Work Text
Harry terus berlari sampai dia pikir paru-parunya akan runtuh.Dudley dan Piers dan yang lain baru saja menemukan tempat persembunyian Harry yang terakhir di taman, yang berarti dia harus kembali berlari agar tidak tertangkap oleh geng anak-anak tersebut. Pagi ini Harry tidak mendapat sarapan karena dia telah membuat roti panggangnya gosong, dan dia dapat merasakan betapa kosong perutnya. Berbanding terbalik dengannya, Dudley berlari penuh dengan energi dari banyaknya smoothie dan telur orak-arik yang Harry buat.Jarak diantara mereka semakin dekat.Harry melihat papan tanda jalan yang tidak dia kenal dan berlari ke arah sana, berharap agar daerah yang tidak dikenal ini membuat sepupunya kebingungan.Lalu dia melihat tanda jalan lainnya—yang satu ini berada di luar sebuah gedung besar yang jelek berwarna abu-abu—bertuliskan Perpustakaan Umum.Perpustakaan yang di sekolah—Harry ingat perpustakaan sekolah sangatlah disiplin dalam meminta pengunjungnya untuk tidak berisik ketika di dalam. Selain itu, perpustakaan juga merupakan tempat yang tidak pernah dikunjungi oleh gengnya Dudley.Tanpa pikir panjang, Harry langsung menaiki tangga dan masuk melalui pintu kaca otomatis perpustakaan tersebut.Dari dalam, dia melihat Dudley dan Sammy dan Piers dan Brian berlari melewati perpustakaan sambil berteriak dengan marah. Dudley dan Piers mengayunkan tongkat yang mereka bawa. Mereka bahkan tidak melihat sekalipun ke arah perpustakaan.Memutuskan bahwa dia mungkin bisa beristirahat sebentar, di perpustakaan ini dimana geng itu tidak bisa ribut meski mereka menemukannya, Harry berbalik kedalam.Perpustakaan ini lebih besar daripada perpustakaan sekolah. Jauh lebih besar.Dia tidak pernah begitu suka dengan perpustakaan yang di sekolah. Penjaga perpustakaan sekolah adalah teman Bibi Petunia dari Perhimpunan Orang Tua, dan dia selalu mengawasi Harry seakan dia berpikir kalau Harry akan mencuri buku-buku di sana, atau merobeknya, atau mungkin menyalakan api ditengah sebuah pentagram.(Seharusnya Harry tidak tahu apa itu pentagram, tapi dia menguping pembicaraan beberapa anak yang lebih tua berbisik-bisik gembira tentang itu seperti anak-anak pada umumnya ketika mereka menemukan sesuatu terlarang yang mereka sendiri tidak begitu paham, dan dia tahu kalau hal itu digunakan untuk memanggil Iblis. Bibi Petunia sepertinya benci Iblis, jadi Harry pikir kalau dia bisa memanggil Iblis dan Iblisnya mau berpihak dengan Harry melawan bibi dan pamannya, dia akan memilih Iblis itu daripada mereka. Tapi itu tidak berarti Harry tahu bagaimana cara memanggil Iblis, dan meskipun dia tahu, dia tidak akan melakukannya di perpustakaan sekolah.)Perpustakaan ini berbeda. Tidak ada orang yang duduk di meja depan dan ada beberapa orang yang duduk bersebaran di meja berwarna krem, membaca atau mengetik atau menulis dengan tenang. Harry memicingkan matanya pada wanita ramah yang mendorong troli penuh berisi buku saat dia lewat. Wanita itu mirip dengan guru Harry yang lama, Mrs. Moore, yang gemuk dan memiliki rambut ikal liar berwarna gelap dan memiliki aksen cantik yang kadang-kadang menyelipkan ekstra sandwich daging kornet saat makan siang, tapi kulit wanita memiliki warna lebih ke warna tembaga daripada ke cokelat sedang.“Per-permisi,” Harry tergagap.Wanita tersebut menoleh ke arah Harry dan terdiam. Harry tahu apa yang wanita itu lihat. Tahu kalau bajunya itu besar dan jelek dan usang dan dia lebih terlihat seperti berumur lima tahun daripada tujuh tahun. Harry memasang wajah tanpa dosa terbaiknya yang biasa dia pakai kepada guru-gurunya, membuat matanya terlihat lebar dan polos dengan raut wajah penuh harapan. Dia juga mencoba sebaik yang dia bisa untuk meredupkan warna hijau tidak alami matanya. Dia tahu warna itu membuat beberapa orang tidak nyaman, dan walau dia tidak terlalu mengerti bagaimana dia melakukannya, Harry tahu bahwa dia bisa membuat warnanya lebih kusam untuk beberapa saat kalau dia berkonsentrasi meskipun sesudah itu kepalanya selalu sakit.Sepertinya berhasil. Wajah wanita itu langsung melembut dan tersenyum. Harry menyembunyikan rasa puasnya. “Ada yang bisa kubantu sayang?” kata wanita tersebut sembari membungkuk sedikit.Harry membalasnya dengan senyum malu terbaik miliknya. “Aku ingin tahu apa... apa disini ada buku untuk anak-anak?”“Tentu saja,” kata wanita itu, senyumannya melebar. “Mau aku tunjukkan?”“Terima kasih,” kata Harry sambil melihat dengan malu-malu ke lantai, sesuatu yang dia pelajari dari Piers Polkiss yang walau dengan mukanya yang seperti tikus dan segala kebodohannya sangatlah hebat dalam memanipulasi guru. Harry sangat yakin kalau Piers hanya menggunakan gerakan lihat-ke-bawah-dan-arah-lain hanya karena orang lebih susah mempercayainya ketika mereka bisa melihat mukanya.“Apa anda penjaga perpustakaan?”“Iya benar,” kata wanita itu. Harry menyipitkan matanya untuk membaca kata-kata pada papan namanya—Smithy. “Sudah kerja disini selama tiga puluh tiga tahun.”“Wah,” katanya, berusaha untuk terdengar kagum. “Itu waktu yang lama untuk bekerja dimana saja.”“Aku tahu kamu pasti mendapat banyak nasihat dari orang dewasa, dan yakin kalau kamu pasti berpikir kebanyakan dari mereka tidak berguna.” Kata Mrs. Smithy sambil mengedipkan sebelah matanya ke Harry. “Tapi yang satu ini tidak pernah mengecewakanku. Kerjakan sesuatu yang kamu sukai, dan kamu tidak perlu bekerja seharipun dalam hidup.”Harry mengerutkan dahinya sedikit, memikirkan hal itu. Masuk akal. Kalau seseorang memiliki pekerjaan yang tidak menyenangkan baginya, berarti orang tersebut hanya melakukannya untuk uang saja. Mengingat bagaimana banyaknya Paman Vernon mengeluh tentang bosnya dan rekan kerjanya dan orang-orang yang kerja untuknya dan perusahaan-perusahaan yang bekerjasama dengannya dan tata letak garasi dan kualitas kopi, Harry pikir pasti pekerjaan Paman Vernon tidaklah menyenangkan. Mungkin kalau Paman Vernon melakukan sesuatu yang dia sukai, dia tidak akan selalu marah-marah.“Jadi dapatkan pekerjaan yang kita sukai...” kata Harry perlahan. “dan kita tidak akan pernah bosan dengan hal itu? Atau berharap kita tidak harus melakukannya?”Senyum Mrs. Smithy semakin melebar. “Betul sekali! Kamu pintar ya. Berapa umurmu? Lima tahun?”“Tujuh,” kata Harry, melihat ke lantai lagi. Kali ini dia tidak berakting. Dia tahu kalau dia terlihat kecil untuk anak seumurnya, dan benci tentang hal itu.“Oh sayang, maafkan aku. Yah, aku yakin kamu akan tumbuh besar,” Mrs. Smithy meyakinkannya. “Anak laki-lakiku sudah besar dan punya rumah sendiri sekarang, tentu saja, umurnya sudah tiga puluh tahunan sekarang. Tapi kuberitahu ya, dulu dia sampai umur enam belas adalah anak paling pendek di kelasnya. Lalu selama delapan belas bulan tiba-tiba dia tumbuh seperti ilalang dan berubah menjadi anak yang paling tinggi di kelasnya. Dan… kita sudah sampai!”“Wow,” Harry menghela napasnya dan melihat sekelilingnya dengan mata lebar. Perpustakaan ini memiliki jauh lebih banyak buku dari perpustakaan sekolah, dan tidak ada Mrs. Gurgle dengan mata kecilnya memelototi Harry setiap dia terbatuk. “Terima kasih!”“Semoga harimu menyenangkan sayang,” kata Mrs. Smithy sembari tersenyum, lalu dia bergegas pergi.Harry menghabiskan sekitar satu menit hanya melihat-lihat sebelum dia mengambil sebuah buku berwarna biru dengan naga di sampulnya dan mulai membaca. ~oOo~ Perpustakaan itu menjadi tempat persembunyiannya.Hal yang Harry paling sukai tentang bagian fiksi dari perpustakaan adalah bahwa—bahwa semua hal aneh tentangnya—semua keanehannya—yah, di buku, itu bukanlah hal aneh. Semua itu berarti dia adalah seorang penyihir, atau Penunggang Naga, atau Jin-dalam-pelatihan, atau diberkahi oleh bintang. Itu berarti dia spesial, kuat, bukan hanya seorang anak kecil membosankan dari Little Whinging. Perlahan dia mulai berpikir kalau mungkin saja Bibi Petunia itu salah. Bagaimanapun juga Bibi Petunia bukan orang yang baik—Harry percaya saat Bibi Petunia mengatakan dia adalah orang yang aneh, tapi dia benci Bibi Petunia, jadi mungkin hal yang dibenci Bibi Petunia itu bukanlah hal yang buruk.Harry bekerja sekeras yang dia bisa selama sebulan, bersikap sebaik mungkin, dan memberanikan diri untuk bertanya kepada Bibi Petunia apakah dia boleh membaca buku-buku lama Dudley yang dia dapatkan saat natal dan ulang tahun dan hanya disimpan di kamar keduanya. Wajah Bibi Petunia mengernyit kejam dan sekilas Harry yakin bahwa dia akan dipukul dengan sapu, tapi Bibi Petunia hanya mengangguk dengan kesal dan memberitahunya dengan kasar untuk ‘jangan pernah berpikir untuk merusaknya.’ Harry mengucapkan terima kasih dan menghilang dari hadapan Bibi Petunia sebelum dia berubah pikiran.Dia berusaha ekstra saat memasak makan malam hari itu. Bukan karena dia berpikir Bibi Petunia telah berbaik hati padanya (dia sudah membaca banyak buku untuk tahu kalau keluarganya payah dalam menjadi keluarga, dan bertindak seperti orang baik sekali ini tidak terhitung sebagai hal yang perlu Harry syukuri), tapi karena dia tahu kalau akan lebih mudah mendapat izin kedepannya kalau dia memberi sesuatu sebagai balasan. Meskipun hal itu sangatlah menjengkelkan.Dudley tidak pernah sadar kalau buku-bukunya menghilang, Paman Vernon tidak pernah sadar kalau buku-buku itu tersusun di bagian bawah lemari Harry saat dia melempar Harry ke dalam, dan Harry dan Bibi Petunia tidak pernah membicarakannya lagi. Tapi satu demi satu buku-buku Dudley berpindah dari kamar keduanya ke dalam lemari Harry.Dia sangat berhati-hati menjaga buku-buku tersebut. Tapi dia tidak pernah mengacuhkan mereka. ~oOo~ Suatu hari Harry duduk di perpustakaan, sekitar satu tahun setelah pertama kali dia datang ke perpustakaan tersebut. Dia mengernyitkan dahinya, mencoba untuk membaca buku di hadapannya walaupun pikirannya sedang bimbang. Dia sudah tidak datang ke perpustakaan selama seminggu, sejak Paman Vernon tidak sengaja melihatnya memperbaiki piring yang pecah di dapur dan mengurungnya di lemari selama enam hari berturut-turut. Harry tahu dia harus belajar untuk mengontrol keanehannya. Sama seperti karakter yang ada di buku—mereka juga harus belajar mengendalikannya.“Bagaimana kabarmu, Neal?” tanya Mrs. Smithy, memunculkan diri di pojokan tempat Harry suka membaca.Dia berikan senyum manis terbaiknya. “Hai, Mrs. Smithy! Cukup baik.”Mrs. Smithy melihat buku yang tertutup didepan Harry. “Ada apa? Biasanya kalau aku kesini, kamu sedang serius membaca.”Harry terdiam ragu. “Aku...”Mungkin lebih baik kalau dia bertanya kepada Mrs. Smithy. Mrs. Smithy itu orang dewasa, dan walau Harry tidak terlalu mempercayainya (tidak ada yang pernah membantu Harry, bahkan saat dia memintanya. Meminta bantuan hanya akan membuat dia diacuhkan oleh semua orang dewasa di sekolah dan dipukul di rumah oleh keluarga Dursley karena menjadi anak yang tak tahu terima kasih dan menyebarkan rumor), dia suka Mrs. Smithy. Dan dia lebih percaya sedikit pada Mrs. Smithy daripada kepada orang dewasa lainnya.“Kalau kita mau mempelajari keterampilan baru, bagaimana caranya?” tanya Harry perlahan. “Keterampilan yang harus dipelajari sendiri.”Mrs. Smithy terdiam sebentar. “Seperti belajar bahasa?”“Sepertinya...” Harusnya sama.“Belajar dan berlatih,” jawab Mrs. Smithy seraya mengangkat bahu. “Banyak berlatih. Walau kita tidak melihat adanya kemajuan sedikitpun.”Harry perlahan mengangguk. “O...ke. Terima kasih.”“Kalau ada yang kau butuhkan lagi, bilang saja.” Kata Mrs. Smithy dengan senyum hangat.Makanan. Jaket yang hangat. Plester luka. Buku bacaan. Siapapun untuk menampar muka sepupuku. Apapun yang dapat membantuku tidur di malam hari. “Pastinya. Terima kasih.”Mrs. Smithy pergi, dan Harry mengernyit lagi ke buku di depannya.Harry pernah membuat benda-benda bergerak. Pernah menumbuhkan rambutnya kembali hanya dalam semalam. Dia juga ingat pernah tidak sengaja mengecilkan bajunya setidaknya menjadi dua kali lebih kecil dari ukuran aslinya sehingga dia terlihat lebih seperti memakai kain perca yang dijahit jadi baju daripada hanya kain perca. Dia bahkan pernah mengubah warna rambut salah satu gurunya saat guru tersebut menertawakannya di kelas karena bodoh, walaupun Harry hanya bertingkah bodoh agar dia tidak mendapat nilai lebih tinggi daripada Dudley.Harry melepas topi beanienya yang sudah usang dan berpikir tentang kehangatan. Air hangat untuk mandi di hari-hari langka saat keluarga Dursley meninggalkannya di rumah. Matahari musim panas yang hangat dan aspal yang terpanggang sinarnya di taman, sangat menenangkan bahkan saat Dudley dan gengnya berdiri di sekitar dan menertawakannya dan dia luka karena terjatuh. Udara hangat yang mengenai muka saat dia baru saja keluar dari tempat yang dingin.Harry mencium bau asap tepat pada saat yang sama dia merasakan tangannya menjadi panas. Dia pun melihat kebawah dan menjerit.Topi beanienya terbakar.Harry menjatuhkan topi itu, tapi segera sadar dan menginjaknya sampai apinya padam, lalu dengan gugup melihat daerah sekitarnya.Tidak ada yang memperhatikan.Harry menghembuskan napas lega dan mengambil topi beanie itu. Kalau dia balik, tidak akan ada yang sadar kalau topinya sempat terbakar.Dia tidak membakar perpustakaannya, dan mendapatkan sebuah bukti, sebuah reaksi dari konsentrasi keinginannya.Setidaknya itu membuktikan kalau dia dapat sedikit mengontrol kemampuannya. ~oOo~ Butuh sebulan bagi Harry untuk dapat mengontrol menghangatkan sesuatu sepenuhnya. Dia dapat ‘memasukkan’ kehangatan pada pakaian atau benda apapun (walaupun untuk kertas agak sulit) yang tahan selama beberapa menit sampai seharian, tergantung dengan seberapa energi dia berikan. Awalnya bahkan sedikit saja dapat membuat dia pusing dan kecapaian, tapi semakin lama dia berlatih dia semakin mudah dia dapat menggunakannya. Dia bahkan dapat tidur lebih baik menggunakan selimut usangnya yang sudah tipis dengan menghangatkannya terlebih dahulu.Menyalakan api jauh lebih mudah. Dia tidak perlu mengkhawatirkan batas diantara hanya menghangatkan dan membakar. Saat dia harus membakar sesuatu, dia hanya perlu berpikir tentang saat-saat Dudley mendorongnya di tangga, atau merusak barang dan menyalahkan Harry, atau menyombongkan tumpukan hadiah yang dia dapatkan di depan Harry, atau mengambil makanan Harry; saat-saat Bibi Petunia memukulnya dengan sapu atau penggorengan; bahkan saat-saat Paman Vernon mengeluarkan ikat pinggangnya atau tangannya yang besar untuk memukuli Harry. Biasanya Harry menjaga agar amarahnya tidak keluar, tapi sangat menarik bahwa sekarang hal itu bisa dia manfaatkan.Tapi jika dia pikir, amarah yang dia rasakan itu tidaklah panas. Memang membantu saat dia ingin membuat api, tapi kebanyakan amarah yang Harry rasakan itu terasa dingin di perutnya. Dingin dan padat seperti gletser yang pernah dia baca. Karena itulah hal selanjutnya yang Harry lakukan adalah membekukan benda, dan dia menemukan kalau memunculkan es bahkan jauh lebih mudah daripada api. Harry bahkan merasa senang selama seminggu ketika dia memelototi trotoar dan menyebarkan es di sana tepat pada saat Dudley dan Piers dan Sammy melewatinya sehingga membuat mereka terpeleset dan masuk ke dalam tong sampah.Saat mereka berbalik, Harry sudah tidak di situ.Dia bahkan tidak disalahkan.Harry mendapatkan suatu pelajaran dari hal itu juga.Jangan pernah ketahuan. ~oOo~ Sekitar saat dia berumur sembilan tahun, bibinya mulai mengunci dia di dalam lemari pada malam hari. Jadi Harry memutuskan untuk belajar membuka benda apapun yang terkunci.Harry menghabiskan satu jam setiap hari selama tiga bulan memelototi pintu lemarinya dan berkonsentrasi sampai kepalanya sakit dan dia harus menyerah dan tidur karena Bibi Petunia selalu membangunkannya jam enam pagi untuk membuat sarapan.Pertama kali dia mendengar bunyi klik, Harry merasa napasnya tercekat ditenggorokan.Perlahan dia meraih pintu lemarinya. Apa dia hanya membayangkannya—Ternyata tidak, dan dengan sentuhan jarinya pintu lemarinya perlahan terbuka.Perlahan dan tajam, Harry tersenyum. ~oOo~ Dia dapat makan lebih baik setelah itu, dan meskipun dia tidak benar-benar tumbuh, kemampuan untuk diam-diam keluar dan mengambil sisa ayam, selembar dua lembar roti, beberapa teguk susu langsung dari kotaknya, dan wortel dan seledri dingin dari kulkas, memberikan perubahaan yang sangat jelas bagi Harry. Dia jadi memiliki lebih banyak energi, tidak perlu tidur sesering sebelumnya, dan lebih jarang sakit. Kalau bibi dan pamannya menyadari sesuatu, mereka tidak bilang apa pun. Dengan senang hati Harry memanfaatkan waktu luang yang dia dapatkan dari menyelesaikan pekerjaan rumah yang diberikan lebih cepat dari perkiraan mereka untuk bersembunyi di gudang kebun yang tidak pernah dihampiri siapapun. Dengan menggunakan buku-buku Dudley dan kemampuannya untuk menghangatkan benda, Harry memanfaatkan waktunya di gudang kebun dengan nyaman.Sekarang, menggunakan keanehannya tidak membuatnya cepat lelah seperti sebelumnya, dan walau dia tetap lama saat mempelajari hal-hal baru, Harry tidak pernah lagi terkena migrain dan pusing. Harry berlatih membuka dan mengunci lemarinya, lalu pintu depan, lalu pintu belakang, lalu gembok di gudang kebun, lalu pintu mobil Paman Vernon, hingga akhirnya dia dapat melakukannya dengan konsisten dan dengan mata tertutup.Ketika Bibi Petunia memarahinya karena merusakkan bohlam lampu dengan cepat di lemarinya meskipun hanya ada satu buah bohlam yang hanya Harry pakai untuk membaca saat malam hari, dia memutuskan untuk belajar hal lain. Yang ini lebih mudah daripada membuka kunci. Memunculkan bola cahaya di telapak tangan tidak terlalu berbeda dengan saat dia membuat benda menjadi hangat. Yang menyulitkan adalah membuat bola cahaya tersebut mengambang di langit-langit lemarinya, tapi pada akhirnya Harry berhasil meskipun cahayanya itu sendiri tidaklah terlalu terang. Pada akhirnya Harry berhasil mengembangkan kemampuannya hingga titik dimana dia dapat membuat ukuran bola cahayanya dari sekecil kepala peniti hingga sebesar bola basket, dan dia juga dapat membuat cahayanya berganti warna. Sayang, memunculkan bola cahaya yang besar dan mengganti warnanya terkadang masih membuat Harry cepat lelah.Setelah itu dia mulai berlatih memindahkan barang. Sangat sulit untuk dapat melakukan lebih dari menggeserkan kursi beberapa inci dari tempat asalnya atau membuka dan menutup pintu lemarinya, tapi Harry sangatlah senang ketika pada satu malam dia berhasil mengangkat kasurnya beberapa inci dari ranjang ketika dia sedang duduk di atasnya.Dia akan bertahan hingga lulus sekolah. Setelah dia berumur sebelas tahun, nanti dia akan memasuki sekolah yang berbeda dengan Dudley. Mungkin nanti di sekolah yang baru dia akan punya teman, dan bisa mendapat nilai yang bagus, dan menggunakan semua pengetahuan yang dia telah dapatkan tapi dia sembunyikan selama ini.Dia akan menggunakan keanehannya saat dia bisa, tetap merahasiakannya, tetap bergerak diam-diam, dan tidak akan ketahuan siapa pun, dan suatu saat dia akan pergi dari tempat ini tanpa harus pernah kembali.Terkadang Harry bermimpi untuk membalas dendam. Kadang dia berimajinasi menahan kepala Dudley di dalam toilet tanpa harus mengangkat satu jari pun, atau menyebarkan es di kaki Paman Vernon saat dia berada di anak tangga paling atas, atau membuat api dari kompor mengenai celemek Bibi Petunia. Tapi memikirkan hal-hal seperti itu hanya membuat dia kesal dan sedih karena (untuk saat ini) dia belum bisa melakukan hal seperti itu kepada mereka, jadi Harry berusaha melupakan dan mengacuhkan pikiran tersebut ketika mereka muncul kembali. ~oOo~ Dia tidak akan pernah memberitahu Bibi Petunia, tapi sebenarnya Harry lumayan suka berkebun. Dia bisa minum dari selang untuk mencegah supaya dia tidak haus atau terlalu lapar, dan walaupun agak aneh hal itu memuaskannya. Jadi Harry hanya memasang raut wajah datar saat Bibi Petunia memerintahkannya keluar karena mencabut rumput liar dan memangkas serta merapihkan bunga-bunga mawar yang ada merupakan salah satu tugas favoritnya. Dia agak sedikit kesepian sih. Harry benci menyatakannya, tapi terkadang dia sangat merasa kesepian. Dia tidak pernah punya teman—Dudley membuat tidak ada yang mau berteman dengannya. Selain itu, walaupun sepupunya itu misalnya bukanlah penindas terbesar di sekolah, Harry sendiri pun merasa bahwa anak-anak sekelasnya agak terlalu bodoh dan menjengkelkan untuk benar-benar dijadikan teman. Harry terkadang mulai berbicara kepada dirinya sendiri, atau ke bunga-bunga yang ada, hanya untuk mendengar suaranya sendiri. “Oh, jangan, tidak boleh” saat ada duri mawar yang menyangkut di bajunya, “kena kau” saat dia mencabut rumput liar yang akarnya kuat, “ih menjijikkan” saat dia menemukan siput bersembunyi di balik daun pada musim semi.Satu hari di musim panas dia tidak sengaja menemukan ular kebun. Harry sedang berpikir kalau besok adalah ulang tahun Dudley—bagaimana dia harus bangun jauh lebih pagi dan harus jauh lebih hati-hati untuk tidak membuat daging babi asap yang dia masak gosong, dan bertanya-tanya apakah dia bisa menggunakan keanehannya untuk memasukkan beberapa daging itu ke mulutnya saat dia sedang memasak—dan dia hampir menginjak ular tersebut.“Oh tidak—“ dia tersandung dan jatuh.“Manusia bodoh yang ceroboh,” desis ular tersebut.Harry membeku.Si ular melotot ke arah Harry. “Apa kamu akan mulai menjerit juga, benjolan besar yang bodoh?”“Maaf—apa?” Harry tersedak, sadar kalau kata-katanya terucap dengan sedikit desis di dalamnya.Ular itu terlihat sama terkejutnya dengan Harry. “Kamu bisa Bicara!”
“Eh… Sepertinya?”
“Sangat menarik.” Ular itu terlihat penasaran sekarang. “Aku minta maaf untuk memanggilmu bodoh, tapi aku tetap berpikir kamu itu seperti benjolan. Manusia sangatlah ceroboh.”“Aku berusaha untuk tidak menginjakmu,” kata Harry kesal, melupakan rasa terkejutnya.“Baiklah, terima kasih,” kata ular itu. “Aku tidak pernah bertemu orang yang bisa Bicara sebelumnya.”
“Jadi bisa berbicara dengan ular itu bukan hal yang umum?”
“Oh demi telurku, tentu saja tidak.”
Harry terdiam.“Kalau tidak ada hal yang lain, aku harus berburu,” kata ular itu dengan kesal“Eh, iya—maaf. Um. Apa aku bisa—aku mau—kita mengobrol lagi. Kalau kamu bisa balik kesini,” ucap Harry, tidak ingin kehilangan hubungan yang tiba-tiba ada ini.Sejenak, ular itu tampak memikirkannya. “Aku dengar manusia bisa mengelus ular dengan cara yang enak. Kalau kamu mau mencobanya, aku akan kembali kesini… kalau sempat.”“Setuju,” jawab Harry dengan cepat.Ular itu menghilang dengan sangat cepat, Harry hanya berkedip dan ular itu sudah tidak ada.Oke. Jadi dia bisa berbicara dengan ular. Itu… tidak lebih aneh daripada menyalakan api hanya dengan memikirkannya atau membuat kasurnya mengambang di udara untuk meniru karpet ajaibnya Aladin. ~oOo~ Beritanya menyebar dan berkebun tidaklah lagi sesepi sebelumnya karena beberapa ular di sekitar terkadang muncul dan mengobrol dengan Harry saat dia bekerja. Ular yang pertama bertemu dengan Harry memiliki nama yang terdengar seperti Jase, dan sangat suka dihalus lembut di punggungnya, dan sepertinya Jase bukan satu-satunya yang seperti itu. Ular bukanlah pemberi topik pembicaraan yang menarik. Kebanyakan mereka hanya berbicara dengan sarang mereka, mangsa mereka, bagaimana hasil berburu mereka hari itu, mencari pasangan, bersiap untuk hibernasi, atau tempat-tempat hangat untuk bermalasan. Harry cepat paham dalam berbicara dengan ular-ular tersebut. Ular juga, dia belajar, suka mendapat perhatian. Kalau dia mengelus mereka saat mereka memintanya dan bertanya bagaimana kabar mereka dan mendengarkan mereka berbicara tentang diri dan hari mereka, ular-ular tersebut jadi melihat Harry sebagai sesuatu yang menarik dan juga pengalihan yang berguna.Dia agak sedikit menyesal saat sekolah dimulai kembali karena itu berarti waktu berkebunnya menjadi terpotong. Dia tambah menyesal saat cuaca yang semakin dingin membuat teman-teman bersisiknya memulai hibernasi mereka. Bagi Harry yang telah merasakan beberapa bulan pertemanan tersebut—walaupun temannya bukanlah manusia—musim dingin kali itu menjadi lebih panjang daripada sebelumnya. ~oOo~ “Ambil posnya Dudley.”“Suruh Harry saja.”“Ambil posnya Harry.”“Suruh Dudley saja.”“Dudley, sodok dia dengan tongkat Smeltingmu.”Harry menghindar dari tongkat Smelting itu dan dengan senang hati kabur dari kekacauan yang ada di dapur, bau dari seragam sekolahnya yang baru, tumpukan hadiah, dan terror yang disebabkan oleh Dudley yang bersenjatai tongkat yang diberikan sekolahnya.Ampun deh, pikir Harry, sekolah macam apa yang memberikan muridnya tongkat untuk beneran saling pukul?Harry memanfaatkan waktu selama mungkin untuk mengambil semua surat, membaca satu persatu alamat di amplop yang ada, sebisa mungkin menjauh dari dapur selama yang dia bisa.Tangannya berhenti.Harry mengangkat satu surat hampir ke hidungnya, menyipitkan matanya pada alamat tujuan yang tertera.
Sdr. H. Potter
Lemari di Bawah Tangga
Privet Drive nomor 4
Little Whinging, Surrey
Sebuah… surat. Untuknya.Dari seseorang yang tahu kalau dia tidur di dalam lemari.Mata Harry mengernyit meskipun jantungnya berdebar kencang. Dia ingin merasa senang karena ada yang mengiriminya surat, tapi mungkin saja ini hanyalah sebuah keisengan seseorang. Tidak mungkin ini dari salah satu temannya Dudley. Tulisannya terlalu rapih, dan mereka terlalu bodoh untuk menuliskan sesuatu seperti “Sdr. H. Potter.” Dia tidak tahu siapa lagi yang ingin mengerjai dia dan juga tahu tentang lemari tempat tidurnya. Mungkin Bibi Marge?Tapi keisengan seperti ini bukanlah seperti Bibi Marge. Kalau Bibi Marge mau melukai Harry, dia hanya akan datang dan memerintahkan Ripper untuk mengejarnya. Dia kan sudah pernah melakukannya beberapa minggu yang lalu.“Bocah!” teriak Paman Vernon. Harry melompat dan memasukkan surat itu ke ikat pinggang celana pendek Dudley yang lama sebelum berlari masuk ke dapur.“Maaf, Paman Vernon,” katanya sambil memberikan setumpuk surat dan berbalik ke konter.Dia sedang menggoreng daging babi asap sambil diteriaki Bibi Petunia untuk tidak membuatnya gosong, saat terdengar suara ketukan dari pintu depan.“Pasti itu Piers!” teriak Dudley, bergerak lebih cepat dari apa yang Harry kira untuk anak berukuran sebesarnya.Sebisa mungkin Harry menenangkan detak jantungnya dan berharap kalau Piers datang itu berarti Bibi Petunia akan segera mengusirnya dari dapur dan dia bisa mulai membaca surat tersebut.Jeritan yang terdengar dari ruang tamu mengagetkan Harry dari apa yang dia pikirkan. Dia bahkan hampir menjatuhkan penggorengan yang dia pegang.Kepala Vernon tersentak ke arah jeritan tersebut berasal, dan matanya menyipit tajam. “Petunia?”“—tidak menginginkanmu di rumahku!” ditengah bisikan pembicaraan, suara Bibi Petunia meninggi—suara Dudley, lalu ada suara laki-laki yang tidak Harry kenal. Selama Harry menggoreng daging babi asap, hanya suara Bibi Petunia yang dapat dia tangkap.“Petunia, jangan sekarang,” kata seseorang dengan jelas, lalu ada seseorang masuk ke dapur. Harry melihat ke arah orang tersebut dan membeku ditempat.Dia merasa sedang melihat bayangannya di kaca, kalau dia lebih tua kurang lebih dua puluh tahun, dan kalau dirinya yang lebih tua dapat olahraga dan makan yang teratur dan memiliki hidup yang membuatnya sehat. Rambut hitam berantakan yang sama, kacamata bulat berbingkai kawat yang sama, struktur tubuh ramping yang sama, sampai bentuk bibir mereka juga sama. Yang berbeda hanyalah warna mata mereka. Kalau mata Harry itu berwarna hijau terang, mata orang itu berwarna coklat hangat. Selain itu, di dahi Harry ada bekas luka yang berasal dari tabrakan mobil yang menyebabkan orang tuanya meninggal, orang itu tidak. Harry tahu karena dibandingkan dengannya yang sengaja menutupi bekas luka itu dengan rambutnya, rambut orang itu disisir kebelakang melewati dahinya membuatnya sedikit berantakan walaupun tetap bagus.Harry segera sadar kalau dia memperhatikan orang tersebut dengan mulut menganga dan cepat-cepat menutup mulutnya serta kembali fokus kepada daging yang tengah dia goreng. Dia akan terkena masalah kalau dia membuat daging itu gosong.“Bocah, tinggalkan daging itu,” perintah Paman Vernon.Harry melakukan apa yang diperintahkan secepat yang dia bisa. Dia dapat merasakan ketegangan yang ada di dalam ruangan, tahu kalau hanya akan terjadi kekerasan jika dia tidak hati-hati dengan apa yang dia lakukan.Setelah itu baru dia bisa memberanikan diri untuk memperhatikan orang dewasa disekitarnya. Orang asing tersebut melihat sekeliling ruangan, dengan perlahan dan ekspresi tertegun di wajahnya seakan dia tidak dapat memproses semuanya. Bibi Petunia memaksa masuk ke dalam dapur dan berdiri disamping Paman Vernon. Dudley masih di ruang tamu, karena tubuh gemuknya dia tidak dapat masuk melewati orang asing yang masih berada di depan pintu itu, dan berteriak kalau dia ingin membuka hadiah-hadiahnya, dan dia ingin sarapannya, dan siapa orang ini Mum, dia menghalangi jalan, Mum, ada apa sih ini?Harry melihat bagaimana bibi dan pamannya hanya menatap orang asing itu, dan menyadari sesuatu. Mereka mengenal orang itu. Mereka mengenal orang itu, entah darimana, dan mereka tidak suka orang itu datang ke rumah, dan semua itu berhubungan dengan dirinya.“Harry?” ucap orang asing itu dengan tidak yakin.“Ya pak,” jawabnya dengan sopan.“Harry… saya… ini aku…” kata orang asing tersebut. “James… Potter?”Sekejap mata Harry melesat ke arah Bibi Petunia dan Paman Vernon. Dia tahu nama itu. Itu adalah nama ayahnya. Ayahnya, yang sudah meninggal.Ini semua hanyalah lelucon.Anehnya, hal itu malah membuat Harry tenang. Dia bisa menangani lelucon. Memang membuatnya marah, tapi dibandingkan dengan amarah Dudley yang panas, amarah Harry itu dingin, dan dia bisa menyingkirkannya sejenak untuk mengatasi apa yang ada dihadapannya.“Petunia,” kata orang asing tersebut, sepertinya juga menahan amarah seperti Harry. “Petunia, apa—““Kau bilang kau tidak akan kembali,” kata Bibi Petunia dengan nada yang menyatakan kalau dia sangatlah marah. Harry lebih takut dengan Bibi Petunia ketika dia berbicara dengan nada seperti itu dibandingkan dengan Paman Vernon, tidak peduli seberapa sering Paman Vernon berteriak, atau memukulnya baik dengan tangan atau pun dengan ikat pinggangnya. “Kau bilang kau tidak bisa mengurusnya. Kalau kami harus mengurusnya karena kau tidak bisa.”“Aku tidak—aku telah bilang padamu untuk menceritakan tentang kami,” kata orang asing itu dengan nada aneh di suaranya.Harry mulai merasa ragu dengan kesimpulannya bahwa semua ini hanyalah keisengan seseorang. Semuanya yang dibicarakan terlalu rumit dan terlalu serius hanya untuk sebuah akting yang dilakukan oleh keluarga Dursley, terlebih lagi mereka tidak akan pernah melakukannya pada hari ulang tahun Dudley.“Kau kehilangan hak dalam mengatur bagaimana cara mengasuhnya saat kau meninggalkan anakmu yang berumur satu tahun di tengah malam, hanya memberika penjelasan terburu-buru selama setengah jam, lalu menghilang begitu saja selama 10 tahun,” desis Bibi Petunia.Harry tercengang. “Kau—kau adalah—apa?” ucap Harry terkesiap.Saat dia melihat ke arah Harry, orang asing itu terlihat sedih. “Ya, Harry. Aku… adalah ayahmu.”
----- CHAPTER BREAK -----
Harry berusaha keras untuk menahan agar dia tidak jatuh terduduk karena kaget.Pria itu—ayahnya?—terlihat hampir seperti kecewa. Seakan dia membayangkan kalau Harry akan berlari ke dalam pelukannya dengan gembira. Harry terlalu sibuk mencerna hal yang dikatakan oleh Bibi Petunia—kau meninggalkannya dengan aku di tengah malam hanya memberikan penjelasan terburu-buru selama setengah jam, lalu menghilang—dan dia rasa dia tidak terlalu menyukai ayahnya.Selama ini Harry mengira kalau kedua orang tuanya telah meninggal. Dia pikir kalau orang tuanya masih hidup, pasti mereka akan datang dan menjemputnya, lalu dia akan punya kehidupan normal seperti anak-anak di dalam buku, bersama orang tua yang menyayanginya meskipun mereka itu miskin, atau sedang kabur dari orang-orang jahat maupun dari bermacam bahaya.Pikiran Harry penuh dengan banyak pertanyaan dan dia bahkan tidak tahu harus memulainya dari mana. ~oOo~ Penjelasan James memakan waktu satu jam.Selama itu Harry hanya duduk diam dan menyimak hal yang dikatakan, sebisa mungkin menjaga agar raut wajahnya tetap datar. Terlihat jelas kalau James merasa canggung melihat Harry tidak memberikan respon terhadap apa yang dia jelaskan, tapi Harry tidak peduli.Harry duduk di salah satu kursi yang selama ini bahkan tidak boleh dia sentuh di ruang tamu. Bibi Petunia dan Paman Vernon duduk di sofa, dan James duduk di kursi di sebelah kiri Harry yang juga berposisi di seberang bibi dan pamannya.Harry mendengar cerita tentang keluarganya:James menikahi Lily, adiknya Bibi Petunia, saat mereka lulus sekolah. Sekolah sihir, katanya, karena ibu dan ayahnya adalah penyihir, dan ada sekolah khusus untuk orang-orang yang bisa menggunakan sihir. Dari keseluruhan penjelasan yang ada, hanya itu yang merupakan berita bagus untuk Harry.(Harry sangat senang melihat raut kebencian di wajah Bibi Petunia saat dia mengeluarkan surat yang dikirim kepadanya, terlebih lagi saat dia sadar walaupun dia orang yang aneh, dia tidaklah sendiri dan ada tempat khusus dimana dia bisa belajar lebih lanjut.)Ibu dan ayahnya ikut bertarung di perang melawan penyihir jahat bernama Kau Tahu Siapa.Lalu saat ibunya hamil, mereka pergi bersembunyi.Lily melahirkan anak kembar. Keduanya anak laki-laki.(Harry sempat lupa caranya bernapas saat dia mendengar kalau dia memiliki adik kembar yang lahir hanya tujuh menit setelahnya bernama Julian.)Mereka mempercayai orang yang salah, dan pada satu hari saat ada pertemuan untuk membicarakan strategi perang sisi mereka, ibu Harry tetap tinggal di rumah untuk menjaga kedua anak mereka. Pertemuan tersebut di sergap olah musuh, dan James pun tertahan disana. Ternyata penyerangan itu hanyalah sebuah pengalih perhatian. Di saat semuanya sedang sibuk bertarung, penyihir jahat tersebut masuk ke dalam rumah mereka, membunuh ibu Harry, dan mencoba untuk membunuh Julian dengan mantra terburuk dan paling mematikan yang pernah ada. Tapi, entah bagaimana Julian berhasil bertahan hidup dan menghancurkan Kau Tahu Siapa pada saat yang sama.(Waktu itu Julian hanya berumur satu tahun, dan berarti tidak mungkin dia dapat bertarung melawan penyihir jahat tersebut, jadi menurut Harry hal ini sangatlah konyol. Tapi karena Harry masih agak syok, dia hanya mengangguk saja.)James menjelaskan bahwa dalam semalam Julian kemudian dikenal sebagai pahlawan di Dunia Sihir Britania. Sayangnya, pengikut Kau Tahu Siapa masih ingin membunuh Keluarga Potter, dan diantara semua kekacauan tersebut diputuskan kalau Harry yang masih terlalu muda harus tinggal terpisah dari mereka. Setidaknya sampai setidaknya sihir dia muncul dan dia bisa mulai melindungi diri sendiri.“Itu semua demi keselamatanmu,” kata James dengan nada memohon. “Waktu itu aku adalah salah satu target terbesar mereka, adikmu juga. Tapi itu bukan berarti—bukan berarti kamu juga harus terkena imbasnya.”Harry ditinggalkan dalam pengasuhan kakak ibunya, Bibi Petunia, dengan anggapan bahwa Petunia akan menelepon mereka saat Harry melakukan “sihir tidak sengaja” yang merupakan tanda bahwa sebuah anak keturunan penyihir dapat menggunakan sihir. Jelas bahwa Bibi Petunia tidak pernah menelpon mereka, dan karena itu James mengira bahwa Harry adalah seorang “squib”, yaitu seorang anak terlahir dari keluarga penyihir yang tidak dapat menggunakan sihir. Dengan asumsi seperti itu, James mengira akan lebih baik kalau Harry tidak pernah mengetahui tentang dunia sihir karena dia tidak akan pernah bisa melindungi diri melawan sihir itu sendiri.(Pada titik ini, Harry hanya bisa menahan amarahnya, dan meskipun dia berpikir bahwa alasan yang di katakan James juga merupakan sesuatu yang konyol—setidaknya dia bisa berkenalan dengan keluarganya secara diam-diam bukan?—Harry hanya diam menahan diri untuk tidak mengatakan hal yang kasar ke depan muka James)Jadi saat kepala sekolah dari sekolah sihir itu bertanya kepada James tentang anak tertuanya dan bagaimana sekolah itu (yang ternyata telah disihir untuk mengetahui semua anak yang dapat menggunakan sihir di Britania dari saat mereka lahir) telah mengirim surat penerimaan kepada Harry, James baru sadar kalau Petunia telah berbohong dan segera datang untuk menjemput Harry.“Aku minta maaf,” kata James saat dia selesai bercerita dan Harry tetap tidak mengatakan apapun. “Aku… tidak bisa bilang seberapa menyesalnya aku. Dan aku tahu kalau aku sudah merusak kesempatan apapun bagi kita berdua untuk memiliki hubungan ayah-anak pada umumnya. Tapi kuharap setidaknya kita bisa… memperbaiki sedikit hubungan tersebut.” Dia menarik napas dalam. “Di surat itu ada daftar barang yang harus kamu punya untuk masuk sekolah. Ada satu daerah di London tempat bagi para penyihir membeli barang-barang seperti itu. Kalau kamu mau, aku bisa membawamu kesana untuk membelinya dan lalu kita bisa... pulang ke rumah.”“Rumah,” kata Harry. “Rumahmu?”“Iya.”“Dan ad… Julian ada disana.” Kau seriusan memberikan anak kembarmu nama Hadrian dan Julian?“Iya.” Sesuatu yang tidak bisa Harry definisikan melintas di raut wajah James.Harry memikirkannya sejenak.Sebagian dari dirinya ingin tetap tinggal di Privet Drive. Dimana dia memiliki teman-teman ularnya di kebun dan dia tahu bagaimana caranya menghindari hal-hal yang berbahaya. Tapi, ketika dia melihat raut wajah Bibi Petunia, Harry tahu bahwa Bibi Petunia dan Paman Vernon akan membencinya jauh daripada sebelumnya. Harry tidak yakin semua akan berjalan sebagaimana biasanya sampai dia masuk sekolah nanti.“Oke,” jawabnya pelan, sebisa mungkin membuat wajahnya menunjukkan raut wajah anak yang terkejut, ketakutan, tapi mengharapkan sesuatu walau tidak berani. (Hanya bagian pertama yang benar-benar dirasakan Harry)James tersenyum lega saat mendengar jawaban Harry.Harry tidak bilang padanya kalau dia sebenarnya lebih memilih Bibi Petunia dan Paman Vernon. Setidaknya bibi dan pamannya jujur bahwa mereka tidak mau mengurusnya. ~oOo~ “Selamat datang di Diagon Alley,” ucap James sambil tersenyum lebar.Harry berjalan mengikutinya dengan perlahan, mata dan mulutnya terbuka melihat hal di sekelilingnya.Dia tidak tahu harus melihat kemana terlebih dulu. Ada begitu banyak toko, hal-hal aneh yang tidak pernah Harry lihat, dan orang-orang mengenakan pakaian yang aneh. Percakapan yang dia dengar bahkan jauh lebih aneh.“Hebat bukan?” kata James sambil melihat sekelilingnya dengan kenyamanan seseorang yang kembali ke tempat yang dia sangat kenal.Harry segera sadar dari kekagumannya. “Luar biasa,” setujunya. Harry telah memutuskan untuk setidaknya berhubungan baik dengan ayahnya untuk saat ini.“Mau pergi kemana dulu?” tanya James. Harry pikir James terlihat seperti anak kecil yang terlalu bersemangat. “Kita bisa beli tongkat sihirmu dulu, atau ke toko buku—“ jadi kau tidak suka membaca, pikir Harry saat mendengar sedikit rasa jijik di suara James. “Atau ke Toko Bahan Ramuan, atau membelikan mu pakaian… Serius deh, aku ingin menggantung Petunia terbalik karena membuatmu memakai baju seperti itu.”Harry setuju dengan perasaan ingin untuk menggantung-Petunia-terbalik, tapi dia yakin bahwa James hanyalah bercanda, jadi dia diam saja. “Aku… hanya…” katanya dengan malu. “Aku tidak pernah punya uang, jadi…”Raut James terlihat seperti baru menelan jeruk nipis. Harry tidak bilang kepadanya kalau ekpresi mukanya saat itu mirip dengan Petunia. “Oh, de—tentu saja kita… punya uang. Dengar, akan aku jelaskan—ayo, akan ku jelaskan sambil kita jalan ke bank, oke? Aku juga harus mengambil uang dulu.”“Oke,” setuju Harry.“Jadi ada banyak keluarga tua di dunia sihir Inggris,” terang James sambil memegang pundak Harry saat mereka berjalan melewati kerumunan. Dia tersenyum dan mengangguk kepada banyak orang tapi tetap berjalan dengan cepat. Harry yakin dia sedang berusaha menghindari kenalannya. “Banyak dari mereka itu bang—eh, maaf—tidak terlalu baik. Mereka membanggakan diri sebagai orang-orang dengan ‘darah murni’ dan hanya menikahi penyihir. Menurutku semua itu hanya omong kosong karena tidak ada begitu banyak penyihir darah murni sekarang ini. Kecuali kalau mereka melakukan pernikahan sedarah kayak bangsawan abad pertengahan… Tapi yah, coba saja bilang ke mereka begitu. Silsilah Keluarga Potter, keluarga kita, juga salah satu keluarga yang sudah tua, tapi kita juga tidak begitu ‘murni’ dan kita juga bukan orang-orang puritan darah yang brengsek juga.”Sungguh suatu informasi yang terlalu banyak untuk dicerna sekaligus. Harry berusaha keras untuk setidaknya mengingatnya untuk nanti.“Lalu, Keluarga Potter punya sejumlah lemari besi di Gringotts—bank Sihir. Aku sudah mengatur agar kamu dan adikmu masing-masing punya satu Brankas untuk Anak1. Nanti disitu kalian bisa ambil uang sampai lima ratus galleon dari tahun ini sampai kalian tujuh belas tahun. Saat tujuh belas tahun brankas itu jadi brankas penyimpanan kalian sepenuhnya. Saat aku meninggal nanti, Harry, kamu lah yang akan mewarisi gelar kekuasaan Keluarga Potter.”Harry menangkap sedikit ketegangan di suara James, dan sadar kalau dia tidak menceritakan semuanya kepada Harry. Dia memutuskan untuk mencari buku yang bisa menjelaskan hal tersebut untuknya nanti.“Jadi, apa aku akan membeli peralatan sekolah dari uang yang ada di brankas itu?” tanya Harry.“Merlin, tidak, itu aku yang akan bayar,” kata James terkejut. “Sudah tugas orangtua kan.” James meringis saat dia menyadari ironi dari membicarakan ‘tugas orangtua’, dan buru-buru lanjut menjelaskan sebelum Harry bisa menertawakannya. “Nah lalu, kita tetap akan ke brankasmu untuk menyelesaikan pengurusan akses kamu ke dalamnya, serta untuk memberimu tas Gringotts. Lalu nanti kita ke brankas keluarga, karena aku harus… mengambil sesuatu untuk kepala sekolah.”Harry merasa bahwa James ingin membuatnya bertanya lebih banyak, jadi dia terus berpura-pura perhatiannya teralihkan oleh toko yang memajang beragam topi di jendelanya.Ketika mereka sampai di Gringotts, Harry sengaja mengangguk dengan hormat kepada goblin-goblin yang berjaga di pintu depan saat James hanya berjalan begitu saja melewati mereka. Dia juga melakukan hal yang sama kepada goblin yang berbicara padanya dan James, lalu juga ke Griphook yang membawa mereka ke brankas mereka.Pertama, mereka berhenti di brankas punya Harry.“Taruh tanganmu di pintu,” arahi Griphook dengan suara bosan. “Pintunya akan mendaftarkan darahmu ke brankas tersebut, dan memastikan tidak ada yang bisa membukanya selain kau.”Harry melakukannya dengan senang hati.Sejenak pintu tersebut bersinar keperakan dan—setelah warnanya kembali seperti semula—kemudian terbuka.Mulut Harry ternganga.Banyak sekali tumpukan emas, perak, dan perunggu. Harry hanya samar-samar mendengarkan penjelasan denominasi uang yang diterangkan oleh Griphook. Dia lebih sibuk memproses bahwa selama bertahun-tahun dia kelaparan dan kedinginan di Little Whinging, padahal dia punya semua ini.Griphook menjentikkan jarinya, dan sebuah tas kulit hitam yang bagus muncul ditangannya. “Dari tas ini kau bisa mengambil sampai lima ratus galleon setahun dari brankas milikmu, dan dengan ijin orangtua sesuka yang kau mau dari brankas keluarga,” terangnya. “Tinggal kau pegang tasnya lalu pikirkan mau mengambil berapa. Tas itu juga diberikan Mantra Pengembang Tak Terdeteksi, jadi kau bisa memasukkan barang-barang lain—sampai sevolume kambing dewasa—ke dalamnya.”“Terima kasih.”Griphook menyeringai kearah Harry—sepertinya bagi Goblin hal itu sama seperti tersenyum biasa—dan mengarahkannya keluar.Mereka kembali menaiki kereta gila itu dan langsung berderik terjun ke dalam perut bumi.“Brankas keluarga Potter,” ucap Griphook.“Ayo lihat,” kata James sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Harry.Harry mengikutinya masuk ke dalam brankas tersebut dan terdiam. Lagi.Kalau brankasnya tadi sudah mengesankan, yang ini adalah… tak terbayangkan. Seseorang dapat memasukkan rumah Dursley ke dalam brankas dan tetap akan ada sisa ruangan di dalamnya. Yang paling banyak tersimpan disini adalah uang, tapi Harry juga melihat ada beberapa lemari buku di sekitar tumpukan besar perunggu knut, dan dia memicingkan matanya.“Boleh aku… lihat-lihat sedikit?” tanya Harry tanpa menyembunyikan rasa kagumnya.“Tentu saja,” jawab James ringan. Dia sudah berjalan ke arah yang berlawanan. “Aku hanya akan memakan waktu sebentar…”Harry meninggalkan James dengan pencarian barangnya, dan langsung berjalan ke arah rak-rak buku tersebut. Dia berpikir tentang mantra pengembang tak terdeteksi yang ada di tasnya, dan seberapa jauh dia tertinggal bila dibandingkan dengan murid-murid lain kalau mereka hidup bersama keluarga penyihir.Harry tersenyum lebar saat dia melihat buku-buku tersebut. Semua buku itu terlihat tua, tebal, dan sangat mempesona. Tapi dia tidak punya banyak waktu…Tangannya meraih buku-buku yang menurutnya paling menarik.
Pembelajaran tentang Ramuan Terlarang
Di Ambang Batas: Mantra dan Kutukan yang dianggap “Sihir Abu-Abu”
Ensiklopedia Lengkap Emeric mengenai Kutukan, Guna-guna, Mantra-Pembalik, dan Sihir Penyerang Lainnya.
Seluk Beluk Seni Sihir Pikiran
Dengan jantung berdegup kencang, Harry segera memasukkan ke empat buku tersebut ke dalam tasnya dan kembali melihat-lihat rak itu.Matanya melihat sebuah buku kecil di lantai dekat pojokan rak buku. Harry mengambilnya, melihat bahwa judulnya membicarakan sesuatu tentang hewan, dan tanpa pikir panjang langsung memasukkannya ke dalam tas karena perhatiannya segera teralih ke—Harry sudah melihat bagaimana James atau penyihir-penyihir lain menggunakan tongkat sihirnya. Justru malah Harry tidak melihat satu orang pun yang tidak melakukan sihir tanpa tongkat. Saat dia menanyakannya, James menjawab hanya penyihi-penyihir kuat saja yang bisa menggunakan sihir tanpa tongkat, dan itu pun hanya setelah mereka berlatih selama bertahun-tahun. Selain itu yang bisa melakukan sihir tanpa tongkat hanyalah penyihir-penyihir muda yang sihirnya tidak terkontrol. Mendengar itu Harry hanya mengangguk dan tidak mengucapkan apapun mengenai sihir tanpa tongkat yang bisa dia lakukan. Melihat bagaimana semua penyihir terlihat sangat terbiasa menggunakan tongkat mereka, Harry tahu bahwa dia sangat menantikan melihat seberapa jauh menggunakan tongkat sihir dapat membantunya melakukan sebuah mantra.Jadi, sudah pasti Harry mengenali rak penuh dengan tongkat sihir saat dia melihatnya. Tapi, yang membuatnya terkejut bukanlah bagaimana rak tersebut dipenuhi oleh banyak tongkat sihir, melainkan kekuatan yang dapat dia rasakan keluar dari tongkat-tongkat tersebut.Perlahan Harry berjalan mendekat. Tongkat-tongkat sihir yang terletak dekat pojok kiri atas terlihat paling tua. Terlihat piagam kecil yang tua dan hampir tidak dapat terbaca terpajang di samping tongkat-tongkat tersebut. Lord Edmund Potter. Lady Caroline Potter. Setiapnya diikuti dengan detil yang tidak terlalu dimengerti Harry, dan kemungkinan menyebutkan bahan yang digunakan untuk membuat tongkat itu.Di bagian kanan bawah terletak sebuat tongkat bertuliskan Lord Fleamont Potter, dan lalu di bawah itu, Lily Evans-Potter dengan beberapa rak kosong dibawahnya. Sangat mudah disimpulkan kalau rak ini berisi tongkat-tongkat sihir dari anggota keluarga yang telah meninggal.Harry mengedipkan matanya kencang untuk menghilangkan air mata yang serasa akan keluar, dan kembali melihat ke arah tongkat-tongkat tersebut. Dia merasa ada sesuatu yang… menariknya.Tongkat sihir hitam tersebut terasa seperti berdenyut saat Harry melihat ke sana.Harry memicingkan matanya dan melangkah mendekat.Vincent Gaunt-Potter, tertulis di sana, pudar dan ternoda oleh waktu. Kayu ash, bulu ekor thestral. Tongkat itu sendiri terlihat polos dan sepertinya berukuran standar, di ukir menggunakan kayu berwarna coklat tua. Tongkat itu terletak di bagian pojok kiri rak, dan hanya beberapa rak di bawah rak yang paling atas. Berarti salah satu tongkat yang paling tua di sini.Hampir tanpa pikir panjang, Harry mengambilnya.Saat dia memegang tongkat tersebut, sebuah gelombang energi bergetar diantara Harry dan tongkat itu. Lalu gelombang tersebut berhenti, dan Harry pikir tongkat tersebut terasa… puas.Perlahan Harry memeriksa tongkat yang terasa halus ditangannya tersebut. Harry tidak tahu apakah tongkat lama memilih pengguna baru itu merupakan hal yang normal atau tidak, tapi, melihat tidak ada rak lain yang kosong disana, dia rasa tidak. Itu berarti kemungkinan besar James dan Julian memiliki tongkat sihir mereka sendiri.
Aku seharusnya tidak mengambil ini.
Meskipun demikian, Harry merasa bahwa dia tidak dapat meninggalkan tongkat tersebut. Dia dapat merasakan sebuah kekuatan keluar dari tongkat sihir itu, dan Harry tidak dapat mengelak dari keinginannya untuk memiliki tongkat itu. Ditambah pula tongkat itu menyukai Harry. Akan sangat bodoh kalau dia meninggalkannya begitu saja.Akhirnya, Harry memutuskan untuk membawa tongkat tersebut dan memasukkannya kedalam tas. Setelah itu dia segera kembali ke pintu brankas. Harry sampai di pintu brankas pas saat James juga sampai disana.“Harry, bagus,” kata James tersenyum lebar. “Ada yang kamu suka?”Harry mengingat apa saja yang dia lihat, berpikir apa yang bagus untuk dia tanyakan. “Apa semua sapu itu bisa terbang?”Senyum James semakin lebar. “Kita punya pemain Quidditch alami disini sepertinya! Yah, bisa sih. Tapi sapu-sapu itu sudah lama. Aku akan mengajarimu sebelum masuk sekolah. Kau pasti akan suka. Jules sudah terbiasa terbang sejak dia umur empat tahun, aku yakin dia akan senang membantumu…”James terus berbicara tentang sapu terbang dan olahraga disebut Quidditch yang dilakukan dengan menggunakan sapu tersebut. Harry pikir olahraga tersebut terdengar keren, dan dia sangat ingin mencobanya. Tapi, karena selama ini Harry hanya pernah merasakan kehilangan apa yang dia nyatakan dia sukai, dia tidak mengatakan bahwa dia tertarik pada olahraga tersebut kepada James. Selain itu, Harry akan mengingat kalau membicarakan sapu terbang adalah cara yang efektif untuk mengalihkan perhatian James.Harry juga memperhatikan James memasukkan suatu barang yang dibungkus dengan kertas berwarna coklat ke dalam kantongnya. Jadi itu barang yang diambil James untuk kepala sekolah yang misterius ini. Dari surat yang dia dapat, kepala sekolah tersebut bernama Albus Dumbledore. Sungguh itu adalah nama paling menggelikan dan tidak wajar yang pernah Harry dengar. Kalau saja James tidak mengatakan kalau itu adalah nama keluarga yang sudah ada cukup lama, Harry akan curiga kalau orang tersebut sengaja memilih nama seperti itu untuk membuatnya terdengar seperti kakek yang ramah walau agak canggung (yang pastinya malah akan membuat Harry sama sekali tidak percaya tentang hal tersebut). Tentu saja karena nama itu adalah nama keluarga, mungkin ini hanyalah kecurigaannya yang berlebihan, tapi tetap saja.Saat mereka kembali, Harry benar-benar menikmati menaiki kereta tersebut. Karena James duduk di depan dan tidak akan bisa melihatnya, Harry bahkan membiarkan senyuman lebar terpampang diwajahnya selama perjalanan. Griphook, yang juga duduk di depan, terlihat bosan. Menurut Harry, kalau dia yang menaiki kereta ini beberapa kali dalam sehari, dia tidak akan pernah bosan melakukannya, tapi mungkin goblin memang begitu.Saat mereka keluar dari terowongan, terangnya ruang masuk bank yang terbuat dari marmer putih membuat Harry mengernyitkan mata dan James menertawainya. Memang bukan tertawa yang jahat atau pun mengejek, tapi Harry sudah terlalu sering ditindas dalam hidupnya dan seketika dia merasa dingin dan tegang, rasa gembiranya menguap.“Bagaimana kalau kita ke toko Ollivander?” tanya James. “Kita beli tongkat sihir untukmu. Kau akan jadi penyihir sesungguhnya sekarang!”Setidaknya Harry bisa mendukung hal tersebut. Dia mengarahkan senyum lebar dengan sedikit raut kehati-hatian dan malu-malu kepada ayahnya (akan mencurigakan kalau dia terlihat ramah terlalu cepat), tapi tetap dia tersenyum.Walaupun canggung, James terlihat senang.Harry memutuskan kalau ayah kandungnya kurang lebih sama seperti guru-guru di sekolahnya yang tidak terlalu memperhatikan detil sekelilingnya.Toko Ollivander itu sempit, berdebu, dan berbau seperti pernis dan kayu. Rasa dari kekuatan dan sihir yang muncul dari tongkat sihir keluarga Potter yang ada dalam brankas sudahlah kuat, tapi disini kekuatan tersebut seperti menekan dari segala arah. Ujung dari kotak-kotak kecil panjang terlihat bertumpuk pada rak di kedua dinding, membentang lebih jauh dari yang dapat dikira dari depan toko. Harry bahkan tidak bisa melihat ujung dari ruang tersebut. Jendela depan, walaupun tidak ada sesuatu yg menghalangi, sangatlah berdebu dan kotor, membuat sangat sedikit cahaya dapat masuk ke dalam toko itu sendiri. Harry sangat yakin kalau si pemilik toko sengaja membuatnya seperti itu.“Ahhhh,” terdengar suara seseorang. “Mr. Potter, yang lebih tua. Aku mengira aku tidak akan melihat mu disini…”Laki-laki tua dengan mata lebar yang agak menakutkan itu melirik ke arah James saat mengatakan hal tersebut dan—apa itu teguran dalam nada bicaranya?Harry memutuskan kalau dia menyukai laki-laki ini. Meskipun dia agak sedikit menyeramkan.“Harry, ini Mr. Ollivander,” kata James. “Pembuat tongkat sihir paling terkenal di Inggris. Dan juga yang terbaik.”Harry penasaran apakah tongkatnya yang dari Ollivander akan sebagus yang dia ambil dari brankas.Laki-laki kecil itu mulai melakukan berbagai macam pengukuran. Harry tidak memperhatikan apa yang dia katakan. Sangat jelas kalau apa yang diucapkannya sengaja dibuat untuk membuat para pelanggan bingung, terintimidasi, sekaligus terkagum-kagum akan pengetahuan luar biasa si pembuat tongkat. Meskipun begitu, Harry tetap harus mengakui fakta bahwa Ollivander dapat mengingat semua hal tentang tongkat James dan juga tongkatnya ibu Harry itu adalah hal yang keren.Perhatian Harry tertarik kepada tongkat-tongkat itu sendiri.Dia tidak tahu apakah dia akan menyadari hal ini sebelum memegang tongkat punya Vincent Potter, tapi ada… sikap yang berbeda terasa dari setiap kotak saat Ollivander mengambil mereka satu-persatu dan menumpuknya di atas meja. Ada yang tampak keras kepala, berapi-api, lamban, sederhana, tidak bisa diam, tidak dapat diduga-duga, kejam, tegang, dan ada juga yang terasa baik.“Ini, coba ini. Dua belas inci, kayu yew, rambut unicorn. Coba…”Harry mengambil tongkat tersebut dan mengayunkannya dengan perasaan agak bodoh. Dalam sekejap tongkat tersebut sudah diambil kembali.“Jelas tidak. Empat belas dan tiga perempat inci, kayu ceri, urat jantung naga—“Harry ayun tongkat tersebut, dan sebuah mangkuk di meja tersebut pecah.Dia tersentak dan secara refleks kata maaf sudah siap terucap oleh bibirnya, dengan salah satu tangannya terangkat untuk menahan tinju—Tapi Ollivander hanya mendecakkan lidahnya dan mengayunkan tongkat sihirnya ke arah mangkuk tersebut dan memperbaikinya. Dia sepertinya bahkan tidak menyadari reaksi yang Harry tunjukkan.Sayangnya James menyadarinya. Dengan hati-hati Harry melirik ke arah ayahnya. Harry melihat rasa bersalah, kengerian, dan ekspresi sadar akan sesuatu terpancang jelas pada raut wajah pria tersebut. Memang sepertinya James bukanlah seorang aktor yang baik. Harry baru saja berumur sebelas, dan dia bisa menyembunyikan perasaannya lebih baik dari itu.Satu demi satu tongkat-tongkat sihir dicoba lalu disingkirkan. Sebagian dari mereka bahkan tidak memberikan reaksi apapun, ada pula yang membuat benda-benda jatuh dan pecah. Yang jelas, kebanyakan dari mereka menunjukkan rasa tidak setuju dan penolakan dengan halus kepada Harry. Biasanya Harry dapat merasakan apakah tongkat sihir itu cocok atau tidak untuknya hampir secepat Ollivander mengambil mereka dari tangannya kembali.Harry melawan rasa malu dan rasa bersalah yang muncul dalam dirinya. Rasa bahwa disini, ditempat dimana sihir itu nyata, tetap saja Harry itu aneh dan tidak normal. Dia yakin dia tidak akan berhasil menyembunyikan apa yang dirasakannya kalau saja James tidak hanya duduk santai terlihat tidak peduli dan Ollivander hanya terlihat semakin bersemangat. Mereka berdua bersikap seakan sulit mendapatkan tongkat sihir yang cocok itu bukanlah hal yang aneh ataupun memalukan, jadi Harry tetap menutup mulutnya dan mengubur rasa yang muncul dalam pikirannya tersebut.Harry tidak akan membiarkan kata-kata Bibi Petunia membuatnya malu bahkan setelah dia keluar dari sana. Tidak akan.“Ku tinggal sebentar ya, Harry,” kata James. Harry melihat perhatian ayahnya tertuju pada sesuatu yang ada di luar toko. “Aku akan segera kembali. Ada masalah pekerjaan yang muncul, kau mengerti kan?”Harry mengerti. Paman Vernon juga sama seperti James, bersedia untuk membatalkan acara keluarga kalau ada “masalah pekerjaan” yang muncul. Harry menyaksikan James pergi, dan segera mengembalikan perhatiannya ke arah si pembuat tongkat sihir saat pria yang pendek dengan penampilan yang dapat menipu itu menghilang di antara banyak rak yang ada. Hanya suaranya saja yang masih dapat terdengar.“Pelanggan yang rumit ya. Tak apa, tak apa… Ah, hm… bagaimana ya… kenapa tidak… setidaknya menarik untuk dilihat…”Ollivander muncul kembali sambil mempertimbangkan sebuah kotak yang dia pegang. Dia berjalan ke konter menuju Harry dengan mata yang bersinar seakan penasaran. “Sebelas inci, kayu holly, dengan inti dari bulu ekor phoenix.”Harry menatap tongkat tersebut. Tongkat tersebut terasa lebih muda dari yang ada di dalam tasnya. Muda, ingin tahu, dan ingin melakukan banyak hal. Siap untuk digunakan, untuk melakukan hal-hal yang hebat. Tongkat tersebut terasa kuat dengan caranya sendiri.Harry mengambil tongkat tersebut, yakin bahwa tongkat itu lah yang cocok untuknya.Kehangatan menyulut saat dia mengambil tongkat tersebut. Kekuatan tongkat ini jelas lebih kurang terkendali jika dibandingkan dengan tongkat yang dari brankas. Belum pernah terpakai, tidak berpengalaman.Dia mengayunkan tongkat itu dan semburan percikan emas keluar darinya.Harry sadar bahwa dia tersenyum, senyum tajam yang biasanya hanya dia munculkan saat dia sedang sendiri. Tapi Ollivander sepertinya tidak memperhatikan. “Menarik,” gumamnya, “menarik…”Dia benci bertanya. Selain Mrs. Smithy tidak ada orang dewasa yang suka saat dia bertanya, tapi—“Maaf pak, apa yang menarik?” tanya Harry.Harry merasa lega saat Ollivander terlihat biasa saja saat mendengar pertanyaannya. “Kau tahu, Mr. Potter, burung phoenix yang ada bulunya ada dalam tongkat itu hanya pernah memberikan tiga bulu ekor saja. Satu tentu dalam tongkat itu, satu ada dalam tongkat yang dimiliki saudaramu, dan yang ketiga… tongkat ketiga yang memiliki bulu ekor tersebut adalah yang memberikan saudara kembarmu bekas lukanya.”Tangan Harry hampir bergerak ke arah dahinya dengan sendirinya, tapi dia menutupi gerakan tersebut dengan menggosok hidungnya. “Tongkat itu—ada sama penyihir jahat yang namanya tidak disebutkan oleh siapapun?”“Tiga belas setengah inci. Kayu yew. Aku selalu bertanya-tanya apa yang akan terjadi dengan Voldemort jika saja aku tidak menjual tongkat tersebut padanya,” jawab Ollivander. “Aku sarankan padamu untuk tidak menyebutkan namanya. Banyak orang yang tidak akan menanggapinya dengan baik.” Aura sinting yang ada pada pria tua itu menghilang, dan sesuatu yang terlihat pintar dan berbahaya muncul sebagai penggantinya. “Tapi, bahwa tongkat saudara dari Pangeran Kegelapan memilih Anak Laki-laki yang Bertahan Hidup dan saudara kembarnya itu… sangatlah menarik.”Ollivander menggeserkan kotak tongkat itu ke arah Harry tapi tidak melepaskannya. “Aku rasa kita dapat mengharapkan hal-hal hebat darimu, Mr. Potter. Bagaimanapun juga, Dia yang Namanya Tak Boleh Disebut juga melakukan hal-hal hebat. Mengerikan memang, tapi hebat.”Harry melihat ke arah kotak tongkat tersebut dan berpikir bahwa dia ingin melakukan sesuatu yang orang-orang sebut sebagai “hal-hal hebat”.Dia mengangguk kepada Ollivander tepat saat James Potter masuk kembali ke dalam toko dan menghancurkan keheningan yang ada. “Sudah dapat? Bagus sekali. Dapat apa? “Sebelas inci, holly, bulu phoenix,” jawab Harry secara reflex.“Bagus, bagus,” kata James sambil mengambil uang dalam kantong uangnya yang terlihat mirip tapi lebih besar daripada punya Harry. “Tujuh galleon seperti biasanya?”“Benar, Lord Potter,” jawab Ollivander.Harry sadar bahwa Ollivander terus melihat ke wajahnya saat mereka keluar pergi dari toko tersebut. ~oOo~ “Sekarang kita kemana?” tanya Harry.James meringis. “Aku, ah, harus pergi mengurus… sesuatu. Aku bekerja sebagai Auror, polisi di dunia sihir, dan ada penampakan penyihir berbahaya yang sedang dicari… Memang tidak dekat sini tapi mungkin harus aku tangani… apa kamu bisa jalan-jalan sendirian sebentar?”“Kurasa begitu,” jawab Harry, berusaha untuk tidak terdengar ragu. Dia tidak ingin berkeliaran di jalan ramai yang dia tak kenali tanpa ada pemandu, tapi dia juga tidak yakin dia ingin berkeliling bersama James Potter.“Jangan pergi ke gang-gang kecil, tetap di jalan utama saja, dimana kau bisa melihat Gringotts,” kata James dengan tegas sambil belutut didepannya. Raut ‘tegas’ tidak cocok di wajahnya. Harry rasa James lebih cocok terlihat ceroboh dan penuh tawa.“Kau menyimpan suratmu bukan? Pergilah ke Toko Bagasi dan Perlengkapan Travel Dyson dan beli koper dengan mantra penyusut, lalu kamu bisa keliling untuk membeli buku pelajaran, kuali, bahan-bahan dan peralatan ramuan.” Lagi-lagi muncul rasa tidak suka pada nada bicara James saat membicarakan buku dan ramuan. Harry memutuskan untuk memperhatikan kelas ramuannya dengan baik. “Kalau aku nanti belum kembali juga, kau bisa ke toko Madam Malkin atau Twilfit dan Tatting untuk membeli jubah sekolah… sebenarnya menurutku lebih baik kalau kau sekaligus membeli beberapa pakaian baru sekalian. Kita bisa membelikan mu pakaian Muggle juga nanti. Jangan lupa untuk membeli mantel. Musim dingin di Hogwarts sangatlah dingin. Aku akan mencarimu saat aku kembali. Kalau aku nanti kelamaan, kamu bisa pergi ke toko es krim dan menungguku di sana.”Harry berusaha mengingat semua yang dikatakan James hingga kepalanya terasa pusing. “Oke…”James mengambil kantong uang Harry, menaruh tangannya di sana, dan mengatakan dengan jelas, “Saya, Lord James Potter, kepala keluarga dari Keluarga Kuno dan Bangsawan Potter, memberi izin kepada anak saya Hadrian Remus Potter untuk menarik uang sampai dua ribu galleon dari brankas keluarga Potter hari ini untuk membeli perlengkapan sekolah.”James mengembalikan kantong uangnya dan mengedipkan sebelah matanya kepada Harry. “Ingat, jangan beli kuali dari emas, beli kuali biasa dari timah yang disebutkan di daftar perlengkapan saja. Dan jangan beli benda-benda konyol seperti sapu terbang. Kita punya sapu terbang yang bagus di rumah. Untuk pakaian… beli sebanyak yang kamu mau, oke?”Harry memegang kantong uangnya dan mengangguk. Dia merasa sedikit kewalahan mencerna semua yang James katakana, dan berpikir bahwa sepertinya James sedang menyogoknya. Sesuatu hal yang menjengkelkan baginya tapi bermanfaat.“Sampai jumpa lagi dalam 2 jam,” kata James sambil mengacak-acak rambut Harry. Dia kemudian berbalik dan menghilang.Harry tersentak mundur saat James tiba-tiba menghilang dan segera sadar bahwa dia sekarang sendirian di dunia yang dia tidak ketahui.Oke, itu tidak seluruhnya benar. Harry tahu bagaimana uang bekerja di sini, dan Diagon Alley hanyalah terdiri dari jalan lurus yang berhenti dengan Gringotts di satu sisi dan Leaky Cauldron di sisi lainnya, dimana orang-orang keluar dari perapian (perapian!). Sulit tersesat di sini. Dan dia juga sudah biasa berkeliaran sendiri di Little Whinging selama bertahun-tahun.Dengan penuh tekad Harry mulai berjalan sambil memegang erat kotak tongkat sihir dan kantong uang di masing-masing tangannya. Dia sadar kalau pakaiannya terlihat sangat jelek dan dalam kondisi buruk bahkan ketika dia ada di antara Muggle. Hal itu berarti dia terlihat sama mencoloknya disini seperti mencoloknya Dudley di antara anak-anak paduan suara saat mereka berusia delapan tahun dan Bibi Petunia selama dua bulan yakin bahwa mereka harus rajin pergi ke gereja. (Harry sangat lega saat Bibi Petunia akhirnya menyerah). Harry memutuskan untuk langsung pergi ke toko baju setelah dia membeli kopernya, bukan ke toko buku, tidak peduli apa yang James bilang.Itu dia. Toko Bagasi dan Perlengkapan Travel Dyson. Harry melirik ke arah koper-koper yang terpajang di etalase, dan masuk ke dalam.Ada tujuh atau delapan pelanggan lain. Pria yang menjaga meja kasir sepertinya sedang bernegosiasi hebat dengan keluarga dengan rambut pirang muda. Harry rasa pasangan orangtua itu seperti orangtua umumnya, walau terlihat tegas, tapi anaknya memiliki ekspresi mementingkan diri sendiri yang mengingatkannya kepada Dudley. Harry memutuskan untuk tidak berdiri dekat dengan keluarga tersebut.Saat pemilik toko melayani pelanggannya yang lain, Harry melihat-lihat koper-koper yang ada. Ada beberapa jenis koper sekolah yang terpajang di satu sisi. Dia melewati dua koper pertama, yang bisa dia lihat adalah koper-koper dengan kualitas terendah dan termurah. Koper ketiga dan keempat lebih bagus. Koper-koper tersebut lebih besar dan jelas bahwa mereka dibuat dengan bahan yang lebih bagus.Harry melihat bahwa koper ketiga memiliki kompartemen perpustakaan yang bisa menyusun buku sendiri dan bisa menyimpan sampai lima ratus buku, kompartemen baju yang dapat diisi sampai dua lemari baju ukuran standar, kompartemen untuk bahan ramuan dengan “Mantra Pengawet Terhebat” yang dilengkapi dengan penyangga kuali portabel, kompartement standar umum, dan satu kompartemen kecil rahasia yang hanya bisa di buka dengan kata sandi. Koper keempat kurang lebih sama tapi memiliki kapasitas menyimpan seribu buku, setengah kali lipat ruangan untuk menyimpan baju, dan tempat penyimpanan bahan ramuan yang lebih luas. Harga koper tersebut dua ratus galleon, yang Harry tahu merupakan harga yang tinggi bahkan dengan pengalaman terbatas berbelanjanya di dunia sihir.Harry mempertimbangkan kondisi keuangannya. Dia tidak yakin dia ingin James tahu bahwa dia membeli koper dengan kualitas bagus. Akan terlihat seperti Harry memanfaatkan kemurahan hati James, berusaha untuk menyimpan sesuatu, atau serakah, atau bahkan ketiganya sekaligus. Tapi dia juga tidak mau untuk menggunakan uang dari brankasnya terlalu banyak.James meninggalkan aku selama sepuluh tahun di rumah Dursley, pikir Harry dengan marah. Boleh kan kalau aku mau beli koper mahal juga.Harry menunggu hingga pria yang di kasir tidak harus menangani pelanggan lain. “Permisi,” ucapnya dengan sopan. “Aku ingin membeli koper untuk sekolah.”Pria itu melihat ke arah Harry. Wajahnya mengingatkan Harry dengan Piers Polkiss, tapi wajah pria tersebut tidaklah terlihat jahat. “Tentu saja. Untuk Hogwarts?” tanya pria tersebut sambil keluar dari kasir.“Benar pak.”“Pastinya. Setiap tahun sekitar bulan ini banyak yang seperti kamu datang,” kata pria tersebut sambil berjalan menuju koper-koper sekolah. “Nah, yang mana yang kamu mau?”“Yang ini pak,” tunjuk Harry ke koper yang paling bagus di antara empat yang ada.Pria tersebut melirik Harry dengan jeli. “Yang itu harganya dua ratus galleon loh nak.”“Saya tahu pak. Saya bisa bayar.”Pria tersebut mengangkat bahu. “Baiklah, itu uangmu. Mau melihat bagaimana cara menggunakannya?”“Iya,” jawab Harry.“Ada tongkat sihir?”“Ada pak,” jawab Harry sambil mengeluarkan tongkat ashnya dari kantong uang yang dia pegang, karena yang holly masih di dalam bungkusan. Harry merasa lega bahwa sesuai dugaannya, penampilan tongkat ash itu tidak lah jauh berbeda dari tongkat holly-nya. Memang tongkat yang ash di pernis menjadi warna coklat gelap, tapi warnanya tidak lah begitu berbeda dari tongkat holly.“Bagus. Aku butuh kamu membayar setengah harganya dulu sebelum kamu di daftarkan sebagai pemilik kopernya ya,” kata Pria tersebut.Harry mengeluarkan kantong Gringottsnya dan memasukkan tangannya ke dalam lalu berpikir: brankas keluarga Potter, seratus galleon. Tas kulit yang lebih kecil dengan berat mengejutkan menyentuh jarinya. Perlahan, agar tidak menyenggol buku-buku yang tadi dia ambil, Harry mengambil kantong tersebut keluar dan menyerahkannya kepada penjaga toko, yang hanya melihat sekilas ke dalam kantong tersebut dan mengangguk. “Ya, sudah. Sekarang, sentuhkan tongkatmu ke koper itu dan sebutkan kata sandimu.”“Apa nanti bisa aku ganti kata sandinya?”Penjaga toko itu tersenyum. “Anak pintar. Bisa. Sentuh saja kopernya dengan tongkat atau tanganmu lalu katakan ‘ganti kata sandi’. Setelah itu sebutkan kata sandi yang lama, lalu yang baru.”Harry mengangguk dan menyentuh tutup koper dengan tongkat ash-nya. “Sihir.”Pria itu tergelak. “Bagus. Sekarang kamu lihat tombol disini?” Dia menunjukkan tombol penyetel terletak pada tengah bagian depan tutup koper, di tengah-tengah dua kunci, kepada Harry. “Putar ke kompartemen yang kamu mau. Kamu harus menutup dan membuka kembali koper untuk ganti kompartemen yang mau dibuka. Hanya ada empat yang terlihat disini, tapi kalau kamu taruh tangan kamu di tengah tombol lalu bilang lagi kata sandinya, kamu bisa membuka kompartemen rahasianya.”Harry mencoba untuk membuka koper tersebut sendiri dan menemukan tempat penyimpanan bahan ramuan. Penjaga toko itu menjelaskan kepada Harry bahwa ada ruang-ruang kecil yang berbeda untuk menyimpan setiap bahan. Semua ruang tersebut dilengkapi dengan Mantra Pengembang Tergantung-Volume jadi mereka meluas atau mengecil menyesuaikan jumlah yang kamu masukkan ke dalamnya. Set wadah yang di bagian atas akan berubah menjadi tas ramuan portabel standar saat di sentuh oleh tongkat—“Kamu bisa memasukkannya ke dalam tasmu jadi kamu tidak perlu membawa seluruh koper ke kelas ramuan,” kata penjaga toko itu sambil menyengir—dan ada cukup ruangan untuk kuali sampai ukuran 3, dengan penyangga kuali portabel tersimpan di sudut bawah. “Untuk meramu saat berpergian.”Kompartemen perpustakaan dalam koper tersebut membuat Harry terpesona. Kompartemen itu memperlihatkan 3 baris buku berdasarkan yang terakhir dia baca dan topic yang serupa, tapi kalau dia menuliskan apa yang dia cari seperti judul, penulis, atau subjek buku dalam sepotong kertas dan memasukkannya ke tepi kompartemen tersebut, rak perpustakaannya akan menunjukkan apa yang dia cari. Harry tidak sabar untuk mencoba hal tersebut sampai dia bahkan tidak sempat memeriksa kompartemen yang lain. Satu kompartemen terlihat jauh lebih cukup untuk menyimpan bajunya, dan kompartemen hanyalah kompartemen biasa yang terlihat sangat mirip dengan isi koper Muggle pada umumnya. Harry mencoba kompartemen rahasia yang ada dan melihat bahwa kompartemen itu terlihat simpel dengan pengaturan sederhana yang mudah digunakan.Dia setuju untuk membayar lima galleon tambahan kepada penjaga toko agar kopernya ditambahkan mantra anti-pencuri, peringan, dan penyusut, dan juga ukiran inisialnya (HRP) terukir dengan warna perak di bagian atas koper. Harry juga membeli tas berwarna abu-abu arang dengan Mantra Pengembang Tak Terdeteksi untuk dia gunakan sehari-hari, dan sarung tongkat kulit dimantrai untuk tidak terlihat yang diikat ke bagian dalam dari lengan dominannya. Harry keluar dari toko itu dengan koper yang telah dikecilkan di taruh dalam kantong uangnya, dan juga dengan rasa senang yang hanya pernah dia rasakan beberapa kali dalam hidupnya.Selanjutnya dia pergi ke toko Twilfit dan Tatting. Tadinya dia hampir pergi ke toko Madam Malkin, tapi dia melihat anak pirang yang terlihat manja tadi disana dan akhirnya memutuskan untuk ke toko yang lain. Uangnya berkurang tiga ratus empat puluh empat galleon dan sembilan belas knut saat dia keluar dari toko tersebut, tapi Harry juga mengenakan jubah musim panas penyihir berwarna abu-abu muda di atas tunik ungu, celana panjang hitam, dan sepatu bot kulit naga, dilengkapi dengan beragam pakaian yang biasa dipakai penyihir mulai dari pakaian santai, formal, hingga seragam sekolah dimasukkan ke dalam kopernya, jadi dia rasa uang itu pantas untuk digunakan. Terutama ketika dia melihat penampilannya di terpantul pada kaca etalase toko dan hampir tidak mengenali dirinya sendiri ketika menggunakan baju yang sesuai untuknya.Harry mencoba untuk tersenyum kepada bayangannya di kaca. Senyuman itu terlihat ragu, tapi juga sangat senang.Harry belum dapat memastikan apa yang sebenarnya dia rasakan kepada ayahnya, tapi kurang lebih dia yakin kalau perasaannya itu lebih cenderung ke hal yang negatif. Harry rasa itu dapat dimaklumi, terutama jika mengingat bagaimana dia tiba-tiba saja dia harus berurusan dengan gambaran ibunya yang heroik, saudara kembar yang dia tak tahu dia miliki, ayah yang mencampakkannya selama sepuluh tahun, dan juga dunia baru yang hampir dia tidak ketahui sama sekali.Meskipun begitu, Harry rasa dia suka menjadi seorang penyihir.Selanjutnya Harry mengikuti saran ay—saran dari James, dan pergi ke toko bahan ramuan. Disana dia membeli dua kotak yang berisi pelengkapan standar ramuan untuk anak kelas satu, dan juga satu buah yang standar anak kelas enam agar dia bisa sedikit bereksperimen. Selain itu dia juga membeli kuali kualitas dasar dan peralatan untuk membuat ramuan dengan kualitas menengah. Harry tidak ingin terlihat terlalu menonjol dengan memiliki barang yang terlalu mewah, tapi dia juga tidak ingin kehilangan kesempatan yang ada untuk membeli barang dengan kualitas bagus saat dia bisa. Di toko itu Harry melihat bahwa mereka memiliki bagian yang menjual buku-buku juga. Harry yakin buku-buku yang ditawarkan toko itu lebih memiliki variasi mengenai Ramuan, jadi dia juga membeli empat buku yang terlihat menarilk tetapi masih dalam batas pembelajaran wajar bagi dirinya yang belum berpengalaman.Dia membawa semua yang dia beli keluar, menemukan tempat teduh didekat toko ramuan tersebut, dan mengemas semua bahan ramuan yang dia beli dengan hati-hati. Harry telah membaca sekilas buku-buku yang dia beli, dan berdasarkan apa yang dia baca, membuat ramuan terdengar mirip dengan memasak, walaupun apa yang mereka diramu bisa tiba-tiba meledak di depan wajah peramu. Dia sangat tidak sabar untuk mencobanya. Harry suka memasak saat dia tidak sedang melakukannya dengan diawasi tajam oleh Bibi Petunia, dan dia tetap pandai melakukannya bahkan saat dia diawasi tajam oleh Bibi Petunia.Harry mengingat kembali apa saja yang James telah katakan, mencoba mengingat-ingat apa dia melupakan sesuatu. Kemudian dia melihat daftar perlengkapan sekolah yang ada dalam surat yang dia terima.Teleskop. Benar. Tadi dia melihat ada toko yang menjual bermacam instrument yang terbuat dari logam. Mungkin dia akan menemukan teleskop disana.Toko itu bernama Fenomena, dan berbau seperti logam. Harry tiba-tiba teringat dengan pesta Halloween bertema steampunk yang pernah terpaksa dia ikuti bersama Dudley, hanya saja barang-barang yang ada di toko ini tentu saja bukanlah palsu. Kalau saja tidak ada stan bertuliskan HOGWARTS di pojokan, akan sangat sulit untuk mencari apa yang diperlukannya di toko tersebut. Harry segera berjalan ke arah stan tersebut dan mengambil teleskop standar untuk anak kelas satu.“Kamu masuk Hogwarts juga?”Harry berbalik ke arah suara yang dia dengar. “Eh… Hai. Iya.”Dia bergeser sedikit supaya anak itu, seorang anak laki-laki yang sedikit lebih tinggi dibandingkan Harry dengan rambut coklat pasir dan mata merah kecoklatan yang terlihat pintar, dapat menjangkau teleskop yang ada.“Theo Nott,” kata anak itu sembari memindahkan teleskopnya ke tangan kiri dan menjulurkan yang kanan.“Harry Potter,” kata Harry menjabat tangan Nott.Mata anak itu memicing sedikit memperhatikan Harry. “Ada hubungan darah dengan Julian Potter?”“Dia saudara kembarku.”“Aku tidak tahu kalau Anak Laki-laki yang Bertahan Hidup punya kembaran,” kata Nott dengan sedikit nada mengejek pada ‘Anak Laki-laki yang Bertahan Hidup’ yang membuat Harry langsung menyukainya.“Sampai pagi ini aku juga tidak tahu,” balas Harry. “Selama ini aku tinggal sama Muggle.”Alis Nott terangkat. “Seriusan?”Harry mengangkat bahu. “Aku rasa aku harus banyak belajar agar tidak tertinggal…”“Tidak juga,” kata Nott masih sambil memperhatikan Harry dengan cermat. “Banyak murid yang Kelahiran-Muggle dan bahkan tidak tahu sihir apa sebelum masuk sekolah dan mereka baik-baik saja. Setidaknya dalam masalah menggunakan tongkat sihir. Tapi kalau mengenai masalah politik dan budaya dunia sihir kebanyakan mereka tidak tahu apa-apa.” Nott memutar matanya dan terlihat sedikit jengkel. “Kau akan baik-baik saja. Keluarga tua seperti keluarga Potter… Aku yakin kau memiliki kekuatan sihir yang cukup besar.”“Aku akan mulai membaca tentang budaya dunia sihir kalau begitu,” kata Harry memutuskan untuk membeli buku tentang hal tersebut nanti.“Bukan rencana yang buruk. Bagaimana rasanya tinggal sama Muggle?” tanya Nott dengan ketertarikan tajam muncul tiba-tiba di matanya. “Aku jarang menghabiskan waktu di sisi Muggle London.”“Biasa saja menurutku,” kata Harry perlahan. Dia tidak ingin semua orang tau tentang keluarga Dursley dan bagaimana mereka memperlakukannya. “Maksudku… ibuku juga Kelahian-Muggle. Aku tinggal dengan kakaknya, bibiku.” Harry mengangkat bahunya. “Dia, suaminya, dan sepupuku itu… tidak terlalu baik. Tapi sekolah menyenangkan.” Harry terdiam. “Kau tidak pernah menonton film ya?”“Apa?” tanya Nott.Harry menatap Nott. “Itu… oke, agak aneh, tapi yah sudahlah. Aku juga kurang mengerti. Mereka punya banyak kemajuan teknologi yang sepertinya tidak digunakan oleh penyihir.” Dia melihat ke arah langit-langit toko yang diterangi oleh sihir cahaya di bentuk seperti rasi bintang. “Listrik, misalnya.”Nott memiringkan kepalanya. “Apa itu?”“Eh, itu seperti… kurang lebih seperti petir,” jawab Harry sambil mengingat apa yang dia pelajari dalam kelas sains. “Kami—mereka—mendapatkan energi dari air yang mengalir, atau barang yang terbakar, lalu mengubahnya menjadi energi yang sama seperti yang ada dalam petir dan menggunakannya untuk memberikan daya kepada rumah dan barang-barang mereka.”“Sangat menarik,” renung Nott. “Aku rasa mereka harus mencoba untuk menggunakan sesuatu sebagai pengganti sihir. Aku sih akan gila kalau tidak bisa pakai sihir.”“Aku baru tahu semua hal ini tidak sampai sehari dan tidak bisa membayangkan untuk tidak mengetahuinya sama sekali,” setuju Harry. Dia tidak tahu hal apa yang membuat dia jadi bicara lebih banyak di hadapan anak itu, karena Harry tau biasanya dia lebih diam, tapi dia rasa dia akan menyukai Nott.Wajah Nott mengerut. “Kembaran dari Anak Laki-laki yang Bertahan Hidup tinggal seperti muggle. Kalau orang-orang tahu mereka akan jadi gila.”Harry menegang.Nott tertawa dan berjalan ke arah kasir, Harry mengikutinya. “Oh tenang saja. Aku tidak akan membocorkannya,” wajah Nott terlihat sedang membayangkan sesuatu. “Hanya… bayangkan saja drama yang terjadi kalau orang pada tahu.”“Yah, pasti sangat dramatis,” akui Harry sambil membayar teleskopnya. Nott juga membayar teleskopnya dan memasukkan teleskop itu ke dalam tas saat Harry membungkuk untuk memasukkan teleskopnya ke dalam kompartemen biasa kopernya.Mereka berdua keluar dari toko tersebut dan terdiam. Harry melirik ke arah Nott, dia merasa enggan untuk kehilangan rasa akur yang muncul di antara mereka, sekaligus ragu bagaimana pertemanan itu sebenarnya. Dia tidak pernah memiliki banyak teman.“Aku mau pergi ke toko buku,” kata Nott ringan. “Kamu?”Sepertinya begitulah caranya. “Sama, sebenarnya.”Senyuman yang Nott berikan ke arah Harry mengingatkannya dengan senyuman yang dia biasa lihat saat dia bercermin. “Bagus sekali.”Mereka berjalan mengelilingi Diagon Alley. Nott bertanya banyak hal mengenai Muggle, dan Harry berusaha sebisa mungkin untuk menjawabnya serta balik bertanya mengenai Hogwarts.“Hogwarts merupakan salah satu sekolah sihir tertua di dunia,” kata Nott dengan nada bangga. “Dan juga salah satu yang terbaik. Aku bilang ‘salah satu’ karena kualitasnya agak menurun dalam dua puluh tahun terakhir. Hal itu karena kepala sekolah Hogwarts yang sekarang lebih tertarik dengan politik dari pada mengembangkan sekolah.” Lagi-lagi dengan nada sedikit mengejek itu.“Itu kepala sekolah yang namanya Dumbledore?” tanya Harry.“Ya.”“Nama yang konyol,” gumam Harry.Nott tergelak. “Setuju sekali. Ngomong-ngomong, kelas-kelas dasarnya itu Transfigurasi, mengubah suatu benda jadi benda lain; Mantra, yang belajar mantra ‘normal’; Ramuan, sudah jelas kan apa; Herbologi, sama sudah jelas; Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam, kelas yang sekarang menjadi sebuah lelucon karena tidak ada guru yang dapat bertahan lebih dari satu tahun, banyak orang yang berpikir kalau posisinya itu dikutuk; Sejarah Sihir, kelas yang jadi bahan lelucon juga, kelasnya di ajar oleh hantu dan sepupuku Roxanne bilang kalau hantu itu bahkan bisa membuat batu tertidur; dan Astronomi, kelas dimana kita butuh teleskop yang tadi baru kita beli.”Harry terdiam dan mencoba memproses semua yang baru dikatakan. Terdengar sepertinya mereka akan mendapatkan banyak tugas, tapi tugas yang menyenangkan. “Tidak ada matematika atau menulis?” tanya Harry dengan ragu.“Kita akan menulis banyai esai,” jawab Nott. “Mat… matematika? Kayak aritmatika?”“Iya. Tapi aritmetika kan… matematika dasar,” ucap Harry. Dia suka mengikuti sesi bimbingan belajar matematika di perpustakaan karena bosan. Bukan berarti Harry menyukai matematika, hanya saja jawaban tegas antara ya dan tidak, benar dan salah dalam matematika itu menarik baginya.“Huh. Pasti itu hal yang Muggle. Itu tidak ada dalam kelas inti, tapi terdengar seperti Arithmancy. Kau bisa mengambil kelas itu kalau nanti sudah kelas tiga. Apa mirip?” Nott mengerutkan keningnya, mungkin karena Muggle memiliki sesuatu yang tidak dimiliki penyihir.“Bagaimana dengan asrama?” tanya Harry.Nott merengut. “Yah, kata Roxanne, kita harus berbagi kamar dengan anak-anak yang satu angkatan dengan kita, tergantung seberapa banyak jumlah anak yang ada.”“Tapi kita dapat tempat tidur?” Harry memastikan.Nott memandangnya dengan aneh. “Mengapa kita tidak mendapatkan tempat tidur?”Harry menyadari apa yang dia tidak sengaja bocorkan dan memalingkan mukanya yang memerah. “Aku, uh, aku tidur di lemari di bawah tangga di… rumah bibi dan pamanku,” akuinya. “Aku hanya dapat kasur di atas dipan. Kalau hanya berbagi kamar tidak masalah untukku.”Nott terlihat marah, tapi Harry hanya memasang raut wajah datar dan terus berjalan hingga akhirnya Nott hanya mengangkat bahunya dan lanjut menjelaskan deskripsi asrama sepupunya dari apa yang dituliskan sepupunya dalam surat. Selama itu Harry mencoba menangani rasa hangat yang tiba-tiba muncul dalam dirinya dari mengetahui ada orang yang akan marah untuknya mengenai fakta bahwa dia tidur di dalam lemari.Harry tahu bahwa memperlakukan anak seperti itu tidaklah pantas. Dia tahu itu selama bertahun-tahun. Tapi tahu dan tahu merupakan hal yang sangat berbeda.“Lalu… oh iya, kau tidak tahu nama-nama asrama yang ada di Hogwarts ya?“Nama-nama asrama?” tanya Harry dengan merasa bodoh.“Jangan merasa bodoh,” ujar Nott. Wajah Harry memerah lagi. Anak laki-laki ini memiliki tingkat persepsi tinggi yang sangat mengganggu.“Wajar kau tidak mengetahui hal-hal ini. Jadi ada empat asrama, dan kita nanti dikelompokkan sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam diri kita. Hufflepuff, untuk yang mementingkan kesetiaan, permainan yang adil, kerja keras, dan kejujuran. Jangan pernah membuat anak Hufflepuff marah, nanti kau bisa berhadapan dengan seluruh anak asrama tersebut. Ravenclaw yang mementingkan kreatifitas, kecerdasan, dan akal. Banyak yang bilang bahwa itu adalah asrama ‘anak-anak pintar’, tapi kata Roxanne mereka sering membuat semua professor stres dengan pertanyaan mereka yang muncul entah dari mana dan juga tugas-tugas yang tidak mereka kerjakan karena perhatian mereka teralihkan oleh penelitian mereka mengenai mantra-mantra yang tidak jelas yang mereka lakukan hingga tengah malam. Tapi mereka sangat cerdas. Selain itu kebanyakan dari mereka bukanlah pendendam dan tidak suka ikut campur saat ada yang bertengkar meski kadang mereka yang bertengkar dengan anak-anak Hufflepuff. Terus juga katanya kalau gurauan anak Ravenclaw itu ganas, tapi pintar dan rumit. Lalu ada Gryffindor, asrama untuk mereka yang berani dan bersifat kesatria,” Nott memutar matanya lagi. “Kalau yang kulihat dari anak-anak Gryffindor yang aku tahu, dan apa yang Roxanne bilang, asrama itu penuh anak-anak bodoh yang nekat dan impulsif. Gampang untuk di tipu. Tapi yah, kurasa mereka ada gunanya juga. Lalu yang terakhir adalah Slytherin. Asrama yang terbaik,” dia memandang Harry dengan senyum jahil dan nakal. “Slytherin adalah asrama untuk mereka yang cerdik, ambisius, dan banyak akal. Itu adalah asrama yang ingin aku masuki. Slytherin memiliki reputasi menghasilkan banyak lulusan yang menjadi Penyihir Hitam, yang yah, tidak terlalu salah juga sih, tapi asrama-asrama lain juga banyak memiliki lulusan yang merupakan Penyihir Hitam. Slytherin dan Gryffindor sudah bersaing sejak lama. Katanya pertandingan Quidditch antara dua asrama itu selalu gila.”“Oke,” kata Harry. Menurutnya Slytherin dan Ravenclaw terdengar menarik, dan dia yakin seratus persen kalau James itu dulu di Gryffindor. “Quidditch. Itu olahraga seperti apa sih?”“Itu… kau tahu, boleh aku rekomendasikan buku tentang itu saja?” tanya Nott. “Jujur saja, Quidditch bukan sesuatu yang aku terlalu minati.”“Oke,” jawab Harry. “Nah, pas kita sudah sampai.”Nott membuka pintu untuk Harry. “Tuanku Yang Mulia Saudara dari Anak Laki-laki yang Bertahan Hidup,” ucapnya dengan senyum mengejek, tapi bukan mengejek yang jahat, lebih kepada bercanda dengan Harry. Harry tersenyum balik kepadanya, dan berjalan masuk sedramatis yang dia bisa mengingat tinggi dan postur badannya yang cukup kecil.Nott mengikuti Harry sambil tertawa terkekeh-kekeh.Mereka mulai mencari daftar buku untuk anak kelas satu Hogwarts, dan untuk Harry, persediaan pena bulu, tinta, buku catatan dengan sampul kulit, dan kertas perkamen untuk satu tahun. Nott mengeluh mengenai buku-buku mereka yang masih terlalu dasar, dan dengan senang Harry menyadari kalau kenalan-mungkin-teman barunya itu juga suka membaca seperti dirinya.“Oh kau tak tahu betapa leganya aku,” ujar Nott saat Harry mengakui kalau seharian dia tidak sabar untuk menghabiskan banyak galleon untuk membeli buku-buku baru. “Anak-anak di lingkungan sosial keluargaku sangat enggan untuk membaca. Membuatku sangat kesal.”“Aku sering menghabiskan waktu membaca di perpustakaan umum,” kata Harry. “Aku suka membaca.”Nott terlihat tertarik dan Harry kemudian menghabiskan waktu selama sepuluh menit untuk menjelaskan apa itu perpustakaan umum dan dan bagaimana sistem yang digunakan disana sembari mereka melihat-lihat. Tapi akhirnya perhatian Nott teralihkan dengan buku yang menurutnya menarik, dan mereka berdua hanya menghabiskan waktu melihat-lihat dengan tenang. Harry menemukan kamus besar daftar mantra yang tersusun secara alfabet, buku teori Transfigurasi yang Nott bilang membosankan tapi berguna untuk memahami konsep-konsep dasar pelajaran tersebut, beberapa buku ramuan yang menarik, dan lalu berhenti sambil tersenyum saat mereka sampai kepada bagian yang bertuliskan “Pertahanan Diri.”“Kau tertarik untuk belajar kutukan ya?” kata Nott menyeringai.Harry mengangguk, jarinya bergerak menyentuh Membela Keluarga, Barang Kepunyaan, dan Dirimu Sendiri.“Oh kau akan sangat cocok di Slytherin. Ayo, akan aku beritahu mana buku yang bagus. Bukan itu,” Nott memandang buku yang Harry lihat dengan tatapan tajam, “Buku itu hanya berisi omong kosong mengenai tanggapan pasif yang disetujui oleh Kementrian.”Nott merekomendasikan sembilan buku mengenai membela diri, sihir penyerang, mantra penangkal, mantra pelindung, dan mantra alarm. Harry tidak sabar untuk segera mempelajarinya. Kalau dia sudah mengerti semua ini dari dulu, dia bisa melindungi dirinya dari Dudley dan teman-temannya, dia juga bisa mencegah Bibi Petunia dan Paman Vernon melukainya hingga memberikan bekas luka di punggung, pundak, dan lengannya. Di dunia sihir, karena semua orang bisa sihir, melakukan sihir itu sendiri bukanlah sesuatu kelebihan. Jadi dia harus menjadi sekuat mungkin agar tidak ada orang yang bisa melukainya lagi.Harry tidaklah bodoh. Dia tahu penindasan, prasangka buruk, dan diskriminasi tidaklah terjadi di dunia Muggle saja.Nott menghentikan pencarian bukunya dan dengan senang hati memandu Harry mengelilingi toko buku itu sambil membicarakan banyak hal. Dia merekomendasikan beberapa buku bagus mengenai budaya dunia sihir, sejarah, etiket, hukum, dan politik. Harry membeli semua buku yang Nott sarankan ditambah dengan apa yang dia sendiri temukan. Dia sudah berencana untuk menghabiskan musim panasnya untuk membaca dan mengejar seluruh ketertinggalannya.Terakhir mereka menghampiri rak dengan subjek buku acak. Harry mengambil dua buku mengenai pengetahuan dan cara membuat tongkat sihir (dia ingin tahu tongkat mana yang harus lebih sering dia gunakan, holly atau ash), dan memasukkannya ke dalam kerangjang belanjaannya.Satu buku mengenai sihir yang tidak umum menarik perhatiannya. Harry mengambil buku tersebut dan membacanya sekilas. “Apa itu animagus?”Nott bersender pada rak buku dan dengan cepat memilah-milah buku yang terletak di ujung meja. “Orang yang bisa berubah menjadi hewan sesuka mereka,” jawabnya. “Berbeda dari transfigurasi diri dan juga tidak seberbahaya itu. Yah, setidaknya setelah kau mendapatkan wujud perubahanmu sih. Selain itu juga jauh lebih mudah dikontrol. Sangat sulit untuk dilakukan tapinya.”Harry mengoreh kantong uangnya dan menarik buku kecil yang dia ambil dari brankas keluarga Potter, tertimbun diantara banyaknya rak yang ada. Buku itu berjudul Transfigurasi Animagus“Kamu dapat itu darimana?” tanya Nott tajam.Harry tersentak kaget. Dia kira Nott sedang terlalu serius membaca dan tidak memperhatikan apa yang dia lakukan, tapi ternyata tidak. “Eh… kenapa?”Nott melihat Harry dengan pandangan menilainya lagi. “Buku itu… tidak terlalu legal.”“Sesuatu itu hanya akan legal atau tidak. Tidak ada tengah-tengah,” kata Harry mengenyitkan keningnya kepada Nott sambil memasukkan buku tersebut kembali ke kantong uangnya.Nott mengangkat bahu. “Secara teknis buku itu legal untuk dimiliki, tapi tidak legal untuk dijual, diterbitkan, disalin, dan dibeli. Menjadi animagus tanpa mendaftarkan diri kepada Kementrian Sihir juga tidak legal. Kamu akan dapat… perhatian buruk kalau ketahuan memiliki itu.”“Terima kasih atas peringatannya,” ucap Harry dengan kaku. Dia tidak suka Nott memiliki sesuatu yang bisa di manfaatkan untuk mengancamnya. Dia harus mencari cara untuk memastikan bahkan razia dadakan juga tidak akan menemukan buku itu. Dia tidak tahu hak privasi seperti apa yang diberikan kepada murid di Hogwarts.“Rahasiamu aman sama aku,” kata Nott. Dia terdiam dan seringainya berubah menjadi sesuatu yang penuh perhatian. “Selama kau berjanji untuk mengajak aku kalau kamu memutuskan untuk menggunakan buku itu dan belajar untuk menjadi animagus.”Harry bertanya-tanya apa yang membuat Nott mengasumsi bahwa Harry mau melakukan sesuatu yang tidak legal (asumsi yang benar sih, tapi bukan sesuatu yang biasanya langsung orang pikirkan) dan keinginan Nott untuk ikut melakukannya.Dia memasukkan buku tentang sihir tidak umum ke dalam keranjangnya. “Setuju.”Nott mengangguk tajam dan melihat-lihat sekitar toko. “Aku rasa aku sudah selesai disini.”Harry melihat ke keranjang Nott. Entah bagaimana, meskipun sebagian besar waktu Nott dihabiskan untuk membantu Harry melihat-lihat, keranjangnya hampir sama penuhnya dengan keranjang Harry. Untungnya keranjang belanja mereka sudah diberikan mantra peringan dan pengembang, jadi mereka berdua tidak kesulitan membawa buku-buku yang mereka beli.Mereka berdua menghabiskan waktu sepuluh menit di depan kasir untuk membayar semua yang mereka beli. Nott membaca buku yang terlihat membahas sihir air saat Harry memasukkan semua yang dia beli ke dalam kopernya di pojokkan toko dekat bagian Hukum Dunia Sihir Pada Masa Pra-Romawi yang dipenuhi dengan debu. Tanpa terlihat oleh Nott, Harry membuka tongkat holly-nya yang terbungkus dan memasukkannya ke sarung tongkatnya. Setelah itu dia memasukkan buku yang dia ambil dari brankas keluarga Potter dan tongkat ash-nya ke dalam kompartemen rahasia kopernya.Tiga puluh detik kemudian, kopernya yang telah dikecilkan sudah dimasukkan ke dalam tas abu-abunya bersama dengan baju Muggle miliknya yang menjijikkan. Harry memutuskan untuk membakar baju-baju tersebut nanti saat dia sendirian.“Apa kamu punya burung hantu?” tanya Nott tiba-tiba saat mereka keluar dari toko buku itu. “Kalau kamu mau, kita bisa saling mengirim surat. Masih ada kurang lebih satu bulan sebelum kita masuk sekolah.”Harry hanya memandang Nott. “Burung hantu?”“Oh iya, maaf. Pos burung hantu.” Nott mendangak sedikit lalu menunjuk ke kejauhan. Harry menengok ke arah yang ditunjuk dan mengernyitkan matanya. Dia melihat seekor burung besar berwarna coklat terbang memasuki toko dekat dengan Gringotts dengan sesuatu terikat di kakinya. “Kita menggunakannya untuk mengirim surat. Anak kelas satu diizinkan untuk membawa burung hantu, katak, atau kucing,” dia menyeringai lagi. “Banyak murid yang melanggar peraturan tersebut dan membawa binatang lain. Selama binatang itu kecil, tidak melukai orang, dan yang membawa binatang itu pintar menyembunyikannya, para professor tidak akan menghukum murid itu. Yang berarti pastinya banyak Slytherin dan Ravenclaw yang melanggar peraturan tersebut, karena Hufflepuff jarang melanggar peraturan, dan Gryffindor sama sekali tidak bisa diam dan menjaga rahasia.”Harry tersenyum. Secara pribadi, dia tidak suka tertawa di depan umum karena hal itu membuatnya terlihat jauh lebih ekspresif. Tapi dia rasa Theo Nott bukanlah jenis orang yang akan tersinggung atau kesal jika Harry hanya diam. Hal itu membuatnya lega.“Aku mau,” jawabnya. “Saling kirim surat.”“Syukurlah,” ucap Nott. “Aku akan butuh teman untuk belajar, dan kamu sepertinya baik.”Harry melirik ke arah Nott. Dia sudah merasa nyaman dengan anak tersebut untuk bertanya beberapa hal. “Meskipun aku nanti masuk Gryffindor?”Nott menghela napas berat. “Kurasa aku dapat membuat pengecualian dalam persaingan Slytherin-Gryffindor. Asal nanti kamu tidak berubah menjadi anak nekatan yang menyebalkan.”“Kurasa aku tidak akan jadi begitu,” kata Harry. “Lagipula aku ragu bakal masuk ke Gryffindor, kalau berdasarkan apa yang kamu jelaskan tadi.”Nott menyeringai. “Menurutku juga.”Dengan ragu Harry bertanya. “Eh, kamu tahu tidak asrama ayahku dulu apa?”“Gryffindor, pastinya,” ucap Nott. “Kedua orangtuamu anak Gryffindor. Aku yakin akan menjadi skandal hebat kalau kembarannya calon anak emas Gryffindor dari pasangan emas Gryffindor nanti masuk di Slytherin. Ngomong-ngomong, ayahmu dimana?”“Dia… tiba-tiba ada pekerjaan,” jawab Harry. “Katanya dia Auror?”“Yap. Penegak Hukum Magis, Ketua Auror.” Nott terlihat berusaha untuk menahan diri menambahkan nada mengejek dalan kalimatnya atau memutarkan matanya. “Yang paling muda untuk mendapatkan posisi tersebut.”Harry menyadari pemilihan kata Nott. “Mendapatkan? Bukan memegang?”“Dia baru di angkat,” terang Nott. “Pangkatnya di naikkan satu setengah tahun yang lalu. Ada yang taruhan seberapa dia akan bertahan. Jangan bilang padanya ya, yang bertaruh itu bukan orang-orang yang sering bergaul dengannya.”Harry mengernyitkan matanya kepada Nott. Dia telah menyadari beberapa hal selama mereka mengobrol, dan dia yakin ada permasalahan politik di dunia baru untuknya ini yang tidak dikatakan oleh Nott. “Kenapa aku merasa keluargamu dan keluargaku tidak akur ya?”“Karena kamu itu terlalu jeli,” balas Nott mengernyitkan dahinya juga.Harry berpikir sejenak. “Es krim?” Dari pengalamannya yang sedikit, sangat sulit untuk kesal saat sedang makan es krim.“Oke. Akan ku jelaskan sambil kita makan es krim.”Harry membeli semangkuk es krim yang sederhana. Nott membeli semangkuk besar es krim yang terlihat seperti akan membuat orang yang memakannya koma kebanyakan gula dan memakan setengahnya sebelum akhirnya dia berhenti dan mulai menjelaskan.“Oke. Jadi begini,” katanya dengan tatapan serius. “Di perang yang… yang diikuti oleh orangtua mu…”“Yang membunuh ibuku,” potong Harry. “Perang yang Vol—maaf, Kau Tahu Siapa mencoba membunuh kembaranku yang malah akhirnya membunuhnya dan semua orang jadi panik ketakutan.”Nott tergelak. “Yap, benar. Maaf. Aku tahu hal itu tidaklah lucu, cara kau menyimpulkannya itu yang lucu. Nah lalu, masalah besar dalam perang itu adalah keluarga darah murni yang tua tidak suka Kementrian tiba-tiba datang dan seenak hati memberikan arahan cara melakukannya. Ada juga banyak kepercayaan tentang kemurnian darah, yang intinya kurang lebih bilang kalau Muggle itu binatang rendah dan penyihir harus menguasai mereka dengan kekuatan dan kelebihan yang ada. Ada juga yang berpendapat kalau penyihir kelahiran Muggle itu juga paling bagus adalah orang-orang rendah dan paling buruk adalah penyusup yang harus di bunuh. Yang itu tapi tergantung kamu bertanya kepada siapa.”Harry merasa mual. Seketika dia kehilangan nafsunya untuk memakan es krim. “Dan… apa ada basis mengenai hal itu? Apa penyihir kelahiran Muggle tidak sama kuat saat melakukan sihir?”“Sejauh yang bisa orang ukur, tidak sama sekali,” ujar Nott sambil menusuk es krimnya dengan ganas. Dia tidak terlihat puas karena es krim itu lembut dan tidak terlalu enak untuk di tusuk. “Hal itu cuman dijadikan alasan dalam pertikaian mengenai budaya yang ada. Intinya, budaya dunia sihir itu mulai berkurang karena bertambahnya penyihir kelahiran Muggle yang tidak tahu adat dan tradisi kita, dan lebih parah lagi, tidak mencoba untuk mempelajarinya sama sekali. Orangtuaku termasuk yang setuju tentang hal itu. Kau Tahu Siapa lalu datang, membangun ketakutan berdasarkan hal tersebut, dan entah dengan menakuti, mencuci otak, atau meyakinkan mereka, membuat banyak orang untuk mengikutinya. Dia itu yang memulai perang ambil-alih-Kementrian-bunuh-penyihir-kelahiran-Muggle-dan-kuasai-para-Muggle-rendahan tersebut. Sendirian, para pengikutnya tidak akan seberbahaya itu. Tapi dengan Kau Tahu Siapa mereka hampir menang. Bahkan saat itu orang-orang Sisi Putih hanya menang karena ada bayi yang mengalahkan kutukan pembunuh dan tidak ada yang bisa menjelaskannya.”“Dan yang melakukan itu adalah kembaranku,” tutup Harry. Dia tidak tahu harus merasa seperti apa mengenai fakta bahwa kembarannya itu terkenal.“Yep. Sebenarnya aku terkejut tidak ada orang yang menghampirimu untuk meminta tanda tangan atau berjabat tangan denganmu,” terang Nott. “Mungkin karena mata kalian beda warna. Mata Jules itu coklat. Atau mungkin juga tingkah lakumu. Dia itu sangat berisik dan sulit untuk diabaikan. Oh iya baru ingat, daritadi kamu terus-terus memicingkan matamu. Apa matamu perlu diperiksa?”“Sepertinya. Jadi, sisi ‘Putih’ menang,” pancing Harry yang tidak ingin membicarakan keluarga Potter sekarang.“Iya. Lalu… banyak pengikut Kau Tahu Siapa menggunakan apa yang sekarang dikenal sebagai ‘Pembelaan Imperius’. Jadi ada kutukan pengendali pikiran yang bernama Imperius dan banyak dari mereka menyatakan kalau mereka ada dalam pengaruh kutukan tersebut. Sangat sulit untuk dibuktikan kebenarannya karena ramuan kejujuran veritaserum belum dibuat saat itu.”Harry dapat menduga bagaimana kelanjutan dari cerita ini.Nott membuka mulutnya tepat saat suara kencang mengguncang daerah tempat duduk di luar toko es krim itu. “Harry!”Harry tersentak kaget dia bahkan hampir menjatuhkan mangkuk es krimnya. Ingatan mengenai suara kencang Vernon, mengenai tangan yang terangkat siap memukul—Tapi Paman Vernon tidak pernah menggunakan namanya.Harry menghilangkan ingatan tersebut dan menoleh ke ayahnya yang berjalan ke arah mereka dengan marah.“Sial,” bisik Nott. “Potter, aku harus pergi—“Nott hampir sepenuhnya bangun dari kursinya saat James sampai kepada meja mereka. “Harry,” kata James menggertakkan giginya. “Saatnya pulang.”Harry mengerutkan keningnya ke James. Dia tidak mau pergi dengan siapapun yang sedang terlihat seperti ini. Dalam pengalamannya, ketika ada orang dewasa yang marah pada akhirnya dia hanya akan dipukuli. Dan walaupun James tadinya tidak terlihat seperti itu, kemarahan yang tiba-tiba seperti ini membuatnya khawatir, dan ibunya kan adiknya Bibi Petunia. Bisa jadi Bibi Petunia tidaklah aneh di keluarganya dan ibunya bukan orang yang baik, dan Harry tahu orang yang tidak baik cenderung memilih orang yang tidak baik juga…Jadi, kesimpulannya, Harry tidak punya jaminan bahwa James Potter adalah orang yang lebih baik daripada Vernon Dursley. Hanya mungkin lebih pintar dalam menyembunyikan keburukannya.“Aku belum selesai makan,” ucapnya dengan nada sesopan mungkin. “Aku ingin menghabiskan es krimku.”James duduk dengan kaku sambil menatap Nott tajam.“Aku akan pergi,” ucap Nott dengan nada bosan dan tidak peduli. “Es krimku sudah mau habis. Senang berkenalan denganmu Potter.”“Senang berkenalan denganmu juga,” balas Harry sambil melihat anak yang kurang lebih teman pertamanya itu pergi mengembalikan mangkuk yang dia pakai.James langsung menoleh dengan tajam kepada Harry.Harry tersentak mundur dan refleks membungkukkan bahunya. Lalu dia sadar bahwa mereka sedang berada di tempat umum dan James tidak bisa memukulnya dan segera memaksakan dirinya untuk tenang.Saat dia melihat ke James, dia melihat ada beberapa ekepresi tersirat dalam raut wajah James: kengerian, syok, dan rasa bersalah.“Harry,” ucap James dengan nada yang tiba-tiba melembut. “Aku tahu… kalau kamu mungkin akan sulit mengucapkannya, tapi… apa kamu pernah dipukuli keluarga Dursley?”Harry mengepalkan tangannya dibawah meja dan mebiarkan sedikit dari amarahnya muncul pada wajahnya. (Tanpa Harry ketahui, saat dia menatap James matanya bersinar dan terlihat memiliki warna yang sama persis dengan Kutukan Pembunuh.) “Iya,” akuinya. “Biasanya aku dipukuli saja. Selain itu Paman Vernon suka menggunakan ikat pinggangnya untuk mencambukku. Terkadang aku dicambuk dengan hiasan gesper yang ada juga. Bibi Petunia pernah mematahkan gagang sapu saat memukul punggungku waktu aku umur sembilan tahun, dan memukulku di kepala dengan penggorengan saat aku tujuh tahun.” Dengan setiap kata yang dia ucapkan, Harry melihat mata James terlihat semakin hampa. Itu berarti James tidak akan menyiksa anaknya secara fisik. Atau mungkin dia hanya tidak mau ada orang lain yang menyiksa anaknya.Mau bagaimanapun juga, Harry senang membuat ayahnya merasa bersalah seperti ini.Tapi dia tidak perlu menyebutkan semua yang pernah dia alami. Jadi Harry tetap merahasiakan beberapa hal. Bagaimana terkadang dia tidak diberikan makan sebagai hukuman, dikunci dalam lemari selama dua minggu dan hanya boleh keluar untuk ke kamar mandi beberapa kali sehari, dipaksa untuk mengerjakan pekerjaan rumah, bahkan retak dan patah tulangnya yang hanya diobati sedikit. Semua hal tersebut bisa dia jadikan senjata untuk lain hari. Dia tidak perlu menceritakan masa kecilnya yang berantakan sekaligus.Dia memaksakan tubuhnya untuk santai dan kembali memakan es krimnya dengan tenang.James menarik napas dalam. “Harry, aku—aku sangat minta maaf. Aku tidak tahu. Sungguh, kalau saja aku tahu—““Tapi kamu tak tahu,” potong Harry seringan yang dia bisa. “Sudah bukan masalah sekarang,” dia memakan es krimnya lagi. Saat James tidak berkata apa-apa lagi, dia memutuskan untuk bertanya saat mereka masih berapa di tempat umum, setidaknya untuk mencegah James melakukan sesuatu yang tidak diinginkan. “Kenapa kamu sangat marah?”“Apa anak itu memperkenalkan namanya?” tanya James.“Iya. Theo Nott.”“Ayahnya adalah seorang Pelahap Maut.”Harry terdiam dan akhirnya menyadari sesuatu. “Salah satu pengikut Kau Tahu Siapa?”James mengerutkan dahinya. “Bagaimana kamu tahu itu?”Harry mengangkat bahu.“Kau benar, salah satu pengikut Kau Tahu Siapa,” terang James. “Ayahnya, Tiberius Nott, menyatakan dalam pengadilan kalau dia dikendalikan sehingga bisa kabur dari hukuman.” Jadi itu yang tidak mau Nott katakan. Wajar sih.“Tentu saja semuanya bohong. Bukan hanya dia, banyak pengikut Kau Tahu Siapa melakukan hal yang sama. Aku tidak ingin kau bergaul dengan anaknya, Harry.”Harry tetap memandang es krimnya untuk memperpanjang waktu. Dia tidak ingin kehilangan satu-satunya kontak yang dia punya dengan anak seumurannya, tapi dia juga tidak ingin memaksakan kehendak. Tidak ada gunanya bertengkar dengan ayahnya secepat ini.Akhirnya Harry mengatakan “Nott tadi baik padaku. Kita belanja buku bersama dan dia menceritakan tentang Hogwarts.”“Apa yang dia ceritakan?” tanya James. Sangat jelas dia mengira bahwa Nott hanya menceritakan hal-hal yang buruk.Harry harus menyembunyikan senyum yang hampir muncul pada wajahnya. “Nott bilang kalau Hogwarts adalah salah satu sekolah sihir terbaik dan tertua di dunia, meskipun peringkat nilainya agak menurun selama dua puluh tahun terakhir. Ada empat asrama disana. Slytherin yang memiliki banyak lulusan yang menjadi Penyihir Hitam. Hufflepuff dikenal dengan kesetiaan dan keadilannya, Slytherin dengan ambisi dan kecerdikan, Ravenclaw dengan kreatifitas dan kecerdasan, Gryffindor dengan rasa ksatria dan keberanian. Selain itu setiap asrama bermain Quidditch antara satu sama lain dan juga tidur dan pergi ke kelas bersama anak-anak yang satu asrama dengan mereka.”James terdiam. “Itu… hampir semuanya benar.”“Hampir semuanya?” tanya HarryJames mengerutkan dahinya. “Oke, semuanya benar. Tapi dengarkan aku Harry, Tiberius Nott itu bukanlah orang yang baik. Sangat mungkin kalau dia menyuruh anaknya untuk bersikap baik kepadamu atau Jules untuk menyakiti kalian.”“Tidak mungkin,” balas Harry. “Kan tidak ada orang yang tahu mengenai aku dan fakta kalau Julian Potter memiliki kakak kembar.”“Benar juga,” ucap James masih mengerutkan dahinya.“Nott sepertinya anak yang baik,” ucap Harry sambil memperhatikan ayahnya dengan hati-hati. Dia tidak bisa langsung mengatakan Aku akan tetap berteman dengannya dan kau tidak bisa melarangku! tanpa memulai pertengkaran yang tidak dia butuhkan. “Dia bilang meskipun kita nanti beda asrama kita tetap bisa belajar bareng. Dia juga bertanya apa aku mau saling kirim surat dengannya sebelum masuk sekolah.”James menghela napas. “Yah, kurasa kalau hanya surat menyurat tidak masalah. Nah, aku baru ingat kalau kita harus membelikanmu burung hantu.”“Oh iya,” kata Harry. “Burung hantu. Nott tadi juga ada bilang itu. Kalian menggunakan burung untuk mengirim surat? Sepertinya malah akan lama sampai.”James mengayunkan tangannya dan mangkuk Harry melayang ke meja bertuliskan piring habis pakai. “Aslinya jauh lebih efisien dari yang kamu bayangkan. Burung hantu sudah punya sihir sejak jaman dulu. Memang tidak disadari Muggle tapi kalau seekor burung hantu lama tinggal di dekat pemukiman penyihir atau tempat-tempat yang memiliki banyak energi sihir, burung itu akan menjadi lebih pintar dan dapat terbang lebih cepat. Terkadang ada juga burung elang dan rajawali yang seperti itu. Walau mereka jauh lebih jarang ada. Jadi kamu mau satu?”Harry mengangkat bahu. “Sepertinya berguna.”“Pastinya,” senyum James. Senyumannya tidak sehangat atau selebar sebelumnya, tapi sepertinya dia telah melupakan permasalahan mengenari Theo Nott. Tentu saja Harry tetap akan memperhatikannya dengan seksama. “Julian sudah membeli burung hantu salju dan menamakannya Hantu.”Harry bertekad untuk tidak membeli burung hantu salju.Toko Serba Ada Eylops terlihat gelap dan berbau apek. Suara gemerisik binatang terdengar di setiap sudut toko tersebut. Harry melihat ada segerombolan anak-anak seumuran dengannya dan segera menjauh gerombolan tersebut. Dia sekarang sudah tahu seberapa besar pengaruh kembarannya dan dirinya sendiri terhadap orang-orang, dan dia tidak ingin membuat keributan dalam toko hewan peliharaan. Tiga puluh menit kemudian Harry keluar dari toko tersebut dengan memegang kandang berisikan elang taita betina yang masih muda. Dengan kepala, punggung, dan sayap yang berwarna hitam serta bagian dada yang berwarna krem, burung tersebut terlihat pintar dan dapat terbang dengan cepat. Mata burung itu terlihat jernih dan cerdas dan paruhnya terlihat sangat tajam. Harry mengingat tentang mitologi Yunani yang dia suka baca tahun lalu, dan berpikir bahwa dia akan menamakan burung tersebut Alekto seperti nama salah satu tiga Erinyes2 pengadil hukuman yang melayani Hades. Hanya saja dia akan mengubah namanya menjadi Alekta supaya tidak ada yang tahu asal namanya tersebut.Lalu Harry mengatakan kepada James kalau matanya sudah lama tidak diperiksa, dan James pun membawanya ke sebuah optik kacamata sihir. Harry sebisa mungkin mencegah dirinya untuk panik saat kacamatanya di lepas dan matanya di periksa oleh ahli mata yang ada disana. Dia benci tidak bisa melihat apa-apa seperti ini. Apapun bisa saja terjadi saat dia tidak bisa melihat.Dia memakai kacamatanya lagi saat matanya selesai diperiksa dengan rasa lega.“Anda bisa memilih bingkai baru, atau kita bisa membenarkan yang lama dan tetap memakai yang itu,” kata penyihir wanita yang memeriksa mata Harry sambil melihat kacamata Harry yang patah dan hanya disambung dengan selotip. Dudley mematahkan kacamatanya beberapa hari yang lalu dan Harry belum bisa memperbaiki barang dengan kekuatannya. Dia yakin ada mantra untuk memperbaiki barang, dan bertekad untuk segera mempelajarinya.Harry melihat ke arah James yang juga memakai kacamata bundar dan berpikir apakah lebih bail memilih bingkai yang sama untuk memanipulasi ayahnya, atau memilih bingkai berbeda untuk memuaskan dirinya sendiri.
Lebih baik yang persegi panjang kalau begitu.
Harry memilih bingkai berbentuk persegi panjang yang terbuat dari logam yang terlihat kokoh, dan menunjukkannya kepada penyihir tersebut sambil tersenyum berterima kasih.Wanita itu balas tersenyum. “Saya akan segera kembali,” katanya lalu pergi ke dalam toko. Harry rasa wanita itu pergi untuk mentransfigurasi atau mengganti lensa kacamata itu dengan sihir.“Kapan terakhir matamu diperiksa?” tanya James pelan.Harry mencoba mengingatnya. “Kurang lebih lima tahun yang lalu.”Bibir James terlihat menegang tapi dia tidak mengatakan apapun.Harry mulai menanyainya mengenai sekolah untuk menghabiskan waktu. Karena James terlihat suka mengobrol, rencananya berjalan lancar. Dia segera sadar kalau penjelasan Theo mengenai asrama yang ada jauh lebih baik dan tidak dipenuhi bias dibandingkan dengan apa yang James terangkan. James menggambarkan Slytherin sebagai “asrama bagi ular licik yang tak dapat dipercaya,” Ravenclaw sebagai “orang-orang yang cuman kutu buku,” Hufflepuff sebagai “baik sih, tapi agak membosankan,” dan Gryffindor sebagai “asrama terbaik yang pernah ada, tempat untuk orang-orang yang berani, adil, dan budiman.”Harry tidak mengatakan kalau “adil dan budiman” itu bukan berarti “sesungguhnya benar.”Dia merasa lega saat wanita ahli mata itu kembali membawa kacamatanya yang baru. Terlebih saat dia mencoba kacamata tersebut dan dapat melihat jauh lebih jelas daripada sebelumnya.“Aku bisa melihat dengan jelas,” ujarnya kaget dan lupa untuk tetap bersikap tenang.James tertawa. “Tentu saja. Keren bukan?”Harry mengangguk dan memberikan senyum paling jujurnya hari itu kepada James. Setidaknya selama satu bulan ke depan dia harus membuat James menyukainya.“Kopermu di dalam tas itu kan?” tanya James. “Ngomong-ngomong, aku suka baju barumu. Kamu terlihat sebagai penyihir muda yang pantas. Dan juga jauh lebih rapih daripada Jules pula!”“Terima kasih,” balas Harry. “Iya kopernya di dalam, dikecilkan dengan mantra penyusut.”“Bagus,” James tiba-tiba terlihat gelisah. Dia mencoba untuk menyembunyikannya memang, tapi Harry sudah terbiasa memperhatikan keluarga Dursley selama bertahun-tahun agar dia tahu kapan dia harus berhati-hati, dan James bukanlah aktor yang baik. “Ayo kita pulang. Aku yakin kamu pasti tak sabar bertemu kembaranmu.”
Adik kembarku, yang bahkan aku tidak tahu kalau ada sampai pagi ini. Adik kembarku, yang ternyata merupakan pahlawan untuk sesuatu yang dia tak sadar lakukan dan taka da seorang pun yang bisa menjelaskannya. Kembaranku, yang digambarkan Theo Nott yang merupakan anak dari Pelahap Maut sebagai calon anak emas Gryffindor dari pasangan emas Gryffindor.
“Sangat tidak sabar,” ucap Harry, dan sarkasme dalam kata-katanya sama sekali tidak disadari oleh James.
----- CHAPTER BREAK -----
Tidak seperti sebelumnya, James tidak menggunakan perapian yang ada di Leaky Cauldron tapi hanya memegang tangan Harry dan mengunakan trik menghilangnya.James menjelaskan bahwa apa yang dilakukannya itu disebut dengan Apparition dan Harry nanti akan mempelajarinya saat dia sudah lebih besar. Harry tidak yakin apakah dia akan menanti saat itu atau tidak. Apparition sangatlah tidak nyaman dan membuatnya merasa seakan seluruh tubuhnya dipisahkan secara molekul, dimasukkan secara paksa melewati sedotan, lalu disambungkan kembali. Alekta mengepakkan sayapnya dan mengeluarkan suara kwaak dengan marah.Harry hanya bisa tercengang memandang rumah di depannya.
Jadi ini tempat kembaranku hidup selama ini.
Harry mengenyahkan rasa iri yang muncul dalam dirinya. Meskipun Harry tidak memiliki pendapat yang bagus tentang ayahnya, bukan berarti Jules akan langsung sama menyebalkannya. Sayangnya, kalau diingat-ingat, Harry sendiri tidak punya banyak pengalaman baik dengan anak laki-laki seumurannya.Selain itu... harus diakui, rumah itu benar-benar indah.Rumah tersebut terbuat dari bata merah tua, dan memiliki banyak jendela berbingkai putih. Teras depannya terlihat terang dan hangat, dan pintu depannya yang besar bergagang besi itu dicat berwarna putih. Harry bisa melihat bahwa rumah itu memiliki empat—tidak, lima lantai. Dia bisa memasukkan rumah nomor 4 Privet Drive ke dalam rumah ini.“Potter Manor,” ucap James bangga sambil tersenyum kepada Harry saat mereka menaiki tangga. “Kediaman leluhur keluarga kita. Rumah barumu.”Tempat ini belum jadi rumahku, pikir Harry, tapi dia tetap mengikuti James sambil melihat-lihat lukisan-lukisan yang terpajang di dinding.Lukisan yang dapat bergerak.Harry tersentak kaget saat lukisan yang paling dekat dengannya berteriak “Pewaris kita telah kembali! Harry Potter telah pulang!”James terkekeh. “Maaf. Aku lupa bilang padamu. Foto dan lukisan di dunia sihir itu bisa bergerak,” jelasnya saat banyak lukisan lain mulai ikut bersuara. “Kurang lebih mereka adalah refleksi yang bisa bergerak dari siapa mereka saat masih hidup. Kebanyakan dari mereka juga bisa berpindah antar lukisan,” katanya menunjukkan seorang wanita tersandung masuk ke dalam lukisan tiga orang lelaki yang sedang bermain kartu. “Sebagai Lord Potter, aku bisa membuat mereka menjadi diam, tapi biasanya tidak aku lakukan. Mereka juga berhak memiliki hiburan.”Harry berpikir saat dia nanti mewarisi gelar keluarga Potter dia pasti akan membuat semua lukisan yang ada diam. Demi menjaga kewarasannya.“Jules!” teriak James ke arah tangga besar di bagian kiri belakang aula depan. “Ayo turun! Kita ada tamu!”Harry menggeser ranselnya.Suara langkah kaki terdengar oleh Harry beberapa saat sebelum dia melihat seorang anak laki-laki berhenti di bagian atas tangga. “Hei! Harry!” teriak dia sebelum berlari menuruni tangga.Dan seketika Harry lupa bagaimana caranya bernapas.Melihat James saja telah membuat Harry merasa seperti melihat bayangan dirinya dalam cermin jahil. Melihat Jules, kembarannya, justru lebih parah. Jules terlihat sama persis seperti Harry, hanya saja bekas luka yang ada di dahinya lebih besar, berwarna lebih keperakan, dan terlihat seperti garis lurus daripada berkelok menyerupai petir yang dia miliki. Jules juga menggunakan kacamata berbingkai bulat, membuat Harry merasa lega dia memilih kacamata berbingkai persegi panjang.“Julian,” balasnya. “Eh, hai.”
Bagus sekali. Sungguh kesan pertama yang sangat bagus Harry.
Mata Julian juga membelalak lebar. “Hai,” balasnya. “Ini aneh. Kamu terlihat… sama persis denganku.”Harry berhasil mengalihkan perhatiannya dari kemiripan mereka berdua, dan mulai memperhatikan kembarannya dengan seksama.Julian memakai kaos lengan pendek polos dengan celana kargo khaki1 yang pendek juga. Bagus, sepertinya dunia sihir juga menggunakan beberapa jenis pakaian Muggle. Ada noda di baju Jules, dan rambutnya lebih berantakan dari Harry.Mereka berdua terdiam.Harry membuka mulutnya meskipun dia tidak tahu ingin mengatakan apa.“Oke,” ucap James menepukkan tangannya. “Jules, bagaimana kalau kamu tunjukkan Harry dimana kamarnya? Aku akan memasak makan malam untuk kita semua.”“Beli saja,” balas Jules dengan cepat. “Kumohon.”James merengut. “Masakanku tidak seburuk itu.”“Iya sih. Tapi tidak terlalu enak juga,” kata Jules. “Dan ini hari pertama Harry di sini.”“Kamu benar. Bagaimana kalau aku pesan pizza?”“Setuju. Pizza peperoni dan… sosis.”“Harus ada sayurnya juga. Ingat, kalau mau sehat makananmu harus seimbang juga.”“Baiklah… tambah paprika.”“Siap. Bagaimana Harry? Tidak apa-apa?”Harry masih mencoba mencerna pembicaraan cepat di hadapannya. Dudley tidak pernah berbicara seperti itu kepada Paman Vernon. Mengobrol layaknya… teman.“Uh, boleh. Aku belum pernah makan pizza.”Jules terlihat terkejut. “Apa! Tidak mungkin kamu belum pernah makan pizza! Pizza itu sangat enak. Yah, boleh kita beli tiga?”James tersenyum. Senyumnya tidak terlihat terpaksa sama sekali. “Tiga pizza, siap dipesan.”“Ayo aku tunjukkan kamarmu,” kata Jules sambil menarik tangan Harry menaiki tangga. Selama mereka berjalan Jules terus bercerita mengenai lukisan yang ada dan bagaimana dia membersihkan kamar untuk Harry seharian karena kamar itu dekat dengan kamarnya dan terkadang dia menaruh barang-barangnya di situ, bagaimana dia tidak sabar untuk mengajari Harry terbang, dan bagaimana dia tidak percaya kalau dia punya saudara kembar—Selama itu Harry berusaha keras mengingatkan diri untuk bernapas dan berjalan tanpa tersandung di saat yang sama.“Nah ini dia kamarmu,” ucap Jules sambil membuka pintu. “Agak lebih kecil dari kamarku, tapi kebanyakan kamar di rumah ini dikunci karena sudah lama cuman ada aku sama ayah yang tinggal di rumah dan hanya kamar ini yang bisa dibersihkan dengan cepat…”“Tidak apa,” potong Harry. “Sungguh.”“Oke baguslah.”Harry mencoba menghiraukan rasa lega yang muncul dalam dirinya karena mendapatkan kamar tidur, terlebih pula kamar yang jauh lebih besar dari kedua kamar Dudley seperti ini. Di dalam kamar tersebut ada tempat tidur besar bercat merah dan emas di atas pernis kayu berwarna coklat, rak buku, lemari besar, dan meja belajar. Selain itu ada juga kursi beanbag dan kursi berlengan di pojokan kamar berserta jendela besar yang menghadap halaman berumput yang menyambung dengan hutan yang ada di belakang.Jules melompat duduk ke atas kasur Harry. “Apa kamu suka selimutnya? Aku membantu ayah memilih selimut itu. Kita punya banyak selimut yang diberikan mantra pengawet disimpan di loteng, semua warnanya sama sih, tapi selimut itu yang paling hangat. Merah sama Emas itu warna Gryffindor. Ayah sudah menjelaskan asrama yang ada di Hogwarts kan? Aku yakin kita pasti masuk Gryffindor. Gryffindor itu asrama yang terbaik!”Harry menarik napas dalam dan memberikan Jules senyum terbaiknya. “Iya, hebat sekali. Aku, eh, hanya… ingin ganti baju, dan… siap-siap,” katanya mengayunkan tangannya dengan samar. “Dan, eh… maaf, cuman ini hari yang melelahkan untukku dan aku mau… beristirahat sebentar sebelum makan malam.”“Oh! Iya. Tentu saja.” Jules turun dari kasur Harry dengan cekatan. “Nanti aku panggil saat pizzanya sudah sampai ya?”“Iya. Terima kasih.”Harry menutup pintu kamarnya dan menyenderkan kepalanya di sana selama beberapa saat.
Tarik napas yang panjang. Terus…. Kamu tidak apa-apa Harry, atur saja napasmu.
Dia berusaha memusatkan pikirannnya. Merasakan kayu dingin yang terasa oleh jari dan dahinya hingga dia tidak lagi merasa seakan seluruh isi dunia jatuh di atas kepalanya.Kamar itu hampir terlalu besar. Harry tidak bisa membayangkan dapat memiliki banyak barang untuk mengisi semua ruang yang ada dalam kamar tersebut. Tidak dapat membayangkan dirinya menaruh baju dan buku yang dia punya ke dalam lemari dan rak yang ada, dan merasa cukup nyaman untuk menganggap rumah tersebut adalah rumahnya. Dia tidak bisa membayangkan kalau dia akan terus tinggal di rumah itu sepanjang hidupnya.Untuk sekarang, dia akan tetap menyimpan semua barang yang dia miliki di dalam kopernya.Harry melepas jubah musim panasnya dan mengganti tunik yang dia pakai dengan kaus lengan pendek polos berwarna hitam, salah satu dari sedikit baju yang mirip dengan baju Muggle yang ada di toko baju yang dia kunjungi. Dia menggigit bibirnya sebentar dan akhirnya memutuskan untuk memakai celana jeans dan tetap memakai sepatu bot kulit naganya. Tongkat holly-nya dia masukkan ke dalam saku celana. Setelah itu Harry memasukkan baju yang tadi dia pakai ke dalam koper, mengecilkan koper itu kembali, dan memasukkannya ke dalam ransel. Tidak lama kemudian Harry mengubah pikirannya dan mengambil kopernya lagi, membesarkannya ke ukuran semula dan menaruhnya di kaki tempat tidur. Untuk saat ini dia hanya bisa melakukan hal itu. Dia tidak akan memindahkan barangnya ke dalam lemari dan rak yang ada, jaga-jaga kalau dia harus pergi tiba-tiba. Dan sekarang Harry berdiri di tengah kamarnya tidak tahu harus melakukan apa.Harry menghela napas panjang. Karena tadi ada James, Petunia tidak bisa menolak saat Harry meminta untuk membawa beberapa buku cerita Muggle milik Dudley dengannya. Dia memilih delapan buku favoritnya dan James memasukkan semua buku itu ke dalam tas yang telah diberikan Mantra Pengembang Tak Terdeteksi. Bisa saja Harry membaca salah satu buku itu sekarang, tapi dia tidak mau mencari James untuk meminta buku-buku tersebut.Dia mencoba menggunakan kembali mantra tanpa tongkatnya untuk memastikan dia masih bisa menggunakannya meskipun dia sekarang sudah memiliki tongkat sihir. Semuanya—mulai dari mantra penghangat, pemanggil cahaya, penerbang, hingga yang menumbuhkan rambutnya—tetap dia bisa lakukan. Dia bahkan membuka dan mengunci pintu kamarnya beberapa kali, hanya saja saat dia mencobanya pada kopernya, sihirnya teralihkan dan tidak mengenai koper tersebut. Setidaknya hal itu menunjukkan kalau jimat penangkal dan kata sandi yang diberikan tetap berfungsi.Oke. Jadi dia tetap bisa melakukan sihir meskipun tanpa tongkat. Dia hanya harus terus berlatih, mencoba apa dia bisa melakukan hal yang selain yang dia telah bisa lakukan.Harry menghela napas dan mengambil buku mengenai Mantra yang tadi dia beli. Mantra di dalamnya ditulis berurut sesuai alfabet, tapi kalau dia menyentuh buku itu dengan tongkatnya dan mengucapkan “Mudah,” seluruh mantra yang dianggap cocok untuk pemula akan bersinar sedikit. Dia membuka buku itu dan mencoba mantra penerbang mudah—“Wingardium leviosa!”—ke arah kopernya beberapa kali sampai akhirnya koper tersebut terhuyung-huyung mengambang di udara. Harry mengernyitkan dahi, memfokuskan pikirannya, dan akhirnya koper tersebut diam.Setelah bereksperimen sedikit, Harry akhirnya bisa menerbangkan sesuatu tanpa mengucapkan apapun . Dia sadar dia dapat mengendalikan tongkatnya dan juga benda yang di terbangkan jauh lebih baik dari sebelumnya. Selain itu, tidak seperti sebelumnya, dia tiadak menjadi cepat lelah. Dia lalu mencoba untuk menerbangkan beberapa benda secara bersamaan, dan berhasil menerbangkan empat bantal sebelum akhirnya sihirnya mulai meleset. Hanya saja, Harry masih harus mengucapkan mantranya saat menerbangkan beberapa benda sekaligus.Dia harus terus berlatih.Harry memutar-mutarkan tongkat yang dia pegang di tangannya sambil merebahkan diri di atas kasur. Bersantai sebentar tidaklah buruk. Hari ini sangatlah melelahkan, dan dia baru saja menghabiskan tiga puluh menit untuk berlatih mengendalikan sihirnya…Seseorang menggedor pintu kamarnya. “Hei! Harry! Pizzanya sudah sampai!”Harry menatap langit-langit kamarnya. Benar juga. Penyihir. Ayah. Kembaran. Pizza.Perutnya berbunyi, mengingatkan kalau dia juga butuh makan.Harry mengantongkan tongkat holly-nya dan membuka pintu kamar.Jules menyentakkan kepalanya ke arah tangga. “Dapurnya ke arah sini.”“Apa kamu biasanya jalan sejauh ini hanya untuk makan?” tanya Harry. Mereka menuruni tangga yang berbeda, tangga kecil yang menempel ke dinding bukan tangga besar yang ada di aula depan.Jules mengangkat bahu. “Kurang lebih. Tidak terlalu jauh juga.”“Apa ayah biasanya masak?”“Yap. Kalau bukan dia paling elf-rumah yang masak.”“Elf-rumah?”Jules merengutkan mukanya. Dia sangat ekspresif. Harry tidak tahu bagaimana kembarannya nyaman menunjukkan emosinya untuk dilihat orang begitu saja. “Mereka terlihat seperti goblin kecil, tapi tidak sekasar goblin dan yah… lebih kecil. Mereka terikat untuk melayani keluarga yang ada di rumah yang mereka diami.”“Jadi mereka itu budak?”Jules terlihat ngeri. “Tidak! Mereka suka melayani manusia. Dibebaskan itu adalah hal paling memalukan bagi elf-rumah.”“Hm.” Harry harus melihat sendiri, tapi dia rasa dia bisa percaya dulu saja dengan Jules. “Seperti brownies berarti ya.”“Aku akan berasumsi kalau yang kamu maksud itu bukan kue, dan menganggap mereka sama,” ucap Jules.Jadi kamu bisa jenaka juga. Mungkin masih ada harapan. “Dan mereka bisa masak?”“Iya. Mereka hanya perlu beberapa menit waktu kita berjalan ke dapur dan saat kita sampai pasti makanan sudah selesai di masak. Tapi entah mengapa mereka tidak bisa memasak pizza dengan baik. Mungkin saja cuman elf-rumah kita sih, karena Bidda dan Corker sudah agak tua, dan Marnee itu… aneh. Nanti kamu akan liat.”“Apa kita boleh minta apa yang kita ingin makan ke mereka?” tanya Harry mengingat sisa roti naan dan kari pedas yang pernah diberikan oleh Bibi Petunia. Keluarga Dursley tidak ada yang suka dengan rempah-rempah yang digunakan dalam kari itu, dan akhirnya semua sisanya diberikan kepada Harry. Itu adalah saat yang luar biasa untuknya.“Bisa saja,” jawab Jules. “Jadi gimana rasanya hidup sama Muggle? Apa foto dan lukisan mereka benar-benar tidak bergerak?”“Eh, tidak. Kecuali kamu nonton film. Eh… film itu seperti gerakan yang direkam lalu diputar lagi. Cuman film itu rata-rata hanya karangan saja, dan tidak berinteraksi dengan yang menonton mereka.”“Jadi tidak sama seperti foto dan lukisan disini ya,” kata Jules. “Eh, sebentar. Kita punya lukisan Sir Lucas di lantai empat yang cuman mengulang-ulang pertarungan jousting dan tidak pernah berbicara dengan siapapun. Apa mirip dengan itu?”“Mungkin. Terdengarnya mirip,” jawab Harry.“Apa kita nanti bisa pergi nonton film? Bagaimana caranya? Harus nonton di mana?”Harry mencoba menjelaskan bioskop sebisa mungkin dan merasa lega saat mereka sampai di dapur dan perhatian Jules teralihkan oleh makanan yang tersedia.Dia sangat yakin kalau tadi Jules berbicara tanpa henti hanya karena dia masih terlalu bersemangat, dan sekarang setelah dia menjadi lebih tenang Jules akan lebih… penasaran. Meskipun dia tau dia masih membutuhkan waktu sebelum dia bisa menganggap Jules lebih dari seseorang yang berhubungan darah dengannya, Harry berharap setidaknya mereka bisa berteman. Dan dia pikir dia tidak akan bisa menganggap dan memanggil James sebagai ayahnya.Jules dan James memakan pizza dengan semangat. Harry menjaga dua potong pizzanya dan menyimak percakapan kaku kedua orang dihadapannya. Dia tahu percakapan mereka menjadi kaku karena keberadaan dirinya yang membuat suasana keluarga beranggotakan dua orang itu berubah.Harry benci menjadi orang yang mengacaukan sesuatu. Paling tidak pizza yang mereka makan itu enak, dan lama kelamaan James dan Jules jadi tidak secanggung sebelumnya. Selain itu, Harry harus menjawab pertanyaan Jules mengenai tumbuh besar seperti Muggle dengan hati-hati, walaupun setidaknya pertanyaan kembarannya itu lebih mengenai bagaimana Muggle melakukan kegiatan sehari-hari, dan bukan apa yang Harry lakukan di sana. Selama mereka mengobrol James terlihat sangat tegang, tapi Harry menghiraukannya dan tetap memfokuskan perhatiannya kepada Jules. Dia tidak bisa melakukan beberapa hal sekaligus. Semua harus dilakukan secara perlahan.Jules juga terlihat ragu untuk bersikap seperti apa di depan Harry, tapi tidak seburuk yang Harry duga. Bisa saja mereka berdua saling membenci satu sama lain saat pertama kali bertemu.Walaupun dia masih merasa aneh melihat orang lain yang sama persis dengannya memandang balik.Harry memperhatikan seberapa banyak Jules makan, memastikan untuk memakan satu porsi di bawah Jules, memperhatikan James dengan seksama agar dia tidak makan lebih banyak dari yang diperbolehkan untuknya. Tapi sepertinya James tidak peduli berapa banyak yang Harry makan.Meskipun dia tidak terlalu lapar, Harry mengambil satu potong pizza lebih banyak daripada Jules.James tidak mengatakan apapun.Harry memakannya perlahan, memperhatikan reaksi apapun yang mungkin akan terjadi. Tapi sepertinya James tidak sadar, dan bahkan tidak peduli, siapa dari mereka yang makan lebih banyak. Harry memutuskan bahwa itu adalah salah satu sisi baiknya. Setidaknya Jules dirawat dengan baik.“Yah, kan di luar masih terang,” kata Jules melihat ke arah James dengan tatapan memelas. “Boleh aku ajak Harry terbang?”Terbang. Nah, itu terdengar seru. Harry ingin sekali mencobanya. Tapi dia tahu kalau hari ini dia sudah terlalu lelah, dan dia sudah sering menghabiskan banyak waktu memasak dan membersihkan rumah untuk menyadari kalau dia menjadi lebih ceroboh saat dia sedang lelah.“Aku rasa jangan hari ini,” ucapnya. “Aku lelah sekali hari ini. Bagaimana kalau besok?”“Baiklah,” kata Jules kembali memakan potongan pizza terakhirnya.“Aku juga ingin mengajakmu melihat-lihat keliling rumah, apa kamu mau?” kata James.Harry mengangguk. “Iya boleh.” Dia sudah merencanakan untuk melihat-lihat sendiri, tapi akan lebih baik kalau dipandu agar dia tahu bagian-bagian yang tidak boleh dia masuki sambil menanyakan beberapa hal untuk memastikan peraturan apa yang ada di rumah tersebut.Sepertinya dia baru akan bisa mengirim surat kepada Nott beberapa hari lagi. Harry harap Alekta sudah tahu bagaimana caranya mengirim surat. Tadi dia mengeluarkan Alekta dari kandangnya, dan elang itu langsung terbang untuk berburu.“James?” panggilnya ragu. “Hari ini… tadi… kamu marah saat aku mengobrol dengan Theo Nott. Seberapa berbahaya Pelahap Maut sekarang ini?”James menaruh serbetnya perlahan.Jules tiba-tiba menatap Harry dengan serius. “Mereka masih bebas,” katanya. “Beberapa dari mereka. Dan banyak kepercayaan darah murni masih beredar. Keluarga Nott salah satu yang mempercayai hal tersebut. Kamu tadi bertemu dengan anaknya?”“Iya,” jawab Harry memikirkan cara terbaik untuk menjelaskan bagaimana dia bertemu dengan Nott. “Aku tadi bertemu dengannya saat sedang membeli teleskop. Lalu kami mengobrol sebentar,”“Keluarga Nott adalah keluarga yang sudah ada sejak lama,” potong James. “Aku rasa ada beberapa sepupu mereka yang tidak ikut perang, tapi keluarga intinya… mereka sangat mendukung Kau Tahu Siapa,”Harry mengernyitkan dahinya ke arah Jules. “Kamu mengenal Theo Nott?”“Aku sih berharap tidak,” gumam Jules. “Tapi ya, iya aku kenal dia. Dia sering datang ke pesta atau perkumpulan yang sering dilakukan.”Harry melihat ke arah James dengan tatapan bingung.“Jules adalah Anak Laki-laki yang Bertahan Hidup,” terang James sambil melihat anak keduanya dengan bangga. “Jadi dia sering diperhatikan oleh media. Keluarga kita mengadakan banyak kegiatan atas nama Jules seperti perkemahan Quidditch untuk anak-anak dari keluarga yang kurang mampu, atau pesta amal pada saat Natal setiap tahunnya.”“Mereka sampai menulis buku tentang aku,” ucap Jules dengan nada ngeri. “Buku-buku anak, bisa kamu bayangkan itu? ‘Jules Potter dan Si Manusia Salju Bermuka Masam.’ Sangat konyol. Aku ditakdirkan untuk mengalahkan Penyihir-penyihir Hitam, bukan jalan-jalan berteman dengan manusia salju yang disihir.”“Jules,” tegur James ringan. Tegurannya sama sekali tidak berguna.Harry berusaha keras untuk tidak memutar matanya di depan mereka.Tapi…“Jadi kalian melakukan acara-acara sosial dan berinteraksi,” katanya. “Dengan anak-anak darah murni lainnya.”“Kami tidak punya pilihan,” ucap James. “Orang-orang dewasa menggunakan acara-acara tersebut untuk negosiasi politik dan memperluas jaringan mereka. Sebagai Ketua Auror dan juga pemegang kursi Wizengamot secara tidak resmi aku harus mendatangi acara-acara tersebut. Anak-anak kecil bermain di dalam rumah tuan rumah yang mengadakan acara saat kami berbincang dan anak-anak yang lebih tua mengawasi yang lebih muda. Acara-acara tersebut kadang dilakukan beberapa kali dalam setahun.”Harry memutuskan untuk menunda bertanya mengenai anak-anak yang seumuran dengannya. Hal tersebut lebih baik dia tanyakan saat dia tidak terlalu lelah sampai tidak bisa berpikir seperti sekarang. Dia menambahkan hal tersebut ke dalam daftar pertanyaan dalam otaknya yang semakin panjang.“Tapi untuk pertanyaan awalmu, daripada Pelahap Maut, permasalahannya adalah Penyihir Hitam pada umumnya,” terang James. “Di luar sana pasti akan selalu ada penyihir yang memiliki tongkat dan berkeinginan untuk melakukan hal jahat. Kalau mereka berhasil membunuh Anak Laki-laki yang Bertahan Hidup mereka pasti akan menjadi terkenal. Jadi Jules itu diincar oleh banyak orang.”Kembaran Harry itu tidak hanya terkenal, tapi juga memiliki kekuatan sosial yang besar. Selain itu dia juga diincar oleh siapapun yang berniat ingin menjadi penyihir jahat yang berkuasa. Bagus sekali.“Boleh aku kembali ke kamar?” tanyanya pelan. “Aku… capek dan mulai mengantuk.”“Ya, tentu saja,” ucap James kaget. “Apa kamu masih ingat di mana letak kamarmu?”“Masih, tenang saja,” jawab Harry.James mengangguk. “Kalau kamu butuh apa-apa, panggil saja ‘Corker’ untuk memanggil elf-rumah kita. Nanti akan dia tangani. Apa kamu suka kamarmu?”“Kamarnya bagus,” kata Harry. Dia hanya perlu menambahkan sedikit rasa antusias yang tadi dia rasakan.“Baguslah,” ucap James lega. “Oke, selamat tidur Harry.”Harry berjalan keluar dapur dan sengaja mengencangkan suara langkah kakinya selama beberapa saat lalu diam-diam kembali untuk menguping.“—agak pendiam,” dengarnya Jules berbicara. “Itu aneh. Dia aneh.”Harry mengernyitkan matanya tajam.“Yah,” kata James setelah terdiam beberapa saat. Harry tahu kalau itu berarti James setuju dengan apa yang Jules katakan. “Masa kecilnya jauh berbeda denganmu.” Aku tidak punya masa kecil karena dirimu James Potter. “Penampilan kalian memang mirip, tapi kalian tidak akan bisa langsung akrab seperti si kembar Weasley.”“Aku tahu itu. Tapi—“ Jules memotong kata-katanya dengan frustasi. “Apa kita akan mengumumkannya? Koran-koran akan menyebarkan hal ini dengan gencar bukan?”James menghela napas. “Iya pastinya. Aku akan membicarakan hal ini dengan Ethan besok atau lusa untuk merencanakan kapan dan bagaimana kita memperkenalkan Harry. Untuk sekarang… aku rasa hal terbaik yang kita bisa lakukan adalah membantu Harry untuk terbiasa di dunia sihir. Setidaknya agar dia tidak tertinggal saat masuk sekolah nanti.”“Oke,” setuju Jules lalu terdiam. “Aku harus mengajaknya main dengan teman-temanku ya?”“Tidak sopan kalau tidak kamu ajak,” bujuk James.Harry langsung memutuskan untuk hanya menerima ajakan pertama. Meskipun dia tidak ingin mengobrol dengan siapapun, setidaknya dia bisa membuat Jules Potter kesal. Ternyata dia sama menyebalkannya dengan James.“Baiklah…”Harry memutuskan dia sudah cukup mendengar pembicaraan yang dilakukan pasangan ayah dan anak tersebut dan kembali berjalan menuju kamarnya.Hanya setelah dia mengunci kamarnya lah Harry membiarkan tangannya gemetar dan matanya memanas. Dia memandang tajam bayangan yang ada dalam kamar tersebut dan hampir tidak menyadari Alekta terbang menghampiri lalu bertengger di bahunya. Dia bahkan tidak sadar kalau dia lalu mulai mengelus burung itu perlahan.Jadi James dan Jules berpikir kalau dia itu terlalu ganjil. Terlalu diam. Terlalu berbeda dari mereka.Si aneh.Harry menatap tajam buku mantra yang terletak di atas mejanya. Baiklah. Kalau mereka pikir dia itu aneh, maka dia akan menjadi orang yang aneh. Kalau teman-teman Jules tidak menyukainya, dia bisa saja mencari teman sendiri. Atau mungkin juga tidak. Hal itu tergantung dengan orang-orang seperti apa yang nanti bertemu dengannya. Kalau dia tidak punya teman… ya, Harry sudah bertahun-tahun terbiasa tidak memiliki teman seumuran dengannya. Dia bisa terus melakukannya selama beberapa tahun ke depan.Harry menutup matanya dan mengukir tekadnya ke dalam pikirannya dengan kuat. Setelah itu dia baru menaruh Alekta ke atas tenggerannya, mengganti bajunya dengan piyama yang dia baru beli, lalu tidur. ~oOo~ Harry berguling dalam tidurnya.Hangat sekali… Mungkin bibi atau pamannya menyalakan ventilasi pemanas yang ada dalam lemarinya... piyama yang dia kenakan juga terasa sangat lembut…Seseorang menggedor pintu kamarnya.“Aku sudah bangun Bibi Petunia,” ucap Harry sekeras yang dia bisa lalu membuka matanya.Oh iya. Potter Manor. Keluarganya yang asli. Sihir.Harry melompat turun dari kasurnya dan membuka pintu kamarnya dengan kencang.“Bibi Petunia,” ucap Jules. “Kakaknya Mum?”“Iya,” jawab Harry singkat. Dia tidak ingin membicarakan keluarga Dursley. Atau James. Dua hal tersebut dapat menghancurkan suasana hatinya yang sedang bagus.“Aku ingin bertemu dengannya,” kata Jules.“Tidak, kamu pasti tidak mau. Dia tidak terlalu baik,” Harry membukakan pintunya untuk Jules. Sesuai perkiraan Jules langsung masuk ke dalam dan entah bagaimana membuat kamar itu serasa lebih kecil dari sebelumnya. Dia melompat duduk ke kursi beanbag Harry.“Bajumu kamu taruh dimana?” tanya Jules melihat ke arah lemari yang setengah terbuka sambil mengerutkan dahi.Harry menunjuk kopernya.“Belum kamu rapihkan?”“Sayang kalau aku masukkan lemari,” jawab Harry jujur. “Kita kan masuk sekolah satu bulan lagi.”“Iya sih.” Jules melihat ke arah koper Harry. “Kamu sudah beli buku sekolah yang disuruh kan? Kelihatannya membosankan ya. Rasanya aku mau kita belajar kutukan dan guna-guna saja.” Dia mengeluarkan tongkatnya dan mengayunkan tongkat tersebut. “Apa ada mantra yang sudah kamu tahu?”“Eh… kurang lebih,” jawab Harry.“Apa?”“Mantra Penerbang. Reparo.”“Aku sudah bisa melakukan dua itu dari dulu,” kata Jules dengan sombong.Harry terdiam. Dia kira apa yang dia lakukan itu sudah hebat. Seketika rasa malu muncul dalam dirinya, yang kemudian dia enyahkan. Dia bertekad untuk bekerja lebih keras daripada sebelumnya.“Boleh aku lihat?” pinta Jules tersenyum lebar.Harry mengacungkan tongkatnya ke arah kursi beanbag yang diduduki Jules. “Wingardium leviosa!”Jules menjerit saat beanbag tersebut perlahan melayang kurang lebih tiga puluh centi dari lantai.Harry menggertakkan giginya dan berkonsentrasi penuh, berusaha keras untuk menjaganya tetap seimbang. Dia tidak bisa membuat benda sebesar dan seberat itu terbang lama.Dia menurunkan beanbag tersebut dengan agak sedikit kasar, tapi setidaknya Harry tidak langsung menjatuhkan Jules ke lantai begitu saja.“Hebat,” puji Jules. “Aku belum bisa menerbangkan benda sebesar itu. Boleh gantian aku yang coba?”Jules bangun dari beanbag tersebut, tapi Harry dengan cepat memotongnya. Dia belum mempercayai Jules cukup untuk menerbangkan dirinya. “Bagaimana kalau kamu tunjukkan aku yang lain? Eh… sihir yang aku tidak tahu misalnya.”Jules berpikir sejenak. “Oke… ah, ini, Ayah memakai yang ini saat kami main Quidditch.” Dia mengacungkan tongkatnya ke udara dan mengucapkan, “Aquafy!”Aliran air keluar dari tongkat Jules, melengkung di udara, lalu menghilang sebelum menyentuh lantai. Jules menunjukkan ke Harry bagaimana cara meminum air tersebut sebelum akhirnya mengucapkan “Finite,” untuk memberhentikan mantra tersebut.“Keren,” puji Harry yang sebenarnya tidak menganggap mantra itu keren sama sekali.Jules tersenyum lebar. “Yang itu asyik mantranya. Aku juga tahu Kutukan Tersandung, tapi aku belum terampil melakukannya.”“Apa… kata-katanya?”“Mantranya,” koreksi Jules dengan bangga. Harry menahan diri untuk tidak menyemprotkan air Aquafy ke muka Jules, karena dia tidak tahu apa dia bisa langsung menggunakan mantra tersebut dan akan memalukan kalau dia gagal. “Fallo ambulare.”Harry mengingat mantra tersebut dan berjalan ke arah kopernya, membisikkan kata sandi yang baru dia ganti (Firedrake, nama karakter di salah satu buku favoritnya) dan membuka kompartemen baju.“Ngomong-ngomong, ayah kayaknya belum bangun… atau mungkin dia harus berangkat kerja pagi. Jadi bagaimana kalau kita terbang setelah selesai sarapan?” tanya Jules.Apa tidak ada hal lain dalam pikiranmu selain terbang? “Kayaknya asyik,”Harry mengambil kemeja berwarna abu-abu, celana jeans, dan sepatu botnya karena Jules memakai baju kaus dan celana kargo pendek lagi, dan dia tidak mau memakai pakaian yang terlalu berlebihan. Lalu dia terdiam. Di sekolah, saat pelajaran olahraga rata-rata anak-anak kelasnya langsung berganti baju di depan yang lain, tapi Harry tidak. Tidak peduli seberapa sering dia diejek, dia lebih memilih mengganti bajunya di dalam kamar mandi daripada harus memperlihatkan bekas-bekas luka yang dia miliki. Dan dia tidak ingin menunjukkan semua bekas luka tersebut kepada Jules juga.“Eh, maaf… mungkin ini kebiasaan Muggle, tapi aku tidak suka ganti baju di depan orang lain,” katanya perlahan. “Bisakah kamu—““Oh! Tentu saja,” Jules bangun dari kursi beanbag dan mengantongkan tongkatnya. “Aku tunggu di bawah ya. Ah iya, nanti ada teman-temanku yang datang. Kami sudah janjian sebelum aku tahu tentang kamu, tapi setidaknya kamu jadi bisa kenalan dengan anak-anak yang seumuran dengan kita. Kita bisa terbang dulu sebentar dan makan siang sebelum mereka sampai ke sini.”Harry hanya bisa menatap pintu kamarnya setelah kembarannya keluar.Orang-orang. Setelah kekacauan yang dia alami dua puluh empat jam terakhir ini, dia harus berinteraksi dengan orang lain lagi.Harry mencoba untuk menenangkan pernapasannya sebelum dia hiperventilasi. Dia baik-baik saja berinteraksi dengan Nott kemarin. Yah, oke, kemarin kan hanya satu orang tidak banyak, dan Nott juga terlihat baik, yang kemungkinan besar teman-teman Jules tidak.Tidak apa. Aku akan baik-baik saja. Harry memegang erat tongkat sihirnya dan berganti baju secepat yang dia bisa. Dia yakin dia harus makan sebelum menghadapi semua yang akan terjadi hari ini.Elf-rumah itu sehebat apa yang Jules katakan. Harry masuk ke dapur dan melihat kembarannya duduk di meja makan yang besar dan tua di sana sedang melahap sepiring besar telur urak-arik, roti panggang, daging asap, oatmeal, dan beberapa potong apel. Ada piring besar berisi makanan yang sama persis di letakkan di depan Jules untuknya.“Ini semua untukku?” tanya Harry memandang semua makanan tersebut. Jumlahnya jauh lebih banyak dari apa yang pernah dapat untuk sekali makan sepanjang hidupnya.“Yeff,” ucap Jules menelan makanannya. “Kalau kurang nanti akan ditambahkan oleh para elf.”Harry berpaling dari makanan yang ada dan melihat ke arah Jules. “Tidak mungkin aku bisa makan sebanyak ini!”Jules mengangkat bahu. “Kamu harus lihat kalau Ron makan. Dia bisa makan dua kali lipat dari itu. Apa lagi si kembar.”Harry mengingat James membicarakan tentang sepasang anak kembar lainnya, tapi tidak ada menyebutkan seseorang bernama Ron. “Siapa mereka?” tanyanya sambil mulai makan. Makanannya enak. Dia mulai menghargai keuntungan dari memiliki elf-rumah.“Keluarga Weasley,” jawab Jules. “Mereka itu keluarga yang cukup tua, dan juga beraliansi dengan Keluarga Potter. Mereka punya banyak anak. Si kembar Fred dan George lebih tua dua tahun dari kita, Ron seumuran, dan Ginny lebih muda satu tahun. Ron itu sahabatku. Dia, si kembar, dan Ginny hari ini nanti datang.”Harry hanya mengangguk. Mengunyah makanan bisa jadi alasan bagus untuk tetap diam. Dari kecil dia sudah terbiasa untuk diam, dan menurutnya James dan Jules itu terlalu banyak bicara.Untungnya, Jules sepertinya tidak masalah untuk tetap diam dan makan.Harry meliriknya dan melihat ke arah jam tangan tua yang dia pakai. Dia penasaran seberapa lama Jules bisa menahan diri untuk tetap diam.Setelah tiga menit yang mengejutkan, Jules sudah selesai menghabiskan makanannya dan bangun dari meja. “Sudah selesai?”Apa aku terlihat sudah selesai? pikir Harry tajam. Dia melihat sisa makanan yang ada di piringnya dan memutuskan untuk tidak melanjutkan makan. Perutnya terbiasa mencerna sedikit makanan, dan dia sudah pernah makan hingga kekenyangan saat Bibi Petunia terkadang membiarkannya makan sebanyak yang dia mau, dan setiap saat setelah itu dia pasti akan muntah di kamar mandi. Dia harus menyesuaikan diri sedikit demi sedikit. “Iya aku sudah selesai.”Jules membawanya ke halaman belakang rumah mereka, ke halaman berumput yang Harry bisa lihat dari jendelanya. Ada gudang kecil terletak di sudut taman itu. Jules menaruh tangannya di kunci gudang tersebut dan mengatakan “Buka.” Kunci tersebut terbuka dan mereka pun masuk.Harry mengedipkan matanya, membiarkan matanya menyesuaikan dengan gelapnya gudang. Jules mengambil sesuatu dan melemparkannya kepada Harry yang tersentak kaget dan hampir tidak berhasil menangkap apa yang dilempar.Sapu terbang. Lebih ramping dari yang Harry lihat di dalam brankas. Yang ini bahkan memiliki penyangga kaki. Sapu tersebut lebih panjang dari tinggi Harry, dan bersenandung dengan banyak kemungkinan ke dalam dirinya.Harry menggenggam sapu itu erat.“Ini sapu Cleansweep Sepuluh,” kata Jules. “Ayah berjanji untuk membelikan Nimbus Dua Ribu kalau aku masuk ke dalam tim Quidditch Gryffindor, tapi sekarang kita masih harus menggunakan yang tua ini.” Dia memegang sapu yang sama persis dengan yang dipegang Harry di tangannya.“Memangnya Cleansweep Sepuluh tidak bagus?” tanya Harry.Jules mengangkat bahu, berjalan keluar dari gudang tersebut. “Mereka keluar tahun lalu, jadi kurasa sih bagus. Tapi bukan yang terbaik.”Kata-katanya Jules dengan tidak nyaman mengingatkan Harry kepada Dudley. Tiga puluh enam! Tahun lalu aku dapat tiga puluh delapan kado! Harry berusaha keras untuk mempertahankan suasana hatinya yang sedang baik.“Oke, taruh sapu itu di bawah,” ajari Jules. Harry mengikutinya berdiri di sebelah kiri sapu tersebut.“Angkat tanganmu dan katakan Naik!” saat Jules mengatakannya, sapu tersebut langsung melompat tangannya dengan kencang.“Naik!” ucap Harry merasa konyol. Tapi sapu tersebut juga melompat ke tangannya hampir secepat sapu Jules.“Hebat,” puji Jules.Jules menunjukkan bagaimana caranya menaiki sapu terbang tersebut, bagaimana cara memegang sapu tersebut dengan benar, dan dimana dia harus menaruh kakinya.“Lalu, kamu hanya perlu begini,” peragai Jules menjejakkan tanah dan membuat sapunya mengambang di udara sedikit. Dia mencondongkan badannya sedikit, dan sapunya bergerak berputar dalam lingkaran. Harry memperhatikan gerakan Jules—dimana dia meletakkan kakinya dan bagaimana dia mencondongkan badannya—dengan seksama. “Sekarang kamu coba.”Harry menarik napas panjang dan menjejakkan kakinya.Mantra Bantalan yang ada pada sapu tersebut berfungsi dan Harry merasakan kakinya tidak lagi menginjak tanah dan dia tidak dapat menghentikan wajahnya untuk tersenyum lebar.“Ya kan?” ucap Jules tersenyum lebar. “Luar biasa.”“Iya,” hembus Harry. “Oke, jadi bagaimana aku—“Dia mendengar suara angin dan suara orang bersorak. Saat dia melihat ke arah tersebut, Jules sudah menghilang, terbang dengan cepat ke arah rumah.“Brengsek,” teriak Harry. Tapi Jules sudah menghilang.Dia menghela napas dan melihat ke bawah. Harry mencondongkan badannya ke depan dan mendorong sapu tersebut ke bawah. Perlahan sapu tersebut turun kembali ke tanah.Harry terdiam dan berdiri melihat ke arah rumah. Mungkin seharusnya dia menaruh kembali sapu tersebut lalu menunggu James dan Jules kembali sebelum mencoba terbang lagi.Harusnya.Tapi… dia ingin menunjukkan kalau dia sama hebatnya dengan Jules. Kalau dia tidaklah mengecewakan. Dan walaupun Harry tahu dia tidak akan dapat langsung terbang sehebat Jules, dia juga tidak mau menjadi yang lemah dan tidak bisa terbang.“Oke,” gumam Harry menjejakkan kakinya kembali. Dia hanya menjejakkan kakinya dengan pelan, jadi sapu tersebut hanya melayang kurang lebih setengah meter dari tanah. “Oke, baiklah… perlahan saja…”Dia mencoba untuk bergerak perlahan, mencondongkan badannya ke satu arah, dan sebaliknya. Memastikan dia tidak melakukan gerakan yang terlalu menyulitkan dan berbahaya. Dia bisa terbang naik dan turun, memutar balik, dan bergerak melingkar besar mengelilingi halaman tersebut saat tiba-tiba dia mendengar suara bantingan keras terdengar dari rumah.Harry tersentak melihat ke arah rumah tersebut sebelum akhirnya dia sadar kalau suara tersebut hanyalah suara pintu yang terbanting. Gerakannya membuatnya kehilangan keseimbangan dan dia harus berpegang erat untuk tidak terjatuh dari sapu tersebut. Saat dia melihat kembali ke arah rumah, sepertinya tidak terjadi apa-apa.Dia melihat ada sebuah kolam kecil terletak di pinggiran pohon-pohon yang ada, dekat dengan sisi timur rumah, dan mengarahkan sapu tersebut ke sana. Kalau dia ingin mencoba gerakan yang lebih rumit, gagal, dan terjatuh, lebih baik dia jatuh ke dalam air.Kolam tersebut cukup besar, kurang lebih seukuran dengan tempat parkir yang ada di perpustakaan. Harry mengelilingi kolam tersebut beberapa kali, lalu memberanikan diri untuk terbang lebih tinggi dan beberapa kali menukik ke arah kolam. Dia selalu berhenti sebelum masuk ke dalam kolam tersebut, tapi semakin mendekat setiap dia menukik. Kecepatan dia terbang membuat udara bulan Juli yang hangat terasa seperti angin sejuk di wajahnya, dan dia merasa dia dapat terbang lebih cepat dari apa pun. Harry tidak bisa berhenti tersenyum. Dia tidak ingin menghilangkan apa yang dirasakannya saat ini.Dia kembali menukik ke arah kolam, dan memberanikan diri untuk mendekat ke air, berputar cepat mengelilingi kolam tersebut. Setelah itu mengangkat salah satu kakinya dari pijakan dan menyusuri jarinya di atas air tersebut.
“Yaaaaaah!”
Sekelebat biru dan merah melesat melewati bahu Harry. Yang diikuti segera oleh yang lain.Dia berputar dengan kasar. Ke arah kaki yang tidak berpijak pada sapunya.Hal berikutnya yang Harry tahu adalah dia terjatuh ke dalam air.Dia memukul dan menendangkan tangan dan kakinya sekeras yang dia bisa. Tidak mengetahui bagian mana yang atas ataupun bawah. Sekelilingnya dipenuhi air, baik di telinga, mata, maupun hidungnya. Satu-satunya yang ada dalam pikiran Harry adalah apa yang terjadi tiga tahun lalu saat Dudley dan Piers menghabiskan satu jam menundukkannya masuk dan keluar dari air, menahannya hingga dia meronta-ronta, dan bagaimana dia tidak bisa berenang—Dan kemudian ada tangan yang memegang kemejanya dan menariknya keluar dari air.Harry tersedak, terbatuk, dan meronta dari genggaman yang menariknya. Dia harus menjauh dari siapapun ini yang memegangnya—“Harry!” teriak seseorang, dan rasa terkejut mendengar namanya dipanggil segera menyadarkannya. Harry menyeka air dari matanya dan mengeluarkan air yang masuk ke dalam telinganya dan segera menyadari ada sekelompok anak berdiri di pinggir kolam menertawai dirinya.Yang menarik Harry keluar dari kolam ada seorang anak laki-laki berambut merah terang yang terlihat sedikit lebih tua dari dirinya dan mengenakan kaos biru yang telah basah kuyup. “Kau baik-baik saja kawan?”Seseorang mengendarai sapu berhenti terbang tepat disamping anak tersebut. Harry memandang mereka berdua dengan bingung. Anak kembar.Si Kembar Weasley.“Maaf ya,” kata si Anak Sapu. “Kami tidak bermaksud—““—untuk membuatmu terjatuh,” lanjut Anak Kolam. “Hanya ingin—““—untuk mengejutkanmu saja. Sungguh.”“Ya. Kalian sudah bisa menganggapku terkejut,” jawab Harry kaku. Si Kembar tersebut menyengir, tapi ada secercah kecerdikan di mata mereka, dan dari cara mereka saling melirik satu sama lain menunjukkan kalau mereka sadar mereka telah mengenai sesuatu yang lebih sensitif dari yang mereka ketahui.“Jadi kamu tidak bisa berenang?” tanya Anak Kolam.“Dari mana kau tahu?” geram Harry berjalan keluar dari kolam dan memandang tajam ke arah sekelompok anak seusianya yang masih juga tertawa di kejauhan.Anak Sapu turun dari sapunya dan mengembalikan sapu Cleansweep Harry. “Yah, mungkin saat kamu terkena serangan panik tadi.”“Yep. Tanda yang sangat jelas itu,” setuju Anak Kolam.Harry melihat mereka berdua bergantian. Dia yakin kalau saja salah satu dari mereka tidak lah basah kuyup, dia pasti tidak akan bisa membedakan mereka berdua. Walaupun, entah bagaimana, Anak Sapu sepertinya sedikit lebih liar dibandingkan yang satu lagi.“Sayang sekali,” kata Anak Sapu.“Padahal kita masih libur musim panas.”“Sayang jadi terbuang.”“Ngomong-ngomong, aku Fred.”“Bukan. Aku Fred. Kamu itu kan George. Ampun deh, apa Mum memukul kepalamu lagi?”Mereka berdua terkekeh, tapi Harry menegang. Ibu Weasley—Si Kembar melihat raut wajah Harry dan berhenti tertawa. “Hanya bercanda kawan,” ucap Anak Sapu. “Dia tidak akan benar-benar…”Dia terdiam, dan kedua anak kembar tersebut kembali memandang satu sama lain, dan Harry tahu kalau mereka mulai menyadari beberapa hal.“Aku Harry,” balasnya. “Mungkin harusnya aku berterima kasih karena telah menarikku keluar dari kolam, tapi sayangnya kalianlah yang awalnya membuatku tercebur ke dalam.”George/Fred/Anak Kolam mengangkat bahunya. “Itu adil. Kita dapat—““—mengajarimu,” tambah yang satu lagi. “Sebagai tanda maaf atau apalah.”Harry memandang mereka berdua. Dia masih belum begitu percaya kepada mereka, tapi setidaknya mereka tidak mengejeknya seperti yang lain. “Setuju.”Anak Sapu menepuk punggung Harry. “Ayo, saatnya bertemu dengan bayi-bayi yang lain.”“Aku bukan anak bayi,” ucap Harry tersinggung sambil berjalan ke arah anak-anak yang lain meskipun dia sangat tidak mau.Si Kembar menyengir sambil ikut berjalan di kedua sisinya. Ekspresi nakal dan iseng yang sama terpapang di kedua wajah mereka. “Ohh, bayi kecil Harry tidak suka dipanggil bayi ya?”“Tidak nyaman kah?” goda yang satu lagi. “Apakah popokmu perlu diganti?”“Hanya kalau aku bisa menggosokkan yang telah terpakai ke wajah kalian,” balas Harry.“Widih, yang ini gigit!” kata Anak Sapu terhuyung mundur sambil menaruh tangannya ke dada dengan dramatis.“Aku suka yang ini,” kata Anak Kolam kepada kembarannya.Anak Sapu menyeringai. “Tahun ini pasti akan jadi seru.”Harry memutuskan untuk tidak menyimpan dendam karena diceburkan ke dalam kolam. Mereka tidak tahu kalau gerak refleksnya berantakan dan membuatnya terjatuh dari sapunya. Mereka juga telah menariknya keluar dari air dan bahkan tidak mengejek ketidakmampuannya berenang.Sedangkan yang lain—Harry dapat melihat dengan jelas seorang anak laki-laki berambut merah yang terlihat seperti adik laki-laki yang kurus dari Si Kembar menirukan kepanikan Harry saat di air. Ada juga anak perempuan—yang juga berambut merah—terlihat tertawa kecil. Tapi sudah jelas anak itu tertawa karena dia menyukai Jules yang tertawa sangat keras Harry terkejut dia masih bisa berdiri. Ada dua anak perempuan lainnya yang terlihat sepertinya keluarganya berasal dari Asia Selatan melihat mereka dengan tidak nyaman, dan seorang anak laki-laki gemuk berambut pirang juga sedikit tertawa bersama Jules dan si rambut merah.“Menurutmu itu lucu?” tanya Harry dingin.“Ya. Sangat lucu,” kata anak laki-laki berambut merah itu tersenyum lebar. “Oh iya, aku Ron. Ron Weasley.”“Kesan pertama yang sangat bagus, Har,” ucap Jules terkekeh.Harry tidak tersenyumPerlahan Jules dan Weasley berhenti tertawa.“Dia itu adik kami,” Anak Sapu menunjuk Weasley. “Dia memang menyebalkan. Hiraukan saja.”“Hei!” protes Weasley.“Dan ini adik perempuan kami Ginevra,” Anak Kolam menambahkan, menunjuk ke anak perempuan berambut merah yang mengernyitkan dahinya.“Ginny,” bentaknya. “Kalau ada yang memanggil aku Ginevra, begitu aku mendapat tongkat sihir akan aku kutuk mereka.”“Dan kamu baru akan dapat tongkat sihir tahun depan,” ucap Weasley mengacuhkan. “Mana mungkin kamu akan ingat.”Ginny memandang Weasley dengan tajam. Harry menaikkan alisnya. Dia dapat melihat jelas bagaimana watak anak itu seperti api membara. Harry yakin Ginny tidak akan melupakan orang-orang yang dia ingin kutuk. Pasti Ron termasuk dalam daftar tersebut.“Aku Parvati,” ucap salah satu anak perempuan yang lain.“Dan aku Padma,” tambah yang satunya.“Terlalu banyak anak kembar disini,” gumam Harry.Keduanya setengah tersenyum, setengah meringis. “Yah, setidaknya kami lebih mudah dibedakan,” terang Parvati. “Aku lebih pendek satu inci.”Harry menatap anak laki-laki terakhir dalam grup tersebut.“Neville,” ucap anak tersebut. “Neville Longbottom.”Nama keluarga yang disayangkan. “Senang bertemu kalian,” balas Harry memandang kearah mereka. Dia menirukan cara bicara salah satu rekan kerja Vernon menghadapi Petunia saat dia bertamu untuk makan malam. Saat itu Harry mendapatkan kesan bahwa lelaki tersebut sama sekali tidak senang bertemu dengan istri dari lelaki bertubuh layaknya anjing laut tersebut, dan dia berusaha untuk menyampaikan hal yang sama disini.Longbottom membelalakkan matanya, dan Padma dan Parvati sepertinya menangkap sindiran halusnya, tapi Weasley, Jules, dan Ginny tidak menyadari apa-apa.Si Kembar Weasley kembali memandang satu sama lain dengan penuh makna.“Mari kembali ke rumah supaya aku bisa ganti baju,” usul Anak Kolam. “Aku yakin Harry juga ingin mengganti bajunya. Setelah itu kita bisa terbang dan mulai main.”“Lebih baik ada yang mengajari Harry caranya mengendarai sapu dulu,” tambah Weasley.Harry memutuskan kalau Weasley sekarang masuk ke dalam daftar “yang akan dikutuk” miliknya.“Aku bisa menggunakan mantra pengering,” ucap Padma. Dia mengeluarkan tongkatnya dan mengayunkannya dalam pola tertentu ke arah Harry dan Anak Kolam. “Adsiche.”Baju dan rambut mereka langsung mengering. Harry menggerakkan kakinya dan merasa kalau jari kakinya masih sedikit lembab, tapi ini sudah jauh lebih baik. Dia harus mengingat untuk mencari tahu mantra apa itu nanti.“Tapi kan ada Mantra Jejak2!” protes Longbottom.Parvati memutar matanya. “Mereka mengacuhkan Jejak2 untuk murid yang belum memulai kelas satu,” jelasnya dengan tingkah seseorang yang suka mengetahui sesuatu yang orang lain tidak tahu dan menyombongkannya. “Selain itu, kita sekarang ada di rumah keluarga sihir. Jejak apapun yang terjadi di sini mereka tidak akan tahu apakah kita atau Lord Potter yang melakukannya.”“Ayah sudah mengatakan pada kalian untuk memanggilnya James,” kata Jules, dan dia dan Padma dan Parvati mulai bertengkar sembari berjalan kembali ke arah Potter Manor.Harry berjalan perlahan di belakang. Si Kembar Weasley sudah mengalihkan perhatian mereka kepada Ginny, menggoda Ginny dengan terbang di atas kepalanya dan menjatuhkan daun-daun yang entah dari mana mereka dapatkan ke arahnya. Weasley ikut bertengkar dengan Jules dan anak perempuan yang lain, meninggalkan—“Maafkan tingkah mereka ya,” ucap Longbottom berjalan perlahan bersama Harry. Mereka lumayan tertinggal di belakang yang lainnya. “Aku juga payah saat terbang, jadi bukan masalah besar.”Aku tidaklah payah saat terbang. “Terima kasih.”Longbottom melihat ke arahnya lalu ke arah anak-anak laki-laki yang lain. “Kamu—oh, kamu hanya marah dengan Jules dan Ron.”Harry tidak menjawab, yang dia rasa sama saja dengan menyetujui apa yang dikatakan.“Mereka agak…” Longbottom terdiam, jelas tidak tahu cara terbaik untuk meneruskan kalimat tersebut, dan Harry tidak mencoba untuk melanjutkan percakapan itu. Perkiraannya mengenai teman-teman Jules ternyata tepat.“Apa ada lagi yang akan datang?” tanyanya setelah terdiam sejenak.Longbottom mengangkat bahunya. “Aku rasa ada anak perempuan bernama Luna Lovegood harusnya datang, tapi dia memang sering tidak tepat waktu. Lalu ada juga Seamus Finnegan, Cedric Diggory, dan mungkin beberapa yang lain.”Harry meringis. Dia tidak mau ada lebih banyak orang menyaksikan dia bergantian diolok-olok oleh Jules dan Ron, tapi sepertinya dia tidak punya pilihan.Jules membuka gudang sapu dan mulai membagikannya satu-persatu. Si Kembar Weasley ternyata adalah pemain di tim Gryffindor dan mereka membawa sapu milik mereka hari ini, sedangkan Weasley, Longbottom, Padma, Parvati, dan Ginny tidak mempunyai sapu terbang milik mereka sendiri, jadi Jules meminjamkan miliknya.“Aku tidak mengerti kenapa Jules memberikannya Cleansweep Sepuluh untuk belajar,” Harry mendengar seseorang berbisik.Dia sadar saat dia bersender di dinding luar gudang tersebut kalau dia dapat mendengar suara dari sisi lain dinding tersebut. Seseorang yang terdengarnya seperti Anak Kolam.“Sapu itu kan sapu balap,” ucap Anak Sapu. “Atau sapu Quidditch. Untuk pemula?”“Yah, Jules memang bukanlah sapu tercepat dalam gudang…” ucap Anak Kolam, yang membuat mereka tertawa kecil, dan mungkin akan membuat Harry tertawa juga kalau dia tidaklah sangat marah.Sejenak tidak terdengar suara dari sisi lain dinding tersebut, yang Harry rasa mereka entah bagaimana berkomunikasi tanpa berbicara, lalu… “Tidak, kamu benar, terlalu pintar kalau Jules yang melakukannya.”“Tentu saja, hal itu menyampingkan fakta menaruh pemula di sapu balap itu sesuatu yang kita mungkin akan lakukan.”“Kita sudah melakukannya. Ingat Ginny?”“Tapi dia berhasil terbang seperti memang ditakdirkan untuk terbang.”“Potter kecil juga terbang dengan baik sebelum kita membuatnya terkejut.”Jeda lagi.Rasanya Harry ingin memukul Jules. Si kembar sepertinya berpikir kalau membuat Harry terlihat konyol dengan membiarkannya menggunakan sapu berkualitas tinggi dan sulit dikendarai itu terlalu pintar untuk direncanakan oleh Jules, dan Harry setuju dengan hal tersebut. Meskipun begitu, tetap saja itu membuktikan kalau Jules itu egois, tidak memperhatikan sekitarnya, dan bodoh.Cengkeraman Harry pada sapu yang dia pegang mengerat hingga tangannya sakit.Dia menambahkan Quidditch ke dalam daftar hal-hal dimana dia akan mengalahkan Jules Potter.Tapi dia belum cukup baik untuk mengalahkan kembarannya sekarang. Jadi saat yang lain keluar dari gudang, mulai terbang dan bermain saling melempar bola besar berwarna merah bernama Quaffle sembari si Kembar Weasley terbang mengelilingi mereka dan berusaha merebut bola tersebut, Harry terbang dengan hati-hati. Dia menjaga untuk tidak terbang terlalu cepat, tetap memegang gagang sapu dengan satu tangan setiap saat, dan memutar dengan lingkaran besar untuk menjaga keseimbangannya. Harry tidak memberikan mereka kesempatan untuk menertawakannya, tapi dia tidak juga menarik perhatian anak-anak lain kepadanya. Dia memastikan untuk menunjukkan cara terbangnya hampir sebaik yang dilakukan Ginny Weasley, yang walaupun satu tahun lebih muda darinya tetapi sudah berpengalaman mengendarai sapu terbang.Anak yang selanjutnya sampai adalah Luna Lovegood. Dia adalah anak perempuan penuh imajinasi yang sepertinya diremehkan oleh hampir semua anak yang ada kecuali Ginny dan Neville. Ginny sepertinya menganggap kalau Luna itu teman yang unik, dan Neville memperhatikannya dengan rasa kagum (kemungkinan karena Luna itu jelas terlihat berbeda). Harry memperhatikan Luna dengan tatapan menerawangnya dan menyaksikan anak tersebut memberitahu Jules untuk menghindari sesuatu bernama Wrackspurt, menyaksikan bagaimana Jules, Ron dan Parvati mengejeknya, dan memutuskan kalau mungkin Luna adalah anak yang sering disebut aneh oleh orang disekelilingnya juga.Harry tidak begitu menyukai Seamus Finnegan. Dia kasar, tidak sopan, dan terlalu banyak berbicara mengenai ayahnya yang merupakan penulis terkenal. Harry bisa mentolerasi Dean Thomas, Susan Bones, dan Ernie Macmillan, tapi dia tidak menyukai kebiasaan mereka untuk selalu menyetujui apa yang dikatakan oleh Jules. Longbottom mungkin akan jadi lebih baik kalau dia bisa menghilangkan rasa malu dan ketidakberanian dalam dirinya.Pada akhirnya Harry berhenti bermain Quidditch dan duduk di rumput bersama Ginny, Luna, dan Neville dan menonton yang lainnya terus bermain. Luna menjelaskan sesuatu yang disebut Snorkack Bertanduk-Kerut kepada Neville yang mendengarkan dengan kagum, dan Ginny mengernyitkan keningnya sembari menonton anak-anak yang lain bermain.“Kamu tidak suka Quidditch?” tanya Harry.Ginny menghela nafas kesal. “Aku suka Quidditch, tapi Mum tidak suka kalau aku main, dan nanti Ron akan lapor.”Harry menyadari kalau Ginny dengan spesifik menyebut Ron yang akan melaporkan, tapi tidak Si Kembar. Hal itu sesuai dengan apa yang dia perhatikan. Si Kembar Weasley itu adalah anak-anak jahil yang mungkin sering melakukan keributan.“Cara terbangmu bagus,” puji Ginny. “Sebelum Si Kembar membuat mu terkejut.”Harry melirik ke arahnya. “Terima kasih.”Dia mengangguk. Harry menyadari Ginny lebih menyaksikan Jules terbang mengelilingi Weasley dan Finnegan, yang sudah jelas mengendarai sapu yang lebih lambat dan tidak bisa mengikuti kecepatan Jules. Harry sudah sering melihat anak-anak perempuan bertingkah sepertinya di sekolah. Ginny menyukai Jules.Harry menyembunyikan seringainya dan merebahkan diri di rumput, lebih memperhatikan langit dibandingkan anak-anak yang sedang bermain. ~oOo~ Teman-teman Jules pulang sekitar jam 1 siang, setelah mereka makan bersama. Mereka sangat ramai dan mengikuti semua percakapan yang ada saja membuat Harry lelah. Di tengah-tengah kekacauan yang ada, dia kurang lebih diacuhkan oleh semua orang kecuali oleh Longbottom dan Lovegood, karena Longbottom penasaran mengenai Muggle, dan Lovegood penasaran mengenai apapun yang ada. Bahkan perhatian Si Kembar Weasley teralihkan karena mereka sibuk menggoda Jules, Ron, Finnegan, dan Thomas. Harry tidak memiliki masalah mengenai hal itu. Dia suka melihat anak-anak tersebut, terutama Weasley dan Finnegan, diganggu oleh Si Kembar.Ternyata Jules memiliki jadwal khusus setiap sore kecuali pada akhir pekan untuk “latihan fisik”, entah untuk apa, yang biasanya setelah itu dia pergi bermain ke rumah temannya karena James masih belum pulang kerja. Sore itu, Harry menghabiskan waktu sendirian di rumah.Dia menghabiskan waktunya membaca buku-buku barunya mengenai tata krama, sejarah, dan politik yang ada di dunia sihir. ~oOo~ Harry menghabiskan sisa musim panasnya belajar untuk memastikan bahwa dia tidak akan tertinggal ketika dia masuk sekolah nanti.James dan Jules mengajaknya keliling rumah. Harry berusaha keras untuk tidak menunjukkan rasa tidak sukanya kepada mereka berdua, dan bertanya mengenai hal-hal yang ada di rumah tersebut. Yang membuatnya terkejut adalah tidak ada ruangan yang tidak boleh dimasuki, meskipun James memperingatkannya kalau dia mungkin tidak akan dapat berhenti bersin saat masuk ke dalam ruangan-ruangan yang terkunci karena semua debu yang ada disana. Dia juga menyesuaikan rasa ketertarikannya mengenai perpustakaan di rumah tersebut dengan James dan Jules. Rasa suka mereka berdua kepada perpustakaan itu sangatlah kecil, dan Harry segera memutuskan untuk menjadikan perpustakaan tersebut sebagai tempat pelariannya di rumah itu.Dari seluruh ruangan yang ada dalam rumah tersebut, perpustakaan itu langsung menjadi tempat kesukaannya.Harry menghabiskan waktu berjam-jam duduk di pojokan perpustakaan. Tumbuh besar di dalam lemari telah mengajarinya untuk membuat dirinya nyaman di tempat-tempat aneh dalam posisi apapun. Dia bisa memanjat lemari seperti kera, menggelung disuatu pojokan, masuk ke dalam tempat-tempat kecil, dan tetap baik-baik saja selama berjam-jam. Dia tidak mengerti keseluruhan yang dia baca, tapi apa yang dapat dia mengerti sangat lah menarik.Ada bagian dari perpustakaan yang bahkan tidak membiarkannya masuk. Harry menghabiskan satu minggu mencoba mantra-mantra pembuka yang ada di buku yang dia beli dari Flourish dan Blotts, gagal, dan akhirnya meminta tolong kepada Nott pada suratnya yang selanjutnya. Nott mengirimkannya buku mengenai mantra pelindung, baik menggunakan dan menghancurkan, dengan peringatan bahwa buku tersebut tidaklah legal untuk dimiliki, dan kebanyakan mantra dalam buku tersebut setidaknya terlarang. Harry yakin bahwa Nott sedang mengujinya, dan memastikan untuk berterima kasih kepada Nott pada balasannya. Dia juga menulis bahwa setelah dua jam mencoba mantra-mantra yang ada, dia pada akhirnya berhasil memasuki bagian terlarang dari perpustakaan keluarga Potter.Buku-buku yang ada disana pastinya hampir memasuki kategori Hitam. Atau setidaknya apa yang dikatakan James Potter sebagai “Sihir Hitam” dalam salah satu omelannya mengenai Sisi Hitam, Sisi Putih, dan Pelahap Maut yang sering dia lakukan setiap malam. Harry memancingnya untuk mengomel lalu mendengarkan dan mengumpulkan informasi-informasi yang tidak sengaja dikeluarkan James dalam amarahnya. James mungkin akan marah besar kalau dia mengetahui buku-buku seperti apa yang Harry temukan di sana. Walaupun Harry tidak mengerti sebagian besar yang ada dan dia juga tidak mencoba mantra-mantra di sana… janji-janji yang muncul dari halaman-halaman buku tersebut, mengenai kutukan rumit, rasa sakit perlahan yang muncul pada yang terkena kutukan, kemampuan untuk melindungi dirinya sendiri dan membalas orang-orang yang telah melukainya itu… menggiurkan.Harry mempertimbangkan selama beberapa hari sebelum akhirnya memutuskan kalau James dan Jules tidak pernah menghabiskan waktu mereka di perpustakaan sehingga tidak mungkin menyadari kalau beberapa buku yang ada menghilang. Lagi pula Harry adalah pewaris dari Keluarga Potter, secara teknis haknya dalam mengakses apa yang ada dalam perpustakaan keluarga tersebut sama besarnya dengan James. Kebanyakan dari buku “Hitam” dia tinggalkan saja dalam rak, tapi koleksi buku miliknya bertambah banyak dengan buku-buku yang dia ambil dari perpustakaan Potter.Keadaan di rumah tersebut menegang setelah ulang tahun Jules dan Harry. Si misterius Ethan yang pernah dibicarakan oleh James dan Jules ternyata telah memutuskan untuk mengumumkan keadaan Harry pada suatu pres konferensi, tetapi saat James memberitahukannya Harry tolak dengan tegas. Dia tidak mungkin menerjunkan diri ke dalam Drama Keluarga Potter sebelum dia mengetahui apapun mengenai dunia sihir. Jelas dia nanti hanya akan mempermalukan dirinya sendiri. Tentu saja, hal itu mengakibatkan perdebatan selama tiga jam yang akhirnya Harry akhiri dengan mengunci dirinya di dalam kamar dan membakar tiga bantalnya menjadi debu. Para elf-rumah mengganti bantal-bantal tersebut tanpa berkomentar apapun, dan Harry mengurung diri di kamarnya pada saat pesta ulang tahun Anak Laki-Laki yang Bertahan Hidup, yang ternyata merupakan salah satu acara sosial terbesar yang diadakan saat musim panas. Si Kembar Weasley mencarinya dan menemaninya sebentar di kamar. Mereka bertiga mengarahkan kutukan tersandung kepada orang-orang yang berlalu lalang dari jendela kamar Harry di lantai dua, yang untungnya menghadap ke halaman belakang dan membuat mereka dapat menyaksikan pesta yang diadakan. Hanya ketika seorang wanita berambut merah melihat Ron Weasley tersandung ke arah semak bunga rhododendron dan melihat jendela yang terbuka lah Si Kembar tersebut pergi dan meninggalkan Harry dengan bukunya lagi.Harry mengingatkan dirinya kalau dia tidak lah kesepian, atau iri terhadap mereka berdua.Seseorang yang bernama Ethan ternyata adalah Ethan Thorne, pengacara keluarga Potter dan salah satu teman baik James. Dia telah dijadikan sebagai godfather kedua bagi Jules saat Jules masih berumur tiga tahun, karena godfather Jules yang asli, Peter Pettigrew, telah meninggal. Harry bertanya mengenai godfather nya sendiri, dan akhirnya mengetahui kalau pada awalnya namanya adalah Hadrian Sirius Potter, sampai ketika Sirius mengkhianati keluarga mereka kepada Kau-Tahu-Siapa dan hampir membuat Jules dan Harry terbunuh. Pada akhirnya James menjadikan temannya yang lain, Remus, sebagai godfather bagi Harry, dan nama tengah Harry secara resmi diganti. Tetapi, Remus sedang pergi berkelana disekitar Eropa dan mungkin Asia, dan belum pernah kembali ke Inggris selama tujuh tahun. Harry pikir agak sedikit aneh bagi James untuk tidak mengetahui kabar dari salah satu teman baiknya, tapi pada akhirnya dia memutuskan bahwa hal itu bukan lah urusannya. Di sisi lain, dia merasa… curiga terhadap Ethan. Harry tidak menyukai kecepatan berpikir dari pria berperawakan tinggi tersebut. Mata pria yang agak sedikit besar dan berwana biru air tersebut terlihat seperti tidak akan melewatkan hal sekecil apapun. Dan sudah jelas dia tidak menyukai Harry. Saat makan malam, Harry sebisa mungkin menjaga cara bicaranya tetap sopan dan akhirnya beralasan sakit kepala agar diizinkan untuk meninggalkan ruang makan terlebih dulu.Setidaknya dia menyukai terbang, dan dengan segera hal tersebut menjadi sesuatu dimana dia paling sering menghabiskan waktunya dengan ayah dan kembarannya. Mereka bertiga menghabiskan waktu terbang bersama beberapa kali dalam seminggu. Harry menahan diri mendengarkan candaan mereka yang tak berisi dan mengingat semua saran yang mereka berikan. Dia juga mempelajari bagan-bagan bergerak dalam Quidditch Seiring Waktu, Cara Mudah Berlatih untuk Penerbang Pemula, Dasar-dasar Sapu Terbang, dan Berlatih Quidditch: Latihan Dasar untuk berlatih gerakan-gerakan yang dia bisa sendiri lakukan pada sore hari saat James dan Jules sibuk melakukan kegiatan Anak Laki-laki yang Bertahan Hidup.Kebanyakan dari kegiatan tersebut adalah mengunjungi berbagai divisi di Kementrian Sihir, pres konferensi yang terkadang diadakan, berinteraksi dan berkunjung ke rumah-rumah orang tertentu, dan “latihan” rahasia Jules yang sepertinya hanya berisikan pengindoktrinasian mengenai “Semua orang yang tidak menyukai Keluarga Potter dan Gryffindor dan Kementrian Sihir itu adalah orang-orang yang Jahat” dan juga “Bagaimana caranya menghindar saat orang jahat melemparkan mantra ke arahmu” karena secara teknis Jules terlalu muda untuk balas menggunakan sihir. Meskipun begitu, Jules adalah seorang penerbang alami, dan dia memiliki pengalaman yang lebih banyak dalam hal terbang dibandingkan Harry, jadi Harry menghiraukan Jules bergaul dengan si kembar Patil dan Ronald Weasley, dan meniru apa yang dia lakukan saat terbang. James sepertinya berpikir kalau mereka telah ditakdirkan sebagai Pemain Emas Quidditch di tim Gryffindor, penerus dari legenda James Potter, lalu Charlie Weasley, lalu si kembar Weasley, dan sekarang kembali ke keluarga Potter.Harry berusaha keras untuk tidak terbang atau melakukan apapun lebih baik dibandingkan Jules. James mengalah dan mengajari mereka beberapa mantra dasar seperti Mantra Pengganti Warna yang dapat digunakan untuk mengisengi seseorang dengan mengganti warna rambut mereka, mantra penghalang yang sangat mudah untuk melindungi mereka dari kutukan-kutukan, dan Kutukan Kaki Agar-agar. Harry memastikan agar Jules dapat menggunakan mantra dan kutukan tersebut terlebih dahulu, meskipun dia mungkin saja melakukannya lebih cepat. Kenyataan bahwa dia dapat melakukan sihir sebaik Jules yang tumbuh besar sebagai penyihir membuatnya sedikit lebih lega.Dan pada malam hari, dia mengganti tongkat holly-nya dengan tongkat ash, dan berlatih dengan tongkat tersebut sampai dia terlalu lelah untuk menggunakan mantra apapun.Setelah membaca bukunya yang membahas adat dan pengetahuan tongkat sihir, Harry mengetahui bahwa kayu ash itu cocok dengan kecerdasan, perencanaan, pengetahuan, dan keterampilan, sedangkan kayu holly diasosiasikan dengan perlindungan dan api. Dia juga jadi mengetahui kepribadian dari kedua tongkat tersebut. Tongkat holly itu kurang lebih seperti Harry. Muda, tidak berpengalaman, tapi penuh rasa ingin tahu dan bersemangat. Tongkat tersebut sepertinya suka melakukan mantra-mantra baru, dan sihirnya terasa lebih liar saat menggunakan tongkat tersebut.Di sisi lain, tongkat ashnya sangatlah sabar. Harry merasa bahwa tongkat tersebut menyukainya, tapi untuk sekarang hanya mengikuti kemauannya saja, menunggu saat dimana dirinya bisa melakukan sihir-sihir yang lebih kuat. Tongkat tersebut sepertinya lebih ingin melakukan kutukan dan guna-guna yang dia latih tengah malam menggunakan buku yang di rekomendasikan oleh Nott atau yang dia beli tanpa sepengetahuan James atau yang dia ambil dari bagian terlarang perpustakaan Potter.Surat menyurat yang dia lakukan dengan Nott tetaplah berlangsung meskipun… hambar. Tidak ada dari mereka berdua yang ingin membuka diri melewati surat. Harry curiga kalau Nott sama enggannya dengan dirinya untuk mengakui sesuatu dalam tulisan yang mungkin saja dapat digunakan untuk melawan mereka sendiri dikemudian hari. Harry menjadi lebih mahir dalam membaca makna tersirat dibalik surat-surat yang ada, dan juga balas menulis surat berbelit yang menyiratkan kekesalan Harry kepada ayahnya dan juga rasa ingin tahunya terhadap sihir-sihir yang diragukan. Nott sepertinya menyukai Herbologi, dan saat Harry menemukan buku di dekat (tapi bukan di dalam) bagian terlarang yang membahas bermacam tanaman Hitam beserta kegunaan dan habitat tumbuh mereka, dia menghabiskan dua minggu mempelajari Mantra Geminio agar dia bisa membawa duplikatnya ke sekolah. Dia berencana untuk memberikannya kepada Nott sebagai ganti dari buku mengenai mantra pelindung, yang tidak hanya berguna pada saat Harry ingin masuk ke dalam sisi terlarang perpustakaan, tapi juga dalam memperkuat pelindung yang ada pada koper Harry dan membuatnya dapat masuk ke dalam kamar Jules dan melihat-lihat pada suatu sore. Yah, meskipun tidak ada yang menarik dalam kamar Jules.Dia bergaul dengan teman-teman Jules. Si kembar Weasley itu asyik, dan Harry rasa suatu saat dia bisa menganggap mereka sebagai temannya. Sama juga dengan Ginny, dan Longbottom kalau dia dapat menghilangkan kegagapan dan keraguannya. Diggory itu baik, meskipun terlalu terus terang dan mudah dibaca sehingga Harry tidak terlalu tertarik padanya. Tapi kebanyakan yang lainnya, sebaik-baiknya pendapat Harry adalah mereka membosankan. Seburuk-buruknya, mereka itu bodoh dan menyebalkan.Yang jelas masuk dalam kategori tersebut adalah Ron Weasley dan Seamus Finnegan. Dan tentu saja jangan lupakan Jules Potter.Harry tidak sabar menunggu tanggal 1 September datang.
----- CHAPTER BREAK -----
“Ethan!” seru James membuka lengannya dan memeluk temannya yang lebih pendek.Dari samping Harry memperhatikan mereka dan memasang raut wajah datar. Seluruh barang yang Harry miliki ada bersamanya. Koper dan jubahnya sudah dia masukkan ke dalam ransel, Alekta di dalam sangkar yang Harry pegang di tangan kirinya, dan juga tongkat holly-nya ada dalam sarung tongkat terpasang di lengan kanannya. Dia sudah membawa beberapa buku dari perpustakan Potter yang seharusnya cukup untuk dia baca selama di sekolah, dan juga sudah berlatih menggunakan mantra-mantra penangkal yang dia rencanakan akan dia pasang di sekitar kasurnya untuk mencegah anak-anak lain dalam asramanya mendekati kasurnya. Beberapa hari yang lalu Harry sudah selesai membaca sekilas seluruh buku teks untuk anak kelas satu dan telah berencana untuk membaca ulang bab pertama dari semua buku yang ada sebelum kelas-kelasnya dimulai. Dia dan Nott berjanji untuk bertemu dalam kereta. Harry merasa dia telah mempersiapkan diri sebaik yang dia bisa.James memutuskan untuk menunjukkan Harry dan Jules jalan masuk Kereta Hogwarts dari sisi Muggle, karena menurutnya lari memasuki penghalang kuat berbentuk tiang batu dengan mata tertutup itu adalah sesuatu yang seru. Harry akan lebih senang jika mereka ber-apparate atau menggunakan Floo.Dan, tentu saja, begitu mereka masuk ke sisi lain penghalang tersebut, Thorne muncul secara tiba-tiba, memeluk James, dan langsung memberikan arahan mengenai berbagai media yang hadir untuk mendokumentasikan keberangkatan Anak Laki-laki yang Bertahan Hidup menuju Hogwarts.Harry melarikan diri dari kekacauan wartawan, Jules berpose untuk difoto, dan orang-orang yang meminta tanda tangan Jules, dan mengangguk menyapa Longbottom, Thomas, dan pula satu anak lain yang dia tidak kenal, lalu segera naik ke dalam kereta.Ternyata keadaan dalam kereta sama kacaunya seperti di luar saat bersama keluarga Potter. Harry menghabiskan 15 menit mencari antara Nott atau kabin yang kosong. Pada akhirnya dia masuk ke dalam sebuah kabin kosong, memasang mantra pengunci di pintu kabin tersebut, dan mulai membaca salah satu novel fiksi Muggle favoritnya yang dia ambil dari Dudley.Tidak lama kemudian Harry mendengar seseorang mengetuk pintu. Dia pun berdiri, membuka pintu tersebut, dan membiarkan Nott masuk ke dalam.“Aku bahkan tidak bisa mematahkan mantra pengunci itu,” ucap Nott menyapanya.Harry menyeringai. “Kamu yang mengirimkan buku tentang mantra-mantra penangkal itu. Kamu pikir aku tidak akan menggunakan apa yang kupelajari?”Nott mengangkat sebelah alisnya, dan Harry tahu kalau pesan tersiratnya tersampaikan. Kalau dia sama sekali tidak ragu untuk menggunakan mantra-mantra apapun, baik yang legal atau pun tidak, dan kalau dia sama sekali tidak menyalahkan Nott untuk memiliki, lalu mengirimkan, buku mengenai hal tersebut.“Bahkan,” lanjut Harry duduk di seberang Nott. “Aku menemukan satu buku di perpustakaan Potter yang aku pikir akan kamu sukai.” Dia mengeluarkan buku mengenai tanaman-tanaman Hitam dari ranselnya dan memberikannya ke Nott.Nott memeriksa sampul buku tersebut lalu mulai membaca sekilas. “Hm… Menarik. Aku rasa aku belum pernah membaca buku ini.”“Oh bagus,” ucap Harry menyengir. “Akan memalukan kalau ternyata kamu sudah punya.”Nott memandang matanya dan Harry tahu kalau mereka berdua sadar makna di balik pertukaran ini… bahwa Harry sudah membalas hutang yang dia miliki ke Nott, dan bahwa dia juga tidak begitu menentang sihir-sihir yang seharusnya masuk ke dalam sihir ‘Hitam’.Nott mengangguk perlahan dan tiba-tiba menyengir. “Kamu lumayan Potter.”“Kamu juga,” balas Harry menyengir dan mengambil kembali novelnya.Nott melihat ke arah novel tersebut dan alisnya terangkat terkejut. “Apa itu novel Muggle?”“Kamu tidak ingat? Selama ini aku kan tinggal sama Muggle,” jawab Harry mengangkat bahunya. “Cara mereka menggambarkan sihir itu sangat salah, tapi bukan berarti ceritanya tidak menarik.”Nott terlihat tertarik. “Boleh aku lihat?”Harry membiarkan Nott melihat novel tersebut, dan entah bagaimana mereka jadi membandingkan pengetahuan Harry dan Nott mengenai cerita fiksi Muggle dan Dunia Sihir. Nott membaca bab pertama dari Dragon Rider dan menyimpulkan kalau ceritanya menarik meskipun penggambaran naga yang ada di dalamnya itu tidaklah realistis. Harry mengingatkannya kalau buku tersebut ditujukan untuk anak-anak dan lagipula, para Muggle juga tidak tahu apa-apa tentang Naga asli, jadi bagaimana mungkin mereka bisa menggambarkannya secara akurat? Nott tertawa dan setuju dengan apa yang dikatakan Harry. Percakapan mereka terhenti saat seseorang tiba-tiba menggedor-gedor pintu kabin mereka dengan marah.Nott melihat ke arah pintu. “Ya ampun, Potter,” ucapnya dengan nada bosan. Peralihan tiba-tiba dari sikap bersemangatnya Nott sesaat yang lalu membuat Harry curiga. “Itu kembaranmu. Aku rasa dia tidak senang melihat aku disini.”Harry menoleh ke arah pintu. Terlihat Jules Potter yang marah memandang tajam mereka dari balik jendela pintu kabin.“Seharusnya aku tutup tirainya,” ucap Harry.“Sudah terlambat. Lebih baik kamu buka pintunya sebelum dia meledak karena marah,” balas Nott.Harry terkekeh membayangkan apa yang dikatakan Nott dan menggumamkan Finite Incantatem ke arah pintu untuk membatalkan mantra pengunci yang dia pasang.Jules menerobos masuk diikuti oleh Ron. “Harry!” teriaknya.Harry menatap Jules. “Ya, itu namaku.”Nott mengeluarkan suara batuk yang terdengar seperti menahan tawa.Jules berpaling dan melotot tajam ke arahnya. “Nott,” sapanya menggertakkan gigi.“Potter,” balas Nott dingin.“Oh bagus, aku tidak perlu memperkenalkan kalian,” gumam Harry. Perjalanan kereta mereka bahkan belum mencapai 30 menit, jadi dia harap tidak ada yang saling lempar kutukan disini.“Ayo Harry,” ajak Jules setelah berhasil mengalihkan pandangan marahnya dari Nott. Di belakang Jules, Weasley terlihat siap maju memukul kalau terjadi sesuatu. “Kabin kita di tengah kereta.”Harry melirik ke arah Nott dan melihat kepasrahan yang terpancarkan di matanya. Nott menduga kalau Harry akan mengikuti kembarannya.Harry melihat kembali ke Jules. “Aku di sini saja.”“Harry,” peringatkan Weasley tegang. “Dia itu—Theo Nott.”“Iya,” balas Harry. “Aku tahu. Tidak mungkin kita duduk dalam satu kabin tapi tidak saling memperkenalkan diri bukan?”Weasley memandangnya tajam. “Dia itu anak Pelahap Maut.”“Ayahku dibebaskan,” kata Nott. “Jadi, kecuali kalau kamu mengatakan kalau kamu, anak berumur 11 tahun, lebih berpengetahuan dari seluruh anggota Wizengamot, aku sarankan kamu tidak menuduh orang sembarangan.”“Secara teknis kamu bisa menuntutnya atas pencemaran nama baik,” ucap Harry santai.Nott menggelengkan kepalanya. “Tidak ada artinya.”Harry mengangkat bahu seakan itu bukan masalah baginya.“Baik!” geram Weasley. “Lakukan apa yang kau sukai!”“Harry, ayolah,” ajak Jules lagi. “Kamu harus bergaul dengan orang-orang yang benar.”“Aku akan memuji apa yang kau katakan Potter, kalau saja kamu tidak bergaul dengan seorang Weasley,” terdengar suara baru dengan nada mencemooh.“Oh Merlin, tolong berikan aku kesabaran,” gumam Nott.Harry melihat ke arahnya dengan pandangan bertanya saat Weasley dan Jules berbalik untuk menghadapi orang yang baru saja muncul itu. Nott menggelengkan kepalanya dan berbicara tanpa suara, Lihat saja.Anak yang baru saja berbicara itu memaksa masuk ke dalam kabin dan melihat Weasley dengan tatapan mengolok. Harry sungguh tidak bisa menyalahkannya. Anak berambut merah itu memiliki noda di hidungnya dan baik dirinya maupun Jules menggunakan pakaian yang berantakan. Lalu Harry menyadari kalau anak yang baru masuk ke dalam kabin mereka itu ternyata adalah anak-pirang-yang-mirip-dengan-Dudley yang dia hindari di Diagon Alley. Sangat menarik melihat Nott mengenali anak tersebut hanya dari suaranya, tapi terlihat tidak senang melihat anak tersebut ada di sini.“Apa salahnya menjadi seorang Weasley?” tantang Weasley.Si pirang melihatnya dari atas sampai bawah. “Mau dimulai dari mana? Terlalu banyak bintik di muka, rambut merah menyala, jubah lama yang diturunkan… ah, aku bahkan mendengar kalau orangtuamu tidak bisa membelikan kalian anak-anak yang termuda tongkat sihir baru, apa itu benar?”“Dan siapa kamu?” balas Jules sebelum Weasley dapat maju memukul anak pirang tersebut. Sayang sekali Harry tidak membawa popcorn.Si pirang membusungkan dadanya sedikit. “Draco, Pewaris dari Keluarga Malfoy.”“Oh, pantas saja,” ucap Jules menyilangkan tangannya. “Ayahku tidak pernah memperbolehkan kami pergi ke acara yang mengundang keluargamu. Kalian semua para Pelahap Maut. Dan siapapun yang bukan tetap saja orang-orang inses Darah Murni yang rasis juga.”“Bukannya kita sudah membahas kenapa kata-kata tersebut itu buruk?” gumam Nott. Sepertinya hanya Harry yang mendengarnya.Malfoy menatap Jules tajam. “Ayahku dipengaruhi kutukan Imperius, Potter. Jaga kata-katamu. Dan kamu juga Pewaris dari Keluarga yang ‘inses Darah Murni’ juga.”“Tidak dia bukan,” ucap Harry santai, bahkan tanpa berdiri dari tempat duduknya. Malfoy berpaling ke arahnya dan baru menyadari kalau ada dua orang lain di dalam kabin tersebut, yang salah satunya terlihat sama persis dengan Anak Laki-laki yang Bertahan Hidup meskipun agak sedikit lebih pendek dan kurus. Terlihat hal itu membuat si Pewaris Malfoy itu terkejut. “Hadrian, Pewaris dari Keluarga Potter,” lanjut Harry dengan nada merendahkan, “Aku kembaran yang lebih tua.”“Sejak kapan Julian Potter punya kembaran?” tanya Malfoy.“Ada kecelakaan sihir sebulan yang lalu,” potong Nott. “Kepribadian Jules Potter terpisah, membuat semua kepintarannya ada di satu tubuh, dan semua kenekatan dan kebodohannya di tubuh yang lain. Kau pasti bisa melihat sendiri yang mana yang mana kan?”Sekarang giliran Harry yang harus menahan tawanya.Weasley mengernyit bingung, tapi Malfoy dan Jules berhasil menangkap ejekan Nott. Malfoy terlihat kaget dan Jules terlihat marah.“Apa kamu yakin kamu tidak butuh bantuanku mencari orang-orang yang benar, Potter?” cibir Malfoy. Jelas dia memilih Anak Laki-laki yang Bertahan Hidup sebagai target yang lebih baik untuk meningkatkan status sosialnya daripada Harry.“Aku bisa melakukannya sendiri,” kata Jules singkat.Malfoy mencibir lagi. “Terserah dirimu. Nott,” ucapnya singkat, lalu berjalan keluar dari kabin. Harry melihat ada dua anak laki-laki berperawakan besar yang entah mengapa terlihat seperti sepasang pengawal berjalan mengikuti Malfoy.“Menyebalkan sekali dia,” geram Jules. “Aku yakin dia pasti masuk Slytherin.”Harry melihat bertanya ke arah Nott yang hanya memutar matanya dan menjawab, “Sayangnya pendapat dia benar. Dua-duanya.”“Kayak kamu benar-benar berpikir seperti itu saja,” kata Weasley menoleh ke Nott. “Kamu dan dia paling punya tato ular yang sama.”“Sepengetahuanku, para Pelahap Maut tidak merekrut anak-anak,” ucap Nott tajam. “Kecuali mungkin sebagai perisai hidup. Jadi sekarang bisa kalian pergi? Sudah jelas Harry tidak ingin ikut dengan kalian, dan aku ingin membaca bukuku lagi.”“Selamat bersenang-senang dengannya Harry,” kata Jules geram, dan dia dan Weasley akhirnya keluar dari kabin mereka.Harry dan Nott saling berpandangan lalu tertawa terbahak-bahak.“Oke, bagaimana kamu dan Jules bisa saling kenal?” tanya Harry.Nott merengutkan mukanya. “Aku dan dia terkadang bertemu di acara-acara yang kebanyakan untuk keluarga-keluarga Darah Murni tua. Kami sama sekali tidak akur.”“Sangat sepertinya ya,” kata Harry. “Kalau Malfoy?”“Dia anak dari orang yang dibebaskan dari tuduhan sebagai Pelahap Maut,” jawab Nott dengan ringkas. “Sama seperti aku.”Nott mengucapkan hal tersebut dengan santai, tapi Harry tahu kalau Nott menunggu Harry untuk terkejut mendengar hal tersebut. Jelas Harry tidak. Dan itu membuat Nott tahu kalau dia pernah dibicarakan oleh keluarga Potter dan Harry sudah mengetahui hal tersebut tapi tidak mempedulikannya.“Aku lebih sering melihat Malfoy daripada Jules,” lanjut Nott. “Kami tidak berteman, tapi ayah kami berteman, jadi mau tidak mau kami harus akur. Dia terlalu mempentingkan diri sendiri dan dia iri aku lebih pintar darinya.”Harry tertawa kecil. “Malfoy mengingatkan aku dengan sepupuku.”“Si bayi anjing laut itu?” tanya Nott ragu. Harry telah sedikit menggambarkan Dudley, Petunia, dan Vernon dalam surat-suratnya.“Bukan dari penampilannya,” terang Harry. “Agak sayang, kalau penampilan mereka juga sama akan lebih mudah mengejeknya. Bukan dari penampilan, hanya… bagaimana mereka mempentingkan diri sendiri itu. Dudley juga sama. Dunia seakan berputar mengelilinginya.”Nott menyeringai. “Yah, begitulah Malfoy. Oh—“Harry mendongak tepat saat pintu kabin mereka terbuka dan Neville Longbottom menengok ke dalam sambil mengigit bibirnya. “Hei, Ha—Potter,” sapanya. “Kata Jules kamu ada disini, dan yah, mereka terlalu berisik. Dia mengeluh kalian berdua hanya ingin membaca buku dan aku ingin tahu… boleh aku duduk disini juga?”“Masuk saja,” ajak Nott. Harry melirik ke arahnya dan melihat bagaimana calon temannya tersebut memandang Longbottom dengan tatapan menilai sesuatu. “Kami tidak sedang membaca buku sih, tapi aku yakin kami akan jauh lebih tenang daripada satu kabin penuh dengan anak-anak yang kemungkinan besar masuk Gryffindor.”Longbottom tersenyum lebar. “Itu saja cukup.”Dia duduk di samping Harry dan melihat buku yang terletak di samping Nott. “Hei, apa itu novel Muggle?”“Iya. Punyaku,” jawab Harry. “Aku tadi sedang baca itu, dan dia ingin lihat.”“Huh.” Neville mengeluarkan bukunya juga, yang sepertinya tentang Herbologi, lalu melihat judul dari buku Nott dan terdiam.Harry menegang. Dia lupa. Sudah jelas buku Nott bukanlah buku standar untuk anak kelas satu, dan kalau Longbottom memiliki masalah dengan itu…“Jadi, kamu suka Herbologi?” tanya Longbottom. Dia terlihat gugup tapi bertekad.Nott mencondongkan tubuhnya ke depan, ada sebuah sinar di matanya. “Iya. Ini buku baru sih jadi aku belum baca banyak isinya, tapi ada satu tanaman menarik tertulis disini menghasilkan getah yang dapat membuat penyihir menjadi Squib selama sementara.”Longbottom terlihat di ambang takut, mual, dan kagum di saat yang bersamaan.Harry kembali membaca buku ramuannya. Dia setengah mendengarkan pembicaraan mereka berdua untuk memastikan Nott tidak memakan Longbottom hidup-hidup. Pada akhirnya ternyata tidak ada yang perlu ia khawatirkan karena sepertinya Longbottom itu jenius dalam herbologi karena keluarganya tampaknya memiliki banyak rumah kaca dan sebagian besar industri tanaman sihir, dan setelah Longbottom tidak lagi gugup dia dan Nott menikmati pembicaraan mereka. Harry menghiraukan sebagian besar yang mereka bicarakan, dan setelah dia yakin kalau Longbottom tidak meyakini stereotip bodoh seperti Jules dan Weasley, dia sama sekali mengacuhkan mereka.“Theo, sayang,” seseorang mengesah.Harry mendongak dan melihat anak perempuan berumur sebelas tahun berambut pirang-keperakan berdiri menyeringai di pintu kabin.“Daphne,” keluh Nott terlihat pasrah. “Harusnya aku tahu kamu pasti akan menemukanku.”“Dengan mudah,” ucap Daphne masuk dan duduk di samping Nott seakan kabin tersebut miliknya.Seorang anak laki-laki berambut ikal pendek berwarna coklat, berwajah bundar dan memakai kacamata biru masuk mengikutinya.Mereka saling memperkenalkan diri. Daphne adalah Daphne Greengrass, yang juga dari keluarga Darah Murni tua yang lebih sering masuk ke Slytherin atau Hufflepuff, dan anak laki-laki yang satu lagi adalah Anthony Goldstein, sepupu Daphne dari hubungan pernikahan. Mereka tumbuh besar bersama. Harry dapat melihat bagaimana mereka saling bercekcok layaknya kakak-adik. Seperti yang telah dikira, mereka terkejut mengetahui kalau Jules Potter yang terkenal ternyata memiliki kakak kembar. Harry menepis rasa terkejut mereka dengan menyatakan kalau selama ini dia tinggal bersama keluarga mereka yang lain karena alasan keamanan. Tidak lama kemudian teman Daphne Tracy Davis, seorang penyihir darah campuran, juga masuk ke kabin mereka. Lalu ada juga anak lain bernama Sue Li masuk setelah melihat Daphne melakukan mantra penata rambut dan ingin bertanya mengenai mantra tersebut tapi entah mengapa terus berdiam dalam kabin mereka. Harry terkejut melihat bagaimana mereka mengobrol dengan mudahnya. Setiap saat terlihat ada dua topik yang dibicarakan, dan meskipun terkadang ada yang jadi saling beradu argumen, tidak ada yang benar-benar terlihat marah. Nott terlihat setengah enggan-setengah tertarik dengan semua orang dalam kabin mereka, dan seperti Harry, sedikit terkejut melihat banyak orang saling mengobrol dengan mudah.Harry menaikkan sebelah alisnya ke arah Nott. Nott menggelengkan kepalanya.Harry kembali mendengarkan pembicaraan Goldstein, Li, dan Davis mengenai apakah mungkin untuk menyihir radio Muggle agar bisa digunakan di Hogwarts. Greengrass memperhatikan dengan ekspresi tertarik yang enggan. Harry rasa dia mungkin tumbuh besar dengan beberapa kepercayaan anti-Muggle yang sering James keluhkan, tapi setidaknya dia tidak marah mendengarkan orang-orang berdiskusi mengenai hal tersebut.Serobek kertas mengenai kepalanya. Harry berhasil menangkapnya sebelum kertas tersebut jatuh ke lantai. Melihat Nott terlihat berusaha keras untuk tidak melihat ke arahnya, Harry segera tahu darimana kertas tersebut berasal.Dia diam-diam membuka kertas tersebut. Pesan yang ada di dalamnya singkat dan jelas. Menjawab apa yang aku rasa kamu coba tanyakan padaku, biasanya orang menjauhiku karena nama keluargaku.Harry mengangguk perlahan, sadar kalau Nott dapat melihat gerakannya dari sudut pandangannya, menjatuhkan kertas tersebut di belakang kakinya, dan membakarnya dengan berpikir.Tidak ada yang bereaksi, jadi tidak ada yang sadar mengenai apa yang dia lakukan. Bagus. Dia belum ingin ada yang mengetahui kalau dia bisa melakukan mau sihir tanpa tongkat atau tanpa ucapan, tidak peduli seberapa kecil yang bisa dia lakukan. Bahkan James dan Jules tidak tahu.“Permisi,” ucap seseorang, “apakah ada yang melihat seekor kucing berkeliaran? Ada anak perempuan yang kehilangan kucingnya, dan aku telah mengatakan padanya kalau aku akan membantu mencarinya… oh, apa itu buku teks Ramuan kelas dua?”Semua di dalam kabin mendongak, berkedip, melihat anak perempuan berambut lembat berdiri di pintu, memandang penuh minat ke arah Nott yang baru saja mengeluarkan buku teks Ramuan kelas dua dari kopernya untuk membuktikan kepada Longbottom mengenai kegunaan dari sebuah tanaman.“Iya…” jawab Nott.“Apa buku itu bagus? Ibu dan ayahku tidak memperbolehkan aku membeli buku-buku kelas dua atau tiga, mereka bilang buku kelas satu saja sudah cukup. Aku sudah menghafal seluruh isi dari buku kelas satu, tentu saja. Aku harap hal itu sudah cukup, aku penyihir pertama di keluargaku, kami semua sangat terkejut saat surat dari Hogwarts datang… oh iya, namaku Hermione Granger. Boleh aku bergabung dengan kalian?”Harry tidak begitu dapat mengikuti apa yang anak tersebut ucapkan dengan cepat itu.Raut mencemooh mulai muncul di wajah Greengrass, dan Nott terlihat antara bingung dan dingin, tapi Goldstein menyenggol Greengrass tajam di tulang rusuk dan menjawab, “Ya, tentu saja. Aku rasa kita bisa membuat ruang untuk satu orang lagi…”Harry, Longbottom, dan Li bergeser untuk membuat ruang untuk anak yang baru datang itu di sisi kabin mereka. Kabin mereka mulai terasa sesak, tapi pada akhirnya mereka berhasil membuat semuanya masuk ke dalam.Pada awalnya, Greengrass dan Nott terlihat bersikap dingin kepada Granger. Granger memang terlihat bersikap sok tahu, tapi Harry tahu kalau dia tidak bermaksud untuk terlihat seperti itu. Menurutnya Granger terlihat seperti anak yang berusaha terlalu keras untuk mendapatkan teman. Harry sering melihat tipe anak seperti Granger di sekolah Muggle, dan tahu kalau dia pasti tidak memiliki banyak teman sebelumnya. Anak-anak pintar di sekolahnya dulu selalu menjadi target ganggu pertama oleh grupnya Dudley, jadi, meskipun dia merasa ocehan Granger menjengkelkan, dia kurang lebih dapat memaklumkannya, terutama karena Granger memanglah cerdas. Ditambah juga Harry dapat memperhatikan reaksi Greengrass dan Nott saat berada dengan anak Kelahiran Muggle di tempat yang sama. Sampai akhir Greengrass tetap tidak menghilangkan raut memandang rendah yang secara halus dia tujukan ke arah Granger, berbeda dengan Nott yang berusaha untuk tidak menunjukkan dan mulai menghilangkannya.Harry bahkan terlalu asyik memperhatikan seluruh percakapan mereka sampai dia tidak menyadari kalau pemandangan di luar kereta mereka telah berganti hingga terdengar ketukan di pintu dan seorang anak laki-laki tinggi berambut merah (kemungkinan salah satu anak Weasley yang berada di kelas lebih atas) menengok ke dalam kabin mereka. “Sebentar lagi kita akan sampai,” kata anak tersebut mengingatkan. “Lebih baik kalian berganti baju kalian ke jubah Hogwarts.” Anak tersebut terdiam melihat tongkat sihir yang ada di pangkuan mereka dan buku-buku terbuka di bagian yang sejak tadi didebatkan isinya. “Oh… Banyak calon anak Ravenclaw ya sepertinya di sini…” ucapnya sambil tersenyum.Harry tidak dapat menahan tawanya.Si Prefek tersebut menoleh dan terlihat mengenalinya, tapi untungnya dia tidak mengatakan apa-apa. “Sampai jumpa di sekolah,” katanya dengan ekspresi bangga yang agak terlihat kaku, lalu pergi.Kabin mereka mulai menyepi saat yang lain mulai keluar untuk mencari koper-koper mereka dan berganti baju hingga akhirnya hanya tersisa Harry dan Nott di dalam. Longbottom bertanya apakah dia boleh kembali dan bergabung bersama mereka saat berjalan ke sekolah daripada bersama dengan kelompoknya Jules. Harry mencoba menahan tawa saat dia meyakinkan Longbottom bahwa dia boleh ikut bersama mereka.Harry dan Nott merapihkan buku dan tongkat mereka lalu berganti baju ke jubah sekolah sembari sesekali mengobrol tentang hal-hal yang tidak penting.“Menurutmu Granger bagaimana?” tanya Nott setelah beberapa saat.Harry mengangkat bahunya. “Agak sedikit menjengkelkan, tapi aku rasa kita bisa menghilangkan sikap sok tahunya. Setidaknya kita bisa belajar bersama dengannya.”“Aku setuju untuk membuat kelompok belajar,” ucap Nott penuh pertimbangan. “Yah, harus ku katakan, aku belum pernah bertemu penyihir Kelahiran Muggle sebelumnya.”Harry terkejut sekilas sampai akhirnya dia mengingat siapa keluarga Nott dan tentu saja dia mungkin tidak pernah diundang ke acara dimana penyihir Kelahiran Muggle juga diundang. “Dia tidak kalah pintar dari kita,” terang Harry. “Hanya… memiliki budaya yang berbeda.”“Harus ada yang mengajari Granger tata krama dunia sihir,” keluh Nott, “atau Daphne bisa stress dalam dua bulan dan mengutuk Granger habis-habisan.”Harry tertawa kecil membayangkan Daphne yang dingin melawan Hermione Granger yang mudah di tebak. “Aku rasa Granger bisa mengatasinya jauh lebih baik dari yang kamu duga.”“Aku pernah kena kutukannya Daphne,” kata Nott tegas. “Aku kasih tahu saja ya, tidak enak.”Harry membuat Nott menceritakan apa yang terjadi, yang ternyata berhubungan dengan pesta Natal dengan Ramuan Mengoceh dimasukkan ke dalam minumnya Daphne. Longbottom kembali saat Nott sudah menceritakan setengah ceritanya dan membuat Nott harus mengulangnya dari awal, lalu tiba-tiba Goldstein dan Sue Li muncul, dan akhirnya saat Nott berhasil menyelesaikan ceritanya ternyata kereta mereka telah sampai.Harry merasa gugup untuk meninggalkan kopernya di kabin, terutama karena semua yang dia punya ada dalam koper tersebut. Tapi melihat semua anak yang lain tanpa ragu meninggalkan koper mereka, Harry pun membesarkan kembali kopernya ke ukuran asal dan menaruh kopernya di rak di samping koper Nott sebelum dia mengikuti yang lain turun dari kereta.“Kelas satu! Kelas satu kumpul di sini!” terdengar suara yang berat berteriak.Harry dan Nott sedikit melompat terkejut saat melihat pria yang sangat besar, terlalu besar untuk sekedar manusia biasa berjalan dengan susah payah di kelilingi oleh asap kereta. Pria tersebut membawa lentera dan wajahnya terlihat baik, tapi ketika pria tersebut berjalan melewatinya yang Harry hanya bisa bayangkan adalah Paman Vernon dan secara refleks dia membuat dirinya terlihat sekecil yang dia bisa.Nott melirik ke arahnya tapi tidak berkata apa-apa. “Sepertinya kita harus mengikutinya,” komentarnya.Harry menggigit bibirnya dan mengangguk.Pria bertubuh raksasa itu membawa mereka ke pinggir danau, yang terlihat hitam karena sudah larut malam, dimana ada banyak perahu kecil terikat di sana. Harry, Nott, Longbottom, dan Goldstein naik ke dalam perahu yang sama; Greengrass, Davis, Sue Li, dan (yang mengejutkan) Hermione Granger naik ke perahu di sebelah mereka. Granger mengobrol dengan Sue Li, tidak menyadari kalau dia terus ditatap tajam dan dingin oleh Greengrass. Nott menyenggol Harry dan mereka berdua menyengir melihat penyihir Kelahiran Muggle yang kurang memiliki keterampilan sosial tersebut.“Aku akan terkejut kalau Granger berhasil sampai ke ujung danau tanpa ‘kecelakaan’ apa-apa,” gumam Nott.Harry setengah memperhatikan perahu tersebut, tapi Daphne dibesarkan dengan baik dan tata krama yang terpancang dalam dirinya membuatnya tidak akan melakukan hal sekasar mendorong Granger ke danau. Greengrass terlihat memutuskan untuk menghiraukan Granger selama perjalanan perahu mereka. Davis berhasil membagi perhatiannya antara Greengrass dan kedua anak yang sedang mengobrol itu, walau dia terlihat bimbang di antara keangkuhan temannya dan ketertarikannya dengan apa yang Li dan Granger bicarakan.Nott dan Longbottom kembali mengobrol mengenai herbologi (ternyata ayahnya Longbottom juga menyukai herbologi dan sering memberitahu ibu keluarga Longbottom, yang merupakan neneknya Longbottom, mengenai tanaman-tanaman aneh yang tumbuh dalam danau) saat Goldstein menceritakan tentang siapa dari anggota keluarganya yang masuk ke asrama apa dan Harry setengah mendengarkan dengan tertarik sembari terus memperhatikan perahu di sebelahnya. Tapi semua orang terdiam saat mereka mulai memasuki semenanjung kecil dan akhirnya dapat melihat sebuah kastil di kejauhan.Kastil itu menawan. Harry tidak bisa melihat keseluruhan kastil itu dengan cepat. Dia sadar kalau dia mencondongkan maju tubuhnya dan segera menegakkan diri, tapi dia tidak bisa menahan rasa gembira, rasa ingin, yang ada dalam dirinya. Sekolah itu, kastil itu, terlihat besar dan jelas sudah tua, dengan menara-menara, benteng-benteng, dan jendela-jendela bercahaya keemasan. Kastil tersebut terlihat ramah dan menakutkan di saat yang sama. Kalian di terima di sini, kastil itu seakan berbicara, tapi bukan berarti semuanya otomatis menjadi mudah.Dan kastil itu penuh, seakan bersenandung, dengan sihir.Harry mengepalkan tangannya. Inilah semua yang dia mimpikan, dan bahkan lebih daripada itu.“Merlin,” desah Longbottom kagum.Nott dan Harry saling melirik. Nott berusaha menutupinya, dan jelas dia tidak akan pernah mengatakannya, tapi terlihat dia sama kagumnya dengan Longbottom dan Harry.Harry tersenyum lebar ke arah Nott. Nott terlihat ragu, tapi akhirnya tersenyum balik.Mereka melihat Malfoy berjalan bersama kedua pengawalnya, tiga anak perempuan, dan satu anak laki-laki lainnya. Terlihat mereka semua berfokus kepada Malfoy. Harry memutar matanya dan melihat Nott melakukan hal yang sama.“Akan sangat menyenangkan masuk kelas Pertahanan dengan dia,” gumam Nott. “Kelas itu seperti tempat dimana sekolah mengizinkan muridnya mengutuk orang.”“Terdengar sangat menyenangkan,” setuju Harry. “Aku bahkan sudah dapat memikirkan beberapa orang yang ingin aku kutuk.”Nott meliriknya sekilas dengan pandangan licik dan nakal. “Coba aku tebak… Jules Potter, Ronald Weasley, dan Malfoy?”“Pintar sekali dirimu,” balas Harry datar.“Iya memang. Terima kasih atas pujiannya.”Longbottom memicingkan matanya kepada mereka berdua. “Kalau aku tidak tahu, aku akan berpikir kalian berdua tidak menyukai satu sama lain.”“Oh, memang,” akui Nott.“Malah hampir benci,” setuju Harry. Dia mencoba menahan tawa melihat betapa bingungannya Longbottom. Dia berhasil menahannya sampai dia bertatap mata dengan Nott, yang akhirnya mereka sama-sama tidak bisa menahan dan tertawa terbahak-bahak.Longbottom menggelengkan kepalanya. “Kalian berdua gila.”“Hanya orang gila yang bilang orang lain gila,” balas Greengrass, bersandar di bahu Goldstein yang sedikit lebih pendek darinya saat dia muncul dan bergabung kembali diikuti dengan anak-anak perempuan yang lain dari perahunya.“Kita anak-anak gila harus terus bersama,” setuju Goldstein sambil tersenyum.Nott membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu tapi terpotong oleh kemunculan beberapa hantu menembus bagian depan ruangan tempat anak kelas satu di kumpulkan. Harry melompat kaget dan langsung merasa kesal terhadap dirinya sendiri. Tapi setidaknya dia tidak teriak seperti sepertiga murid lainnya lakukan.Hantu-hantu tersebut berpura-pura tidak menyadari adanya anak-anak kelas satu di ruangan tersebut, membicarakan sesuatu yang mengisyaratkan tentang Upacara Seleksi lalu terbang pergi.“Yep, cara isyarat yang sangat jelas,” gumam Harry. Hanya Nott dan Goldstein yang mendengar apa yang dia katakan. Atau mungkin hanya mereka yang menyadari sarkasmenya, yang membuat Goldstein tertawa kecil dan Nott menyengir.Seorang wanita tinggi berpenampilan tajam memasuki ruangan dan memberikan pidato sekilas mengenai asrama Hogwarts. Rambut wanita tersebut disanggul ketat tanpa sedikit pun rambut yang keluar. Harry agak sedikit waspada terhadapnya. Penampilan tidak ramah dan tajam wanita itu mengingatkannya sedikit kepada Bibi Petunia. Tapi, berbeda dengan Bibi Petunia, Harry dapat melihat adanya kebaikan dan kebijaksanaan dalam wanita itu, jadi mungkin dia tidak akan seburuk yang Harry bayangkan.Wanita tersebut memperkenalkan diri sebagai Profesor McGonagall dan mulai memperintahkan seluruh murid untuk berbaris. Harry mengangguk berpisah kepada teman-temannya dan berjalan menyusuri kerumunan tepat saat McGonagall mendekat ke Jules.“Profesor?” sapa Harry.McGonagall menoleh, melihat ke arahnya, dan alisnya terangkat terkejut. “Mr. Potter, dan… Mr. Potter?”“Iya, Profesor,” akui Harry, berusaha sesopan mungkin dan mengacuhkan tatapan tajam Jules yang ditujukan padanya. Untungnya ruangan tersebut masih penuh kekacauan dengan seluruh anak kelas satu berusaha berbaris berdasarkan urutan nama mereka sehingga tidak ada yang menyadari dirinya. “Saya hanya… kalau berdasarkan abjad, karena nama saya Harry saya pasti akan diseleksi sebelum Jules, tapi kalau bisa saya ingin Jules diseleksi terlebih dulu. Saya tahu Jules sangat semangat tentang Penyeleksian, dan takutnya nanti orang-orang banyak membicarakan saya…”“Akan kuberikan pengecualian,” setuju McGonagall. Terlihat dia masih terkejut melihat kalau anak dari keluarga Potter itu ternyata kembar.“Terima kasih Profesor,” ucap Harry sesopan yang dia bisa lalu mulai berjalan berbaris mengikuti Jules.“Apa yang kamu lakukan?” bisik Jules.Harry mengangkat bahunya. “Kalau semua orang membicarakan aku, nanti tidak ada yang memperhatikan proses penyeleksianmu yang dramatis, wahai adikku.”Ekspresi Jules terlihat terjebak antara marah dan bingung. Jelas dia tidak tahu kalau dia baru saja diejek (yang jelas memang baru Harry lakukan), tapi tidak ada orang yang lebih pintar darinya untuk memberitahukan Jules tentang hal tersebut.Mereka mungkin akan berdebat lebih lama, tapi McGonagall mengalihkan perhatian mereka dan membuka pintu dimana dia tadi masuk, lalu membawa kedua baris anak kelas satu berjalan memasuki Aula Besar.Harry terpana melihat pemandangan Aula Besar tersebut dan terlalu terpaku mencoba melihat semua yang ada sampai dia hampir tersandung ketika barisan murid-murid anak kelas satu tersebut tiba-tiba berhenti. Jules menyenggolnya dengan keras. “Lihat jalannya, jangan bengong,” bisiknya.Harry menahan diri untuk tidak menyenggol balik Jules. Kalau dia membalas, pasti Jules akan membalas lagi dan akan menjadi lebih ribut daripada sebelumnya. Mereka sekarang berada di tengah-tengah aula, diperhatikan oleh lebih dari tiga ratus orang. Bukan saat yang tepat untuk pertengkaran antar saudara.Ada sebuah topi sihir berujung runcing tua dan usang di letakkan di atas kursi mimbar di hadapan mereka. Harry penasaran apa yang akan terjadi. Dia telah membaca tentang topi tersebut di buku Sejarah Hogwarts, tapi topi tersebut tidak melakukan apa-apa—hingga tiba-tiba robekan yang terlihat ada pada topi tersebut melebar dan topi itu mulai bernyanyi.Sebagai sebuah topi, dia memiliki suara yang cukup bagus.Harry hanya setengah mendengarkan nyanyian tersebut. Dia rasa deskripsi mengenai keempat asrama yang ada itu akurat dan sesuai dengan apa yang dia telah baca, tapi lebih singkat dan mudah dipahami. Dia lebih tertarik memperhatikan murid-murid yang ada di sekitarnya. Meja yang berhiaskan warna merah dan emas di ujung sebelah kirinya sudah jelas Gryffindor, lalu ada Hufflepuff dengan warna hitam dan kuningnya, Ravenclaw dengan warna biru dan perunggu, dan terakhir Slytherin dengan warna hijau dan perak di ujung sebelah kanan. Harry yakin para profesor sengaja memisahkan meja Slytherin dan Gryffindor di kedua ujung Aula Besar untuk menghindari kerisuhan.Topi itu berhenti bernyanyi dan semua orang bertepuk tangan, lalu McGonagall melangkah maju dengan membawa segulung kertas di tangannya.“Abbot, Hannah!”Harry melihat seorang anak perempuan berambut pirang berjalan ke mimbar, duduk di kursi, dan meletakkan topi tersebut di atas rambutnya yang dikuncir.“HUFFLEPUFF!”Meja Hufflepuff bertepuk tangan meriah. Harry melihat ada uang berpindah tangan di beberapa tempat dan yakin ada orang-orang yang saling bertaruh mengenai asrama mana yang mendapatkan murid pertama setiap tahunnya.Susan Bones yang Harry kenal lewat perkumpulan teman-teman Jules masuk ke asrama Hufflepuff, lalu anak perempuan yang seingat Harry Sue Li katakan bernama Jessica Banderas adalah anak pertama yang masuk ke Ravenclaw. Davis diseleksi masuk Slytherin membuat Harry sedikit terkejut karena menurutnya Davis lebih ke Ravenclaw, tapi Harry rasa dia juga belum terlalu mengenalnya. Seamus Finnegan masuk ke Gryffindor sama sekali tidak mengejutkan Harry. Granger hampir menghabiskan dua menit untuk diseleksi, tapi pada akhirnya topi tersebut membuka ‘mulut’nya dan berteriak “GRYFFINDOR!”, dan Granger terlihat sangat puas. Penempatan Granger juga membuatnya sedikit terkejut.Anthony Goldstein masuk ke Ravenclaw, anak buah Malfoy ke Slytherin, Sue Li ke Ravenclaw, dan Longbottom ke Gryffindor. Penyeleksian Longbottom bahkan lebih lama dibandingkan Granger, dan membuat alis Harry terangkat naik karena terkejut. Menurutnya hanya ada 2 kemungkinan yang akan terjadi, antara para singa nanti akan memakan Longbottom hidup-hidup atau mungkin dia akan belajar menunjukkan keberanian yang sempat dia tunjukkan saat berdebat dengan Nott mengenai tanaman.Malfoy masuk ke Slytherin, dan dengan setiap nama yang dipanggil Harry menjadi semakin gugup.Bukan karena Penyeleksian, tapi lebih—Semua orang akan memandanginya.Ini yang kamu inginkan, Harry mengingatkan dirinya dengan tegas. Kamu sengaja menyembunyikan diri selama bulan kemarin. Jadi tanggung resikonya.Nott masuk ke Slytherin. Dia sama sekali tidak terkejut, dan berjalan santai untuk duduk bersama Daphne, agak sedikit jauh dari Malfoy, anak buahnya, dan anak perempuan berbadan kekar yang tadi Harry lihat bersama dengan Malfoy. Terlihat kalau sama seperti Nott, Greengrass juga tidak menyukai Malfoy. Harry tidak terkejut. Greengrass menghargai orang-orang yang bermartabat dan dapat menjaga sikap serta tidak kasar dan bodoh. Dan Malfoy sama sekali tidak memiliki hal tersebut. Dia hanya memiliki kesombongan dan hartanya.Padma Patil masuk ke Ravenclaw, dan Parvati ke Gryffindor. Harry tidak begitu memperhatikan, dia terlalu sibuk mencoba mengelap tangannya berkeringat di jubahnya tanpa terlihat oleh orang-orang.Akhirnya—“Potter, Julian!”Terdengar suara bisik menyebar di seluruh Aula. “Apa tadi dia sebut Potter?” “Jules Potter yang Itu?”Jules berjalan menuju mimbar seakan tidak peduli dengan apa yang terjadi, duduk, dan menaruh topi sihir itu di kepalanya.Tidak sampai lima detik topi tersebut ada di kepalanya dan—“GRYFFINDOR!”Harry harusnya merasa bahwa pendapatnya selama ini mengenai Jules benar, tapi dia terlalu sibuk menahan diri untuk tidak panik.Meja berwarna merah dan emas meledak riwuh dengan orang berteriak gembira. Si kembar Weasley bernyanyi “Kita dapat Potter! Kita dapat Potter!” berulang-ulang, Hufflepuff dan Ravenclaw bertepuk tangan dengan semangat, dan Slytherin terlihat bertepuk tangan untuk menjaga kesopanan.“Potter, Hadrian!”Harry menegakkan kepalanya, memastikan kalau ‘topeng’ ekspresi wajahnya terlihat datar, dan berjalan ke arah mimbar seberani yang dia bisa sambil menghiraukan bisikan-bisikan kebingungan di sekitarnya.Dia mengangkat topi tersebut dan menaruhnya di atas kepalanya. Pinggir topi itu menggeser jatuh, tersangkut di kacamatanya, dan akhirnya menutupi matanya.“Hmm,” terdengar suara berbicara di telinga Harry. “Menarik… Otak yang pintar, banyak keberanian... ada bakat, oh, astaga, ya—sihir tanpa tongkat? Pada usiamu?”Apa kau akan memberitahukannya ke orang-orang? Pikir Harry sekencang yang dia bisa.Topi itu tertawa kecil. “Bukan tugasku untuk membicarakan rahasiamu. Oh lihat, betapa hausnya dirimu untuk membuktikan diri—dan kamu bukan seorang yang pemaaf ya. Ya… aku rasa aku tahu dimana aku akan menempatkanmu… dimana kamu akan menjadi hebat…”Harry mengingat kembali apa yang Ollivander katakan padanya. Mengingat masa dia dipanggil si aneh, mengingat bagaimana James dan Jules dengan mudahnya menganggap dia lemah, tidak bisa melakukan apa-apa, dan lebih baik ditinggalkan begitu saja. Ya, pikirnya. Menjadi hebat, aku ingin itu.“Ya, kalau begitu… lebih baik SLYTHERIN!” topi itu meneriakkan kata terakhir agar terdengar ke seluruh aula, dan Harry menahan senyumnya saat dia berdiri dan mengangkat kembali topi tersebut.Aula tersebut hening tanpa suara.Harry mengacuhkan keterkejutan semua orang. Dia tidak melihat ke arah Jules atau apapun yang lain selain warna samar hitam-dan-hijau jubah asrama Slytherin. Dia sudah berjalan setengah jalan menuju meja asramanya yang baru ketika mereka akhirnya menghilangkan keterkejutan mereka dan mulai bertepuk tangan. Seluruh sekolah kemudian mengikuti.Untungnya, McGonagall segera memanggil nama anak selanjutnya, “Roper, Sophie!” tepat saat Harry duduk di samping Tracy dan berseberangan dengan Nott.“Yah, ini sangatlah mengejutkan,” ucap seseorang dengan nada sinis.Harry melihat ke sebelah kanannya sembari bertepuk tangan untuk penyeleksian Sophie Roper ke Hufflepuff dan melihat anak perempuan cantik berambut hitam yang tadi dia lihat bersama dengan Malfoy.“Kamu Parkinson kan?” tanya Harry berharap untuk tidak mulai bermusuhan dengan siapapun saat ini. Dia tahu seberapa mengejutkannya penyeleksian asramanya.“Pansy Parkinson, senang berkenalan denganmu,” kata anak itu memperkenalkan diri dengan senyum licik. Di samping Parkinson, dari cara Malfoy dengan berpura-pura menghiraukan mereka, Harry tahu kalau anak tersebut sedang mendengarkan semua yang mereka bicarakan. “Aku yakin tidak ada orang yang mengira kalau kau akan masuk Slytherin.”“Atau, kau tahu, ada di dunia,” kata Greengrass. Dia dan Parkinson saling menatap dan Harry merasa suhu di sekelilingnya turun beberapa derajat.Parkinson menyeringai. “Ya, itu juga.”“Aku tinggal bersama saudara kami sampai satu setengah bulan yang lalu,” terang Harry dingin. “Karena… masalah keamanan.”“Keluarga yang mana?” tanya Parkinson terlihat tertarik. Harry mengenal tipe orang sepertinya, anak-anak yang mengumpulkan gosip dan rumor seakan-akan mereka adalah benda berharga dan menggunakan apa yang mereka ketahui untuk menaikkan status sosial mereka. Harry tidak begitu menyukai orang-orang seperti Parkinson, terlebih saat dia melihat bagaimana anak tersebut sangat memperhatikan semua perkataan Malfoy, tapi membuat masalah dengannya juga bukanlah ide yang bagus.“Kakak ibuku yang Muggle dan suaminya,” jawabnya datar.Sesuai yang dia duga, jawabannya mengejutkan anak-anak di sekelilingnya. “Kau tinggal dengan Muggle?” tanya Malfoy berhenti berpura-pura tidak mendengarkan. Anak-anak yang lain sudah mengetahuinya di kereta, tapi Malfoy, Crabbe, Goyle, anak perempuan berbadan kekar, dan Parkinson terlihat terkejut. “Aku harap kamu sudah membersihkan bekasnya.”Harry memutar matanya. “Kan tidak menular juga.”Anak perempuan berbadan kekar mengulum bibirnya. “Kalau begitu kamu tumbuh besar seperti penyihir Kelahiran Muggle ya?”Harry menahan keinginannya untuk mengangkat cerek air yang ada di tengah meja dengan sihir tanpa tongkatnya dan menumpahkannya ke kepala anak tersebut untuk ‘meluruskan’ pendapat mereka mengenai dirinya, tapi dia masih ingin menyembunyikan kemampuannya tersebut. “Mungkin,” jawabnya biasa.Malfoy mencibir. Harry mulai merasa kalau dia sering berekspresi seperti itu. “Anak Slytherin yang tumbuh seperti Kelahiran Muggle. Tunggu sampai ayahku mendengar tentang hal ini. Kamu mungkin akan mempermalukan kami dengan kebiasaan primitifmu.”Harry melirik ke ujung meja di sisinya. Nott, Greengrass, dan Davis terlihat sedang menunggunya menangani hal ini sendirian. Dia sudah dapat melihat kalau asrama Slytherin adalah tempat dimana anak-anak saling beradu kekuasaan dan politik internal, yang berarti dia harus menghadapi tantangan ini atau mereka semua akan berpikir kalau dirinya lemah dan mulai menjauhinya.Baiklah. Dia sudah pernah menangani penindas yang lebih buruk daripada Malfoy.“Aku banyak membaca buku saat musim panas,” ucapnya ramah. “Setidaknya cukup untuk tahu kalau bukanlah hal yang bagus untuk mencari masalah dengan pewaris dari Keluarga Bangsawan dan Kuno saat hari pertama masuk sekolah. Sesuatu yang beberapa dari kita harus pelajari sepertinya.”Muka Malfoy memerah padam. “Kau pikir kau pintar Potter?” geramnya.“Tidak juga,” balas Harry datar. “Hanya benar.”Harry berbalik ke Nott, berharap kalau tidak ada yang menyadari seberapa gugupnya dia, berharap kalau apa yang dikatakannya setidaknya cukup untuk mencegahnya menjadi sasaran tindasan Malfoy.Greengrass memperhatikannya dengan tatapan selayaknya kucing yang melihat sesuatu yang dikiranya adalah tikus tapi ternyata memiliki cakar. Davis menyengir dan Nott terlihat mengakuinya.Ron Weasley (sesuai perkiraan) mengikuti Jules, Finnegan, dan Dean Thomas masuk ke Gryffindor, dan dengan “Zabini, Blaise” masuk Slytherin, Penyeleksian pun selesai.Zabini duduk di antara Crabbe dan Nott, berseberangan dengan Harry. Anak itu terlihat tinggi dan berkulit gelap dengan senyuman tajam dan raut wajah yang terlihat seakan dia terus menerus menertawakan sebuah lelucon yang orang lain tidak mengerti.“Zabini,” pikir Malfoy. “Anak dari si Janda Hitam?Senyuman Zabini berubah dari tajam menjadi berbahaya. “Kalau memang itu aku, Malfoy, kamu yakin mau membuatku marah?”Malfoy menggerutu.Harry mengangkat sebelah alisnya ke arah Nott, yang menjawabnya nanti dengan tanpa suara tepat saat lelaki tinggi menggunakan jubah panjang norak berwarna perak dan ungu berdiri dan mengisyaratkan untuk diam. “Selamat datang!” katanya tersenyum lebar seakan tidak ada yang lebih membuatnya senang daripada melihat mereka semua disana. “Selamat datang untuk mengikuti tahun ajaran baru di Hogwarts! Sebelum kita mulai acara makan kita, aku ingin menyampaikan beberapa patah kata. Inilah dia: Dungu! Gendut! Aneh! Jewer!”“Terima kasih!”Dia duduk kembali.Harry melihat ke arah meja besar di depan lalu menoleh ke anak-anak seumurannya. “Apa dia—agak sinting?”“Kalau kau bertanya padaku, dia itu bencana sebagai kepala sekolah—sangat buruk,” desah Davis.“Dan ya,” tambah Nott. “Dia… agak sinting. Yah, tapi dia juga salah satu penyihir terkuat yang masih hidup, ada yang bilang paling kuat, dan menurut rumor dia adalah satu-satunya penyihir yang ditakuti oleh Pangeran Kegelapan.”“Dan dia jadi kepala sekolah?” tanya Harry tidak percaya. “Kalau aku penyihir sehebat itu aku pasti akan melakukan apapun selain—selain mengajar di tempat ini.”Anak-anak yang lain tertawa kecil, dan lalu percakapan mereka terhenti dengan munculnya begitu banyak makanan yang membuat mulut Harry ternganga.“Selamat makan Potter,” ucap Nott menyengir.“Aku cinta sihir,” kata Harry sungguh-sungguh sembari menaruh sejumlah daging sapi panggang dan puding Yorkshire ke piringnya.Percakapan-percakapan di meja mulai berhenti saat mereka mulai menghabiskan makanan yang ada, dan juga makanan pencuci mulut yang muncul setelah makan utama menghilang. Malfoy terlihat puas kembali mengobrol dengan Parkinson, dan Harry tetap mengobrol dengan Nott, Greengrass, Davis, dan kurang lebih Zabini (yang tampaknya puas hanya menyimak dengan diam).Harry mulai merasa nyaman dan mengantuk karena semua makanan yang dia makan dan menyesap air putih dingin sedikit demi sedikit untuk menghilangkan kantuknya. Anak-anak satu asramanya ini sepertinya bukanlah tipe yang dia bisa menghilangkan kewaspadaannya ketika sedang berada di antara mereka. Atau setidaknya belum, terutama untuk para anak perempuan dan Malfoy beserta anak buahnya. Setelah beberapa saat dia akhirnya berani mengalihkan perhatiannya ke meja besar di depan. Selama ini Harry sudah bertekad untuk bertingkah seakan penyeleksiannya bukan Sesuatu yang Dramatis, yang berarti dia tidak boleh diam-diam melihat reaksi orang-orang di sekelilingnya.McGonagall duduk di antara lelaki yang sangat pendek dan lelaki tinggi dengan rambut gelap yang terlihat sedikit berminyak. Karena anak-anak kelas satu duduk di bagian terdekat dengan meja mereka, Harry dapat melihat jelas profesor yang duduk di ujung meja yang mengenakan turban dan terlihat sangat gugup, terutama saat profesor berambut hitam menoleh untuk berbicara dengannya.“Siapa profesor yang memakai turban itu?” tanyanya.Nott melihat ke arah meja tersebut. “Guru baru kelas Pertahanan.”“Banyak yang bilang kalau posisi Profesor Pertahanan itu dikutuk,” terang Parkinson. “Selama sepuluh tahun lebih belum ada yang bertahan lebih dari satu tahun.”“Namanya Quirrel,” lanjut Nott. “Katanya dia memiliki pengalaman buruk dengan vampir dan sekarang pergi ke mana saja dengan bawang putih di dalam turbannya.”Semua anak menoleh ke arah Nott.“Apa?” tanyanya. “Sepupuku anak Ravenclaw kelas empat.”Harry melihat kembali ke meja guru dan tepat berpandangan dengan mata Quirrel. Dan seketika rasa sakit yang perih dan panas menerpa bekas luka di dahinya.Dia mengernyit sekali sebelum berhasil menguasai diri dan mengacuhkan rasa sakit tersebut.“Kamu baik-baik saja Potter?” tanya Nott.Harry menatap matanya. “Tidak apa-apa. Siapa profesor yang terlihat seperti ingin meracuniku itu?” Mengingat ocehan marah James tentang seseorang bernama Snape (yang di panggil Snivellus) yang katanya satu angkatan dengan James dan teman-temannya saat mereka sekolah dan merupakan seorang “Slytherin licin berlendir licik yang menyebalkan,” Harry kurang lebih dapat menebak siapa orang tersebut. Jules bahkan menerima perintah untuk “tidak menerima bias apapun” dari profesor misterius tersebut. Harry menghindari dari percakapan-percakapan tersebut dan secara pribadi memutuskan kalau siapapun yang sengaja diberikan nama ejekan separah itu oleh James Potter mungkin bukanlah seseorang yang terlalu buruk.Greengrass melihat ke arah meja lelaki berambut hitam itu, yang terlihat bergantian memandang tajam ke arah Harry atau ke meja Gryffindor. “Profesor Snape,” jawabnya, membenarkan dugaan Harry. “Kepala Asrama kita dan Master—serta profesor—Ramuan di sini.”“Sepertinya dia benar-benar tidak suka padamu Potter,” cibir Malfoy.Harry melihat ke meja guru lagi. “Yah, dia terlihat lebih tidak menyukai kembaranku, jadi kurasa tidak begitu masalah.”Nott dan Greengrass bergantian menjelaskan apa yang keluarga mereka ceritakan mengenai para guru yang ada, dengan Zabini, Harry, dan Davis mendengarkan dengan seksama.Dumbledore mengizinkan mereka keluar dari Aula Besar setelah memberikan beberapa peringatan, yaitu kalau Hutan Terlarang itu dilarang dimasuki—“Siapa yang duga ya?” gumam Nott dengan nada penuh sarkas, membuat Harry dan Zabini menyengir—dan koridor lantai tiga sebaiknya dihindari oleh mereka yang tidak ingin mati, membuat Harry berpikir sekolah macam apa Hogwarts itu sebenarnya.“Kelas satu Slytherin,” panggil seseorang dengan tegas. “Ikuti aku.”Mereka menoleh dan melihat dua anak yang lebih tua, laki-laki dan perempuan, keduanya memakai lencana perak kecil berukir membentuk huruf P sedang menunggu mereka. Harry rasa P itu merupakan singkatan dari Prefek.Para kelas satu dengan patuh berdiri dari kursi mereka dan berjalan mengikuti kedua prefek itu. Harry berdiri diam sebentar agar tidak ada yang berjalan di belakangnya. Dengan santai Nott membiarkan Malfoy jalan melewatinya agar dia bisa berjalan bersama Harry, suatu hal yang disadari oleh mereka semua kecuali mungkin oleh dua gumpalan daging bersuku kata satu yang menganggap diri mereka sebagai pengawalnya Malfoy.Para prefek memperkenalkan diri mereka sebagai Gemma Fawcett dan Tony Mcdougal, Prefek kelas enam Slytherin. Jelas, ujian terpenting dari sekolah sihir dilakukan pada akhir kelas lima dan kelas tujuh, jadi prefek kelas enam lah yang bertanggung jawab untuk menangani anak kelas satu. Harry memperhatikan semua komentar mereka mengenai petanda yang membantu mereka menemukan jalan di koridor bawah tanah yang saling bersambung itu. Dia tidak mau tersesat disini. Para prefek juga menyebutkan sesuatu mengenai jalan-jalan rahasia, dan Harry memutuskan untuk mencari jalan tersebut segera yang dia bisa.“Itu adalah Pendiri asrama kita, Salazar Slytherin,” terang Fawcett bangga, menunjuk kepada sebuah lukisan besar menggambarkan seorang pria berwajah tajam dan berambut hitam memegang seekor ular besar. Dia mengangkat sebelah alisnya dengan gerakan menghina ke arah mereka semua dan berbalik. “Sebagian besar Asrama lain akan menganggap pintu masuk ke asrama kita ada di belakang lukisan itu. Kalau ada salah satu dari kalian mengoreksi kesalahpahaman itu, kalian tinggal tunggu saja salah satu dari anak kelas atas mengutuk mulut kalian diam saat kalian tidur.”Harry mengedip terdiam. Baiklah.“Pintu masuknya sebenarnya itu di bawah sini,” lanjutkan Tony, mengedipkan matanya ke arah mereka dan menunjuk kepada hamparan dinding yang kosong, lalu memperlihatkan kepada mereka bahwa ada ukiran kecil berbentuk ular terletak di samping lampu dinding1 yang berseberangan dengan pintu yang tersembunyi itu, dimana hanya orang yang tahu saja lah yang akan berpikir untuk mencari tanda tersebut. Setelah mengucapkan kata sandi ke dinding—“Firedrake,”— batu dinding itupun bergemuruh bergeser dan membiarkan mereka masuk ke ruang duduk asrama mereka.Harry pikir dia tidak akan kagum, tidak setelah Manor Potter, tapi kenyataannya iya. Ruang duduk itu dipenuhi dengan kursi, meja, dan sofa-sofa. Mungkin akan terlihat mengintimidasi kalau bukan karena api yang berderak terang di perapian besar dan cahaya putih-keemasan lampu penyihir bersinar dari lampu gantung2 dan lampu dinding yang berada di sekitar ruang duduk tersebut. Satu dinding dipenuhi oleh buku-buku. Ada dinding lain terlihat terbentuk oleh kaca yang langsung melihat ke bawah danau. Harry membayangkan pemandangannya pasti indah saat siang hari, hanya saja saat malam yang terlihat dari jendela tersebut hanyalah kegelapan. Papan buletin besar, yang sebagian besar kosong, tergantung di dinding di sebelah pintu masuk.“Selamat Datang di rumah kita di Hogwarts,” sambut Fawcett tersenyum lebar.Ada beberapa anak kelas atas sudah duduk menempati kursi dan meja di sekitar. Mereka menghiraukan anak-anak kelas satu. Beberapa yang lain datang dari pintu masuk, mengitari murid-murid baru itu, dan pergi ke sebuah lorong di sebelah kiri Harry yang dia rasa menuju ke asrama.“Kelas satu, kesini,” panggil McDougal.Mereka duduk di beberapa kursi dan sofa di sekitar perapian, semuanya menghadap ke arah Fawcett dan McDougal. Empat orang lain bergabung dengan mereka dan memperkenalkan diri sebagai prefek baru kelas lima, Ava Pucey dan Lucas Roberts, dan prefek kelas tujuh, Emily Taylor dan Spencer Wright. Prefek kelas lima dan kelas tujuh kemudian duduk dan membiarkan Fawcett dan McDougal memimpin orientasi tersebut.“Aku tahu kalian semua sudah lelah, jadi aku tidak akan terlalu lama,” mulai Fawcett. “Selamat Datang di Slytherin. Orang-orang di asrama ini akan menjadi keluarga kedua kalian selama tujuh tahun ke depan. Setelah keluarga kandung kalian ada loyalitas ke sekolah, dan dalam itu adalah loyalitas ke Asrama Slytherin.”“Profesor Snape, Kepala Asrama kita, memiliki standar tertentu,” lanjut McDougal. “Untuk nilai, bagi yang tidak tahu, adalah O—outstanding, istimewa—E—exceed expectations, diluar dugaan—A—acceptable, cukup—P—poor, parah—dan D—dreadful, mengerikan. Di ujian OWL (Ordinary Wizarding Level)—LSU (Level Sihir Umum), di kelas lima, kalian bisa dapat nilai T untuk Troll—sangat mengerikan, tapi itu hanya akan terjadi kalau kalian tidur selama ujian berlangsung atau seseorang mengutuk kalian dengan Kutukan Kebutahurufan.”Harry mengingatkan dirinya untuk mencari dan mempelajari kutukan tersebut.“Kalau kalian tertinggal di kelas, tanya ke salah satu dari kami,” saran Fawcett. “Tanya ke aku atau Tony dulu, tapi kalau kalian tidak bisa menemukan kami baru tanya ke prefek kelas lima dan tujuh. Kami akan mengatur jadwal untuk salah satu anak kelas atas untuk mengajar kalian. Kita semua saling membantu agar tidak ada yang tertinggal.”“Besok pagi kami akan memberikan jadwal pelajaran dan peta kastil kepada kalian,” ujar Fawcett. “Kami akan mengantar kalian ke kamar kalian malam ini dan ke Aula Besar besok pagi, tapi setelah itu kalian harus bisa berkeliling sendiri. Kalau kalian benar-benar tersesat, tekan petanya dengan tongkat sihir kalian dan ucapkan “Slytherin” dan peta itu akan menunjukkan jalan untuk kembali ke ruang duduk kita.”“Satu hal lagi,” ingatkan McDougal. “Peraturan Slytherin.”“Aturan pertama: Kesatuan Asrama di atas Segalanya. Kalian boleh bertengkar atau saling adu kekuasaan sesuka kalian, tapi jaga jangan sampai terlihat. Jangan pernah bertengkar dengan anak Slytherin lainnya di tempat yang bisa dilihat anak asrama lain.”“Aku peringatkan, kebanyakan asrama lain tidak menyukai kita,” potong Wright. “Kita cukup akur dengan Ravenclaw di kelas, dan kebanyakan dari Hufflepuff tahu rasanya terkena stereotip orang lain, tapi kebanyakan dari sekolah—terutama Gryffindor—akan mengira kalau kalian adalah anak-anak yang jahat, licik, dan menyebalkan. Jangan mencari masalah dan membuktikan kalau mereka benar.” Dia terdiam. “Setidaknya, jangan melakukannya dengan cara bodoh. Kalau mereka yang menyebalkan dan memulai duluan, silahkan balas saja.”“Lakukanlah dengan bermartabat dan elegan,” tambahi Ava Pucey membuat prefek-prefek lain tertawa.“Selanjutnya,” lanjut McDougal, “aturan kedua. Jangan ketahuan. Kita Slytherin, yang berarti kita melakukan apapun yang harus dilakukan agar kita sukses, walaupun kita harus melanggar peraturan. Tapi kita juga asrama yang terkenal atas kecerdikannya, yang berarti kalian harus memiliki alasan yang bagus kalau kalian ingin melanggar peraturan, dan kalian juga harus punya rencana untuk melakukannya.”“Aturan ketiga: kalau kalian ketahuan, salahi orang lain, dan pastikan orang itu bukanlah anak Slytherin.”“Aturan keempat: Standar Keunggulan Akademik, seperti yang tadi sudah kami terangkan.”“Aturan kelima: Jangan ada yang duel di ruang duduk atau di asrama. Kami tidak mau mengurus dan memperbaiki perabotan yang rusak, dan tidak ada yang suka masuk ke dalam ruang duduk yang dipenuhi bau rambut terbakar.”“Aturan keenam: Tak boleh ada anak asrama lain di ruang duduk Slytherin. Kapanpun. Kata sandinya berganti setiap minggu dan akan dipasang di papan buletin setiap hari Senin. Jangan pernah beritahu seseorang yang bukan dari asrama kita.”“Aturan ketujuh: Apapun yang terjadi di ruang bawah tanah, tetap di ruang bawah tanah, tidak tersebar kemana-mana.”Mereka terdiam, melihat ke arah anak-anak kelas satu. Harry tidak pernah melihat anak-anak berumur sebelas tahun seserius ini.“Baiklah,” tutup Fawcett pada akhirnya dengan raut wajah puas. “Kalian semua pasti sudah sangat lelah. Anak-anak perempuan ikut aku, yang laki-laki ikut Tony.”Harry mengikuti Nott, Malfoy, si dua gumpalan daging, dan Zabini. Tony menunjukkan kepada mereka lorong-lorong yang bercabang di asrama laki-laki, menjelaskan kalau kastilnya membuka dan menutup ruangan untuk setiap murid. “Kalian ada berenam, jumlah paling banyak dalam satu ruangan,” terangnya. “Ini ruangan kalian. Semua pintu memiliki label kelas berapa di dalam kamar tersebut, jadi tidak ada alasan bagi kalian untuk masuk ke kamar yang lain. Kita menghormati privasi semua orang, jangan mengintip ke kamar anak kelas atas, dan kami tidak akan masuk ke kamar kalian. Sama juga dengan lemari dan kasur. Kalau kalian butuh mantra penangkal, bicara padaku atau Wright. Kamar mandi ada di ujung ruangan. Jaga kebersihannya dan jangan biarkan peralatan mandi kalian berserakan. Jelas?”Mereka semua mengangguk dan McDougal mendorong membuka pintu kamar.Kamar itu panjang dan berbentuk persegi panjang, lebih luas dari yang Harry bayangkan, dengan tiga kasur di kiri dan tiga kasur di kanan. Dia terdiam sebentar untuk memilih—kasur yang dekat dengan pintu, jadi dia mudah keluar, atau yang paling belakang, jadi dia bisa bersembunyi di sudut dan memiliki anak sekamarnya sebagai penghalang kalau terjadi sesuatu?Keputusan tersebut dibuat untuknya saat Zabini dan Crabbe memilih kedua kasur yang paling dekat dengan pintu. Harry berjalan menuju ke belakang dan memilih kasur di sisi yang sama dengan Zabini. Nott di kasur sebelahnya, dan Goyle bersebrangan dengannya. Malfoy duduk di kasur antara Crabbe dan Goyle, mengoceh tentang bagaimana dia seharusnya tidak harus berbagi kamar dengan siapapun, dan bagaimana dia akan mengeluh tentang hal ini kepada ayahnya, dan bagaimana ayahnya bilang kalau Head Boy3 dan Head Girl3 punya kamar sendiri, dan dia akan menargetkan hal itu beberapa tahun ke depan ya, terima kasih banyak, dan bagaimana ayahnya cerita padanya kalau ada jalan-jalan rahasia di asrama Slytherin yang bisa ditemukan kalau orangnya cukup pintar untuk menemukannya. Harry dan Nott saling bertatapan dan Harry harus mengalihkan pandangannya sebelum dia tertawa.Terdengar suara pop tepat saat dia duduk di kasur yang dia pilih dan kopernya muncul di kaki kasur tersebut. Harry sangat lega melihatnya. Dia bahkan tidak menyadari seberapa gugupnya dia saat dia tidak mengetahui dimana koper dan barang-barangnya berada.Dia melihat Malfoy membongkar kopernya dan memasukkan barang-barangnya ke lemari di samping kasurnya dan memutuskan untuk tidak melakukannya. Kompartemen baju kopernya juga memiliki fungsi yang sama, dan kalau dia perlu dia juga bisa pergi dengan cepat. Harry mengganti bajunya ke piyama dan mulai menggumamkan mantra-mantra penangkal dan pembungkam di sekitar kasurnya. Terkadang dia bermimpi buruk, mimpi buruk yang membuatnya berbicara dan berteriak dalam tidurnya walaupun dia tidak mengingat apa yang dia mimpikan. Dia tidak mungkin akan membiarkan anak-anak sekamarnya untuk mendengarnya. Atau menyelinap mendekatinya saat dia tidur. Buku mengenai penangkal yang Nott berikan sangatlah rumit, dan kebanyakan mantra yang tertulis disana jauh melebihi kemampuan sihir Harry saat ini, tapi dia berhasil menguasai satu penangkal yang mudah yang akan membuat tirai disekitar kasurnya menjadi perisai penghalang dan penangkal lain yang akan mengeluarkan suara alarm kencang kalau ada orang selain dirinya menyentuh kasurnya. Ada penangkal-penangkal lain yang bisa dijalinkan dengan Kutukan Pembeku Tubuh atau Kutukan Penghilang Kesadaran atau mantra, kutukan lain yang lebih buruk, tapi dia saja bahkan belum bisa menggunakan baik Petrificus totalus atau Stupefy, apalagi untuk memasang mantra penghalang yang lebih rumit. Di buku tertuliskan kalau mantra Penghilang Kesadaran membutuhkan inti magis yang lebih matang dan kuat daripada yang dimiliki hampir semua orang berumur dibawah tiga belas atau empat belas tahun. Sedangkan kutukan Pembeku Tubuh mungkin dapat dilakukan oleh anak kelas satu yang terampil. Dia bertekad untuk melatih menggunakan kutukan tersebut. Kemungkinan besar ke Weasley.Nott dan Zabini juga sepertinya memasang mantra-mantra penangkal mereka. Malfoy melihat ke arah mereka dengan muka masam dan naik ke atas kasurnya dengan tampak kesal. Jelas tidak terpikir olehnya untuk mempelajari mantra penangkal apapun. Si dua gumpalan daging juga tidak memasang penangkal apa-apa, tapi hal itu tidaklah mengejutkan.Harry mengangguk mengucapkan selamat tidur ke Nott dan Zabini dan naik ke atas kasurnya. Mantra pembungkamnya menghentikan suara apapun begitu dia berada di atas kasur. Dia harus mencari cara untuk mencegah suara dari dalam keluar dan tetap membiarkan suara dari luar tetap masuk daripada seperti sekarang yang mencegah keduanya.Tempat tidur itu bahkan lebih besar daripada tempat tidurnya di Potter Manor, dengan selimut tebal, seprai sutra, dan kanopi serta tirai berwarna hijau tua yang kaya. Dia melihat Nott hanya mengarahkan tongkatnya ke tirai untuk menutupnya dan mengikuti anak laki-laki tersebut. Tirainya menutup mengikuti gerakan tongkatnya dengan mudah.Aku ada di Hogwarts, pikirnya dengan senang, Aku akan belajar sihir, dan tidak ada hal lain yang terdengar lebih bagus dari itu. ~oOo~ Tinggal di Manor Potter selama sebulan tidak cukup untuk menghilangkan kebiasaan lamanya untuk bangun pagi. Saat Harry menggeserkan tirainya, jendela yang Harry tidak sadari ada menghadap ke arah danau yang terlihat seperti dinding gelap pada malam sebelumnya masih hanya menunjukkan kegelapan. Jam tangan digital jeleknya menunjukkan kalau sekarang masih pukul 5:43 pagi.Dia memasang kembali sarung tongkatnya, mengambil tongkat holly-nya dari bawah bantal dan memasukkannya ke dalam, mengambil peralatan mandinya, dan berjalan ke kamar mandi. Dia hanya memakan waktu lima menit untuk mandi, menggosok gigi, dan gagal dalam usahanya untuk merapihkan rambutnya.Saat Nott dan Zabini datang untuk sarapan, mereka menemukan Harry sudah duduk di meja Slytherin, memakan roti panggang sambil membaca Bangkit dan Jatuhnya Sihir Hitam.“Pagi, Potter,” sapa Nott duduk di bangku di sampingnya.“Harry,” koreksi Harry tanpa terlalu memperhatikan. Memanggil seseorang dengan nama keluarga hingga diberi izin memanggil nama depan yang lebih akrab adalah sesuatu yang secara umum dilakukan di sekolah dan secara khusus dilakukan oleh orang-orang Darah Murni. Dia rasa, setelah setengah musim panas saling mengirim surat dan kemudian diseleksi ke asrama yang sama, dia bisa memberikan izin itu ke Nott.Nott diam. “Hanya kalau kamu juga memanggilku Theo.”“Oke,” Harry menggeser teko air ke arah Theo tanpa melihat ke arahnya.“Aku tersinggung,” potong Zabini tanpa nada tersinggung sedikitpun. “Aku tidak boleh panggil nama depan kalian juga?”Harry akhirnya menutup bukunya dan menaikkan sebelah alisnya. “Kita baru bertemu kemarin.”Zabini tersenyum dengan ramah. "Iya, tapi tadi malam kan kita berbagi satu kamar, Potter. Tentunya itu dihitung kan?” Dia berhenti. "Aku duluan kalau begitu. Tolong, oh kakak kembar terkenal dari Anak Laki-Laki yang Bertahan Hidup, maukah kau memberiku kehormatan dengan memanggilku Blaise? ”“Eh—Oke,” setuju Harry, agak sedikit kebingungan karena dia tidak pernah bertemu dengan orang seperti Zabini—Blaise—sebelumnya.Theo menghela nafas. “Baik, aku rasa kita semua saling memanggil nama depan dari sekarang. Bagus sekali, aku senang mendengarnya. Seseorang tolong beri aku makanan sekarang.”“Sepertinya ada yang tidak suka bangun pagi,” komentar Blaise, mendorong keranjang berisikan roti panggang yang masih hangat ke arah Theo.Theo terlihat kesal. “Ya, darimana kamu tahu?”“Paling jelas sih dari Kutukan Penyengat yang kamu tujukan ke Malfoy.”Harry tersedak rotinya. “Kamu apa?”Theo menyeringai keji, “Dia terlalu banyak mengoceh tentang ayahnya dan bagaimana dia kesal dia tidak boleh membawa sapunya sendiri dan tentang ayahnya lagi. Aku muak mendengarnya.”“Kutukannya tepat kena di pantatnya,” ucap Blaise dengan nada puas. “Aku belum pernah mendengar ada orang membuat suara yang sangat mirip dengan tikus besar sebelumnya.”Harry menatap mereka kesal. “Lain kali, Nott, lakukan itu kalau aku ada untuk melihatnya.”Theo terkekeh. “Makanya jangan bangun pagi-pagi sekali. Bagaimana juga kamu bisa bangun lebih cepat dari terbitnya matahari sih?”“Kebiasaan lama,” jawab Harry singkat.Theo terdiam. Dari suratnya Harry dan percakapan mereka di Diagon Alley, dia pasti sudah cukup menangkap untuk mengira kalau kehidupannya Harry dengan keluarga Dursley tidaklah ideal. Blaise melihat di antara mereka berdua, sadar ada makna tersirat dari yang mereka ucapkan.“Dan dimana, jelasnya, kamu mendapatkan kebiasaan seperti itu?” tanya Blaise saat baik Harry dan Theo tidak mengatakan apa-apa lagi.Harry mengangkat bahunya. “Kerabat Muggleku menyuruhku untuk memasak sarapan.”Raut wajah Blaise berubah—menggelap, geram. “Penyihir, diperlakukan seperti budak untuk keluarga Muggle. Itu benar-benar menjijikkan,” gumamnya.Tanpa sadar Harry mempertanyakan apa sebenarnya pandangan Blaise mengenai Muggle dan penyihir Kelahiran Muggle. Greengrass jelas menganggap mereka lebih rendah. Davis sepertinya tidak masalah dengan mereka, tapi karena dia juga merupakan darah campuran, hal itu tidaklah mengejutkan. Harry sudah bisa melihat kalau ada aturan tidak resmi ketujuh di Slytherin: orang-orang yang mentolerir dan menerima Muggle dan Kelahiran Muggle secara prinsip tidak memprotes apa-apa, dan para pendukung supremasi kemurnian darah juga tidak menggunakan kata-kata “Darah Lumpur” atau “Muggle kotor” atau “Pengkhianatn darah” disetiap percakapan. Kecuali Malfoy, yang meskipun diseleksi masuk Slytherin sepertinya tidak memiliki akal sehat sedikit pun. Yang berarti meskipun Harry menyukai Blaise, atau dia pikir dia suka, mereka pastinya belum cukup dekat untuk membicarakan hal tersebut. Dia bahkan belum membicarakan topik tersebut dengan Theo.Mereka sarapan dan berspekulasi mengenai kelas-kelas mereka saat Aula Besar perlahan-lahan semakin penuh. Harry senang melihat Longbottom dan Granger datang bersamaan, dan mereka berdua mengangguk menyapanya dan Theo sebelum berjalan ke meja Gryffindor."Berteman dengan musuh kita, Potter?" komentar Blaise malas.Theo menatapnya tajam tanpa terlalu serius. “Kami bertemu dengan mereka saat di kereta. Mereka berdua lumayan. Kalau mereka bisa menghindari tertular dari kebodohan Gryffindor.”“Kalau ada yang bisa menghindari kebodohan, orang itu adalah Granger,” ucap Harry datar. “Lebih bagus lagi kalau Granger bisa mengajari Longbottom untuk lebih percaya diri dan berani, dan Longbottom mengajarinya balik tentang tata krama dunia sihir.”Blaise melihat di antara mereka dan meja Gryffindor. “Anak itu Kelahiran Muggle?”Harry mengangguk seakan-akan hal itu sama sekali bukanlah masalah.Terlihat Blaise sama sekali tidak tertipu dengan aktingnya, tapi tidak memberikan komentar apapun. “Longbottom… mereka keluarga tua bukan?”“Darah Murni setidaknya empat belas generasi kebelakang kalau aku tidak salah,” setuju Theo.“Yah, aku rasa mereka tidak terlalu buruk sebagai teman dari Gryffindor.” Blaise menatap mereka berdua. “Kalian tahu kan akan susah menjaga status sosial kalian di Slytherin kalau berteman dengan anak Kelahiran Muggle dari Gryffindor?”“Aku tidak bodoh,” balas Harry sinis.Blaise mengangkat bahunya dan kembali memakan sarapannya.Tepat tiga menit sebelum jam delapan, saat waktu sarapan resmi di mulai, Malfoy berjalan masuk santai dengan rombongannya Parkinson, Bulstrode, Crabbe, dan Goyle. Greengrass dan Davis berjalan di belakang mereka dan duduk di tengah-tengah antara kelompoknya Malfoy dan Harry, Blaise, dan Theo.Tidak lebih dari tiga puluh detik setelah mereka duduk, Snape turun dari podium sembari membawa setumpuk perkamen. Wajahnya sedingin es dan suaranya rendah sehingga mereka semua harus benar-benar diam untuk mendengarkan apa yang dia katakan ditengah-tengah keributan Aula saat jam sarapan. Dia menginstruksikan mereka untuk datang ke kelas tepat waktu, bersikap dengan sopan, dan jangan mencari-cari masalah. Yang terakhir disertai dengan cemooh tajam yang dia tujukan ke arah Harry. Harry menjaga raut wajahnya sesopan dan sehormat mungkin, tangan dia letakkan di atas meja, dengan bahasa tubuh setidak mengancam yang dia bisa lakukan tanpa harus menundukkan kepalanya.Snape membagikan jadwal mereka dengan satu cemoohan terakhir dan berjalan pergi.Harry melirik jadwalnya."Herbologi dengan Ravenclaw, Pertahanan dengan Gryffindor, dan Transfigurasi," kata Nott. "Hari ini akan menjadi hari yang luar biasa."
----- CHAPTER BREAK -----
Harry merasa sedikit bosan dengan dua hari pertama mereka di sekolah. Kelas Herbologi, Transfigurasi, Mantra dan Pertahan menghabiskan pertemuan pertama mereka membahas sistem keamanan, peraturan kelas, dan teori. Dari seluruh kelas, hanya kelas Pertahanan dengan Gryffindor lah yang lumayan menarik, dan meskipun begitu, karena adanya Quirrel, bahkan Malfoy saja tidak melakukan apapun selain mencibir sesekali. Harry menghiraukan Finnegan dan Weasley yang melotot tajam ke arahnya, dan mengangguk menyapa Longbottom dan Granger saat dia melihat mereka. Kelas Herbologi terasa lebih mudah. Dia dan Theo biasanya berkelompok dengan Li dan teman barunya Lisa Turpin; dengan Blaise, Greengrass, Davis dan Goldstein duduk berkelompok di meja samping meja mereka. Harry tidak begitu menyukai Herbologi, tapi setelah bertahun-tahun berkebun di halaman keluarga Dursley, setidaknya dia sudah terbiasa bekerja dengan tanah. Meskipun begitu melihat bunga yang bernyanyi tetaplah sesuatu yang baru untuknya.Dia akhirnya memutuskan untuk menulis surat untuk James pada hari ketiga mereka bersekolah.
James,
Kamu mungkin tidak senang aku diseleksi masuk Slytherin. Aku harap ini tidak akan menjadi permasalahan di antara kita. Aku masih ingin mencoba untuk kita semua menjadi keluarga. Aku janji aku tidak diindoktrinasi dengan ideologi kepercayaan orang-orang darah murni. Theo Nott tidak mempercayai hal-hal seperti itu, dan kalaupun ada yang mempercayainya, mereka tidak menyebarkannya kemanapun. Kecuali Malfoy, tapi aku yakin Jules dan aku setuju kalau Malfoy menyebalkan.
Sejauh ini kelas-kelasnya menarik. Aku sangat suka kelas Transfigurasi. McGonagall sangat tegas tapi cara mengajarnya hebat. Kelas Pertahanan terlihat seperti lelucon. Seluruh ruang kelas penuh dengan bau bawang putih.
Slytherin dan Gryffindor mendapat kelas yang sama di Pertahanan. Bisakah kamu memberitahu Jules untuk menghentikan Weasley mengutukku dari bawah meja? Mengucapkan mantra perisai setiap tiga menit mulai terasa menjengkelkan.
-Harry.
Dia membaca ulang surat tersebut, memutuskan kalau surat itu sudah cukup panjang tapi juga tidak terlalu ramah, dan pergi sendiri ke Owlery pada jam makan siang, membiarkan Theo dan Blaise berdebat mengenai sesuatu yang tadi pagi dibahas di Herbologi dengan Sue dan Lisa yang bergabung dengan mereka di meja Slytherin.Alekta bertengger di dekat loteng saat Harry berjalan masuk ke Owlery yang berbau hampir seperti Toko Serba Ada Eylops. Dia memanggil nama burungnya, dan Alekta memekik pelan saat dia terbang turun dari tempatnya bertengger ke bahu Harry.“Anak pintar,” pujinya pelan sembari mengelus punggung dan kepalanya. Elang tersebut mengeluarkan suara kwaa pelan dan mematuk rambutnya saat dia bergerak untuk mengikat surat ke cakarnya. “Tolong antarkan surat ini untuk James ya? Aku tidak tahu apakah dia akan membalas, tapi mungkin kamu bisa menunggu beberapa menit untuk melihat apakah dia akan membalas atau tidak?”Harry tidak tahu seberapa jauh Alekta dapat mengerti apa yang dia katakan, tapi elang itu mengeluarkan suara kwaa kwaa lagi dan dalam beberapa kepakan sayap terbang pergi keluar jendela yang terbuka.Harry melihat keluar jendela dan melihat Alekta terbang melesat ke selatan, memperhatikan kecantikan daerah Hogwarts yang tersinari cahaya matahari September. Dia sadar kalau dia mungkin akan telat ke grup belajar yang mereka janjikan untuk dilakukan saat jam bebas mereka, dan segera berlari menuruni tangga.Di pertengahan jalan menuju perpustakaan, dia mendengar suara Peeves terkekeh membicarakan botol-botol tinta. Harry memutuskan bahwa hal itu tidak terdengar bagus, terutama karena dia dapat mendengar suara tersebut mendekat ke arahnya. Dia berbalik dan berlari menyusuri lorong yang telah dia lewati, mencari ruang kelas terdekat dan mencoba untuk membuka pintunya. Pintu itu tidak bergerak.“Alohomora,” desisnya, dan saat mantra itu tidak berhasil, dia mencoba mantra lain “Dissolvere incantatem, aperiportus!”Pintu tersebut berbunyi, dan dia mendorongnya terbuka, masuk ke dalam, dan menutup pintunya tepat sebelum Peeves melewati koridor tersebut.Harry menghela napas lega.“Lihat siapa yang ada di sini,” ucap seseorang.Dia berbalik, mengeluarkan tongkatnya dengan jantung berdegup kencang.Si kembar Weasley. Menyengir ke arahnya.Harry melihat Anak Sapu—dia tahu bagaimana membedakan mereka berdua, meskipun belum dapat memastikan siapa yang George dan siapa yang Fred—memasukkan selembar perkamen ke dalam tasnya. Jelas si kembar ini lebih cerdik dan pintar menyelinap daripada anak-anak Gryffindor pada umumnya, tapi dengan pengalamannya bersama keluarga Dursley dan anak-anak Slytherin, Harry juga cukup cerdik dan dapat mengenali orang-orang yang sama cerdiknya.“Ternyata ada Potter si ular kecil di sini,” ucap Anak Sapu. “Apa yang sedang kamu rencanakan—““—berjalan-jalan dengan mantra pembuka kunci kelas empat?” lanjut Anak Kolam.Harry mengangkat bahunya. “Aku bersembunyi dari Peeves, dan ada teman yang mengajariku mantra itu.”“Mantra apa yang kamu gunakan? Aperiportus?” tanya Anak Sapu.“Ditambah Dissolvere Incantatem.”“Hebat.”“Untuk anak kelas satu.”Harry mengangkat bahunya lagi. “Jadi apa kalian juga bersembunyi dari Peeves, atau sedang merencanakan… hal lain?” tanyanya, melirik kardus bersih yang terletak di atas meja penuh debu di belakang anak kembar itu.Mereka menyengir bersamaan.“Aduh, Potter.”“Kami tersinggung kamu berpikir—““—kalau kami berencana melakukan keisengan.”“Kami hanya sedang mengurus bisnis kami sendiri.”“Sangat tidak bersalah. Polos.”Harry mendengus tertawa. “Aku yakin kalian tidak pernah polos.”Sengiran anak kembar itu melebar tapi mereka tidak mengatakan apa-apa.“Baiklah,” lanjutnya. “Yah, kalau kalian sedang tidak ada ide, aku punya info—“ yang didapatkan dari Susan Bones yang suka menguping dan bergosip, yang kebetulan berteman dengan Lisa Turpin dari Ravenclaw, yang bekerja satu meja dengan Harry di Herbologi— “kalau seorang Cedric Diggory malam ini berencana untuk keluar asrama diam-diam untuk bertemu dengan seorang anak Ravenclaw yang tidak diketahui identitasnya. Dan aku sempat mendengar kalau kalian dan Diggory tidak begitu menyukai satu sama lain setelah ada sesuatu yang terjadi di pertandingan Quidditch tahun lalu.” Cerita itu sudah berulang kali diceritakan selama musim panas, dan setidaknya tiga kali diulang saat Harry dapat bisa mendengarnya.Saat Harry selesai bercerita, sengiran si kembar telah berubah menjadi senyum yang sangat lebar.“Sampai jumpa lagi,” sapa Harry sambil memeriksa bahwa Peeves sudah tidak ada sebelum dia meninggalkan ruangan tersebut dan segera pergi menuju perpustakaan. Dia akan belajar kelompok dengan Theo, Blaise, Greengrass, Davis, dan siapapun anak Ravenclaw lain yang dapat Goldstein ajak untuk mempelajari teori Transfigurasi yang rumit bersama-sama. ~oOo~ Keesokan harinya, Harry tidak mendapatkan surat balasan dari James.Ada perasaan dingin dan berat yang dapat dia rasakan dalam perutnya tidak peduli seberapa keras dia mencoba meyakinkan dirinya kalau dia tidak peduli apa pendapat ayahnya mengenai dirinya. Tidak peduli seberapa keras dia mencoba meyakinkan dirinya kalau dia tidak mencari sayap gelap dan bintik-bintik oranye di kepala Alekta di antara kerumunan burung hantu yang membawa surat saat sarapan pada Kamis pagi.Baik Theo dan Blaise, yang tahu tentang surat tersebut, memandangnya dengan tatapan yang dia tidak bisa baca. Harry mengacuhkan mereka. Drama keluarganya adalah urusannya sendiri.“Belajar kelompok setelah kelas?” tanya Harry.Greengrass mendengus angkuh. “Kurasa kalian bisa berguna.”“Hentikan, Daphne,” ejek Theo. “Kalau bukan karena Harry dan Blaise, kamu tidak akan berhasil melakukan Transfigurasi korek api.”“Kamu juga tidak akan bisa,” balasnya.“Setidaknya aku tidak bertingkah seakan aku tidak menganggapnya berguna.”Harry hiraukan mereka dan memandang Davis dengan satu alisnya terangkat.Dia mengangkat bahunya. “Kenapa tidak. Aku kesulitan di kelas Mantra.”Harry juga memiliki kesulitan di kelas Mantra. Teori Transfigurasi sangatlah rumit, dan sama seperti yang lain, sangat sulit untuk dia pahami, tapi dia dapat melakukan bagian praktikalnya dengan baik. Setelah Blaise, Harry adalah anak kedua Slytherin yang berhasil mengubah korek apinya menjadi jarum. Dalam Transfigurasi, hal terbesar yang harus dilakukan saat mempraktikkannya adalah mengerahkan kemauan untuk merubah benda yang ada. Harry bukanlah seseorang yang kekurangan Kemauan maupun Tekad.Mereka berhasil mengajak Goldstein, Sue, dan Lisa untuk bergabung, dan Harry pikir dia dapat meyakinkan Justin Finch-Fletchley dan Hannah Abbot dari Hufflepuff untuk ikut juga. Hari rabu kemarin setelah kelas selesai dia sudah pernah mengobrol dengan mereka selama lima belas menit di ruang belajar yang dibuka untuk seluruh murid di lantai dua, dan keduanya terlihat seperti anak yang baik. Harry sebenarnya juga lumayan menyukai Susan Bones, tapi dari yang dia dengar dari Lisa, Jules Potter dan Ron Weasley menyebarkan rumor kalau Harry adalah calon Pangeran Kegelapan, dan Susan mempercayai apa yang mereka katakan.Mau bagaimanapun, dia sedang membuat aliansi di Ravenclaw, dan dia juga mempunyai beberapa orang di Hufflepuff yang mungkin bisa beraliansi juga dengannya. Yang kurang hanyalah—“Bagaimana dengan Longbottom?” tanyanya santai.Blaise meliriknya sambil meminum teh. “Aku dengar dia payah dalam hal apapun yang menggunakan tongkat sihir.”Harry mengangkat bahu. “Dia tetap berasal dari keluarga yang berpengaruh.” Greengrass dan Theo menghentikan argumen mereka untuk mendengarkan. “Dan dia jenius di Herbologi. Terus terang saja Blaise, kita butuh bantuan untuk kelas itu.”“Aku bisa membantu,” protes Theo dengan raut wajah tersinggung.“Kamu tidak pandai mengajar,” balas Blaise datar. “Sedikit saran: kalau kamu ingin menjelaskan sesuatu, coba kurangi hinaan penuh sarkasmu, dan perbanyak menerangkan.”“Yah, sulit juga kalau kalian semua sangat bodoh—““Haruskah kamu berdebat dengan semua orang Theo?” potong Davis. “Sebagian dari kita ingin mencoba lebih produktif.”“Dan lagi pula kamu tidak perlu berlatih berdebat juga,” tambah Harry, membuat Davis tertawa dan Greengrass menyengir, yang merupakan hal terdekat dan terjelas dari gadis itu menunjukkan rasa gelinya.“Longbottom memang berasal dari keluarga berpengaruh,” setuju Greengrass sambil berpikir. “Kalau dia berubah sikap dan mengejutkan semua orang, berhubungan baik dengannya akan berguna.”“Kita beruntung,” keluh Blaise masam. “Dia satu-satunya anak Gryffindor yang baik, dan kalian berempat bertemu dengannya di kereta.”“Berbicara tentang Gryffindor…” Harry bergumam, melihat Weasley, Finnegan, dan Jules masuk ke aula. Mereka langsung mengalihkan pandangan mereka ke arah meja Slytherin dan melakukan ritual pagi melototi-Harry mereka. Harry hanya mengangguk ramah ke arah mereka dan melanjutkan sarapannya.Blaise menggelengkan kepalanya. “Kamu terlalu baik kepada mereka.”“Aku tidak akan menunjukkan pertengkaran antar saudaraku secara umum,” terang Harry. “Kalau Jules ingin memulai pertengkaran di sini, itu pilihannya, tapi aku tidak akan memulainya duluan.”“Dan itu memberikanmu status sosial yang lebih tinggi daripadanya,” komentar Greengrass mempertimbangkan. “Awalnya aku meragukanmu, Potter, tapi kamu berpikir selayaknya anak Slytherin.”Harry menyengir ke arahnya. Dia mulai dapat mengenali cara berpikir anak-anak ini. Dia tidak bisa menghilangkan kewaspadaannya, tapi dia sudah cukup nyaman untuk tidak menjadi sediam dan kaku seperti sebelumnya. “Wah, Miss Greengrass, itu adalah hal terbaik yang pernah kau katakan kepadaku.”Greengrass menyengir ke arahnya dan berbalik badan. ~oOo~ Harry berhasil bertemu Longbottom sehabis sarapan. Anak Gryffindor itu sedang menuju kelas Herbologi dan hampir terlambat; Harry sendiri mengambil risiko telat memasuki kelas Transfigurasi untuk melakukan ini, tapi ini adalah kesempatan terakhirnya bertemu Longbottom seorang diri. Dia tidak ingin berurusan dengan kericuhan yang pasti terjadi kalau dia mengajak Longbottom di sekeliling anak Gryffindor lainnya di kelas Pertahanan.“Longbottom!” panggilnya.Longbottom terlihat agak gugup. “Ya?”“Jangan memandangku seperti itu, aku tidak akan memakanmu,” tenang Harry. “Anak-anak yang kemarin bertemu di kereta membuat grup belajar. Setelah kelas Pertahanan gabungan kita, seluruh anak kelas satu akan ada jam bebas, dan kita nanti akan berkumpul di perpustakaan saat itu. Mau ikut?”“Eh—tentu,” setuju Longbottom.“Dan mungkin kamu bisa mengajak Granger,” saran Harry. Dia tidak bisa menanyakan hal itu saat sarapan tanpa menjelaskan sesuatu yang lebih baik tidak dibicarakan di meja Slytherin, tapi dia tetap ingin Granger ikut dengan mereka. Alasan pertama karena Granger pasti anak jenius kalau dia dapat mengingat seluruh isi dari buku pelajaran mereka, dan kedua karena dia ingin bereksperimen dengan zona nyaman Greengrass dan mungkin Blaise. “Tapi kalau ada yang bertanya, bilang kalau aku tidak secara khusus menyebutkan dia ya, oke?”Longbottom mengerutkan kening. “Kenapa?”Harry menghela nafas. “Tidak semua Slytherin dengan mudahnya menolah Politik Darah seperti Nott dan aku. Anak-anak dari sesi belajar itu tidak akan ada yang protes, tapi bukan berarti aku bisa begitu saja meminta mereka mengajak Granger. Kamu boleh, dan secara teknis Granger tidak, tapi kalau dia datang bersamamu…” dia diam membiarkan Longbottom menyimpulkan.“Aku senang aku tidak masuk Slytherin,” gumam Longbottom, lalu langsung tampak ketakutan. “Aku tidak bermaksud—““Aku tidak tersinggung. Usulkan saja pada Granger kalau kalian berdua akan bergabung dengan anak-anak dari kereta di perpustakaan untuk belajar,” ingatkan Harry.“Sampai jumpa di Pertahanan.”Harry berjalan pergi, dan hampir terlambat memasuki kelas Transfigurasi. ~oOo~ Kelas Pertahanan itu menarik. Para Slytherin dan Gryffindor saling mencibir satu sama lain meskipun duduk berseberangan sebelum Quirrel memulai kelasnya, dan setelah kelas mulai mereka diam tapi tetap dengan suasana bermusuhan. Weasley terus melemparkan kutukan penyengat ke arah Harry sampai akhirnya Harry memanfaatkan saat Quirell berbalik dan membalas membisikkan kutukkan kaki agar-agar kepadanya. Weasley dan Finnegan menghabiskan beberapa menit mencari mantra pembatalnya di buku mereka, mengalihkan perhatian mereka dari Harry di setengah waktu terakhir kelas tersebut.Tepat saat kelas berakhir, Harry langsung pergi menuju ke perpustakaan. Dia sengaja mengatur meja untuk grup belajar mereka agar mereka pas memiliki dua kursi lebih di ujung meja di tempat yang paling jauh dari kursi yang Greengrass dan Davis duduki pada sesi belajar sebelumnya. Lebih baik kalau dia tidak langsung melempar Granger dan Greengrass di satu tempat yang sama.Rencananya berhasil. Harry memandang Theo tajam, memperingatinya untuk tidak duduk di kursi yang sudah dia rencanakan sebagai tempat untuk kedua anak Gryffindor, dan Theo menangkap apa yang dia sampaikan; dia dan Blaise duduk di sebelah kanan Harry. Justin dengan semangat duduk tepat di sebelah kiri Harry dan anak-anak Hufflepuff dan Ravenclaw lain duduk bercampur di sisi meja yang lain, dengan Greengrass dan Davis duduk berseberangan dengan Blaise. Yang terakhir sampai adalah Longbottom dan Granger, dan meskipun Greengrass menatap tajam mereka dengan pandangan yang dingin, Finch-Fletchley dan Sue dan Anthony menerima mereka dengan ramah.“Kerja bagus,” bisik Theo di kuping Harry saat mereka mengeluarkan buku pelajaran Mantra mereka.Harry menyengir ke arahnya. “Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan.”“Tentu saja kau tak tahu,” setuju Theo dan menghentikan pembicaraan mereka.Yang mengejutkan, selain Theo, Finch-Fletchley lah yang berhasil menangkap apa yang direncanakan Harry. Dia menarik Harry sebentar setelah mereka keluar dari perpustakaan. “Yang kamu lakukan tadi itu bagus,” pujinya.“Apa sebenarnya yang bagus?”“Aku tahu kalau kamu yang mengajak Granger untuk datang,” jawab Finch-Fletchley terus terang. “Dan aku tahu kalau mungkin kamu punya alasan Slytherin yang tidak aku ketahui, tapi kamu berhasil membuat setengah anak Slytherin kelas satu duduk belajar bersama dengan dua anak Kelahiran Muggle tanpa ada satupun komentar mengenai kemurnian darah, yang dari yang aku dengar sangatlah jarang terjadi. Ngomong-ngomong, Jules Potter berpikir kalau kamu adalah semacam maniak sosiopat jahat, dan setiap hari dia terus berbicara seperti itu ke seluruh Gryffindor dan Hufflepuff, tapi aku rasa dia itu bodoh dan aku akan mengatakan hal tersebut kepadanya nanti.”Harry tidak suka seluruh rencananya dibeberkan dengan jelas seperti itu, terutama di depan Blaise, yang dia harap tidak mengetahui tentang hal ini untuk lebih lama, tapi yah, namanya juga anak Hufflepuff. Sangat terus terang, kecuali saat mereka tidak ingin.“Aku tidak tahu kalau kamu Kelahiran Muggle,” balasnya dengan jawaban yang netral. “Dan aku harap kamu tidak akan membeberkan tentang apa yang terjadi hari ini ke siapapun.” Dia harap si Hufflepuff ini cukup pintar untuk mengerti kalau hal itu hanya akan memperumit posisi Harry di Slytherin. Sejauh ini, sebagian besar anak kelas atas tampaknya puas mengacuhkan anak kelas satu, tapi di antara mereka pasti ada beberapa orang yang mendukung agenda darah murni yang kalau mereka mau dapat membuat hidupnya lebih sulit.Finch-Fletchley mengangguk. “Aku mengerti.”“Apa?” tanya Theo, “kamu pikir Finch-Fletchley nama keluarga Darah Murni tua?”Blaise hanya diam. Harry mengangkat bahu, mengakui pertanyaannya Theo. Sejujurnya dia tidak pernah memikirkan hal itu juga.“Ngomong-ngomong,” ucap Finch-Fletchley. “Kalian anak Slytherin terlalu formal, dan nama keluargaku susah diucapkan. Bisa kita saling panggil dengan nama depan?”Harry mengangkat bahu. “Aku mau saja. Tapi aku tidak bisa memaksa yang lain. Sampai nanti.”Dia berbalik arah dan berjalan pergi, sengaja membiarkan Theo dan Blaise memutuskan apakah mereka akan memulai pertemanan dengan anak Hufflepuff itu.“Panggil aku Theo,” dengarnya, lalu terdengar sapaan pergi dari si Hufflepuff. Jadi Blaise memutuskan untuk tidak melakukannya.Harry menahan helaan nafas saat kedua anak Slytherin itu berhasil mengejarnya, dan mereka bertiga berjalan bersama dengan Theo di tengah mereka. Setidaknya ada kemajuan.“Jadi tadi itu sengaja,” komentar Blaise dengan nada sangat netral.Harry melirik ke arahnya. Mata Theo terlihat tajam memperhatikan mereka berdua dengan seksama. “Aku tidak tahu kalau Fi—Justin itu Kelahiran Muggle.” Dia tidak mengatakan apapun lagi, yang sama saja dengan mengakui kalau dia merencanakan agar Granger ikut sesi belajar mereka.Blaise berpikir selama beberapa menit.“Granger penyihir yang pintar,” akuinya. “Kalau ada yang mengajarinya tata krama, aku tidak ada masalah dengannya.”Dan itu sudah sebagus yang Harry harapkan.“Terutama kalau bisa melihat raut wajahnya Greengrass seperti tadi,” tambah Blaise. “Aku setuju dengan sesuatu yang dapat mengganggu yang mulia ratu es itu.”Harry dan Theo tertawa dan ketegangan di antara mereka menghilang. ~oOo~ Harry berbicara dengan Granger keesokan harinya.Dia memperhatikan kalau biasanya setiap pagi Granger datang ke Aula Besar sendirian atau bersama Longbottom. Mereka berdua sepertinya agak terkucil di Gryffindor. Sebetulnya Harry tidak peduli dengan kehidupan sosial mereka, tapi dia tahu janji dapat mendapat teman akan menjadi motivator yang kuat untuk keduanya terus ikut grup belajar mereka, dan hanya itu yang dia butuhkan.Dia bersembunyi di balik Tangga Besar depan Aula sampai kebanyakan dari kerumunan anak Gryffindor masuk ke Aula, bersembunyi kembali sebelum Jules dan Ron dapat melihatnya, dan keluar tepat untuk mengejar Granger dan Longbottom berjalan agak lebih di belakang anak-anak yang lain.“Granger,” panggilnya.Granger dan Longbottom berbalik, keduanya dengan tampang terkejut.“Potter,” sapa Longbottom.Harry mengangguk sapa ke arahnya. “Longbottom. Boleh aku pinjam Miss Granger sebentar?”Longbottom terlihat agak kaget. “Ah, iya—eh, maksudku tidak, tidak masalah. Aku akan menjaga tempat duduk untukmu Hermione,” tambahnya sebelum masuk ke Aula Besar dengan sesekali melihat ke belakang ke arah mereka.Hermione melihat Harry dengan hati-hati. “Apa yang kamu mau?” tanyanya, tidak dengan kasar.“Jangan di sini,” balas Harry dan langsung berjalan ke lorong kecil yang ada di balik, di bawah tangga. Mereka berada di lokasi yang jika salah satu dari mereka berteriak suara mereka masih akan terdengar dari Aula, tapi tetap tertutup dari banyak orang kecuali ada yang sengaja mencari mereka atau mungkin dapat melihat dalam kegelapan.Harry menarik napas panjang dan menatap mata Granger. “Oke, tolong jangan tersinggung dan salah sangka, tapi keterampilan sosialmu harus ditingkatkan. Terutama masalah tata krama,” ucapnya tegas.Granger terlihat jengkel. “Oh, benarkah?”“Aku rasa dulu kamu pasti sekolah di sekolah yang menghargai partisipasi murid di dalam kelas,” lanjut Harry mengingat pengalamannya di sekolah Muggle. Di sana guru yang baik biasanya menyukai kelas yang aktif dan jelas Granger mendapatkan pendidikan yang bagus.Raut wajah Granger berubah dari kesal menjadi ingin tahu. “Betul. Bagaimana kamu tahu?”“Aku dibesarkan dengan Muggle,” jawab Harry. “Aku rasa obrolan saat di kereta kemarin sudah melewati ini saat kamu masuk ke kabin, tapi intinya aku baru tahu mengenai dunia sihir saat bulan Juli. Aku menghabiskan musim panasku membaca buku, dan ada banyak tata krama sosial—kecil maupun besar—yang biasanya tidak disadari dan diketahui oleh penyihir Kelahiran Muggle. Aku kurang lebih sama dengan penyihir Kelahiran Muggle, hanya saja aku sempat belajar singkat mengenai tata krama dunia sihir saat musim panas sedangkan kamu tidak. Aku pikir akan lebih mudah kalau kamu mengakui hal tersebut.”Sekilas Granger terlihat sangat marah sebelum dia menarik napas panjang dan jelas meyakinkan diri sendiri kalau Harry benar. “Jadi aku harus bagaimana?” tanyanya.“Pertama-tama, hentikan mengangkat tanganmu di kelas,” jelaskan Harry terus terang. “Aku tahu kalau hal itu biasa atau bahkan dianjurkan di sekolah umum Muggle, tapi di sini hal itu hanya akan membuatmu terlihat seakan kamu menganggap anak-anak sekelas lebih bodoh darimu. Tunggu untuk dipanggil. Lalu untuk di grup belajar, coba untuk tidak terdengar seperti kamu menunjukkan kekurangan semua orang dan lebih seperti kamu sedang membantu mereka.”Granger mengernyitkan dahinya. “Aku tidak tahu… tentang mengangkat tangan itu.” Tiba-tiba mukanya memerah. “Seminggu ini aku selalu melakukannya ya?”“Aku jelas menyadarinya saat kelas Pertahanan,” jawab Harry dan memperhalus bahasa tubuhnya untuk tersenyum ke anak perempuan di depannya. “Yang paling jelas itu. Dan—begini, sudah jelas kalau kamu mengerti material pelajarannya dan kalau kamu itu pintar. Aku tahu rasanya sekolah di sekolah Muggle, tapi di sini kamu tidak perlu berusaha sekeras itu untuk membuktikannya kepada semua orang.”“Baiklah,” setuju Granger. “Akan… aku pikirkan.”“Minta bantuan ke Longbottom,” saran Harry. “Keluarga dia salah satu Keluarga Sihir Tua, tapi dia terlalu pemalu untuk mengatakan sesuatu meskipun dia menyadari hal yang sama denganku.” Dan pasti Longbottom menyadarinya. “Anggap saja kita seperti sedang pergi ke negara lain. Mempersiapkan diri untuk perbedaan budaya pasti membantu bukan? Aku tidak menyarankanmu untuk mengubah prinsip atau hal seperti itu, hanya saja, coba untuk belajar budaya dunia sihir.”“Apakah ada buku-buku yang dapat membantu penyihir Kelahiran Muggle menempatkan diri di Hogwarts yang bisa kamu sarankan?” tanya Granger tiba-tiba dengan mata berbinar. Harry mengenali tatapan mata seperti itu. Theo juga seperti itu kalau sedang membicarakan buku, dan Harry yakin kalau dia juga terlihat sama.“Ada beberapa,” akuinya. “Aku sengaja mencari buku-buku tersebut di toko buku sebelum kita masuk sekolah. Kalau tidak salah kita ada sesi studi lagi besok, aku bisa bawakan beberapa kalau kamu mau pinjam.”“Ya kalau boleh aku ingin pinjam,” setuju Granger sambil tersenyum ragu ke arahnya. “Terima kasih.”“Sama-sama, Miss Granger,” balasnya dengan senyum terbaiknya, senyum yang biasanya dia gunakan kalau dia ingin sesuatu dari para guru.Granger tertegun. Mengingat bagaimana bagi anak-anak yang bukan Slytherin Harry biasanya terlihat diam, melihatnya tersenyum seperti itu mungkin agak mengejutkan.Granger melangkah pergi beberapa langkah, lalu berbalik, mengernyitkan dahinya. “Kamu tidak ke Aula?”Harry menggeleng kepalanya. “Politik Slytherin,” terangnya. “Aku tidak akan berjalan masuk ke Aula Besar dengan anak Kelahiran Muggle dari Gryffindor, akan ada banyak anak kelas atas yang memutuskan untuk mengutukku di lorong nanti.”Granger terlihat sedih.“Jangan mengasihaniku,” tegur Harry tajam. “Aku lebih memilih politik Slytherin daripada berurusan dengan Si Trio Bodoh.”“Aku yakin maksudmu itu Seamus, Ron, dan Jules,” kata Granger.“Pintar sekali kamu.”Granger memberinya pandangan merendahkan yang agak mengejutkan dapat dilakukan oleh anak berumur sebelas tahun dan dengan cepat masuk ke Aula. Harry menunggu beberapa menit sebelum dia masuk mengikutinya dan hampir tanpa diketahui duduk di tempatnya di antara Theo dan Blaise.“Bagaimana?” bisik Blaise.“Aku bilang pada Granger kalau dia terlihat seperti anak sok tahu dan dia harus meningkatkan keterampilan sosialnya,” jawab Harry. Dia tidak terkejut kalau Blaise dan Theo menyadari apa yang baru saja dia lakukan.“Terus terang sekali,” komentar Blaise datar.“Harus seperti itu kalau bicara dengan anak Gryffindor,” kata Theo ikut berbisik. “Kalau kamu mencoba berbicara halus dengan kode dan subteks kamu pasti masih terus mencoba menyampaikan maksudmu sampai makan siang nanti.”Blaise dan Harry tertawa. ~oOo~ Sore itu adalah kelas Ramuan pertama mereka. Harry merasa gugup. Tidak hanya karena Snape terlihat seperti ingin mengutuknya setiap dia melihat Harry, tapi juga karena Slytherin diharapkan untuk menjadi yang terbaik di kelas tersebut, dan mereka mendapatkan kelas tersebut dengan Gryffindor. Harry tidak yakin dia ingin berurusan dengan kutukan penyengat yang terus-menerus dilakukan oleh Weasley sambil berdiri di depan ramuan yang berbahaya. Dia sudah menghabiskan malam sebelumnya membaca empat bab pertama dari teks Ramuan tahun pertamanya secara rinci.Kedua grup asrama berbaris di lorong depan ruangan kelas Ramuan. Harry sengaja menghiraukan Jules dan anak buahnya, yang sepertinya sekarang juga termasuk dengan Parvati Patil, anak perempuan dengan rambut berwarna coklat seperti warna tikus, dan Dean Thomas; sembari menyapa Granger dan Longbottom dengan sopan sebelum kembali mengobrol dengan Theo dan Blaise.Pintu kelas terbuka tepat pada pukul 1 lewat 30 menit. Para Slytherin menangkap isyarat yang diberikan dan memasuki kelas terlebih dahulu, membawa kuali dan perlengkapan meramu mereka dan mengambil alih meja-meja kerja yang terletak di sebelah kiri kelas. Satu meja bisa berisikan empat orang. Harry, Theo, dan Blaise menempati meja yang sama; sedangkan Davis, Greengrass, dan Bulstrode berbagi meja yang lain; dan Malfoy, Crabbe, dan Goyle menempati meja terakhir. Para Gryffindor memasuki kelas dan jauh lebih berisik saat merapihkan kuali dan meja kerja mereka. Parvati dan anak perempuan berambut coklat pada akhirnya menempati meja yang sama dengan Granger dan Longbottom, dan tidak ada satupun dari mereka yang terlihat senang akan hal tersebut.Snape masuk dari belakang kelas dengan kibasan jubah hitam yang dramatis, memutar balik saat dia berada di depan kelas, dan memandang mereka semua dengan tatapan tajam.Harry tidak pernah berada dalam kumpulan anak umur 11 tahun yang lebih sunyi dari ini.“Lavender Brown,” panggil Snape, membaca dari gulungan perkamen.“Hadir,” jawab anak Gryffindor berambut coklat dengan pelan.Snape memanggil absensi kelas dengan lancar. Dia terdiam sebelum memanggil nama Harry, dan terdiam lagi saat sampai ke nama Jules. “Ah ya,” katanya pelan. “Julian Potter. Selebriti baru kita.”Malfoy dan kedua gumpalan daging bawahannya terkekeh. Harry, Blaise, dan Theo menunjukkan rasa geli mereka hanya dengan sengiran halus.“Hadir,” jawab Jules dengan tampang marah.Setelah dia selesai memanggil semuanya, Snape menggulung perkamen tersebut dan melihat ke arah mereka semua. Raut wajahnya datar, tapi entah bagaimana dia dapat membuatnya terlihat seakan dia sangat kecewa terhadap mereka semua. “Kalian berada di sini untuk belajar ilmu rumit dan seni membuat ramuan,” katanya memulai, dan langsung menyampaikan pidato dramatis yang jelas sudah disiapkan sebelumnya tentang potensi kecermelangan dari meramu yang tiba-tiba terputus dengan memangil kepala mereka semua kosong.“Potter!” panggil Snape tiba-tiba, dan kemudian mengoreksi dirinya sendiri. “Yang lebih muda!”Jules terlihat sangatlah marah saat diingatkan kalau secara teknis dia adalah kembaran yang lebih muda. Harry memutuskan kalau mungkin kelas ini tidaklah terlalu buruk.“Apa yang kudapat jika aku menambahkan bubuk akar asphodel ke cairan wormwood?”Jules menatap Snape tajam. “Saya tidak tahu, Sir.”“Terkenal jelas bukan segalanya,” cibir Snape. “Kita coba lagi. Dimana kau akan mencari jika kusuruh kau mengambilkan bezoar untukku?”Granger bergerak seakan ingin mengangkat tangannya. Harry melihat bagaimana Granger berhasil menahan dirinya dan tersenyum. Blaise juga menyadarinya dan mengangguk mengakui hal tersebut.Sementara itu, Jules masih tidak dapat menjawab apapun. “Saya tidak tahu. Mungkin kalau anda menyisir rambut berminyak anda agar tidak menutupi wajah, anda bisa mencarinya sendiri,” jawabnya tiba-tiba menyengir lebar. “Sir.”Mulut Harry menganga terkejut.Dia berhasil segera mengendalikan dirinya, tentu saja, karena Slytherin selalu tenang, tapi setidaknya bukan hanya dia yang terkejut. Finnegan dan Weasley terlihat senang, tapi anak Gryffindor lainnya terlihat takut, dan pada sebagian besar anak Slytherin raut wajah kaget terlihat jelas terpampang di wajah mereka.Mata Snape berkilau dengan kemenangan dingin. “Lima belas poin dari Gryffindor karena ketidaksopanan yang sangat terang-terangan,” komentarnya. “Apa bedanya monkshood dan wolfsbane?”“Bedanya sampo dan minyak zaitun?” balas Jules.“Lima belas poin lagi dari Gryffindor.”“Aku mengerti kenapa ayahku memanggilmu Snivellus,” bibir Jules meliuk mencibir layaknya anak Slytherin.Harry pikir dia bahkan dapat mendengar suara peniti terjatuh.“Dua puluh poin dari Gryffindor,” ucap Snape.Jules membuka mulutnya.“Permisi ya, sebagian dari kita ada yang berharap belajar Ramuan hari ini,” potong Granger terlihat sangat marah. “Jadi akan sangat bagus kalau kamu bisa diam dan biarkan pelajarannya berlanjut.”“Dia berani ya,” bisik Theo, alisnya terangkat.“Dia anak Gryffindor,” balas Blaise pelan.Snape melihat ke arah Hermione. “Lima poin untuk Gryffindor,” katanya perlahan. “Mr. Potter, apa kamu sudah selesai?”Jules sama sekali tidak terlihat ingin berhenti bicara, tapi dia hanya mengerutkan dahinya dan dengan bijak menutup mulutnya.Snape memfokuskan pandangannya ke Longbottom, yang terlihat sangat ketakutan. “Mari kita lihat apakah ada murid yang membaca bukunya sebelum memasuki kelas,” ucapnya dengan nada dingin meremehkan. “Mr. Longbottom, bisakah kamu menjawab apa perbedaan dari monkshood dan wolfsbane?”“Eh—mereka… mereka tanaman yang sama,” jawab Longbottom tergagap. “Ju—juga dikenal dengan nama aconite.”“Lima poin untuk Gryffindor.” Snape menyapu pandangannya ke sisi Slytherin, dan entah bagaimana Harry langsung tahu siapa yang akan dipanggil oleh Snape selanjutnya. Dia langsung menyembunyikan rasa gugupnya dalam raut wajah dingin dan tenang.“Potter yang lebih tua,” panggil Snape, mata hitamnya berbinar dingin. “Bisakah kamu menjawab kedua pertanyaan yang diberikan kepada kembaranmu tadi?”“Saya bisa, sir,” jawab Harry tenang. “Bezoar dapat ditemukan dalam perut kambing dan dapat digunakan untuk menetralisasikan racun kebanyakan. Bubuk akar asphodel dan cairan wormwood adalah bahan utama dari dari ramuan tidur yang sangat kuat.”“Lima poin untuk Slytherin,” ucap Snape. “Sungguh contoh yang menarik dari hasil asuh alam melawan didikan… Ada yang bisa memberitahuku di bagian mana dalam buku pelajaran kalian jawaban kedua pertanyaan ini dapat ditemukan? Mr. Malfoy?”“Ramuan Tegukan Hidup Bagai Mati dijelaskan secara detil pada bab pertama,” jawab Malfoy perlahan. “sebagai contoh, saya rasa, dari teknik keamanan dasar. Bezoar termasuk ke dalam daftar benda-benda berguna untuk dimiliki dalam laboratorium ramuan untuk keadaan darurat. Aconite adalah salah satu yang pertama disebutkan dalam buku 1000 Rempah dan Jamur Sihir.”“Lihat itu. Dia ternyata belajar,” bisik Blaise pura-pura terkejut.“Lima poin lagi untuk Slytherin,” kata Snape, mengibaskan tangannya ke arah papan tulis. Instruksi-instruksi muncul, tertulis dengan kapur. “Hari ini kita akan meramu ramuan penyembuh bisul untuk melihat kemampuan dasar kalian. Mulai.”Harry dan Theo saling berpandangan gugup dan mulai menyiapkan bahan-bahan mereka.Experimen Harry saat musim panas, meskipun terbatas dan amatir, membantunya sekarang. Buku yang dia baca juga membantu. Dia dan Theo berkerja sama dengan lancar. Theo lebih mengerti bahan-bahan yang ada tapi Harry lebih baik dalam proses pencampuran saat meramu; ada sesuatu dari keseimbangan halus dari satu bahan dengan yang lainnya yang mengingatkan Harry dengan memasak.Dia ternyata menyukai ritme meramu ini, setidaknya sampai saat Longbottom melelehkan kuali Granger.Dalam hitungan detik, asap berwarna hijau asam memenuhi ruang kelas dan para Gryffindor segera naik ke atas meja untuk menghindari ramuan berdesis tajam yang tumpah ke lantai. Longbottom merintih kesakitan saat bisul merah menyebar di wajah, leher, lengan, dan kakinya. Granger juga merintih sedikit karena dia ikut tersiram ramuan tersebut meskipun tidak separah Longbottom.“Anak idiot!” sembur Snape seraya membersihkan ramuan yang tumpah dengan sekali lambaian tongkatnya. “Pasti kau tambahkan duri-duri landak sebelum kualinya diangkat dari atas api kan? Finnegan, bawa mereka ke ruang kesehatan.”Finnegan terlihat sangat lega dapat kabur dari ruang bawah tanah, meninggalkan Thomas meramu sendirian.Setelah itu, Harry tetap diam dan hanya mengikuti instruksi kelas sampai akhirnya mengumpulkan ramuan yang dia yakin hampir mencapai hasil ramuan yang sempurna. Ramuannya sama bagusnya dengan ramuan Malfoy, dan setidaknya warnanya lebih dekat dengan warna jingga ideal yang disebutkan dalam buku daripada siapapun di kelas.Snape memeriksa botol ramuannya dengan wajah yang tak dapat terbaca saat Harry mengumpulkan botol tersebut, lalu meletakkannya bersama botol ramuan lainnya tanpa memberikan komentar.Theo mengajari Harry mantra pembersih yang berguna saat mereka merapihkan meja kerja mereka. Dia dan Harry menyimpan kuali dan peralatan meramu mereka di tempat yang disediakan untuk mereka di gudang dan bergabung dengan anak Slytherin lainnya berjalan keluar ruang bawah tanah untuk makan malam. ~oOo~ Minggu selanjutnya, tentu saja, mereka harus menghadiri kelas terbang dengan Gryffindor.“Aku tidak percaya ini,” gumam Harry. “Apakah mereka mencoba untuk membuat pertengkaran? Kenapa mereka memaksa menyatukan dua asrama yang saling membenci satu sama lain dalam kegiatan berkelompok?”“Untuk persatuan antar asrama?” saran Theo dengan muka yang datar sempurna.“Kita sudah menunjukkan hal tersebut,” komentar Blaise pedas. Pagi ini dia terlambat bangun dan suasana hatinya tetap terlihat buruk bahkan ketika sudah sore sekalipun. “Bahkan, aku yakin kita telah menemukan dan mengadopsi satu-satunya anak-anak Gryffindor yang lumayan baik di angkatan kita. Ngomong-ngomong, kerja bagus menjinakkan Granger, Harry, bergaul dengannya jadi lebih mudah minggu ini.”Harry mengangguk, sudah tidak terlalu mendengarkan. Dia terlalu bersemangat untuk terbang lagi.Para anak kelas satu berbaris di samping sapu-sapu yang terletak di tanah, bergeser mencari sapu-sapu terbaik. Malfoy seperti biasa tetap berbicara, mengeluh kepada Parkinson dan pengikutnya kalau sapu-sapu sekolah mereka itu terlalu payah dan ayahnya yang merupakan salah satu komite sekolah, akan mendengar tentang hal ini—Omong kosong biasanya.Harry melirik sapu yang berada di samping kakinya. Dia harus mengakui, dengan enggan, kalau apa yang Malfoy katakan itu benar. Sapu itu memang terlihat jauh lebih menyedihkan dibandingkan dengan sapu Cleansweep keluarga Potter.“Ada masalah, luluk Potty?” olok Weasley. “Takut kalau kamu akan jatuh ke danau lagi? Semoga kamu sudah belajar berenang ya.”Blaise mengernyitkan dahinya. Theo, yang telah mendengar tentang insiden danau itu menatap Weasley tajam. “Seriusan,” cemoohnya, “’luluk Potty’? Apa kau menghabiskan seharian ini untuk memikirkan kata itu?”Harry hanya menatap Weasley, menghadapkan tangannya ke sapu, dan berkata “Naik” sedatar yang dia bisa dengan betapa marahnya dia sekarang. Sapu tersebut melesat cepat dari tanah ke tangannya.“Tadi kau bilang apa Weasley?” balasnya.Weasley terlihat terkejut. Lalu sangat marah.“Lihat bagaimana kupingnya menjadi merah saat dia kesal,” komentar Blaise dengan tingkah seseorang yang sedang memperhatikan serangga yang aneh.Jules memegang pundak Weasley sebelum temannya dapat melompat melewati batas antara Gryffindor dan Slytherin. Dia juga terlihat kesal dan Finnegan terlihat melotot mengancam ke arah Blaise, tapi untungnya Madam Hooch muncul sebelum keadaan bertambah parah.Madam Hooch berjalan mondar-mandir memeriksa barisan anak kelas satu tersebut, membenarkan pegangan Malfoy dan posisi kaki Weasley dan mengangguk memuji Harry, Jules, dan yang menarik, Davis, yang Harry tidak tahu punya pengalaman terbang dengan sapu. Mereka baru akan mulai terbang rendah saat Longbottom tiba-tiba melesat terbang ke angkasa dengan berteriak.“Merlin,” Harry menghela napas saat menyaksikan kamerad Gryffindornya merosot dari sapu dan jatuh ke tanah dengan bunyi krak.Madam Hooch memeriksa keadaannya. Harry mendengarnya menggumam tentang pergelangan tangan yang patah sebelum membantu Longbottom berdiri, memperintahkan yang lainnya untuk tidak bergerak saat dia membawa Longbottom ke ruang kesehatan, dan berjalan cepat pergi.“Kalian lihat wajahnya yang bloon?” cemooh Malfoy, dan Crabbe dan Goyle tertawa bersamanya. Parkinson dan Greengrass menyengir. Pada situasi apapun, Harry merasa hal itu tidaklah pantas, tapi dia menghitung Longbottom dalam salah satu mungkin-temannya. Jadi sangat mudah untuknya memutuskan untuk menarik pergelangan kaki Malfoy dengan sihir tanpa tongkat. Malfoy jatuh terserunduk ke tanah.“Draco!” jerit Parkinson, menunduk membantunya berdiri.Malfoy berbalik, meludahkan rumput dan sangat marah. “Siapa yang melakukan hal tadi!”Para Gryffindor terlalu sibuk tertawa. Harry sengaja menunjukkan tangannya yang terbuka, tidak memegang tongkat, di tempat Malfoy bisa melihatnya.“Lihat!” katanya tiba-tiba, mengambil sesuatu dari rumput. “Si gemuk cengeng itu menjatuhkan Remembrallnya!”Harry ingat Longbottom membawa benda tersebut. Dia pikir benda itu tidaklah berguna, tapi tetap saja itu adalah hadiah dari neneknya Longbottom. Tentu saja Longbottom harus menjatuhkan dan meninggalkannya dan membuat hidup Harry menjadi semakin rumit. Dia menghela napas dalam hatinya, berkonsentrasi, dan mengambil Remebrall tersebut dari tangan Malfoy.Wajah Malfoy memerah dan dia mengambil Remembrallnya kembali, hanya untuk melihat benda tersebut menjauhinya.“Aku rasa Remembrall itu tidak terlalu menyukaimu,” komentar Greengrass sinis. Harry merasa dia dapat memeluk gadis itu dan dia bahkan tidak begitu suka menyentuh orang tanpa alasan tertentu. Dia dan Greengrass memiliki perbedaan, tapi dia dapat diandalkan untuk menjatuhkan harga diri Malfoy sedikit.“Diam kau,” balas Malfoy dengan pintar, dan kembali meraih Remembrall. Benda itu bergelinding pergi lagi.“Sini aku yang ambil,” kata Jules mendorong Malfoy dalam keterburuannya mengambil bola merah itu. Dan kalau Harry sengaja mengetukkannya ke dahi Jules Potter cukup keras untuk membuatnya sakit sebelum memindahkannya agar tidak dilihat orang, yah, dia bisa menggunakan alasan kalau itu terjadi karena kekacauan Malfoy dan Jules bertengkar ingin mengambil Remembrall tersebut.“Kemana bola itu pergi!” Weasley berseru mencari disekeliling.Jules dan Malfoy terlihat sedang berbisik bertengkar.Harry dan Theo ikut campur tangan untuk meredakan pertengkaran antara Parkinson dan Parvati Patil sebelum adu kata berubah menjadi adu kutukan, dan Granger berteriak tentang sesuatu menyulitkan semuanya, dia berbalik dan melihat, dari semua hal yang dapat terjadi, Jules Potter dan Malfoy terbang ke langit dengan sapu.“Aku tidak tahu kalau kelas terbang akan semenarik ini,” gumam Blaise. “Kalau aku tahu aku mungkin akan menantikan hal ini.”Harry memicingkan matanya, dan melihat Malfoy melempar sesuatu ke udara. Tongkat sihir Jules. Bagaimana bisa Malfoy mendapatkannya?Jules, tentu saja, terbang melesat mengikuti tongkatnya, sedangkan Malfoy terbang kembali ke kelompok mereka dan turun dari sapunya. Harry dengan enggan mengakui betapa halusnya Jules menangkap tongkatnya dan menghentikan sapunya tepat sebelum dia berubah menjadi panekuk di rumput. Kembarannya memang berbakat untuk terbang.“JULIAN POTTER!”Seketika Jules terlihat takut.McGonagall terlihat berlari ke arah mereka. Harry merasa Natal datang lebih cepat. Hooch telah mengancam dikeluarkan dari sekolah untuk siapapun yang tidak mengikuti perintahnya untuk tetap berada di tanah. Harry tidak yakin mereka akan mengusir Anak Laki-laki yang Bertahan Hidup di minggu kedua mulai sekolah, tapi akan sangat menarik seberapa jauh peraturan akan diringankan untuk Jules Potter.“Tidak pernah—dalam seumur kumengajar—berani-beraninya kau—bisa patah lehermu—“McGonagall terlihat hampir tidak bisa berkata apa-apa dengan keterkejutan dan amarahnya. Dia berjalan ke arah Jules seakan dirinya adalah malaikat pembalasan yang telah tua.“Bukan dia yang salah, Profesor!” protes Patil.“Cukup, Miss Patil,” potong McGonagall marah. “Julian Potter, ikut aku sekarang.”Jules mengikuti di belakangnya. Wajahnya tadi sudah pucat karena takut, dan sekarang mulai terlihat kehijauan.“Tapi Malfoy—““Aku bilang cukup, Mr. Weasley,” ucap McGonagall, yang pas menjadi penghias yang sempurna kalau menurut Harry, sembari membawa Jules Potter yang ketakutan kembali ke kastil. ~oOo~ Harry mencari Longbottom dan Granger di perpustakaan. “Bagaimana pergelangan tanganmu, Longbottom?” tanyanya mendudukin kursi di samping anak itu.Longbottom melompat terkejut, “Bagaimana kau bisa muncul tiba-tiba,” Longbottom menciak.“Rahasia Slytherin,” jawab Harry dramatis.Granger mendengus. “Ampun deh, Neville, kamu hanya terlalu berkonsentrasi dengan bukumu, itu bukan sesuatu mantra hitam.”“Pergelangan tanganku sudah membaik, terima kasih,” ucap Longbottom menggosokkan tangannya. “Madam Pomfrey menyembuhkannya.”“Syukurlah. Oh, sebelum aku lupa—“ Harry mengeluarkan Remembrall dari sakunya dan mengembalikannya ke Longbottom. “Kamu menjatuhkan ini saat kamu jatuh.”“Bagaimana kamu mendapatkannya?” tanya Longbottom kagum. “Kami mendengar bagaimana bola ini kabur dari Jules dan Malfoy.”Harry mengangkat bahunya dan membuka buku pelajaran ramuan. “Aku tadi balik ke sana dan mencarinya.” Dia sebenernya menyembunyikannya dari pandangan semua orang, memutar di sekeliling mereka dan tepat ke tangannya di belakang badannya saat perhatian semua murid teralihkan oleh McGonagall, tapi Longbottom tidak perlu mengetahui hal itu.“Terima kasih,” kata Longbottom.Harry mulai membaca dan berpura-pura mengacuhkan mereka.Kesunyiannya hanya berhasil ada selama tiga menit sebelum Granger menceplos, “Apa kamu sudah dengar apa yang McGonagall lakukan?”Harry mendongak berpura-pura terkejut. “Hm? Oh, maksudmu tentang Jules? Tidak, belum. Kan baru beberapa jam, rute gosip dari Gryffindor tidak sampai ke Slytherin secepat itu.”Longbottom terlihat gugup. “Hermione—““Dia juga akan tahu nantinya,” balas Hermione tegas. “Harry—McGonagall menjadikan Jules sebagai Seekernya Gryffindor.”Harry kehilangan rasa inginnya untuk pura-pura tidak tertarik dan menatap Granger marah. “Dia menjadikan apa?”“Iya,” akui Longbottom dengan sedih. “Katanya itu rahasia, jadi jangan kasih tahu siapa-siapa.”Harry sudah memikirkan bagaimana dia akan memberitahukannya ke Parkinson kalau kembarannya itu Seeker Gryffindor dengan cara yang membuat Longbottom dan Granger tidak akan dicurigai. “Tentu saja. Tapi seriusan? Dia pasti Seeker termuda dalam beberapa dekade.”“Seratus tahun malah,” benarkan Longbottom.“Bagaimana bisa?”“Ternyata peraturan sekolah itu tidak berlaku untuk Julian bloody Potter1,” sinis Granger kesal.Harry mengernyitkan dahinya ke anak itu. “Bahasamu, Miss Granger.”Granger melihat ke Longbottom, yang membalasnya dengan mencoba untuk menatapnya balik dengan tajam. Granger menipiskan bibirnya. Longbottom memiringkan kepalanya. Granger memalingkan pandangannya.Harry memutuskan untuk menyelamatkan mereka dari usaha menyedihkan mereka untuk melakukan komunikasi tanpa suara. Itu mungkin dapat dianggap sebagai komunikasi halus di Menara Gryffindor, tapi baru seminggu setengah di sekeliling para ular, dan Harry jadi mengasihani mereka pada usaha mereka untuk tidak ketahuan. “Oke, sudah jelas kalau ada sesuatu yang Longbottom ingin kasih tahu ke aku tapi kamu, Granger, ingin tetap rahasiakan. Yang berarti itu adalah sesuatu yang kemungkinan berhubungan dengan perselisihan loyalitas asrama. Apakah kalian mau kasih tahu atau tetap bermain permainan kaku menggoyangkan alis kalian ini?”Granger menatapnya tajam.Longbottom menghela napas. “Katanya, Malfoy menantang Jules dan Ron ke duel penyihir.”“Tentu saja,” komentar Harry lelah. “Kemungkinan besar itu adalah jebakan. Apakah kalian berdua bisa meyakinkan si Pameran Bodoh A dan B untuk tidak pergi?”Longbottom dan Granger berpandangan khawatir. “Kamu yakin itu jebakan?” tanya Granger ragu.“Itu adalah hal yang sangat Slytherin untuk dilakukan,” jelas Harry. “Aku mungkin bisa menghentikan Malfoy, tapi kalau duelnya malam ini sama saja tidak akan berguna. Dan tidak, aku tidak akan diam-diam keluar dan mencegah mereka. Aku lebih suka kalau jam bebas malamku tidak dihabiskan dengan detensi, oke? Ngomong-ngomong, sudah hampir jam malam dan lumayan jauh dari sini ke asramaku.” ~oOo~ Tepat saat dia sampai di ruang umum Slytherin Harry menandai Pansy Parkinson dan berjalan memutar ke arahnya sehalus dan serahasia yang dia bisa. Dia berdiam di ujung sofa yang diduduki Parkinson yang tergeletak di ujung meja. “Parkinson,” gumamnya.Hebatnya, Parkinson tidak mendongak dari buku-bukunya dan sikap badannya tetaplah santai. Dia telah terlatih dengan baik. “Potter,” balasnya sama kecilnya.“Kau tidak mendengar hal ini dariku,” bisiknya. “Menurut sumbaran Ron Weasley, setelah peragaannya hari ini Jules Potter telah dijadikan sebagai Seekernya Gryffindor.”Itu membuat Parkinson bereaksi, tapi Harry rasa tidak akan ada yang menyadarinya. Setidaknya kepalanya tetap menunduk. “Apa?” desisnya.“Akan sangat disayangkan kalau tim Slytherin tidak mengetahui hal ini,” renung Harry. “Sungguh keuntungan yang tidak adil yang didapatkan oleh tim Gryffindor... dan aku yakin Jules Potter akan jengkel ketika tahu kalau kecerobohan sahabatnya lah yang membuat rahasianya terbongkar.”“Kau tidak perlu memberitahu apa yang harus kulakukan dengan info ini,” bentak Parkinson pelan, tapi dia menatap Harry dengan pandangan menilai. Harry hanya menyeringai ke arahnya, menutup buku tentang kuali, dan melangkah pergi sesantai yang dia bisa.Dia harus mengucapkan selamat kepada Malfoy tentang rencana pintarnya. Meskipun dia tidak terlalu menyukai Malfoy, bukan berarti dia tidak akan memberikan pujian kepada yang pantas mendapatkannya. ~oOo~ Keesokan harinya, berita tersebut telah menyebar ke seluruh sekolah—Jules Potter adalah Seeker Gryffindor yang baru.Seluruh anggota tim Quidditch Slytherin protes, ditemani dengan setengah anggota Ravenclaw. Bahkan Cedric Diggory mengesampingkan persaingan pahitnya dengan Seeker Slytherin, si kelas tujuh Terence Higgs, untuk memprotes pengalihan peraturan kelas satu dilarang membawa sapu terbang hanya untuk Jules Potter. Protes mereka tidak menghasilkan apa-apa, karena bahkan dari sisi terasing meja Slytherin saja Harry dapat melihat kalau Albus Dumbledore menganggap kalau Jules Potter adalah calon seorang santo. Fred dan George memandang semua hal dengan tajam ketika mereka seharian mengikuti Jules untuk mencegahnya dikutuk seseorang. Harry bertemu dengan mereka di aula pintu masuk dan berhasil mengetahui kalau mereka diberikan “ tugas mengasuh” dari kapten tim Gryffindor. Mereka berdua sama sekali tidak terlihat senang. Marcus Flint, kapten tim Slytherin berhenti sebentar untuk berterima kasih kepada Harry saat dia berjalan keluar dari Aula Besar setelah makan siang. “Bukan berarti kau mendengar hal ini dari aku,” bisiknya pelan, “tapi aku tahu kalau kamu yang memberitahu si nona Parkinson itu. Aku menghargainya.”Dia kemudian berjalan pergi dengan angkuhnya, dan langsung diapit Pucey dan Bletchley dan Bole, tapi Harry tidak dapat menahan sengirannya. Membuat Marcus melihatnya dengan sedikit menghargai daripada sangat meremehkan pastinya adalah langkah yang benar. ~oOo~ “Harry!” desis seseorang.Harry terdiam, melihat sekelilingnya. Dia mengenal lorong ini; dia pernah tiga kali keluar diam-diam untuk menjelajahi kastil sendirian. Dua hari yang lalu dia telah menemukan lorong rahasia yang menghubungkan tempat-tempat belajar umum kelas satu ke lorong kelas Mantra di lantai tiga. Hal itu membuatnya dengan mudah menemukan Jules Potter dan Finnegan bersembunyi di balik bayangan.“Wah coba lihat kamu sedang gerak-gerik diam-diam,” komentar Harry sembari berjalan ke arah mereka seakan bertemu kembarannya yang terasing di daerah-daerah gelap tiga puluh menit sebelum jam malam adalah hal yang normal. Seakan tangan kanannya tidak tegang, siap untuk mengeluarkan tongkat sihir dari sarungnya. “Kau yakin kau diseleksi dengan benar, saudaraku?”Wajah Jules memerah dan Finnegan menatapnya tajam. “Diam kau,” geram Jules, “Aku tahu kalau kau yang memberi tahu semuanya.”“Aku yakin mendengar kalau itu tersebar karena Weasley. Aku baru mendengarnya pagi ini saat sarapan, diberitahu oleh anak kelas tiga.”“Katanya begitu, tapi Ron bersumpah kalau dia sama sekali tidak membicarakan hal itu di luar ruang umum kami, dan karena dia bukan anak dari asrama pembohong, aku lebih mempercayainya!” bantah Jules, suaranya mengeras dengan setiap kata.“Bisa jangan berisik tidak?” bisik Harry kesal. “Tidak semua dari kita bisa menggunakan status selebritas untuk menghindar dari peraturan. Dan bukan aku yang membuat rahasia kecilmu itu terbongkar.” Bohong. “Kau bisa menyalahkan kekurangannya kebijaksanaan asrama Gryffindor untuk hal itu.” Secara teknis benar. “Nah sekarang kalau kau tidak keberatan, ada tempat yang harus kutuju.”“Kau akan mendapat balasan, sampah Slytherin,” ancam Jules.“Oh, dan akan sangat bagus kalau kalian mungkin bisa berhenti mencoba meyakinkan orang-orang kalau aku ini Penyihir Hitam,” balas Harry sarkastik. “Terutama karena aku masih berumur sebelas tahun.”“Ya kamu bergaul dengan para Pelahap Maut.”“Sudah dibilang,” ucap Harry dengan nada menjelaskan sesuatu yang mudah ke anak kecil, “kami itu masih sebelas tahun. Kami juga tidak akan berguna, jadi tidak mungkin kami menjadi target para Pelahap Maut tersayang itu. Terlebih lagi, apa kau benar-benar berpikir kalau aku akan senang tumbuh besar membunuh orang-orang?” Dia diam sejenak. “Dan karena jelas kau tidak dapat melihat apa yang jelas terpampang di depan matamu, aku tidak begitu akur dengan Malfoy, dan hubunganku dengan Greengrass, Parkinson, dan Bulstrode paling bagus juga ragu dan goyah. Hanya karena kami tidak saling mengutuk satu sama lain setiap lima detik sekali bukan berarti kami itu akur. Selamat malam.”Dengan kesal Harry berjalan melintasi lorong tersebut. ~oOo~ Granger dan Longbottom baru memberitahunya tenang pintu jebakan dan anjing berkepala tiga dua hari kemudian, saat Harry teringat untuk menanyakan tentang “duel penyihir” itu.“Kami yakin kalau itu ada hubungannya dengan ini,” terang Granger terengah-engah, mengibaskan koran di depan wajah Harry. Harry mengambil koran tersebut dari tangannya yang bergerak bersemangat dan membaca artikel tentang Pembobolan Gringotts. Ditulis kalau pencurinya menargetkan beberapa brankas keluarga tua teraman di Gringotts, tapi tidak ada yang dicuri, dan penulisnya mengimplikasi kalau yang ditargetkan bukan lah uang dan emas.Harry mengernyitkan dahinya, dia teringat dengan paket yang James ambil untuk Dumbledore. Keluarga Potter sepertinya dekat dengan kepala sekolah tersebut, melihat bagaimana dia sering mengobrol dengan Jules di lorong hanya untuk menanyakan kelas dan kabarnya, dan Harry juga setidaknya tiga kali pernah melihat Burung Hantu Bertanduk Besarnya James yang mudah dikenal mengantarkan surat kepada kepala sekolah itu. Tidak mengejutkan bagi Dumbledore untuk mempercayain James Potter untuk menjaga benda yang penting dari brankasnya. Sesuatu yang, kalau Granger benar, mungkin ada di bawah penjagaan sebuah monster di lorong lantai tiga.Dia memperingati Granger dan Longbottom untuk menjauhi hal tersebut. Mengingatkan mereka kalau apapun yang di sana adalah bagian dari rencana Dumbledore dan bukanlah masalah anak kelas satu. Tapi dia rasa mereka akan mengacuhkan peringatannya. Mau bagaimanapun, Jules dan Weasley sudah pernah ke sana, dan jelas mereka berdua tidak akan mengacuhkan hal seperti itu. Meskipun begitu Harry tetap menghampiri Hannah Abbot yang menyukai segala macam makhluk sihir dan bertanya kepadanya semua informasi mengenai Cerberus. ~oOo~ Semua hal menjadi lebih tenang saat waktu mulai mendekati Halloween. Harry mendekati hari tersebut dengan rasa kengerian dan meningkatnya mimpi buruk karena sekarang dia sudah tahu kalau malam itu adalah malam dimana ibunya dibunuh. Satu-satunya hal positif dari insomnianya adalah dia jadi bisa berlatih keluar diam-diam pada tengah malam dan mengenali lorong-lorong Hogwarts lebih baik setiap minggunya. Ada banyak lorong rahasia yang tidak dikenali orang-orang (termasuk dengan lorong aneh tepat dari luar ruang umum Slytherin menuju dapur tapi hanya ada pada hari kamis pada jam satu sampai 3 dini hari), dan dia menjadi mendapat banyak waktu untuk berlatih dengan tongkat ashnya. Harry masih menggunakan tongkat holly di depan semua orang, tapi tongkat ashnya serasa memanggilnya dengan sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan. Dia mengembangkan repertoar kutukan dan guna-guna level rendah yang cukup bagus dan mulai mempelajari mantra Protego sendirian. Mantra pelindung itu seperti mantra penyetrum, membutuhkan energi sihir yang lebih banyak dari yang dia miliki saat umur sebelas tahun sekarang, tapi dia menghiraukannya dan melawan sakit kepala dan lemas yang dia rasakan dan terus mencoba mantra tersebut sampai akhirnya dia bisa membuat pelindung yang agak goyah untuk beberapa detik. Setiap satu jam sekali. Dan dia juga berlatih dan mempelajari materi jauh di depan yang sedang di bahas di kelas Mantra, kelas yang paling menyulitkan untuknya. Kalau bukan karena latihan tengah malamnya dan bantuan dari Sue dan Anthony dan Granger saat belajar kelompok mereka, dia pasti akan tertinggal.Ditambah dengan tugas sekolahnya, Harry tetap membaca buku-bukunya yang di ambil dari perpustakaan keluarga Potter dan dibeli dari Flourish dan Blotts. Di kelas Sejarah Sihir dia mulai terbiasa menutup kupingnya dengan penutup telinga agar tidak mendengar efek yang membuat mengantuk dari suara hantu tersebut dan membaca buku sejarah sihirnya. Tidak lama setelahnya Theo dan Davis mengikutinya, dan meskipun Granger terlihat tersinggung dengan ide tidak mendengarkan kelas, Harry melihat kalau dia juga mulai meminjam buku sejarah sihir dari perpustakaan.Kelas ramuan tetap menjadi salah satu kelas favoritnya. Dia bisa mengacuhkan Snape yang menjulang berjalan mondar-mandir di kelas dengan cemoohannya (seriusan, Snape tidak semengancam Paman Vernon, dan setidaknya Harry hampir yakin kalau Snape tidak akan pernah memukulnya), dan berfokus meramu yang diperintahkan. Theo tidak memiliki “sentuhan” seperti yang Snape bilang, dan kurang lebih nyaman membiarkan Harry mengambil alih meramu di kelas tersebut. Sebagai gantinya dia dan Neville akan membantu Harry mengerjakan tugas herbologinya. Mereka bekerja sama dengan baik, dan melihat Snape sering mempermalukan Jules, Finnegan, dan Weasley membuatnya lebih menantikan kelas tersebut.Dia harusnya tahu kalau semua tidak akan tetap seperti itu. ~oOo~ Pada hari jamuan Halloween, para anak Slytherin dan Gryffindor berjalan ke ruang bawah tanah setelah makan siang dan memasuki kelas. Harry menyiapkan peralatannya bersama Theo dan Blaise seperti biasanya, siap untuk mencoba meramu Ramuan Energi.Snape memasuki kelas dengan aura dengki yang lebih besar daripada biasanya. “Potter,” bentaknya. “Potter Major. Kau akan berkelompok dengan Longbottom hari ini. Aku penasaran apa yang bisa Longbottom lakukan tanpa Granger terus membisikkan arahan di telinganya.”Longbottom meringis. Harry berusaha keras untuk tetap membuat wajahnya terlihat datar, tapi dia rasa rasa kaget dan cemasnya tetap dapat terbaca oleh anak-anak Slytherin.“Selamat berkelompok dengannya,” Malfoy tertawa kecil. Blaise dan Theo tidak mengucapkan apapun dan hanya memberikannya pandangan bersimpati.“Weasley,” panggil Snape, “pindah ke depan. Mr. Malfoy, kau akan berkelompok dengannya. Miss Parkinson, gantikan Weasley dan berkelompok dengan Mr. Thomas.”Dean Thomas yang malang terlihat kalau dia lebih memilih untuk meminum lumpur yang dibuat Longbottom minggu lalu daripada berkelompok dengan Parkinson, yang senyumannya menjanjikan hal yang buruk. Harry menaruh peralatan meramunya di meja sebelah kuali Longbottom lebih keras dari seharusnya dan berusaha untuk tidak memikiran segala hal yang dapat menjadi kacau dari hal ini. Parkinson berkelompok dengan anak Gryffindor, Weasley dan Malfoy di meja yang sama tanpa ada anak Slytherin dan Gryffindor yang lebih berkepala dingin untuk mencegah mereka melakukan hal yang bodoh, dan ditambah lagi Harry mungkin akan menghancurkan nilai rata-rata Onya di kelas karena keburukan apapun yang akan Longbottom buat.Harry memanfaatkan keberisikan para murid pergi ke gudang mengambil bahan-bahan dan memasukkan air ke dalam kuali mereka. “Longbottom,” desisnya memegang pundak anak tersebut dengan kencang. “Nilai aku di kelas ini sekarang O, Outstanding-Istimewa. Aku tidak akan kehilangan nilai tersebut hanya karena kutukan apapun yang kau miliki tentang meramu. Kau akan melakukan apa yang aku lakukan ketika aku memberitahu kau untuk melakukannya, dan selain itu kau tidak akan menyentuh kuali, bahan-bahan yang ada, meja kerja kita, ataupun tongkatmu sekalipun. Mengerti?”Longbottom menelan ludah. “I—iya.”“Bagus sekali.” Harry melepaskannya dan memberikannya senyuman terbaiknya. “Tolong potong akar valeriannya, bongkahan rata ya.”Longbottom mengangguk keras dan mulai memotong.Harry menyaksikannya mengoyakkan berapa irisan dan menahan helaan napas. “Oke, sini biar aku saja,” katanya dan menggeser Longbottom agar tidak mengganggu. Sebagian darinya ingin melambatkan pekerjaannya dan menunjukkan kepada Longbottom kalau cara dia memegang pisaunya itu salah dan itu membuatnya jadi kaku sehingga akar-akarnya terpotong menjadi panjang yang tidak sama, tapi ternyata dia melakukan pekerjaan dua orang di kelas ini, yang berarti dia tidak ada waktu untuk menjadi baik dan sabar.Tangannya terus bekerja dengan cepat. Harry bersyukur pada Merlin dia telah membaca buku Ramuan berulang kali. Pada saat ini dia telah lumayan mengerti bahan-bahan dan proses meramu yang ada, dan terkadang dia juga bisa menebak beberapa keadaan untuk mencegah kekacauan ramuannya. Saat Longbottom entah bagaimana menumpahkan terlalu banyak bubuk taring ular ke dalam kuali, ramuan mereka berubah warna menjadi pink yang sangat pekat, tapi Harry mengambil sejumput kumbang tumbuk dan memasukkannya sebelum ramuan mereka semakin buruk. Warna menjadi stabil dan dia terus menambahkan kumbang tumbuk sedikit demi sedikit hingga warnanya kembali normal, dan hingga aura sihir yang dia rasakan dari kuali menjadi pas.Mereka adalah kelompok terakhir yang selesai, tapi Harry membotolkan Ramuan Energi yang dia rasa hampir sama baiknya dengan apa yang dapat dia lakukan bersama Theo dan memberikan botol tersebut ke Longbottom untuk dikumpulkan ke Snape. Dia melihat tangan kawan Gryffindornya tersebut dan memastikan untuk membotolkan beberapa botol lagi sebelum menghilangkan sisa ramuan mereka. Ternyata hal itu adalah ide yang benar karena entah bagaimana Longbottom terjatuh dan memecahkan botol ramuan mereka di lantai. Harry melihat Malfoy yang terkekeh kecil dan sedang menyimpan kembali tongkatnya, memutuskan untung melakukan sesuatu tentang hal tersebut nanti, dan membantu Longbottom berdiri sebelum mengumpulkan salah satu botol ekstra mereka ke Snape.Fokusnya dalam menjaga ramuannya dan Longbottom untuk tidak meledak membuat beberapa saat setelah kelas itu Harry baru mendengar tentang detensi yang diberikan kepada Jules Potter dan Ron Weasley karena ‘ketidaksopanan,’ dan kalau ternyata Dean Thomas keluar dari kelas ramuan terlihat sangat terkejut dan bahkan tidak berbicara selama satu jam setelahnya. Harry hanya sedikit penasaran apa yang dikatakan Parkinson kepadanya.Saat mereka keluar kelas, Harry berjalan dengan Blaise dan Theo tapi tidak ikut menimbrung percakapan mereka. Otaknya terasa mati rasa kelelahan.“Dia tuh sangat tidak berguna,” dengarnya seseorang mengeluh. “Memalukan nama asrama kita. Granger juga sama saja, si sok tahu yang banyak ngomong, pantas saja dia tidak punya teman—“Harry berputar balik tanpa berpikir, tongkatnya dikeluarkan. “Volculeus,” bisiknya tanpa pikir, mengacungkan tongkatnya ke suara yang dia dengar saat dia berbalik.Ron Weasley tersandung mundur, tangannya berada di dada dimana dia terkena kutukan penyengat mengenainya. Hal ini tepat terjadi saat Longbottom tersandung kakinya sendiri dan Granger melewati mereka semua, air mata bercucuran di wajahnya, berlari menaiki tangga.“Aku rasa dia mendengarmu,” kata Harry dingin.“Kau menyebalkan,” ucap Ron kesal, mengeluarkan tongkatnya—Hanya untuk melihat tongkat Blaise tepat berada di depan wajahnya.Jules dan Finnegan juga mulai bergerak, tapi Theo telah mengeluarkan tongkatnya dan mengarahkannya ke mereka, dan yang membuat Harry terkejut, Parkinson juga melakukan hal yang sama. Anak kelas mereka yang lain telah berjalan terlebih dahulu dan sepertinya tidak menyadari pertikaian terkunci mereka.“Kalau aku jadi kalian aku tidak akan melakukan apa-apa,” komentar Harry tenang. “Weasley mengucapkan hal yang tidak sopan, dan dia terkena balasannya, jadi bisa untuk tidak dilanjutkan?”Jules mengernyitkan dahinya, tapi entah bagaimana ada sesuatu dalam kepala batunya dapat berpikir dan sadar kalau ini adalah saatnya untuk mundur. Teman-temannya mengikutinya dengan banyak berbalik menatap mereka tajam.Parkinson menurunkan tongkatnya dan mengalihkan perhatiannya ke arah Harry, yang mencoba untuk tidak merasa gugup. Usahanya kurang lebih berhasil.“Kau jauh lebih menarik dari yang aku kira, Potter,” ujarnya dengan menyengir.“Terima kasih,” balasnya dengan senyum yang tajam.Parkinson berjalan ke Aula Besar tanpa menoleh balik, dan Theo dan Blaise mulai mengikuti mereka, tapi Harry—Dia tiba-tiba dengan tajam tersadar, lagi, kalau hari ini adalah hari kematian ibunya, dan dalam ruangan tersebut ada beratus-ratus orang, ada kebodohan Jules dan permainan kata Slytherin, dan dia tiba-tiba tidak memiliki energi untuk menghadapi semua itu.“Kalian masuk saja,” ucapnya pada akhirnya. “Aku butuh… udara segar.”“Huh? Kenapa?” Blaise terlihat bingung. “Harry, ini kan jamuan Halloween.”“Idiot,” kata Theo. “Coba pikir, Zabini.”Blaise terdiam sesaat. Lalu—“Oh.”“Yep, oh,” gumam Theo. “Aku akan menemanimu Harry, aku tidak begitu lapar.”Blaise terlihat ragu.“Masuk saja,” Harry yakinkan, melambaikan tangan ke arahnya. “Aku tahu kamu menyukai makanan di jamuan itu.”“Aku akan membawakan beberapa makanan pencuci mulut ke asrama untuk kalian,” janji Blaise.Theo memandang Harry selama beberapa saat. “Mau jalan-jalan sebentar?”Harry mengangkat bahu. Hal itu terdengar lebih bagus daripada kembali ke asrama dan hanya duduk, jadi mereka mulai berjalan-jalan. Theo hanya berjalan dengan sebagai sosok yang tenang. Si anak lelaki dengan aura tajam itu berhasil menenangkan diri dan hanya berjalan diam di sampingnya. Harry merasa jengkel dengan dirinya sendiri saat dia sadar betapa hal itu menghiburnya.Dia bertanya-tanya sejak kapan dia mulai menilai Theo sebagai temannya dan bukan hanya sebagai sebuah kawan aliansi. Dia bertanya-tanya apakah dia bahkan tahu tentang pertemanan untuk menilai apa itu pertemanan.Mereka pasti sudah berjalan selama empat puluh menit saat suara orang berlari terdengar membuat Harry sadar dari apa yang dia sedang pikirkan.Dia dan Theo bahkan tidak saling memandang sebelum mengeluarkan tongkat mereka bersamaan—Neville Longbottom meluncur cepat dari koridor dan langsung menabrak mereka, membuat ketiganya jatuh ke lantai.“Potter? Nott? Sedang apa—tidak apa. Troll—ruang bawah tanah—aku harus menemukan Hermione!” oceh Longbottom tidak jelas.Harry bangun dari lantai. “Longbottom!” bentaknya. “Tenangkan dirimu.”Anak Gryffindor yang gemetar ketakutan itu menutup mulutnya dengan suara klik dan ikut berdiri.“Ada apa?” Harry coba meniru Snape sejauh yang dia bisa.“Quirrel—tiba-tiba masuk ke aula. Katanya ada Troll. Di ruang bawah tanah. Parvati bilang kalau Hermione menangis di kamar mandi di lantai ini, dia tidak tahu tentang troll itu, aku harus memberitahunya—““Jadi kamu diam-diam pergi dari Aula Besar untuk melakukannya sendiri daripada, oh entah, kasih tahu prefek setidaknya?” hardik Theo. “Dasar Gryffindor.”“Kita sudah di sini,” tenang Harry. “Akan lebih cepat kalau kita menjemputnya dan berjalan bersama ke Aula Besar. Sebentar, bagaimana dengan anak-anak Slytherin?”“Tetap di Aula.”“Sempurna. Kamar mandinya ke arah sini. Ayo.” Harry berjalan cepat. Theo mengikutinya, masih mengomel tentang anak-anak Gryffindor. Longbottom perlahan mengikuti mereka.Mereka berbelok di persimpangan dan Harry membeku.Sebuah monster besar berbentuk manusia berjalan lamban di koridor. Monster itu terdiam, setengah di dalam setengah di luar sebuah pintu, dan sekejap Harry membeku karena panik, mengira kalau dia mendengar mereka—Monster itu masuk ke dalam ruangan tersebut dan Theo menerjang menutup pintunya, dan Harry dengan cepat mengibaskan tongkatnya dan melemparkan mantra “Colloportus!”—Terdengar suara teriakan dari dalam ruangan.“Itu kamar mandi perempuan,” kata Longbottom tersendat.Harry membatalkan mantra penguncinya sangat kencang sampai pintunya lepas dari engsel, yang berarti pintu tersebut terbang mengenai punggung troll dan mengalihkan perhatiannya dari Granger, yang sedang meringkuk ketakutan di pojok kamar mandi. Itu adalah hal yang bagus. Hal yang buruknya, perhatian troll itu menjadi fokus kepada mereka yang baru saja muncul.“Longbottom, tarik Granger dari sana,” perintah Harry meniru Snape lagi, dan ada sesuatu dari nada suaranya yang membuat anak Gryffindor itu bergerak. Dia meringkuk di lantai dan merangkak di bawah wastafel-wastafel saat troll itu berteriak dan berlari ke arah Harry dan Theo.“Kamu punya rencana kan?” bisik Theo.Harry mengigit bibirnya. “Kurang lebih.”Dia mengangkat tongkatnya, memikirkan tentang kelas Mantra mereka pagi ini. “Wingardium leviosa!”Potongan besar dari plafon yang hancur melayang dari tanah. Troll itu menatapnya dengan bodoh. Harry mengayunkan tongkatnya, berkonsentrasi sekeras yang dia bisa, dan menjatuhkannya sekeras yang dia bisa di kepala troll tersebut. Serpihan-serpihan batu berterbangan. Troll itu sama sekali tidak terganggu, tapi setidaknya sekarang kemarahannya teralihkan ke dinding. Monster itu menyeret dirinya dan memukul pentungannya ke dinding.“Coba kalahkan ini,” ucap Theo dengan sengiran jahat, dan melakukan mantra penerbang juga. Ke arah pentungan si troll.Pentungan itu terbang di udara, melayang diam sebentar, dan terhentak di kepala troll saat Theo mengayunkan tongkat sihirnya ke bawah.Troll itu kembali meraung dan terhuyung mundur.Longbottom dan Granger merangkak keluar dari bawah wastafel dan berlari ke arah pintu.Troll itu menyadari pergerakan mereka dan melempar bongkahan bagian dinding yang rusak ke arah mereka. Bongkahan tersebut jatuh di lantai dekat dari sebelah kiri Granger, dan serpihannya terlempar mengenai kakinya, membuat gadis itu teriak kesakitan dan terjatuh ke lantai. Harry tersandung, Longbottom menabrak dirinya, dan mereka berdua terjatuh. Tongkat Harry terjatuh dan tergelincir di lantai beberapa langkah dari dirinya.“Bloody hell2,” kutuk Theo, dan dia lalu melayangkan Granger maju, dan Longbottom berusaha menuju ke pintu, dan kalau saja mereka bisa keluar dari ruangan ini hidup-hidup—Tapi Harry melihat kalau troll itu akan melemparkan bongkahan batu lagi. Dan sekarang monster itu terlihat sangat fokus, jadi tidak mungkin dia akan meleset.Dan tongkatnya masih ada 10 kaki jauhnya.Harry menatap troll tersebut dan berpikir, api.Baju compang-camping makhluk itu terbakar.Makhluk itu kembali meraung dan terhuyung mundur saat mencoba berdiri. Sepertinya kulit tebalnya sekalipun tidak begitu tahan api.Harry menggertakkan giginya, hanya memikirkan kalau makhluk ini mencoba untuk melukainya, mencoba untuk melukai teman-temannya—Dia mencium bau rambut terbakar. Mendengar suara raungan kesakitanSadar kalau tongkatnya dapat hilang di kekacauan ini Harry mengambilnya dan memegangnya kembali di tangan, dan menggunakan mantra Incendio secara lisan dengan tongkatnya dan menyaksikan api yang dikeluarkan menyala lebih tinggi.“Potter!” seseorang berteriak, dan menariknya keluar ruangan.Harry mengejapkan matanya keras.Dan tersedak, dan muntah, karena bau daging terbakar tersebar ke mana-mana.“Oh itu terlihat menjijikan,” dia mendengar Theo berkomentar seakan dari tempat yang jauh. “Pengertian sedikit dong, dia baru saja menyelamatkan hidup kita!” omel Granger, suaranya melengking tinggi dengan rasa takut dan adrenalin.Harry menatap kosong bekas muntahnya di lantai. Dia tidak ingat pernah selelah ini. Kenapa dia...Oh. Benar juga. Dia baru menggunakan banyak sihir tanpa tongkat.Semoga dia bisa menyembunyikan keadaannya sebagai rasa syok.“Mr. Potter,” terdengar suara tegas memanggilnya.Harry mengenal suara itu, tahu kalau dia harus mendengarkannya. Dia mendongakkan kepalanya dan menegapkan punggungnya. “Ya, sir.”Snape berkedip, satu-satunya tanda rasa terkejut darinya sebelum raut cemooh biasanya terpasang kembali.“Dapat kau jelaskan apa yang kau lakukan?”“Aku tidak ingin mengikuti jamuan,” terang Harry kebas rasa. “Aku—halloween.”“Ibunya,” lanjut Theo membantu menjelaskan begitu jelas kalau otak Harry sedang tidak bisa memproses kata-kata. Seketika Harry merasa sangat berterima kasih atas kehadiran temannya. “Ketika kami sedang berjalan-jalan kami bertemu dengan Longbottom, yang memberitahu kami kalau ada troll di ruang bawah tanah dan Granger sedang menangis di kamar mandi jadi tidak mungkin dia tahu tentang hal itu dan para Slytherin tetap menunggu di Aula Besar. Kami juga sedang berada di lantai ini, jadi kami rasa akan lebih cepat kalau kami membawa Granger ke Aula Besar daripada kami pergi ke sana terlebih dahulu dan memberitahukannya kepada prefek untuk menjemputnya.”Kalau Harry sedang tidak sangat lelah, dia akan kagum dengan cara Theo menceritakan keadaan mereka dan memperlihatkan keputusan mereka sebagai pilihan yang terbaik.McGonagall, Flitwick, Quirrell, dan kepala sekolah berlari dari lorong beberapa detik kemudian. Theo harus mengulang ceritanya. Para guru saling berdiskusi dan berdebat mengenai empat murid kelas satu mengalahkan troll gunung—terutama dengan cara membakarnya hidup-hidup. Quirrell tergagap mengumumkan kalau makhluk itu sudah sangat mati. Harry tidak dapat membuat dirinya menyesali hal tersebut. Atau bahkan merasakan apapun.Dia sangat lelah...Mata kepala sekolah berkerlipan ke arah Harry dan menyatakan kalau jelas anak umur sebelas tahun akan merasa lelah dan berada dalam keadaan syok. Incendio adalah mantra untuk anak kelas tiga, dan sudah hebat bagi Harry untuk dapat melakukannya beberapa kali hingga melukai troll tersebut, dan dia tidak perlu merasa bersalah karena dia dalam keadaan syok dan tidak tahu apa yang dia lakukan...Harry cukup sadar untuk tidak memberitahu kepala sekolah tentang kenyataannya. Kalau dia membakar troll tersebut sebagian besar dengan sihir tanpa tongkat. Kalau dia hanya melakukan mantra Incendio sekali. Dan kalau dia sangat sadar dengan apa yang dia lakukan.Profesor Snape menyodorkan Harry sebuah botol kecil. Harry meminumnya dan merasa lebih baik.“Ramuan Energi, sir?” bisiknya parau.Snape hampir berhenti mengerutkan dahinya. “Itu adalah ramuan yang kau buat. Ramuan itu diramu dengan sangat baik. Terutama dengan... handikap yang harus kamu... atasi hari ini.”Longbottom, di belakang Snape, mengernyitkan dahinya ketika disebutkan sebagai handikap. McGonagall sibuk mengkhawatirkan dirinya dan Granger sebelum mengawal mereka kembali ke menara.“Poin,” kata Harry. Dia ingat mendengar sesuatu tentang poin beberapa menit yang lalu.“Yep,” setuju Theo dengan sengiran puas. “Kita dapat dua puluh poin untuk Slytherin. Gryffindor mendapat sepuluh, karena keberanian Longbottom atau entah apa.”“Dia pantas mendapatkannya,” bela Harry.“Datang sendirian adalah keberanian yang bodoh,” ucap Snape dengan nada superior yang tegas, membantu Harry dan Theo untuk kembali berdiri.“Iya...” akui Harry. “Tapi dia tetap datang. Untuk... temannya.”Snape mengusap pelipisnya. “Mr. Potter, kau sedang syok, dan tidak berpikir jelas. Mr. Nott, bantu dia kembali ke asrama dan ke kasurnya. Kemungkinan besar dia akan tidur semalaman.”“Baik, sir,” kata Theo.“Terima kasih... profesor,” ucap Harry kesulitan mengingat gelar Snape.Sang Master Ramuan itu terlihat berusaha untuk tidak memutar matanya. “Lebih bagus lagi kalau sebelum seluruh asrama Slytherin kembali terlebih dahulu ke sana dan membuat keadaan Mr. Potter sebagai inti dari rumor sekolah, Mr. Nott.”“Baik, sir,” kata Theo, mulai menarik Harry menyusuri lorong.Harry membiarkan dirinya ditarik.
----- CHAPTER BREAK -----
Sesuai dugaan, selama empat hari selanjutnya pembicaraan seisi sekolah dipenuhi tentang dugaan mengenai kamar mandi perempuan lantai satu yang berbau seperti daging bakar busuk, troll yang ternyata tidak ada di ruang bawah tanah, dan juga kemungkinan keterlibatannya Harry Potter, Theodore Nott, Neville Longbottom, dan Hermione Granger.Harry dan Theo mengalihkan pertanyaan-pertanyaan dari anak seasrama mereka dengan mengatakan kalau mereka terpaksa terlibat dengan keberanian bodoh anak Gryffindor yang ingin menolong temannya. Para Slytherin tertawa dan mempercayai alasan ini dengan cepat. Dan yah, memang itulah yang terjadi.Para Ravenclaw menanyai mereka dengan tajam, dan Justin memperhatikan Harry dengan hati-hati menceritakan kembali apa yang terjadi dengan mata cerdasnya. Harry yakin setidaknya Sue dan Justin sadar kalau dia tidak menceritakan semua yang terjadi (dan memang tidak, Harry masih belum ingin mendapatkan reputasi sebagai seseorang yang membakar troll hidup-hidup di kamar mandi), tapi mereka tidak memaksanya untuk bercerita, dan dia bersyukur tentang hal itu.Theo lah orang yang paling sulit untuk dia hadapi.“Aku kira aku melihat tongkatmu jatuh,” katanya tiba-tiba pada suatu hari, saat mereka mengerjakan tugas kelas Mantra.Harry berharap gerakan kecil tangannya tidak terlihat. “Iya, tapi jelas aku mengambilnya kembali.”Theo memandangnya dengan mata bersinar dan berhenti menanyakan hal tersebut. ~oOo~ Dengan semua yang terjadi, dia hampir lupa tentang permusuhannya dengan Jules yang masih berlanjut.Harry terpaksa mengingatnya di kelas Pertahanan satu minggu setelah Halloween ketika Jules dengan keras sengaja mengobrol dengan Weasley, dimana Weasley berulang kali menyebutkan status Jules sebagai Seeker. Dan betapa muda dirinya. Dan bagaimana semua orang bilang kalau dia sangatlah berbakat. Dan bagaimana dia akan membawa tim Gryffindor untuk memenangkan piala Quidditch untuk pertama kalinya setelah Charlie Weasley lulus.Harry menghabiskan tiga jam di perpustakaan mencari bermacam pelindung anti kutukan yang ada di sapu Quidditch dan bagaimana untuk mungkin mematahkannya. ~oOo~ Sabtu berikutnya adalah permainan pertama Quidditch untuk musim ini.Seluruh kelas satu Slytherin duduk bersama di tribun. Persaingan Malfoy dan Harry (Harry tidak melupakan saat Malfoy membuat Neville tersandung di kelas Ramuan) bahkan dikesampingkan demi mendukung asrama Slytherin bersama.Mereka semua berbalutkan warna hijau dan perak, dan salah satu anak kelas lima datang dan mengajari mereka mantra untuk mengeluarkan konfeti hijau dan perak dari tongkat mereka. Hampir dalam sekejap hal ini berubah menjadi permainan saling melemparkan konfeti ke rambut satu sama lain. Malfoy sangat terlihat kecewa saat Greengrass berhasil menumpahkan banyak konfeti tersebut langsung ke rambut pirangnya yang apik itu.Teman dari si kembar Weasley, Lee Jordan, adalah yang bertugas berkomentar. Dia menyiarkan tim Slytherin—“Flint, Pucey, Wrights,Higgs, Bletchley, dan Bole!”—yang disambut dengan sorakan keras dari para Slytherin ditambah dengan beberapa dukungan dari Ravenclaw; dan tim Gryffindor—“Wood, Spinnet, Bell, Johnson, Weasley, Weasley, Potter!”—dengan sorakan yang lebih keras dari semua murid lainnya. Harry memutar matanya melihat bias yang sangat jelas itu dan terdistraksi menonton permainan tersebut.Kedua tim bersaing ketat. Flint melakukan pelanggaran pada Jules dengan tabrakan (Harry dengan senang melihat bahwa itu akan membuat kembarannya memar). Sayangnya Spinnet berhasil memasukkan lemparan penalti yang diberikan. Para Chaser Gryffindor bekerja sama dengan baik, dan Keeper mereka gila Quidditch, dan si kembar Weasley tidak dikenal sebagai “si kembar mengerikan” atau “dua terror Weasley” di asrama Slytherin tanpa alasan. Lalu ada Jules, yang jelas sangat mahir terbang, walaupun dia terlihat sangat kecil kalau dibandingkan dengan Terence Higgs.Lalu, karena ternyata semua hal dalam hidup Jules Potter haruslah penuh drama, seseorang mulai mengutuk sapu terbangnya. “Seseorang” itu adalah profesor Quirrell. Saat dia melihat sapu Jules menjadi gila, Harry mengarahkan teropongnya ke tempat duduk para guru, berasumsi dengan benar kalau hanya orang dewasa yang mempelajari Ilmu Hitam lah yang dapat mengutuk sapu dengan pelindung tingkat tinggi seperti itu. Dan benar saja, terlihat Quirrell terus menatap tajam sapu Jules dan menggumamkan sesuatu dengan pelan—hanya saja Snape juga melakukan hal yang sama.Harry mengeluarkan tongkatnya, siap untuk bertindak saat dia melihat Hermione berjalan menuju ruang kosong di bawah tempat duduk tribun.“Merlin,” gumamnya, “dia terkadang terlalu pintar untuk kebaikannya sendiri.”Hermione berjalan terburu-buru—menabrak Quirrell ke arah guru yang berada di depannya—Harry mengecek keadaan Jules, yang sapunya tiba-tiba langsung berhenti—dan di tribun bagian guru Hermione membakar jubah Snape lalu berbalik kembali ke bagian belakang tempat menonton.Jules memuntahkan bola Snitch dan melambaikannya di udara, dan pertandingan itu menjadi kacau.Theo memandang Harry yang mengacuhkan kekacauan yang ada dan memfokuskan teropongnya ke tribun bagian guru. “Apa yang terjadi?” tanyanya.Harry menurunkan teropongnya dan melihat ke arah Theo dan Blaise. “Quirrell baru saja mencoba membunuh Jules Potter. Hermione membakar jubah Snape dan menyelamatkan hidup Jules.”Kedua anak lelaki dihadapannya berkedip terkejut.“Ayo,” ajak Harry tiba-tiba, melihat Hermione dan Neville mengikuti Jules, Weasley, dan Finnegan keluar lapangan. “Aku yakin mereka mengira kalau Snape lah yang mencoba membunuh Jules, kita harus mengoreksi mereka.”Para Slytherin dengan mudah mengikuti musuh dan kawan Gryffindor mereka ke pondok si pengawas binatang liar. Harry sudah pernah ke sana sekali untuk pesta minum teh yang sangat canggung, (dia tidak ingin melakukannya lagi, dan juga tidak pernah diundang untuk kedua kalinya), tapi kali ini dia bahkan tidak mengetuk pintu, hanya terdiam sebentar untuk memastikan suara Hermione di dalam dan langsung membuka pintunya.Sekejap Jules langsung berdiri “Kau luluk ular—“Lalu Jules sadar kalau ada Theo, yang melihat sekelilingnya dengan raut wajah menghina, dan Blaise, yang memasang raut wajah aku-sedang-menertawakan-sesuatu-yang-kalian-terlalu-bodoh-untuk-mengerti khasnya. Harry menyaksikan amarah Jules meningkat, membuatnya tidak dapat berkata-kata. “Aku tebak kalian marah karena kalian mengira kalau kepala asrama kami baru saja mencoba membunuhmu,” komentarnya mencoba meniru ketenangan Theo.“Bagaimana kau tahu?” tanya Finnegan. “Apa kau ikut merencanakannya?”“Kau serius bertanya begitu?” Harry menghela napas. “Merencanakan pembunuhan kembaranku sendiri? Asal kau tahu, Finnegan, Slytherin itu tidak berkumpul setiap malam untuk merencanakan kematian anak-anak Gryffindor.”“Mau kalian percaya atau tidak, kami memiliki banyak hal yang jauh lebih penting daripada mengurus kalian,” lanjut Theo. “Seperti belajar, sesuatu yang kebanyakan dari kalian harus lakukan.”Hagrid terlihat panik melihat ketegangan yang meningkat. “Hei, tenang ‘ke? Semuanye tenang1.”“Tentu saja,” setuju Harry dengan senang hati. Ini adalah sesuatu yang pandai dia lakukan—bersikap sopan bahkan saat dia tidak ingin melakukannya.“Harry, Theo, kami—kami bukan hanya mengira kalau Snape mencoba membunuh Jules,” terang Hermione. “Aku melihatnya. Dia terus memandang sapu Jules dan membaca mantra berulang-ulang, jelas kalau dia sedang mengutuk sapunya—““Aku tahu,” kata Harry. “Aku juga sempat mencari tahu tentang hal itu.” Dia terdiam untuk menyeringai ke Jules. “Tapi, tentu saja, yang kamu tidak sadari adalah kalau Profesor Quirrell juga terus memandang sapu Jules dan membaca mantra berulang-ulang.”“Itu hanya menunjukkan kalau salah satu dari mereka sedang mengutuk sapu itu dan yang lainnya membaca mantra anti-kutukannya,” bantah Hermione.Harry mengangguk. “Benar. Karena itu, pas saat kamu tidak sengaja mendorong Quirrell ke arah Profesor Sprout karena terburu-buru pergi ke tempat Snape, aku memastikan keadaan Jules. Sapunya sudah baik-baik saja setelah konsentrasi Quirrell patah, dan sebelum kamu mengalihkan perhatian Snape dengan membakar jubahnya.”“Ngomong-ngomong, kamu hebat melakukan itu,” puji Blaise. Dia sudah lumayan terbiasa dengan Hermione setelah gadis itu belajar untuk tidak tidak sengaja menyombongkan kepintarannya dan menjadi lebih tenang di kelas.“Sebentar,” potong Finnegan. “Hermione, kenapa kamu memanggil Nott dengan nama depannya?”“Kenapa kau mencoba mengatur siapa yang berteman dengannya?” balas Theo.Neville mengedipkan mata terkejut; antara dia terkejut karena kebebasan untuk memilih temannya sendiri merupakan suatu hal asing baginya, atau karena dia melihat Theo membela Hermione. Atau mungkin keduanya. Harry rasa keduanya.Muka Finnegan yang mulai merah padam membuat Harry dengan tidak nyaman teringat akan pamannya. “karena—karena kalian itu sa—sampah, menyebalkan... karena itu—““Kami melawan troll bersama-sama,” bentak Hermione kesal kepada si trio bodoh. “Kalau hal itu tidak membuat kami saling memanggil nama depan, aku tidak tahu apa yang bisa!”“Ditambah lagi, Finnegan, sudah lama kami saling panggil nama depan,” lanjut Harry. “Coba ya lebih perhatikan.” Dia melihat sekeliling. Weasley terlihat terkejut, Hagrid terdiam bingung, dan Jules ternyata terlihat sedang meresapi apa yang mereka katakan. “Ada pertanyaan lain? Tidak? Kami akan pergi kalau begitu.”“Tunggu,” cegat Jules tiba-tiba. “Kau—Harry, Snape bergerak diam-diam saat Halloween. Kami pikir dia sedang menargetkan apapun—apapun yang disembunyikan di lorong lantai tiga.”“Maksudmu di bawah Cerberus itu?” tanya Theo.Jules langsung berdiri. “Kau tahu tentang hal ini?”“Yah aku bisa menebaknya,” jawab Theo. “Terima kasih atas konfirmasinya.”Harry memandang Hermione dan Neville. “Kalian juga mengetahui sesuatu yang lain,” komentarnya. “Sesuatu yang kalian sembunyikan.”“Hagrid... sempat menceplos kalau itu ada hubungannya dengan Nicholas Flamel,” akui Hermione.Hagrid menyentak maju, tiba-tiba terlihat marah. Harry tersentak mundur setengah langkah dan secara refleks memasang raut wajah datar. Ruangan tersebut tiba-tiba terasa setengah kali lebih kecil dari sekejap yang lalu dan dia harus memaksakan dirinya untuk tidak berlari keluar. Dia memaksa dirinya untuk tetap memandang ke depan dan menghiraukan pandangan khawatir dari Blaise dan Theo. “Lu pada harusnya lupain itu!2” kata Hagrid.“Maaf,” ucap Hermione tidak terlihat menyesal.“Oke, sudah cukup beritanya,” kata Harry lalu memandang Jules. “Aku harap sudah jelas kalau sebagai anak kelas satu kau itu tidak ada urusan untuk mendekati apa pun yang ada di lorong lantai tiga itu. Atau ikut campur dengan rencana siapapun yang lebih tua dan lebih pintar darimu. Atau hanya lebih pintar. Yang berarti jangan kacaukan rencanaku juga. Sampai jumpa nanti, Hermione, Neville.”Keluar dari pondok tersebut membuatnya merasa lega.Dia dan Blaise dan Theo sudah setengah jalan ke kastil saat Blaise batuk dan berkata, “Jadi, aku rasa kamu akan lebih senang kalau aku tidak memberitahu mereka kalau Nicholas Flamel itu yang membuat Batu Bertuah.”Harry tersedak.Theo tertawa. “Dan telihatlah kebijaksanaan Slytherin.”“Aku rasa aku bisa menebak apa yang sedang dijaga anjing tersebut,” renung Harry kesal. “Haruskah kita memberi tahu Snape?”“Snape membencimu,” ucap Theo terus terang. “Dia mungkin lebih membenci kembaranmu, tapi dia juga membencimu. Akan lebih bagus kalau aku atau Blaise yang memberitahunya.”“Tapi kamu harus ikut,” saran Blaise. “Untuk menjawab apa yang mungkin akan dia tanyakan. Yah, kamu bisa misalnya, berdiri diam dan terlihat merasa bersalah karena masih hidup atau hal semacamnya.”“Oh bagus sekali,” kata Harry. “Aku bahkan tidak perlu berpura-pura.”“Ada yang pernah memberitahumu kalau rasa humormu itu lumayan kelam?” komentar Theo.Harry berpikir. “Setahuku tidak.”“Oke, rasa humormu itu lumayan kelam,” ulangi Theo.“Akan aku ingat.” ~oOo~ Snape mengernyitkan dahinya tepat saat mereka masuk ke dalam ruangannya. “Ya?”“Sir,” kata Theo sopan, “kami merasa kalau anda harus tahu kalau Jules Potter, Ron Weasley, dan Seamus Finnegan mengetahui apapun yang dijaga oleh Cerberus yang ada di lantai tiga, dan mereka tahu kalau hal itu berhubungan dengan Nicholas Flamel. Mereka juga sedikit mempercayai kalau anda berusaha untuk membunuh Jules Potter pada pertandingan hari ini.”Snape dengan perlahan meletakkan penanya di mejanya dan memfokuskan seluruh daya dari tatapan tajamnya kepada mereka bertiga. Seketika Harry merasa lega dia telah setuju membiarkan Theo melaporkan hal ini. Dia merasa seakan Snape dapat membaca pikirannya.“Bagaimana kalian mengetahui hal ini?”Theo menjelaskan kalau kenalan Gryffindor mereka Granger dan Longbottom memberitahu mereka bagaimana si trio bodoh mengetahui tentang Cerberus itu, lalu tentang apa yang dilihat Harry dari tempat duduk murid di tribun, aksi pembakaran yang dilakukan Hermione (meskipun dia hanya mengatakan seorang anak Gryffindor tanpa menyebutkan namanya) dan keceplosan Hagrid yang baru saja terjadi. Theo mengakhirinya dengan, “Blaise cukup mengetahui alkimia, Profesor, jadi kami cukup yakin kalau yang dijaga Cerberus tersebut adalah Batu Bertuah. Hermione Granger itu pintar, dan saya tidak akan terkejut kalau mereka nanti akan mengetahuinya, tapi kami tidak memberitahukan mereka.”“Puji Merlin untuk hal-hal kecil yang belum terjadi,” Snape menghela napas. Dia memandang Harry dengan pandangan tak terbaca. Harry tiba-tiba merasa sangat yakin kalau dia tidak boleh bertatapan mata dengan Snape terlalu lama, dan menundukkan pandangannya. “Lima poin untuk Slytherin karena kebijaksanaan kalian dan bagaimana kalian memberitahukan hal ini kepada seorang guru. Potter, ada yang ingin kubicarakan. Nott, Zabini, kalian boleh pergi.”“Kami akan menunggu di luar,” gumam Blaise saat berjalan keluar.Harry mempersiapkan dirinya saat pintu ruangan tersebut tertutup ketika teman-temannya keluar.Selama beberapa saat Snape tetap diam dan Harry tetap mengarahkan pandangannya ke ujung meja profesor tersebut. Lalu—“Aku melihat kalau kau tidak pernah mendapatkan pos burung hantu, Mr. Potter.”Awal percakapan yang acak. Kemungkinan besar Harry tidak dapat menutupi rasa kaget, curiga, dan jengkel dari wajahnya dengan baik. “Memang tidak, sir,” akuinya.“Apakah ada alasan kenapa kamu menghindari menatap mataku, Potter?” tanya Snape dengan nada sangat merendahkan.“Sa—saya berusaha mengikuti firasat saya, sir.” Dan firasat Harry mengatakan kalau dia tidak boleh menatap mata Snape. Yang menarik adalah, firasatnya bukan bereaksi karena aura marah Snape. Setidaknya, tidak seperti Hagrid tadi. Dia takut dengan Snape, tentu saja, tapi tidak lebih dari anak-anak Slytherin lainnya yang ingin menjaga diri.Suasana hening yang berat terasa lagi. “Firasatmu tidak kau dapatkan dari ayahmu kalau begitu,” komentarnya datar.Jelas itu adalah sebuah tes untuk melihat reaksinya. Harry bisa menebak apa yang terjadi sekarang—Snape berusaha melihat bagaimana hubungan Lord Potter dengan penerusnya. Dia memasang raut wajah yang sangat datar. “Saya baru mengenalnya selama beberapa bulan, sir, jadi saya tidak tahu.”“Mmm. Kau boleh pergi.”Harry mengangguk dan berjalan keluar secepat yang dia bisa tanpa terlihat seakan dia kabur. ~oOo~ Saat libur musim dingin semakin mendekat di bulan November pertengkaran Weasley dan Malfoy semakin memburuk. Gryffindor berkeliling dengan semangat tinggi yang memuakkan setelah kemenangan Quidditch mereka, dan Weasley terlihat merasa kalau hal itu adalah kebanggannya sendiri meskipun dia tidak ada hubungannya dengan kemenangan tim mereka. Dia bahkan terlihat lebih bangga tentang hal tersebut daripada Jules.Jules setidaknya telah memutuskan untuk mendamaikan persaingan di antaranya dan Harry. Mereka saling mengacuhkan satu sama lain di kelas dan menjaga teman asrama mereka untuk tidak saling mengutuk. Kalau Harry berpura-pura tidak menyadari bisikan kutukan Malfoy mengarah ke arah trio bodoh itu di koridor, dia bisa mengatakan kalau dia juga tidak berteman dengan Malfoy.Jadi Jules sudah turun dari ‘Daftar yang Harus Dilakukan’ ke ‘Daftar yang Harus Diperhatikan’. Yang berarti hanya ada Malfoy dalam posisi tertinggi dalam daftar Harry tersebut. Dia sudah lama terus menganggus Neville, bertingkah sombong di ruang umum asrama layaknya merak (bahkan membuat anak-anak kelas lima merasa jengkel), dan bertingkah seakan dia memiliki posisi tertinggi di antara anak kelas satu lainnya. Jelas itu tidaklah benar, tapi sejauh ini dia tidak pernah mencoba memperintahkan siapapun kecuali anak buahnya, dan selama dia tidak melakukan sesuatu terlebih dahulu Harry dengan senang hati tidak ikut campur dengan permainan kekuatan dan posisi di Slytherin dan membiarkan dia dengan khayalannya.Tapi mengenai masalah Neville, Harry tidak bisa tinggal diam.“Aku sangat yakin kamu sudah menyelesaikan esai mengenai bubuk tulang belakang lionfish dua hari yang lalu dan kita tidak ada tugas Ramuan selain itu,” kata Theo datar. “Jadi aku agak bingung kenapa kamu menghabiskan empat jam membaca empat buku Ramuan, yang semuanya merupakan buku kelas tiga atau lebih tinggi.”Harry tidak mendongak dari bukunya. Dia sudah hampir mengambil alih satu meja di perpustakaan dengan coretan perhitungan, prediksi, dan catatan yang dia ambil saat sesi eksperimen meramunya pada sore kemarin yang menghabiskan waktu tiga jam. “Tajam ya pengamatanmu,” gumamnya membalas tanpa sadar.“Kamu tidak akan menjelaskan apa yang sedang kamu lakukan ya?”“Tidak.”Theo menghela napas.Blaise datang tepat untuk mendengarnya. “Kenapa kamu?”“Harry menghabiskan terlalu banyak waktu dengan Snape,” sesal Theo. “Dia sekarang penuh rahasia.”Blaise memperhatikan mejanya. “Itu terlihat sangat membosankan dan aku lebih ingin kembali berlatih penggunaan Mantra ku. Theo, mau ikut?”“Tentu saja,” jawab Theo, tapi tetap memperhatikan Harry.Harry menghiraukan mereka berdua. Ada yang harus dia lakukan sebelum kelas Ramuan dobel mereka dengan Gryffindor besok. ~oOo~ Harry dengan sengaja menjatuhkan kualinya saat mengeluarkannya dari ruang penyimpanan, membuat suara gemerincing bising dan mendapatkan kernyitan merendahkan dan perintah untuk duduk bekerja dengan Longbottom dari Snape. Harry berpura-pura kesal dan memerintahkan Neville untuk mulai menghancurkan biji-biji snap-pod dengan cobek dan ulekan dengan perlahan. Harry setengah memperhatikan Longbottom, sedikit berkonsentrasi pada apa yang dia sendiri sedang lakukan, dan menghabiskan sisa seluruh perhatiannya kepada Weasley dan Malfoy. Yang kemungkinan besar selalu jadi harus meramu bersama saat Snape merasa kesal dengan Harry dan menyuruhnya meramu dengan Neville.Hari ini mereka meramu Ramuan Mematikan Rasa—hasilnya akan terlihat seperti pasta kental berwarna hijau-abu-abu dan dapat dioleskan ke kulit untuk menghilangkan sensasi pada bagian tersebut untuk sementara. Harry telah menghabiskan banyak waktu mempelajari bahan-bahan yang dibutuhkan secara detil, meramu ramuan tersebut, dan bereksperimen menambahkan atau mengurangi bahan-bahan tertentu, sampai akhirnya dia mendapatkan hasil yang sempurna. Yang dia lakukan hanyalah mengubah resepnya sedikit, tapi akan menghasilkan efek yang sangat berbeda.“Tidak, tidak—aduk lebih pelan,” gumamnya ke Neville. “Lalu aduk ke arah yang berlawanan sebentar—begini, seperti ini.” Dia memegang tangan Neville dan memandunya mengaduk ke arah berlawanan jarum jam satu kali sebelum kembali mengaduk mengikuti jarum jam. Ramuannya, yang agak mulai bergeser dari warna hijau zaitun pada langkah ini di resep ke warna kuning mustar, kembali berubah menjadi hijau zaitun.“Terima kasih,” gumam Neville terus mengaduk lebih pelan. Harry merasa lega melihat hasil dua bulan mengajari Neville pengetahuan Ramuan di grup belajar mereka—yang sudah mereka lakukan beberapa minggu—mulai terlihat. Walaupun perlahan.Dia melirik kuali Malfoy dan Weasley lagi, menghiraukan bisikan pertengkaran dan ejekan pelan mereka, dan memperhatikan warna ramuan.Hijau zaitun dengan sedikit warna abu-abu. Sudah waktunya.Harry memiringkan kepalanya, berkonsentrasi, dan saat Weasley berbalik badan untuk mengambil pisau dan Malfoy membaca bukunya, dengan sihir tanpa tongkat dia mengangkat tiga hati kodok dan segelas lendir siput berbintik Brazil dari perlengkapan meramu Weasley yang terbuka dan memasukkannya ke kuali mereka.Ketiga hati dan lendir tersebut masuk ke dalam kuali tanpa membuat percikan.Harry mengigit bibirnya. Itu adalah bagian yang mudah. Hati kodok akan menghilangkan efek campuran rumit dari tiga bahan lainnya yang memberikan hasil mematikan rasa, tapi tetap membiarkan efek dasarnya—menargetkan sel saraf—tetap ada. Lendir siput memberikan hasil berkebalikan dari ketiga bahan tersebut, dimana dia akan bereaksi dengan sisa dari reaksi yang telah bercampur dengan hati kodok dan membuat saraf yang terkena merasakan sakit yang sangat keras. Harry telah mencobanya pada dirinya sendiri dan tahu kalau itu bukanlah pengalaman yang menyenangkan.Jadi sekarang yang harus dia lakukan adalah membuat Weasley dan Malfoy sama-sama merasakan hal tersebut. Itulah bagian yang menyulitkan.Tiba-tiba Harry melirik ke kuali Jules dan Finnegan, yang terlihat dibiarkan mendidih begitu saja dan sama sekali tidak terlihat berwarna mendekati hijau-abu-abu sebagaimana seharusnya. Harry memeriksa hasil kerja Neville dan terkejut saat melihat walaupun warna ramuannya tidak begitu benar dan mungkin tidak akan terlalu mematikan rasa saat digunakan, Neville kurang lebih berhasil mengikuti resep yang ada tanpa diawasi dan tidak meledakkan kuali mereka. Ramuan yang sedikit berhasil jauh lebih baik daripada ramuan yang meledak.Tentu saja justru Harry yang mempelajari cara membuat ledakan saat meramu saat Neville akhirnya belajar untuk menghindarinya.Dia tambahkan sedikit kalsit ke kuali Jules, membuat ramuan di dalamnya mendesis dan mengeluarkan percikan-percikan kuning, dan ketika perhatian semuanya teralihkan Harry kembali berfokus kepada Malfoy dan Weasley.Gumpalan besar wormwood tumbuk melayang keluar dengan sendirinya dari peralatan meramu Malfoy dan masuk ke kuali mereka.Dalam sekejap kelas menjadi kacau. Kuali Malfoy dan Weasley meledak dan menciprati keduanya dengan Pasta Mematikan Rasa yang telah dimodifikasi tersebut. Neville melompat kaget. Kedua target Harry seketika berteriak kesakitan dan mencoba mengelap ramuan yang mengenai mereka, yang jelas membuat ramuan tersebut lebih menyebar. Malfoy terkena lebih banyak percikan ramuan tersebut, dan bahkan terkena di matanya juga, tapi Weasley juga terkena cukup banyak. Lavender Brown, Parvati Patil, dan dua pengikut Malfoy juga terkena sedikit hasil ledakan dan mulai ikut mengeluh kesakitan, menambah kericuhan di kelas.Harry melihat ke bawah dan menyadari kalau Neville telah menumpahkan kuali mereka dan segera menghindari tumpahan Pasta Mematikan Rasa yang mulai menyebar. Memang ramuan itu tadi cukup baik hasilnya, tapi sekarang bereaksi dengan sisa bahan mereka di meja dan berubah warna menjadi ungu pekat. Kuali Bulstrode dan Parkinson juga tumpah.Suara letupan kencang dari tongkat Snape membuat seluruh anak kecuali Weasley dan Malfoy diam. Snape mengayunkan tongkatnya dan menghilangkan ramuan yang mengenai kedua anak tersebut. Karena ramuannya menghilang, sel saraf berhenti menyampaikan rasa sakit ke otak mereka dan akhirnya mereka terdiam terisak. Malfoy bahkan ada ingus di wajahnya dan ini pertama kalinya dia terlihat seberantakan itu.Snape memaksa mereka meminum Tegukan Penenang, menghilangkan kedua ramuan yang tumpah, memeriksa murid-murid lain yang juga terpercik ramuan tersebut, dan mengumumkan kalau kelas mereka hari ini dihitung gagal dan tidak ada satupun dari mereka diberikan nilai. Sebelumnya Snape telah memberikan tugas esai mengenai ciri-ciri kalsit; sekarang mereka mendapatkan tugas esai lain untuk mengganti nilai kelas itu mengenai sejarah, proses meramu, dan penggunaan Pasta Mematikan Rasa. Dia memeriksa sisa dari ramuan Weasley dan Malfoy di kuali mereka saat seluruh murid lain merapihkan meja kerja dan peralatan mereka.Baru setelah itu dia menyuruh semuanya untuk duduk kembali dan menatap Weasley dan Malfoy tajam. “Mr. Weasley. Mr. Malfoy. Apa salah satu dari kalian memasukkan hati kodok ke ramuan ini?”“A-apa?” Weasley tergagap. “Hati kodok? T—““Untuk apa kami memasukkan hati kodok?” tanya Malfoy. “Itu bukan salah satu bahan ramuan tersebut, sir.”Snape mengacuhkannya. “Lendir siput berbintik Brazil? Wormwood tumbuk?”Rasa hormat Harry kepada kemampuan meramu pria tersebut bertambah.“Tidak,” jawab Malfoy dan Weasley, terlihat bingung dan kaget dan tidak hanya kaget seperti sebelumnya.Snape melihat seisi kelas dengan kernyitan dahi paling tajam yang pernah Harry lihat. “Sepertinya,” ucapnya dengan suara dengki tajam dan pelan, “ini adalah sebuah sabotase yang terencana.”Harry membuat wajahnya terlihat datar. Dia tidak melihat ke Theo dan Blaise dan tahu kalau mereka cukup pintar untuk tidak melihat ke arahnya.“Tongkat sihir kalian akan diperiksa dengan Priori Incantatem untuk beberapa jam terakhir,” lanjut Snape, matanya melirik ke Harry, “dan kalau aku menemukan bukti campur tangan sihir pada ramuan Weasley dan Malfoy…”Dia tidak menyelesaikan apa yang dia ucapkan, tapi semuanya mengerti.Harry dengan diam menyerahkan tongkatnya ke Snape saat sudah mencapai gilirannya di barisan. Dengan hati-hati dia menghindari bertatap mata dengan kepala asramanya saat Snape menyentuhkan tongkatnya dengan tongkat Harry dan dengan pelan mengucapkan, “Priori Incantatem.”Bayangan seperti asap keluar dari tongkatnya, menampilkan Harry berlatih Mantra Penukar tadi pagi sebelum keluar dari kamarnya, mantra pembalik dari Kutukan Jari Agar-agar dan sekilas Reparo yang Harry lakukan untuk memperbaiki halaman catatannya yang robek. Tidak ada yang mengimplikasikan kalau dia menerbangkan bahan-bahan ramuan dengan sihir di kelas.Snape akhirnya membiarkannya pergi. “Ini… tidak ada masalah,” katanya seakan seluruh kata harus dia paksa untuk ucapkan. “Kau menggunakan mantra pembalik Jari agar-agar untuk siapa?”“Longbottom, sir.” Harry masih harus mencari tahu siapa yang melakukannya. Neville mengira kalau yang melakukannya anak Ravenclaw kelas atas, tapi tidak begitu yakin.Snape menutup mulutnya. “Mm. Kau boleh pergi.”“Terima kasih, sir.” Harry keluar kelas.Dia langsung dicegat oleh Blaise dan Theo, yang menatapnya tajam untuk tidak mengatakan apa-apa dan langsung membawanya ke kelas yang tidak digunakan.“Kamu yang melakukannya,” ucap Theo langsung.Harry menyilangkan tangannya. “Bagaimana kalian yakin?”“Selain fakta kalau kamu terobsesi belajar ramuan selama tiga hari dan bagaimana Snape terlihat terkesan dengan seberapa cerdik dan terencana sabotase tadi?” balas Blaise datar.“Itu hanya bukti tidak langsung,” bantah Harry mengikuti istilah yang dia dengar dari acara TV detektif yang ditonton Bibi Petunia.Theo mengangkat bahunya. “Dan aku melihat kamu menatap kuali Malfoy tepat sebelum beberapa hati kodok dan lendir siput masuk ke dalamnya. Tanpa menggunakan tongkat.”Harry melihat mereka berdua, berdebat dengan dirinya sendiri. Dia tadinya berharap untuk menyembunyikan sihir tanpa tongkatnya lebih lama dan agak sedikit kesal dengan dirinya karena tidak lebih berhati-hati. “Kenapa kalau aku yang melakukannya?” akuinya perlahan.“Itu luar biasa,” puji Theo. “Aku tidak kesal dengan sabotase tadi. Apa yang kamu rencanakan hebat dan Malfoy menjengkelkan. Sangat Slytherin. Hanya saja—sihir tanpa tongkat?”“Aku memiliki banyak waktu luang saat keluarga bodohku mengunciku di lemari di bawah tangga setiap harinya,” terang Harry datar. Blaise, yang tidak tahu banyak detil tentang hidup Harry dengan keluarga Dursley, berkedip terkejut. “Saat aku menyadari kalau hal-hal aneh yang terjadi di sekitarku itu berhubungan denganku, aku langsung mencoba mengendalikannya.”“Coba lakukan sesuatu,” kata Blaise.Harry mengepalkan tangannya dan mulai berkonsentrasi. Kelas tadi sangat melelahkan, dan dia kurang tidur selama beberapa hari, tapi—Blaise perlahan melayang beberapa inci dari lantai. Dia teriak terkejut. “Turunkan aku!”“Itu bukan reaksi yang sangat Slytherin,” komentar Harry menurunkannya kembali.Mulut Theo agak terbuka. “Harry, apa kau—apa kau tahu seberapa langka ini?”“Aku sudah mencari tahunya,” ucap Harry, berharap mereka berhenti membicarakan hal ini. Ini tidak seakan dia mengalahkan kutukan tak terpatahkan seperti yang dilakukan kembarannya. Ini hanya... kekeraskepalaan, sebagian besarnya. “Memang cukup langka, tapi aku tidak bisa melakukan hal-hal lain selain hal-hal mudah, dan aku langsung sakit kepala dan merasa sangat lelah kalau melakukan terlalu banyak—bahkan sekarang kepalaku mulai pusing...”“Tetap saja,” kata Blaise. “kamu tetap bisa mengontrolnya.”Harry benar-benar tidak menyukai bagaimana mereka berdua menatapnya. Tatapan mereka seakan hampir melewati garis terkesan menuju kagum. Dia tidak ingin membuat orang-orang merasa kagum. Setidaknya tidak mereka. Dia mau Theo dan Blaise menjadi—temannya. Kalau itu adalah hubungan mereka.“Troll,” ucap Theo tiba-tiba.Blaise mengernyitkan dahi. “Apa?”“Benar kan kamu tidak memegang tongkatmu!” kata Theo menjentikkan jarinya. “Pantas saja kamu terlihat sangat lelah. Aku juga bisa menggunakan mantra Incendio sebagus kamu, dan itu tidak membuatku begitu lelah. Kamu membakar troll itu dengan sihir tanpa tongkat kan?”“...mungkin,” akui Harry perlahan.Blaise bersiul.“Jangan menjadi sombong ya,” kata Theo. “Hanya karena kamu jenius berbakat dalam sihir tanpa tongkat bukan berarti kamu lebih hebat dari kita. Kamu tetap payah di Mantra dan Sejarah Sihir.”“Semuanya payah di Sejarah Sihir,” protes Harry, tapi ketegangan di antara mereka telah menghilang, dan dia merasa sangat lega mereka menghabiskan hari itu tanpa memperlakukan dirinya berbeda dari biasanya. ~oOo~ Hari selanjutnya Harry mencegat Malfoy di kamar mandi.“Potter,” ucap anak itu saat dia menyadari Harry berdiri bersandar di tembok samping pintu kamar mandi. “Apa yang kamu inginkan?”Dia mengucapkannya diiringi dengan tatapan mencemoohnya.Harry menyengir tajam ke arahnya. “Senang melihat kamu sudah tidak di ruang kesehatan, Malfoy.”Malfoy menatapnya tajam. Dia merasa kesal saat Snape membawanya dan Weasley ke ruang kesehatan untuk memastikan cipratan ramuan yang mengenai mereka tidak memberikan efek samping lainnya. “Apa pedulimu?”“Tidak sama sekali,” balas Harry terus terang. “Aku hanya memberikanmu peringatan. Sebagai sesama anak asrama Slytherin. Kalau aku jadi kamu, aku akan lebih berfokus kepada Weasley dan Potter yang satu lagi, menjauhi Neville Longbottom, dan berhenti memanggil Granger dengan Darah Lumpur. Kalau tidak nanti kamu akan lebih... kesakitan.”Raut wajah Malfoy terlihat bingung, lalu terkejut, lalu marah, lalu—tetap marah, tapi agak sedikit takut juga.Dia menyengir ke Malfoy, sengiran tajam yang dia pelajari dari Blaise. Wajah Malfoy memucat.“Sampai jumpa saat makan malam,” ucap Harry riang dan berbalik badan. Pundaknya menegang saat dia membalikkan badannya dari Malfoy, tapi tidak ada kutukan dilempar ke arahnya.Taruhannya sukses.“Bagaimana?” tanya Theo saat Harry bergabung dengannya dan Blaise di ruang umum.“Aku rasa mulai sekarang dia hanya akan mencari ribut dengan anak-anak Gryffindor yang memang menyebalkan,” jawab Harry langsung mengeluarkan buku-bukunya. Ada esai Mantra yang harus dia tulis dan tugas Astronomi yang harus dia lakukan sebelum kelas mulai. “Kelas Ramuan akan menjadi lebih mudah tanpa Malfoy mengisengi Longbottom setiap sepuluh menit.”“Dan kita tetap bisa menonton Pertunjukan Malfoy melawan Weasley,” setuju Blaise. “Bagus sekali.” ~oOo~ Dia menulis surat kepada James lagi pada pertengahan November. Sudah cukup lama setelah terakhir kalinya dia mencoba untuk mengubungi ayahnya, tapi dengan Jules masih memperlakukan Harry dengan dingin dan Natal akan segera tiba, dia tahu sudah saatnya dia melakukan sesuatu.
James,
Aku tidak mendengar kabar apapun darimu selama semester ini. Aku akan menganggap kalau kamu marah padaku karena aku diseleksi masuk Slytherin. (Kalau tidak, tolong beritahu aku kenapa kamu tidak pernah membalas suratku, dan kamu bisa mengabaikan sisa paragraf ini.) Aku tidak memilih masuk Asrama ini, Topi itu menseleksiku masuk ke Slytherin dan tidak mendengarkanku saat aku menolaknya.
Secara teknis dia berbohong tapi Harry rela berbohong kecil seperti itu kalau itulah yang dibutuhkan agar hubungannya dengan ayahnya tetap baik untuk semester ini.
Beberapa anak Slytherin itu baik. Theo Nott itu anak yang baik. Dia tidak suka berprasangka buruk dan mengikuti keyakinan darah murni seperti beberapa yang lainnya. Blaise Zabini tidak begitu menyukai Penyihir Kelahiran Muggle, tapi dia mulai merubah pikirannya. Aku masih berpikir kalau Malfoy itu menyebalkan. Dia selalu diikuti dua anak yang terlihat seperti gumpalan daging bernama Crabbe dan Goyle. Kalau kamu mengenal ayah mereka—apa berbadan besar dan bodoh merupakan hal yang turun temurun di keluarga mereka?
Aku masuk ke dalam kelompok belajar yang bertemu beberapa kali setiap minggunya. Kami sudah empat kali diusir dari perpustakaan karena terlalu berisik. Kebanyakan itu terjadi saat Theo dan para anak Ravenclaw berdiskusi mengenai suatu hal, karena Theo suka berdialog dan para Ravenclaw suka berdebat. Anak-anak lain dalam kelompok belajar itu adalah Daphne Greengrass, Tracy Davis, Neville Longbottom, Hermione Granger, Justin Finch-Fletchley, Sue Li, Anthony Goldstein, Hannah Abbott, dan terkadang Lisa Turpin.
Hampir menyakitkan untuk Harry menulis begitu terus terang bahwa anggota kelompok belajarnya mencangkup murid-murid dari keempat Asrama—dengan dua nama yang dapat James kenali merupakan nama anak Kelahiran Muggle, dan beberapa lainnya yang kemungkinan adalah blasteran—tapi dia tidak yakin apa yang ingin dia sampaikan akan dapat dipahami oleh James kalau dia tidak seterus terang itu. James adalah seorang Gryffindor yang tidak dapat berbicara halus.
Neville, dan Hermione, dan Theo, dan aku mengalahkan satu Troll saat Halloween. Theo dan aku sedang berjalan-jalan saat tiba-tiba kami bertemu dengan Neville yang mengoceh tentang troll di lorong bawah tanah dan bagaimana Hermione sedang berada di kamar mandi sehingga dia tidak mungkin tahu mengenai hal tersebut. Kami memutuskan untuk menjemputnya sembari kembali ke Aula Utama, tapi troll itu ternyata tidak ada di lorong bawah tanah; dia ada di lantai satu dan hampir membunuh kami semua. Kami berhasil selamat dan bahkan mendapatkan poin Asrama setelah itu.
Aku yakin kamu telah mendengar hal ini dari Jules, tapi pertandingan Quidditch berakhir dengan heboh dan dramatis. Jules terbang dengan sangat baik, jelas kalau dia berbakat. Aku akan mencoba masuk ke dalam tim juga tahun depan, tapi aku tidak yakin dapat bisa sebagus Jules.
Kalimat lain yang juga menyakitkan.Harry menggigit bibirnya, memikirkan bagaimana dia akan mengatur kata untuk mengatakan hal selanjutnya.
Ada daftar yang disebarkan untuk semua murid yang ingin tinggal selama liburan. Karena aku tidak mendapatkan kabar apapun darimu selama semester ini, aku akan menganggap hal itu berarti kamu tidak ingin aku pulang. Kalau aku boleh pulang ke Manor Potter untuk liburan Natal, balas suratku dan aku akan menghapus namaku dari daftar tersebut, tapi untuk sekarang namaku tertulis sebagai salah satu yang akan tetap tinggal selama liburan.
-Harry.
Theo menarik surat itu dari tangannya dan membacanya. “Isi surat itu jauh lebih baik dari apa yang pantas dia terima,” gumamnya sembari memperlihatkannya ke Neville yang juga ikut membaca dan mengangguk setuju. Mereka bertiga sedang di perpustakaan, menunggu anggota kelompok belajar mereka yang lain datang agar mereka mulai dapat mempersiapkan diri untuk ujian tengah tahun Transfigurasi.Harry menarik suratnya kembali. “Aku ingin memiliki tempat untuk pulang pada libur musim panas nanti oke?”“Kalau dia tidak mau kamu pulang ke rumah, aku yakin kamu akan diterima di rumah-rumah yang lainnya,” kata Theo. Dia terdiam ragu sejenak. “Termasuk rumahku, tapi—ayah kita tidak bisa dibilang akur. Situasinya bisa menjadi... rumit.”Neville terlihat bingung. “Bukankah ayahmu justru akan menerima Harry dengan senang hati kalau begitu? Untuk membuat James marah?”“Belum tentu,” jawab Harry. “Aku memang anak Slytherin, tapi aku juga bagian keluarga Potter, dan keluarga Potter dan Nott tidaklah akur.” Dia tidak percaya dia harus menerangkan permasalahan halus seperti ini ke Neville lagi. “Hubunganku dengan ayahku dapat semakin merenggang kalau aku pergi ke rumah salah satu musuh bebuyutannya untuk libur musim panas. Selain itu, akan tidak sopan bagiku meminta untuk ke rumah Theo karena hubungan dia dan ayahnya bisa saja memburuk kalau dia bersikeras untuk mengundangku ke rumahnya. Akan lebih baik untuk semuanya kalau aku... entahlah, mungkin aku bisa tinggal di Leaky Cauldron selama beberapa bulan di Leaky Cauldron— Kuali Bocor selama beberapa bulan. Mungkin aku bisa meminta kepada Goldstein untuk ke rumahnya... dia selalu berbicara mengenai betapa sepinya rumahnya saat musim panas...”“Ka—kamu bisa berlibur ke—rumah ku,” tawar Neville tergagap. “Ka—kalau kamu butuh. Aku yakin Nenekku akan menerimamu dengan senang hati.”Harry bertatapan mata dengan Theo saat muka Neville memerah dan dia menunduk menatap meja. Ini hampir agak terlalu mudah.“Apa kamu yakin Nev?” tanyanya ragu. “Aku tidak ingin merepotkanmu...”“Itu tidak merepotkan,” bantah Neville dengan wajah terlihat lega. Mungkin dia mengira Harry akan mentertawakan tawarannya. “Sungguh. Rumah kami besar dan sepi, dan—dan juga tidak ada banyak ada anak-anak berkeliaran. Ditambah lagi—ayahmu tidak akan bisa protes, aku sering bermain dengan Jules sejak kami masih kecil—““Terima kasih Neville,” ucap Harry. Rasa terima kasihnya tidaklah dibuat-buat... hanya lebih dia tunjukkan daripada biasanya. “Aku tidak bisa mengungkapkan... maksudku, ini berarti banyak untukku. Selama ini aku sangat khawatir kemana aku harus pergi saat libur musim panas nanti. Dan tentang—tentang ayahku tidak ingin aku pulang, maksudku...” Dia menggigit bibirnya.Neville menepuk bahunya dengan canggung. “Ya—itulah apa yang harusnya teman lakukan bukan? Saling membantu satu sama lain?”“Iya,” setuju Harry dengan rasa terima kasih.Theo mengerlipkan mata ke arahnya.Neville kembali membaca buku Transfigurasinya dengan kuping yang memerah, dan Harry membalas tersenyum ke arah Theo. ~oOo~ James Potter tidak pernah membalas suratnya. Harry meyakinkan dirinya kalau dia tidak peduli dan menuliskan namanya pada daftar “tetap tinggal di Hogwarts”.Theo dan Blaise saling berpandangan.“Oh, sudahlah, aku tahu kalian ingin pulang,” ucap Harry lebih kasar dari yang dia niatkan.“Kamu bisa berlibur dengan salah satu diantara kami,” kata Blaise.“Benar sekali. Pergi ke Italy denganmu dan ibumu yang ayahku benci, atau dengan Theo, yang ayahnya lebih dibenci lagi oleh ayahku.” Harry menggelengkan kepalanya. “Kita sudah membicarakan kenapa aku tidak bisa melakukan keduanya.”Mereka sudah membicarakannya secara detil dan berputar-putar, sampai akhirnya memutuskan kalau keluarga Longbottom adalah pilihan yang aman dan kemudian melakukan ‘pembicaraan’ itu kepada Neville. ‘Pembicaraan’ dimana Harry merencanakan cara meminta bantuan kepada teman sesopan mungkin tapi dengan mendapatkan hasil yang terbaik.Teman-temannya terdiam.“Demi Merlin,” keluh Harry. “Sungguh, aku akan baik-baik saja.”“Seluruh kawanan Weasley akan tetap di Hogwarts, dan katanya Jules juga memilih tinggal untuk menemani Ronald,” potong Parkinson tiba-tiba duduk di meja mereka di ruang umum. “Mungkin kamu akan membutuhkan bantuan. Dan karena itu aku juga akan tetap di Hogwarts.”Harry menatap gadis itu curiga. Dia tidak tahu harus berpendapat seperti apa mengenai Parkinson. Ia terlalu pintar untuk selalu mengikuti kata-kata Malfoy, yang berarti mungkin saja dia menyambungkan status sosialnya dengan Malfoy, atau memiliki rencana jangka panjang yang melibatkan Malfoy, atau seperti layaknya Crabbe dan Goyle dia mungkin juga memiliki kewajiban keluarga yang mengharuskannya untuk mengikuti Malfoy. “Aku tidak yakin aku dapat mempercayaimu Parkinson,” ucapnya perlahan.“Jahatnya,” balas gadis itu menyengir. “Kita anak Slytherin kan saling membantu.”Harry menatapnya tajam.“Tidaklah buruk bukan?” ucap gadis itu. “Aku dengar kau berhubungan baik dengan si Kembar Weasley.”Nah itu dia. “Itu benar,” akui Harry menahan untuk tidak ikut tersenyum. “Mari aku tebak, ada sesuatu yang kau inginkan dari mereka sebagai bayaran untuk kamu tetap tinggal untuk membantuku saat liburan?”Parkinson menghela napas. “Dan aku sudah bersusah payah untuk mengisyaratkannya.”“Aku sedang tidak ingin bermain kata-kata,” jawab Harry tidak peduli. “Jadi apa yang kau inginkan?”“Mereka cerdas dalam berkeliaran diam-diam,” kata Parkinson. “Kalau kau bisa mencari tahu siapa pacar rahasianya Lucas Robert dari mereka, aku akan menulis namaku ke daftar yang tinggal saat libur dan membantumu melawan si gerombolan Weasley.”Harry memiringkan kepalanya, mempertimbangkan.“Huh, itu bukanlah tawaran yang buruk,” komentar Blaise.Parkinson merajuk. “Kau mengatakan hal seperti itu seakan aku tidak dapat memberikan penawaran yang bagus, Zabini.”“Hanya terkejut kau melakukannya dengan Harry,” balas Blaise tajam.“Dia memiliki apa yang aku inginkan,” terang Parkinson tersenyum lebar. “Koneksi dengan si Kembar Teror.”“Setuju,” kata Harry.Mereka pun bersepakat. ~oOo~ Tiga jam kemudian, setelah menukarkan mantra untuk kutukan yang akan menarik turun celana seseorang yang Harry pelajari dari anak Slytherin kelas empat, Harry berjalan kembali ke ruang umum Slytherin dan berjalan menuju Theo dan Blaise melewati Parkinson tanpa melirik sedikitpun ke arahnya. Namun, seseorang yang memperhatikan dengan jeli—seperti Theo Nott—akan melihat kalau ada secarik kertas yang jatuh dari tangan Harry tepat ke atas esai Mantra Parkinson yang hampir dia selesaikan. Parkinson mengambil kertas itu sambil menutupinya dengan menggulung esai tersebut dengan rapih dan membaca isi dalam kertas itu saat dia menaruh gulungan esainya di dalam tasnya.
Elizabeth Osborne, kelas lima Gryffindor.
Seseorang yang memperhatikan dengan jeli itu juga melihat kalau sebagaimanapun hebatnya Parkinson menyembunyikan perasaannya agar tidak tersirat, apa lagi untuk anak berumur sebelas tahun, gadis itu terlihatlah sangat senang saat dia merapihkan barang-barangnya dan pergi keluar dari ruang umum.Theo melirik ke Harry—yang sengaja tidak menghadap ke arah dimana Parkinson tadi duduk—dan mengedipkan sebelah matanya. ~oOo~ Harry menghiraukan komentar mengejek Malfoy tentang bagaimana dia tidak memiliki keluarga untuk pulang berlibur selama dua hari sampai akhirnya dia mulai diperlakukan dengan dingin oleh Greengrass dan Davis dan akhirnya memutuskan untuk menghentikannya sebelum posisinya di Slytherin—yang selalu berada di ambang bahaya—menjadi buruk. Pada saat Malfoy mengulangi ejekan tersebut kembali, Harry menghadap ke arahnya dan dengan santai membalas, “Setidaknya tidak ada satupun anggota keluargaku yang dipenjara di Azkaban, Malfoy. Kapanpun juga aku akan memilih punya keluarga seperti keluargaku sekarang daripada keluargamu.”Malfoy melemparkan kutukan pertama. Harry menghindar dan membalasnya dengan kutukan yang dia dapatkan dari si kembar Weasley. Seketika Malfoy tidak dapat berbicara dalam bahasa apapun kecuali Swahili dan membuatnya tidak dapat mengucapkan mantra apapun. Salah satu Prefek memperingati mereka untuk tidak berduel di ruang umum, tapi tidak begitu serius karena ‘duel’ mereka selesai hampir seketika baru dimulai. Harry sudah tahu kalau kebanyakan pertengkaran dapat diselesaikan dengan sihir selama hanya yang bertengkarlah yang terkena dampaknya. Malfoy keluar dengan marah dan Harry mendapat anggukan pengakuan dari Greengrass, Blaise, dan –yang mengejutkan—Chaser kelas tiga Adrian Pucey, yang sedang duduk di dekat mereka.Blaise dan Theo naik kereta bersama dengan hampir seluruh murid sekolah ke Selatan untuk bertemu keluarga mereka, berjanji untuk mengirimkan surat setidaknya sekali selama liburan.Pada hari pertama libur, Harry dan Parkinson berada di ruang umum setelah sarapan hanya dengan dua murid lainnya dan tanpa tugas sekolah sama sekali. Parkinson memutuskan untuk mulai mengajari Harry bermain catur sihir dan mengalahkannya habis-habisan. Ternyata di asrama mereka ada sebuah tradisi bagi salah satu Prefek kelas tujuh untuk tinggal saat liburan jika ada murid yang menetap saat liburan. Tahun ini Prefek yang menetap adalah Spencer Wright, yang sibuk belajar untuk NEWT tapi tetap meluangkan waktu untuk mengajarkan kedua anak kelas satu itu catur selama satu atau dua jam. “Kita akan terus melakukan ini selama liburan, setidaknya supaya aku tidak perlu mendengarkanmu berdebat dengan bidak caturmu setiap saat, Potter,” ucapnya datar. Harry tetap menghargai apa yang Wright lakukan dan memutuskan untuk membelikan Prefek itu sekotak coklat untuk Natal.Harry kesulitan saat berbelanja hadiah Natal. Memustuskan hadiah untuk Theo itu mudah; dia hanya mengisi setengah dari kotak hadiahnya dengan cemilan yang Theo suka, yang kemudian ditambahkan dengan satu set novel muggle tentang dewa dewi Yunani dan anak laki-laki yang ayahnya adalah Poseidon. Jaga-jaga kalau ayahnya Theo tidak menyukai anaknya membaca buku karangan Muggle, Harry mentransfigurasi seluruh sampul novel-novel tersebut menjadi jilid satu sampai lima ensiklopedia lengkap mengenai tanaman-tanaman Brazil. Hadiah untuk Blaise berisikan dengan cemilan dan permen berserta sarung tongkat seperti yang Harry punya hanya ditambahkan dengan ukiran bergambar ular dan inisial BZ. Harry menghadiahkannya itu karena Blaise sering sekali berkomentar bagaimana sarung tongkatnya Harry terlihat sangatlah praktis. Tapi untuk hadiah–hadiah selain itu Harry kesulitan untuk menentukannya.Dia menghampiri Parkinson saat sarapan di hari kedua dengan tatapan serius. “Aku butuh saran untuk hadiah Natal,” ucapnya tanpa basa-basi. “Kau pintar dan tanggap dalam menentukan apa yang orang-orang akan sukai, dan jujur saja aku tidak pernah berada dalam posisi memberikan atau diberikan hadiah sebelumnya.”Parkinson meliriknya dengan cerdik. “Dan sebagai gantinya aku dapat apa?”Harry mengeluarkan ‘kartu andalan’ yang telah dia dapatkan pada malam sebelumnya. “Kebebasan dari seluruh kejahilan si kembar Weasley selama sisa tahun pelajaran ini,” balasnya langsung.Gadis itu batuk tersedak saat sedang menelan roti panggangnya, dan menatatapnya tajam—kemungkinan karena membuatnya melakukan sesuatu yang tidak pantas dilakukan seorang nona muda. “Bagaimana bisa kau meyakinkan mereka tentang hal itu?” desak Parkinson.Harry menyengir. Itu bukanlah hal yang begitu sulit; dia mendengar dari teman-teman Hufflepuffnya kalau Fred dan George telah menyihir sapu terbang milik Cedric Diggory untuk melumurkan minyak dibagian pegangannya setiap Diggory mendekat kepada Snitch. Sebenarnya itu tidak dirahasiakan, tapi si Kembar tidak terkena hukuman apapun. Yang Harry lakukan hanyalah mengancam untuk melaporkan mereka ke Percy Weasley tentang keisengan mereka tersebut kalau mereka tidak memberikan kebebasan dari kejahilan mereka kepada orang yang Harry pilih. “Anggap saja kalau memiliki hubungan dengan Asrama lain itu ada keuntungannya,” jawabnya. “Bagaimana?”“Oke,” setuju Parkinson langsung, seperti apa yang Harry perkirakan. Seminggu yang lalu siapapun anak Slytherin yang berjalan masuk pintu tertentu di lantai ke empat langsung mendapatkan rambut mereka berubah menjadi warna merah cerah selama satu hari, dan tidak ada yang Parkinson anggap lebih berharga dari rambutnya. Dia langsung mengeluarkan selembar perkamen dan pena, menggeserkan sarapannya, dan menatap Harry dengan tatapan yang membuatnya berpikir apakah dia akan menyesal telah memberikan Parkinson kesempatan untuk memberikan saran kepadanya, sesuatu yang sangat disukai oleh gadis tersebut. “Kalau begitu, pertama-tama aku harus tahu siapa saja yang akau kau akan berikan hadiah.”Harry menolak tegas untuk memberitahu Parkinson hadiah yang dia kirimkan kepada Blaise dan Theo, karena tidak mungkin dia bisa memberitahukan tentang novel-novel Muggle dan tidak mungkin juga dia hanya memberitahukan hadiah untuk Blaise. Mereka berdiskusi mengenai daftar kenalan Harry. Pada akhirnya dia mengirimkan cemilan dan surat sederhana yang khusus teruntuk kepada masing-masing mereka untuk Hannah Abbott, Justin, Sue Li, dan Lisa Turpin; dia tidak mengirimkan cemilan untuk Hermione karena orangtuanya adalah dokter gigi dan sebagai gantinya menemukan binder tugas sekolah3 yang disihir untuk mengingatkan tanggal dikumpulkannya tugas dan juga mengoreksi seluruh esai yang dia masukkan ke dalamnya berserta Mantra Penyalin praktis yang Harry tuliskan di secercak kertas dan masukkan ke sampul depan binder tersebut. Untuk Neville, Harry dan Parkinson memutuskan untuk mengirimkannya cemilan ditambahkan dengan kumpulan buku mengenai tanaman-tanaman teraneh yang pernah ditemukan di masing-masing dari ketujuh benua pada lima tahun terakhir. Harry tertawa melihat koleksi buku tersebut, tapi tidak menjelaskan apa yang lucu kepada Parkinson.Hadiah untuk anak-anak perempuan Slytherin yang lain lebih sulit. Harry pada awalnya menolak untuk menghadiahkan perhiasan hingga akhirnya Parkinson terang-terangan menyuruhnya untuk mengingat apa yang dia telah baca mengenai Tradisi Darah Murni dan membelikan keduanya sebuah gelang. Harry membiarkan Parkinson memilih gelang-gelang tersebut karena dia tidak tahu yang mana yang akan dianggap bagus dan yang mana tidak, memastikan kalau kedua gelang tersebut tidaklah terlalu mahal, dan mengirimnya beserta cemilan dan surat Natal yang sedikit lebih formal.Hadiah untuk si kembar Weasley lebih mudah. Harry mengorder satu kotak besar berisikan alat-alat lelucon yang beragam dari Toko Lelucon Zonko, membungkus kotak tersebut tanpa membukanya, dan hanya menyengir membayangkan kekacauan yang dapat dilakukan si kembar dengan amunisi yang dia berikan. Semua orang tahu bagaimana keluarga Weasley tidak memiliki banyak uang. Dia yakin tidak mungkin kedua anak tersebut dapat membeli banyak barang lelucon dari Zonko dengan uang mereka sendiri. Parkinson terlihat tidak setuju tapi tidak bisa memprotes karena dia sudah masuk ke dalam daftar aman.Harry mempertimbangkannya selama beberapa saat sebelum akhirnya menyebutkan nama ayah dan kembarannya kepada Parkinson. Dia tidak mau menyebarkan permasalahan keluarganya, tapi hubungan buruknya dengan keluarganya juga bukan lah sesuatu yang dirahasiakan—Demi Merlin, dia kan tetap di Hogwarts saat Natal—jadi akhirnya Harry hanya menarik napas panjang dan mulai memikirkan hadiah yang sesuai. Mereka berdebat selama satu jam sampai akhirnya memutuskan untuk menghadiahkan pin jubah emas berbentuk singa untuk James dan syal merah dengan mantra penghangat untuk Jules.Perdamaian mereka berlangsung pada saat-saat makan, belajar catur dengan Wright, dan kemudian bermain catur melawan satu sama lain. Meskipun perlahan, kemampuan bermain catur Harry sedikit demi sedikit meningkat. Dia juga mulai diam-diam keluar asrama untuk terbang sebelum sarapan setiap paginya. Karena insomnianya Harry juga semakin terampil dalam berkeliling diam-diam di kastil tanpa diketahui orang, dan dia yakin diantara seluruh anak Slytherin kelas satu dia lah yang paling mengenal jalan-jalan rahasia yang ada di sekolah. Parkinson—Pansy sekarang ternyata—juga menyadari hal tersebut dan benegosiasi pertukaran lain dimana gadis itu berjanji akan memberitahukan berita menarik apapun yang dia dapatkan kepada Harry, menyebarkan gosip apapun yang dia inginkan dan menyimpan rahasia Harry yang dia ketahui selama sisa tahun itu kalau Harry menunjukkan jalan-jalan rahasia yang dia ketahui satu jam setiap harinya. Harry menyetujuinya dan hanya merahasiakan jalan-jalan yang paling berguna dan sulit ditemukan dari Pansy. Bagaimanapun isi perjanjian mereka, Harry yakin Pansy juga akan selektif mengenai berita-berita yang akan dia beri kepadanya. Memang begitulah Slytherin.Harry segera menyadari kalau meskipun kemampuan sihir Pansy hanyalah biasa saja, gadis itu sangatlah cemerlang dan bahkan agak menakutkan dalam keahliannya dibidang persebaran gosip. Demi Merlin, gadis itu masih anak kelas satu, tapi sepertinya dia punya berita aib dari setengah Asrama Slytherin.Harry berusaha keras untuk menghindari Ron dan Jules. Fred dan George—dia hampir yakin kalau Fred itu kembaran yang agak lebih liar, tapi belum mendapat bukti pasti—entah bagaimana berhasil tetap berada di titik antara jenaka dan menjengkelkan setiap mereka bertemu. Harry mendapatkan beberapa kutukan menarik dari mereka dan sebagai gantinya mengajari salah satu mantra penangkal mudah yang dia pelajari dari buku yang diberikan oleh Theo musim panas yang lalu. Mantra itu adalah mantra ke empat yang mendekati legal secara hukum dalam buku tersebut. Si kembar itu menyengir dengan raut wajah mengerti saat dia memperingatkan mereka untuk tidak menggunaka mantra itu di dekat para guru.Si kembar mengajaknya perang bola salju. Pansy tidak ikut bermain, tapi Harry berkelompok dengan si kembar melawan Ron, Jules, dan Seamus, yang kalah habis-habisan. Harry tahu alasan besar mereka menang adalah karena ikatan yang hampir paranormal milik si kembar Weasley, tapi dia sangat puas melemparkan bola-bola salju ke muka Jules dengan sihir tanpa tongkat. Dia hanya pergi dari tempat itu saat si kembar memutuskan untuk menyihir bola-bola salju ke serban kepala Quirrel. Harry tidak mau mendapatkan detensi saat sedang libur.Pada malam Natal, Wright memanggil Pansy dan Harry dan anak kelas empat Eva Price dan memberitahukan mereka kalau seluruh hadiah mereka akan diletakkan di ruang umum karena hanya mereka berempat lah yang tinggal untuk liburan ini, dan salah satu tradisi Slytherin adalah tidak membiarkan siapapun merayakan Natal sendirian. Price hanya mengangguk dan langsung pergi. Wright dengan tegas menyuruh Harry dan Pansy untuk tetap duduk dan mengajarkan mereka mantra-mantra dasar untuk mendeteksi sihir berbahaya, benda-benda terkutuk, dan hadiah-hadiah berbahaya atau berisi jebakan selama satu setengah jam. “Kita anak Slytherin,” jelasnya. “Kita punya musuh. Sangat mungkin bagi para Gryffindor untuk mengirimkan kita benda-benda berbahaya, dan hal itu menghina inti dari libur Natal. Kalau kalian mendapatkan hadiah seperti itu, katakan padaku. Kita akan mencari tahu siapa yang melakukannya dan membalas mereka saat liburan selesai dan kelas dimulai kembali.”“Peraturan tidak resmi nomor sembilan,” ucap Pansy menyengir. “Selalu membalas hal yang buruk.”Wright tersenyum lebar. Harry langsung teringat kalau dia adalah seseorang yang berhasil menjadi Prefek di asrama Slytherin. “Benar sekali.”Harry merasa agak konyol, karena mungkin dia juga tidak akan mendapatkan hadiah apapun, tapi tetap ikut mempelajari mantra-mantra tersebut dengan semangat. Sihir apapun yang dipelajari pasti akan berguna kedepannya.Keesokan harinya Harry keluar dari kamarnya pada waktu tepat seperti biasanya dan pergi ke ruang umum dengan membawa buku, yakin kalau dia lah anak pertama yang bangun hari itu. Tapi ternyata dia melihat Pansy yang berbeda dari biasanya. Wajah gadis itu terlihat sangat gembira dan bahkan dia melompat-lompat di sofa.“Siapa kau dan apa yang kau lakukan kepada Pansy?” tanyanya. “Pansy tidak akan pernah melakukan hal setak pantas melompat-lompat di sofa.”“Oh diam Potter,” balas Pansy. “Hari ini Natal. Jujur saja, kalau aku tidak yakin aku akan kena kutuk, aku pasti sudah membangunkan Wright dan Price agar kita bisa membuka hadiah sekarang.”Barulah Harry menyadari kalau ada empat tumpukan hadiah di dekat perapian, dengan salah satu hadiah dalam tumpukan-tumpukan tersebut bertuliskan Harry Potter dengan tinta hitam tebal. Matanya terbuka lebar. “Aku juga dapat hadiah!”“Yah memang apa yang kamu kira?” sindir Pansy. “Kamu kan membeli hadiah untuk banyak orang.”“Aku—eh—yah, aku rasa aku tidak memikirkannya,” akui Harry malu. “Aku tidak pernah mendapatkan hadiah sebelumnya. Yah, kecuali kalau aku menghitung gantungan baju dan satu kaus kaki usang.”Pansy menatapnya. “Para Muggle itu tidak memperlakukanmu dengan baik ya?”Harry mengangkat bahu, tiba-tiba merasa canggung. Dia tidak mau melanggar peraturan tidak resmi nomor delapan: bertoleransi mengenai pendapat orang tentang politik status darah. Sejauh yang dia lihat, penyihir kelahiran Muggle memiliki kemampuan sihir yang sama dengan penyihir lainnya, hanya saja ada rintangan gegar budaya yang harus dilampaui terlebih dahulu. Bagaimana pun juga dia sudah membantu Justin (secara diam-diam) dan juga Hermione (dengan tidak terlalu diam-diam) selama beberapa bulan. Dan setidaknya, jika dia melihat statistika kependudukan yang ada dia juga yakin tidak semua Muggle itu seburuk keluarga Dursley. Tapi membela para Muggle secara terang-terangan akan membuat dirinya menjadi sasaran empuk kutukan-kutukan baik dalam ruang umum Slytherin atau saat di luar asrama, jadi yang Harry hanya bisa lakukan adalah dengan cerdik diam-diam membalas anak-anak kelas satu yang menggunakan istilah ‘darah lumpur’.“Mereka... mereka bukan orang yang baik,” jawab Harry pada akhirnya. “Aku rasa ibu dan bibiku tidaklah akur, dan bibiku melampiaskan hal tersebut padaku. Kebanyakan anak-anak di sekolahku sebelumnya tidaklah buruk, tetapi sepupuku sangatlah liar. Dia lebih terlihat seperti babi yang berpura-pura menjadi anak manusia.”Pansy menggelengkan kepalanya. “Aku masih tidak percaya mereka membiarkan anak darah murni tumbuh besar layaknya Muggle,” komentarnya. “Itu sebuah tragedi.”“Secara teknis aku bukan darah murni,” Harry mengingatkannya. “Ibuku penyihir kelahiran Muggle.”“Setidaknya dia memiliki sihir,” bantah Pansy. “Tetap saja itu satu tingkat di atas Muggle. Dan dia juga merupakan seorang penyihir yang hebat, yang mendapatkan nilai NEWT yang jauh lebih tinggi dari seluruh anak angkatannya. Ditambah juga keluargamu dari sisi ayahmu itu keluarga darah murni.”Harry telah mengetahui hal ini pada libur musim panas saat dia mencari tahu tentang budaya dunia sihir, dan sama seperti waktu itu, kenyataan bahwa kalau saja James tidak cukup berakal sehat untuk menikahi penyihir kelahiran Muggle dia akan memiliki darah yang sama penuh perkawinan sekerabat layaknya Malfoy membuatnya merasa tidak nyaman. Dia langsung mengubah topik percakapan mereka. “Apa kamu sudah mencoba memeriksa apakah ada jebakan dalam hadiah-hadiah tersebut?”“Sudah kucoba,” jawab Pansy. “Tidak ada reaksi apapun. Tapi aku tidak tahu apakah itu memang karena tidak ada jebakan apapun, atau apakah aku salah saat mencoba menggunakan sihir itu. Mantra adalah satu-satunya cabang sihir yang dapat aku gunakan dengan cukup baik4.”“Aku justru payah dalam hal itu,” akui Harry. “Kamu bisa ikut dalam kelompok belajar kami sesekali. Kalau kamu membantu dalam pelajaran Mantra, kita bisa bertukar untuk mata pelajaran lainnya.”Pansy mengangkat bahunya seakan tidak peduli, tapi Harry dapat melihat kalau dia merasa tertarik. Dia mulai mengecek kumpulan hadiahnya dengan mantra-mantra pendeteksi sembari mencoba menenangkan perasaan gembiranya melihat bagaimana ada orang yang berpikir untuk mengirimkannya hadiah, dan lalu juga mengecek hadiah-hadiah Pansy. Hari ini dia menggunakan tongkat ash-nya karena sepertinya tongkat itu lebih baik digunakan untuk kutukan, guna-guna, mantra penangkal, dan sihir apapun yang mendekati Abu-abu atau Hitam dibandingkan tongkat holly-nya. Tongkat holly lebih baik digunakan untuk Transfigurasi, Mantra, dan mantra pelindung.Tidak lama setelahnya Eva Price masuk terantuk ke ruang umum dengan rambut berantakan dan mata setengah tertutup. Dia bergumam menyapa mereka dan membuat secangkir besar teh menggunakan set teh yang ada dipojok ruang umum. Saat Wright akhirnya datang, Price sedang meminum gelas ketiganya dan sudah terlihat lebih bangun.Wright duduk dan melirik para anak kelas satu yang jelas terlihat bersemangat dan berusaha keras untuk menahan diri sebagai anak Slytherin yang tahu sopan santun.“Ini hari Natal,” ucapnya, merobek kertas kado dari hadiah pertamanya sembari menyengir ke arah mereka. “Siapa yang peduli dengan tata krama.”Tanpa disuruh lagi Harry dan Pansy langsung membuka hadiah mereka.Kumpulan hadiah Harry paling sedikit dari semuanya, tapi dia tidak peduli. Dia masih terkejut dia mendapatkan hadiah apapun. Neville mengirimkannya buku mengenaik ramuan-ramuan langka yang dituliskan oleh kakek buyutnya yang merupakan Ahli Ramuan5 terakhir di keluarga Longbottom. Dia mendapatkan buku lain dari si kembar Weasley, tapi buku yang ini disihir agar kalau dia menekan selembar perkamen dalam buku tersebut, maka perkamen itu akan menjadi bagian dari buku itu hingga nanti ingin diambil kembali. Greengrass, yang kata Pansy keluarganya memiliki usaha desain pakaian, mengirimkan Harry satu kotak besar berisi pakaian. Dia menganggap hal itu sebagai pernyataan kalau selera fashion-nya kurang baik dan dapat melihat kalau pakaian-pakaian yang dikirimkan kepadanya itu memiliki kualitas tinggi, disihir untuk setidaknya membesar dua ukuran mengikuti pertumbuhannya, dan memiliki beragam gaya juga warna. Dia tidak sabar untuk melihatnya lebih baik nanti.Davis mengirimkannya cemilan dan pin topi berbentuk ular perak yang meliuk. Theo entah bagaimana berhasil mendapatkan sepatu yang disihir agar mengikuti ukuran kaki pemakai dan juga tidak akan bersuara saat dipakai. Aku juga punya sepasang tertulis di catatan yang berserta dalam hadiah itu, dan sekarang Blaise juga punya sepasang. Akan berguna untuk diam-diam mengagetkan Longbottom. Blaise, sebagai gantinya, mengirimkan Harry cemilan berserta pena bulu gagak yang indah. Dia juga mendapatkan banyak cemilan dari anak-anak kelompok belajarnya, ditambah satu bungkus bolpen dari Hermione yang dengan cerdik disihir untuk berpura-pura menjadi pena bulu kalau yang menggunakan berkata “aku seorang penyihir”. Harry menunjukkan hadiah tersebut kepada anak Slytherin lainnya yang tidak pernah melihat bolpen sebelumnya dan walaupun enggan terlihat kagum. Wright bahkan menukarkan satu bungkus bom kotoran untuk salah satu bolpen tersihir itu. “Akan sangat berguna saat mencatat di kelas,” komentarnya, “terutama karena aku sedang tahun NEWT. Kenapa tidak ada yang pernah memberitahu aku tentang ini sebelumnya...”Price mencibir. “Sepertinya Muggle ada melakukan beberapa hal dengan benar.”Harry agak terkejut saat melihat buku mengenai latihan solo Chaser Quidditch tanpa nama dan dibungkus terletak dalam tumpukan hadiahnya. Dia menggunakan beberapa mantra pendeteksi untuk memeriksa bahwa itu bukanlah sesuatu yang disamarkan sebagai buku yang akan disukai kebanyakan anak kelas satu sebelum akhirnya mengambilnya.“Kamu kira tidak ada yang sadar kalau tiap pagi kamu diam-diam keluar untuk terbang, Potter?” kata Wright. “Tim asrama kita akan butuh Chaser baru yang bagus tahun depan, dan Malfoy lebih cocok bermain sebagai Seeker daripada kamu. Aku sudah melihat kamu terbang, dan kamu terlihat sangat natural. Aku akan melatihmu dengan sangat keras selama masa liburan ini. Enggak mungkin aku akan lulus tanpa setidaknya memastikan ada orang yang bisa menggantikan posisiku nanti.”Harry berusaha untuk menyembunyikan rasa senangnya mengenai hal tersebut. Sokongan dari Prefek kelas tujuh yang juga merupakan Chaser ulung Slytherin akan mengurangi tatapan tajam—yang beragam dari hanya waspada hingga penuh kebencian—dari anak-anak kelas atas, dan kalau dia berhasil masuk ke tim Quidditch tahun depan, dia akan menjadi lebih aman. Ditambah lagi ini berarti kesempatannya dia terbang bertambah.Kemungkinan semuanya tetap tahu apa yang dia pikirkan.Harry menyimpan buku tersebut dengan hormat dan mengambil hadiahnya yang terakhir, bungkusan berbentuk aneh yang dibungkus dengan kertas berwarna coklat. Dia membukanya dan terdiam. “Dengan nama Merlin, apa ini?”Sweater yang dalam bungkusan tersebut dirajut menggunakan wol lembut, dan terlihat merupakan buatan sendiri dan sangat hangat. Warna sweater tersebut hijau dengan huruf H berwarna perak di bagian depannya.“Merlin merdu, apa yang kau lakukan hingga mendapatkan sweater Weasley?” Price terkekeh.Harry memegangnya pada bagian pundak dengan hati-hati. “Ini adalah sweater Weasley?”“Ibu keluarga Weasley membuatnya setiap tahun untuk anak-anaknya,” komentar Price mencibir. “Aku tidak tahu kamu berhubungan baik dengan pengkhianat darah seperti mereka, Potter.”“Hanya dengan si kembar,” terang Harry. “Itu pun aku rasa karena mereka senang melihat wajah Ron Weasley memerah setiap dia mencari ribut denganku dan tidak bisa membalas apa-apa.”Price mengangkat bahunya dan menjadi tidak peduli.“Jangan pakai itu,” Pansy memperingatkan dengan suara pelan.“Aku tidaklah bodoh,” gumam Harry mengesampingkannya. “Hanya akan aku pakai di kamarku saja. Sweater ini terlihat sangat hangat.”Pansy melirik sweater itu tajam. “Ya, kelihatannya.”Dia sepertinya mengejutkan Pansy dengan kalung kerawang yang dia beli dari katalog yang gadis itu gunakan untuk memilih kalung untuk Greengrass dan Davis. “Harry!” seru Pansy langsung mengeluarkan kalung tersebut dari kotaknya. “Bagaimana kamu tahu kalau aku menyukai yang ini?”“Aku melihat kamu melihat halaman itu berulang-ulang,” jawab Harry bangga. “Kamu meninggalkan katalognya di ruang umum. Aku khawatir kamu sudah meminta kalung tersebut kepada orangtuamu...”“Mereka bilang sampai aku berumur tigabelas tahun aku hanya boleh meminta satu perhiasan kepada mereka setiap tahunnya,” kata Pansy memutar matanya. Harry masih tidak terbiasa melihat Pansy yang lebih ekspresif yang dia lihat semenjak seluruh anak seangkatan mereka pulang pada masa libur ini. Dia menjadi berpikir mungkin Pansy memiliki alasan tersendiri untuk tidak ingin menghabiskan waktu dengan orangtuanya saat libur Natal, dan ‘membantunya’ selama masa libur hanyalah alasan bagi gadis itu untuk tidak pulang. “Dan aku sudah memilih perhiasan lain untuk diminta kepada mereka.”Harry sendiri merasa senang dengan sarung tangan kulit tahan air berbulu yang yang diberikan oleh Pansy kepadanya, dan menyimpannya bersama hadiah-hadiahnya yang lain. Melihat tumpukan hadiah tersebut membuatnya merasa hatinya berbunga-bunga, dan perasaan itu hampir cukup untuk membuatnya melupakan kenyataan pahit kalau dia tidak mendapatkan apapun dari ayah maupun saudara kembarnya.Pansy dan yang lainnya juga terlihat menyadari hal tersebut, tapi setidaknya tidak ada satupun dari mereka yang mengungkitnya. Ini adalah salah satu situasi dimana Harry bersyukur dia masuk ke dalam Slytherin, dimana orang-orang mengerti kalau permasalahan keluarga itu adalah sesuatu yang kacau, dan tahu kapan mereka harus tidak ikut campur mengenai hal tersebut. Bahkan Neville saja mungkin akan mencoba membicarakan tentang hal tersebut, dan Harry mungkin harus menahan diri untuk tidak mengutuknya. Memang mantra-mantra yang diketahuinya hanyalah sebatas mantra-mantra anak kelas dua, tapi tetap saja itu lebih dari apa yang bisa Neville gunakan. Ditambah lagi Neville memiliki ketidakpercayaan diri yang akut. Akan sangat berbahaya jika Harry kehilangan kesabarannya di depan anak Gryffindor itu.Seluruh makanan di Hogwarts setiap harinya itu lezat, tapi para Peri Rumah melipatgandakannya pada Jamuan Natal. Harry makan hingga dia merasa kekenyangan dan menarik mercon sihir dengan Pansy. “Oh, kita mendapat catur sihir!” ucapnya bersemangat. “Bagus, kamu bisa mengambil itu, dan aku akan mengambil Set Penumbuh-Kutil. Aku bisa menggunakannya pada Bulstrode, dan kamu bisa berhenti meminjam pion caturku, mereka mulai mengeluh kalau aku tidak menyukai mereka—oh Merlin merdu—“Harry menoleh ke arah Pansy menatap tercengang dan tersedak saat menelan treacle tart6. Saat perhatian mereka teralih dengan mercon sihir yang meledak dan berasap dan memakan makanan pencuci mulut, para profesor ternyata meminum alkohol. Dumbledore menjadi menggunakan topi berbunga-bunga dan bukan topi penyihir yang biasa dia gunakan dan ada dua tikus putih berdiam di pundaknya. Harry menoleh tepat saat Hagrid—yang mukanya merah—mencium pipi McGonagall. Dia mengira McGonagall akan mengutuk pengawas hewan liar itu, tapi profesor itu hanya lah tertawa kecil.Harry menatap Pansy dengan perasaan sedikit mual. “Tolong katakan kalau apa yang aku lihat tadi hanyalah halusinasi.”“Aku akan mempertanyakan kewarasanmu kalau kamu berhalusinasi seperti itu,” balas gadis itu sama terlihat mualnya. ~oOo~ Masa libur berlalu dengan cepat. Harry dan Pansy menghabiskan waktu mereka untuk mengerjakan tugas sekolah bersama; dia mengerjakan tugas kelas Pertahanan dan Ramuan dengan mudah, berhasil melakukan mantra praktik kelas Transfigurasi dan menyelesaikan esai kelas tersebut dengan penuh tekad dalam waktu dua jam, menghabiskan waktu bebas malamnya mencatat observasi langit untuk kelas Astronomi, dan berusaha keras mengerjakan esai kelas Mantranya selamanya dua jam sebelum akhirnya Pansy mengasihaninya dan akhirnya membantunya. Sebagai gantinya dia memerika esai ramuan gadis itu dan membiarkannya membaca esainya untuk kelas tersebut.“Caramu menjelaskan lebih mudah dipahami daripada yang di buku,” komplain Pansy.Wright melatih Harry dari jam lima sampai enam setiap pagi dan jam delapan sampai sembilan setiap malamnya, dan Pansy diberikan arahan untuk mengawasi anak-anak Gryffindor dan mencegah mereka datang ke lapangan Quidditch. Dia melatih Harry dengan keras, tapi Harry tidak pernah terbang dengan sangat menyenangkan daripada saat-saat itu sebelumnya. Wright sepertinya menjadi semakin puas setiap sesi latihan mereka berakhir. Setiap sore Wright menggunakan mantra jangan-sadari-aku7 kepada dirinya dan Harry untuk mereka mengintai di tribun mengawasi para Gryffindor—si kembar Weasley, Ron, Jules, dan Finnegan—saat mereka berlatih. Wright terus berkomentar pelan saat melihat kemampuan mereka.“Kita akan terus berlatih setelah masa libur ini selesai, Potter,” ucap Wright penuh tekad pada tiga hari sebelum seluruh murid sekolah lain kembali. “Setiap pagi bangun pukul 05:00 dan kamu sudah harus ada di belakang kastil pada pukul 05:30. Aku bisa melatihmu selama 45 menit setiap harinya, dan kamu bisa berlatih sendiri setelahnya selama setengah jam. Kita tidak akan berlatih di lapangan Quidditch tapi di dekat danau karena kapten tim Gryffindor itu gila dan selalu berada di lapangan menyihir bola-bola Quaffle untuk terbang ke mukanya.”Harry menyetujuinya dengan senang hati. Mendapatkan kesempatan untuk terbang bukan menggunakan sapu tim Quidditch dan bukan sapu sekolah membuat latihan yang keras tidak menjadi masalah baginya, dan dia juga membutuhkan bantuan agar kemampuannya dapat mengejar Jules sebelum tahun ajaran selanjutnya dimulai. Dan juga Malfoy, yang pasti akan ikut seleksi tim Quidditch juga. Bangun pagi bukan lah suatu masalah untuknya, dia sudah terbiasa bangun pada jam lima atau enam setiap harinya. Dia mengingat-ngingat apa yang biasa dia lakukan di luar jam kelas, dan memutuskan untuk memotong waktu yang biasa dia gunakan untuk bermain Snap Meledak8 dan Gobstone di ruang umum dan menggunakannya untuk mengerjakan tugas sekolah, dan mengganti jam berlatih dengan tongkat ashnya—yang sebelumnya dia lakukan setiap pagi sebelum semua orang bangun—menjadi tengah malam saat dia biasanya mengerjakan tugas sekolahnya. Akan cukup berat, tapi tetap dapat dia lakukan. Setidaknya tidak seberat bulan-bulan terburuknya bersama keluarga Dursley, dan dia menyukai apa yang dia lakukan di sini. ~oOo~ Malam itu juga Harry memutuskan untuk mencoba hadiah dari Theo.Dia merasa puas melihat sepatu itu kuat, dengan sol yang bagus dan penyangga baik, dan juga tidak mengeluarkan suara apapun bahkan ketika dia berlari. Agak aneh untuk tidak mendengarkan suara apapun selain suara nafasnya setiap kakinya menginjak lantai, dan dia hampir terlalu memperhatikan hal tersebut hingga hampir bertemu dengan Peeves. Dia hanya tidak ketahuan karena Peeves menghadap ke arah yang bukan arah dimana Harry datang, dan dia mendapatkan dua detik yang berharga untuk bersembunyi di kelas terdekat dan berdiam.Suara tawa hantu jahil itu menghilang di kejauhan.Harry menghela nafas panjang dan pelan, dan memeriksa ruangan yang dia masuki.Ruangan itu terlihat seperti kelas yang sudah tidak digunakan, seperti ruangan kelas dimana dia bertemu dengan si kembar Weasley pada minggu pertama sekolah. Meja berdebu dan rak-rak buku yang terlupakan didorong dengan sembarangan ke pojok ruangan. Yang aneh adalah terletaknya sebuah Cermin megah yang besar—hampir dua kali tingginya Harry—dengan bingkai emas menawan terletak di tengah ruangan tersebut.“Aneh sekali,” gumamnya berjalan mendekat dan memastikan untuk tidak melihat ke arah kaca cermin tersebut—berhati-hati kalau cermin itu berbahaya. Memeriksa cermin itu dari pinggir, dia melihat kata-kata terukir pada bagian atas bingkai. Kata-kata yang tertulis terbalik. Harry memperhatikan kata-kata tersebut, bergumam pada diri sendiri, dan bertentangan dengan akal sehatnya menjadi sangat tertarik untuk melihat ke arah cermin itu saat dia mengerti makna kalimat yang terukir.
I show not your face but your heart’s desire.
Aku tidak memperlihatkan wajahmu tapi hasrat hatimu.
Hal itu bisa menjadi informasi yang berguna.Dia hampir melihat ke arah cermin saat dia mendengar suara gumul kaki-kaki dan gumaman mengutuk. Dengan segera Harry bersembunyi di balik meja di pojokan dan menahan nafasnya.“Ow—bangun, Ron—“Oh Merlin. Itu Jules dan Weasley.Harry menutup mulutnya untuk mencegah dirinya tertawa.Dia mengintip dari balik meja dan melihat Jules memasukkan sebuah kain ke dalam tasnya. Weasley sibuk bangun dari lantai di depan cermin, dimana dia terdiam dan mulutnya menganga terkejut.“Jules,” ucapnya dengan suara tercekat. “Jules, aku—““Apa yang kamu lihat?” tanya Jules bersemangat.“Aku—aku sendirian, tidak seperti yang kamu lihat—tapi aku terlihat berbeda—terlihat lebih tua—dan aku Ketua Murid!”
Yep, hal itu sama tidak mungkinnya dengan aku terseleksi ulang masuk ke asrama Gryffindor.
“Apa?” tanya Jules tidak percaya. Sepertinya dia berpikir hal yang sama.“Iya—dan aku kapten tim Quidditch! Dan aku memegang Piala Asrama dan Piala Quidditch—“Tiba-tiba dia berbalik ke arah Jules dengan bersemangat. “Apakah menurutmu cermin ini memperlihatkan masa depan?”“Mana bisa?” bantah Jules. “Harry di Slytherin, bukan Gryffindor, dan aku melihatnya memakai jubah merah...”Harry terdiam dan memikirkan hal tersebut. Hasrat hati Jules melibatkannya sebagai anak Gryffindor?Itu hampir membuatnya senang.Sesuatu dalam dirinya menginginkan hal tersebut—sebuah keluarga. Menginginkan dirinya dan Jules akur layaknya anak kembar pada umumnya, bukan hubungan buruk penuh persaingan yang mereka miliki sekarang.Harry mengasingkan perasaan tersebut sampai akhirnya hal itu kembali kepada gua gelap dimana ia berasal. Dia sudah memiliki keluarga yang baru—asrama Slytherin. Keluarga disfungsional dimana dia harus memasang mantra penangkal dan bertarung dengan kata-kata setiap saat, tapi tetaplah sebuah keluarga. Dia akhirnya memiliki teman-teman yang akan membantunya, dan kemungkinan untuk menjadi seseorang yang hebat. Itulah yang dia inginkan.“Kenapa cermin itu menunjukkan keluargamu tapi tidak keluargaku ya?” keluh Weasley. “Coba lihat lagi, periksa apakah masih sama—“Mereka bertukar tempat.“Iya,” hela Jules terlihat seakan dia sedang terpesona sesuatu. “Iya, kami—kami berdiri di luar Manor Potter, ayah ada di sana—dia terlihat sangat bangga—dan Harry ada bersamaku, tapi di sini dia terlihat baik dan tidak menyebalkan, dan dia juga menggunakan jubah Gryffindor, dan aku memegang sapu terbang dan menggunakan pelindung Quidditch-ku dan dia terlihat bahagia untukku—““Senang mengetahui kalau kamu hanya ingin aku berada bersamamu hanya sebagai anggota klub penggemarmu,” cemooh Harry keluar dari tempat persembunyiannya.Weasley dan Jules mengeluarkan tongkat mereka.“Gardus!” seru Harry membelokkan sihir yang terlihat seperti kutukan Pembeku Tubuh dan Kaki Agar-agar.“Apa yang ular sepertimu lakukan di sini?” cibir Jules.“Wow, raut mencibirmu hampir sama dengan anak-anak Slytherin,” ejek Harry dengan nada pura-pura terkejut. “Aku di sini karena sepertinya diam-diam keluar asrama merupakan hal yang diturunkan dalam keluarga kita.”“Apa kamu mendengarkan?” tanya Weasley menuntut tiba-tiba. “Apa yang kami bicarakan?”Harry menyeringai dan menghilangkan peredam warna matanya sedikit karena dia tahu bagaimana matanya akan bercahaya hijau tajam di cahaya muram ruangan tersebut. “Weasley, hasrat hatimu cukup dangkal ya.”Kedua anak itu berkedip bingung.“Yang benar saja, kalian tidak berhasil memecahkan petunjuknya?” ucap Harry menunjuk ke bagian atas cermin. “Baca kalimat itu dengan terbalik, hiraukan spasinya. I show not your face but your heart’s desire—Aku tidak memperlihatkan wajahmu tapi hasrat hatimu.”Jules terlihat terjebak dalam rasa ingin dan amarah. “Apa—jadi yang kami lihat—“Harry mengangkat bahunya.“Kau harusnya tidak menguping,” bentak Weasley, kupingnya memerah. “Sekarang kau jadi tahu apa yang kami inginkan tapi kami tidak tahu apa yang kau—““Coba lihat, Harry,” pancing Jules. “Atau mungkin kau tidak berani untuk melihatnya?”Harry mengedip sekali. Dia tidak tahu seberapa sikap tenangnya membuat kedua anak itu gugup. Bersikap tenang adalah sesuatu hal yang normal, dan bahkan diharapkan di asrama Slytherin, ditambah lagi karena masa kecilnya Harry dapat melakukannya lebih baik daripada anak-anak seangkatannya. Tapi, bagi anak-anak Gryffindor, dia mungkin terlihat seperti makhluk dari spesies yang berbeda.Isi pikirannya berputar cepat. Dia tahu kalau mereka memanipulasinya; apa yang mereka lakukan sangatlah ceroboh dan jelas, tapi tetap saja Harry merasa marah dianggap tidak dapat menghadapi apa yang akan diperlihatkan padanya, dan dia juga ingin mengetahui hal tersebut. Lagipula Jules dan Weasley tidak terlihat mendapatkan efek buruk apapun, kecuali menjadi lebih mudah tersinggung, dan mereka memang menyebalkan setiap harinya—Memasang raut wajah bosan walaupun dalam hati dia merasa sangat gugup dan ingin tahu, Harry berjalan ke depan cermin tersebut dan menatap bayangannya yang terpantul.Sekilas dia mengira kalau dia melihat James dalam cermin. Tapi kemudian Harry sadar kalau itu bukanlah James melainkan dirinya yang sudah dewasa. Mungkin sekitar umur dua puluh tahun awal, menggunakan jubah ungu Wizengamot dan cincin Lord Potter di jarinya. Theo, Blaise, dan Neville ada bersamanya dan mereka semua terlihat sangat bahagia dan percaya diri. Neville dalam cermin sudah tidak gemuk tapi memiliki badan yang berotot; Blaise sama tajamnya seperti biasa, dan senyum menyeringai Theo juga terlihat sama. Bayangan Harry yang lebih dewasa—yang rambutnya terlihat diacak sengaja agar terlihat bergaya, tapi lebih rapih daripada bagaimana Harry melihat rambutnya atau rambut James dan Jules yang sekarang—melihat ke arah Harry dan tersenyum tajam ke arahnya.Dalam sekejap suatu rasa kombinasi menyakitkan antara rasa senang dan keinginan yang dalam terasa melilit perutnya dengan kencang.Harry memalingkan pandangannya dari cermin tersebut. Tidak bagus baginya untuk duduk di situ dan hanya memandang mimpi tersebut, hal itu tidak akan memberikannya apapun.“Cermin yang hebat,” gumamnya melirik cermin itu dengan rasa hormat dan langsung bergeser dari depan cermin itu.“Jadi?” pancing Jules.Harry mengangkat kepala dan menatap mata kembarannya. “Adikku, sepertinya masa depan idealmu adalah membuat aku sebagai bawahanmu, tapi apa yang aku inginkan tidak ada hubungannya denganmu. Hanya aku dan teman-temanku, sehat dan bahagia dan berumur sekitar dua puluh tahun awal.”“Dan kau bilang yang aku inginkan itu membosankan,” cibir Weasley.“Aku bilang dangkal, bukan membosankan. Ternyata hasrat hatimu yang terdalam itu hanyalah memenangkan Piala Quidditch? Seriusan?”“Aku rasa itu hal itu lebih rumit dari yang kamu perkirakan nak.”Mereka bertiga melompat kaget. Reaksi Harry yang paling keras—dia berputar ke arah suara tersebut berasal, tongkat dikeluarkan dan segera berjongkok dan membungkukkan bahu berjaga-jaga kalau ada serangan yang datang—Dan yang muncul hanyalah Dumbledore ke hadapan mereka dari dimana dia berdiri secara kasat mata di pojok ruangan. “Mr. Weasley, aku rasa kamu menginginkan semua yang kakak-kakakmu masing-masing telah capai,” terangnya dengan lembut. “Untuk menunjukkan kalau dirimu berbeda dengan mencapai semua yang telah mereka lakukan. Mr. Potter dan Mr. Potter... ya sepertinya masa kecil kalian juga memberikan dampak kepada apa yang kalian lihat juga.”Harry telah menyimpan kembali tongkatnya dan memasang muka datar saat Dumbledore menyelesaikan apa yang dia katakan dengan mata berbinar ramah. Mata kepala sekolah itu berbinar biru cemerlang, kebalikan dari mata Snape, tapi entah bagaimana Harry merasa bertatap mata dengannya juga merupakan hal yang buruk. Dia mengalihkan pandangannya ke lantai, berpura-pura bersikap hormat kepada Dumbledore.“Profesor,” Jules tergagap, suaranya terdengar ketakutan. “Sa—saya minta maaf, kami—““Tidak perlu meminta maaf,” ucap Dumbledore tersenyum. “Aku tidak akan mengambil poin asrama kalian malam ini kalau kalian semua segera kembali ke asrama masing-masing. Cermin Tarsah ini adalah artefak sihir yang kuat, aku tidak menyalahkan kalian menjadi terpesona saat melihatnya. Tapi aku harus memujimu Harry atas tekadmu yang kuat. Sunggu jarang orang yang dapat mengalihkan pandangan mereka saat mereka pertama kali memandang ke Cermin Tarsah.”“Terima kasih, sir,” jawab Harry singkat.“Tenang saja, cermin ini akan dipindahkan setelah malam ini,” kata Dumbledore, sedikit nada tegas masuk ke dalam suaranya, "banyak orang menyia-nyiakan diri mereka menatap hasrat hati mereka pada cermin ini. Tidak bagus bagi kalian untuk hanya menatap mimpi dan melupakan dunia nyata.”Setelah mengucapkan itu dia mengarahkan ketiga anak tersebut keluar dari ruangan itu dan menutup pintunya.Harry berbalik dan melihat Jules memandangnya tajam. “Dengar saja bagaimana Profesor Dumbledore membicarakan tentang masa kecil kita,” gumam Jules. “Memangnya kenapa kalau para Muggle itu memperlakukanmu dengan sedikit kasar, bukan berarti kau berhak untuk—““Sedikit... kasar... kepadaku?” ulangi Harry menegakkan badannya dan mata berbinar terang dengan warna hijau-racun aslinya yang sepenuhnya.Jules membalas tatapan tajamnya, dengan Weasley berdiam dibelakangnya seperti bayangan pengikut merah penuh amarah. “Yep, sedikit kasar,” ulangnya. “Aku harus berlatih intensif selama bertahun-tahun, masa kecilku juga tidaklah mudah—““Aku yakin menghindari paparazi adalah sesuatu yang sangat susah,” cemooh Harry.Jules mengeluarkan tongkatnya. “Furunculus!”Harry menghindarinya dengan mudah. “Expelliarmus!” serunya dan mengambil tongkat Jules dari udara tepat waktu untuk menghindari Pembeku Tubuh dari Weasley—dia membalasnya dengan kutukan Kaki Agar-agar yang nyaris tidak dapat dihentikan oleh Weasley—dan menggunakan sihir tanpa tongkatnya untuk melapisi lantai dengan sedikit es yang membuat Weasley terpeleset—Hanya itu lah kesempatan yang Harry butuhkan.Dia melucuti tongkat Weasley dan menangkap tongkat itu juga, dan berjalan hingga dia tepat berada di depan wajah Jules. “Masa kecilku tidak melibatkan paparazi,” ucapnya pelan. “Masa kecilku penuh dengan kepalaku dipukul dengan penggorengan dan musim panas dimana aku terus menerus lari dari kejaran sepupuku dan geng anak-anak berandalannya. Masa kecilku berakhir saat aku kurang lebih berumur empat tahun. Sekali lagi kau berusaha mengatakan kalau kau telah mengalami sesuatu yang mendekati apa yang selama ini ku alami, akan aku tunjukkan apa saja yang telah aku pelajari di Slytherin.”Jules diam tak berkata-berkata. Dan jelas ada rasa takut terpancar dari matanya.Harry menikmatinya.“Kalau sudah hanya itu yang kalian ingin katakan,” kata Harry dengan nada ramah, menghilangkan rasa amarah dinginnya dengan senyum datar, “aku akan kembali ke asramaku sekarang.”Dia menjatuhkan tongkat mereka ke lantai dan berjalan pergi. ~oOo~ Di belakangnya, Jules memegang tongkatnya dengan tangannya yang tidak gemetar dan berpikir, setelah setengah tahun menyebarkan ejekan kalau Slytherin akan membuat kembarannya menjadi Penyihir Hitam kepada orang-orang, apakah mungkin yang dia katakan itu benar. ~oOo~ Di dalam ruang kelas, di samping Cermin sihir itu, Albus Dumbledore mengakhiri mantra yang membiarkan mendengarkan apa yang ketiga anak laki-laki itu bicarakan, dan menghela napas berat. Setidaknya Potter yang lebih tua berhasil menyelesaikan hal tersebut tanpa melakukan kekerasan. Albus akan terpaksa untuk menghentikannya jika hal itu terjadi, dan bahkan dia saja meringis mendengar bagaimana Julian merendahkan cobaan-cobaan yang telah diderita si malang Hadrian. Albus akan membawa rasa salah mengenai hal tersebut dalam dirinya seumur hidupnya. Dia tahu kalau dia berperan dalam meyakinkan James bahwa mengirim Hadrian kepada keluarga Dursley adalah pilihan yang terbaik.Tapi dia akan membawa rasa bersalah tersebut, dan dia tidak akan membiarkan dirinya merasa ragu, menyesali, dan berpikir kembali mengenai hal tersebut. Apa yang sudah terjadi tidak akan bisa dibatalkan kembali, dan memang itu adalah pilihan yang terbaik. Untuk kebaikan yang lebih besar9. Julian harus tumbuh besar dengan kuat, terlindungi, dan siap memerankan perannya sebagai Anak Laki-laki yang Bertahan Hidup. Seorang saudara kembar hanya akan mengalihkan perhatiannya.Albus menyingkirkan pertengkaran anak-anak sekolah dari benaknya. Si kembar Potter akan menyelesaikan permasalahan perbedaan diantara mereka atau tidak dengan sendirinya. Sementara itu, dia memiliki pekerjaan lebih penting untuk dilakukan.
