Actions

Work Header

Oh Theo you need to

Entire Work

Work Text

“AH, aku tidak mau!”Matahari sudah hampir tenggelam dan unit apartement itu makin ricuh. “Aku tidak mau, Theo. Kemarin kan aku sudah bilang.” Thomas berteriak jengkel. Alisnya tertekuk kesal pun mulutnya mengerucut. Heran, kenapa pula roommatenya itu sangat bersikeras untuk menyeretnya ke ball dansa.Theo berdecak kesal. Ia masih mendesak pemuda yang satunya, menyodorkan pakaian terbaik pilihannya. “Ayolah, Kawan! Sekali-sekali!” Tangannya sekali lagi menyodorkan setelan jas yang sudah ia siapkan pada pemuda yang lain. Thomas meghembuskan napas kasar, merebut setelan rapi dari tangan roommatenya. “Kau yang bertugas mencuci piring 1 bulan ke depan.” Mahasiswa yang satu cuma tersenyum miring mendengar syaratnya. Itu gampang, urusan nanti.Jadi, di sini lah ia sekarang. Berdiri kikuk di samping Theo yang sibuk menyapa kenalannya kesana kemari. Oh, astaga, ia tidak pernah menyukai ide untuk pergi ke acara semacam ini—prom night.“Theo!” Thomas melirik sekilas pemuda jangkung berambut coklat yang baru saja menegur teman sekamarnya.“Hei!” Yang disapa menyaut, bersalaman. “Do you came here on your own?”“Yeah, I have invited several of my friends to come together but they have brought their partners.” Pemuda itu tersenyum kecut sebelum akhirnya melirik Thomas yang berdiri di belakang Theo. “Now, now, Theo, who is this pretty boy you are with?”Thomas mengangkat kedua alisnya, heran. Siapa yang ia maksud? Tangannya menunjuk dirinya sendiri. Membuat gestur bertanya. ‘Me?’ Pemuda bersurai coklat itu tertawa. “Yes, of course!”Pemuda keturunan Cina itu melirik kawannya di samping. Meminta bantuan. Ia tidak tahu—tidak pernah menghadapi situasi semacam ini. Matanya sempat menangkap alis Theo yang tertekuk sejenak. “Oh, he is Thomas,” Theo menjeda kalimatnya mendorong punggung Thomas agar berdiri di sampingnya, “he is my roommate. I have told you about him before.” Sekarang Thomas persis sejajar dengan Theo. Namun, tangan teman sekamarnya itu masih betah berada di belakang pinggangnya.  Senyum di wajah kenalan Theo masih terpatri lebar, memberinya uluran tangan. “It’s nice to meet you, Thomas! I hope we can get along well.” Thomas masih terpaku sebelum akhirnya menjabat tangan sosok di depannya. “Y-yeah…”“Anyway, I believe I’ve seen Mr. Deby earlier. Shall we greet him?”  Ucapan Theo memutus kegiatan perkenalan. Membuat Thomas segera menarik tangannya kembali. Pemuda jangkung itu langsung mengangguk mendengar tawaran itu. “Kau, Thomas? Mau ikut?” Yang ditanyai hanya menggeleng sebagai respon. Theo mengangguk paham sebelum membuka mulut, berbisik, “Kau tunggu di stal minuman saja, Thom. Tidak akan lama.” Thomas mendengus kesal. “Setelah ini ayo pulang, aku mulai muak,” ucapnya sebelum ia melenggang pergi ke arah stal minuman. Theo hanya terkekeh.Pemuda asia itu mengambil segelas minuman beralkohol yang disajikan—supaya tidak terlihat terlalu dungu kilahnya. Menyesapnya dengan rasa penasaran dan berakhir tersedak. Alisnya mengkerut. Ini tidak enak. Kenapa pula Theo menyukai minuman semacam ini? Dan kenapa pula Theo suka acara semacam ini? Pandangannya melayang ke depan, mencoba mencari keberadaan sosok yang mengajaknya kemari. Ornamen perhiasan mewah, musik yang mengalun, lampu gantung yang menyala terang, hingga gerombolan mahasiswa dan mahasiswi yang asyik berbincang tak luput dari pandangannya. Namun, sosok Theo tetap tidak terlihat. Oh ayolah, ia ingin segera pulang ke unit mereka. Tugas papernya menumpuk dan sekarang ia malah terjebak di pesta ini. Thomas menghela napas kasar, tidak sabaran.“Looking for Theo, huh?”Thomas tersentak. Ia menoleh ke samping untuk menemukan pemuda bersurai coklat itu.“Yes.” Yang ditanyai mengangguk. “I wonder, what took him so long?”Si surai coklat terkekeh pelan. “He's pretty popular, you know.”Thomas menganggukkan kepalanya, reflek meneguk alkohol yang ia pegang. Alisnya langsung tertekuk begitu rasa pekat dan kuat menyerbu lidahnya. Sejenak berpikir, ia tidak akan terbiasa dengan sensasinya.“I bet this is your first time drinking an alcohol.”“Is it that obvious?”“As clear as crystal if I could say.”Thomas menyipitkan mata, pandangannya mulai kabur. Ia pikir ia mulai mabuk. Kepalanya terasa berat dan badannya mulai terasa panas. Ia melirik figur di sampingnya yang menyesap minuman memabukkan itu dengan tenang.“What about you then, uh...”“Noah.”“Yes, what about you Noah? You looks so natural. You do this often i suppose.”Noah tersenyum miring sambil mengedikkan bahu. Memilih tidak menjawab pertanyaan yang bisa dibilang memang retoris.“You just like Theo,” komentar Thomas sambil meneguk gelas kedua. Gelas pertamanya baru saja tandas. Suaranya mulai terdengar tidak stabil. Telinganya menangkap gelak tawa dari pemuda di sampingnya. Apakah Noah sangat suka tertawa? “What?” nadanya sengak.“Nothing.” Noah masih senyam senyum sendiri. Sedang, pemuda yang satu membuat muka masam, bibirnya mengerucut, kesal melihat sosok disamping mesam mesem.Thomas mengosongkan lagi gelas kedua dalam sekali teguk. Oh, lihat, siapa yang beberapa waktu lalu masih menjadi musuh minuman keras itu? Belum sempat tangannya meraih gelas lain, lengannya sudah disambar oleh si pemuda eropa.“I think it's enough, Thomas. You're already drunk.”Thomas mengedipkan matanya beberapa kali, sadar tak sadar lengannya tengah berada dalam genggaman yang lebih tinggi.“Maybe you're right...” ia berguman pelan. Kepalanya terasa makin berputar.“I am,” Noah menghembuskan napas pelan sebelum melanjutkan kalimatnya, “let me get you home.”“Theo...”“Oh, c'mon, man! It will take you all night if you waited for him.”Thomas melenguh tertahan ketika pinggangnya ditahan oleh pemuda di sampingnya.Tak sadar malah menyandarkan kepalanya pada dada Noah. Ia memejamkan matanya. Pusing. Semuanya terasa berputar. Demi Tuhan, Thomas merasa dirinya bisa muntah kapan saja. “Thomas!” Yang sedang dipapah membuka matanya barang segaris. Menemukan roommatenya tengah berjalan cepat ke arahnya, kemudian segera meraih—merebut tubuhnya dari rengkuhan Noah. Thomas reflek menutup mulutnya. Menahan mual yang makin menjadi-jadi saat tubuhnya berpindah kepemilikan. Alisnya tertekuk.“Theo—”“Kita pulang sekarang,” Theo memotong kalimat pemuda di dekapannya. Menyeret Thomas keluar, meninggalkan Noah yang kebingungan. Di sisi lain, Thomas, terseok-seok, berusaha mengikuti langkah cepat milik sang kawan. Kepalanya berdenyut denyut, pandanganya makin buram. “Theo, tunggu—sebentar, pelan-pelan!”
Theo tidak merespon. Langkahnya makin lebar-lebar, genggamannya pada pinggang pemuda lain makin kencang.“T-theo!”Theo berhenti. Hening sejenak, hanya jedag-jedug musik dari gedung di belakang sana yang terdengar. Belum sempat Thomas bereaksi, tubuhnya sudah lebih dulu diangkat. Lagi-lagi perutnya terasa dikocok-kocok. Spontan mengalungkan lengannya pada leher pria yang lain. “Kau gila, Thom,” Theo menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan kalimatnya, “Kau sudah GILA, Thom. Kau minum sebanyak apa, sih? Apa yang kau pikirkan, huh? Kau pikir itu susu? Sirup? Kopi? It's your first time, it's your FUCKING FIRST TIME, Thomas! Oh, astaga. Kau berhasil membuatku merasa lebih tua 20 tahun.”“Itu salahmu, kau tahu! Siapa suruh kau pergi begitu lama. Aku macam orang bego, berdiri luntang-luntung tak punya arah,” Thomas antara sadar tak sadar membalas makian yang ditujukan kepadanya. Lantas desau angin malam kembali mengisi lengang di antara mereka. Theo mengeluh pelan menanggapi ocehan pemuda mabuk digendongannya, masih lanjut melangkahkan kakinya.“Kau bodoh. Aku tidak akan mengajakmu lagi besok-besok,” ucap Theo dengan nada kesal. Alisnya tertekuk sebal. Thomas tidak membalas, sibuk mencari posisi nyaman di dada sang kawan, cuma cegukan kecil yang keluar dari mulutnya. Thomas menutup lagi mulutnya, sekonyong-konyong rasa mual kembali menyerangnya.“Jangan muntah!” Theo berteriak. Mulai sedikit berlari.“Urgh—”“Jangan muntah, kubilang!”“Aku mual—blergh.” “ARGH! SIALAN, THOMAS!!”

↑ Top · Fandoms