Work Text
Yoongi melipat tangannya di atas meja bar dan memesan segelas anggur. Dia mampu menghabiskannya hanya dalam satu kali tegukan."Tuang lagi!" pintanya pada si pelayan. Si pelayan menuangkan untuk yang kedua kalinya. Begitu seterusnya hingga tegukan yang ke sembilan."Minta satu botol lagi!""Nuna sudah kau sudah teler!""Jungkook kau berani melawan ya?""Ini demi kebaikan Nuna!"Si pelayan yang bernama Jungkook itu sudah mengenali Min Yoongi— yang menjadi pelanggan setianya.Yoongi menimbun kepalanya di dalam kedua lengannya yang kecil. Perlahan air matanya keluar membasahi hidungnya dan menetes ke bawah. Mata sipitnya mungkin akan sembab lagi. Yoongi merasa sedih setiap kali dia memikirkan kekasihnya Kim Namjoon yang tak kunjung memberinya kabar. Sejak keduanya lulus sekolah tingkat menengah, Namjoon memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya ke negeri Paman Sam. Sementara Yoongi memilih menetap di Korea, kuliah di jurusan akuntan hingga saat ini sudah bekerja sebagai seorang sekretaris. Yoongi masih tetap menghitung berapa jumlah malam yang ia habiskan seorang diri tanpa Namjoon. Terakhir mereka bertemu di Seoul sekitar 8 tahun yang lalu, saat-saat dimana Namjoon masih baru satu tahun kuliah di Florida.Yoongi masih ingat senyum khas milik Namjoon dengan lesung pipi yang mencolok itu, membuat Yoongi benar-benar merindukannya. Caranya Namjoon berbicara dan bagaimana pria berkulit gelap itu mengungkapkan perasaannya pada Yoongi setiap hari menjadi alasan Yoongi betah menjalani hubungan jarak jauh ini. Itu dulu tapi sekarang sudah tidak. Namjoon bahkan tidak pernah membaca chat LINE-nya. Bahkan telepon darinya tidak pernah dijawab. Yoongi selalu meninggalkan voice mail pada pujaan hatinya itu hanya sekedar untuk bertanya kabar dan atau mengucapkan selamat pagi sayang. Namun seperti biasa tak kunjung ada balasan.Yoongi mau muntah. Air anggur tadi membuat kepalanya benar-benar sakit. Ini sudah menjadi ritual bagi Yoongi, pergi ke bar ketika dia sedang dilema karena Namjoon, minum anggur sampai teler, lalu pusing dan akhirnya muntah. Belakangan dia terus muntah karena kondisi tubuhnya sedang tidak baik. Yang lebih parah lagi Yoongi pingsan di kamar mandi sampai-sampai Jungkook kerepotan mengantarnya untuk pulang ke rumah.Wanita itu bergegas ke toilet sambil menutup mulutnya karena nanti bisa saja dia menyemburkan isi perutnya. Yoongi berjalan tergopoh-gopoh karena tidak bisa mengendalikan keseimbangan tubuhnya.BrughYoongi menabrak seorang pria yang baru saja keluar dari toilet. Wanita itu makin pusing karena tubrukan tadi cukup keras."Kau tidak apa-apa?" tanya pria itu. Yoongi masih belum menjawab karena sedang berusaha mengumpulkan tenaga untuk berdiri. Pria itu kesulitan melihat wajah Yoongi karena tertutup oleh rambutnya yang panjang. Yoongi menyibakkan rambutnya ke telinga. Bekas air mata masih terlihat di pipinya yang tembam. Wanita itu menyentuh dinding dan merayap-rayap mencoba untuk berdiri. Pria itu membantunya tapi Yoongi bersikeras "Aku baik-baik saja" katanya lalu meninggalkan pria itu dan segera masuk ke toilet."Maaf tapi ini toilet pria" seru pria itu. Yoongi mengucek matanya dan membaca tulisan di dinding. Dia menyipitkan matanya karena pandangannya tidak fokus. Mata Yoongi memang minus tapi dia tidak bisa melihat dengan jelas karena matanya habis menangis dan dia sedang mabuk."Oh maaf" Yoongi segera berbalik arah dan masuk ke toilet perempuan.Setelah berkutat di toilet agak lama untuk memuntahkan anggur yang diminumnya tadi akhirnya Yoongi keluar. Dia membasuh wajahnya dengan air kran lalu mengeringkan dengan tisu."Jungkook ini buatmu" Yoongi menyerahkan beberapa uang dan bahkan lebihnya sengaja dia berikan untuk anak itu. Pria yang tadi ditabrak Yoongi melihat Yoongi yang berjalan agak terburu-buru, masih sempoyongan keluar dari bar."Tuan-tuan sepertinya aku harus pergi segera karena ada sesuatu hal yang tidak bisa dijelaskan""Eh mau kemana Park Jimin? Kau baru disini satu jam" tanya seorang pria yang diketahui menjadi rekan bisnisnya.Jimin hanya mengulas senyum "Kau seperti baru mengenalku saja!" jawabnya penuh teka-teki. Jimin tidak mau memberi tahu rekan-rekannya ini kalau dia pergi duluan dari bar hanya untuk mengejar wanita mabuk yang tadi menabraknya. Jika mereka tahu pasti bahaya. Jimin mengambil jasnya dan bergegas pergi. Setelah keluar dari bar dia menatap sekeliling mencari wanita itu. Pasti belum jauh dari sini, pikirnya.Jimin menoleh ke kiri dan mendapati wanita tadi sedang berjongkok sendirian di pinggir jalan. Jimin tersenyum lega karena masih bisa melihatnya. Dia menghampiri Yoongi yang sedang berusah menahan rasa mualnya, padahal tadi dia sudah muntah cukup banyak. Tapi kini kepalanya pusing dan perutnya jadi sakit.Jimin berlutut di dekat Yoongi, dia masih belum berhasil melihat wajah wanita itu. Rambutnya menutupi separuh wajahnya, kali ini dia bergumam "jangan menangis lagi" begitu terus-terusan."Kau baik-baik saja?" tanya Jimin. Yoongi menoleh, tatapan wajahnya kosong. Jimin melihat bekas air matanya. Di balik helaian rambutnya yang berantakan Jimin dapat melihat kalau saat ini mata Yoongi berlinang."Biarkan aku mengantarmu pulang" ujar Jimin dengan lembut.Yoongi mengangguk pelan. Dia tidak tahu siapa pria itu. Dia bahkan tidak dapat mendengar dengan jelas apa yang barusan diucapkan pria itu. Jimin menyetir mobil dengan Yoongi yang duduk disampingnya. Baru beberapa menit duduk kini ia tertidur pulas. Jimin berhasil mendapatkan alamat Yoongi hanya dengan mengandalkan ponsel milik wanita itu.Setibanya pun rumah Yoongi begitu gelap karena lampu teras belum dinyalakan. Jimin menyalakan lampu teras serta mencari kunci pintu dari tas si pemilik rumah. Setelah mendapatkannya, Jimin segera membopong Yoongi masuk ke dalam rumah. Pria itu memang kecil tapi tenaganya cukup kuat untuk mengangkat seorang wanita berikut dengan tas besarnya.Jimin menidurkan Yoongi di atas kasur, melepaskan sepatu hak tingginya dan meletakan barang-barang pribadi wanita itu di tempat seharusnya. Jimin menatap iba pada Yoongi, mengingat tadi dia melihat bekas air mata yang masih belum mengering dengan sempurna. Jimin mengusap poni yang ia anggap sejak tadi telah menutupi kecantikan wajah Yoongi. Tanpa sengaja Yoongi merespon sentuhan jahil dari Jimin dan menahannya."Jangan pergi," lagi-lagi dia bergumam kemudian menangis.Tangan mungil nan pucat itu menahan tangan Jimin, kemudian menariknya dengan kuat hingga Jimin merelakan dirinya terbawa ke atas tempat tidur. Aroma alkohol dari nafas Yoongi tercium begitu pekat. Tapi tidak berhasil membuat Jimin jera untuk mendekatinya. Jimin mengusap lagi poni Yoongi dengan lembut. Kemudian dia mendekatkan wajahnya ke arah Yoongi dan mencium bibir merah yang tipis itu. Yoongi kembali mengigau tapi ciuman tadi tidak sampai membangunkannya. Jimin tersenyum melihat Yoongi yang tertidur seperti malaikat. Kali ini Jimin mengusap alis Yoongi. Dia mengendurkan dasinya sedikit, membuka kancing kemeja miliknya satu persatu. Begitu juga dengan kancing kemeja milik Yoongi, Jimin melucuti setiap helai pakaian yang membungkus tubuh Yoongi. Jimin sadar dengan apa yang dilakukannya. Dia belum mabuk karena tadi baru mencicipi segelas wiski saja. Jimin berhasil menguasai Yoongi. Jimin mulai meraba tubuh Yoongi dengan tangan kosong, dia bisa merasakan tulang rusuk Yoongi. Dia sangat kurus, pikir Jimin.Yoongi mulai merasakan ada yang mengendus lehernya, aroma parfum laki-laki yang khas tercium kuat dari hidungnya. Yoongi masih setengah sadar, tapi dia membiarkan orang yang menyentuh tubuhnya ini berbuat sesuka hatinya. Jimin merengkuh tubuh kecilnya dan menariknya ke samping. Tangan Yoongi mulai bergerak dan menyentuh perut kotak-kotak milik Jimin, agak menekannya sedikit karena dorongan Jimin begitu kuat. Wajah Yoongi meringis kesakitan, bukan karena perbuatan Jimin melainkan ia masih merasakan efek anggur yang diminumnya tadi menusuk seluruh kepalanya.Jimin menciumnya lagi, kali ini lebih lekat. Yoongi merasakan sentuhan hangat bibir itu dan membalas ciuman Jimin. Tangan Yoongi mulai bergerak ke atas. Jemarinya menyentuh leher, telinga hingga rambut cokelat halus Jimin yang basah dan berhasil membuat Jimin sedikit terangsang. Hidung mereka bergerak naik turun, bersentuhan seiring dengan ciuman yang dilakukan. Jimin mengakhirinya karena dia kehabisan nafas. Sekujur tubuhnya basah karena keringat. Mata Yoongi terbuka perlahan tapi pandangannya kabur. Jimin melihat air mata wanita itu berlinang. Jimin mengulas senyum, bahkan pria itu tidak tahu siapa nama wanita yang baru saja dia sentuh malam ini. Yang Jimin pikirkan hanyalah dia ingin membuat Yoongi merasakan keindahan cinta meski hanya satu malam saja.
