Actions

Work Header

get well soon

Entire Work

Work Text

Beberapa menit berlalu sejak pertandingan satu-lawan-satu ke delapan selesai. Orang-orang sudah mulai berfokus pada objek yang berbeda; pertandingan dari dua orang yang berbeda lagi di urutan berikutnya. Beberapa memang ada yang khawatir dengan keadaan sosok gadis yang sebelumnya bertanding dan mengalami kekalahan atas anak laki-laki berwajah menyeramkan yang tidak segan-segan memberi gadis itu perlawanan maksimal, sehingga di antaranya memilih untuk meninggalkan bangku penonton dan bergerak menuju ruang kesehatan untuk memeriksa keadaan teman mereka.“Syukurlah kalau tidak terlalu parah. Aku sangat khawatir tadi.” Laki-laki berambut hijau tua menghela nafas lega. “Tapi, kau harus banyak istirahat.”“Ah, tentu!” Gadis yang tengah berbaring di atas ranjang ruang kesehatan itu tersenyum. “Kalau kalian ingin menonton pertandingan selanjutnya, tidak apa-apa, kok. Lagipula, aku butuh banyak istirahat, ahahah.”“Ah-”“Eh! Bukan berarti aku mengusir kalian, ya! Aku hanya mempersilahkan barangkali kalian ingin kembali menonton, kok!”Iida dan Midoriya, dua laki-laki yang selama ini menjadi teman terdekatnya tertawa kecil.“Tenang saja, kami akan kembali menonton.” Lelaki berkacamata kini angkat bicara. “Beristirahatlah. Semoga lekas sembuh.”“Semoga cepat sembuh, Uraraka. Kami pergi dulu, ya.”Mereka saling melemparkan senyum, kemudian ruangan yang awalnya agak ramai dengan perbincangan ketiganya, berubah suasana menjadi sepi.Uraraka menatap langit-langit ruangan. Sedikit-banyak, ia memikirkan kejadian yang terjadi padanya di arena pertandingan.Ia kalah telak. Tubuhnya bahkan sampai tak bisa bergerak sedikit pun di akhir pertandingan. Ia terus merenungi kenyataan itu dan pada akhirnya ia kembali dengan pikiran yang sama seperti yang pernah terbesit dalam otaknya, sebelumnya—dirinya sangat lemah.Uraraka menghembuskan nafas, mencoba menenangkan diri dan sedikit mengubah suasana hatinya, namun hasilnya nihil. Ia tetap berada pada tahap yang sama; merasa bahwa dirinya adalah orang yang paling menyedihkan.Suara hentakan kaki seseorang yang terdengar secara tiba-tiba mengubah arah bola matanya menuju ambang pintu. Dan tak beberapa lama, seseorang muncul dari sana.Bakugou Katsuki. Orang yang telah mengalahkannya pada pertandingan satu lawan satu, beberapa saat yang telah lalu.“Kau masih hidup.”Suara laki-laki itu terdengar datar, sama sekali tidak termuat perasaan bersalah di dalamnya. Ya, mau bagaimana lagi—dia ‘kan Bakugou Katsuki.Uraraka kemudian menjawab setelah ia merasa sedikit terkejut melihat laki-laki itu menengoknya di sini—walau laki-laki itu memang tidak memasuki ruangan, hanya berdiri di belakang pintu dengan melipat kedua tangannya. “Ya, seperti yang kaulihat saat ini.”Bakugou menyahut tak lama kemudian, “Berarti memang tidak apa-apa.”‘Ugh, dasar manusia yang terlalu kuat. Seperti ini dibilang tidak apa-apa.’ Uraraka membatin. Tentu saja, baru kali ini ia mendapat ucapan yang tidak enak didengar kala ia sedang dalam keadaan yang buruk.“Kalau begitu, aku pergi.”“Eh, Bakugou!”Teriakan Uraraka berhasil menghentikan langkah laki-laki itu.“Terimakasih sudah datang ke sini.”“Cih.” Bakugou memasang wajah ala preman yang tengah merasa tersinggung. “Kau terlalu naif. Aku ke sini hanya sekedar mampir, karena tadi baru saja dari toilet. Jangan berpikir macam-macam.”“Tidak apa-apa, kok. Apa pun alasannya, karena kau sudah berada di sini, aku senang.” Gadis itu memasang senyum—memamerkan gigi-gigi rapinya dengan kedua mata yang ikut tersenyum—yang Bakugou pikir, adalah senyum yang paling terang yang pernah ia lihat sejauh ini.Bakugou tidak bisa berbohong bahwa ia tidak merasa tersanjung dengan apa yang gadis itu katakana padanya. Namun ia justru memasang wajah yang lebih tidak menyenangkan—berkebalikan dengan apa yang gadis itu lakukan. Wajah yang tertekuk-tekuk, kerutan di dahi, kedua garis alis yang saling mendekat satu sama lain, dan gigi yang ia gertakan seakan ia benar-benar tengah dipermalukan oleh senyuman gadis itu.Namun memang begitulah kenyataannya; Bakugou merasa dipermalukan dengan keberadaan sosok gadis yang menawan bagai bidadari, sekaligus lawan bertanding yang cukup kuat—paling tidak Uraraka sempat membuatnya terpojokkan, bukan?“Berisik.” Bakugou membalikkan badannya, namun langkahnya ia tahan beberapa detik sebelum akhirnya diangkatnya sembari mulutnya berucap, “Cepat sembuh.”Uraraka tertegun. Entah suara yang ia dengar barusan benar-benar berasal dari lawan tandingnya itu atau bukan, tetapi ia yakin bahwa suara itu sangatlah nyata. Dan jauh dari dalam hatinya, ia sangat mengharapkan bahwa kata-kata itu benar berasal dari mulut manusia tidak sopan itu.Karena ia menyukainya lebih dari ‘cepat sembuh’ yang terlontar dari mulut orang lain.

↑ Top · Fandoms