Work Text
Eula sedang dalam keadaan yang…. kurang baik.Bukan kurang baik karena ia sakit, tapi kurang baik soal suasana hatinya yang berantakan. Sour mood is still an understatement to describe her today because honestly, what she wanted to do is to cleave her insides out. Patroli di jalur trek yang dijadwalkan pagi ini selesai lebih cepat karena anak buahnya mengenali nada sewot yang terselip dalam intonasi suara Eula, atau karena kedua alisnya yang menyatu seperti tanda-tanda orang yang mulai iritasi. Sebenarnya tidak ada masalah besar di sepanjang jalur patroli, hanya ada monster-monster kecil yang tak mengganggu garis keamanan kota Mondstadt dan desa-desa di sekitarnya, tapi ketika grup patroli mereka mendadak berurusan dengan seorang pedagang yang banyak mau, Eula hampir meledak di tempat itu juga.“Dengar, ya, Tuan yang terhormat—”“A-ah, biar saya saja yang membantunya, Kapten,” salah seorang anak buah Eula buru-buru menyela. “Kapten bisa pulang lebih dulu dan melapor kepada Acting Grandmaster Jean. Laporan dari saya akan menyusul setelah urusan ini selesai. Saya pastikan tidak ada eskalasi yang tidak diperlukan.”Tanpa berpikir panjang, Eula menyanggupi usul itu dan memacu kudanya kembali ke Mondstadt bersama dua orang anak buah yang lainnya. Alisnya yang bertaut mulai rileks, tapi kedua sudut bibirnya masih melengkung turun sehingga tidak ada yang berani menyapa saat wanita itu melenggang masuk ke lobi markas menuju ruang kerja Grandmaster.“Pagi, Jean,” Eula tak repot-repot memanggil Jean dengan sebutan formalnya. “Aku mau melapor.”Jean menengadah dari tumpukan berkas di meja panjang yang ada di sisi lain ruang kerjanya. “Eula,” wanita itu tersenyum. Ia berdiri dan mempersilakan Eula untuk duduk di depannya. As graceful as Jean ever was. “Duduklah.”Eula menggumamkan terima kasih sebelum memulai laporannya. “Jalur trek patroli kami pagi ini mencakup Springvale hingga ke Windwail Highland. Tak ada masalah yang berarti, cuma kamp-kamp kecil hilichurl yang tak berbahaya. Mereka juga ada di luar batas aman wilayah kita, dan sejauh ini tidak menunjukkan tanda-tanda agresi. Dengan begitu aku bisa menjamin keamanan di area Springvale untuk Weinlesefest nanti. Salah satu anak buahku, Felicia, masih tertahan di Springvale karena ada pedagang Snezhnaya yang membutuhkan bantuannya untuk mengawal gerobak dagangan hingga Stone Gate di perbatasan antara Mondstadt dan Liyue,” dari sinilah kekesalan Eula mulai meluap-luap. “Pedagang Snezhnaya itu belum menerbitkan surat izin untuk meminta pengawalan. Awalnya kutolak karena harus sesuai dengan prosedur, tapi pedagang itu terus-terusan berkelit. Aku tahu Snezhnaya dan Mondstadt memang punya perjanjian soal kerja sama ekonomi, tapi bukan berarti orang-orangan salju itu bisa memakai jasa pasukan kita seenak jidatnya!”Jean tertawa kecil. “Hal itu biar aku saja yang menangani. Kamu ingat siapa namanya?”“Tsar—Tsakovis—Tsarkovitch… ah, entahlah. Aku tak ingat. Nama-nama orang-orang Snezhnaya terlalu susah buat dihapalkan. Setelah Felicia kembali aku akan memberitahukan namanya padamu.”“Baiklah, terima kasih atas laporannya, Eula. Kerja bagus.”Biasanya, setelah laporan selesai, Eula langsung pergi ke ruang kerjanya sendiri untuk berkutat dengan setumpuk strategi, jadwal patroli, dan map besar di belakang meja kerjanya yang penuh dengan pin-pin penanda area bahaya. Kadang bekerja sama dengan Divisi Investigasi bila diperlukan. Sebagai kapten dari Divisi Pengintaian, mencatat jalur yang aman untuk dilalui para penduduk sipil juga menjadi bagian dari tanggung jawabnya. Tapi hari ini, Eula sengaja duduk berlama-lama di kursi meja rapat, dengan kaki kanan di atas kaki kiri, tangan disilangkan di depan dada, dan ekspresi yang masam. Dalam beberapa situasi, Eula bisa menurunkan tembok yang dibangunnya untuk memisahkan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Salah satunya adalah jika sedang bersama dengan Jean seperti saat ini. Kali ini, kedua wanita itu bukan kapten Divisi Pengintaian dan wakil Grandmaster. Yang ini adalah Eula Lawrence dan Jean Gunnhildr, dua sahabat yang tumbuh bersama di lingkungan keluarga aristokrat Mondstadt.“Kalau kamu mencari surat dari Kaeya, tidak ada surat yang datang hari ini.”“Bukan itu.”“Hmmm. Something troubled your mind?” tanya Jean. Matanya menatap wajah Eula lekat-lekat.Eula, masih merengut, diam untuk beberapa saat dengan pandangan lurus ke luar jendela sebelum menghela napas. “I’m just wondering if Ragnvindr men are assholes.” Jean mengedip bingung. “...Hah?” “Ragnvindr men are assholes,” ulang Eula lebih keras. “Diluc dan Kaeya sama saja— well, Kaeya’s still keeping his own family name but he had grown up together with Diluc so it counts the same. Pergi jauh dan lama tapi tidak mau mengirimkan kabar. Only God knows what happened to them and their annoying, stuck-up ass. Memangnya apa susahnya sih, dua minggu sekali menulis beberapa kalimat dan dikirim dengan burung merpati?”Jean, yang bibirnya membeo karena kaget, sekarang berganti dengan segaris senyum maklum. Matanya melirik sekilas ke arah salah satu pigura di atas meja kerjanya yang menyimpan selembar foto empat orang remaja—dua gadis dan dua pemuda—yang berpakaian formal knight-in-training di depan patung alun-alun katedral. Gadis-gadis, saling menautkan lengan, berdiri di belakang kedua pemuda yang berjongkok dan saling merangkul. Keempatnya mengenakan senyum yang sama—sumringah, ceria, seakan-akan hal terberat yang harus mereka hadapi keesokan harinya adalah bagaimana caranya untuk memotong boneka latihan dalam sekali tebasan pedang, bukan tanggung jawab atas nyawa ribuan penduduk, keamanan negeri, dan ekspedisi ke wilayah berbahaya yang belum dijamah manusia.Bukan juga memikirkan bagaimana caranya untuk kembali ke masa lalu, when things were so much simpler. “Hampir satu tahun,” kata Jean sambil memandang ke luar ruang kantornya. “Dan sampai hari ini belum ada kabar dari tim ekspedisi. Kita tak bisa banyak membantu selain mendoakan keselamatan mereka, tapi aku yakin mereka bisa melewati rintangan apapun. Kaeya will join us again, soon.” Eula mengabaikan air mata yang mulai merembes di sudut matanya saat Jean menyebutkan nama Kaeya. Wanita itu mendengus, mengedip kuat-kuat untuk mengusir buram yang hampir menutupi pandangannya, kemudian beranjak pergi. Langkah kakinya berderap menuju pintu. “I’m gonna kill him myself,”gerutu Eula sebelum menghilang di balik pintu.Jean menghela napas. Ia sudah mengenal Eula hampir sepanjang hidupnya dan ia telah memahami Eula luar-dalam, lebih daripada siapapun, untuk menangkap getir dalam suara wanita itu. “Lembur lagi, Nona Manis?”Eula ingin sekali menendang tulang kaki Kaeya tiap kali lelaki itu memanggilnya dengan sebutan Nona Manis. Ah, sudah pernah satu kali, tapi Kaeya tidak mau berhenti memanggilnya begitu. Apalagi disertai seringai tengil yang bermain di wajahnya, membuat Eula merasa jengah tapi tidak bisa melawan selain dengan, “Hapus seringai itu dari wajahmu. Kamu kelihatan seribu kali lebih menyebalkan” tetapi Kaeya senang sekali menggodanya, jadi tidak akan mempan.Alih-alih menanggapi, Eula mendengus malas. Memilih untuk kembali mengerjakan tumpukan dokumen di mejanya ketimbang memusatkan perhatian pada seorang laki-laki yang bersandar dengan satu bahu di daun pintu ruang kerjanya. “Aku tidak punya banyak waktu luang,” katanya. “Kalau mau minum wine, ajak saja Rosaria.”“Hmmm,” Kaeya bergumam, masih tetap dalam posisi yang sama, mengamati wanita berambut biru muda yang berkutat di balik meja. “Ck, you’re so boring.” Seperti ada yang menumpahkan ember berisi air es di atas kepala Eula yang mendidih, perempuan itu berjengit. “Apa?” “Bo~ring,” balas Kaeya sambil menjulurkan lidah, meledek main-main. Tak mengindahkan tatapan tajam Eula, Kaeya melangkah masuk lebih dalam, dan berdiri tepat di hadapan perempuan itu, hanya dipisahkan meja kayu pohon cedar. “Besok pagi aku harus berangkat ekspedisi, lho.”“Baguslah. Lebih cepat lebih baik.”“Yakin tidak akan merindukanku? Bet you’ll be missing me two seconds after I’m gone.” Eula menghantamkan pena bulu ke meja. Kesabarannya mulai menipis. Hal terakhir yang diinginkannya adalah menanggapi Kaeya dan rayuan-rayuan lelaki itu. “These papers won’t write itself, Kaeya, so stop being such a prick, and please get out of my office. Go somewhere else, drunk with someone else I don’t care. Bermain jadi mata-mata di Angel’s Share seperti biasanya juga terserah, aku tidak peduli.”“Begitukah?” senyum masih tersemat di bibir Kaeya walaupun ia bisa membaca raut kesal di wajah Eula. “Meskipun aku bawa ini?” Diangkatnya sebotol anggur yang ia sembunyikan di balik punggungnya sejak tadi, dengan sengaja mengabaikan bunyi napas tertahan dari Eula untuk berpura-pura serius membaca tulisan di badan botol wine itu. “Hmmm, let me see… Louis Latour Chassagne-Montrachet. Fontaine 1881. Must’ve been a fine wine, I suppose. Such a shame if we didn’t get to taste this little devil, right?” Eula memandang Kaeya tepat di mata. Giginya digeritkan kuat-kuat. “Fuck. You.” “Thank you, I’ll take that as a compliment,” senyum Kaeya melebar. Ia tahu Eula tak akan mau kehilangan kesempatan untuk mencoba minuman anggur putih asli edisi terbatas buatan Fontaine. “Jadi?”
“God, fuck you and your scheming skills — how the hell did you get your hand on this wine?”
Kaeya mencondongkan tubuh melewati garis terluar meja, membuat wajahnya dan wajah Eula hanya berjarak 15 sentimeter saja. “Uang, koneksi, dan sedikit keberuntungan, mon chéri,” ujarnya santai, kelewat santai untuk tingkat bahaya yang lolos dari bibirnya. “You in?” Kaeya memang begitu; mudah sekali membaca orang seperti mereka adalah buku yang dibiarkan terbuka. Eula mengusap wajahnya dengan kedua tangan, lelah menghadapi Kaeya, lelah dengan dirinya sendiri, dan lelah dengan pekerjaan yang segunung ini. Ia yakin Kaeya tidak akan pergi dari kantornya sebelum Eula menjawab, “ya."“Baiklah.”“Nah, begitu, dong,” Kaeya bertepuk tangan riang. “Ayo, ke atap menara gerbang. Sudah kusiapkan makanan karena katanya wine ini cocok untuk dimakan dengan charcuterie.” Eula mendengus tapi tetap saja menerima uluran tangan Kaeya, mengikuti langkah kaki lelaki itu menuju atap menara gerbang utama Mondstadt.“Kamu menyiapkan ini semua?” Eula melongo melihat selembar karpet piknik yang dibentangkan, dengan dua buah gelas wine dan sebuah charcuterie board berukuran besar berisi buah anggur hijau, keju, stroberi, daging asap yang dibentuk cantik menjadi kelopak bunga mawar, crackers — Eula bahkan tak sempat ingat nama makanan apa saja yang ada di situ.Kaeya tak menjawab, hanya tersenyum dengan gestur mempersilakan Eula untuk duduk di karpet piknik terlebih dahulu.“Aku tidak tahu ternyata kamu bisa sentimental juga,” ledek Eula sambil menjulurkan lidah kemudian melahap sebutir anggur. Manis, segar, dan sedikit asam. “What is this? A goodbye mini-party?” “Memangnya tidak boleh menghabiskan waktu dengan sahabat terbaikku?” “Ew! Apa-apaan!” Eula tergelak kencang. Didorongnya Kaeya main-main, tapi cukup keras untuk membuat Kaeya limbung. “Geli. Ini bukan kamu.”Kemudian keduanya tenggelam dalam keterdiaman yang familiar. Tidak mengobrol panjang lebar, hanya memandangi Cider Lake yang membentang sejauh mata memandang sambil mengunyah makanan dari charcuterie board. Kadang Kaeya menghalangi tangan Eula yang akan mengambil crackers keju. Kadang Eula memukul tangan Kaeya yang akan merebut pretzel bagiannya.
“How long is it?”
“What do you mean?”
“Your expedition, dumbass.”
Kaeya merengut main-main, tangan kirinya merebut botol white wine dari tangan Eula. “Jeez, no need to be rude, young lady,” katanya dan Eula membalasnya dengan memutar bola matanya malas, tapi bibirnya menyunggingkan senyum yang ditahan. Kaeya ikut tersenyum. “Tujuh bulan, paling lama. Atau satu tahun, tergantung evaluasi di lapangan dan keputusan Grandmaster nanti.”Jika ada perasaan kesal dan hampa yang tiba-tiba menyeruak ke permukaan, Eula tak membiarkan ekspresi wajahnya menunjukkan itu. “Stormbearer Mountains, ya?”“Lebih ke utara lagi,” ujar Kaeya, menuangkan white wine ke gelas milik Eula yang kosong. “Ada puing-puing reruntuhan bangsa lama yang harus diselidiki. Laporan sementara mengatakan kalau reruntuhan itu berkaitan dengan Khaenri’ah dan monster-monster di sana tergolong membahayakan nyawa karena terlalu lama terpapar erosi dari sisa-sisa peperangan dewa.”Mengagumkan bahwa hanya dengan satu mata yang masih berfungsi dengan baik, Kaeya bisa menunjukkan berbagai macam emosi. Yang dibilang orang-orang memang benar, kalau mata adalah jendela hati. Waspada, bahagia, sedih, binar-binar tengil yang sering membuat Eula kesal, penyesalan… dan rindu. Atau emosi baru apapun yang tergambar jelas saat itu karena Eula tak pernah melihatnya sebelum hari ini. Khaenri’ah adalah sesuatu yang sensitif untuk dijadikan perbincangan bagi… beberapa orang, bisa dibilang, terutama sejak malam itu, dan Kaeya menghindari topik itu seperti wabah menular. Jadi, Eula tak mengungkit lagi soal tujuan ekspedisi, hanya menambahkan tentang, “Jangan terlalu banyak minum wine. Tidak akan ada yang mau dikepung monster dan sempoyongan tidak bisa kabur karena mabuk,” sementara Kaeya hanya menanggapi dengan tawa terbahak-bahak. Confident, carefree, and charming Kaeya. No wonder half of the female knights were swooning over him. Dulu, Eula tak suka tabiat pemuda ini. Terlalu banyak tebar pesona, jauh berbeda dengan saudaranya yang bersikap jauh lebih tenang, disiplin, dan bermartabat. Baginya, perangai barbar dan sembrono yang melekat dalam diri Kaeya adalah sesuatu yang tak pantas bagi seorang aristokrat. Sekarang, Eula mengerti mengapa Kaeya selalu tertawa lebih kencang dan berbicara lebih keras; aristocratic rules are fucking bullshits. He was a walking wrecking ball, a living chaos to her static, boring peace. Seperti gema di ruang kosong, yang pantulan suaranya tak menghilang meski sumber bunyinya tak berbicara lagi. Eula bisa membayangkan suara Kaeya, intonasi dan aksen jahilnya meskipun lelaki itu tidak ada di sini. “Eulaaa!”Selain Kaeya dan gayanya yang sembrono, satu-satunya orang yang cukup berani untuk memanggil namanya dengan nada bersenandung dan tidak perlu repot-repot mengetuk pintu hanyalah Amber seorang. “Ayo, kita pergi makan siang—eh, ada Sir Albedo juga ternyata!” Amber menyeringai kikuk pada dua orang yang berdiskusi seraya mengamati peta di atas meja. “Maaf mengganggu pembicaraan kalian. Kalau begitu, eh, aku pergi dulu, ya—”“Tunggu,” Albedo memotong. “Sekarang memang sudah waktunya makan siang. Kita lanjutkan lagi setelah istirahat. Sorry for taking your time, Eula.” “No worries,” Eula menggelengkan kepala, beranjak untuk mengantarkan Albedo keluar dari ruangannya sekaligus menghampiri Amber. Albedo tersenyum sopan dan menganggukkan kepala pada kedua wanita itu sebelum melangkah pergi. “Gentleman seperti biasa,” gumam Amber saat memperhatikan punggung Albedo hingga menghilang di turunan anak tangga. “Anyway, back to business! Jean dan Lisa sudah menunggu kita di Good Hunter. Ayo, keburu makanannya dingin!” serunya lalu menggamit lengan Eula setengah digeret.“Jean dan Lisa? Tumben.”“Lisa yang menyeret Jean untuk makan siang,” kata Amber. “Tadi sewaktu aku pesan makanan sebelum menemuimu, aku melihat Lisa menarik tangan Jean ke Good Hunter. Kelihatan jelas kalau Jean tidak ingin makan siang karena, yah, kamu tahu sendiri dia bagaimana. Workaholic dan sebagainya. Apalagi dia sedang menggantikan Grandmaster Varka. Jadi kutawari saja untuk makan bareng dengan kita, siapa tahu Jean mau kalau makan siang ramai-ramai.”“Amber! Eula!” Lisa berdiri sambil melambaikan tangan. Jean ikut menengadah. “Sini! Makanannya sudah datang!”Di meja nomor 4 itu, sudah terhidang piring-piring makanan dalam berbagai macam menu: Tea Break Pancake favorit Lisa, Spicy Cream Stew untuk Amber, Sunshine Sprat kesukaan Eula, dan Satisfying Salad untuk Jean.Eula mengernyitkan kening tak suka dan langsung menggeleng. “Nope. No, Jean, you are not eating these flavorless greens only. Sara, kami tambah Cold Cut Platter, ya.”Jean buru-buru mengoreksi. “Sara, tidak perlu—”“Jean,” Eula menyergah tegas. Kedua tangan dilipat di depan dada. “Mau dapat asupan protein dari mana lagi kalau makananmu cuma salad? Dua potong telur rebus itu saja? Kamu bekerja sampai jam dua dini hari, pulang dan tidur cuma sampai jam tujuh pagi dan selalu datang paling awal di markas. Mungkin kamu tidak akan mau makan siang kalau Lisa tidak menyeretmu ke sini dan Amber tidak menawarkan makan siang bersama. You realize you’re circling back to living an unhealthy life again, do you?” “Aku cuma tidak ingin makan makanan berat siang ini,” Jean membantah, tapi suaranya lemah. “Kalau terlalu kenyang, aku jadi tidak fokus. Kerjaku jadi tidak efektif. Pekerjaan jadi tidak akan selesai-selesai.” “Well, you’re working your ass off until two in the morning and you still haven’t finished them all,” sahut Eula, tak mempedulikan Amber yang menginjak kakinya di bawah meja. “So why not take a break sometimes and try to take care of yourself better? Keamanan Mondstadt bukan cuma tanggung jawabmu saja. Kita semua juga. Jangan membebankan semuanya pada dirimu saja, Jean.”Amber dan Lisa sama-sama mengangguk setuju, tapi ada implikasi lain yang tidak mereka pahami dan ketahui di balik kalimat terakhir itu. Jangan membebankan semuanya pada dirimu saja. Beberapa tahun yang lalu, Jean lebih parah dari ini; jarang tidur, bergantung pada kopi, makan hanya seadanya. Eula tak bisa cerita pada siapapun karena penyebab Jean menjadi seperti itu hanya bisa diketahui oleh mereka. Jean, Eula, Kaeya, dan Diluc. Malam berdarah sekaligus inti atom yang meledakkan hubungan di antara mereka berempat.Dan juga jawaban sejujurnya dari seloroh asal-asalan Kaeya bila ditanya mengapa ia menyembunyikan sebelah matanya di balik eye-patch. Bukan karena kakeknya adalah bajak laut. Bukan juga karena “memakai eye-patch sama saja seperti memakai celana”. That was the most bullshit answer he could muster. Eula mencoba untuk menjadi seseorang yang rasional. Ia tidak mencoba untuk menghalangi ketika Diluc memutuskan untuk keluar dari instansi dan menghindar dari segala hal yang berhubungan dengan Knight of Favonius. Ia berusaha tidak menghela napas kecewa ketika seorang prajurit membutuhkan bantuannya membopong Kaeya yang mabuk hingga membuat kericuhan dan muntah di tavern. Ia meminjamkan bahunya ketika Jean menangis karena lelah, frustasi, dan ketakutan saat Diluc pergi dari Mondstadt dan tidak mengirim kabar selama dua tahun. She always knew Jean has been carving another space for him inside her heart. A tiny fondness that is a little more special than friends, and so does Diluc for her. Tapi Eula tahu, merekatkan kembali gelas yang pecah tidak mungkin bisa dilakukan dalam semalam. So she tries, she tries, and she tries to stand tall, as tall and strong as the lighthouse on a rock cliff getting caught in a rainstorm because she knew there were three sailors, in the middle of the raging, unmerciful ocean, trying to go back home. “Oke,” Jean mengalah. Tidak ada gunanya membantah Eula. Baru setelah itu Eula mau duduk di kursinya dan atmosfer hangat makan siang di meja nomor 4 kembali lagi.Mondstadt sudah memasuki minggu awal pertengahan musim gugur. Cuacanya cerah, tidak panas menyengat seperti musim panas, tapi tidak juga dingin menusuk seperti musim dingin. Orang-orang berlalu lalang dengan tas belanja di tangan penuh dengan sayur dan roti, para prajurit berpatroli, beberapa menyempatkan diri untuk menyapa dan duduk berkumpul dengan orang-orang di meja-meja outdoor Cat’s Tail. Toko-toko mulai menghias muka dengan hiasan Weinlesefest, yang menarik perhatian Amber untuk membuka obrolan.“Weinlesefest-nya empat hari lagi. Dengar-dengar, orang-orang yang bekerja di luar Mondstadt sudah mulai kembali ke sini. Port Dornman penuh dengan kapal-kapal berlabuh. Rasanya menyenangkan melihat Mondstadt jadi lebih ramai dan meriah seperti sekarang.”“Sudah ada kabar dari tim ekspedisi?” tanya Lisa sebelum memasukkan sepotong pancake ke dalam mulutnya.Jean menggeleng. “Sayangnya belum,” jawabnya. “Mungkin mereka melewatkan Weinlesefest tahun ini. “Ah, what a pity,” Lisa geleng-geleng kepala. “Melewatkan Weinlesefest, sungguh-sungguh sangat disayangkan.”Weinlesefest, bagi orang-orang Mondstadt, sama pentingnya seperti Festival Moonchase di Liyue atau Festival Sabzeruz di Sumeru. Secara harfiah, Weinlesefest berarti wine harvest festival, mengingat Mondstadt adalah pusat industri terbesar wine di Teyvat selain Fontaine. Perayaan Weinlesefest dilaksanakan dua tahun sekali, dengan membawa filosofi bahwa sejauh apapun kamu pergi, semoga angin bisa menuntunmu kembali pulang ke Mondstadt. Itulah mengapa orang-orang Mondstadt yang tinggal jauh di luar kota berbondong-bondong kembali untuk merayakan Weinlesefest dengan keluarga.Mungkin tim ekspedisi termasuk dalam pengecualian. Tak ada yang bisa menebak apa yang terjadi di lapangan, eskalasi macam apa yang menyebabkan mereka belum bisa pulang meskipun festival besar dan penting seperti Weinlesefest hanya tinggal empat hari lagi. Eula tak banyak berharap. Kaeya lolos dari maut saja sudah cukup.Kaeya pulang dengan selamat saja sudah lebih dari cukup.“Acting Grandmaster Jean!”Semua orang di meja nomor 4 kompak menoleh ke sumber suara. Ada prajurit laki-laki yang tergopoh-gopoh mendekat, wajahnya kalut, tapi bukan kalut ketakutan. Terkejut, tapi juga tidak percaya. Jean langsung berdiri. “Ada apa, Swan?”“Mika,” Swan menyebutkan sebuah nama sembari mengatur napas. “Mika Schmidt.”Eula tertegun. Nama yang sangat tidak asing di telinganya.“Mika? Ada apa dengan Mika?” Jean menuntut.“Dia datang, ada di gerbang,” Swan kelimpungan, lidahnya kelu saking kalutnya. “Membawa surat dari Grandmaster Varka. Tim ekspedisi akan tiba di Mondstadt dua hari lagi.”Garpu dan pisau di tangan Eula jatuh menghantam piring.
“I like you, by the way.”
“Stop bullshiting, Kaeya. You’re clearly drunk.”
“Ouch?” Kaeya mengernyitkan kening. “Aku sudah mengumpulkan keberanian selama berbulan-bulan, tahu. Bahkan bertahun-tahun. Dan aku tidak mabuk. I’m completely sober.”Eula menatap Kaeya seolah-olah lelaki itu menumbuhkan dua kepala dari batang lehernya kemudian tertawa. “Kalau begitu, aku juga menyukaimu,” katanya. “It felt so weird to say this, you know. I’ve known you all these years and—”Kata-kata Eula terputus. Kaeya mengarahkan wajahnya dengan ibu jari dan telunjuk untuk bertatapan mata dengan lelaki itu, dan Eula membisu begitu saja. “I like you,” ucap Kaeya sungguh-sungguh. “No. I love you. Not in familial or for the sake of our friendship—I really like you, Yul. Just like a man to a woman he loves.” Eula berharap ia memiliki kemampuan untuk membaca hati dan melihat apakah Kaeya benar-benar jujur atau karena pengaruh dari wine. Tapi Eula tak berhasil menemukan keraguan di mata biru Kaeya yang hangat. Dan juga pepatah tentang wine — in vino veritas. In wine we trust.
“No.”
“What?” alis Kaeya bertaut bingung. “What do you mean by no?”
“You can’t be like this.”
“Like what?” suara Kaeya terdengar menuntut. “Apa yang salah? Di mananya yang salah?” “Confessing and then going away for God knows,” Eula membuang muka. Mendesak susah payah bola api semakin dalam di kerongkongannya. “Aku tidak mau menjawab jika begini.”Keheningan melingkupi keduanya. Eula ingin sekali pergi dari atap, menyudahi apapun yang terjadi malam ini, tapi sebagian dari dirinya tetap ingin berada di sisi Kaeya, karena Eula tak akan menemukan kehangatan familiar ini selama berbulan-bulan lamanya.“Memangnya kenapa, sih?” Kaeya tak mengerti. Ia mulai terdengar gusar. Mungkin karena perasaannya yang menggebu-gebu. Mungkin juga karena efek alkohol anggur yang mulai mengambil alih kesadarannya. “Apa bedanya menerima pernyataanku malam ini daripada harus menunggu waktu yang lama sampai aku kembali dari ekspedisi?” Karena aku ingin memastikan kalau kamu bersungguh-sungguh soal ucapanmu mencintaiku. Bisa saja kamu sedang melantur karena mabuk. Bisa saja kamu salah mengartikan perasaanmu padaku, dan sepulangnya kamu dari ekspedisi, berbulan-bulan lamanya kamu jauh dariku, kamu sadar bahwa rasa cintamu padaku sudah menguap. “Karena aku tidak mau menerima mayat kekasihku yang pulang dari ekspedisi,” jawab Eula. Kaeya mengeluarkan suara-suara protes yang berupa dengungan tak jelas.“Intinya,” Eula berujar lagi, memancing Kaeya untuk menatapnya, “saat kamu kembali dari ekspedisi, katakan lagi. Aku ingin mendengarnya sekali lagi.” “You seem a bit teary when Mika told us the expedition team is on their way home,” kata Jean. “So, no “killing Kaeya” agenda anymore?”
“Jokes on you. He’d be dead in my hands sooner or later.”
Jean tertawa. Meletakkan sikat rambut di meja rias dan ikut bergabung dengan Eula di atas kasur. Eula meletakkan tumpukan surat yang dibacanya di atas meja nakas — lagi-lagi tidak ada surat dari Kaeya — lalu bergeser memberi ruang untuk Jean. Pajama party dadakan di rumah Eula, seperti saat mereka masih kecil dulu. 23 years old is never old enough to revive childhood memories. “Rasanya seperti bisa bernapas lega,” kata Jean lagi, matanya menatap lurus pada langit-langit. “Ada kejelasan tentang nasib tim ekspedisi, juga kabar dari Kaeya. Dasar berandalan, aku bisa membayangkan dia senyum-senyum tengil sewaktu tiba di Mondstadt nanti.”Eula tidak perlu membayangkan. Ia bisa melihat jelas senyum bengal Kaeya di balik kelopak matanya. Hal itu membuat Eula gatal, kesal, iritasi, dan ingin sekali menghantamkan tinju di wajah tampan lelaki itu. Ew. Eula bergidik geli. Well, he’s sorta handsome but it’s not the right time to think about that! “Aku berpikir kalau,” Jean berhenti sebentar. Jarinya bermain-main gugup di atas perutnya. “Kalau mungkin, kita bisa makan bersama lagi. Berempat.”“Hm,” Eula mengangguk. “Ide bagus.”“Menurutmu begitu?”“Ya,” Eula menoleh ke arah Jean yang sudah menoleh ke arahnya sejak tadi. “Kita mungkin akan sulit untuk kembali ke lingkaran yang sebelumnya seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Apa yang terjadi di antara Diluc dan Kaeya, them fighting bloody and Kaeya lost one of his eye to his brother, itu bukan sesuatu yang bisa diselesaikan dengan maaf saja. Kamu tahu Kaeya juga mengaku kalau ia ditempatkan di sini dengan tujuan untuk memata-matai, as the last hope of his fallen nation, the same home as the monster that killed Mr. Crepus, dan ingat bagaimana kita berdua berusaha mencerna semuanya? Everything became so foreign until we hugged him and three of us cried together. Itu kita, tapi bagaimana dengan Diluc yang berbagi rumah dan tumbuh bersama sejak kecil? Hanya saja aku juga yakin kalau mereka berdua punya ikatan yang lebih kuat dari saudara meski tak sedarah. Kurasa mereka berdua sudah berusaha untuk saling memaafkan, though rebuilding a broken home can take some time longer. Sejak kecil, mereka berdua tidak bisa dipisahkan terlalu lama, ya kan?”Eula ada benarnya. Jean tersenyum mengingat Kaeya kecil dan Diluc kecil yang selalu memakai baju kembar, hanya berbeda warna celana saja, menyesuaikan warna rambut mereka. Di mana ada Kaeya, di situ ada Diluc, dan begitu juga sebaliknya. Ketika mereka tumbuh dewasa dengan kepribadian yang bertolak belakang, justru itulah yang membuat keduanya mirip potongan puzzle yang kompatibel; Kaeya loud and brash, Diluc calm and collected. The brain and the brawl. Maka, ketika Diluc dan Kaeya terlibat pertikaian besar yang memecah keduanya, dan berimbas kepada dua gadis yang juga tumbuh bersama mereka, tentu saja membuat dunia kecil mereka ikut terguncang.
Nothing can be rushed. Everything is going to be fine when the time is right.
“Eula.”“Hm?”“Terima kasih.”“Hah? Untuk apa?” “For everything. Anything, really,” Jean membetulkan letak kepalanya di bantal, mengganti posisinya menghadap Eula. “Kamu dan rasionalitas dinginmu yang membantuku berpijak. Keluargaku mengajariku soal tanggung jawab, kalau apapun yang kami lakukan adalah untuk kebaikan Mondstadt dan membuatku berpikir — secara tidak sadar — kalau semua masalah harus aku yang menyelesaikan, dibantu orang lain atau tidak, apakah sebenarnya itu sepenuhnya tanggung jawabku atau tidak. Seperti masalah yang terjadi di antara Diluc dan Kaeya.”“Dan juga soal Diluc… waktu itu,” kali ini pipi Jean dihiasi semburat merah muda. “Gosh, that was embarrassing to think about.” Eula menyeringai. “Menyibukkan diri supaya lupa, jarang makan karena tidak selera, menangis karena takut Diluc terluka di luar sana?”“Eula, hentikan.”Tawa Eula meledak. “Even a blind man can see the tension between you and him, darling. Tidak perlu ditutup-tutupi lagi. Aku dan Kaeya sering membicarakan soal kalian,” ia mengabaikan kerongkongannya yang tiba-tiba mengetat ketika lidahnya meluncurkan nama Kaeya. Stupid, stupid feelings. “That’s the reason why we walked slower behind you. Both of you just reek love and affection it makes my skin crawl. Dan ketika Diluc memutuskan untuk pergi dari Mondstadt demi mengejar kejelasan tentang kematian ayahnya, ia tak mengirim surat padamu, pada kita, barang sekali. Sama seperti Kaeya. When I say Ragnvindr men are assholes, I really mean it.” Jean menghela napas panjang. Mengubah posisi tidurnya menjadi telentang lagi. “Mengagumkan bahwa hanya dengan 2 tahun saja keadaan jadi berubah total.”“Maksudmu? You don’t love him anymore?” “I still do, but now that we are adults with different job and different responsibilities, rasanya definisi cinta bukan sesuatu yang sama seperti dulu,” Jean menggelengkan kepala. “Entahlah, membingungkan. Aku sendiri tidak tahu harus bagaimana.”“Hm,” Eula tersenyum. Tangannya terulur untuk menyingkirkan rambut yang menempel di pipi Jean. “Tidak perlu khawatir. He is still looking at you the same way as he was to you. Both of you can sort it out later, just don’t rush everything, okay?” “Bagaimana denganmu?”“Aku?”“Ya,” Jean memandang Eula tepat di mata. Sahabatnya punya warna mata paling cantik yang pernah dilihatnya. “Kamu paling dekat dengan Kaeya. Setiap hari saling adu mulut, kamu marah-marah dan Kaeya tertawa karena dia paling senang menjahilimu.”“Kalau soal itu sih, rasanya damai sekali karena tidak ada yang menguji kesabaranku yang sudah tipis ini,” kata Eula. Jean terkekeh mendengarnya.“Untuk dibilang kesepian ya, itu pasti. Dia itu seperti hantu, tidak ada sosoknya tapi terasa di mana-mana,” Eula menyeringai.
“Did you miss him?”
Sebagai teman? Tentu saja. Lebih dari satu dekade Eula tumbuh bersanding dengan Kaeya, bersama Jean dan Diluc. Tidak diragukan lagi Kaeya dan rambut biru tuanya menjadi sesuatu yang sangat, sangat familiar sehingga ketika ia tidak ada, rasanya aneh sekali. Ada yang kosong. Tapi pertanyaan itu terdengar penuh jebakan, terasa seperti memiliki implikasi yang berbeda setelah malam itu. Di atap menara gerbang. Dalam pengaruh white wine sialan dari Fontaine. Eula mencengkeram selimut erat-erat. Tak biasanya mata biru cemerlang Jean terasa seperti mencoba untuk mengulitinya hidup-hidup.Jean adalah sahabatnya. Yang sudah seperti saudara perempuannya sendiri, tak peduli bagaimana latar belakang Lawrence dan Gunnhildr yang runyam. Jean memercayainya. Eula juga memercayai Jean.Tapi kenapa ia menyembunyikan sebuah rahasia selama hampir satu tahun, tepat dengan keberangkatan Kaeya mengikuti ekspedisi?Eula menelan ludah. Sudah saatnya.“Ada sesuatu yang harus kubicarakan denganmu.”Jean tak menjawab. Di ruangan itu, dua wanita berbaring saling berhadapan. Bunyi tik tik tik lembut dari jam kayu yang mengisi keheningan selama Eula mengatur kalimat-kalimat yang pas.“Kaeya, dia…” Eula memejamkan mata, mengatur napas. “Dia bilang, dia menyukaiku.”Terdengar suara tarikan napas yang tajam dan tertahan.“Malam sebelum dia berangkat ekspedisi, kami menyelinap ke atap menara gerbang utama dan minum wine. White wine edisi terbatas dari Fontaine. Aku tidak tahu bagaimana caranya Kaeya mendapatkan wine itu, tapi kita semua tahu Kaeya selalu punya cara,” Eula terdiam sebentar. “Dan sekonyong-konyong dia bilang dia menyukaiku. Cinta, bahkan. Seperti tidak ada beban di lidahnya ketika dia bilang begitu. Yang aku takutkan adalah, dia tak sadar. Mabuk karena wine. Orang-orang bilang soal in vino veritas — in wine we trust. Tapi aku tidak mau. Esok harinya dia harus pergi, tidak akan pulang sampai entah kapan, dan kita baru menerima kabarnya hari ini. Sepuluh bulan, hampir satu tahun. Waktu yang sangat lama dan jarak yang sangat jauh untuk menyadari kalau,” Eula berhenti sejenak sekali lagi. “Kalau… kalau apa yang dia rasakan hanyalah sementara. Euforia karena wine, atau keliru memaknai perasaannya. Karena kita berteman sejak kecil, lebih dari satu dekade, the boys knew the very first day we got our period, and we knew how their voice changed drastically. Dan kamu tahu sendiri tabiat Kaeya bagaimana. Mulutnya manis, semua gadis jatuh hati padanya. Kalau begitu bagaimana caranya aku bisa membuktikan dia benar-benar serius, atau benar-benar mabuk?”“Oh, Eula.”“Tidak perlu begitu. Ini bukan cerita cinta yang sedih,” Eula mencoba untuk tertawa, namun justru getir yang lolos dari belah bibirnya. “Apa yang dia katakan mempunyai bobot yang lebih berat ketimbang laki-laki lain bila mereka mengatakan cinta padaku. Ekspedisi yang diikutinya juga bukan ekspedisi main-main, pergi ke reruntuhan bangsa lama yang dihuni monster-monster berbahaya akibat terpapar erosi kekuatan dewa. Aku tidak meragukan kemampuan Kaeya; kita semua tahu dia ksatria yang mumpuni, belum lagi seorang pengguna Vision. Tapi takdir tidak memilih apakah seseorang yang akan dijemputnya memiliki Vision atau tidak, apakah dia seorang Kapten Kavaleri atau tidak. Jadi kukatakan padanya kalau aku tidak mau menjawab, dan meminta supaya dia mengatakan lagi soal itu — cinta, atau apalah — ketika dia pulang nanti, which is, two days from today.”
“But if you asked me if I missed him, yes, I always missed him. All this time. Awfully a lot.”
Dua hari berlalu begitu cepat dan sekarang Eula berdiri di depan gerbang utama Mondstadt, di belakang Jean bersebelahan dengan Albedo dan Hertha, sedang berusaha mengontrol degup jantungnya yang berlompatan ke sana-ke mari.Hari ini, tim ekspedisi yang bertolak dari Mondstadt selama sepuluh bulan akhirnya pulang. Tak ada yang perlu dikhawatirkan bila menilik dari surat yang dibacakan Mika Schmidt. Semua anggota ekspedisi dalam keadaan sehat walafiat, tak kurang suatu apapun. Mungkin hanya kelaparan karena makan ransum seadanya. Ha, ha, ha. Itu artinya, Kaeya baik-baik saja. Tidak terluka — mungkin ada, tapi setidaknya dia baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tidak ada —Riuh rendah tepuk tangan dan sorak sorai warga Mondstadt terdengar; dari jembatan, tepian danau Cider Lake, hingga di sepanjang dinding gerbang, menenggelamkan tapak-tapak kaki kuda namun tetap kalah dengan deru jantung Eula di telinganya. Ketika kerumunan membelah untuk memberikan jalan, di sanalah Eula bisa melihat dengan jelas satu-satunya pemilik rambut biru, menunggangi seekor kuda hitam, berada di barisan kedua setelah Grandmaster Varka.Kaeya Alberich di sana, bersama senyum manis menyebalkan yang Eula rindukan selama hampir satu tahun penuh, melambaikan tangan kepada orang-orang yang menyambut kedatangan tim ekspedisi Mondstadt seolah-olah ia adalah pahlawan perang. Kaeya beranjak turun dari kudanya mengikuti Grandmaster Varka, membiarkan prajurit-prajurit Knight of Favonius membawa kuda-kuda mereka ke istal kuda.Jean menempelkan kepalan tangannya ke dada kiri, diikuti semua kapten divisi dan prajurit di belakangnya. Wajah perempuan itu berbinar-binar, air mata berkumpul di pelupuk matanya, tapi ia terlalu bahagia dan lega untuk menangis. “Selamat datang kembali, Grandmaster.”“Selamat datang kembali, Grandmaster!”Tak ada yang lebih membahagiakan ketimbang melihat orang-orang terkasih yang pergi jauh dalam jangka waktu yang sangat lama bisa kembali pulang dalam keadaan baik-baik saja. Para prajurit ekspedisi berpencar menemui keluarga masing-masing dan seketika Mondstadt diselimuti suasana yang mengharu biru. Sepuluh bulan bukan waktu yang sebentar. Sepuluh bulan jauh dari kata sebentar.“Selamat datang di rumah,” Jean maju memeluk Kaeya. Kaeya balas memeluknya erat sekali. Jean menepuk-nepuk pipi Kaeya beberapa kali, bicara beberapa patah kata, lalu Kaeya menggeser arah pandangnya pada Eula yang masih berdiri dengan kedua tangan terkepal di sisi tubuh.Seharusnya Eula menangis. Seharusnya Eula langsung mendekap lelaki itu dan merasakan kehadirannya yang nyata. Seharusnya Eula maju dan memeluk Kaeya dan mungkin menjambak rambutnya karena mereka memang begitu, tapi mendadak amarahnya membumbung tinggi mengalahkan keinginannya untuk menangis. Ia marah sekali.“Awww, tidak ada pelukan untukku?” Kaeya tampak kecewa dengan dramatis. “Kamu tidak merindukanku ya, Yul?”Menelan bulat-bulat pedih yang menyengat kerongkongannya dan mengusir panas di belakang matanya, Eula berderap maju dan menyarangkan tinju di perut Kaeya, keras sekali. “You fucking asshole!”
“What the hell, Eula— ”
“What the fuck is wrong with you!” Eula menjerit marah. Sengatan di belakang matanya kembali muncul dan tenggorokannya kembali tercekik, tapi Eula tidak mempedulikan itu. Ia butuh meluapkan segalanya dan menurutnya, Kaeya memang harus ditonjok. “Sepuluh bulan kamu pergi dan sama sekali tidak memberiku kabar? Dan kamu berpikir aku tidak merindukanmu? Menurutmu aku tidak mengecek setiap amplop yang datang ke rumah setiap hari? Menurutmu aku tidak meneror Jean dan datang ke ruangannya untuk bertanya apakah ada kabar darimu? Menurutmu aku tidak berharap ada surat dengan tulisanmu yang jelek dan mirip coretan kaki ayam itu? Dan kamu berpikir aku tidak merindukan mu? Sekarang lihat siapa yang tidak merindukan ku!” Amarahnya tersulut begitu besar hingga Eula tidak sadar ia baru saja memancing perhatian semua orang yang masih berkumpul di gerbang utama. Ketika Kaeya mengulurkan tangan untuk menyentuh tangan Eula, dengan cepat wanita itu menepisnya keras-keras.“Pergi,” suara Eula tercekat di tenggorokan. Gemetar. Kalimat selanjutnya terasa pahit di lidahnya. “Aku benci kamu.”Tapi Kaeya Alberich mengenal Eula Lawrence hingga ke seluk-beluknya untuk mengerti bahwa Eula tak pernah benar-benar membencinya.“Dengarkan aku sebentar, oke? Letak ekspedisi kami jauh di pedalaman. Terlalu jauh untuk mengirimkan surat dengan merpati. Aku juga berencana untuk memberimu kejutan, jadi aku mengusulkan pada Grandmaster Varka untuk memberitahu instansi soal kepulangan kami sampai dua hari sebelum tiba di Mondstadt,” jelas Kaeya pelan-pelan. Ibu jari dan telunjuknya mengarahkan wajah Eula agar menatap matanya.
“Guess I’m ruining my own plan, hm?”
“Yeah, you fucking did,” Eula mendengus. Ia masih ingin marah dan mengumpat, tapi semua kalimat yang siap dilontarkan itu menguap begitu saja saat Kaeya mengecup keningnya.Pertahanan Eula runtuh saat itu juga.Kaeya membuka lengan dan Eula menubruknya. Memeluk Kaeya erat-erat seolah lelaki itu akan berubah menjadi debu bila tidak segera didekapnya. Seluruh ketakutan, amarah, kesepian, dan kebahagiaannya luruh menjadi satu dalam bentuk air mata.Eula terisak kencang. Kedua tangannya gemetar mencengkeram seragam Kaeya. Kaeya ada di sini, Kaeya ada nyata bersamanya. " God, Kaeya, you scared me too much, " isak Eula, suaranya sengau antara tangis dan teredam pundak Kaeya.“Jangan lakukan hal itu lagi, Kae. Aku takut.”
“I’m sorry, okay?”
Eula tak pernah tahu Kaeya memiliki suara yang lembut seperti ini. Tapi rasanya menenangkan, membasuh semua pikiran-pikiran buruk yang bersarang dan saling berkelumit seperti jaring laba-laba di belakang kepalanya. Eula tak pernah ingat Kaeya terasa hangat seperti ini. Eula juga tak pernah ingat ia bisa menemukan sudut yang pas di bawah dagu Kaeya dan Kaeya bisa menumpukan kepalanya di atas kepala Eula. Sempurna. “Apakah aku dimaafkan?” Kaeya bertanya, masih mendekap Eula. Mungkin mereka terlihat bodoh, berpelukan di gerbang masuk, tapi toh banyak juga yang begini.“Hm,” jawab Eula pendek, sedikit tidak rela harus melepaskan pelukannya lebih dulu, tapi mereka punya satu urusan lagi yang harus diselesaikan saat itu juga. “You still owe your debt to me.” Kening Kaeya dikerutkan bingung. “Hm? Hutang apa?” “Hah. Knew it, ” Eula tersenyum pahit. “Ya sudahlah. Pulang sana ke kamarmu. Tidak penting juga dibahas sekarang.”“Yang begini saja langsung percaya, tapi ketika aku bicara jujur menyukaimu malah tidak percaya,” Kaeya terkekeh. Diputarnya bahu Eula agar wanita itu berdiri menghadapnya. “I just kissed your forehead in front of everyone, isn’t it not enough, still?” Eula menengadah. “No. I want to hear it. Say it again.” “A bit possessive little lady you are, hm?” Kaeya menyeringai. “I love you.”
“Say it again.”
“I love you.”
Eula tersenyum lebar. Sangat lebar sampai hampir membelah wajahnya jadi dua. “Again.” Kaeya geleng-geleng kepala gemas. “I love you,” ia maju, memberikan kening, pipi, dan hidung Eula kecupan-kecupan kecil yang membuat wanitanya — wanitanya — memekik protes karena geli. “I love you, I love you, I love you.” “Selamat datang, Tuan Kaeya!”“Ah! Bikin kaget saja,” Kaeya terbahak-bahak ketika membuka pintu. Di baliknya ada Adelinde, Ernest, Moco, dan Hillie yang ikut tertawa, sama-sama memegang sebuah confetti berbentuk Dodoco yang dipakai untuk memberi surprise Kaeya barusan.“Senang rasanya Anda bisa pulang dalam keadaan selamat dan sehat, Tuan Muda,” Ernest tersenyum. “Kamar Anda sudah dibersihkan. Moco dan Hillie sudah menyiapkan air hangat untuk Anda membersihkan diri.”Kaeya mengangguk. Mantel kerjanya digantungkan di balik pintu. “Terima kasih, Ernest,” ujarnya. Pasti melegakan rasanya untuk bisa tidur di kasur empuk dan mandi air hangat setelah berbulan-bulan lamanya hidup di alam liar. Otot-otot tubuhnya menjerit minta diistirahatkan, tapi sejujurnya ada sedikit keraguan yang muncul di hati Kaeya soal… beristirahat di Dawn Winery.Kaeya mengedarkan pandangannya ke seisi rumah. Tidak ada tanda-tanda seorang laki-laki berambut merah. Mungkin akan baik-baik saja bagi Kaeya untuk berada di sini sedikit lebih lama.“Ini rumahmu juga. Tidak perlu bersikap seperti buronan begitu.”Kaeya berjengit kaget. Di mezzanine, ada Diluc yang berdiri sambil bertumpu pada pagar. Entah sejak kapan Diluc ada di situ. Mungkin sejak tadi, tapi Kaeya tak kelihatan karena lampu di ruang tengah tidak memberikan cahaya yang cukup untuk menerangi mezzanine. “Benar, Tuan Kaeya,” Moco menyahut semangat. “Tuan sudah terlalu lama menghabiskan waktu di luar rumah. Jarang pulang juga. Sedikit sepi rasanya tidak ada Tuan Kaeya di sini.”Hillie mengangguk-angguk menyetujui. “Setiap hari saya membersihkan kamar Anda. Kasur Anda dan meja kayu Anda pasti juga merindukan pemiliknya.”“Ah… hahaha.”“Maka dari itu, tinggallah di sini untuk makan malam dan beristirahat, Tuan Kaeya,” Adelinde menambahkan. “Akan menyenangkan rasanya untuk menyiapkan sepasang alat makan lagi.”Kaeya menggaruk tengkuknya canggung. Ia sudah terlanjur berjanji pada Eula untuk membawa perempuan itu — sekarang kekasihnya — makan malam berdua di Cat’s Tail. “Terima kasih untuk tawarannya, tapi kurasa lain waktu saja. Aku sudah memiliki janji untuk makan malam dengan seseorang.”“Siapa? Eula?” tembak Diluc langsung ke inti, tangan terlipat di depan dada. Mendengus puas melihat saudaranya tampak gelagapan sebelum menjawab. Tak biasanya seorang Kaeya Alberich yang selalu penuh percaya diri bisa gugup seperti ini. “Heh. Jangan berpikir aku tidak melihatmu menciumnya di depan gerbang utama.”Moco dan Hillie menarik napas tertahan. “Tuan Kaeya!” pekik keduanya tidak percaya. Ernest dan Adelinde saling melirik, tapi raut wajah keduanya tidak bisa menyembunyikan keterkejutan yang sama.“Eh… yah,” Kaeya tertawa kikuk. “Jadi canggung begini.” “We can ask them to get dinner with us here. The girls," kata Diluc mengusulkan. “Tanpa mereka, kita tak bisa diobati. You, to Eula. Me, to Jean. Mereka berdua juga yang berusaha memperbaiki… yang sudah rusak, padahal kita penyebabnya.” “It’s always been like that, isn’t it?” senyum yang tersungging di bibir Kaeya dilukis dengan nostalgia. “Us, getting into troubles. Them, trying to fix everything we did.”
And no thank yous can ever be enough for them — the girls, for staying through all these years and picking up the broken pieces.
“Jadi, bagaimana?”“Call that,” Kaeya mengangguk menyetujui. “For old time sake.”“Ya,” Diluc tersenyum. Tipis, tapi ada. “For old time sake.”
“Moco! Hillie! Siapkan empat set alat makan!”“Baik!”
FIN
