku tetap butuh uang untuk menghidupi Hirari yang belum lulus ini. Kan gak mungkin aku yang sudah pensiun masih menggunakan uang dari pajak masyarakat.”“..., Yun-yun yakin? Enggak buat dojo saja? Atau pusat kebugaran gitu?”“Kalau soal itu, nanti ibumu gak bisa bekerja bersamaku donk. Ayahmu ini maunya kerja sama ibumu di masa tuanya ini.”“Jangan mengada-ada…, masih muda ngerasa tua. Umurmu juga baru 34 tahun.”“5 bulan lagi 35 kok.”“Itu tetap masih muda.”“Iya deh iya…, oh, ya…, bicara soal diriku…, siapa tangan kananmu nanti?”“Tangan kanan?”“Tangan kanan kerajaan, tentu saja. Anak dari Anna baru seumur Hirari…, eh malah lebih muda ya…, paling kamu cuma bisa milih anak-anak Kak Anri. Untungnya anak kak Anri ada 12 orang.”“Kalau dari orang lain boleh?”“Well…, gimana, ya…, boleh sih…, cuma….” Yuan menopang dagunya, dan mencoba mengingat-ingat sesuatu.“Toh, aku berasal dari keluarga tangan kanan dan mendadak dipaksa jadi raja.”“Habisnya raja…, maksudku, paman, bilang Shin-chan kurang cocok kalau harus jadi raja. Shin-chan lebih paham politik dan strategi lainnya mirip kerja penasihat.” ucap Shiraishi sembari menggaruk pipinya. Sejak tahu kalau raja selatan adalah anak dari adik neneknya, Shiraishi harus mulai memanggil raja selatan dengan pamannya. Shiraishi juga harus membiasakan diri untuk memanggil Sachika dengan panggilan kakak. Hotaru menggaruk pipinya, ia sendiri pun memang harus membiasakan dirinya untuk memanggil raja selatan itu dengan panggilan kakek.“Iya sih…, makanya kemarin banyak banget yang…, merendahkanmu.”“Biarin saja. Toh, mereka tetap tidak bisa menentang keinginan Kyo.”“Yha…, benar sih.”
----- CHAPTER BREAK -----
Zakuro tertawa kecil dan menekan bel yang ada di depan pintu rumah. Sejak pelantikan, hari perkuliahan dan sekolah memasuki saat libur musim dingin. Zakuro sebenarnya tidak enak untuk melakukan hal ini, tapi ia juga tidak ingin tinggal sendirian di rumah itu. Apalagi Shinrei pulang untuk pelatihan lanjutan sebagai raja, Saishi dan Saisei juga ingin berlibur di kerajaan asalnya. Zakuro tersenyum lebar sembari memejamkan matanya ketika pintu terbuka lebar. Suara ocehan bayi terdengar di telinganya.“Ah, nak Zakuro…, masuklah. Shin-chan sudah bilang tadi.” Zakuro membuka matanya dan memandang perempuan muda yang sedang menggendong anak bayi.“Ah, Bibi Shiraishi…, maaf merepotkan.” Ucap Zakuro yang langsung buru-buru memperbaiki posisinya. Shiraishi tertawa kecil.“Tidak apa nak Zakuro. Ayo masuk dulu….” Ucap Shiraishi. Zakuro dengan malu-malu membawa masuk tas besar yang berisi bajunya ke dalam rumah itu.“Ano….”“Mencari Hotaru, kan?” Shiraishi tersenyum manis. Zakuro menggaruk pipinya, sedikit malu mengakuinya. “Hotaru sedang ikut pelatihan sebagai tangan kanannya Shinrei. Selain mengatakan kau akan menginap di sini selama musim dingin, Shinrei juga mengajak Hotaru untuk pelatihan.”“Be, begitu ya….”“Tenang saja nak Zakuro. Pelatihannya gak akan lama kok. Siang nanti Hotaru bakal pulang juga karena gak tahan meninggalkan Keikoku di rumah.”“Keikoku?”“kyaa….” Bayi dalam gendongan Shiraishi bergerak aktif, seperti senang dengan respon kebingungan Zakuro. Shiraishi berusaha menahan bayi itu agar tidak jatuh.“Aduh, jangan bergerak seperti itu…, nanti Kei jatuh…, Keikoku itu nama anak ini. Hotaru tidak memberitahumu? Nama anak ini Nakayama Keikoku. Tapi, memang lebih senang dipanggil Kei aja sama Hotaru.”“Begitu, rupanya.” Zakuro meletakan tasnya di atas meja kecil yang ada di dalam kamar yang menjadi kamar tamu. Shiraishi duduk di ranjang yang sudah dirapikan itu dan meminta Zakuro duduk di sampingnya. Zakuro duduk di sampingnya.“Aku sangat suka nama Keikoku yang waktu itu mau diberikan suamiku untuk Hotaru. Tapi, karena aku sudah memberi nama Hotaru pada anak itu, akhirnya nama Keikoku disimpan untuk adiknya. Yha…, lagi-lagi Hotaru mau menamai adiknya dengan Hirari. Saat Hirari lahir aku ternyata tidak bisa punya anak lagi. Jadinya…, aku bisa dikatakan ingin melupakan nama itu. Tapi, sekarang aku senang nama itu akhirnya dipakai sebagai nama cucuku.” cerita Shiraishi. Bayi itu kembali bergerak aktif di pangkuan Shiraishi.“Hotaru pasti sayang banget dengan Bibi, makanya Hotaru saat itu pasti ingat keinginan bibi.”“Dia memang anak yang seperti itu. Akhir-akhir ini Hotaru jadi jarang senyum dan wajahnya terlihat tidak berekspresi. Meski suamiku sudah bilang itu pasti karena trauma dan suatu saat dia akan kembali tersenyum senang…, tetap saja membuatku sedikit sedih.”“Bibi….” Zakuro mengelus punggung Shiraishi yang terlihat ingin menangis. Shiraishi langsung menyeka air mata yang masih menumpuk di pelupuk matanya. Bayi di pelukannya bahkan menangis, merespon perasaan Shiraishi yang sedih. Shiraishi mencoba menenangkan cucunya itu. Zakuro ikut membantunya menenangkan bayi itu.“Ibu…, kenapa Kei-chan nangis?!” seorang anak lelaki yang usianya mungkin baru akan memasuki usia SMP muncul di depan pintu. Zakuro tahu pasti anak lelaki itu adalah adik Hotaru, Hirari. Hirari mendekati bayi mungil di pelukan ibunya lalu menggerakan maracas yang dibawanya. “Hayo, hayooo.., Kei-chan. Liat apa yang kakak punya.”“..., harusnya paman kan?” bisik Zakuro. Shiraishi tertawa kecil lalu mengusap kepala Zakuro.“Biarkan saja. Hirari masih terlalu kecil untuk menjadi paman, kan?”“Ibu…, biar Hirari yang jaga Kei-chan. Kalau ibu mau bicara sama kakak ipar.” ucap Hirari lalu menggendong bayi itu ke pelukannya. Bayi itu tertawa riang di pelukan paman kecilnya itu. Hirari lalu mengajak bayi itu keluar dari kamar itu. Shiraishi tertawa kecil dan mengusap kepala Zakuro yang terlihat khawatir.~…~…~…~“Apa ruangannya sudah nyaman?” tanya Hotaru di pintu masuk kamar tamu. Zakuro yang baru keluar dari kamar mandi di dalam kamar itu mengerjapkan matanya dan mengusap rambutnya dengan handuk.“Well, nyaman, kok. Kamar ini sudah seperti sebuah apartemen kecil. Memanjakan tamu sekali.” Ucap Zakuro.“Soalnya yang sering menginap disini itu ayah dan ibu Shinrei. Ayah kandung dan ibu tiriku. Makanya pelayanannya jelas pelayanan kelas satu.” Jelas Hotaru.“Hoo…, pantas.” Zakuro duduk di kursi depan meja rias. “Masuklah Hotaru, pemanasnya bisa terbuang percuma.”“Gak jadi. Kamu belum berpakaian.” Ucap Hotaru lalu menutup pintu kamar Zakuro. Zakuro tertawa kecil, ia memang hanya mengenakan selembar handuk di tubuhnya dan selembar lagi untuk rambutnya. Ia sebenarnya agak kaget melihat Hotaru di depan pintu. Setelah ingat semua masa lalunya, Zakuro sendiri merasa ia memiliki sedikit trauma. Trauma pada pemerkosaan. Yha, selain Hotaru, dia di masa lalu juga korban pemerkosaan. Namun, entah kenapa ia merasa biasa saja jika Hotaru yang melihatnya. Zakuro terkekeh lalu segera mengenakan pakaiannya.~…~…~…~Keesokan harinya, Zakuro akhirnya bisa merasakan keseharian sebuah keluarga yang utuh. Setelah sekian lama ibunya meninggal, ia tidak pernah merasakan hal seperti ini. Zakuro dapat melihat seorang ibu yang menyiapkan makanan, seorang ayah yang membaca koran sembari berterima kasih atas makanan yang diberikan, anak-anak yang bermain di atas meja menunggu makanan disajikan padanya.“Hotaru belum bangun lagi, ya?” Tanya Shiraishi seraya menempelkan sebagian tangannya di pipi, mulutnya sedikit menekuk. Yuan tertawa kecil menanggapi itu.“Biarkan saja. Aku rasa dia tidur larut karena menemani Kei yang gak bisa tidur.” Ucap Yuan. Yuan menguap kecil lalu melipat korannya.“Kau juga kurang tidur, Yuan. Hari ini tugasmu penting? Kalau tidak minta izin saja.”“Justru karena penting, aku bangun sepagi ini sayangku. Well, aku kurang tidur karena aku pun tidak bisa tidur. Makanya kemarin aku ikut menemani anak itu. Itadakimasu.”“Eits!” Shiraishi memukul kepala Yuan. “Sebelum semua kumpul gak ada yang boleh makan! Hirari, panggil kakakmu, ya.”“Aduh…, baik-baik, sayangku.”“Siap ibu!”Zakuro tertawa kecil melihat tingkah suami istri yang mirip dengan kehidupan suami istri dari drama di televisi itu. Usia mereka yang terbilang masih sangat muda mungkin yang menyebabkan hal itu. Zakuro melihat Hirari datang mendorong sang kakak yang terlihat sangat berantakan, Hirari bahkan yang menggendong anak dari sang kakak yang masih tertidur itu. Hotaru mengacak-acak rambutnya lalu duduk di depan meja makan.“Aku salut sama ibu.” Ucap Hotaru tiba-tiba. Shiraishi memiringkan kepalanya bingung. “Saat Hirari seumur Kei…, Ibu bisa tidur 3 jam dan tetap terlihat aktif di pagi hari.”“Siang Harinya kan ibu bisa ikut tidur saat Hirari tidur.” Tawa Shiraishi, ia mengusap kepala Hotaru. “Makanlah biar tenagamu balik lagi. Nanti siang kamu akan berlatih bersama Shin-chan lagi kan?”“Iya bu.” Shiraishi meletakan mangkuk makanan di depan meja Hotaru. Hirari mendorong sedikit kereta bayi berisi Kei ke dekat meja makan, lalu duduk di kursi. Shiraishi ikut duduk.“Nak Zakuro juga ayo makan.”“Ba, baik. Itadakimasu.”“Itadakimasu.”~…~…~…~Zakuro membantu Shiraishi mencuci pakaian di halaman rumah. Meski sudah ada mesin cuci, ternyata ada beberapa pakaian yang masih harus dicuci dengan tangan saja. Tentu salah satunya adalah pakaian-pakaian bayi milik Kei. Bicara soal Kei, Hirari dan Kei terlihat bermain di teras dengan alas karpet bulu halus. Kei sudah bisa merangkak, meski dengan kecacatannya gerakan merangkak itu justru terlihat seperti gerakan menyeret dirinya. Hirari sesekali melihat ke arah televisi yang ada di dalam ruangan di samping teras, menonton acara kesukaannya.“Bibi, kenapa Kei tidak boleh melihat televisi? Kasihan Hirari yang begitu terus.” Ucap Zakuro seraya memperhatikan Hirari.“Ibunya Yuan bilang, gerakan cepat televisi mengganggu perkembangan motorik anak bayi. Aku gak ngerti apa yang dimaksud perkembangan motorik, tapi karena bahaya dari Hotaru lahir sampai Keikoku lahir sebelum umur 3 tahun tidak aku bolehin nonton televisi.” Jelas Shiraishi. Zakuro mendadak paham maksud ibu Yuan mengatakan itu pada Shiraishi, dan tentu paham akan bahaya televisi. Zakuro memang pernah membaca buku panduan menjadi orang tua selain karena untuk tugas kuliahnya, ia juga ingin jadi ibu yang baik bagi Kei seperti sosok ibu yang ada di depannya ini, dan ia ingat buku itu menjelaskan seberapa besar bahaya televisi bagi bayi. Zakuro menggaruk pelipisnya, merutuki dirinya yang bisa-bisanya lupa. Selain itu, Zakuro juga baru ingat, Yuan sensei pernah bercerita ke guru lain soal istrinya yang tidak pernah sekolah dan meminta guru lain untuk memberinya sedikit pengajaran singkat tentang hal penting, seperti baca tulis.“Oh, ya. Ponsel juga bahaya bagi bayi, dan anak-anak. Hotaru dan Hirari memang sudah punya ponsel sendiri sejak mereka kelas satu SD. Tapi, aku melarang keras mereka menggunakannya di rumah tanpa seizinku. Meski aku gak banyak mengerti soal ponsel, aku harus bisa menahan mereka dan membuat mereka bermain layaknya anak-anak biasa.”“Ah…, begitu rupanya.” Ia sekarang mengerti kenapa Hotaru termasuk agak jarang menggunakan ponselnya meski ia sangat paham dengan teknologi itu.“Nakayama!! Kami Main Di Rumahmu Boleh, Ya?” Teriak beberapa anak tetangga. Zakuro melihat ke dinding pembatas antara jalanan dan halaman rumah. Shiraishi tertawa kecil dan mengangguk. Hirari mematikan televisi, lalu menggendong Kei dan membuka pintu gerbang.“Ayo masuk, Tenka, Sasaki. Aku juga sedang main dengan Kei-chan di halaman. Dan kalian panggil aku Hirari aja kalau di rumah donk.” ucap Hirari.“Adik Hirari manis banget syihh…, emesh!” ucap salah satu teman Hirari itu. Mereka lalu masuk dan kembali ke teras. Kei terlihat senang dengan kehadiran teman-teman paman kecilnya itu.“Mereka kok masih ada yang memanggil dengan nama keluarga?” Tanya Zakuro. “Soalnya keluarga Kumou dan Sasaki baru akan memberi nama kecil bagi anak tunggalnya kalau sudah berumur 15 tahun, kalau punya adik saat adiknya lahir itulah dia memiliki nama kecil. Seperti Tenka. Bisa dikatakan anak itu belum punya nama. Tradisi mereka masih sangat kental, Yuan bilang keluarga mereka dulu termasuk keluarga yang paling sulit diajak bergabung dalam ali…, siasi? kerajaan selatan, yha pokoknya itu.” jelas Shiraishi. Ia menggaruk pipinya.“Aku paham, kok bibi. Aliansi keluarga kerajaan itu maksudnya gabungan-gabungan kerajaan yang menjadi satu kerajaan besar.”“Ohh iya, itu maksudnya.” ucap Shiraishi lalu bersenandung. Ia pun membawa masuk cucian yang akan dikeringkan untuk dijemur di dalam ruangan khusus. Saat ini masih musim dingin, meski cuaca sedang cerah tetap tidak menutup kemungkinan adanya perubahan cuaca tiba-tiba.“Hyaaa!!”“Ibu!! Pesawat itu terlihat mau jatuh di dekat sini.” teriak Hirari. Anak-anak lain juga terlihat takut sembari berteriak memegang ponsel. Zakuro dan Shiraishi terkejut lalu memandang sebuah pesawat yang cukup besar yang posisinya sangat rendah. Posisinya cukup jauh, tapi tetap saja ada ke khawatiran bagi mereka.“Ayo segera mengungsi! Tenka dan Sasaki pegangan dengan nak Zakuro, ya. Hirari biar ibu yang gendong Kei, kamu pegang tangan ibu!” Lalu mereka berlari menuju gerbang, Shiraishi berhenti di depan pintu rumah sejenak dan mematikan panel listrik di rumah itu. Mereka lalu berlari menjauh dari arah pesawat yang sudah semakin mendekati tanah. Beberapa warga di sekitar rumah mereka juga berlarian keluar.“Nakamura-san!” Teriak dua wanita di belakang mereka.“Ibu!” Teriak kedua anak yang menggenggam tangan Zakuro. Shiraishi berhenti, menunggu dua wanita itu menghampiri mereka. Saat dua wanita itu sampai di dekat mereka bunyi dentuman terdengar dan tanah di bawah mereka bergetar. Shiraishi menggenggam erat tangan Hirari dan pelukan pada gendongan Kei. Zakuro memejamkan matanya.~…~…~…~Radio yang terpasang di tiang-tiang lampu menyiarkan bencana tersebut dan meminta bantuan pada warga untuk segera membantu evakuasi korban selamat dari pesawat, serta menghimbau agar tidak ada penjarahan pada puing-puing pesawat. Suara sang raja selatan terdengar sangat memohon. Meski begitu, masih banyak orang yang datang untuk menjarah. Orang-orang itu bahkan mengambil beberapa bagian penting dari pesawat.“Apa yang kalian lakukan?! Kumpulkan benda itu di ujung sana! Kalau kalian melawan akan aku hukum mati!” Teriak seseorang. Orang-orang itu terkesiap lalu menyebut pangeran dan segera meletakan baran-barang yang dijarahnya ke tempat yang disuruh. Orang-orang itu lalu mengerumuni orang yang berteriak.“Kalian punya kekuatan atau orang biasa? Yang punya kekuatan bantu mengevakuasi korban. Orang biasa membantu mengumpulkan dan mengurutkan korban meninggal, sebagian merawat luka korban selamat. Kalau sampai aku dapat laporan dari pihak penyelidik ada bagian pesawat atau barang korban lain yang hilang, aku tak akan segan-segan membunuh kalian.”“Baik pangeran Hotaru, maafkan kami.” Ucap orang-orang itu. Hotaru menggaruk kepalanya gusar.“Lakukan ini karena kemanusiaan. Bukan karena perintah kerajaan. Saat kalian berada di posisi yang sama dengan mereka dan melihat tindakan orang lain seperti yang kalian lakukan saat ini, apa yang kalian rasakan? Itu juga yang mereka rasakan saat ini! Sudahlah! Ayo segera bergerak. Dalam waktu puluhan detik seorang bisa tewas dalam reruntuhan dan kebakaran itu.” ucap Hotaru lalu berlari menuju reruntuhan. Dengan kuasa apinya, ia menghilangkan kobaran api yang muncul di beberapa titik dari reruntuhan pesawat.“Dia pangeran yang katanya akan jadi raja, kan?”“Iya, benar dia orangnya.”“Apa ini pencitraan atau memang ini tindakannya?”“Tapi, kalau pencitraan, ucapan manis seperti raja tadi saja sudah cukup.”“Oi, sudahlah jangan pusingin soal itu dulu! Benar kata pangeran tadi, kalau kita yang ada dalam bencana kita juga pasti mengharapkan pertolongan!”Dan kerumunan orang itu bergerak membantu sang pangeran.~…~…~…~“Hotaru hilang?” bentak Raja selatan itu. Beberapa guru khusus itu mengangguk lesu. Raja selatan menepuk keningnya. “Kemana anak itu….”“Ah, ayah…, Shinrei juga menghilang.”“Apa Maksudmu, Touhaku?!”“Yha begitu. Menghilang. Dia kabur dari kelas selanjutnya.”~…~…~…~“Salju yang ada cukup bagus untuk memadamkan api! Segera padamkan lalu cari korban selamat!”“Oi, Shinrei. Jangan teriak saja. Bantu aku mengangkat ini. Anak itu masih hidup.” Ucap Hotaru. Shinrei segera menghampiri setengah adiknya lalu membantunya mengangkat puing pesawat.“Kalau sudah bisa bergerak, keluar perlahan. Jangan paksakan diri.” Ucap Shinrei sembari menahan beban yang sangat berat dan besar itu. Anak itu mengangguk dan keluar perlahan. Setelah cukup aman, Shinrei dan Hotaru kembali menjatuhkan puing itu. Hotaru lalu menggendong anak itu menuju tempat perawatan korban selamat. Shinrei menghela nafasnya. “Dia berubah drastis banget.”~…~…~…~
“Lihatlah pemirsa, para warga di daerah sekitar jatuhnya pesawat UTR 1554 datang bahu membahu menyelamatkan korban.”
“Woi! Meliputnya sambil membantu orang juga donk!”
“Ba, baik.”
Raja selatan menghela nafas bersyukur semua warganya itu terlihat mau membantu evakuasi korban bencana itu.
“Bahkan ada pangeran Hotaru yang membantu! Pangeran…, boleh minta waktu….”
“Bantu aku mengeluarkan laki-laki itu dulu! Dan jangan panggil aku pangeran sekarang!”
“HOTARU?!” Pekik Raja selatan. Layar mendadak menjadi stabil, dan dari samping seorang laki-laki berpakaian staff tv berlari membantu Hotaru mengangkat puing. Sang reporter terlihat menginstruksi gerakan puing sekaligus membantu menarik laki-laki yang terhimpit puing agar keluar dari himpitan puing pesawat. Shinrei mendadak masuk ke dalam tangkapan kamera dan ikut membantu dengan menggunakan naga air yang memompa puing agar naik ke atas lebih mudah. Sang raja menggelengkan kepala. “Kalian berdua….”Sang raja tersenyum kecil. “Benar-benar baik.”~…~…~…~“Oh, ibu…, Hirari, Zakuro, Kei…, syukurlah…, bukan rumah kita.” Ucap Hotaru lega, matanya sedikit berkaca-kaca. Beruntung mata sipitnya membuat orang lain sulit melihat matanya yang sedikit berkaca-kaca itu.“Ah, Hotaru. Kamu membantu juga?” Tanya ibunya sembari membantu Hotaru merebahkan seorang anak perempuan. Shinrei datang tak lama kemudian dengan seorang lelaki paruh baya.“Iya, Ma. Kita gak bisa diam saja melihat hal ini. Kita bahkan…, kabur dari pelatihan sebenarnya.”“Ish, kalian ini! Kenapa kabur juga? Shinrei juga!”“Habis mereka pasti tidak akan membolehkan kami menolong seperti ini. Sudah, ya bu. Masih banyak korban yang perlu ditolong.” Ucap Hotaru lalu berlari kembali ke arah puing pesawat. Shinrei menghembuskan nafas lalu pamit mengejar adiknya itu.“Hya! Hyaaa!!” Kei terlihat ingin mengejar Hotaru. Beruntung Zakuro dapat menahan gerakan liar Kei.“Sshh, sshh…, tidak apa-apa, ayahmu sedang bekerja. Kei-chan sama mama saja, ya.”Shiraishi tersenyum kecil mendengar ucapan Zakuro. Ia terus tersenyum sembari membersihkan dan memberi pertolongan pertama pada korban laki-laki itu. Hirari mengobati luka anak perempuan seumurannya itu.“lukamu parah sekali.” Ucap Hirari lalu membersihkan luka di kening anak perempuan itu. “Namamu siapa?”“Namaku….” anak perempuan itu diam agak lama sembari mengernyit“Jangan bilang kamu lupa?!” “Perih bodoh! Namaku Botan.”“Oh, syukurlah ingat. Habis kamu luka di kening, takut-takut kamu hilang ingatan.”“Kebanyakan nonton kartun kamu!”“Iih! Beneran kok! Aku pernah nanya ke kakak dan kakakku bilang itu bisa terjadi!”“Itu kalau lukanya di sini Hirari.” Ucap Zakuro seraya menyentuh beberapa daerah di kepala Hirari. Kalau di kening bisa juga, tapi itu sangat jarang.” Ucap Zakuro.“Dia kakakmu?”“Kakak iparku tepatnya.” Hirari mengembangkan senyum lebar. Zakuro menghembuskan nafasnya pasrah. Ia akhirnya kembali mengurus Kei yang menangis lagi.“Nak Zakuro…, kamu bisa merawat luka?” panggil Shiraishi. Zakuro memandang ibu temannya itu sejenak lalu kembali fokus menenangkan Kei.“Bi, bisa bibi.”“Baiklah, kita tukar sejenak, ya. Ini waktunya Kei minum susu.” ucap Shiraishi. Zakuro mengangguk kecil. Shiraishi membersihkan dirinya hingga dirinya cukup steril lalu mengambil Kei yang masih menangis.“Cup, cup, cucu nenek lapar, ya….”“Kamu paman bayi itu donk.” ucap anak perempuan itu. Hirari merona.“..., aku belum setua itu!”~…~…~…~Para penyelidik kecelakaan pesawat datang satu jam setelah kecelakaan terjadi. Jarak antara kantor pusat penyelidik dengan tempat kejadian memang cukup jauh, adanya beberapa aturan yang memisahkan pusat pemerintahan dengan pusat perkantoran, bisnis, dan lainnya memang agak cukup mengganggu. Pimpinan tim penyelidik datang dan mencoba mendapat informasi dari Hotaru. Sayangnya, pimpinan tim penyelidik itu tidak bisa mendapatkan informasi dari Hotaru dan akhirnya digantikan Shinrei.“Maaf, dia ada trauma dengan perempuan. Biar aku yang jelaskan saja.” Ucap Shinrei menjawab berbagai pertanyaan yang muncul di benak para penyelidik.Hotaru berjongkok memeluk dirinya sendiri. Ia memejamkan mata sembari terus berusaha menenangkan dirinya sendiri. Seorang pengawal Hotaru datang dan segera membawa tuannya untuk pergi ke tempat perawatan darurat korban selamat. Hotaru bersyukur pihak medis sudah membawa semua korban selamat yang kritis ke rumah sakit. Korban selamat juga diberikan posko trauma, jadi jika ada korban yang merasa sedikit traumatis bisa segera pergi ke posko itu. Hotaru memandang pengawalnya yang terlihat membawanya menuju tempat ibu dan adiknya, serta kakak kelasnya itu berada. Juga Yuan yang terlihat baru datang dengan tergesa-gesa.“Nak! Astaga…, kamu terluka juga?! Bodoh, harusnya pikirkan keselamatanmu dulu!” Bentak Yuan lalu membantu Hotaru tidur terlentang.“Bukan terluka…, Pa…, Hotaru-sama mendadak mengalami PTSD. Ketua tim penyelidiknya seorang perempuan yang langsung menyalami pa…, Hotaru-sama dan bertanya-tanya padanya.” Jelas pengawal Hotaru itu. Hotaru cukup puas karena sudah memberi tahu pengawalnya yang satu ini mengenai Zakuro. Meski hampir keceplosan, ia langsung dapat mengubahnya dengan segera.“Begitu? Terima kasih Yoko. Dasar…, aku pikir kau sudah sembuh. Sudah tidak apa. Aku ada di sini. Istirahatlah sejenak.” Ucap Yuan lalu mengusap kening Hotaru. Hotaru memejamkan matanya, mengangguk lemah. Zakuro mendekat sejenak, ia mengulurkan tangannya. Yuan menahan tangan Zakuro lalu mendesis perlahan. Zakuro paham dan menghentikan niatnya. Cukup lama mereka begitu.“Baiklah, Zakuro dia sudah cukup tenang sepertinya. Kamu pangku dia tidur, ya. Meski penyelidik sudah datang aku masih harus membantu mereka mengambil puing berharga.” Ucap Yuan. Zakuro sedikit gelagapan ketika Yuan meletakan kepala Hotaru di pangkuannya. Shiraishi mengelus kepala Zakuro, menenangkannya.“Kalau Hotaru tidak tiba-tiba bangun, berarti kau sudah aman.”“Be, begitu.”~…~…~…~Shinrei dan Hotaru tidak bisa menghindar dari kemarahan ayah kandung mereka keesokan harinya. Touhaku memukul kedua kaki anaknya itu dengan rotan sebagai hukuman karena menghilang kemarin. Di masa ini, Touhaku sebenarnya orang yang penyayang sebagai seorang ayah. Pengaruh ia masih melupakan beberapa masa lalunya di bumi. Namun, ia masih bisa bersikap tegas jika ia mau. Hotaru mengusap kakinya yang sedikit memerah dengan diam tanpa banyak bicara. Sedangkan Shinrei terus mengaduh kesakitan meski kakinya sudah tidak lagi dipukul oleh rotan.“Huh…, segera berikan salep, lain kali ayah beri kalian 10 kali pukulan pada masing-masing kaki!” ucap Touhaku seraya melempar dua buah obat salep kepada anaknya.“Ampun ayah….” mohon Shinrei sembari mengambil salep itu. Hotaru hanya berlalu. Touhaku menghela nafas lalu mengambil salep yang tidak diambil Hotaru.“Anak itu lebih keras kepala dari dugaanku.” Ucap Touhaku. Shinrei yang sedang mengaplikasikan salep itu pada kakinya hanya memandang ayahnya.“Seandainya ayah ingat dan tentu masih hidup saat di bumi dulu, mungkin ayah bakal menyesal sekali sudah berusaha membunuhnya.”“Hm? Memang dulu apa yang terjadi?”“Dia jadi anak buah Kyo, dan aslinya Kyo menginginkan kalau tidak Kyoshiro ya, anak itu yang memimpin klan Mibu. Akari fokus di penyembuhan penyakit mematikan. Bonten tidak mungkin karena dia disatu sisi juga seorang Date. Akira bukan anggota dan tidak berhubungan apa-apa dengan Klan Mibu. Dan karena Hotaru malah kabur mengejar Kyo. Aku yang jadi pemimpinnya.” Jelas Shinrei lalu membalut kakinya dengan perban.“Kalau itu sih, aku malah tambah sebal karena tidak berhasil membunuhnya. Kalau kejadian sekarang terjadi di klan Mibu saat dulu, baru aku menyesal.”“Kejadian sekarang?”“Lahirnya Keikoku. Anak itu memberi ayah cucu, lho. Cucu yang manis sekali. Meski cacat tapi sehat, tembem pula. Aduh…, setelah mengajarinya nanti ayah akan mengajak ibumu ke rumah Shirai dan Yuan menemui Kei, ah.”“..., Dulu Keikoku juga sudah lahir kok.”“HA?!”“Iya, dia lahir kira-kira 3 tahun setelah Kyo kembali. Umur Hotaru belum genap 28…, jadi 27 ya, kalau tidak salah. …, ah…, sekarang Hotaru punya anak saat umur 17. Beda 10 tahun.” Shinrei memandang ayahnya yang terlihat menunduk dan biru. Shinrei tertawa kecil. “Dan dulu aku perjaka sampai mati.”Wajah Touhaku semakin terlihat depresi. Shinrei tertawa kecil.“Sudahlah ayah. Sekarang kan sudah berubah. Ayo kita belajar lagi ayah.”“Oh, benar juga…, kita akan belajar ekonomi kerajaan…, setelah aku mengobati kaki anak itu dulu!” Touhaku lalu berdiri dan mengejar Hotaru yang belajar di ruangan lain di istana itu.“Ayah juga berubah toh.”~…~…~…~“Raja….”“Kakek!” Ryuhei menepuk kepala cucu keduanya itu dengan kertas. Hotaru menggaruk kepalanya.“Kakek…, aku sudah harus punya permaisuri saat dilantik, kan? Permaisuri…, harus putri kerajaan?” Ucap Hotaru disela-sela tugas kakeknya yang diberikan kepadanya. Ryuhei tertawa khas orang tua. Hotaru memalingkan wajahnya yang cemberut, tetapi berwarna merah.“Khusus kamu, aku tidak masalah permaisuri dari kalangan apapun dan berapapun banyaknya permaisuri yang kau mau. Soalnya raja pusat saat ini bukan lagi Shodai.” ucap Ryuhei.“Sa, satu aja cukup….” Ucap Hotaru. Ryuhei tertawa kecil.“Zakuro, kan? Kapan-kapan ajak temui kakek. Kakei ingin liat seperti apa dirinya itu. Sampai kamu bisa lupa kalau kamu ada PTSD.” Ryuhei mengusap kepala Hotaru.“Ja, jangan ingatkan soal itu.”“Bagaimana pun, itu harus disembuhkan Hotaru. Ada beberapa kerajaan yang dipimpin ratu, lho. Kerajaan Tomoe misalnya. Kalau Saisei jadi menantu di sini, Saishi akan jadi ratu kerajaan Tomoe.”“Kalau Saishi aku masih bisa tahan.”“Bagaimana kerajaan Xing Xiu dengan ratu, Lu Xia?”“....”“Baru satu lho Hotaru.” Ryuhei meletakan segelas teh hijau hangat milik Hotaru tepat di depan mejanya. Hotaru mengambil gelas teh dan meminumnya segera. Wajah Hotaru agak pucat. Ryuhei menghembuskan nafasnya. “Kerajaan Zhen Xiu juga, dipimpin ratu Zhan.”“Cu, cukup kakek.”“Hotaru…, kerajaan selatan banyak ratu lho. Tahu sendiri, ada sejarah yang menuliskan kalau raja Suzaku bukan raja, tetapi Ratu Suzaku. Sudah lebih dari 10 generasi terlewati, itu berarti sekitar 10 ribu tahun yang lalu Suzaku-sama membentuk dan menjadi pemimpin pertama kerajaan selatan, wajar ada perbedaan literatur mengenai jenis kelamin Suzaku-sama yang sesungguhnya.”“Suzaku-sama itu perempuan. Aku tak tahu kenapa, tapi aku yakin pasti kalau Suzaku-sama itu perempuan.” Ucap Hotaru lalu kembali mengerjakan pekerjaannya. Ryuhei mengerjapkan matanya.“Hmm…, pantas kamu sering dibilang anak Suzaku oleh Shodai.”“Aku anak ibuku.”“Bukan, bukan…, maksudnya anak yang diberkati Suzaku. Shodai dan Kyo, dua-duanya anak Kouryuu, sebelum dilantik mereka pernah bertemu dengan perwujudan roh Kouryuu-sama. Naga emas atau naga listrik ya?”“Kyo bilang naga listrik berwarna emas. Jadi dua-duanya bener. Aku belum bertemu roh Suzaku-sama kok.”“Tapi kenapa kamu yakin banget dia perempuan, Hotaru.”“Gak tau.”“Fufufu…, baiklah terserahmu.”~…~…~…~Keikoku menyeret badannya ke tiang-tiang yang membatasinya untuk merangkak lebih jauh. Ia memandang punggung ayahnya dan Kakek tirinya yang seperti sedang mengamati sebuah gulungan kertas. Nenek dan paman kecilnya menghadap ke arahnya, tetapi pandangan mereka jatuh pada gulungan kertas itu. Kei menyentuh salah satu tiang dan duduk memegang tiang. Ia terus memandang keluarganya itu dengan pandangan seolah bingung. Kei memekik memanggil mereka, tetapi mereka masih lebih fokus pada gulungan kertas itu. Kei memukul-mukul tiang pembatas, membuat suara-suara.“Kerajaan HongLobo itu tempatmu disekap dulu. Kali ini kamu akan dijaga oleh banyak pengawal, jadi tenang saja.” Ucap Yuan dan menepuk punggung Hotaru.Kei semakin berisik membuat bunyi-bunyian.“Yuan, kamu temani Hotaru donk. Kasihan anakku ini kan?”“Tapi, Shirai…, di jadwal keberangkatannya kita juga ada kunjungan ke kerajaan Utara. Aku sekarang bingung dengan Hirari yang baru akan masuk sekolah lagi.”Kei menarik badannya ke atas, tangannya menggenggam kuat tiang pembatas, badannya masih miring-miring, kakinya juga belum stabil. Kei bersandar di tiang dengan dadanya. “Aaah!! Aah!” pekik Kei.“Hirari bisa kok tinggal di rumah sendiri.”“Gak bisa-gak bisa. Ibu gak mau Hirari nanti sama seperti kakakmu.” Ucap Shiraishi lalu memeluk Hirari.“Benar, Hirari. Cukup kakak aja yang begini.”“Tapi Hirari gak selamanya tinggal sama ayah ibu. Hirari malu sama teman-teman Hirari yang sudah berangkat sendiri.”Kei mencoba menggerakan kakinya ke sudut tiang dan dinding yang ada di tempat itu. Di tiang itu ada tiang yang berbentuk horizontal. Bayi berumur 8 bulan itu menaikan kakinya ke tiang berbentuk horizontal itu.“Pokoknya Hirari bisa sendiri. Ayah dan ibu boleh titip Hirari ke Paman Tou dan Bibi Sachi, tapi Hirari bisa sendiri kok.”“Oh, benar juga. Touhaku dan Sachika-sama saat ini lebih banyak di rumah sendirian. Raja juga mungkin butuh hiburan.”“Tapi, apa tidak merepotkan kakak? Aku juga masih takut minta bantuan pada Touhaku.”“Sachika-sama bilang Touhaku sudah tidak mempermasalahkan Hotaru dan dirimu kan? Tenanglah Shirai.”“Muu….” Kei berdiri di atas gulungan kertas itu lalu melompat-lompat. Keempat orang yang sedang berkerumun langsung terkejut melihat itu.“Ke, Keikoku!!”“Kei-chan sudah bisa berdiri!”“Dan langsung jalan!!”“Bahkan melompati pagar!!”“Myaah!!” Kei menangis sambil berdiri, mungkin takut karena ekspresi tidak biasa yang dikeluarkan seluruh keluarganga itu. Hotaru tertawa kecil lalu memeluk Kei. “Sssh…, Kei pintar, ya…, sudah bisa berdiri sendiri. Nangis berhenti donk…, wajahmu jelek kalau menangis.” Hotaru mencium pipi mungil Kei. Kei masih sesengukan. Hotaru memangkukan Kei lalu memijat kaki-kaki kecil anaknya itu.“Ngomong-ngomong, kau akan membawa Kei ke HongLobo?” tanya Yuan.“Tentu saja.”“Sudah hubungi Zakuro?”“Kenapa?”“Kan dia 'mama’nya Kei. Dia harus ikut ke HongLobo donk?”“Nanti dia tahu kalau aku yang akan jadi raja.”“Bilang saja ini salah satu latihan menjadi tangan kanan kerajaan. Kan tugas kita memang mirip untuk yang satu ini.” ucap Yuan.“Lagian saat bicara dengan raja kamu kan gak bisa membawa masuk Kei.” tambah Shiraishi. Hotaru menggaruk kepalanya memandang wajah Kei yang terlihat ceria di pangkuannya.“Kalau begitu, aku harus menghubungi raja dulu untuk memberitahu soal Zakuro.”“Tunggu, bukannya pastiin dulu kakak ipar bisa atau enggak dulu? Kakak ipar kan kuliah juga.”“Benar juga….”~…~…~…~“Tentu aku ikut. Lagian aku gak yakin pengawal yang ikut denganmu bisa merawat Kei.” ucap Zakuro melalui sambungan telepon.“Tapi…, bagaimana dengan kuliahmu?”“Tak apa, aku bisa bolos seminggu. Jatahku masih ada kok.”“Aku gak mau kamu bolos. Aku sudah tidak sekolah lagi, dan tidak bisa mencicipi kuliah…, jangan bolos demi mengikutiku. Ngomong-ngomong, apa itu jatah?”“Well, tidak apa kok. Kuliahku santai. Jatah bolos. Jadi aku diperbolehkan gak masuk selama 3 minggu, lewat dari 3 minggu baru aku bermasalah. Kamu di HongLobo paling lama 3 hari kan katanya? Jadi aku masih ada jatah 2 minggu kalau-kalau aku sakit atau kamu pergi lagi.”“..., yakin gak apa kamu bolos?”“Yakin kok.”“Baiklah. Besok aku tunggu di stasiun.”“Siap tuanku.”“..., kamu mengucapkannya gak ada maksud khusus kan?”“kau mau aku panggil dengan sayangku?”“..., yang mana saja boleh sih.”~…~…~…~Setelah menghubungi raja dari kerajaan HongLobo, Hotaru menunggu jam pulang sekolah Shinrei lalu menghubunginya. Shinrei saat itu masih di jalan untungnya.“Kamu gak tau, Hotaru? Senpai kena surat peringatan sehingga ia gak boleh masuk selama dua minggu. Aku gak tau kenapa permasalahannya sampai kena surat peringatan. Tapi kayaknya berhubungan dengan dosen.”“Pantas dia langsung menerima ajakanku.”“Oh, yang pergi ke HongLobo, ya? Maaf, harusnya aku yang ikut denganmu.”“Well, sekolahmu lebih penting daripada beginian.”“Bodoh! Ini juga penting tahu! Bagaimana pun banyak orang-orang masih menganggap aku sebagai pewaris kerajaan Selatan. Mereka pasti curiga kalau aku tidak sering izin untuk berbuat sepertimu.”“Ya sudah izin saja.”“Kalau dibolehin kakek sudah dari kemarin.”“Bujuk kakek.”“Sudah! Tapi kakek ternyata sama keras kepalanya!”“Memang.”“Aish, sudahlah. Aku akan cari tahu lebih lagi soal kenapa senpai sampai kena surat peringatan. Kamu tenang saja.”“..., kau sekarang berubah ya.”“Ha?”“Mulai peka. Pasti karena Saisei.”“Bo, bodoh! Bukan begitu kok!”“Pasti begitu.”“OH, SUDAHLAH!”~…~…~…~Zakuro terkekeh di depan pintu rumah Hotaru dengan Hotaru yang menepuk kening dan menggelengkan kepala kecil. Yuan dan Shiraishi terkekeh-kekeh melihat kedatangan tiba-tiba calon menantu mereka itu.“Rasanya aku bilang ketemu besok di stasiun deh.”“Gak apa kan? Lagipula kalau kita bareng dari rumahmu, kita tidak perlu khawatir terlambat.”“Iya, kau benar.” Ucap Hotaru saat mempersilahkan kakak kelasnya itu untuk masuk. “Karena ayah dan ibunya Shinrei katanya akan menginap di sini juga, kamu terpaksa tidur sekamar denganku. Aku tidak akan melakukan apapun padamu. Dan aku harap kau juga melakukan hal yang sama.”“Iya, iya. Tenang saja soal itu.”“Kakak…, Kei gak mau berdiri lagi.” Hirari langsung memeluk Hotaru, matanya berkaca-kaca.“Mungkin dia capek, Hirari. Sudah gak apa. Kamu siap-siap sekolah besok, ya.”“Iya kak.” Hirari lalu berjalan ke kamarnya.“Berdiri? Kei sudah bisa berdiri?”“Agak mengagetkan…, yha, tapi dia udah bisa berdiri dan bahkan berjalan tadi.” jelas Hotaru.“Sungguh?! Tapi harusnya kalau dia sudah bisa berdiri dan berjalan, dia bakal seneng banget dan terus berjalan kan?” ucap Zakuro.“Err…, aku gak paham soal itu. Kei dulu memang pernah berjalan sehari, tapi dia dua bulan langsung vakum berjalan…, apa dia sekarang begini juga.” Hotaru menunduk dan berpikir. “Sungguh?”“Oh, ya. Kamu belum bertemu Kei saat dia bayi, ya.” Hotaru membawa Zakuro masuk ke kamarnya yang baru tersedia karpet bulu tempat Kei duduk dan memainkan boneka rubah kesayangannya. “Dulu malah dia lebih cepat lagi. Umur 8 bulan dia sudah bisa lari dan bahkan minta Shinrei mengajarinya baca.”“Keren….”“Tidak buatku. Karena mengherankan, Akari dulu hampir membedahnya karena penasaran.”“Eeeh?!”“Tenang saja. Shinrei saat itu juga tidak mengizinkan.”“Yaa! Yaa!!” Kei membanting-banting bonekanya di depan kaki Hotaru. Hotaru mundur sejenak lalu berjongkok. Kei mengangkat tangannya senang. Hotaru menggendong Kei.“Nanti kamu tidur dengan Kei di ranjang. Aku tidur di futon.”“Ah, tidak perlu repot. Aku bisa tidur di futon.” Ucap Zakuro. Hotaru mengernyit tidak suka. Zakuro menghela nafas lalu mengiyakan saran Hotaru. Zakuro duduk di ranjang setelah meletakan tasnya di samping ranjang. Hotaru memberi Kei kepada Zakuro lalu beralih ke karpet bulu dan melipatnya. Kei berceloteh ria pada Zakuro. Meski tidak mengerti Zakuro tersenyum dan memberi respon pada celotehan Kei.“Kau sudah menyiapkan pakaian Kei?”“Sudah. Tinggal milikku sendiri yang belum. Kau bermain dengan Kei saja.” Hotaru keluar dari kamarnya untuk mengambil sesuatu.“Ah…, baiklah.” Zakuro menghela nafasnya. “Ayahmu itu pekerja keras sekali, ya.”“Yaa??”“Demi kakaknya padahal.”“Yaaa??”“Kalau sudah lebih besar nanti kamu akan mengerti.” Ucap Zakuro lalu tertawa dan mencium pipi tembem Kei.~…~…~…~“Oh, tuan calon tangan kanan, Nakamura Hotaru. Selamat datang di kerajaan HongLobo.” Ucap sang raja dari kerajaan HongLobo.“Terima kasih sudah menyambut kami, raja Xia Ju-Long.” Balas Hotaru. Hotaru menyambut uluran tangan raja Ju-Long.“Nakamura?” Tanya seorang wanita di samping raja Ju-Long.“Nakayama memang nama pinjaman yang dipatenkan pada kami. Tapi, selama aku belum menjadi tangan kanan, alangkah baiknya aku menggunakan nama Nakamura.” Jelas Hotaru dengan gestur menolak uluran tangan wanita itu. Sang raja berbisik pada wanita yang ternyata adalah istrinya itu. Wanita itu menarik tangannya buru-buru lalu tertawa canggung.“Maaf, Nakamura-san. Karena kau datang bersama gadis itu, aku pikir anda sudah sembuh.”“Ah…, tidak apa. Aku hanya masih sedikit takut pada tindakan tiba-tiba saja.” Ucap Hotaru mencoba tersenyum. Zakuro menggaruk pipinya, sebelum berangkat ia bahkan hampir tergores ujung pedang Hotaru karena gerakan tiba-tiba darinya saat mencoba membangunkannya.“Natsuko…, temani nona itu, ya. Sekalian sepertinya Kaizo akan punya teman.” Ucap Ju-Long. Wanita itu mengangguk. “Mari, Nakamura-san, ikuti saya.”“Baik Xia-gu.” Ucap Hotaru. Hotaru berjalan mengikuti raja kerajaan HongLobo. Saat itu pula Kei menangis dan bergerak di gendongan Zakuro menuju ke arah ayahnya. Zakuro berusaha menenangkan Kei yang terus menerus menangis dan bergerak. Hotaru meminta izin sebentar lalu berbalik dan menggendong Kei. “Kei-chan. Ayah kerja dulu, ya.”“Nyaa…, ngaaa….” Kei menggeleng dan memeluk Hotaru erat. Hotaru mencium pipi dan kening Kei.“Tidak apa. Ayah akan kembali sebentar lagi. Kamu main sama mama dulu, ya?”“Hweee….”“Main sama mama dulu, ya. Ayah mau kerja, oke?” Kei mulai tenang dan pelukannya mulai mengendur. Hotaru mencium pipi Kei sekali lagi lalu meminta Zakuro menggendongnya. “Tolong jaga Kei.”“Serahkan padaku.” Ucap Zakuro seraya tersenyum lebar. Hotaru mengembangkan senyum kecilnya lalu berbalik dan kembali mengikuti raja Ju-Long. Setelah agak jauh, raja Ju-Long kembali angkat suara.“Apa dia calon permaisuri anda, Kokuou-Heika?” Tanyanya.“Well, bisa dikatakan begitu. Tapi aku tak ingin dia menjadi istriku karena aku akan menjadi seorang raja Selatan. Makanya….”“Saya paham Kokuou-Heika. Istriku sudah saya perintahkan untuk tidak menyebut anda dengan sebutan pangeran.”“Tapi kau memanggilku Kokuou-Heika, padahal aku belum menjadi Kokuou-Heika.”“Latihan supaya mudah nantinya.” Tawa Ju-Long.“Masih lama lho. Seandainya aku boleh sekolah lagi, aku masih ada 5 tahun lagi sebelum dilantik.”“Ah, bicara soal itu…, saya turut menyesal karena salah satu warga saya bertindak…, sewenang-wenang pada anda.”“Tidak apa. Aku tidak menyalahkan tempat ini maupun orang-orangnya. Diluar masalah penyekapan itu…, tempat ini tempat yang indah, Xia-gu.”~…~…~…~“Joou Heika…, perkenalkan, nama saya Natsuko dan ini Kaizo. Anak kedua saya.”“Eh? Nama saya Zakuro, pengasuh Kei. Bukan permaisuri.”“Ups. Maaf. Saya terbiasa kedatangan raja dari kerajaan lain.” ucap Natsuko seraya tertawa. Zakuro menggaruk pipinya canggung. Ia sungguh tidak biasa dipanggil seperti itu.“Ah…, Kaizo umur berapa?”“Baru empat bulan. Dia baru saja bisa tengkurap.” Tawa Natsuko lagi. Zakuro mengangguk dan mulai mengajak bicara Natsuko hal-hal lain. Kei duduk di depan Kaizo yang tengkurap sembari mencoba menggenggam mainan miliknya. Kei menepuk-nepuk lantai di saat Kaizo menggenggam kakinya. Kei menangis saat Kaizo memasukan kaki Kei ke mulutnya. Zakuro dan Natsuko segera mengambil langkah untuk menghentikan aksi Kaizo.“Sudah gak apa Kei. Gak apa…, Kaizo masih lebih kecil darimu. Kamu gak dimakan kok.” Ucap Zakuro. Zakuro menggaruk pipinya saat Natsuko malah memarahi anaknya. Kaizo lalu menangis. “Gak apa Kaizo…, cup, cup. Kak Kei cuma geli aja.” ucap Zakuro menenangkan Kaizo.“Joou-Heika…, ma, maksudku Zakuro-san…, kenapa seperti itu, anak ini memang bandel.”“Dia masih terlalu kecil untuk mengerti, chenqie. Tidak ada gunanya memarahinya. Lagipula, Kei sudah tenang sekarang.”“Jo.., Zakuro-san.”“Ah, sudahlah…, ayo kita lanjutkan lagi yang tadi.”~…~…~…~Hotaru menggaruk kepalanya. “Kayaknya selama tiga hari ke depan kita bakal tidur satu ranjang.”“Eh?”“Limit peminjaman futon di hotel ini sudah terpenuhi untuk para pengawal. Aku tidak bisa memesan futon lagi untukku.” jelas Hotaru. “Ja, jangan berpikir aneh.”“Aku tidak berpikir begitu Hotaru. Aku malah mencemaskanmu.” ucap Zakuro. Hotaru menggaruk pipinya.“Harusnya aku yang mencemaskanmu….”Keduanya lalu terdiam.“Aaah!! Aaah!!” Kei memukul-mukul ranjang, memanggil ayah dan pengasuhnya itu. Zakuro berbalik lalu menaiki ranjang. Ia lalu bermain lagi dengan Kei. Hotaru mengambil kursi lalu duduk di depan ranjang.“Aku tidak akan melakukan apapun padamu. Asalkan kau tidak membangunkanku lagi seperti tadi pagi.”“Aann….” Kei menepuk-nepuk ranjang. Hotaru hanya tersenyum menunggu jawaban Zakuro. Kei menepuk lebih keras lalu menarik tangan ayahnya.“Aku tahu dan aku tidak akan melakukan apapun padamu juga. Jadi, naiklah kemari Hotaru.” Ucap Zakuro lalu ikut menarik tangan Hotaru. Hotaru menghela nafas dan akhirnya naik keranjang. Kei mengangkat tangannya senang, ia seolah melompat-lompat dalam posisi duduk. Hotaru tertawa kecil lalu mengusap kepala anaknya itu. Zakuro tersenyum. “Akhirnya kamu bisa tertawa lagi.”“Ah?”“Sudah hampir dua tahun aku tidak melihatmu seperti ini.”“Aaan!!” Kei menggerakan kakinya. Hotaru menggaruk kepalanya.“Sudah selama itu ya?”“Kei sudah 8 bulan kan? Dan kamu menghilang setahun.”“Iya juga, ya.”“Aaaannn!!!” Kei memeluk Hotaru. Hotaru menghembuskan nafasnya lalu bermain dengan Kei.“Kamu cemburu, Kei?”
----- CHAPTER BREAK -----
Hotaru memakaikan sabuk pengaman ekstra untuk Kei dan dirinya. Pramugara terlihat membantunya memasangkan sabuk pengaman ekstra itu. Apalagi Kei terlihat tidak ingin dikenakan sabuk pengaman itu. Zakuro yang duduk di sebelahnya tertawa kecil lalu menggerakan mainan di samping Kei, mencoba membuat Kei teralihkan ke mainan. Setelah beberapa saat akhirnya sabuk pengaman ekstra itu terpasang pada diri Kei dan Hotaru.“Terima kasih.” Ucap Hotaru.“Sama-sama pange….” Hotaru langsung menggerakan tangannya ke depan mulut pramugara itu berusaha menghentikan ucapannya. Hotaru melirik Zakuro yang sepertinya tidak mendengar dan tetap fokus bermain dengan Kei. Hotaru menghela nafas, ia memberi tip dan secarik kertas kepada pramugara itu. Hotaru menghela nafas dan merilekskan tubuhnya.“Baru kali ini aku naik pesawat.” Ucap Zakuro.“Sama denganku.”“EH?! Kamu baru kali ini juga?”“Ini kunjungan pertamaku tahu. Saat berangkat juga kita naik kereta kan?”“Aku pikir kamu pernah.”“Belum pernah. Yun-yun sih sering. Aku bingung, dulu…, kereta ketika menuju sekolah lebih cepat dari kereta biasa seperti yang kemarin-kemarin.”“Aku gak pernah naik kereta ke sekolah, makanya gak tahu.”“Itu karena kereta yang anda naiki adalah kereta ekspress yang gak berhenti selain di stasiun sekolah, Hotaru-sama. Karena kebijakan raja pusat sebelum-sebelumnya yang meminta satu kerajaan satu jenjang sekolah makanya ada kereta khusus juga. Kereta anda sebelumnya adalah kereta biasa yang berhenti di setiap kota dan setiap pulau.” Jelas seseorang yang ada di depan mereka.“Lho…, kamu….”“Ada apa?” Tanya orang itu. Hotaru menggeleng.“Kamu siapa namamu?”“Namaku Kotarou. Teman Sasuke kecil. Jangan bilang kamu lupa, Hotaru-sama.”“..., pantas pernah lihat.” Ucap Hotaru. Zakuro mengerjapkan matanya. “Kamu tinggal di kerajaan selatan?”“Tidak, kok. Aku tinggal di kerajaan utara. Bandara internasional kan ada di kerajaan Selatan Pusat. Tuan Yukimura, Sasuke dan Sanada Juyushi lainnya tinggal di kerajaan Utara. Di kehidupan kali ini aku jadi sama seperti Sanada Juyushi, meski sekarang bukan Sanada lagi dan bukan hanya 10 orang lagi.”“Kamu pengawal kerajaan kecil di Utara?”“Tepat sekali. Bicara soal pengawalan…, Tuan Yukimura duduk di belakang anda.”“Hm?”“Kamu gak sadar sama sekali, ya Hotaru! Sejak di ruang tunggu juga aku sudah melihatmu lho!” Tawa Yukimura seraya memiring ke arah lorong jalan dan sedikit memajukan badannya. Hotaru memiringkan badannya dan sedikit berbalik.“Jadi yang tadi bukan halusinasi.”“Tentu bukanlah!” Tawa Yukimura. “Jadi…, ada apa dengan calon ra….”Hotaru memandang Yukimura, api berbentuk pedang terbentuk di sekitar leher Yukimura. Semua Sanada Juyushi hampir bergerak. Yukimura mengangkat tangannya. Hotaru memutar matanya dan pedang api itu menghilang.“Hahaha…, ternyata kamu tidak banyak berubah untuk hal seperti ini.”“Huh…, ada urusan dengan kerajaan HongLobo. Kau sendiri?”“Hanya berlibur sebenarnya. Kerajaan ini indah untuk berlibur. Kerajaan ini masuk sebagai salah satu dari 10 destinasi alam terindah.” Ucap Yukimura dengan gaya santai khasnya. Hotaru memutar matanya dan memperbaiki posisi duduknya. Yukimura juga memperbaiki posisi duduknya saat pesawat itu mulai berjalan lebih cepat dan perlahan terangkat. Setelah terbang Hotaru kembali bergerak ke kiri, menuju lorong dan melirik Yukimura.“Dan bukannya yang terindah ada di kerajaan Timur?”“Bosan lah setiap berlibur ke sana mulu.” Ucap Sasuke yang duduk di samping Yukimura.“Enaknya yang sudah tinggal liburan mulu.” ucap Hotaru lalu kembali memperbaiki posisi duduknya dan mulai mengurus Kei yang sedari tadi berteriak tidak nyaman. “Ssh, sudah, sudah.”Kei memukul-mukul bahu Hotaru dan terus menangis saat pesawat mulai terangkat ke atas. Hotaru menghela nafas. Setelah lampu seat belt mati, ia melepaskan sabuk pengamannya dan Kei lalu berdiri. Kei mulai tenang, tangannya menggapai-gapai tuas pengunci pada bagasi kabin. Hotaru menghela nafas dan langsung menahan tangan mungil Kei. Kei memandang Hotaru sembari tersenyum lebar dengan wajah polos. “Ya, kyaa….” Kei tertawa polos. Hotaru tersenyum lalu mencium pipi mungil Kei.“Apa, hm?”~…~…~…~Hirari memberikan sebuah kertas pada Hotaru. Wajahnya sangat cemberut. “Ayah dan Ibu masih belum pulang.” Ucap Hirari.“Baiklah, besok kakak yang dateng.”Hirari diam, wajahnya semakin cemberut. Hotaru menepuk pelan kepala Hirari. “Kamu gak suka kakak yang dateng?”“Bukan gitu….” Hirari memalingkan wajahnya.“Lalu?”Hirari melepaskan diri dari usapan kepalanya lalu pergi dari kamar Hotaru. Hotaru mengerjapkan matanya bingung. Ia melirik Kei yang sudah tidur lalu berjalan mengejar Hirari. Hirari memeluk guling sembari menonton televisi dengan pandangan kosong. Hotaru mengambil posisi di samping Hirari lalu merangkulnya.“Kenapa Hirari? Ada masalah apa di sekolah?”Hirari menggeleng, ia beralih memeluk kakaknya itu. Hotaru mengusap kepala adiknya itu. “Hirari….”“Semua orang tahu kakak yang akan jadi raja selatan…, tapi Hirari tidak seperti kakak. Hirari juga tidak seperti Kak Shinrei.”“Hmm…, kamu cemburu?”“Bukan gitu….” Hirari makin erat memeluk Hotaru. “Hirari malu sama diri Hirari.”“Kenapa malu? Hirari kan Hirari. Gak perlu jadi seperti kakak.”“Tapi mereka….”“Memang ada sesuatu di sekolahmu….” Hotaru mengusap pipi Hirari. “Biarkan saja mereka…, yang penting kakak bangga memilikimu.”Hirari menggeleng kuat, ia memeluk kakaknya semakin erat. Hotaru menghela nafas, ia bingung menghadapi adiknya itu. Meski Hotaru dulu paham perasaan adiknya itu. Ia pasti iri pada kehidupannya yang pewaris utama raja kerajaan selatan, sama sepertinya yang dulu iri pada Shinrei yang merupakan anak laki-laki sah dari ayah kandungnya itu. Hotaru bingung menghadapinya, bukan hanya karena Shinrei dulu tidak menangani rasa irinya dengan cara yang ia perlakukan kepada Hirari. Namun, juga perbedaan statusnya kini terlalu tinggi.“Kak….”“Ada apa?”“Kakak mau janji?”“Janji? Janji apa?”“...., kakak besok gak dateng sama pasukan pengawal kakak.” Ucap Hirari. Hotaru menghela nafas.“Berarti kalau ada satu orang boleh?” Hirari terdiam. “Kakak hanya bisa menjanjikan seperti itu.”“Uh, baiklah.”Hotaru memeluk adiknya lalu mencium keningnya. “Baiklah, besok kakak akan datang dengan satu orang saja.”~…~…~…~Hotaru menggaruk pipinya memandang sang ayah kandung yang terlihat sangat senang menggendong anaknya itu. Hotaru bersyukur,kehadiran Kei mampu membuat ayah kandungnya itu berubah sikapnya. Meski terlalu drastis hingga Hotaru merasa teman-temannya harus lebih kaget dengan perubahan ayahnya itu. Bahkan ayahnya itu mau menganggap Hirari yang anak kedua ibunya itu sebagai anaknya juga. Seperti yang dilakukan ibu tirinya padanya. Hirari mengusap pipi Kei yang digendong oleh ayah tirinya. Lalu tersenyum ceria.“Paman….”“Papa donk….” Ucap Touhaku seraya mengusap kepala Hirari. Sama sepertinya, Hirari juga masih kesulitan memanggil ayah tirinya itu dengan sebutan papa.“Uh…, Papa…, jaga Kei, ya. Hirari sama kakak mau ke sekolah.”“Iya, Hirari sayang. Papa akan menjaga Kei dengan baik. Iya kan Kei?”“Yaaa….”“Tolong, ya. Touha…, ayah.”“Tenang saja Hotaru. Ayo Kei, kita main boneka rubah kesayanganmu.”“Yhaaa!!!” Kei memejamkan matanya dan mengangkat tangannya senang. Hotaru menghela nafas. Ia beralih ke ibu tirinya.“Tenang saja Hotaru. Aku tidak akan membiarkannya melakukan hal berbahaya pada Kei.” Ucap sang ibu tiri.“Uh, baiklah Mama…, ayo berangkat, Hirari.”~…~…~…~Hotaru berdiri di belakang Hirari yang duduk gelisah menghadap kursi kepala sekolah yang masih kosong. Hotaru menyentuh pundak adiknya itu mencoba menenangkannya. Hotaru menghela nafas saat sang kepala sekolah datang. Keluhan adalah kalimat pertama yang dikeluarkan oleh Hotaru. Seperti sudah biasa…, atau memang sudah biasa…, sang kepala sekolah hanya memanggapinya santai. Hotaru mengalungkan tangannya pada leher Hirari lalu mencium puncak kepala Hirari.“Aku tidak menyangka anaknya Yuan akan menjadi adikmu sekarang.” ucap sang kepala sekolah. Hotaru berwajah datar.“Dan aku tidak menyangka kau punya dua anak saat ini.” ucap Hotaru. Hirari memandang bingung keduanya. Hotaru mengibaskan tangannya. “Lalu…, kenapa kau mau memanggil Yun-yun? Padahal kau tahu Yun-yun sedang ada di kerajaan asalmu, rambut singa.”Hirari berusaha menahan tawanya mendengar ejekan kakaknya itu pada kepala sekolahnya.“Tentu saja karena anaknya ini bermasalah.” ucap sang kepala sekolah. Hirari langsung lesu. Hotaru mencium puncak kepala Hirari lalu bergumam. “Kau mantan ketua osis di sini. Tapi, adikmu pembuat masalah.”“Memang apa yang adikku lakukan?”“Aku tidak melakukannya!” bentak Hirari. Hotaru mengusap kepala Hirari.“Sudah pasti kau pelakunya! Semua bukti menunjukkan kaulah pelakunya!”“Rambut Singa…, tumben kau cepat marah seperti ini.”“Keikoku!”“Hotaru. Keikoku nama anakku, tahu.” Ucap Hotaru dengan wajah datar. “sudahlah…, apa yang kalian tuduh adikku lakukan sebenarnya?”“Saat kita camping beberapa minggu lalu, Hirari membawa anak perempuan dari desa itu ke tendanya dan memperkosanya.”“Aku tidak melakukan hal itu! Mana mau aku melakukan sesuatu yang sama dengan yang membuat kakakku trauma!” Bantah Hirari. Hotaru menggaruk kepala belakangnya.“camping? Kapan kamu camping?”“Saat kakak pergi ke kerajaan Utara….” jelas Hirari. Hotaru mengangguk-angguk.“Memang apa buktinya, rambut singa?”“beberapa lembar foto.”“Editan?”“Sudah dibaca oleh ahlinya. Foto ini asli.”“Siapa ahlinya?”“Ahli foto setempat.”“Di daerah mana kalian camping, Hirari?” Hotaru berjongkok, memandang Hirari. Sorot mata Hirari penuh keyakinan.“Dekat kerajaan HongLobo. Tapi, bukan di HongLobo lagi. Tempatnya masuk kerajaan xixing.”“Ah….” Hotaru menunjukkan wajah pucat.Xixing adalah salah satu kerajaan miskin yang juga merupakan kerajaan kecil bawahan dari kerajaan HongLobo. Struktur kerajaan selatan yang ternyata cukup sulit dirunut membuat Hotaru dulu sempat salah mengira tempat persis ia disekap. Saat ia berkunjung ke kerajaan Honglobo dan diajak berkeliling, Hotaru menyadari tempat persis ia disekap. Ya, kerajaan Xixing. Raja HongLobo sempat berkata, ia sendiri kesulitan untuk mengatur kerajaan kecil dibawahnya itu. Karena kemiskinan, Kerajaan Xixing menjadi tidak terkendali. Penjarahan dan kejahatan lainnya terjadi di mana-mana. Padahal kerajaan Xixing memiliki tempat wisata yang indah dan bisa dijadikan sumber mata pencaharian bagi rakyatnya. Raja Xixing saat ini yang sangat tidak pro rakyat itu yang menyebabkannya. Kadang Hotaru ingin segera mengganti kerajaan Xixing dengan orang lain atau meminta Honglobo secara penuh menetapkan kedaulatannya atas kerajaan Xixing.“Kakak?”“Ah…, ma, maaf, Hirari.” Hotaru menghela nafasnya, mencoba terlihat tenang.“Benar kata Shinrei, kau makin berubah.” “Berubah? Kakak kenal kepala sekolah?”“Kan kakak dulu osis. Hirari mau masuk ke kelas dulu? Udah bel masuk tuh.”“Gak mau….” Hirari memeluk kakaknya itu. Hotaru menghela nafas, ia memandang kepala sekolah dan memberi kode sesuatu padanya.“Lalu…, apa yang mau kau bicarakan lagi? Rambut singa?”“Tentu saja aku memanggilmu tepatnya Yuan untuk mengajari anak itu.”“Adikku bukan anak itu.” Hotaru memeluk Hirari. “Lagipula, perkataanmu tadi yang mengatakan itu adalah bukti…, sudah kuragukan.”“Aku akui sekarang kau lebih pintar dan hebat, Kei…, Hotaru…, tapi bagaimana pun ini bukti tak terbantahkan!”“Begini-begini aku tahu berbagai macam teknologi. Termasuk teknologi kamera dan teknologi mengeditnya. Sekali lihat aku sudah tahu kalau itu editan. Coba cek sekali lagi Fubuki. Kali ini pada ahli dari kerajaan selatan pusat, atau bahkan ahli terpercaya dari kerajaan timur tempatmu itu.” Ucap Hotaru lalu mengusap kepala Hirari. Hirari tersenyum sumringah memandang kakaknya. “Tapi…, kamu kemana Hirari? Seandainya saat jam itu kau ada bersama teman-temanmu, aku rasa kau tidak akan dijebak seperti ini.”Hirari langsung kaku. Hotaru mengerjapkan matanya, meyakinkan diri akan perubahan ekspresi adiknya yang tiba-tiba itu. Setelah yakin perubahan itu benar adanya, Hotaru terus memandang Hirari, menunggu jawabannya.“Ehem…, Hotaru…, aku tetap akan memberi hukuman skorsing pada Hirari. Meski aku akan tetap mencoba mengurus permasalahan ini.”“Skorsing? Berapa lama?”“Seminggu.”“... Mulai besok?”“Mulai hari ini.”“..., Hirari berarti besok kakak bisa minta kamu jaga Kei, karena kakak dan Shinrei mau latihan di kerajaan Zhen Xiu.” Ucap Hotaru lalu memandang Hirari. Wajahnya datar, tapi matanya berbinar. Hirari tersenyum lebar dan mengiyakan permintaan kakaknya.~…~…~…~“Kemarin ada kejadian begitu?” Tanya Yuan pada Hirari. Hirari mengangguk kecil sedikit malu untuk berbicara dengan ayahnya itu. Kakaknya sedang pergi ke Zhen Xiu sejak pagi hingga besok. Untungnya ayahnya dan ibunya pulang di saat yang tepat sebelum Hirari berlari ke rumah orang tua tirinya karena Kei kelaparan. Hirari bisa membuat bubur bayi sendiri. Namun, ia tidak bisa membuat susu. Kakaknya itu belum mengajarkan. Tentu saja, bagi Hirari ada juga kecemasan ketika orang tuanya pulang. Benar saja, ayahnya langsung bertanya kenapa ia sudah pulang padahal seharusnya ia masih belajar di sekolah. Mau tidak mau Hirari harus menceritakannya.“Tapi kamu gak melakukan hal itu kan?” Tanya ibunya.“Mana mungkin Ibu! Hirari juga masih kecil, Hirari masih belum mau ngurus adik buat Kei!” Keluh Hirari. Kei yang duduk dipangkuan neneknya itu melambai-lambaikan tangannya pada pamannya itu.“Jadi…, kamu pergi kemana sampai ada orang jahat memiliki kesempatan untuk menjebakmu? Apalagi ini setelah kakakmu dipastikan akan jadi raja selatan. Kamu tentu akan jadi pangeran besar seperti Shinrei.” tanya Yuan.“Pangeran besar?” tanya Shiraishi pada Yuan.“Kei pangeran kecilnya.” Yuan terkekeh lalu mencubit pelan pipi Kei. Kei menggerakan tangannya minta dipangku kakeknya itu. Yuan dengan senang hati mengangkat cucunya itu dan memindahkannya ke pangkuannya. Yuan lalu memandang Hirari yang kaku. Yuan menghela nafas. “Ayah marah kalau kau gak cerita Hirari. Ayah beda dengan kakakmu.”“Uuh….” Hirari kembali dari kekakuannya. Shiraishi sedikit khawatir, tapi elusan Yuan pada punggungnya membuatnya sedikit tenang. “Hi, Hirari….”Lalu Hirari menceritakan kemana ia pergi saat itu.~…~…~…~“Daerah Zhen Xiu ternyata juga berbatasan dengan Honglobo dan Xixing ya…, bedanya, pusat Zhen Xiu berada di pulau sebelahnya.” Gumam Hotaru.“Memangnya ada masalah Hotaru-sama?” Tanya Ratu Zhan, yang saat ini sedang mengajari Hotaru urusan diplomasi, meski lebih diurus oleh Shinrei tapi Hotaru merasa ia perlu tahu meski sedikit. Hotaru menggaruk kepalanya canggung.“Di daerah perbatasan Xixing…, antara perbatasan HongLobo atau perbatasan Zhen Xiu…, anak-anak kelas 1 SMP pernah camping, kan? Adikku ada masalah di sana.”“Hoo…, daerahku yang dekat Xixing lebih banyak dihuni oleh korban-korban bencana, seperti kejadian pesawat jatuh kemarin. Raja saat ini memintaku menampungnya.”“Korban bencana?”“Yup, ada yang sampai menetap, ada yang hanya sementara. Mereka yang tinggal sementara biasanya yang gak bisa kembali ke kerajaannya karena kehilangan dokumen penting misalnya. Sedangkan yang menetap lebih karena cacat fisik atau mental hingga ia sendiri yang tidak mau pulang.”“Ooh….”“Meski kakekmu bisa dikatakan ‘diacuhkan oleh rakyatnya’ tapi kakekmu orang yang baik dan cukup mementingkan rakyatnya. Meski memang ada beberapa kali keputusannya berpihak bukan pada rakyat.”“Begitu. Aku jadi mengerti kenapa ada beberapa kerajaan yang seperti menolak keberadaanku. Xixing salah satunya.”“Xixing, ya…, menurutku mereka lebih ke iri dengan kerajaanku dan kerajaan HongLobo. Karena kerajaan kami langsung diperintah oleh raja, sementara Xixing harus mendapat perintah dari kerajaan Honglobo dulu.” Jelas Ratu Zhan.“Memang harus rajanya yang diganti atau statusnya yang dinaikkan, ya….” Gumam Hotaru. Ratu Zhan tersenyum.“Menurutku sih lebih baik ganti raja. Agak mirip permasalahannya dengan kakekmu saat ini. Kurangnya kepercayaan rakyat pada rajanya. Kalau kau bisa memilih raja atau ratu yang mengerti dengan keadaan rakyatnya aku rasa mereka akan jadi lebih baik.” Saran Ratu Zhan.“Terima kasih atas nasihatnya Ratu.”“Fufufu, sama-sama calon rajaku. Boleh kan aku mengusap kepalamu?”“..., baiklah boleh.”~…~…~…~“Di sini?” tanya Hotaru seraya menunjuk sebuah gubuk. Seorang warga mengangguk sedikit ketakutan. Hotaru menggenggam erat Naraka lalu berjalan mendekati pintu gubuk itu. Begitu terbuka Hotaru langsung menyalakan kekuatan apinya dan memandang keseluruhan gubuk itu. Hotaru menahan serangan dengan pedangnya. Hotaru memandang orang itu, orang itu seumur dengannya. Matanya merah, dan rambutnya sangat putih, kulit tubuhnya juga sedikit pucat. Hotaru mengerjapkan matanya.“Ini sih seorang albino…, bukan monster.” Gumam Hotaru. Orang itu berhenti menyerang lalu menjatuhkan benda yang ia gunakan untuk menyerang. Hotaru mencoba melihat orang itu dengan lebih jelas. “Kau orang dari mana?”“Maaf, meski Jepang juga temanku, tapi aku gak bisa bahasanya.” Balas orang itu dengan bahasa asing. Hotaru menggaruk kepalanya tidak mengerti. Hotaru menarik tangan orang itu keluar dari gubuk setelah sebelumnya menutupi tubuh orang itu dengan jubah pangerannya.“Sang Monster!!” Pekik warga yang tadi menunjukkan arah pada Hotaru.“Dia bukan monster! Dia manusia yang kena penyakit langka. Ayo kita bawa ke rumah sakit.” Jelas Hotaru. Sang warga mendadak paham lalu berjalan di depan Hotaru, menunjuk arah kembali ke mobilnya.Shinrei melipat tangannya menunggu di mobil. Shinrei ingin membantu mencari ‘monster’ bersama adiknya tadi. Namun, ia juga tidak mau melepas mobil sewaan yang ia dapatkan dengan susah payah. Meski bukan musim liburan, mendapat mobil sewaan di kerajaan Zhen Xiu tetaplah sulit. Apalagi untuk tujuan berwisata seperti mereka. Shinrei melepas lipatan tangannya saat rambut pirang sang adik muncul tak lama setelah seorang warga keluar dari daerah hutan. Ia membawa sosok manusia yang ia tutupi dengan jubah kerajaannya.“Bukan monster tapi manusia albino…, dan dia bicara dalam bahasa asing.” Jelas Hotaru saat ia memasukkan sosok manusia itu ke dalam mobil dan duduk di sampingnya. Shinrei berpindah ke depan, lalu memerintahkan pengawalnya untuk menjalankan mobil.“Kesese…, mobil di Jepang memang terbalik, ya.” Gumam orang itu. Shinrei menggaruk kepalanya. Ia berbalik kebelakang dan memandang Hotaru. Menyatakan ia juga tidak mengerti bahasa orang itu.~…~…~…~Setelah beberapa minggu, akhirnya Hotaru dan Shinrei menemukan suatu titik terang untuk orang itu. Shodai datang ke rumah Hotaru, yang memperbolehkan orang itu tinggal di rumahnya, untuk menemui orang itu. Shodai tertawa kecil setelah berbicara dengan orang itu.“Kau takkan percaya Hotaru-kun. Sebagai anggota Mibu, apa kalian pernah bertemu sang personifikasi negara Jepang?”“Oh, maksud anda Nihon-san? Meski aku tidak pernah bertemu, tapi aku sering mendengar tentangnya.” ucap Yuan yang saat itu juga ada di sana. Shodai mengangguk. Hotaru memandang kebingungan. Setelah dijelaskan oleh Yuan mengenai personifikasi negara, Hotaru akhirnya mengangguk mengerti.“Nah, Dia juga salah satu personifikasi negara. Negara yang baru beberapa tahun yang lalu tiada di Bumi.” Jelas Shodai. “Yang aneh adalah…, hanya dia personifikasi negara yang terlahir kembali di planet kita. Sementara personifikasi negara yang sudah hilang peradabannya juga…, masih tetap ada ‘di surga mereka’.”“Memang aneh kalau begitu.” gumam Hotaru. “Ngomong-ngomong…, negara apa dia?”“Prussia, yang kalau dalam bahasa asli mereka diucapkan Preussen. Negara yang dulu juga termasuk dalam Jerman.”“..., Jerman? Pantas bahasanya sangat tidak familiar.” ucap Yuan.“Yah, kurang lebih begitu. Ia bangun secara tiba-tiba sebagai seorang manusia berumur 20 tahun. Dengan ingatan menyeluruh mengenai kehidupannya sebagai negara. Sehingga saat bertemu denganmu menganggap kamu sebagai salah satu personifikasi kota di Jepang yang berpenampilan eropa.”“..., karena pirang, ya.” ucap Hotaru seraya memainkan sedikit rambutnya.“Benar.”“Lalu kau sudah jelaskan padanya? Soal kita?”“Sudah. Aku sebenarnya ingin membawanya ke istana Kyo, mengajarinya bahasa kita agar ia bisa berkomunikasi dengan kita. Setelah lancar, mungkin aku akan mengembalikannya ke kerajaanmu Hotaru-kun.”“Baiklah. Berarti kita nanti akan memanggilnya dengan nama Puroisen, ya?”“well, tergantung ia nanti akan memakai nama apa.” kekeh Shodai.~…~…~…~Yuan datang bersama Hirari ke kantor kepala sekolah SMP. Fubuki yang sudah menunggu di depan pintu kepala sekolah mendadak tersenyum kecil. “Aku pikir bocah itu yang akan datang lagi.”“Hoo…, kau tak senang kalau aku yang datang Fubuki?”“Fuh…, justru aku malah senang kau yang datang. Silahkan.”Yuan masuk ke dalam bersama Hirari. Persis seperti saat Hotaru yang datang, Yuan mendudukkan Hirari di kursi sementara ia sendiri berdiri di belakang Hirari. Fubuki tertawa kecil lalu mengibaskan tangannya seolah berkata tidak ada apa-apa. Fubuki menyadari sedikit hal…, Hotaru berubah mungkin karena didikan Yuan sejak anak itu bayi.“So…, kapan anakku ini bisa masuk sekolah lagi? Hirari anak yang cerdas, dia bisa mengikuti pelajaran meski seminggu tidak masuk…, tapi lebih lama dari itu…, bahkan si jenius Hotaru pun akan kesulitan belajar.”“Selalu to the point, ya…, Hotaru benar saat itu. Foto itu memang sudah di rekayasa dan mereka yang merekayasa sudah diurus oleh polisi kerajaan, bahkan kabarnya sudah terbukti bersalah dan sedang menjalani hukuman.”“Hoo…, sudah dikerjakan ayah dan ibu, ya. Ibu dan pak tua itu…, kalau sudah menyangkut Hirari pasti cepat sekali bertindak.” gumam Yuan. Fubuki menggaruk kepalanya.“Well, kinerja Ian dan Jyurian memang sangat cepat untuk kasus yang satu ini.”“Hirari cucu kesayangan sih.” Ucap Yuan seraya mengusap kepala satu-satunya anak kandungnya itu.“Pasti juga karena dia anakmu…, Hotaru kan bukan anakmu.” Ucap Fubuki.“Kakak juga anak ayah!” Bela Hirari. Yuan tertawa.“Iya-iya…, Hotaru juga anakku.” Yuan mengusap kepala Hirari dengan sayang. Fubuki memutar matanya.“Kau tidak bilang ke anak ini?”“Dia masih tidak terima saja.” Ucap Yuan. Hirari menggembungkan pipinya dan berwajah kesal.“Hoo…, pantas. Mulai senin besok, Hirari boleh kembali bersekolah.” Ucap Fubuki. Hirari langsung menunjukkan wajah ceria. “Ngomong-ngomong…, Hirari tidak jadi pangeran ketiga, ya?”“Kata Raja, terserah pada Hirari saja. Kalau Hirari mau jadi pangeran, nanti Raja akan melantiknya. Tapi, sampai sekarang anak ini masih tidak mau. Padahal harus dilakukan sebelum Hotaru jadi raja.” Jelas Yuan. Hirari menggaruk kepalanya.“Padahal istrimu sudah jadi Putri, ya…, sama seperti Putri Sachika.”“Haha…, benar.”“Tapi kalian tidak mau tinggal di istana.”“Itu karena keinginan Shiraishi. Shiraishi sendiri lebih dekat dengan keluargaku…, jadi dia lebih memilih tinggal dekat dengan keluargaku.”“Istrimu…, orang yang sederhana sekali.”“Sejak kecil dia memang sudah sederhana, kan?” kekeh Yuan.
----- CHAPTER BREAK -----
Shiraishi langsung memeluk cucu pertamanya itu yang sudah kembali bisa berdiri dan berjalan. Shiraishi mengambil bunga matahari di tangan cucunya lalu mencium pipi mungil cucunya. Cucunya tertawa riang lalu kembali memeluk Shiraishi. Shiraishi memandang ke depan dan berpose meminta maaf pada tetangga sebelah, pemilik asli bunga matahari yang dipetik cucunya itu. Sang tetangga hanya menghela nafas membiarkan. ‘Toh, pelakunya masih sangat kecil dan belum mengerti.’ pikir tetangganya.“Oh…, mama ada di sini rupanya. Maaf aku masuk seenaknya, ma.” Ucap Shinrei. Shiraishi berbalik dan memandang Shinrei yang sedang berjalan ke teras rumahnya. Shiraishi mengusap punggung cucunya meminta cucunya melepas pelukannya. Cucunya itu berjalan setengah berlari ke arah Shinrei. Shinrei berjongkok dan tersenyum.“Halo, Kei…, paman bawa mainan untukmu.” ucap Shinrei seraya mengeluarkan sebuah tas boneka berbentuk rubah pada keponakannya itu.“Aaah….” Kei memeluk tas boneka rubah itu dengan satu tangannya, Shinrei memakaikan tali tas itu ke bahu Kei lalu memasang perekat kain di pinggang Kei. Shiraishi tertawa kecil melihat Kei yang sangat senang.“Ada apa Shinrei? Bukannya kamu harusnya masih sekolah? Hari terakhir, sebelum libur musim panas, kan?” Tanya Shiraishi.“Ah…, benar juga.” Shinrei menggaruk kepala belakangnya, canggung. “Shinrei boleh main di rumah mama sampai jam pulang sekolah?”Shiraishi mengerjapkan matanya. Shinrei buru-buru menambahkan. “Hari ini rencananya Shinrei mau pulang ke rumah…, sepulang sekolah. Liburan juga kan? Tapi, tadi Shinrei kesiangan dan…, jadinya bolos….”“Dikira ada sesuatu yang gawat, Rei-chan…, kenapa gak langsung pulang dan bilang sekolah ternyata sudah libur?”“Ibuku mana percaya.” Ucap Shinrei. Shiraishi membantu Kei naik ke teras lalu menepuk punggung Shinrei, memaksanya masuk kembali ke rumah.“Kakak memang begitu sih. Kamu sudah makan siang?”“Ehe…, belum mama….”Shiraishi langsung menarik Shinrei menuju dapur, memaksanya duduk lalu membuka tudung saji. Shinrei langsung merasa semakin lapar mencium aroma masakan ibu tirinya itu. Shiraishi menempelkan sebelah tangannya di pipi, sedikit kecewa. “Wah, cuma ada nikujaga sisa sarapan….”“Gak apa mama. Nikujaga juga sudah cukup kok. Lagipula, ini masih bisa dibilang sarapan juga.” Ucap Shinrei.“Kamu melewatkan makan pagi juga? Kalau gitu mama hangatkan dulu, ya.” ucapnya. Shinrei mengangguk. Kei berteriak kecil dan melompat-lompat di sampingnya. Shinrei tersenyum lalu menggendong keponakannya itu.“Ada apa Kei?” Tanya Shinrei seraya memangku keponakannya itu.“Yaaah….” Pekik Kei senang. Matanya bahkan menutup dan tangannya bergerak-gerak aktif. ‘Meski pertumbuhannya jadi lambat, keaktifan Kei masih sama seperti dulu.’ Batin Shinrei. “Kei sudah mau setahun, ya? Ulang tahun mau hadiah apa?”Kei membuka matanya. Shinrei terkekeh melihat gaya berpikir Kei yang sama dengan gaya berpikir Hotaru. Shinrei mengusap kepala Kei dengan lembut. Shiraishi meletakan mangkuk nasi hangat di depan Shinrei beserta lauk nikujaganya. Shiraishi mengulurkan tangannya dan menggendong Kei. Shiraishi berbisik pada Kei tentang pamannya yang mau makan. Shinrei menelan liurnya dan mulai mengambil sumpit.“Itadakimasu.”“Aku pulang.”Shinrei yang baru memasukan nasi ke dalam mulutnya terdiam mendengar suara itu. Shiraishi dengan gembira berjalan menuju pintu utama rumahnya. Shinrei berusaha untuk terus melanjutkan makannya. Shiraishi kembali masuk ke dapur bersama Kei dan seorang yang baru datang. Adik tiri Shinrei, Hotaru.“Kenapa kau ada di sini?”Meski dulu sudah terbiasa dengan ucapan bernada ketus itu, tapi tetap saja mendengarnya terasa panas di hati.“Sesuka aku donk! Ini kan rumahku juga! Kayak kamu gak sering mampir di rumahku juga.” Balas Shinrei.Hotaru memutar matanya. “Setidaknya aku selalu menghubungi dulu.”Shinrei berdecih karena ia kalah berdebat di bahkan sejak awal ronde. Shiraishi tertawa kecil, ia mendudukkan Kei di kursi bayinya lalu mengambil mangkuk nasi untuk Hotaru.“Ayah…, ayah….”Shiraishi berhenti mengambil nasi lalu berbalik memandang Kei. Tangan Kei terlihat berusaha meraih Hotaru yang memunggunginya. Shinrei diam dan memandang Kei. “Ayah…, ayaah….”“Kei sudah bisa bicara!!” Ucap Shiraishi lalu mengeluarkan ponselnya.“Ayaah….” Shiraishi langsung merekam suara Kei yang masih terus memanggil Hotaru. Hotaru lalu berbalik dan meraih anaknya itu.“Ada apa sayang?”“Ayaaah!” Kei memeluk ayahnya itu. Shiraishi tersenyum senang. Shinrei menghela nafas.“Sejak dulu kata pertamanya selalu sama.” Ucap Shinrei. Hotaru menggaruk kepalanya.“Eh? Dulu?”“Iya bu…, biasanya kan kalau gak Ibu ya ayah kata pertama dari seseorang.” Jelas Shinrei mencoba mengalihkan. Ia lupa ibu tirinya tidak memiliki ingatan apapun tentang masa lalunya. Shiraishi tertawa kecil dan menyetujui ucapan Shinrei. Hotaru menghela nafas.“ayaah…, thu!! Thu!!” Kei menunjuk ke belakang tubuh Hotaru dengan panik. Hotaru berbalik, ia mengerjapkan mata lalu berlari dan dengan cepat memutus kabel listrik dengan pisau dapur. Shiraishi mengerjapkan matanya melihat tindakan cekatan anak pertamanya itu. Hotaru menghela nafas melihat kabel yang sedikit terbakar, ia memindahkan gendongan Kei pada ibunya lalu berjalan ke luar rumahnya.“Kau tidak apa kan? Gak kesetrum kan?” Tanya Shiraishi saat Hotaru kembali.“Tidak apa bu…, aku udah matiin listrik di rumah sementara.”“Bahaya juga, ya….” Ucap Shinrei yang sudah menyelesaikan makannya. Hotaru menghilangkan api yang timbul dengan kemampuannya lalu mencabut sisa kabel listrik yang masih tertanam di stop kontak. “..., sepertinya stop kontaknya yang rusak.” Ucap Hotaru setelah mencabut dan memperhatikan baik kabel maupun stop kontak. Hotaru mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang. “Yun-yun…, penanak nasi di rumah konslet….”Hotaru lalu berjalan ke ruangan lain.“Ayah….” Kei bergerak meraih Hotaru. Shiraishi harus pintar-pintar menjaga keseimbangannya agar cucunya tidak jatuh. “Kei sama nenek dulu, ya…, ayahmu lagi ngobrol.” Ucap Shiraishi.“Ne…, nek?” Shiraishi terharu.“Iya sama nenek dulu, ya.” Shiraishi mencium pipi mungil Kei.“Pulang nanti Yun-yun bakal bawa penanak nasi baru dan stop kontak yang baru.” ucap Hotaru yang sudah kembali. Kei langsung bergerak kembali meraihnya. Hotaru menghela nafas lalu menggendong Kei.“Terima kasih sayang.” ucap Shiraishi. Shinrei tertawa kecil melihat betapa berubahnya sang adik saat ibu tirinya itu masih hidup.“Mama, sebaiknya sekarang siapin makanan untuk Hotaru.” ucap Shinrei seraya menepuk lembut kedua pundak ibu tirinya dari belakang. Ibu tirinya itu sedikit lebih pendek darinya saat ini.“Oh, benar juga. Kau mau makan siang, kan Hotaru?” ucap Shiraishi lalu mengambil kembali mangkuk nasi yang sudah disiapkan. Hotaru duduk di meja makan seraya memangku Kei. Shinrei juga kembali duduk.“Aku masih penasaran kenapa mama menolak untuk tinggal bersama kami di istana.” ucap Shinrei. Shiraishi yang meletakan mangkuk nasi dan mangkuk nikujaga hangat di depan Hotaru, hanya tersenyum.“Mama sudah terbiasa di luar istana. Aturan-aturan di istana yang mungkin lebih ketat rasanya tidak cocok untuk mama.” jelas Shiraishi lalu duduk di samping Shinrei, di depan Hotaru.“lagipula kau akan kehilangan tempat bersembunyi kalau kita semua pindah ke istana.” tambah Hotaru. Shinrei tertawa canggung. Shiraishi tertawa kecil dan mengusap kepala Shinrei.“Kabarnya mama juga mau pindah ya?” tanya Shinrei lagi. Shiraishi tersenyum.“Gak akan jauh juga kok. Mama mau bikin apartemen di dekat daerah kantor dan mengelolanya bersama Yuan.”“Masalahnya di sana juga ada kuil. Agak khawatir juga dengan aktivitas di kuil maupun di apartemen akan terganggu, apalagi di tahap pembangunan seperti sekarang ini. Makanya hari ini Yun-Yun lagi bernegosiasi dengan pihak di sana.” jelas Hotaru.“Hmm…, tapi tetap aja mama pindah.” keluh Shinrei. Shiraishi mengusap kepala Shinrei.“Kamu masih bisa bertemu mama kok. Di rumah baru mama.”“Iya sih….” ucap Shinrei.“Toh, mama juga akan pindah nanti setelah apartemen jadi…, dan Hotaru sudah menikah.” ucap Shiraishi seraya mengusap kepala Hotaru. Hotaru menggaruk pipinya.“Shin…, menurutmu lebih baik Zakuro tahu dulu, atau sebelum tahu?” tanya Hotaru lalu melanjutkan makannya. Shinrei berpose berpikir. Kei ikut berpose. Hotaru tersenyum melihat anaknya itu sedang dalam masa-masa meniru.“Aku rasa sebelum tahu. Kalau sudah tahu…, kamu bakal ngerasa dia bersamamu hanya karena kasihan, kan?” Jawab Shinrei.“Tapi kalau nanti Zakuro sudah tahu dan malah minta berpisah dariku bagaimana?” Tanya Hotaru. Shinrei menghela nafas.“Aku rasa, selama dia masih sayang sama Kei…, kalian gak akan berpisah kok.”“Yha…, aku rasa itu benar.”~…~…~…~Touhaku menggendong Kei sembari berputar gembira. Kei tertawa-tawa senang. Kakek keduanya itu saat ini sedang berkunjung ke rumah Yuan. Touhaku datang untuk memberi laporan izin membangun apartemen untuk Yuan dan Shiraishi. Namun, ia juga punya tujuan lain selain memberikan dokumen itu.“Kakek?”“Waah!! Iya Kei, ini Kakek juga. Aduh…, cucu kakek manis sekali sih.” Touhaku mencium pipi tembam Kei yang mungil. Kei kembali tertawa riang.“Kakek!”Yuan dan Shiraishi hanya bisa menatap tingkah ayah kandung Hotaru itu yang sangat kegirangan bertemu dengan cucunya itu. Mereka mengerjapkan mata, menunggu Touhaku selesai berkangen ria dengan cucunya itu.“Ah…, maaf, aku lupa.” Ucap Touhaku lalu memangku Kei. Kei memukul-mukul kaki Touhaku dengan senang.“Err…, tidak apa.” Ucap Yuan. Touhaku dan Yuan lalu mulai membicarakan hal serius.Hotaru pulang setelah ia pergi menyelesaikan masalah yang ada di kerajaan Xixing, meski tetap saja belum selesai sepenuhnya. Ia bahkan merasa perlu adanya strategi khusus untuk menyelesaikan masalah itu. Hotaru mengerjapkan mata sejenak lalu menghela nafas.“Yaa…, Ayah!! Kakek, kakek! Dua kakek!!” Teriak Kei menghentikan pembicaraan serius Yuan dan Touhaku. Hotaru menghela nafas lagi, ia lalu tersenyum memandang anaknya yang duduk di pangkuan Touhaku.“Iya, dua kakek. Ayah mandi dulu, ya. Kamu main dulu sama dua kakek, oke?”“Yaaa!!” Kei berteriak senang. Hotaru tersenyum lalu melewati ruangan tempat kedua ayah dan ibunya berkumpul. Hotaru langsung berwajah datar dan berjalan menuju tangga rumahnya. Touhaku yang baru mendapat semua ingatannya beberapa hari lalu hanya memandang Hotaru.“Anak itu selalu begitu di rumah?” Tanya Touhaku.“Well, sejak….” Shiraishi memandang Kei yang menggapai-gapai gelas teh milik Touhaku. “Dia jadi seperti itu.”“Kei, bahaya, panas.” Ucap Yuan. Touhaku langsung memandang Kei dan menjauhkan gelas teh miliknya.“Padahal dulu dia anak yang murah senyum di rumah.” Lanjut Shiraishi.“Kembali seperti dahulu sekali, ya?” Gumam Touhaku. Yuan mengangguk.“Aku berpikir, mungkin karena masih trauma saja. Tapi, semakin ke sini, semakin jarang dia tersenyum dan ramah. Sekalinya senyum ramah…, hanya pada Kei dan Hirari saja.” Ujar Yuan.“Hm….” Touhaku bergumam memandang pintu tempat Hotaru keluar dari ruangan tadi.~…~…~…~Touhaku melipat tangannya dan secara terang-terangan mengamati anak keduanya itu. Touhaku tidak peduli anaknya itu akan risih, karena ia sendiri sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya mengamati tindakan sang anak kedua. Touhaku sudah ingat seluruh kehidupan lamanya. Termasuk saat dia dulu pernah berhadapan langsung dengan anak kedua yang dulu sangat dibencinya itu. Touhaku memang merasakan adanya perubahan dalam diri anak keduanya itu, yang akhir-akhir ini justru malah kembali seperti dahulu. Anak kedua yang dingin, tak berperasaan, serta…, wajah datarnya.“Jangan mengamatiku terus Touhaku-san…, secara langsung seperti itu lagi.” Komentar Hotaru yang akhirnya menyatakan ketergangguan dirinya. Touhaku menghela nafas.“Karena kamu aneh, nak.” ucap Touhaku. Hotaru memutar matanya.“Aku tetap aku.”“Tapi sifatmu berubah. Aku jujur lebih senang dengan sifatmu sebelum Kei terlahir.” ucap Touhaku. Hotaru menghela nafas. Ia menggaruk kepalanya.“Aku memang berubah, ya?”“Berubah banget. Dulu kamu itu ramah dan murah senyum. Sekarang…, kamu seperti pertama kita bertemu di saat zaman klan mibu.”“Begitukah?”“Ya! Persis seperti dulu! Bedanya tidak punya kebencian padaku saja.” Ujar Touhaku. Hotaru mengerjapkan matanya.“Sungguh?”“Nak….”“Soalnya…, aku merasa tidak berubah.”“Siapapun pasti merasa dirinya tidak berubah padahal ia berubah. Nak…, kamu berubah sejak Kei lahir…, apa kehadiran Kei terlalu membebanimu?” tanya Touhaku. Hotaru menggaruk kepalanya lagi.“Tidak Touhaku-san…, di kehidupan terdahulu aku sudah mendapatkan Kei dan aku mengurus serta membesarkannya dengan baik. Setidaknya itu yang Shinrei sering katakan padaku.”“Lalu apa yang mengganggumu? Traumamu pada wanita? Well, kakekmu sudah memberimu pengobatan terbaik agar kau melupakan traumamu. Setidaknya berusahalah sungguh-sungguh.”“Aku selalu berusaha sungguh-sungguh. Dan sekarang…, aku sudah cukup biasa jika harus bertemu perempuan.”“Lalu apa yang membuatmu seperti ini?”“Aku tak tahu…, Mungkin karena aku sudah ingat semua masa laluku..., aku kembali seperti di masa lalu.” ucap Hotaru. Touhaku menghela nafasnya, ia menarik kepala anak keduanya itu ke bahunya.~…~…~…~Hotaru memakaikan baju jas pada Kei yang terus menerus melihat cermin. Kei dengan gembira berputar setelah selesai berpakaian. Hotaru lalu berbalik dan menggandeng tangan anaknya itu menuruni tangga. Hotaru dengan perlahan menuntun anaknya yang baru saja berulang tahun yang pertama turun dari tangga. Setelah sampai di tangga terakhir, Kei melompat dengan senang dan tertawa sembari menggerakkan tangannya. Seolah sedang bertepuk tangan. Hotaru lalu memandang Shinrei, Saisei, dan Saishi yang sudah siap sedang duduk di sofa ruang tamu.“Beneran kita diundang?” tanya Saishi sedikit ragu.“Aku juga tidak yakin. Tapi Zakuro-senpai bilang seperti itu.” jawab Shinrei.“Isinya pasti kakak angkatan yang jauh lebih tua dari kita semua.” keluh Saisei.“Kei jangan berisik di sana, ya?”“Iya ayah….”“Anak pintar.” Hotaru mengusap kepala Kei yang terlihat sangat ceria. Saisei merinding melihat tingkah Hotaru saat ini. Saisei berbisik pada Shinrei.“Sekarang aku mengerti kenapa kau bilang dia berubah drastis banget kalau ingat dulu dia bagaimana.” ucap Saisei.“Sekarang udah mendingan…, karena dia udah berubah sedikit saat ibu kandungnya masih hidup. Coba dulu…, tiap-tiap hari aku berpikir dunia diambang kiamat.”“Ayo kita berangkat.” ucap Hotaru. Saishi melompat berdiri dan mendekati Kei.“Keikoku…, bibi Saishi gendong mau, ya?” Saishi tersenyum. Kei mengangkat tangannya ceria. Saishi langsung menggendong anak temannya itu.“Maaf merepotkan, Saishi. Kalau Zakuro bisa…, dia yang akan menjaga Kei.” Ucap Hotaru lalu berjalan menuju ia memarkirkan mobil.“Tak apa Hotaru. Latihan juga kalau aku bakal punya anak nanti.”“..., kamu sih punya pasangan dulu, baru belajar punya anak….” kekeh Hotaru.“Mou! Kamu sendiri punya anak dulu baru pasangan!” Keluh Saishi. Hotaru menggaruk kepalanya, ucapan Saishi memang ada benarnya.“Ngomong-ngomong…, kau sudah bisa nyetir? Sejak kapan?” Tanya Saisei. Saisei mengunci pintu rumah mereka lalu berjalan menuju mobil. Shinrei menghela nafas.“Sejak sebulan lalu, Kakek dan Yuan-san mengajarinya mengendarai mobil. Dan dalam waktu seminggu Hotaru sudah dapat sim mengemudi.” Ucap Shinrei.“Raja bilang kamu masih panik-an. Masih bahaya ngendarain mobil.” Balas Hotaru. Shinrei mengambil tempat duduk di depan.“Maaf deh!” Keluh Shinrei. Saisei, Saishi dan Kei duduk di kursi belakang. Setelah semua siap Hotaru mengendarai mobil itu menuju jalan bebas hambatan langsung menuju Kerajaan Pusat.“Ini akan jadi pertama kalinya kau bertemu kakak Zakuro-senpai…, jadi kau harus bisa membuat sikap baik di depannya kalau mau meminang Zakuro-senpai.” Ucap Shinrei. Hotaru menghela nafas.“Iya aku paham, kok. Sekarang hanya dia satu-satunya keluarga yang dipunyai Zakuro.”~…~…~…~“MAU MAKAAN!!! HUAAA!!!”“Astaga Kei…, ayah kan sudah bilang jangan berisik.” Hotaru lalu menggendong Kei dan keluar dari aula pernikahan.Hotaru duduk di kursi penerima tamu yang kosong, lalu menenangkan anaknya yang terus menangis. Hotaru mencubit pipi anaknya lembut lalu mencium puncak kepalanya. Hotaru menghela nafas pasrah saat anaknya semakin kencang menangis.Saisei keluar sembari membawa kue kecil yang tadi tersedia. “Sudah, Kei jangan nangis lagi ya. Ini kue….”“Maaf merepotkan Saisei.” Ucap Hotaru lalu memposisikan Kei agar duduk lebih nyaman. Kei menggerakan tangan dan kakinya, mencoba menggapai piring berisi kue kecil.“Kau ini…, bagaimana bisa Kei melakukan ini di depan calon kakak iparmu?” Keluh Shinrei yang juga keluar.“Kenapa aku? Aku gak bisa mengontrol Kei.”“Dulu sekali kau bisa menghentikan tangisan Kei! Kenapa sekarang malah tidak bisa?”“Mana aku tahu!” Balas Hotaru tak kalah sengit. Saisei memutar matanya, ia menyuapi Kei yang terlihat senang sekali memakan kue itu.“Mou…, kalian malah bikin ribut di depan pintu! Sudahlah!” Keluh Saishi. Hotaru dan Shinrei berpandangan lalu menghela nafas bersamaan.“Rasanya malu sekali.” gumam Hotaru pasrah.~…~…~…~“Wah…, kita baru menikah tapi langsung punya calon keponakan, ya.” Kekeh perempuan itu. Dilihat sekilas, wajahnya tidak jauh berbeda dengan Zakuro, hanya saja rambut hitamnya dipotong pendek. Perempuan itu adalah kakak Zakuro. Miyazawa Keiko, atau yang sekarang resmi bernama Ozawa Keiko.“Nama kakak dengan Kei juga mirip kok! Cuma beda ‘ku’ di belakangnya.” Tawa Zakuro."Cara bacanya doank kan? Lagipula aku dengar Keikoku menggunakan Hanzi, bukan Kanji." tawa Keiko. Zakuro melirik Hotaru yang mengangguk mengiyakan pernyataan Keiko soal nama anaknya itu. Keiko tersenyum pada adik dan kekasih adiknya itu lalu mencoba menggendong Kei yang sedang duduk memainkan tas bonekanya. Kei langsung memberontak.“HWAAA!! AYAH! AYAAAH!!!” “Kei! Jangan gitu sama bibi!” bentak Hotaru lalu mencubit pipi Kei. Kei mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu kembali memberontak. Hotaru menghela nafasnya. “Maaf kak….”“Ahaha, tidak apa, tidak apa.” ucap Keiko. Hotaru memeluk Kei lalu mencubit kedua pipinya.“Apa yang ayah bilang tadi Kei? Jangan nakal sama Bibimu! Kau gak sayang ayah?” bentak Hotaru.“..., Kei…, Kei cayang ayah….” Kei mulai merengek.“Makanya dengerin kata ayah!” bentak Hotaru lagi. Kei mengangguk sembari sesengukan. Ia memeluk Hotaru dengan satu tangannya erat. Hotaru menghela nafas. Zakuro tertawa kecil.“Untuk yang satu ini kamu enggak berubah.” bisik Zakuro. Hotaru memutar matanya.~…~…~…~Ryuhei membawa sebuah buku pada Hotaru. Buku bersampul hitam dan putih itu terlihat sedikit tebal. Ryuhei memandang tajam pada cucunya itu. Hotaru hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ryuhei meletakan buku itu di depan Hotaru lalu menatapnya tajam, mencoba menguliti cucunya itu. Yang tentunya sangat sulit untuk dikuliti.“Kenapa kau baca buku terlarang ini nak?!” tanya Ryuhei menahan amarahnya. Hotaru menghela nafas.“Shodai-sama memberikannya padaku kan? Kenapa ada di tangan kakek?”“Aku tahu! Tapi seharusnya kau tidak membacanya!”“Kenapa tidak boleh? Apa karena isi buku itu?”“Benar!”“Kenapa aku tidak boleh melihat isi buku itu?! Apa karena…, Kei?” Ryuhei langsung membeku. Hotaru menghela nafasnya. “Benar, ya?”“Belum tentu Kei….”“Memang belum tentu…, tapi saat aku melihat ciri-ciri sang kejahatan dan sang kebaikan…, Kei cukup cocok untuk salah satu ciri dari mereka.”“Yang mana?! Yang mana yang….”“..., sang kejahatan.”Ryuhei jatuh terduduk. Hotaru bangkit dan memeluk kakeknya itu. “Aku akan menjaganya, Raja. Ini tanggung jawabku sebagai ayahnya.”“Tapi…, ini tidak mungkin…, selama 10 generasi…, Kerajaan selatan selalu mendapat sang kebaikan, termasuk dalam generasiku…, kenapa di generasimu….”“Aku mendapatkan Kei saat masih di kerajaan Utara. Wanita itu…, lalu memindahkan tempat menyekapku di kerajaan Xixing. Dan…, kembali menyiksaku.” Hotaru menarik nafasnya yang tertahan saat menceritakan hal itu. Ryuhei menghela nafas lalu mengusap punggung cucunya yang masih memeluknya.“Akari-san juga dikasih buku yang sama. Tapi ternyata tidak berguna, ya. Sang kejahatan dan sang kebaikan sepertinya…, dua-duanya akan ada di kerajaan yang sama.”~…~…~…~Ryuhei datang bersama Hotaru menuju kerajaan HongLobo. Xia Ju-Long menyambutnya bersama istri dan anak-anaknya. Hotaru menurunkan Kei dari gendongannya agar Kei bisa bermain dengan Kaizo. Hotaru mengernyit melihat sosok anak lain yang ada di sampingnya.“Bukannya kau baru punya seorang anak?” tanya Hotaru. Raja Ju-Long tersenyum manis.“Ini anak tiriku. Kazan, istriku…, dulu sudah melahirkannya. Anak ini sampai seminggu lalu tinggal bersama ayah kandungnya.” Anak berambut hitam kemerahan itu memaksakan senyum. Raja Ju-Long mengusap kepala anak itu dan memeluknya. “Sudah tidak apa. Kamu tetap bisa jadi anakku.”“Iya papa.”“Papa? Kenapa bukan ayah? Ayah….” tanya Kei. Hotaru mengusap kepala Kei.“kalau di sini ayah dipanggil papa. Dan ibu di panggil Mama.” jelas Hotaru.“Hoo…, kalau kakek dicini?” Kei menunjuk Ryuhei. Ryuhei tertawa kecil.“Nanti saja kakek jelasin, ya…, Keikoku main sama Kazan dan Kaizo dulu, ya? Kakek dan ayahmu mau kerja.”“Iya!” Kei lalu mendekati Kaizo dan Kazan. Kazan tersenyum senang lalu ia bermain dengan kedua adiknya itu. “Ka-nii belumul 4 taun, ya?”“Kok tahu, Kei?”“Habis Ka-nii tingginya cama kayak ayah waktu umul lima taun di poto.” Tawa Kei. “Ijo udah bica omong?”“Belum lancal sepeltimu. Beljalan saja masih miling-miling.” kekeh Kazan. Kaizo memukul kakaknya itu lalu merengek. Kazan tertawa kecil lalu mengusap kepala adiknya.“Tapi Ijo udah ngelti. Hebat!” Ucap Kei senang.“Yoko. Tolong jaga dia. Yutori, kau yang bersamaku.” Ucap Hotaru pada pengawal nomor satu dan duanya. Kedua pengawal itu berposisi hormat lalu menempati posisi masing-masing.~…~…~…~“Anak kebaikan, ya? Aku tidak yakin kalau kerajaan ini akan memiliki anak kebaikan. Apalagi…, biasanya anak kejahatan lahir sekitar 3 sampai 4 tahun lebih dahulu dari anak kebaikan.” Ucap Ju-Long. Hotaru membuka buku yang kemarin di katakan itu.“Memang…, dan Kei sudah satu tahun…, jadi aku rasa anak kebaikan mungkin akan lahir juga dalam waktu dekat. Makanya aku meminta agar setiap kerajaan mungkin bersiap akan kelahiran si anak kebaikan.” jelas Hotaru.“..., Kenapa dengan Kei yang sudah berumur satu tahun? Apa hubungannya dengan anak itu?” tanya Ju-Long. Ryuhei menggenggam tangan semakin erat..“Karena Kei…, mungkin anak kejahatan itu.”“Mu, Mustahil!?”“Ini masih kemungkinan…, toh kalau benar anak itu anak kejahatan…, dia bukan anak kejahatan murni. Dia masih memiliki darah kebaikan.” Jelas Ryuhei.“Karena menurut siklus…, anak kejahatan akan ditemukan di kerajaan Utara saat ini. Tapi, seandainya Kei benar anak kejahatan…, berarti si keturunan kejahatan salah memilih orang.” Ucap Hotaru dengan senyum penuh kemenangan. Ju-Long ikut tersenyum.“Justru kalau si anak kejahatan punya setengah gen anak kebaikan…, dia akan lebih mudah diatur.” Ucap Ju-Long. Hotaru tersenyum semakin lebar.“Hanya kamu raja yang langsung mengerti jalan pikiranku.” Ucap Hotaru.~…~…~…~Hotaru menggaruk kepalanya. Ia saat ini bingung dengan buku yang ia baca. Hotaru sesekali melirik anaknya, yang sedang bermain dengan satu-satunya orang paling berbeda dari planet Mibu itu. Sang personifikasi negara yang telah mati, Prussia. Ada beberapa buku yang menyatakan bagaimana bisa seorang ‘manusia bumi’ pindah ke planet ini secara misterius. Portal. Portal yang terhubung tiap beberapa tahun sekali itu terkadang bisa membawa manusia bumi ke tempat mereka dan bahkan kebalikannya. Ia dulu memang seorang dari bumi, tapi ia saat ini lahir dan tinggal sebagai makhluk penghuni planet ini.“Biasanya…, apa yang terjadi setelah sebuah negara hilang, Puroisen?” tanya Hotaru.Prussia yang sudah bisa berbahasa planet itu pun akhirnya kembali ke kerajaan selatan. Ia ingin mengabdi pada Hotaru yang saat itu berhasil menyelamatkannya dari kebingungan dan kesendiriannya. Meski ia sejak dulu sudah terbiasa sendirian. Prussia memajukan bibirnya.“Aku akan bergabung dengan negara-negara yang telah mati ke tempat yang disebut sebagai surga personifikasi negara. Kesese…, aku dengar di sini tidak ada Surga maupun Neraka ya?”“Karena disini yang menghukum dan mengampuni mempunyai siklus lahir. Berbeda dengan di bumi yang mereka memiliki semacam kerajaan abadi mereka.” Jelas Hotaru. Ia melirik anaknya lagi. Prussia menghela nafas, wajahnya berubah serius.“Mungkin memang aku melewati portal itu.” ucapnya. “Dan kalau kita bisa menemukan portalnya lagi, apa kau akan pergi?”“Paman mau pulang? Huhuhu….” Kei menangis lalu memeluk Prussia. Prussia tertawa kecil.“Kesese…, paman masih akan bermain denganmu.” Prussia mengusap lembut kepala Kei.“Kita lanjutkan di rumahku nanti.”~…~…~…~Hirari langsung menggendong Kei dan membawanya ke ruangan lain bersama ibunya. Kei terlihat sangat gembira saat pulang dan disambut oleh paman kecil dan neneknya. Yuan meletakan tiga cangkir teh di meja lalu duduk di hadapan Prussia. Hotaru duduk di sampingnya. Prussia terkekeh. “Aku lebih terkesan kalau kalian memberiku beer.”“Aku masih belum boleh minum. Bertahanlah sampai Yun-Yun pindah ke apartemen yang akan dikelolanya.” ucap Hotaru.“Ha?”“Peraturan disini tidak membolehkan anak dibawah 18 tahun untuk minum minuman seperti Beer atau Wine. Meski Hotaru baru saja berumur 18, dia masih belum boleh meminumnya. Tepatnya dilarang istriku.” jelas Yuan sembari memandang foto keluarga yang terpajang di dinding. Hotaru berdeham.“Baiklah. Kita mulai saja perundingannya.” ucap Hotaru lalu memperbaiki posisi duduknya. “Seandainya aku berhasil menemukan portal menuju bumi…, apa yang akan kau lakukan, Puroisen? Kembali ke Bumi meski kau tidak tahu kapan dan di mana dirimu nantinya? Atau…, tinggal disini?”Prussia terkekeh ia merebahkan punggungnya lalu memandang burung kecil yang selalu setia di sampingnya. Burung itu sebelumnya adalah burung abadi, tetapi ia memilih mati bersama Prussia. Hotaru merasa dejavu melihat Prussia yang seperti sedang berbicara dengan burung kecil itu.“Jadi gimana burung awesome ku?” Dan memang diajaknya bicara.Yuan jatuh dari sofa, Hotaru melihat Yuan dengan wajah tetap datar, meski sepertinya Hotaru tetap sedikit terkejut saat Yuan tiba-tiba saja jatuh dari sofa. Burung kecil itu berkicau dan Prussia mengangguk-angguk seolah mengeri.“Terlalu beresiko kalau aku berada di ‘waktu’ yang salah. Kalau aku kembali ke masa lalu nanti akan ada dua Prussia. Kalau aku datang ke masa depan…, aku takut west akan menemukanku. Aku jadi lebih memilih tinggal.” ucap Prussia akhirnya.Yuan langsung mengulurkan tangannya di depan Hotaru. Hotaru berwajah kesal sembari memberi beberapa lembar uang. Prussia berteriak seolah melihat perbuatan yang salah. “Jangan kaget begitu, Preussen-san…, kami memang bertaruh dan aku menang.”“Kau menang hanya karena beruntung.” Keluh Hotaru. Prussia lalu tertawa sendiri.“Jadi Hotaru-sama merasa aku akan pulang hm?”“Aku yakin kau pasti kangen dengan planetmu dulu itu.”“Kesese…, aku memang kangen…, tapi tidak awesome kalau aku sampai masuk ke waktu yang salah di Bumi.”“Yha…, kau ada benarnya.” Ucap Hotaru. “Lalu kalau kau tinggal di planet ini…, kamu harus bekerja sendiri. Kami tidak mungkin menampungmu secara cuma-cuma terus menerus.”“Jadi, jadi…, kau inginnya jadi apa Preussen-san?”Prussia melirik burungnya lagi. Tak sampai selama tadi, Prussia berdiri sembari berpose ‘awesome’ menurutnya. “Aku yang awesome ini ingin jadi public figure! Kesese!!”Prussia kembali duduk. “Awalnya….”Hotaru yang baru akan memberi uang lagi pada Yuan langsung berhenti. Yuan juga penasaran dengan kelanjutannya. “Awalnya?”“Kesese…, iya awalnya…, tapi aku yang awesome ini sadar…, aku tidak punya kemampuan apapun sebagai public figure. Selain wajah awesomeku ini.” Prussia memajukan bibirnya berpose ‘awesome’ menurutnya. Hotaru dan Yuan menunjukan wajah meragukan. Prussia memajukan bibirnya merajuk melihat reaksi kedua orang di hadapannya itu.“Mungkin aku akan bekerja di pemerintahan. Aku punya banyak sekali ilmu untuk pemerintahan. Berdasarkan pengalamanku menjadi sebuah negara, aku tahu mana pilihan buruk dan mana pilihan baik untuk kelangsungan hidup negara. Jadi, aku putuskan akan bekerja di bidang pemerintahan. Jadi nanti kita akan bertemu lagi, Hota….” Prussia diam melihat tindakan yang dilakukan ayah dan anak di depannya.Hotaru mengambil kembali uang yang ia berikan sembari tersenyum penuh kemenangan, sementara Yuan berdecih kesal. Prussia kembali berteriak. “Iya kita masih bertaruh mengenai jawabanmu, Puroisen-san.”“Kalian….”“Hahaha…, jangan marah begitu Pruessen. Kan kamu tidak dirugikan.”“Benar juga sih.” Ucap Prussia sembari memajukan bibirnya agak sebal. Prussia teringat sesuatu. “Oh, ya…, kalian bisa memanggiku Kousaka. Mengingat kalian kesulitan sekali memanggilku dengan nama negaraku. Preußen.”“Kousaka?”“Iya, dari kata Kou (Tinggi) dan Saka (Lereng). Sepertinya sangat awesome untukku” ucap Prussia.“Kousaka, ya…, boleh juga.”
----- CHAPTER BREAK -----
Kei mengangkat tangannya melihat dua bayi yang tidur di ranjang mungil mereka dari balik kaca rumah sakit. Umur Kei yang sebentar lagi genap 3 tahun terlihat sangat bersemangat memandang kedua bayi mungil itu. Kei berbalik dan memandang sang ayah yang menggendongnya. Kei memeluk ayahnya dengan erat lalu memejamkan matanya. Kei dapat merasakan pelukan sayang sang ayah menguat. Hembusan nafas sang ayah di keningnya serta kecupan singkat dari sang ayah membuat Kei semakin nyaman.
“Kakakku sudah bisa ditemui, Hotaru.” ucap perempuan yang datang dari samping kanannya. Kei langsung bergerak ke depan menggapai perempuan itu. Sang ayah kesulitan menjaga anaknya itu untuk seimbang dalam gendongannya. Perempuan itu mempercepat langkahnya lalu membantu ayah Kei dengan membuat Kei berada dalam gendongan perempuan itu. Kei tertawa sembari memeluk perempuan itu.
“Hm…, kalau begitu aku temui dia sekarang. Kei…, kamu sama Mama Zakuro dulu, ya. Liat adik-adik sepupumu.”
“Iya ayah!” Kei tersenyum senang. Sang ayah mengusap kepala anaknya itu dengan lembut.
“Semoga kau mendapat restu kakakku, Hotaru.”
“..., aku harap juga begitu…, tapi kamu benar yakin mau menerima Kei ju….”
“Hotaru…, kita udah bicarain ini lebih dari 7 tahun! 4 tahun di masa lalu dan 3 tahun dimasa ini! Dan jawabanku enggak berubah!”
“..., iya…, aku hanya…, tidak mau kau berubah pikiran.”
“Mou! Memangnya selama ini aku berubah pikiran?”
“..., enggak sih.”
“Kalau begitu, tunggu apa lagi?”
“Iya, iya.”
Kei tertawa kecil melihat keakraban kedua orang itu. Ia masih memeluk sang perempuan, ia mulai mengantuk. Ia menyamankan diri di pelukan perempuan itu lalu mencoba tidur.
Zakuro tersenyum melihat Kei yang terlihat nyaman tidur di pelukannya. Ia memeluk Kei dengan lembut. “Seandainya kamu lahir dariku, mungkin Hotaru tidak akan sebimbang ini.”
Zakuro memandang jendela besar di depannya. Bayi kembar yang menjadi keponakannya itu tertidur dengan nyaman. Zakuro jadi membayangkan kalau ia yang memiliki bayi kembar di hadapannya itu. Zakuro tertawa kecil membayangkan betapa ia, Kei dan Hotaru akan kerepotan mengurus kedua bayi kembar mereka. Ia juga membayangkan betapa cemburunya Kei saat ia lebih memperhatikan bayi-bayi mungil itu.
“Mama!!” Kei yang memekik dan mendadak gelisah di pangkuannya menyadarkan Zakuro dari lamunannya. “Panggil ayah! Kei mau pipis!!”
“Aah, ayo-ayo mama aja yang temani.”
“Gak mau!! Maunya ayah!!! Mama gak boleh liat Kei pipis!” Zakuro tertawa kecil.
“Kok gak boleh sih? Gak apa kan sama mama.” Zakuro tetap menggendong calon anak tirinya itu dan membawanya menuju toilet.
“Kei udah besal! Kata ayah, mama udah gak boleh liat Kei pipis lagi!”
“Tapi kata mama, mama masih boleh liat sampai Kei udah bisa ngomong R dengan sempurna. Hmm….”
“Tapi…, ayah….”
“Nanti mama yang bilang ke ayahmu, ok?” Zakuro menurunkan Kei tepat di depan kloset duduk.
“Tapi mama tetep gak boleh lihat!” Kei berbalik dan menutup wajah Zakuro dengan satu-satunya tangan mungilnya. Zakuro tertawa ia memejamkan matanya. Zakuro membuka matanya lagi, memandang anak tirinya yang kesulitan membuka celananya.
“Sini mama bantu.”
“Iih! Mama gak boleh lihat!” Wajah Kei sedikit memerah. Zakuro tertawa.
“Nanti setelah bantu Kei buka celana.”
Kei cemberut mendengar ucapan dan tindakan calon ibu tirinya itu. Zakuro membuka resleting celana Kei lalu kancingnya, ia pun menurunkan dalaman yang dikenakan Kei. Zakuro lalu menutup mata. Kei langsung saja melakukan panggilan alam kecilnya itu. Setelah selesai Kei menekan tombol pembilas lalu mengambil dalamannya, mau di pakai kembali.
“Udah dibersihin belum?” Tanya Zakuro masih memejamkan matanya. Kei memiringkan kepalanya.
“Bersihin?”
“Iya, donk.” Zakuro membuka matanya lalu mengambil tisu yang ada di kanannya. Kei langsung mengambil tisu itu.
“Mama masih gak boleh liat!”
“Iya, iya.” Zakuro tertawa lalu memejamkan matanya lagi. Kei membersihkan dirinya lalu kembali mengambil dalamannya. Zakuro membuka matanya lalu tersenyum melihat Kei yang berusaha memasang celana panjangnya. “Sudah?”
“Belum….”
“Mau mama bantu?”
“Gak usah!!”
“Tapi udah ada yang mau pakai lho. Mama bantu biar cepat ya?” Kei berbalik dan melihat perempuan lain yang sedang menunggu. Kei cemberut tapi membiarkan Zakuro memakaikan celana panjangnya. Zakuro tersenyum lalu menuntun anaknya keluar dari bilik toilet. Zakuro tersenyum pada perempuan yang terlihat ingin memakai toilet dan mempersilahkannya untuk masuk. Zakuro lalu membimbing Kei keluar dari kamar mandi.
“Kei mau makan.” ucap Kei lalu memegang perutnya. Kei lalu berlari, untungnya Zakuro berhasil meraih pundak anak tirinya itu.
“Jangan buru-buru. Kita tunggu ayahmu, ya. Ayahmu juga pasti mau makan.”
“...,iya!” Kei mengangguk senang lalu berputar-putar di depan tempat duduk.
Tak lama Hotaru dan kakak ipar Zakuro itu muncul dan berjalan ke arah mereka. Kei segera berlari dan memeluk ayahnya itu. Kei merajuk pada ayahnya itu untuk membeli makan. Hotaru menghela nafasnya lalu melirik kakak ipar Zakuro itu. Ozawa Kazuhiro, suami dari kakak Zakuro itu menepuk punggung Hotaru beberapa kali lalu berbalik menuju arah datang mereka tadi. Hotaru menundukkan kepalanya.
~…~…~…~
Zakuro menghela nafas…, Hotaru terlihat enggan membicarakan mengenai persetujuan kakaknya. Zakuro jadi berspekulasi mengenai kakak dan kakak iparnya menolak lamaran pacarnya itu. Apalagi saat melihat reaksi kakak iparnya tadi. Hotaru bahkan terlihat sangat lesu saat tadi datang. Zakuro menyumpit makanannya dan memasukannya ke dalam mulutnya, ia terus memandang kekasihnya yang sedang menyuapi Kei. Anak dari kekasihnya dan pelacur tak tahu adab. Zakuro tahu sekali, kekasihnya itu tidak suka merasa dikasihani…, tetapi Zakuro malah merasa ia perlu mengasihani orang sepertinya. Terutama, ia kasihan pada kekasihnya yang harus menanggung hasil perbuatan wanita biadab itu sendirian.
Zakuro menyumpit makanannya lalu mendekatkan sumpitnya pada Hotaru. Reaksi terkejut jelas terpatri di wajah Hotaru. Hotaru menghela nafas lalu membuka mulutnya dan menerima suapan Zakuro. Zakuro tersenyum melihatnya. Biarlah kakaknya menolak lamaran kekasihnya itu, asalkan ia bisa bersama terus dengan kekasihnya, ia sangat sudah bahagia.
“Setelah ini…, aku akan pulang ke kerajaan selatan. Mencarikan rumah untukmu tinggal di kerajaan yang sama denganku.” Ucap Hotaru.
Zakuro memang baru saja lulus kuliah, ia yang sejak masuk kuliah tinggal menumpang di rumah Yuan yang ada di kerajaan utara itu sudah harus meninggalkan tempat itu. Lagipula, baik Shinrei dan si kembar Saishi dan Saisei memutuskan untuk berkuliah di kerajaan pusat. Zakuro harus mencari kerja jika ia tidak akan segera menikah. Namun, pertama-tama ia masih harus mencari uang untuk membeli rumahnya sendiri. Uang warisan ayahnya dan sebagian uang kerja kakaknya itu masih cukup untuk menghidupi Zakuro selama ia belum bekerja. Namun, untuk membeli rumah itu sangatlah tidak cukup. Zakuro merasa sedikit malu saat meminta pertolongan kekasihnya itu mencarikannya tempat tinggal. Meski ia berharap Hotaru akan segera melamarnya, kakak juga kakak iparnya menerima, lalu memberinya kehidupan baru.
“Atau kau mau tinggal di apartemen milik Yun-yun dan ibuku? Mereka juga tinggal disana sekarang. Hanya aku dan Kei yang saat ini tinggal di rumah dekat istana.” Ucap Hotaru seraya mengeluarkan selebaran yang dibuat ayah dan ibunya untuk promosi apartemen mereka yang baru jadi beberapa bulan lalu. “Aku harus tanya ibu dulu apa masih ada kamar kosong atau tidak.”
“Apa tidak merepotkan? Aku belum bisa membayar sewa lho. Aku belum mendapat pekerjaan.”
“Ibuku pasti senang, jadi aku rasa tidak akan merepotkan.”
“Pendapatmu saja, kan?” Ucap Zakuro lalu menghela nafas panjang. “Aku sebenarnya memang lebih memilih apartemen sih…, selain aku masih sendiri, biaya sewa apartemen masih lebih murah daripada membeli rumah.”
“Kalau begitu, aku akan segera tanya ibuku soal kamar kosong.”
Zakuro menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kadang, ia merasa bersalah karena ia meminta bantuan pada orang yang saat ini sedang menderita. “Terima kasih, Hotaru.”
~…~…~…~
Keiko langsung memeluk adik satu-satunya itu, saat Zakuro akhirnya masuk kembali menjenguknya. Keiko tersenyum jahil seraya mencubit pipi adiknya itu. “Jadi kapan kalian akan segera menikah adikku? Melihat kelesuanmu, sepertinya kamu dan dia berselisih pendapat soal tanggal.”
Zakuro membelak. Ia melepaskan diri dari kakaknya lalu memandang kakaknya yang tertawa ceria. “Eh?”
“Fufufu…, jangan malu-malu…, aku yakin kalian tadi lama karena berselisih paham.” Jelas Keiko seraya tertawa menggoda lalu melirik suaminya yang ikut tertawa lembut.
“I, iya…, dan kita berselisih paham soal tempat juga.” Ucap Zakuro berbohong. Ia memajukan bibirnya lalu melipat tangannya, berpura-pura sebal. Dan memang ia sedikit sebal pada Hotaru yang membuatnya salah paham. Kakak-kakaknya menerimanya, itu berarti Hotaru lesu bukan karena itu.
“Ah, benar juga. Dia juga bingung kalau dalam waktu dekat kalian akan menikah. Kakakmu mungkin sudah bisa pergi jalan-jalan, tapi kedua bayi kami mungkin belum bisa.” ucap Suami Keiko itu.
“Benar juga…, dia bahkan bingung kalau mengadakan acara di sini, itu berarti ia harus mengundang seluruh keluarga besar ayah tirinya, dan ayah kandungnya yang merupakan penasihat sekaligus menantu raja kerajaan selatan. Itu berarti seluruh kerajaan selatan utama wajib datang…, Tapi, tidak mungkin membiarkan kerajaan selatan utama kosong tanpa pemerintahan, kudeta bisa terjadi.” Jelas Keiko.
‘Dan Hotaru-sama bakal batal jadi raja selatan kalau terjadi kudeta saat mereka semua meninggalkan daerah kerajaan selatan.’
Lanjut Kazuhiro dalam hati.
Kazuhiro memang tahu kalau Hotaru adalah pewaris utama kerajaan selatan. Saat dulu ia bekerja sebagai seorang chef pembantu saat pesta pelantikan raja pusat, ia mengetahui kebenarannya. Saat Hotaru dilantik sebagai pewaris utama kerajaan selatan, dia sedang keluar memindahkan dan menata makanan untuk para tamu undangan, itu sebabnya ia tahu rahasia Hotaru sang pewaris kerajaan selatan. Ia tidak berencana untuk memberi tahu istri dan adik iparnya soal hal itu. Ia yakin Hotaru pasti memilih adik iparnya karena ketidak tahuan adik iparnya itu.
‘Untung aku benar menebak kenapa Hotaru lesu.
’ Batin Zakuro. “Iya…, dia bilang begitu…, dan aku jadi bingung juga memberi solusi. Kalau menunggu setahun lagi, Hotaru takut aku berubah pikiran. Padahal aku rasa pasti Hotaru sendiri yang takut dia sendiri berubah!”
“semoga saja Ayaka dan Haruka bisa berjalan lebih cepat.”
“Benar…, supaya kita bisa mendampingi adik dan adik iparku ini.”
~…~…~…~
“Kenapa gak bilang apapun soal lamaranmu diterima?! Aku pusing tahu harus membuat beberapa kebohongan pada kakakku! Karena aku mengira kau ditolak kakakku!!!” keluh Zakuro melalui sambungan telepon di rumah keluarga kakaknya itu. Ia memang diminta tinggal sementara oleh Kakaknya di rumahnya, sebagai penjaga rumah mereka.
“Maaf.”
“Harusnya kamu bilang padaku!”
“Iya…, aku akan bilang.”
“Hotaru…, aku tidak masalah kalau pernikahan kita akan berlangsung lebih lama karena kondisi kakakku yang masih lemah setelah melahirkan…, tapi….”
“Kakakmu sehat banget, kok. Yang aku masalahkan hanya anak-anaknya. Aku sudah memikirkannya dan bertanya sama ibuku. Aku rasa anak-anaknya baru bisa dibawa pergi setelah 6 bulan. Saat itu aku juga membawa Kei dan Kei tetap baik-baik saja. Jadi…, mungkin 6 bulan lagi kita menikah.”
“Hotaru!! Aku juga berhak memutuskan!”
“Tapi….”
“Kau masih tidak percaya padaku?! Mou Hotaru!”
“ …, maaf.”
“MOU!! POKOKNYA BESOK KITA KETEMU LAGI DAN MEMBICARAKAN SEMUANYA DARI AWAL!”
“Tapi besok aku akan ke kerajaan Xixing. Mela…, menemani ayah dan Raja melantik raja baru yang terpilih secara perdana oleh rakyatnya.”
“Ugh…, kalau begitu Lusa.”
“Aku memang datang ke kerajaan pusat…,tapi dalam rangka Shinrei memintaku menjadi objek dalam kegiatan kuliahnya. Jadi aku gak pasti bisa menemanimu.”
“Mou! Terus kapan kau dapat waktu kosong?!”
“Mungkin minggu depan.”
“Lama banget…, Ugh! Berarti kalau lusa kamu enggak sempat, minggu depan kita bertemu lagi!”
“Baiklah.”
Zakuro menutup sambungan teleponnya lalu melempar ponselnya ke arah ranjang. Zakuro masih kesal, tapi ia bersyukur Hotaru diterima di keluarganya. Sudah sejak lama keluarga Hotaru menerimanya, bahkan keluarga tiri Hotaru yang merupakan keluarga kerajaan selatan utama malah meminta mereka untuk segera menikah. Sehingga Zakuro tidak khawatir lagi tentang keberadaannya. Zakuro mendadak teringat sesuatu. Ia mengambil ponselnya sembari tiduran di ranjang.
“Ada apa lagi?”
tanya Hotaru dengan nada lesu sekaligus pasrah.
“Enggak…, aku berpikir, lebih baik aku tinggal di rumahmu sekarang.”
“Ha?”
“Kita akan menikah bukan? Tidak masalah kan kalau kita tinggal bersama? Selain kau tidak perlu mencarikan rumah…, kau bisa menitipkan Kei padaku kalau kau tugas keluar seperti besok.”
“..., benar juga. Aku baru saja mau mencari apartemen lain karena ibu bilang kamar apartemennya sudah penuh. Hei, jangan!”
“Apa maksudmu ja….”
“Mama! Hei! Waktunya kamu tidur! Mama! Mama! Heii, ayah mau jatuh!”
“Hotaru. Berikan ponselmu pada Kei.”
“Tapi Kei….”
“Gak apa. Kalau kau ada di dekatnya ponsel tidak akan berpengaruh banyak pada anak.”
“Mamaa!!! Kei baru bisa ngomong R!! Kei udah besal!!”
“Besar donk.”
“Besaalrr?”
“Wah, belum lancar…, berarti masih belum besar.” Zakuro tertawa mendengar suara rengekan Kei. Hotaru terdengar menghela nafas.
“Tapi begini juga sudah termasuk cepat. Anak ayah ini sudah besar, ya.”
~…~…~…~…~
Chen Lim dan istrinya Chen Liu menyambut kedatangan Hotaru dan ayah kandungnya di kerajaan Xixing. Sebagai raja pertama yang mendapat kesempatan dipilih langsung oleh rakyatnya membuat Chen Lim merasa sangat bangga sekaligus salut pada orang yang telah mengizinkannya.
Chen Lim, dulu adalah pimpinan sekelompok orang yang sangat menentang kebijakan raja Xixing saat itu. Ia dipercaya oleh hampir seluruh rakyat kerajaan Xixing untuk menggulingkan pemerintahan yang ada. Namun, raja Xixing saat itu adalah teman dekat raja Selatan utama, usaha itu tidak pernah berjalan mulus. Barulah pada saat Hotaru yang meski belum dilantik tetapi sudah diperkenankan memiliki kuasa sebagai Raja Selatan pusat, Chen Lim berani mengambil tindakan tegas. Dan bersyukurnya Hotaru benar-benar mendukung tindakan Chen Lim.
Chen Lim dengan bantuan Hotaru dan juga raja kerajaan HongLobo, Xia Ju-Long, akhirnya berhasil membuat rakyat bergerak membantu menggulingkan kerajaan Xixing saat itu. Setelah berhasil pun, Hotaru tak serta merta menjadikan Chen Lim sebagai raja. Ia membuat percobaan sekaligus percontohan untuk kerajaan lainnya. Ia membuat suatu pemilihan umum untuk memilih pemerintah mereka. Meski terkesan seperti pemilihan perdana menteri, tetapi rakyat dengan sangat gembira menyambut usulan percobaan tersebut. Menjadikan Chen Lim secara utuh dipilih oleh rakyatnya menjadi raja kerajaan Xixing.
“Aku harap kau bisa melaksanakan tugas barumu dengan bijak seperti yang kau janjikan.” Ucap Hotaru seraya tersenyum. Chen Lim tersenyum lalu menunduk hormat pada Hotaru. Hotaru menepuk pundak Chen Lim. “Lebih baik kita segera ke tempat pelantikan. Aku tidak yakin Bibi Sachi bisa….”
“Panggil Mama, Hotaru…, Sachika bisa marah kalau kau memanggilnya begitu.” Ucap Touhaku. Hotaru mengeluh kecil.
“Pokoknya begitulah….”
“Liu, bawa Yeo ke tempat Nyonya Sachika. Ajak Yeo bermain dengan Kei-bocchama.” Ucap Chen Lim pada istrinya. Istrinya itu mengangguk lalu menunduk hormat sebelum pergi memanggil anaknya.
“Yeo seumur Kazan, ya?” Tanya Xia Ju-Long yang terlihat menghampiri mereka dari arah yang akan mereka tuju. “Kazan dan Kaizo main sama Kei-bocchama dan Yeo aja, oke? Natsuko, antarkan mereka.”
“K, Kazan mau sama papa aja.”
“Tidak apa Kazan…, ibumu tidak akan berbuat hal buruk lagi…, papa janji.” ucap Ju-Long seraya berjongkok. Kazan menggeleng kuat dan terus memeluk lengan Ju-Long. Ju-Long menghela nafas memandang istrinya yang merasa tidak bersalah.
Hotaru menepuk kepala Kazan. “Touhaku-san….”
“Panggil aku ayah!” Touhaku menjitak lembut kepala anaknya itu. Touhaku lalu berjongkok dan mengusap kepala Kazan. “Kazan dan Kaizo ikut paman yuk. Main sama Kei-chan dan Yeo. Papa kalian dan paman-paman ini mau bekerja.”
Setelah Kazan dan Kaizo pergi bersama Touhaku menuju tempat Kei bermain, Hotaru, Ju-Long, dan Lim pergi ke tempat pelantikan. Serangkaian acara pelantikan langsung dimulai. Rakyat dengan sangat bangga menyambut pelantikan raja baru mereka dengan harapan yang juga baru. Rakyat juga sangat bangga memiliki pewaris kerajaan selatan utama yang saat ini sangat pro-rakyat. Rakyat kerajaan Xixing akhirnya percaya bahwa pewaris saat ini benar-benar pewaris yang diberkati oleh dewa mereka. Suzaku-sama.
“Tapi aku belum pernah bertemu Suzaku-sama. Jadi aku belum tentu akan menjadi raja.” Ucap Hotaru saat diberi pernyataan dukungan oleh rakyat Xixing.
“Belum aja mungkin.” Tawa Ju-Long.
“Benar-benar.” lanjut Lim.
Hotaru menghela nafas. “Sudahlah. Nanti juga ketahuan.”
~…~…~…~
Hari ini Hotaru sebenarnya libur. Namun, ia tidak ingin menemui Zakuro untuk melakukan pembicaraan pernikahannya. Ia bukan tidak mau, hanya saja ia sedang butuh istirahat. Malam itu, saat Kei sudah tidur di kamarnya sendiri, Hotaru akhirnya bisa menyentuh pedangnya dan membersihkannya. Hotaru tidak ingin Naraka, Roh penghuni pedangnya, marah karena ia tidak mengurusnya. Meski Naraka terlihat biasa saja.
“Kau kan sibuk.”
ucap Naraka di pikiran Hotaru.
“Makanya saat aku tidak sibuk aku mengasahmu. Sekaligus latihan sejenak.”
Hotaru berbicara kembali dalam pikirannya, membalas perkataan Naraka.
“Mengingat pembicaraan di kerajaan Xixing beberapa hari lalu…, kau tidak penasaran untuk bertemu Suzaku-sama?”
tanya Naraka. Hotaru menghela nafas.
“Penasaran. Tapi aku tidak ingin memaksa Suzaku-sama untuk datang menemuiku. Aku merasa belum siap untuk sungguh-sungguh dilantik olehnya.”
“Tapi pelantikanmu di kerajaan selatan akan dilakukan setelah kamu menikah, lho.”
“Aku tahu. Aku hanya masih belum merasa siap. Aku tidak sebijaksana yang mereka pikirkan.”
“Ah, baru kali ini kau merendah…, tuanku.”
“Apa maksudmu?”
“Lupakan saja.”
Naraka membentuk kedua pasang sayapnya menjadi api lalu keluar dari pedangnya, rohnya itu memiliki kekuatan yang mirip dengan Shodai saat menguasai Tenro, tetapi berbeda kemampuan. Naraka memang hanya roh dari pedangnya, tetapi ia sendiri sudah mampu membakar sekitarnya hanya dengan api di kedua pasang sayapnya. Makanya, setelah ia keluar kedua pasang sayapnya itu kembali berubah menjadi sayap biasa berwarna merah. Ia langsung mengusap kepala Hotaru.
“Ada apa?” tanya Hotaru. Naraka menggeleng kecil.
“Tidak ada apa-apa. Hanya ingin melakukan ini.” saat keluar dari pedangnya, batin Naraka tidak akan terdengar oleh Hotaru. Sehingga ia memutuskan untuk keluar.
‘Di sini kau akan ku berkati. Kau akan menjadi pemimpin Kerajaan Selatan yang akan membawa kerajaan ini pada puncak kejayaannya.’
~…~…~…~
Setelah menyelesaikan urusannya dengan tugas kuliah Shinrei, Hotaru pergi menemui Kyo di istana kerajaan pusat. Hotaru bersama Kei duduk menunggu. Kei memang sudah sering datang ke berbagai istana di kerajaan selatan, tetapi baru kali ini Kei melihat dengan wajah penuh kagum pada istana kerajaan pusat. Hotaru terkekeh melihat tingkah anaknya. Shodai datang menyambut.
“Kyo masih di perjalanan. Kau bisa menunggu sedikit lebih lama?”
“Tidak masalah, Shodai-sama.” ucap Hotaru. Kei melompat dari pangkuan Hotaru lalu memeluk kaki Shodai. Kei tertawa gembira. Shodai tersenyum memandang anak kecil itu lalu memeluk dan akhirnya menggendongnya. Ia memandang Hotaru dengan intens.
“Kamu…, oh begitu.”
“Shodai-sama?”
“Hotaru…, sebentar lagi kamu dilantik…, sudah bertemu Suzaku-sama, ya….”
“Ah…, belum, kok.” ucap Hotaru jujur.
“Tapi…, kamu sudah terberkati oleh Suzaku-sama.”
“Ha?!”
“Apa itu belrkati?” tanya Kei. Shodai tertawa dan mengusap kepala Kei.
“Semacam diberi doa.” jelas Shodai. Kei mengangguk-angguk.
“Dari mana anda tahu aku diberkati? Aku bahkan belum pernah bertemu Suzaku.”
“Karena aku sudah terberkati Kouryu, aku tentu bisa melihat siapa-siapa saja yang sudah terberkati oleh dewa lainnya. ahh…, aku jadi ingat…, Saat aku bersama nenek buyutmu Houou, aku pun bertemu Suzaku-sama. Lelaki bersayap ganda yang kalau berubah menjadi sayap api, sayap itu menjadi salah satu sayap terindah yang pernah aku lihat.” ujar Shodai seraya mengingat-ingat roh Suzaku.
“..., entahlah…, deskripsi itu masih terlalu abstrak. Tapi ternyata aku salah kalau Suzaku ternyata perempuan.” ucap Hotaru.
“Fufufu, ya sudahlah. Suzaku-sama itu laki-laki, kok.”
~…~…~…~
Setelah menyelesaikan urusan dengan Kyo, Hotaru pulang dengan kereta khusus keluarga kerajaan selatan. Hotaru sebenarnya enggan menggunakan kendaraan khusus kerajaan, rasanya terlalu eksklusif dan…, bisa membuatnya ketahuan jika dialah pewaris kerajaan selatan. Hotaru masih sangat belum siap. Apalagi setelah Shodai mengatakan ia sudah diberkati oleh roh suzaku-sama, Hotaru malah semakin merasa tidak siap.
Hotaru memikirkan ciri-ciri roh suzaku-sama yang dikatakan Shodai. Sebenarnya ia merasa de’javu saat Shodai menyebutkan ciri-cirinya. Hotaru melirik pedang di punggungnya. Ciri-ciri itu sangat mirip dengan roh penghuni pedangnya itu. Hotaru mengulum bibirnya. Hotaru lalu menghela nafas dan membiarkan saja. Ia lalu memandang anaknya, yang berjongkok di depannya dan meniru setiap tingkah lakunya. Anaknya itu masih berusaha meniru dirinya yang sedang mengulum bibir.
“Kenapa, Kei?”
“Ayah….” Kei memandang ayahnya, wajahnya terlihat sedih. “Gimana caranya?”
“Nanti juga bisa. Sudahlah…, sini dipangku.” Hotaru menepuk-nepuk kakinya.
“Gak mau!!” Kei lalu berlari ke gerbong selanjutnya. Hotaru memijat keningnya.
“Kousaka…, maaf merepotkanmu….” Ucap Hotaru. Prussia-Kousaka terkekeh dan pergi mengejar Kei yang masih berlarian. Hotaru menghela nafasnya. Hotaru melepas pedang di punggungnya lalu meletakannya di kursi. Hotaru berdiri memandang pedang itu.
‘Kalau benar Naraka itu Suzaku-sama…, kenapa dia tidak memberi tahuku?’
batin Hotaru. Hotaru terus terdiam memandang pedangnya itu, tetapi pikirannya terus menerus dipenuhi oleh pemikirannya soal raja pertama sekaligus dewa mereka.
Kereta khusus itu terus melaju menuju kerajaan selatan. Ponsel milik Hotaru berdering. Hotaru melirik ke arah anak buahnya dan menempelkan ibu jarinya ke bibirnya sendiri, ia lalu mengangkat ponselnya.
“Ada apa Zakuro?”
“Aku sudah ada di depan rumahmu. Aku sudah putuskan mulai sore ini aku akan tinggal di rumahmu.”
Hotaru menelan liurnya berat.
“Tapi aku baru pulang menuju kerajaan selatan, masih jauh. Kamu gak bilang dulu sih.”
“Hngg…, terus gimana donk? Habisnya kamu pasti akan menunda terus.”
“Aku akan minta ibu mengantarkan kunci rumahku padamu.” Hotaru membentuk kode pada salah satu anak buahnya.
“Wiih, makasih Hotaru!”
“Dasar…, tapi lain kali bilang dulu kalau mau datang, apalagi pindahan seperti ini..”
“Iya maaf. kau sendiri juga gak pernah bilang-bilang padaku.”
“Tapi setidaknya aku selalu mengabarimu kalau aku sudah dekat dengan rumahmu. Bukan tiba-tiba sudah ada di depan rumahmu. selain karena tersesat.”
Hotaru mendengar suara tawa di ponselnya. Mereka berbicara beberapa saat setelahnya lalu memutus sambungan ponsel mereka.
“Setelah di stasiun….”
“Siap yang mulia…, kami akan menjaga anda dari kejauhan.” Ucap Yoko, pengawal nomor satu Hotaru. Hotaru menghela nafasnya saat pengawal lainnya mengernyit bingung.
“Berjaga-jaga dia akan ke stasiun.” jelas Hotaru seraya menempelkan ponselnya lagi pada telinganya. Hotaru lalu duduk sembari memangku pedangnya.
~…~…~…~
Hotaru bersyukur Zakuro tidak terlihat di stasiun saat ia datang. Memang ia berharap Zakuro tidak akan menemukannya sedang menaiki kereta khusus anggota kerajaan. Namun, Hotaru juga merasa sedikit sepi saat ia tidak disambut oleh Zakuro di stasiun. Hotaru melirik Kousaka, mantan personifikasi negara Prussia itu kini resmi jadi pelayannya. Pelayan khusus yang bisa menjadi penasihatnya juga ‘babysiter’ bagi anaknya.
Yoko, pengawal nomor satunya, dulu juga pernah menjadi ‘babysiter’ bagi Kei. Namun, melihat Yoko yang terlalu bekerja keras hingga pernah di opname membuat Hotaru menjadi tidak tega memberinya tugas untuk menjaga Kei lagi. Memang hanya kousaka yang bisa menggantikan Yoko. Kousaka bisa bersama dengan Hotaru dan mengawalnya dari jarak dekat. Zakuro sudah pernah bertemu dengannya dan Kousaka mengenalkan dirinya sebagai saudara jauh Hotaru dari ibunya. Shiraishi, ibu Hotaru, bahkan bekerja sama dalam kebohongan itu.
Hotaru tidak habis pikir dengan mudahnya mantan personifikasi negara ini berbohong dengan kepercayaan dirinya yang sangat tinggi itu.
“Aku pulang.” Ucap Hotaru saat membuka pintu gerbang rumahnya. Hotaru tersenyum saja saat Kei terlihat bingung ketika ia tidak mengeluarkan kunci. Kousaka ikut tertawa.
“Selamat datang, Hotaru.” sapa Shiraishi yang membuka pintu utama.
“Nenek!!” Kei berlari lalu memeluk kaki Shiraishi.
“Ibu? Aku pikir ibu cuma mengantarkan kunci saja.” Ucap Hotaru seraya melepas sendalnya. Ia lalu mencium pipi ibunya. Shiraishi mengusap kepala Hotaru.
“Gak apa kan ibu bantu menantu ibu.”
“Kan belum resmi jadi menantu bu.”
“Ayolah, cuma masih 6 bulan lagi, kan?” Ucap Shiraishi lalu tertawa. Mereka berempat akhirnya masuk.
“Oh ya, Kousaka. Berarti mulai sekarang kamu tidur di kamar Hirari yang dulu, ya. Kamar Hotaru sudah ditempati Zakuro.” Ucap Shiraishi.
“Siap, Nyonya. Saya sudah pindah ke kamar Hirari-sama kok, bahkan sebelum Hotaru-sama memberi tahu soal nona Zakuro. Kesesese.”
“Ngomong-ngomong…, mana Zakuro?”
“Tidur. Dia pasti sangat lelah.” Ucap Shiraishi.
“Ada mama? MAMAAAA!!” Kei melepas pelukannya di kaki Shiraishi lalu berlari menuju tangga. Hotaru langsung mengangkat tubuh Kei yang masih kesulitan menaiki tangga.
“Mama lagi tidur. Jangan ganggu.” ucap Hotaru sembari memperbaiki posisi menggendongnya. Kei langsung menutup mulutnya dengan tangannya. Hotaru tersenyum dan mengusap kepala Kei dengan lembut.
“Ngomong-ngomong Hotaru-sama, berapa lama nona akan tinggal di sini?” Tanya Kousaka.
“Melihat dari barangnya tadi…, mungkin menantuku akan tinggal di sini terus, Kousaka. Wajar, kan buat pasangan yang sebentar lagi nikah.” ucap Shiraishi. Kousaka terkekeh khasnya. Hotaru hanya memutar matanya.
“Berarti di pertemuan besok, Kei bisa ditinggal bersama Zakuro di rumah.” Ucap Hotaru. Kei langsung memeluk ayahnya.
“Gak mau!! Kei mau sama Ayah!!” Pekik Kei. Hotaru menghela nafasnya.
“Gak bisa, Kei. Ayah tidak bisa terus mengajakmu ke tempat kerja.”
“Pokoknya Kei mau sama Ayah!!” Tangis Kei pecah. “Ayah gak boleh ninggalin Kei!!”
Hotaru menghela nafas. Tangan mungil Kei mencengkram erat kemeja yang Hotaru kenakan. Tubuhnya gemetar dan air matanya terus mengalir. Wajahnya bahkan sangat merah. Kei terus menangis menjerit, ia bahkan menempelkan kepalanya sangat dekat dengan ayahnya itu. Shiraishi mencoba menenangkan cucunya itu. Ia ingin menggendong cucunya, tapi melihat betapa eratnya sang cucu memeluk anaknya, Shiraishi tidak bisa berbuat apa-apa. Kousaka bahkan kebingungan dengan apa yang ia harus lakukan.
‘Aku rasa dia sudah ingat soal masa lalumu, tepatnya saat kematianmu.’
Ucap Naraka.
‘Melihat reaksinya saat aku meninggalkannya selama ini…, sepertinya kau benar. Meski aku tidak yakin dia mengingat semuanya atau tidak…, ngomong-ngomong…, Kei meninggal di usia berapa, Suzaku?’
‘Tepat setelah membalas kematianmu dengan diriku, dia bunuh diri bersama ayah tirimu itu.’
‘Kau tidak menyangkal saat aku panggil Suzaku ternyata….’
‘Wah, sejak kapan kau tahu?’
“Hotaru? Ada apa? Kenapa Kei menangis?” suara perempuan muda dari atas tangga. Hotaru memutus percakapannya dengan roh pedangnya lalu mengangkat kepalanya.
“Oh, Zakuro…, aku membangunkanmu?” tanya Hotaru balik. Zakuro tersenyum sembari menuruni tangga.
“Tidak apa. Aku juga tidak ingin tidur terlalu lama.” Ucap Zakuro. Ia mengusap kepala Kei dengan lembut. “Kei-chan…, ada apa?”
Kei masih menangis memeluk ayahnya.
“Kei…, tidak mau sama mama?” Tanya Hotaru. Tangis Kei mereda. “Kalau mama pergi, Kei seneng?”
Zakuro yang tidak mengerti hanya bisa diam saat Kei memandangnya dan akhirnya menangis semakin keras.
“Gak mau! Gak mau!! Kei mau sama ayah dan mama! Jangan tinggalin Kei sendilian!!!” Kei menggapai-gapai tubuh Zakuro. Zakuro dengan sigap mendekap tubuh mungil Kei dalam gendongannya.
“Kei enggak sendirian kok. Kan ada mama, ada ayah, ada nenek.” Ucap Zakuro. Zakuro memandang Hotaru yang menghela nafas.
‘Mungkin dia sudah ingat soal kematian kita.’ ucap Hotaru tanpa suara. Zakuro sedikit membulatkan matanya lalu memeluk Kei lebih erat. Ia mencium kening Kei, berusaha menenangkannya.
“Sudah, Kei…, kan mama masih di sini. Kei jangan takut ditinggal sendirian.” ucap Zakuro. Tangis Kei mulai mereda, Kei mengeratkan pelukannya pada Zakuro. Hotaru menghela nafasnya lega.
~…~…~…~
“Hotaru…, menurutmu siapa aja yang akan kita undang di pernikahan kita?” Tanya Zakuro. Hotaru tersedak makanannya.
“Rekan-rekanmu? Kau kan mantan ketua osis pasti populer.”
“Kamu kan juga.”
“Aku sudah pasti mengundang Kyo, Akira, Akari, dan Bonten. Kalau mereka bisa.”
“Oh iya…, teman pertamamu bahkan sejak kita hidup di bumi, ya? Bagaimana teman seperjuanganmu yang lain?”
“Mereka sih pasti datang kalau Kyo datang. Kalau mereka datang…, resepsi kita bakal besar-besaran.”
“Begitu…, Ayo Kei…, buka mulut. Pesawat wortelnya mau mendarat.”
“Gak suka wortel!” Kei menutup mulut dengan tangannya lalu menggeleng. Hotaru dan Zakuro menghela nafas bersamaan. “Aku merasa de javu, Hotaru.”
“Memang pernah terjadi dulu.” Hotaru tertawa kecil.
“Oh iya, ya. Dan setelah itu….” Zakuro menghentikan ucapannya. Hotaru mengerti maksud Zakuro. Karena memang saat mereka sedang makan siang dan membicarakan soal kehidupan mereka ke depan…, pembunuh mereka di bumi datang.
“Sekarang kan kita ada di dalam rumah yang tertutup. Aku rasa tidak akan ada yang datang.” ucap Hotaru mencoba menenangkan calon istrinya itu. Zakuro tersenyum.
“Iya, ya. Saat ini sudah berubah.”
‘Lagipula kalaupun ada yang datang pasti Yoko dan yang lain sudah membereskannya lebih dulu.’
~…~…~…~
“Kakek…, apa boleh pelantikanku…, terjadi saat Kei berumur 5 tahun?” tanya Hotaru. Ryuhei berhenti membaca laporan.
“Kenapa?”
“Yha…, jujur, aku masih ragu dengan Zakuro. Aku sudah kenal dia dari zaman sebelum aku bangkit lagi di sini. Dan dulu dia mendekatiku karena kehadiran Kei…, mungkin juga karena statusku yang adik Shinrei. Saat itu, Shinrei kan kepala desa Mibu. Aku takut Zakuro masih begitu.”
“Yha, Zakuro juga taunya kau kan adik dari Shinrei, ‘pewaris utama’ kerajaan selatan. Gak ada bedanya dengan yang dulu.”
“Beda, Kakek…, kalau aku dilantik sebelum aku menikah, otomatis Zakuro akan tahu, kalau di zaman ini kedudukanku lebih tinggi dari Shinrei. Dan mungkin…, dia jadi menargetkan harta karena menikah denganku. Dan bukan karena Kei lagi.”
“jangan terlalu berprasangka buruk, nak. Kamu sudah berubah. Zaman juga sudah berubah. Kamu memangnya mau jadi sama seperti dulu yang selalu Shinrei dan Yuan ceritakan?”
“Maaf.” Hotaru menghela nafas. Ryuhei tertawa kecil. “Tapi secara politik…, aku juga merasa masih belum mampu. Memang kerajaan Xixing sudah mendukung pelantikanku…, tapi kerajaan lainnya seperti kerajaan Yisue, Qingque, dan lainnya juga masih ada yang belum setuju kan?”
“Mereka hanya belum mengenalmu. Kan selama 18 tahun lebih Shinrei adalah pewaris tunggal kerajaan selatan.”
“Makanya…, di kerajaan mereka masih tersebar rumor buruk soal aku. Permasalahan kerajaan Xixing saja memakan waktu lama untuk diselesaikan. Apalagi untuk mengalihkan kepercayaan mereka…, tentu ini jauh lebih sulit. Lagipula…, kakek memang mau cepat-cepat pensiun?”
Ryuhei mangut-mangut mendengar penjelasan cucu tirinya itu. Penjelasan yang memang ada benarnya. Ryuhei memang harus mengakui, kalau cucu tirinya itu punya pemikiran yang jauh lebih baik darinya. Ryuhei bahkan merasa cerita Yuan dan Shinrei mengenai kehidupan lama Hotaru yang seperti orang bodoh itu hanyalah sebuah bualan Yuan dan Shinrei saja.
“Baiklah, boleh. Tapi…, kamu tetap harus bekerja sebagai raja setelah kamu menikah, oke? Karena kakek memang ingin pensiun dini.” kekeh Ryuhei.
“Baiklah, Kakek.” Ucap Hotaru setelah menghela nafasnya.
----- CHAPTER BREAK -----
Karena Hotaru katanya ditugaskan selama seminggu di berbagai kerajaan, Zakuro mengunjungi rumah kakaknya yang berada di kerajaan pusat. Tentu bersama Kei dan Kousaka. Mereka menginap di hotel karena rumah keluarga kakaknya tidak cukup untuk menampung mereka bertiga. Sekalian Zakuro ingin membantu kakaknya yang memiliki 2 bayi sekaligus itu.
“Maaf merepotkanmu, Zakuro.” ucap Keiko. Zakuro tersenyum sembari memasangkan baju pada salah satu anak kembar Keiko.
“Enggak merepotkan kok, kak.”
“Dedek udah pake baju.” ucap Kei dengan mata berbinar.
“Iya Kei-chan. Dedek-dedek udah pakai baju.” Ucap Keiko seraya mengusap kepala Kei. Kei tersenyum bangga. Zakuro tertawa gemas. “Aku kadang bingung, Zaku…, Kei bukan anak kandungmu, tapi dia punya wajah yang mirip denganmu.”
“Aku juga bingung, Kak. Tapi mungkin karena aku pernah beberapa kali menyusuinya.” Kei memiringkan kepalanya bingung dengan percakapan kedua wanita itu. “Tapi Kei yang dulu punya wajah yang mirip sekali dengan Hotaru.”
“Kei yang dulu?”
“Ah…, waktu masih sekitar 1 tahun, Kak.” ucap Zakuro dengan tawa canggung.
‘Aku lupa di kehidupan di bumi, kakakku bukan perempuan....’
“Mama…, Kei lapar.”
“Oh, iya sudah waktunya Kei makan, ya?”
“Kalian biasa makan jam segini? Nanggung lho, sebentar lagi makan malam.” Tanya Keiko. Zakuro tertawa kecil.
“Di kerajaan selatan saat ini kan sudah malam. Kei cuma makan berdasarkan waktu di kerajaan selatan.” kekeh Zakuro sembari menjelaskan.
“Ah, unik, ya.” Keiko mengusap kepala Kei lagi. “Kei-chan mau makan apa?”
“Kei mau makan tahu….” Kei langsung melompat-lompat kecil. Keiko tertawa mendengarnya.
“Anak ini paling suka dengan tahu, apalagi kulit tahu goreng buatan Ibu. Aku masih belajar memasak makanan yang satu itu.”
“Hmm., begitu rupanya. Kei-chan ke kedai di bawah, yuk. Kita minta paman Kazuhiro buatin sup tahu. Aku antar dia ke bawah, Zaku.” Keiko berdiri lalu menuntun Kei menuruni tangga.
“Tahu! Tahu!”
“Iya, kak. Aku akan jaga Ayaka dan Haruka.”
~…~…~…~
“Huh? Mama? Bibi?” Kei bangun dari tidurnya dan mengucek matanya dengan satu tangan. Kei memiringkan kepalanya saat ia menyadari keanehan tempatnya berada.
“Akhirnya kita bertemu lagi, belahan jiwaku.” Kei berbalik dan memandang sesosok anak kecil seumurnya. Wajahnya dan postur tubuhnya juga sangat persis dengan dirinya hanya saja, kedua tangannya utuh. Kei terlihat ingin menangis karena ketakutan. “Belum ingat, ya?”
Sosok itu mendekat dan mengusap kepala Kei. Kei tiba-tiba merasa melihat sebuah televisi. Menampilkan kejadian-kejadian dirinya dari masa lalu. Setelah film ingatannya selesai, Kei memandang sosok dihadapannya dan mengerjapkan matanya. Kei menopang kepalanya yang sedikit pusing dan kaget karena belum terbiasa. Sosok dihadapannya terkekeh.
“Diri Kei yang satu lagi. Kemunculan pertamamu selalu membuat Kei takut.” Ucap Kei lalu berdiri dan memeluk sosok yang ia sebut ‘dirinya yang satu lagi’. Orang itu tersenyum.
“Ini reinkarnasi ke berapa ya? Akhirnya aku berhasil bertemu denganmu dan ayah, bahkan ada mama dan paman juga.”
“He? Tapi Kei baru sekali ini hidup lagi. Sepengetahuan Kei.” Kei melepas pelukan pada dirinya yang satu lagi.
“Yha…, saat aku yang merupakan kekuatanmu disegel ayah…, aku seperti mendapat jiwa sendiri yang terpisah darimu. Dan entah kenapa jiwaku selama ini terus kembali hidup di planet ini. Tanpa dirimu, atau ayah kita.” Jelas diri Kei yang satu lagi. Ia menggerakan tangannya dan tiba-tiba muncul sebuah meja dan dua buah kursi. “Tapi di reinkarnasi pertama, aku bertemu dengan roh pedang ayahmu. Saat itu dia jadi raja pertama raja selatan.”
“Oh iya, ayah juga akan jadi raja selatan ya.” Kei mengambil kursi dan duduk. Dirinya yang satu lagi tersenyum kecil.
“Kamu baru 3 tahun lho di sini. Jangan sampai mereka sadar kalo kamu sudah punya ingatan masa lalumu sebelum umur 5 tahun. Soalnya hanya keturunan kerajaan pusat yang bisa ingat sebelum berumur segitu. Pura-pura saja tidak paham kalau kamu pangeran dan ayahmu akan jadi raja selatan. Lagipula, ayah sepertinya tidak ingin mama tahu kalau ayah akan jadi raja ke-13. Hm…, berarti ini reinkarnasiku ke 13.” ucap kembaran jiwa Kei itu. Ia duduk seraya melipat tangannya.
“Ingatan Kei kan terputus di usia 5 tahun. Jadi Kei harusnya memang ingat sekarang….” Kei cemberut.
“Kita bunuh diri sih.” kembarannya itu memandang ke arah lain. “Tapi setidaknya kamu harus berlaku seperti kamu belum bertemu denganku. Aku takut ayah marah padaku dan malah menyegelku lagi, di kehidupan kali ini ayah tidak menyegelku ‘kan?”
“Akan Kei coba.” ucap Kei. “..., eh, berarti kamu pernah besar donk?”
“Begitulah…, tapi umurku selalu mentok di usia 63 tahun. Tidak seperti roh pedang ayah yang katanya sampai berumur 1331 tahun.”
“Yang rohnya bahkan masih hidup sampai sekarang.” kekeh Kei.
“Hahaha, benar juga. Sekarang kembali jadi roh pedang ya.”
“..., Dulu kamu punya nama apa saja? Kan gak mungkin Kei panggil kamu dengan ‘kamu’ melulu….”
“Hm…, namaku macam-macam. Tapi semua orang selalu menyebutku dengan ‘namaku saat itu’ no Kurayami atau anak kejahatan.”
“Ha?”
“Soalnya kekuatanku di planet ini dinamakan kegelapan dan kejahatan.”
“Kamu selalu berbuat nakal ya? Ayah pasti marahin Kei kalau berbuat nakal.”
“Haha, nakal masih lebih baik daripada jahat, Kei. Lagipula di reinkarnasi pertamaku, aku pernah menimbulkan perang di kerajaanku sendiri. Aku frustasi tidak bisa menemukanmu dan ayah. Untungnya ada orang yang paham denganku dan kekuatannya juga bisa menetralisir kekuatanku. Meski aku tetap sebal sama orangnya.”
“Ho, pasti kekuatannya Cahaya dan Kebaikan! gelap kan suka sebel sama cahaya, dan cahaya juga sebel sama gelap.”
“Hahaha…, benar sekali. Anehnya dia juga terus bereinkarnasi bersamaku. Aku sempat berpikir mungkin orang yang punya kekuatan itu adalah dirimu Kei, atau ayah kita tapi tidak punya ingatan masa lalu. Aku tidak pernah bisa membantahmu atau ayah sih....”
“..., kita bertemu kan juga cuma sebentar.”
“Kamu doank. Kan aku disegel supaya kamu tidak bisa ‘melihat dan menggunakan’ku. Tapi aku bisa melihat dan juga memiliki ingatanmu. Dan selama ini aku tidak pernah membantah meski aku punya kekuatan yang cukup untuk membuka segel lemah ayah. Malah pernah segel ayah pecah sebelum kematiannya, aku tidak keluar.”
“Sungguh? Kei baru tahu.”
“Kan tadi kamu bilang, kita bertemu cuma sebentar. Kalau aku ceritakan semuanya kan.., saat itu bisa makan waktu 5 hari. Oh…, sepertinya sudah waktunya kamu bangun.”
“He? Bangun? Eh, Whaa!!” Kei tersedot ke angkasa meninggalkan dirinya yang satu lagi yang masih duduk dan tersenyum melambai padanya.
~…~…~…~
“Kei-chan…, bangun. Sudah pagi.”
“Hng…, Mama…, Kei masih ngantuk.”
“Hei…, hari ini ayahmu pulang lho…, ayo siap-siap.”
“Ayah?!” Kei melompat dari ranjangnya dan langsung berlari ke kamar mandi hotel. Zakuro tertawa.
“Memang hanya Hotaru yang bisa membangunkannya.” kekeh Zakuro lalu berjalan mengikuti anak tirinya itu. Kei melompat-lompat di dalam kamar mandi. “Hei, jangan lompat-lompat nanti ja…, aaah!!”
Zakuro segera mengangkat anak tirinya itu dan menggendongnya. Kei menangis sesaat setelah badannya sudah menyentuh lantai karena terjatuh. Zakuro tertawa kecil, ia mengusap-usap bagian yang sekiranya sakit pada tubuh Kei. “Mama sudah bilang, jangan lompat-lompat…, nanti jatuh.”
Kei sesengukan dan memeluk ibu tirinya itu Zakuro menghela nafas. “Sakitnya hilang, sakitnya hilang.”
“Nyonya Zakuro? Tuan muda Kei? Kalian sudah siap?” suara ketukan pintu dan suara seseorang, semi berteriak, terdengar. Zakuro tahu persis, ‘sepupu jauh’nya Hotaru itu sudah siap untuk check out dan berangkat ke bandara.
“Ah, belum Kousaka-san. Nanti kalau kami sudah siap, kami akan ke kamarmu.”
“Kesese, baiklah Nyonya.”
“Mandi dulu yuk, Kei. Nanti baru mama kasih obat gosok. Kasihan paman Kousaka dan Ayahmu pasti sudah menunggu.”
“Iya mama, hiks….”
~…~…~…~
“Ayah!!” Kei melompat dari gendongan ibu tirinya dan langsung berlari menuju ayahnya. Hotaru tersenyum dan langsung menggendong anak semata wayangnya itu. Hotaru melihat Zakuro yang tertawa kecil sembari menunggu koper mereka keluar dari bagasi pesawat.
“Selamat datang kembali pangeran kecil.” Kekeh Yoko seraya mengusap Pipi Kei.
“Jangan sebut Kei seperti itu jika ada Zakuro, Yoko.”
“Maaf, Heika…, maksudku Hotaru-sama.” kekeh Yoko. “Lagipula sepertinya dia tidak akan mendengarnya.”
“Mencegah lebih baik daripada mengobati.” Hotaru memutar matanya. Ia kembali memandang Zakuro yang berusaha mengangkat koper dari ban berjalan. Kousaka tertawa kecil dan membantu Zakuro. Hotaru ikut tersenyum.
“Ngomong-ngomong, Yoko…, kalian sudah mencari pengawal untuk Zakuro?”
“Karena Zakuro-sama tidak memiliki kemampuan khusus, kami harus selektif memilih pengawal untuk Zakuro-sama. Dan sangat sulit mencari wanita seperti itu.”
“Baiklah, aku percayakan padamu.” Yoko menunduk lalu perlahan menghilang dari balik kerumunan. Meski dia adalah pengawal ring satu yang berarti harus selalu berada di dekat Hotaru, Hotaru selalu memintanya untuk menjaga dari jauh untuk menjaga identitasnya.
Zakuro menarik kopernya dan mendekati Hotaru. Hotaru tersenyum dan menggandeng tangan calon istrinya itu keluar dari bandara.
“Padahal kita dari kerajaan pusat juga…, kenapa kau gak mau satu pesawat Hotaru?”
“Raja pusat sebelumnya memberi tumpangan jet pribadinya. Dia sekalian mau berlibur ke kerajaan Xixing. Apalagi dengan sistem pemerintahan Xixing yang sekarang, tempat itu jadi tempat pariwisata yang menjanjikan. Aku tidak enak memintanya menunggumu, Kei, dan Kousaka.”
“Mou…, kan sehari sebelumnya kau bisa memberi tahunya Hotaru.”
“Kalau itu aku kemarin sudah mengatakannya. Aku malah ingin naik penerbangan komersil bersama kalian, malah.”
“Tak diizinkan kan? Kesesese…, Raja Pusat terdahulu memang begitu. Saat tinggal bersamanya dulu, dia royal sekali…, padahal aku cuma tukang sapu halaman.” ucap Kousaka sambil tertawa khasnya.
“Mou….” Zakuro cemberut. Ia berdiri di belakang Hotaru yang menunggu di tempat kedatangan bus dan mobil. “Kita kembali naik apa? Rumah kita kan jauh dari bandara.”
“ayah atau Yun-yun mungkin mau menjemput. Kalau mereka nggak bisa, baru kita naik bus aja.” Ucap Hotaru sambil berusaha meraih ponselnya yang ada di saku kirinya. Kei yang tertidur di gendongannya membuatnya sulit mengambil ponsel. Sebuah mobil berhenti di depan mereka. Hotaru menghela nafas melihat Yutori, pengawal sekaligus supirnya itu keluar dari mobil.
“Yang mu…, calon penasihat Hotaru…, Saya diminta Raja menjemput anda!” ucap Yutori sembari menunduk.
“Kakekmu yang menjemput malah.” Kekeh Zakuro. Zakuro menarik kopernya menuju bagasi mobil.
“Biar saya saja nona.” Ucap Yutori lalu mengambil koper Zakuro dan memasukkannya ke dalam bagasi.
“Terima kasih.”
~…~…~…~
“Hotaru…, kalau misalnya aku bekerja boleh tidak?” Tanya Zakuro tiba-tiba saat Hotaru baru saja duduk di kursi rumahnya setelah seminggu berkeliling kerajaan.
“..., ha?”
“Bekerja Hotaru..., bekerja.”
“Yha…, kerja apa maksudku….”
“Sesaat sebelum pergi ke rumah kakakku, aku ditawari seseorang untuk menjadi model untuk peragaan busana dari perusahaan desainer baru mereka.” jelas Zakuro. Hotaru meletakan Kei yang masih tidur di sofa panjang yang ada di sampingnya.
“Bukan penipuan kan? Ada kasus seperti itu di kerajaan kecil Yisue…, banyak orang yang ditipu dengan iming-iming seperti itu…, padahal mereka dijadikan pelacur.” Hotaru mengambil kain dari koper kecilnya dan menyelimuti anak semata wayangnya itu.
“..., aku gak tau soal itu….” Zakuro duduk di sisi lain Hotaru dan menunduk.
“Kamu sudah menerimanya?”
“Belum sih…, aku bilang aku harus mengkonsultasikannya denganmu dulu. Kamu kan berangkat duluan ke kerajaan apa gitu….”
“Berikan detail perusahaannya…, biar aku cari kebenarannya. Kalau memang perusahaannya benar, aku izinkan.”
“Terima kasih, sayang.” Zakuro mencium pipi Hotaru.
“La, lagipula kita jadi punya uang tambahan untuk pernikahan kita 6 bulan lagi.” Hotaru memalingkan wajahnya.
“Buat Honeymoon bertiga dengan Kei, ya? Uang tambahannya mungkin buat jajan Kei saja.” Tawa Zakuro.
~…~…~…~
Keikoku memandang tangannya. Ia yakin ia sedang bermimpi. Keikoku memandang sekelilingnya, ruangan itu sangat luas, di depan tempat duduknya langsung tersedia tangga untuk turun menuju dasar utama ruangan tersebut. Keikoku berdiri, ia menuruni tangga tersebut dengan rasa penasaran. Belum sampai di anak tangga terakhir, tiba-tiba saja beberapa orang duduk bersimpuh di hadapannya.
"Raja…, kami sudah berhasil menghitung jumlah Anggota Mibu sesungguhnya yang masih hidup." Ucap salah satu orang tersebut. Keikoku mengerjapkan matanya.
"Termasuk anda, jumlahnya sudah kurang dari 50 orang. Kami para boneka perang sudah banyak yang kehilangan majikan." Jelas salah seorang lain. Keikoku lanjut menuruni tangga, ia berdiri di depan salah seorang itu dan mengelus kepala orang itu. Seolah tidak punya penguasaan diri, Keikoku membuka mulutnya.
"Klan Mibu akan segera musnah. Mereka yang tidak dapat melampaui darah iblis harus binasa. Aku, lebih berbahagia memimpin kalian, ciptaan-ciptaanku." Keikoku sendiri terkejut dengan apa yang ia ucapkan, bersamaan dengan semakin hilang pula penguasaan diri Keikoku saat ini.
"Raja…, kami…, kami merasa tidak layak untuk menjadi pengganti pencipta kami…, kami makhluk yang seharusnya tidak ada."
"Mereka awalnya dewa, mereka menciptakan berbagai hal termasuk diri kalian. Namun, darah iblis menghancurkan apa yang mereka ciptakan. Bahkan menghancurkan hidupnya sendiri. Aku merasa wajar jika kalian…, ciptaan-ciptaan dewa yang masih hidup perlu menggantikan dewa yang menjadi iblis."
"Raja…."
"Kalian anak baik. Meskipun bukan dewa, kalian anak baik."
Keikoku memejamkan matanya dan saat membuka matanya kembali. Suasananya berubah. Dirinya berdiri di tengah-tengah kobaran api. Keikoku memandang sekelilingnya, banyak tubuh yang bergelimpangan darah dan ada juga beberapa tubuh yang mulai berubah menjadi pasir. Salah satu makhluk yang bersimbah darah itu terlihat seperti monster, pembuluh darah dapat terlihat jelas di sekujur tubuhnya, mata makhluk itu semuanya berwarna merah cemerlang. Perlahan mata makhluk itu mulai memutih, menyisakan iris matanya yang tetap berwarna merah. Pembuluh darah di sekujur tubuhnya perlahan-lahan hilang.
"Terima…, kasih..., Raja…, kau…, membebaskanku…, dari…, darah iblis…." Ucap makhluk itu yang menjadi seperti manusia biasa, sesaat sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.
"Sama-sama."
Keikoku merasakan air matanya mengalir, ia menyeka air matanya lalu membalikkan badannya dan memandang manusia lain yang terisak melihat makhluk yang baru saja menghembuskan nafas terakhirnya itu. Keikoku teringat akan wajah paman besarnya melihat rupa manusia yang sedang terisak itu. Di sebelah manusia itu, ada salah seorang yang tadi bersimpuh di hadapannya.
"Dia boneka perang yang baru saja diciptakan dirinya. Aku yakin, dia tidak paham apa yang terjadi, Raja."
Keikoku dapat merasakan dirinya berjalan mendekati makhluk yang terisak tersebut lalu mengusap kepalanya. "Jangan bersedih, anak baik. Dirimu tidak sendirian. Aku bersamamu."
Makhluk itu berhenti terisak. Ia mengangguk dan mengikuti arahan orang di sampingnya itu. Keikoku berjalan sembari memandang langit yang dipenuhi bintang serta sebuah menara yang menjulang tinggi ke langit. Kedua makhluk yang masih hidup itu berjalan mengikuti dirinya. Keikoku membiarkan kontrol dirinya terlepas. Keikoku memejamkan matanya lagi, saat membukanya Keikoku kembali berada di ruangan yang besar tadi. Hanya ada seorang yang sedang bersimpuh di sana. Seorang yang terus ada dari semua hal yang terjadi pada dirinya itu.
"Berdirilah darah dagingku, Kyoichiro." Orang itu berdiri. Orang bernama Kyoichiro itu memandang dirinya tanpa ekspresi. "Kau adalah ciptaanku yang terhebat. Kau sanggup membunuh Anggota Klan Mibu yang terikat darah iblis tanpa menjadi darah iblis. Terima lah pujian dariku."
"Dengan segenap hati saya menerima pujian Raja."
"Dengan begini seluruh Anggota Klan Mibu berdarah iblis telah habis. Aku sangat bangga padamu, Darah dagingku. Kau layak mendapat hadiah dariku."
Keikoku dapat merasakan dirinya berdiri dan menuruni tangga lagi. Ia berhadapan dengan makhluk bernama Kyoichiro itu. Keikoku meletakan tangannya di depan dada Kyoichiro dan seperti sedang memberikan sesuatu pada makhluk di depannya itu. Kyoichiro berteriak kesakitan, tapi tidak sedikitpun memberontak terhadap apa yang dirinya lakukan. Keikoku menjauhkan tangannya dari dada Kyoichiro, dan di dada Kyoichiro terdapat tanda salib. Kyoichiro memandang dadanya sendiri, ia mengelus tanda salib pada dadanya. Wajah Kyoichiro terlihat bangga sekaligus bahagia mendapat hadiah darinya.
"Kau boleh pergi. Aku ingin beristirahat."
"Baik, Raja."
Keikoku berjalan menaiki tangga dan kembali duduk di tempat duduk yang mungkin merupakan singgasana dirinya. Saat Kyoichiro menghilang dari hadapannya dan meninggalkan dirinya sendirian, Keikoku dapat merasakan dirinya sedang menciptakan sesuatu. Sebuah scythe berwarna hitam muncul di hadapannya. Keikoku merasakan dirinya perlahan terpisah dengan tubuh yang sedari tadi ditumpanginya itu. Keikoku memandang tubuhnya, wajahnya sangat mirip dengannya, hanya warna mata dan rambutnya saja yang berbeda. Warna mata dan Rambutnya sama-sama bermata merah, persis seperti milik Kyoichiro tadi.
"Darah dagingku, Kyoichiro…, maafkan penciptamu ini. Gantikanlah diriku menjadi dewa atas tanah ini. Suatu saat nanti…, aku berharap diriku dilahirkan sebagai makhluk ciptaan seperti dirimu."
Keikoku menutup mulutnya, scythe yang diciptakan orang yang mirip dirinya itu menusuk diri sang pencipta. Perlahan darah mengalir dari luka tusukannya. Makhluk itu seolah memandang Keikoku di sisa-sisa akhir kehidupannya. "Maafkan…, keegoisan diriku…, Shodai Aka no Ou."
~…~…~…~
Keikoku membuka matanya lagi. Kali ini ia berada di ruangan yang putih bersih. Kembaran dirinya terlihat khawatir padanya, ia menggerakan tangannya dan menciptakan sebuah set meja lengkap dengan dua cangkir teh dan sebuah teko. Kembaran dirinya membantu dirinya untuk duduk di kursi.
"Ada apa? Meski salah satu kemampuanku membaca pikiran, tapi aku tidak mau membaca pikiran diriku sendiri."
Keikoku memandang kembarannya itu. Rambutnya berwarna coklat kemerahan dan kedua bola matanya berwarna merah. Kembarannya itu menuangkan teh ke dalam cangkir miliknya lalu ke cangkir kembarannya itu sendiri.
"Kurayami…, apa kita yang sebenarnya satu jiwa ini…, pernah hidup bahkan sebelum menjadi anak ayah?" Tanya Keikoku. Kembarannya itu berhenti menuangkan tehnya. Ia meletakan teko itu di atas meja lalu berdeham.
"Uhm, iya, meski tidak ingat jelas, tapi aku memang memiliki ingatan kalau kita pernah hidup jauh sebelum ayah terlahir. Kenapa bertanya seperti itu?"
"Kei…, baru saja bermimpi soal itu. Kalau Kurayami sedikit ingat, berarti…, Kurayami yang jiwa sebenarnya, sedangkan Kei jiwa yang 'muncul' karena segel ayah dulu."
"Tidak. Aku dan kamu mungkin sebenarnya tidak ada jiwa sebenarnya dan jiwa tambahan. apalagi perlahan kamu mulai ingat masa lalu kita, jadi aku merasa…, Jiwa kita terbelah saja. Aku, jiwa yang membawa kekuatan dan ingatan, sementara dirimu jiwa yang membawa sifat dan pengalaman fisik. Meski rupa fisik, terutama wajah kita berubah karena menyesuaikan dengan tubuh baru kita saja."
"Begitu?"
"Begitu."
"Tapi di mimpi Kei, tangan Kei yang dulu utuh."
"Kita bisa mencipta. Aku sedikit ingat…, sesaat setelah kita menciptakan boneka perang, darah daging kita. Terjadilah satu peperangan hebat di Klan Mibu. Dua Anggota terkuat Klan Mibu saat itu sedang bertarung, kita dan seorang lagi yang aku lupa. Kita menang karena memang kita yang diberkati Shodai Aka no Ou untuk menjadi Aka no Ou selanjutnya saat itu, meski harus kehilangan tangan kiri. Dan karena dulu kita bisa mencipta apa saja…, kita menciptakan tangan kiri kita sendiri. Sama seperti dulu, saat kamu memintaku menciptakan tentakel kegelapan untuk membantumu membalas dendam ayah dan mama. Sekarang juga masih bisa sih, tapi nanti ayah dan mama panik."
"Nanti saja kalau Kei memang membutuhkan tangan kiri, Kurayami bisa menciptakan tangan kiri untuk Kei."
"Atau kalau suatu saat kita kembali menjadi satu."
----- CHAPTER BREAK -----
Hotaru menggaruk kepalanya, surat-surat pendirian perusahaan yang ingin merekrut calon istrinya itu benar-benar asli. Meski perusahaan itu termasuk baru, tetapi orang-orang yang mendirikan perusahaan itu adalah orang-orang lama yang telah berpengalaman. Hotaru mengembalikan surat-surat tersebut pada pemiliknya.
"Ja, jadi…, bagaimana pangeran?" Tanya salah seorang pendiri perusahaan itu. Hotaru berbalik dan memandang salah satu pengawalnya itu.
"Kousaka…, kau masih ingin jadi
public figure
?"
"Ha?"
"Kau temani dan lindungi Zakuro untukku sampai dia dapat pengawal."
"Kesese! Baiklah, Hotaru-sama."
Hotaru kembali memandang kepada orang-orang yang mendirikan perusahaan tersebut. Wajah mereka sumringah. Setelah perbincangan lainnya, mereka keluar dari ruang pertemuan, meninggalkan Hotaru dan Kousaka sendirian. Hotaru merebahkan kepalanya di meja sembari memandang Kousaka yang terlihat begitu senang karena mendapat kesempatan untuk menjadi
public figure
. Kousaka mendadak berhenti dari tindakannya lalu memandang Hotaru yang tersenyum kecil.
"Hotaru-sama…, Zakuro-sama akan menjadi Permaisuri kan? Apa tidak masalah kalau dia bekerja sebagai artis? Nanti setelah anda dilantik Zakuro-sama tidak boleh pergi dari istana selain perintah dari anda kan?"
"Ya." Hotaru masih tersenyum. "Biarkan saja dia melakukan apapun…, mumpung dia masih bebas. Kalau nanti setelah Zakuro tidak bisa bebas…, kau benar-benar ingin jadi
public figure
, aku tidak melarang."
Kousaka tersenyum memejamkan mata, ia menekuk kakinya, setengah berjongkok pada Hotaru lalu meletakan tangan kanannya di depan dada kirinya. "Saya sudah membulatkan tekat untuk selalu berada di sisi anda. Memberi pengetahuan, melayani, serta melindungi anda."
"Terima kasih."
Kousaka kembali berdiri, lalu mengulurkan tangannya pada Hotaru. Hotaru menghela nafas, ia mengangkat kepalanya, menerima uluran tangan Kousaka, dan berdiri. Hotaru berjalan menuju tempat latihannya selanjutnya.
~…~…~…~
"Aku pulang."
"SELAMAT DATANG AYAAAAAAHH!!!" Hotaru mengerjapkan matanya sejenak sebelum mempertahankan posisi berdirinya akibat terjangan anaknya pada dirinya yang baru saja pulang itu. Hotaru tersenyum dan mengusap kepala anaknya yang sedang menggerakkan kepalanya di kakinya itu. Hotaru memandang ke arah lain, melihat Zakuro yang duduk merapikan mainan sekaligus tertawa kecil melihat kejadian barusan.
"Selamat datang, Hotaru." Ucap Zakuro setelah selesai merapikan mainan yang ia dan anak tirinya itu mainkan. Hotaru menggendong Keikoku lalu mendekati Zakuro, Zakuro memandang ke arah lain. "Sepupumu itu tidak pulang bersamamu?"
"Sedang mengurus persiapanmu dan dirinya menjadi artis."
"Ho…." Zakuro mengangguk-angguk sejenak. Zakuro lalu memandang wajah Hotaru. Ekspresinya campuran antara senang dan tidak percaya. Hotaru mengangguk.
"Aku juga minta Kousaka jadi artis untuk menemanimu. Lagipula…, karena sebentar lagi kau jadi istriku…, aku yakin banyak rumor tentangmu nantinya…, jadi…, aku minta Kousaka untuk melindungimu sekalian." Hotaru tersenyum pada Zakuro. "Semoga sukses dengan debutmu."
"Ayah…, Nanti Kei sama siapa?" Kei menekuk bibirnya ke bawah, matanya berkaca-kaca. Hotaru mengusap kepala anaknya itu.
"Terserah Kei mau ikut ayah atau ikut mama, tapi kalau ayah atau mama sibuk, nanti Kei main sama paman Yoko aja, ya." Kei langsung berwajah ceria. Ia mengangkat satu-satunya tangan yang ia miliki dan melompat-lompat dalam gendongan Hotaru.
"Paman Yoko?" Tanya Zakuro. Hotaru menghembuskan nafasnya lembut.
"Salah satu pengawal Shinrei yang diminta Shinrei untuk menjaga Kei sejak lahir…, Saat di kerajaan pusat, kalian pernah bertemu kok. Kamu sih panggil saja dia Yoko, usianya cuma beda beberapa bulan dari dirimu."
"Sungguh?"
"Ya. Kalau ada yang menjaga Kei seperti kamu atau aku, dia suka menjaga dari jauh. Tapi…, Saat kamu masih kuliah, Shinrei dan Hirari masih sekolah, Yun-Yun, Ibuku, Touhaku-san, dan Mama semua sibuk, dia yang menjaga Kei saat aku berlatih…."
"Hng…, Kei itu kesayangan banget ya, bahkan sejak dari dulu. Dulu, mungkin cuma sekali saja ya dia lepas pandangan dari kalian sepertinya."
"Hm? Kapan?"
"Waktu dia menemukanku yang tersesat ke desa kalian. Dulu teknologi tidak secanggih ini, lagipula dulu minim rambu-rambu jalan. Salah belok saja bisa nyasarnya kemana-mana. Pun tidak banyak yang memiliki peta…, sekarang orang buta arah kayak dirimu saja, bisa kembali dengan selamat dengan mengandalkan fitur peta di ponsel masing-masing."
"Oh…, tepatnya sejak kejadian itu aku, Shinrei, dan Yun-yun begitu pada Kei. Kesannya jadi memanjakan Kei…, tapi itu demi keselamatan dia juga. Zaman dahulu kan…, anak kecil polos saja bisa dibunuh oleh seorang samurai baik suruhan atau inisiatif pribadi."
"Fufufu…, tapi Kei ini termasuk anak penurut. Dia tidak pernah benar-benar membangkang darimu lalu kabur." Zakuro mengusap-usap kepala Kei yang entah sejak kapan tertidur dalam gendongan Hotaru. Hotaru tersenyum kecil.
"Semoga saja sampai dewasa dia tetap jadi anak penurut begini."
~…~…~…~
Keikoku membuka matanya, wajah Shodai Aka No Ou langsung menyambutnya. Keikoku memandang tangannya sejenak lalu memandang wajah Shodai Aka No Ou yang sedang tertawa kecil. Keikoku menggaruk kepalanya lalu menyadari sesuatu yang menempel di belakang telinganya. Keikoku melepas tanduk mainan yang terpasang di belakang telinganya itu, lalu cemberut memandang Shodai Aka No Ou yang malah tertawa terbahak-bahak. Beberapa anak kecil bermata merah ikut tertawa melihat Keikoku yang masih mengerucutkan bibirnya. Shodai Aka No Ou lalu mengelus kepalanya dengan lembut.
"Bahkan di dunia yang kuciptakan untuk The Highest Red Cross Knight sepertimu…, kau masih seperti itu." Ucap Shodai. Keikoku menghela nafas.
"Padahal aku satu-satunya The Highest Red Cross Knight yang bunuh diri…, tapi Anda masih saja memperhatikanku." Keikoku memandang Shodai Aka No Ou.
"Justru karena kamu itu Spesial. Tanpa tuntunan dariku kau bisa mengendalikan Darah Iblis, kau bahkan membuat Boneka Perang yang paling sempurna. Padahal Kau bukan keturunan langsung diriku." Jelas Shodai.
"Kyoichiro tidak sempurna…, jika dia sempurna, aku justru akan membunuhnya, Sebab ia tidak layak jadi pemimpin Klan Mibu yang baru. Klan yang isinya hanya makhluk-makhluk ciptaan Klan Mibu."
"Kamu sangat menyayangi para Boneka Perang dan juga Manusia. Sebagai gantinya, kau justru membenci Klan Mibu sendiri ya…."
"Tidak bisa dikatakan membenci…, kalau aku membenci Klan di mana aku dilahirkan…, aku juga akan membenci anda." Keikoku tertawa kecil. Ia menepuk lembut kaki Shodai Aka No Ou. "Yang aku benci hanya darah iblis. Andaikan orang-orang itu tidak menjual hati mereka pada dewa iblis…, Klan Mibu akan menjadi Klan Dewa yang sesungguhnya."
Shodai Aka No Ou tersenyum dan mengusap kepala Keikoku. "Kau benar…, seandainya aku setegas dirimu, mungkin Saat ini Klan Mibu akan menjadi Klan Tertinggi dan Teragung di seluruh dunia."
"Aku tidak tegas."
"Kau tegas. Kau menciptakan satu aturan yang membuat Klan Mibu masih bisa bertahan dari ancaman kepunahan."
"Bukannya aku mempercepat kepunahan Klan?"
"Kau terlalu jenius." Shodai tertawa kecil. "Justru dengan adanya hukum yang menyatakan Seluruh Boneka Perang wajib membunuh Klan Mibu yang termakan darah iblis membuat anggota Klan Mibu yang belum termakan darah iblis jadi memiliki keinginan untuk menahan hasrat membunuh mereka. Klan Mibu penuh gengsi…, Klan Mibu tidak akan mau dibunuh oleh makhluk ciptaan mereka sendiri yang mereka anggap hina."
"Ya…, kau benar…, tapi itu juga yang membuat beberapa Boneka Perang lupa diri. Suatu saat…, Kyoichiro dan Boneka perang lainnya mungkin akan berbuat sama seperti kita. Menciptakan suatu makhluk dan membuat mereka sendiri punah akibat dari mereka yang lupa akan jati diri mereka."
"Saat itu aku akan menurunkan anakku ke Klan Mibu untuk menyelamatkan mereka dari kesalahan kita dahulu. Atau Kalau kau mau hidup kembali juga boleh."
"Aku…, jika hidup kembali…, berharap menjadi anak dari boneka perang. Dan kalau pun akan ku selamatkan…, hanya keluargaku yang akan aku selamatkan. Aku tidak peduli dengan boneka perang yang lain…."
"Kau paling tidak bisa berbohong…, aku tahu kamu ingin menyelamatkan semuanya hanya saja…, baiklah, aku akan menurunkan anakku saja." Shodai menepuk pelan bahu Keikoku. "Kekuatan fisikmu jauh lebih kuat dariku dan jika ingin kau bisa saja menyelamatkan Klan Mibu sejak dulu…, tapi meski kau bisa mengendalikan darah iblis…, hatimu tidak cukup kuat."
"Hatiku hanya kuat untuk mengalahkan darah iblis dalam diriku…, sisanya tidak…, Seandainya hatiku sekuat itu…, aku tidak akan bunuh diri hanya karena aku lelah membunuh mereka yang mengharapkanku membunuh mereka." Shodai menghembuskan nafasnya lembut lalu mengusap rambut Keikoku. Keikoku merasakan aliran di pelupuk matanya mengalir membasahi pipinya. Shodai mengusap aliran air di pipi Keikoku.
"Setelah Klan Mibu, baik Mibu Sesungguhnya dan Mibu Boneka Perang Musnah seutuhnya…, aku akan menciptakan dunia yang baru di mana dirimu bisa bahagia. Untuk saat ini, bersabarlah dengan dunia kecil bernama 'Tenro' ini, *****."
Keikoku tidak dapat mendengar nama lamanya itu, ada sesuatu di pendengarannya yang menghalanginya mendengar nama yang dulu Ia sebagai anggota Klan Mibu yang sesungguhnya gunakan. Keikoku menghela nafasnya. "Terima kasih Shodai-sama."
Keikoku memejamkan matanya, ketika membuka matanya ia masih melihat Shodai Aka no Ou, hanya saja kali ini Shodai Aka no Ou sedang membaringkan seorang anak lelaki. Keikoku mendekati Shodai Aka no Ou. Shodai berbalik, ia tersenyum memandang Keikoku. Keikoku ingin balas tersenyum, tapi entah karena ini ingatan masa lalunya atau apa…, ia tidak bisa mengendalikan tubuhnya. wajahnya terasa datar, sedatar wajah ayahnya.
"Prediksimu tepat, Klan Mibu yang baru…, mulai berbuat sama dengan apa yang kita lakukan dulu." Shodai Aka no Ou memandang anak laki-laki yang sedang tidur itu. Ia menyentuh kening anak itu.
"Kau memilih menurunkan Kyo?"
"Aku sudah bilang kan? Aku akan menurunkan anakku saat klan Mibu yang sekarang membuat kesalahan yang sama seperti kita."
"Maksudku…, kau punya banyak anak di sini…, kenapa harus anak terakhirmu? Dia tidak akan ingat apa-apa, termasuk misi menyelamatkan Klan Mibu yang sekarang."
"Aku tahu…, tapi aku hanya percaya Kyo yang bisa menyelamatkan Klan Mibu yang sekarang." Shodai mengusap surai kehitaman sang anak. “Lagipula anak-anakku kebanyakan perempuan. aku tidak tega membiarkan anak-anak perempuanku yang harus membawa beban sebagai penyelamat Klan Mibu.”
"Kau benar." Keikoku menggerakan tangannya ia menyentuh kening anak dari Shodai Aka no Ou itu. "Kau harus memilih. Apapun pilihanmu, akan berdampak besar bagi Klan Mibu. Maka dari itu…, lupakanlah kami."
"*****!"
"Kamu akan mendapat orang-orang baru. Yang menyayangimu, yang membencimu, yang berharap kepadamu, yang berhati tulus, yang penuh kesombongan, dan banyak lainnya termasuk manusia…, semua itu akan memberimu pengajaran hingga kau siap memilih demi kesejahteraan Klan Mibu. Kau orang yang hebat, satu-satunya harapan Klan Mibu. Maka dari itu…, lupakanlah kami."
"*****...."
"Lupakan segala kesalahan kami. Jangan mengulang kesalahan kami. Kau harus kuat juga memiliki hati. Kau yang memiliki keseimbangan antara kekuatan dan hatimu lah yang bisa menyelamatkan Klan Mibu." Keikoku melepas sentuhan di kening anak Shodai Aka no Ou itu. Ia memandang Shodai sejenak lalu pergi memunggunginya. Keikoku dapat merasakan dirinya tersenyum tipis.
"Terima kasih, *****."
Keikoku memejamkan matanya lagi untuk sesaat lalu membuka matanya. Saat ini, Keikoku menatap ke langit bersama Shodai Aka no Ou. Memandang pertemuan Kyo dengan salah seorang Boneka perang klan Mibu yang ditugaskan Kyoichiro memata-matai dirinya. Keikoku terkejut menatap wajah ayahnya yang datar dalam pertemuan pertama antara ayahnya itu dengan Kyo. Keikoku dapat merasakan aliran air kembali membasahi pipinya.
"Kau kenal, *****?" Tanya Shodai yang menyadari dirinya sedang menangis.
"Dia…, mungkin keturunan boneka perang dari satu-satunya kekasih hatiku…, yang termakan darah iblis dan terpaksa aku bunuh dengan tanganku sendiri. Karena dia termakan darah iblis…, dia pasti tidak akan bisa hidup di dunia ciptaanmu ini, Shodai-sama. Tapi, Aku bersyukur dia menciptakan boneka perang yang sangat mirip dengan dirinya. Lihatlah…, betapa mirip dirinya pada kekasih hatiku itu."
"Dulu juga…, kau mengambil boneka perang itu dan kau sangat menyayanginya seolah-olah dia anakmu dengan dirinya." Shodai tertawa kecil. Keikoku dapat merasakan dirinya tersenyum sangat lebar.
"Kali ini…, jika aku bisa kembali, sekali saja…, aku ingin menjadi anaknya."
"*****..., baiklah, akan aku kabulkan."
"Eh?" Keikoku memandang Shodai yang tersenyum lembut. Ia mengusap-usap kepala Keikoku.
"Tapi mungkin setelah Kyo menyelesaikan misinya, dan anak tersebut juga masih hidup…, akan aku bawa dirimu menjadi anaknya."
"Shodai-sama…." Keikoku tersenyum. "Buat aku juga lupa seperti Kyo. Agar tidak terjadi pertumpahan darah bagi Klan Mibu lagi."
"Tentu akan aku kabulkan. Kyo akan menjadi satu-satunya anggota Klan Mibu sesungguhnya, sementara dirimu…, Darah Klan Mibu yang mengalir pada tubuh boneka perang. Sama seperti Kyoichiro, yang kau ciptakan dengan menggunakan sebagian darahmu."
"Terima kasih, Shodai-sama."
"Meski mungkin kau akan cacat karena tubuh boneka perang tidak akan bisa menampung Darah murni Klan Mibu.
"Sebelum mati aslinya aku juga sudah cacat kan?"
"..., Ya…, Kau ada benarnya."
~…~…~…~
"Selamat datang kembali." Sapa Kurayami saat Keikoku membuka matanya untuk kesekian kalinya. Keikoku menghembuskan nafas, akhirnya kepingan ingatan masa lalunya selesai ia proyeksikan. Kurayami masih sama seperti saat Keikoku pertama kali mendapat proyeksi ingatan masa lalunya, duduk di meja buatannya dan sedang menuangkan teh. Keikoku duduk dan meminum teh yang disuguhkan Kurayami.
"Kita dulu akrab dengan Shodai, ya."
"Tepatnya, Shodai kagum pada kita. Meski dia raja pertama, tapi kita yang terkuat dan terbijaksana di Klan Mibu. Kata dirinya juga sih, seingatku juga...." Jelas Kurayami. Keikoku mengangguk-angguk.
"Yami…, Kita dulu bisa menciptakan apa saja kan?"
"Apa saja."
"Kalau sekarang masih bisa?" Kurayami menarik nafasnya.
"Mungkin masih. Kau mau menciptakan apa?"
"Boneka perang lagi." Keikoku menghela nafas. "Shodai bilang ini tubuh Boneka perang, meski darah kita darah murni Klan Mibu. Kalau kita bisa menciptakan boneka perang…, mungkin saja tubuh kita kembali jadi tubuh dewa."
"Itu tubuh saat kita pertama kali terpisah menjadi seperti ini, Keikoku. Saat ini tubuh kita benar-benar tubuh Klan Mibu. Bahkan Ayah dan Mama juga menggunakannya."
"Begitu?"
"Yha, aku ingat Shodai pernah berjanji pada kita kalau dia akan menciptakan dunia di mana dia ingin seluruh Klan Mibu yang meraih penghargaan The Highest Red Cross Knight, termasuk kita dan para boneka perang hidup bahagia. Ini dunia yang ia janjikan itu. Meski ke’tidak beradaan’mu dan ayah dulu membuatku hampir menghancurkan dunia ini."
"Kamu termakan darah iblis ya yang kita benci ya?"
"Bisa jadi. Tapi, selama ini aku mati bunuh diri, jadi aku rasa aku masih memiliki sebagian hatimu. Entah yang tercatat di buku sejarah tentangku itu bagaimana…, intinya aku selalu mengulang sejarah kematian kita, meski Shodai berkata dia akan membahagiakan kita. Meski kita bisa Mengendalikan darah iblis…, tapi hati kita tetap sedikit rapuh."
"Benar juga ya. Shodai berkata hati kita sangatlah rapuh." Tawa Keikoku. Keikoku berhenti sejenak. "Ngomong-ngomong…, Kei rasa, Kei tahu kenapa Kei dan Kurayami bisa ingat jauh lebih cepat dari ayah atau orang-orang lainnya."
"Hm? Kenapa?"
"Kita Anggota Klan Mibu yang sesungguhnya." Keikoku menggaruk kepalanya. "Selain kita, semua anggota Klan Mibu sesungguhnya, yang bisa melampaui darah iblis…, semuanya lahir di kerajaan pusat. Karena Shodai mengabulkan keinginan kita jadi anak ayah dulu sekali…, membuat kita tidak lahir di kerajaan pusat dan tetap lahir sebagai anak ayah. Dan meski kita anak ayah, kita tetap anggota Klan Mibu yang sesungguhnya…, yang diberkati mendapat ingatan bahkan sejak kita lahir. Dalam kasus kita, kamu ingat duluan, sementara Kei agak terlambat tapi termasuk cepat untuk ukuran anak boneka perang Mibu lainnya."
"Benar sekali."
"Ih, Kurayami sudah tahu ternyata."
"Sejak aku kembali mendapat sebagian ingatan tentang kita sebagai Raja Mibu, aku sudah menduganya. Itulah yang membuatku dulu yakin, nanti saat aku bertemu dengan belahan jiwaku, Ayah, Paman, Kakek, dan Mama, aku akan terlahir di kerajaan lain."
"Heum…, dan jadi kenyataan ya."
~…~…~…~
"Padahal Mama baru jadi model kemarin, tapi mama sudah sibuk banget." Keluh Keikoku. Hirari yang sedang libur sekolah dan diminta mengasuh keponakannya itu tertawa kecil mendengarnya.
"Iya, ya. Kakak ipar perasaan baru seminggu lalu debut jadi model, tapi langsung dapat tawaran jadi model iklan di tv."
"Apa itu debut??" Keikoku memiringkan kepalanya sedikit. Hirari tertawa mendengar pertanyaan polos keponakannya.
"Itu istilah yang sering dipakai sama orang yang pertama kali kerja di dunia seperti kakak ipar." Jelas Hirari. Kei turun dari kursi tempatnya duduk lalu menaiki kursi yang diduduki paman kecilnya itu. Kei memeluk lengan paman kecilnya itu dengan satu-satunya tangannya itu.
"Kalau kerja di tempat lain, berarti bukan debut?"
"Enggak tahu juga sih, tapi setahu kakak istilah itu sering dipakai buat orang-orang yang kerja seperti kakak ipar saja." Hirari mengusap kepala keponakannya itu.
"Temen kakak datangnya lama. Kei udah mau makan." Keluh Kei.
"Kan kita lagi gak di rumah, makan duluan aja Kei." Ucap Hirari. Kei menggeleng.
"Kei gak mau makan kalau kakak gak makan juga."
"Kamu masih kecil banget, Kei, kamu perlu makan banyak supaya cepat besar. Gak apa makan duluan.." Kekeh Hirari. Kei menggeleng kuat.
"Yo! Hirari! Lama, ya?" Sapa seseorang.
"Lumayan."
"Maaf deh, Soramaru dan Chuutarou mau ikut terus sih tadi."
"Aku bawa adikku juga kok ke sini. Diajak aja harusnya."
"Eh gak bisa. Ibuku marah kalau aku bawa jalan mereka berdua. Kan beda dengan Adik Hirari yang aslinya dijaga sama orang dewasa juga.."
Hirari melirik ke arah luar restoran, memandang seorang pemuda yang sedikit lebih tua dari kakaknya itu berdiri mengawasi mereka. Hirari mengulum senyumnya.
"Kiiko belum datang juga?"
"Dia kan cewe, paling juga lama ngedandan." Kekeh Tenka.
"Sousei gak dateng?"
"Oh kalau itu dia tadi telepon aku. Katanya agak terlambat karena dia harus ikut kegiatan dadakan di klubnya itu." Jelas Tenka. Tenka terkekeh kecil. "Gak nanyain Botan?"
"Ba, baru juga mau nanya!"
"Hahaha, muka Hirari merah tuh!!"
"Mou!!"
"Muka kakak merah kayak tomat!" Kei tertawa lalu menepuk-nepuk salah satu pipi paman kecilnya itu."Ayah pernah ngomong gitu ke paman Shinrei. Kei ikutan!"
"Duh, jangan ikut-ikutan kalau yang itu, Kei." Tawa Hirari sembari mengusap kepala Keikoku.
"Hirari! Tenka! Maaf lama!"
"Datang juga Kiiko…, bareng Botan nih." Kekeh Tenka. Hirari tersenyum menyambut kedatangan kedua teman perempuannya itu. Keikoku duduk di pangkuan Hirari, memandang teman-teman Hirari yang kini mengambil tempat duduknya yang sebelumnya. Hirari mengusap kepala Keikoku.
"Yuk, mulai makan, teman kakak kan udah dateng." Ucap Hirari. Keikoku mengangguk antusias.
"Eh, keponakannya Hirari udah bisa makan sendiri ternyata." Ucap salah satu teman perempuan Hirari. Keikoku mengerjapkan matanya sejenak, lalu melanjutkan acara makannya.
"Jangan salah, aku juga seumur Kei udah makan sendiri." Ujar Hirari, sambil menahan mangkuk makanan Keikoku yang bergerak ke sembarang arah saat Keikoku mulai menyendok. Keikoku menggerakan tangannya dengan senang.
"Kakak ini enak!"
"Enak donk. Kalau gak enak, kakak gak akan ajak Kei ke sini." Kekeh Hirari.
"Paman donk harusnya."
"Aku belum setua itu, Botan!" Keluh Hirari. "Dan lagi kalau aku dipanggil paman sama Kei, kalian juga harus dipanggil paman dan bibi oleh Kei!"
"Hei! Aku gak setua itu!" Keluh Tenka dan Kiiko bersamaan.
"Kakak tiriku juga bilang, lebih baik aku jadi kakaknya Kei dibanding pamannya. Selain karena aku masih terlalu kecil jadi paman, Kei juga gak punya teman main kalau aku jadi pamannya." Jelas Hirari.
"Hng…, emang sih." Ucap Ketiga teman Hirari itu.
"Ya sudah…, kita mulai aja kerja kelompoknya!"
~…~…~…~
Hirari melambaikan tangannya pada temannya saat mobil yang ia naiki melaju perlahan dari rumah temannya yang terakhir ia antar pulang itu. Hirari memandang pengawal kakaknya itu yang sedang menyetir.
"Tuan Muda mau pergi ke mana lagi?" Tanya sang pengawal. Hirari terkejut sesaat, ia lalu menggeleng.
"Aku hanya mau pulang. Kasihan juga Kei. Dia sampai tidur sambil duduk begini." Hirari melirik keponakannya yang tertidur memeluk pinggangnya dengan satu-satunya tangan yang dimiliki keponakannya itu. Hirari mengusap lengan Keikoku dengan lembut.
"Baiklah." Ucap sang pengawal.
"Ngomong-ngomong kak…, saat nanti kakakku jadi raja…, apa aku akan punya pengawal seperti kakak pada Kei?"
"Tentu saja. Tuan muda akan memiliki pengawal. Meski pengawalan Tuan muda, Mungkin hanya seorang seperti saya pada Kei atau beberapa orang tetapi tidak seketat penjagaan kakak anda. Kembali, hal itu tergantung pada keinginan anda." Jelas sang pengawal.
"Oh…, apa pengawalnya bakal seumur kakak semua??"
"Tuan Muda sudah remaja…, biasanya akan ada remaja khusus yang memang dilatih untuk melayani dan melindungi anda. Umurnya mungkin setahun atau dua tahun lebih tua dari anda. Tapi bisa juga yang benar-benar seumur dengan Tuan Muda. Jadi selain mengawal anda, dia juga bisa menjadi teman anda."
"Seperti kakak dan kakakku??"
"Seperti saya dan Hotaru-sama."
"Hmm…, begitu ya…, ayah-ibuku bagaimana?"
"Meski Tuan Muda dan Nyonya Shiraishi, serta Yuan-sensei tidak mau tinggal di istana, pihak kerajaan tetap akan mencari orang yang bisa melayani dan melindungi anda sekalian."
"Begitu…."
"Tuan Muda tidak suka ya?" Hirari memandang sang supir. "Terlihat di wajah anda."
"Jujur saja, iya…, tapi mau bagaimana lagi…, kalau saja bukan karena permintaan raja pusat…, Kakak tidak akan jadi raja."
"Tenang saja, Tuan Muda…, teman-teman anda tadi akan terus berteman dengan anda. Tidak peduli anda pangeran atau rakyat biasa."
"Semoga saja begitu."
~…~…~…~
"Hirari akhirnya pulang."
"Kakak? Kok kakak udah pulang?" Hirari memandang sang kakak yang berjalan mendekatinya.
"Raja pergi mencari selirnya yang kabur. Jadi aku belajar sama Touhaku-san saja. Itu juga sebentar." Ucap sang kakak yang mengambil Keikoku dari gendongan Hirari. "Kei tidak merepotkanmu kan?"
"Kei penurut banget, kok. Jadi gampang menjaganya. Gak kayak Hirari dulu yang suka lari-lari." Tawa Hirari.
"Memang beda sama kamu dulu? Perasaan sama aja." Kekeh sang kakak. "Dulu setiap kali aku bilang jangan lari-lari, kamu langsung berhenti lari."
"Masa'?" Tanya Hirari.
"Waktu kamu seumur Kei, iya sama persis." Sang kakak mengusap kepala Hirari. Hirari tersenyum senang.
"Kalau kakak dulu gimana?" Tanya Hirari. Sang kakak menggaruk pipinya.
"Harus tanya Yun-Yun…, aku kan gak bisa liat dulu aku gimana." Sang kakak mengajak Hirari duduk di sofa, dan menyalakan televisi. Hirari duduk di samping sang kakak yang mengusap punggung Keikoku yang masih tertidur pulas. "Kei pulas banget tidurnya. Biasanya kalau aku nyalain tv dia langsung bangun."
"Mungkin kecapean juga, kak. Kei ikut bantuin Hirari ngerjain tugas kelompok tadi."
"Hm? Bantuin apaan?"
"Jadi model buat gambar kelompok. Duduk doang sih, tapi Hirari yakin Kei tetep capek."
