Actions

Work Header

Pumping it

Entire Work

Work Text

Jeonghan lelah sekali, perjalanan dari korea menuju Berlin memakan waktu lama, dan perjalanan pulang pun sama.Banyak sekali kejadian selama kepergiannya, membuatnya sempat breakdown dan sedih bukan main, mungkin ini efek dari baby blues yang belum selesai.Ia baru 2 bulan lalu melahirkan seorang putri cantik, dan sekarang sudah harus kembali bekerja, meninggalkan anaknya dengan sang suami.Padahal perginya hanya 5 hari, tetapi sedihnya terus saja menghantui, walaupun ia tersenyum di depan kamera, tetapi di dalam lubuk hatinya terdalam, ia ingin cepat-cepat pulang untuk bertemu dengan keluarganya lagi.Seungcheol sedang menunggu pesawat Jeonghan untuk mendarat, kedatangan sang suami terlambat sekitar 30 menit, membuat Seungcheol resah sendiri.Apalagi, Jeonghan sejak kemarin sudah mengeluh kalau dadanya sakit, karena kepenuhan asi yang seharusnya di minum oleh putri mereka.Jeonghan bilang, seluruh tas asi yang ia bawa sudah penuh dengan asi, sehingga Jeonghan tidak memiliki tempat lebih untuk asinya lagi.Jadi, semalam saat Jeonghan tengah transit di Amsterdam, keduanya melakukan video call, Seungcheol mengajari bagaimana memijat dada Jeonghan secara perlahan, tetapi suaminya itu malah menangis karena ngilu dan sakit di bagian putingnya."Sakit.. hiks.. ngga bisa kalau sendiri... Seungcheol.. huhuhu." Jeonghan merengek di dalam videonya, pentil susunya sudah sangat memerah, menahan asi yang keluar hanya sedikit-sedikit.Seungcheol merasa tidak tega, tetapi secara bersamaan ia malah tergoda dengan dada Jeonghan yang bengkak, ingin ia remas hingga air asinya muncrat kemana-mana, lalu akan ia hisap dan minum sepuasnya.Seungcheol melihat Jeonghan dan managernya yang keluar dari pintu bandara, ia langsung keluar dari mobilnya dan menghampiri keduanya, rambut Jeonghan yang sebelumnya keriting kini terlihat lepek sekali, karena keringat."Hyung, aku bawa Jeonghan langsung pulang aja." Kata Seungcheol, ia menggeret koper Jeonghan setelah keduanya berpamitan, di dalam mobil Jeonghan langsung memeluk sang suami."Kangen sama dedeeek." Ujar Jeonghan yang saat itu masih memakai jaketnya."Dedek lagi di rumah mamah, kita langsung ke rumah mamah aja atau gimana?" Tanya Seungcheol, dan Jeonghan mengangguk.Jeonghan mengantuk sebenarnya, ia kurang sekali tidur, tetapi jari Seungcheol yang mencubiti pentil susunya membuatnya tetap terjaga."Sakiitt... Hhngg pelan-pelan cheool." Jeonghan merengek, melihat cairan putih keluar dari pentilnya yang di cubit dan di tarik."Iya ini pelan-pelan, emang nenennya kepenuhan ini sayang, makanya sakit." Seungcheol meremas dada Jeonghan, membuatnya mendesah kencang di dalam mobil.Air asinya muncrat membasahi dashboard mobil, Seungcheol akhirnya berhenti karena merasa sayang dengan air asi yang keluar percuma.Seungcheol menghentikan aksinya, memberikan Jeonghan waktu untuk istirahat selama perjalanan.Lalu saat mereka sampai, Jeonghan langsung turun dari dalam mobil saat melihat putri mereka di gendong oleh mamah Seungcheol."Aduuhh kasian banget ini papahnya kangen sama anaknya." Ujar mamahnya yang menyambut kedatangan keduanya."Jeonghan mandi dulu gih, air hangatnya udah di siapin." Ujar mamahnya, walaupun enggan tetapi Jeonghan akhirnya pergi mandi juga.Seungcheol sedang meninabobokan putrinya saat Jeonghan selesai mandi, tetapi putri cantiknya itu bangun kembali saat mendengar suara Jeonghan, bibirnya mengecap pelan."Yang, langsung nenenin aja ini dedek. Kayanya kangen sama kamu deh." Seungcheol memberikan putri mereka yang baru berumur dua bulan itu pada sang suami, Jeonghan sudah duduk di atas kasur.Memberikan nenen kepada putrinya yang lahap sekali menyedot susu dari putingnya, membuat Jeonghan meringis dan merintih.Ia bahkan sampai menangis karena rasa sakit di dadanya, tangannya meremas lengan Seungcheol."Daad.. sakit bangeet.." Jeonghan merengek saat putri mereka menyedot susunya makin kuat, membuat Jeonghan menangis sedikit.Melihat dada yang bengkak, Seungcheol bukannya merasa kasihan, ia malah memajukan wajahnya dan langsung menyusu pada puting satunya.Seungcheol menyedotnya kuat, tidak kalah dengan sang putri, kedua matanya tertutup, menikmati asi yang keluar dari puting Jeonghan."Hhnngg pelan-pelan aahh.. dadd pelan-pelan." Jeonghan merengek, meremas rambut Seungcheol erat.Kepalanya sibuk menggeleng, merasakan nikmat dan sakit di saat yang bersamaan.Suara decap basah berasal dari Seungcheol dan putrinya, membuat Jeonghan merapatkan kedua pahanya, merasakan kemaluannya malah basah."Nnghh aahhh- sshh." Jeonghan mendesah perlahan, merasakan kedutan di vaginanya, dadanya pun di remas cukup kuat oleh Seungcheol, Dan puting susunya di isap kuat, sampai Jeonghan sedikit terlonjak.Putrinya merengek saat nenennya lepas, dan langsung di tenangkan dengan memasukan kembali putingnya pada mulut anaknya.Seungcheol meremas dada Jeonghan yang bengkaknya mulai berkurang, hingga susu asi itu muncrat ke arah wajahnya, dan Seungcheol membuka mulutnya, membiarkan asinya masuk kedalam mulutnya, padahal kebanyakan turun ke arah dagunya.Remasan itu semakin kuat, membuat Jeonghan mendesah semakin kuat, tidak perduli dengan mertua yang mungkin mendengarnya.Kedua pada Jeonghan saling bergesekan, menahan rasa geli di vaginanya."Gini kan sayang di pumpingnya?" Ujar Seungcheol, ia menjilati sekitar puting Jeonghan yang memerah, dan menghisapnya lagi, putri mereka sudah tertidur di gendongan Jeonghan."Uuhhh.. iyaa daddy gituu ssshh enakk bangeeett." Jeonghan merintih, merasakan dadanya tidak se berat sebelumnya.Putri mereka sudah tertidur di samping keduanya, kini kedua dada Jeonghan di remas oleh Seungcheol.Membasahi tubuh keduanya, lalu Seungcheol hisap bergantian sambil di remas-remas, hingga tidak bengkak dan keras lagi."Aahh.. aahh cheoll sakitt ssshh." Tubuh Jeonghan menggelinjang saat kedua putingnya di tarik kasar, pinggulnya bergerak naik."Aahh mau pipiss sshh pipissd daddyy!" Tubuhnya terlonjak ke atas, bersamaan dengan asinya yang keluar deras dan vaginanya yang memuncratkan cairan lendir.Nafas keduanya terengah, Jeonghan tersenyum puas, ia bisa klimaks tanpa di sentuh bagian bawahnya oleh Seungcheol, hanya dengan di mainkan puting susunya."Masih sakit ngga sayang?" Tanya Seungcheol.Jeonghan menggelengkan kepalanya, ia mengantuk kali ini."Makasih susunya, dedek kenyang, daddy juga kenyang." Seungcheol mengecup bibir Jeonghan, membiarkan suami kecilnya itu tertidur pulas.

----- CHAPTER BREAK -----

SUPER MODEL YOON JEONGHAN, MEMUTUSKAN UNTUK ISTIRAHAT DARI DUNIA PERMODELAN SELAMA BEBERAPA SAAT.

xxxx: Beneran ngga sih rumor Jeonghan hamil tuh? Ngepas banget hiatusnya hahaha

xxixx: Jadi berita Jeonghan nikah sama salah satu CEO tuh beneran ya?

xxdxx: Berita darimana itu Jeonghan nikah sama CEO?

xxexx: Loh bener banget, pas dia photoshot buat baju berenang empat bulan lalu perutnya keliatan lebih berisi hahaha padahal dia jadi model baju renang cewe... pantesan badannya ngebentuk banget sama badan cewe.

xxcxx: Nah kan bener berarti kalau Jeonghan tuh nikah diem-diem terus sekarang lagi hamil hahaha hiatus soalnya mau melahirkan ngga sih?

xxsxx: Ngga ada yang tau, temen-temennya Jeonghan ditanya pada bungkam semua. Kemungkinan bener ngga sih?

xxlxx: Heol.. Jangan-jangan beneran nikah sama CEO muda itu lagi..

xxhxx: Ngeliat kasusnya Ten yang tiba-tiba umumin punya anak, terus anaknya udah dua tahun itu kayanya bisa jadi sama.. heol.. Ten nikah sama CEO Seo.. Jeonghan nikah sama CEO yang mana ini...? Heol...

***"Sayang, duduk sini. Jangan jalan-jalan terus nanti pegel.""Sayangku, cantik. Sini duduk dulu.""Ngga ga mau duduk.""Kamu udah cape gitu mukanya, sini duduk dulu."Yang dipanggil akhirnya mengalah dan duduk disofa samping sang suami."Pegel ngga pinggulnya?""Sedikit..""Ya gimana ngga pegel? Kamu udah jalan-jalan lima belas menit gitu. Sini balik badan dulu."Tubuh itu akhirnya bergeser dan berbalik, memunggungi sang suami yang duduk di belakangnya. Jeonghan menghela nafasnya sedikit lega saat tangan hangat dan besar itu memijat sedikit pinggulnya yang pegal, sedangkan tangannya mengusap perutnya yang besar itu.Harusnya, harusnya lusa Jeonghan melahirkan tapi hingga hari ini belum ada tanda-tanda bayi mereka yang berada di dalam kandungannya berniat keluar dari tempat nyaman itu. Perut Jeonghan rasanya sudah begah bukan main, kandung kemihnya pun seperti rusak sekali karena ia tidak bisa menahan air seninya lama-lama sampai akhirnya ia memakai popok orang dewasa beberapa hari ini."Tuhkan ngelamun lagi.""Iya maaf." Jeonghan sedikit mengerucutkan bibirnya, ia sedang berfikir bagaimana agar bayi mereka bisa keluar lusa. Ia pusing sendiri, karena takut kalau lahirnya terlewat dari tanggal yang seharusnya, sebenarnya tidak ada masalah toh mau lewat ataupun tidak, ia akan menjalani operasi juga. Tetapi ada satu hal yang ia tunggu adalah merasakan kontraksi.Menurut Ten, temannya kalau kontraksi yang dirasakan akan membuat diri sendiri berdebar. Tetapi hingga hari ini ia belum merasakannya juga yang namanya kontraksi.  Jeonghan juga mau ngerasain kontraksi."Sayang.""mmh?""Laper ngga? Aku mau beli makan keluar, kamu mau es krim?" Tawar Seungcheol, ia sedang mengelus perut Jeonghan dan memeluk suaminya itu dari belakang."Mau es krim, tapi jangan lama-lama takut aku kontraksi nanti." Ujar Jeonghan."Iya sayang, aku keluar dulu ya beli makan sama es krim buat kamu. Di depan ada yang jaga ko, kalau kamu kenapa-kenapa pasti aku langsung dikabarin." Seungcheol mengcup kepala Jeonghan, ia mengambil dompetnya. Sudah dua hari ia menginap di rumah sakit yang ia pesan untuk satu minggu, karena khawatir ketika Jeonghan akan melahirkan nanti di rumah tidak dipersiapkan dengan baik.Jadi, Seungcheol memesan satu ruang VVIP di rumah sakit terbaik untuk suaminya itu. Bukannya merasa tenang, Jeonghan malah tambah gelisah karena belum juga merasakan kontraksi yang disebut-sebut harusnya sudah terjadi.Toh kalau Jeonghan mengincar kontraksi sebenarnya Seungcheol bisa saja meminta suntik induksi untuk sang suami, tapi tentu saja ia tidak tega. Karena suntikan induksi malah membuat mulas luar biasa.Seungcheol keluar dari lift dan langsung menuju kantin rumah sakit, ia memesan makanan yang mudah saja. Nasi goreng, ia makan bersama salah satu pegawainya. Sengaja tidak ia bawa menuju ruangan, takut Jeonghan merasa mual ketika mencium wangi gorengan."Pak, maaf kalau saya lancang tapi dari kemaren saya denger tuh mas Jeonghan masih nunggu kontraksi ya?""Iya. Istri kamu dulu juga kontraksi?" Seungcheol mengaduk-ngaduk nasi goreng panas yang berada di atas mejanya, nasi goreng panas yang baru matang."Iya pak, dia sama kaya mas Jeonghan.. kontraksinya agak lama gitu." Jawab sang pegawai."Jalan keluarnya? suntik induksi ya?""Ngga pak hahaha saya mana ada dana lebih waktu dulu.""Terus gimana?""Sini pak saya bisikin."Seungcheol mendekat, keduanya berbicara serius dan akhirnya kedua mata Seungcheol membulat saat mendengarkan kata-kata itu secara berurutan, dan bibirnya tersenyum lebar sekali. Seungcheol yang tadinya lapar tiba-tiba merasa kenyang, dan ingin cepat-cepat kembali ke ruang sang suami."Tapi bener nih aman?" Tanya Seungcheol, memastikan."Aman pak, bahkan dulu sama bidan tempat istri saya ngelahirin tuh memang dianjurin."Seungcheol mengangguk, kalau emang itu jalan keluarnya ya dia akan sangat bahagia. Jadi tanpa pikir panjang, Seungcheol meninggalkan nasi goreng yang baru ia makan dua suap, ia berikan pada pegawainya, toh makanan itu baru ia aduk-aduk pinggirannya dan sisanya masih bersih.Di tangannya sudah ada es krim pesanan Jeonghan, ia segera naik menuju lantai ruang VVIP. Pintu ruang rawat ia buka dan memperlihatkan Jeonghan yang tengah berbaring di atas kasur dengan seorang dokter yang berada di antara selangkangannya, memeriksa apakah Jeonghan sudah ada tanda-tanda pembukaan, tapi hingga saat ini vagina itu masih rapat juga."Kalau sampai besok malam belum kontraksi, kita induksi saja ya?" Ujar sang dokter, melepaskan sarung tangannya."Sakit ngga dok?""Ngga ko, kalau ngga mau sakit dari sekarang puasa aja biar besok kita operasi, gimana?" Tawar sang dokter, sebenarnya Jeonghan sudah tanda tangan untuk lahiran normal, tapi kalau memang belum ada tanda-tanda ya bagaimana lagi?Seungcheol mendekat dan mendengarkan perbincangan keduanya."Nah kebetulan ada pak Seungcheol, sini pak." Panggil sang dokter, dan Seungcheol mendekat."Kenapa?""Ini biar mas Jeonghan ngga stress terus, coba sama pak Seungcheol dibikin relaks." Ujar sang dokter, dua suster yang berdiri disamping Jeonghan langsung menutup wajah mereka masing-masing."Caranya?" Tanya Seungcheol, tentu saja ia ingin membuat Jeonghan lebih rileks."Coba kalian berhubungan badan, selain membantu mas Jeonghan relaks, itu juga berfungsi sebagai induksi alami."Mendengar saran sang dokter, wajah Jeonghan langsung merona merah. Ia tadi memang membaca kalau itu cukup membantu."Makasih dok sarannya.." Seungcheol tersenyum malu-malu, masalahnya ini baru pukul lima sore dan ia sudah mendapatkan dua saran yang sama."Tapi tetap hati-hati ya, pastikan mas Jeonghannya nyaman."Seungcheol mengangguk, ia beneran malu. Setelah dokter dan dua suster itu keluar, Seungcheol dan Jeonghan saling bertatap salah tingkah."Daddy.." Panggil Jeonghan, ia masih duduk di atas kasur sambil memakan es krim cup yang dibawakan oleh Seungcheol."Iya sayang?""Aku boleh minta tolong?""Boleh, mau minta tolong apa?" Seungcheol duduk dikasur, menatap Jeonghan yang pipinya memerah lucu."Aku lupa.. aku belum cukuran..""Aduh sayangku, ko bisa lupa? Mau cukuran sekarang?"Jeonghan mengangguk, Seungcheol tentu saja tersenyum lebar."Dimana alat cukurnya sayang? Ada di tas?""Tas warna putih, aku simpen paling depan ko dad."Seungcheol langsung bangkit dari duduknya, menuju tas yang Jeonghan maksud. Ia merogoh tidak cukup dalam dan menemukan alat berwarna merah muda itu, alat yang biasanya Jeonghan gunakan untuk mencukur bulu kemaluannya."Masih pake pampers ngga sayang?" Tanya Seungcheol, ia sedang membasahi alat itu dengan sedikit air."Masih, tolong bawain handuk dua lapis." Pinta Jeonghan, dan Seungcheol turuti. Ia membantu sang suami untuk sedikit bangun dan Seungcheol melapisi kasur dengan dua buah handuk berwarna hitam, dua handuk itu cukup tebal sampai Jeonghan merasa pinggulnya sedikit terganjal karena Seungcheol melipatnya menjadi dua tumpuk."Enak posisinya?" Tanya Seungcheol, ia memastikan bahwa Jeonghan merasa nyaman. Karena tidak mau menambah-nambah rasa tidak nyamannya. Jeonghan mengangguk, ia menarik baju rumah sakit yang lebih mirip seperti gaun tidur berbahan satin berwarna merah merona.Sedangkan Seungcheol sudah duduk antara kedua paha Jeonghan yang terbuka, kini posisi Jeonghan setengah duduk dengan kepala kasur yang sedikit tegak. Tepat seperti posisi kalau Jeonghan akan melahirkan dan ngeden nantinya.Seungcheol perlahan melepaskan pampers orang dewasa yang Jeonghan pakai, memperlihatkan vagina sang suami yang lembab dengan sedikit rambut disekelilingnya."Ngga panjang juga rambutnya sayang." Ujar Seungcheol, entah mengapa mulutnya tiba-tiba saja berair dan ia menjilat bibirnya sendiri. Sebelumnya, Seungcheol sudah sikat gigi ya, mulutnya sudah bersih dari sisa-sisa makanan, karena kini ia makan yang sesungguhnya."Tetep aja malu kalau diliatin kan." Jawab Jeonghan, ia menatap ke arah selangkangannya yang kini terasa dingin karena Seungcheol mengoleskan cairan untuk bercukur, dan ia bisa mendengar suara alat cukur yang mulai menyala, Seungcheol terlihat sangat serius sekali dengan pekerjaannya.Siapa kira seorang CEO muda yang dikenal galak, malah menundukan tubuhnya didepan kelamin suaminya, dan melakukan pekerjaan yang pasti tidak terbayang oleh siapapun, Seungcheol dengan sangat hati-hati dan serius mencuku bulu kemaluan Jeonghan.Jari-jarinya mendorong bibir vagina Jeonghan saling berjauhan, memastikan bahkan tempat terkecil pun bebas dari bulu agar Jeonghan merasa tidak malu dan nyaman."Daddy sukanya yang ada bulunya atau bersih dari bulu?" Seungcheol hampir saja tersedak dengan air liurnya, mendengar pertanyaan itu."Dua-duanya suka, asal sama kamu." Jawab Seungcheol, kini ia turun menuju bagian pantat yang ada beberapa helai rambut kemaluan. Sejak tadi ia menahan diri agar lidahnya tidak terjulur dan menjilat klitoris merah yang berada dihadapannya, berusaha agar wajahnya tidak semakin dekat dan menggesekan hidungnya untuk menghirup wangi vagina milik Jeonghan.Seungcheol benar-benar menahan dirinya."Daddy.""Hm?""Ngewe mau ngga?""Mau."Jeonghan tertawa kecil mendengar jawaban sang suami, ternyata sejak tadi Seungcheol benar-benar menahan dirinya, sampai dahinya berkeringat padahal ruangan ini terbilang cukup dingin.Langit diluar sana sudah berubah menjadi hitam, gemerlap kota mulai terlihat dan Seungcheol kini tengah menjilati klitoris Jeonghan tanpa diminta dua kali. Kedua mata Jeonghan jadi sayu, merasakan basah dan geli disaat yang bersamaan, kedua kakinya yang kini ditekuk malah ditahan oleh Seungcheol agar tetap terbuka, lidah Seungcheol bukan hanya menjilat kini sudah sedikit masuk kedalam lubang pernakannnya."Ngghh daddyy sssh." Jeonghan mengusap perut besarnya, secara perlahan tubuhnya terasa nyaman dan relaks, merasakan jari Seungcheol yang masuk kedalam lubangnya dan mulut dengan bibir tebal itu menciumi serta menghisap-hisap klitorisnya. Wajah Seungcheol bagian bawahnya sudah basah oleh cairan lubrikasi yang keluar dari vagina Jeonghan."Sayanngg mmhh memek kamu enak banget sih." Gumam Seungcheol, ia menghisap bibir-bibir tebal itu. Bersih dari rambut-rambut dan membuat Jeonghan merintih karena ia bisa merasakan bagaimana sensitif tubuhnya dibagian bawah sana.Jilatan itu tidak berhenti begitu saja, kali ini Seungcheol menghisap secara perlahan. Tangannya mengusap perut besar Jeonghan yang dapat ia rasakan bayi mereka sedikit menendang dari dalam, Jeonghan dibuat ngilu olehnya. Cairan lengket dan bening semakin mengalir deras, kini ibu jari Seungcheol mengusap tonjolan kecil yang mampu membuat tubuh Jeonghan terlonjak.Seungcheol bangkit dari posisinya, mengecupi bibir Jeonghan yang sedang terengah sedangkan jarinya dibawah sana tidak berhenti juga memainkan kelamin berwarna merah yang semakin bengkak ia buat, semakin gemas juga Seungcheol sampai ia pukul secara perlahan tentu saja."Nghh daddy ssh enak bangett dad." Rintih Jeonghan disela-sela ciuman mereka."Hhh-ah memek aku kedutan sshh aah." Jeonghan memeluk leher Seungcheol, pahanya bergetera tidak karuan hingga."Memek kamu kalau lagi hamil gini, sempit banget Han." Bisik Seungcheol, jarinya bergerak keluar dan masuk secara perlahan, suara becek dapat terdengar sangat jelas di kamar VVIP itu. Kepala Jeonghan sedikit tertenggak saat Seungcheol berpindah untuk menyusu pada putingnya yang bengkak, putingnya dihisap kuat dan digigit perlahan.Dasarnya tubuh Jeonghan yang berubah menjadi bengkak semua saat hamil, malah menjadi keuntungan bagi Seungcheol yang kini dengan mudahnya menyusu pada puting itu, ia gigit dan ia hisap. Air susunya ia minum, sebelum nanti rebutan dengan anaknya."Mmmhh enak mmh." Kalau bisa dibilang mabuk, mungkin benar. Seungcheol mabuk dengan wangi dada Jeonghan yang kini tercium seperti wangi susu vanilla baginya. Jari yang tadinya satu kini bertambah menjadi dua, jarinya bergerak memutar dan menekan-nekan dinding vagina suaminya itu, membuat Jeonghan terengah."Sssh aah jangann nnggh jangan dicolok-colok gitu dad memek akunya." Jeonghan meremas pundak Seungcheol, bibir yang tadi menyusu dibagian kiri kini berpindah pada bagian kanan. Seungcheol menutup kedua matanya, menyusu dengan nikmat sembari jari-jarinya bergerak keluar masuk dan menyentuh prostat Jeonghan tanpa henti, membuat tubuh Jeonghan bergelinjang pelan dibawah tubuh Seungcheol.Perutnya bahkan kini sedikit tertindih, dan Jeonghan menyukai sensani ini. Ketika Seungcheol memaksa, dan menggunakan tubuh Jeonghan seenaknya. Tentu saja masih memastikan keamanan Jeonghan dan bayi dalam kandungan mereka.Seungcheol mengangkat wajahnya, dan menatap wajah Jeonghan yang kini sudah memerah. Di ujung bibir Seungcheol ada sedikit asi yang tersisa."Sayang ssh aduh aku pengen ngewein kamu terus." Gumam Seungcheol, jarinya terus bergerak kini ia duduk dan membuka kedua bibir vagina yang sudah bengkak itu, bersama dengan klitoris di tengah-tengahnya yang juga merekah. Seungcheol mendekatkan wajahnya dan menghisap tonjolan kecil nan lucu itu."Aaah daddy! Gelii nghh itil aku gelii sshh aah aduhh aahh dadddyy." Kaki Jeonghan meronta-ronta pelan, merasakan tubuhnya seperti kesetrum. Kedua tangan Jeonghan meremas bantal, handuk yang berada dibawah pinggulnya kini sudah basah oleh cairan kental yang tidak berhenti keluar juga, karena Jeonghan ejakulasi bersamaan dengan klitorisnya yang dihisap oleh Seungcheol.Seungcheol mengecupi kaki Jeonghan, ia berdiri dengan kedua lututnya. Lalu sedikit merunduk di atas perut besar dengan garis-garis putih strechmark yang terlihat cantik dimatanya, Seungcheol mengecupi perut Jeonghan dengan gemas, sembari tangannya menurunkan celana jeans yang digunakan, mengocok kontolnya yang sudah sangat tegang sekali. Lidah Seungcheol menjilati perut Jeonghan, menuju pusar yang terlihat menonjol dan tentu saja ia jilat perlahan.Matanya menatap Jeonghan yang wajahnya sudah berantakan, dengan liur dan keringat yang menetes dari pelipisnya. Seungcheol terus mengecupi perut besar itu, suaminya terlihat sangat seksi ketika sedang hamil seperti ini. Dengan kepala kontolnya yang tengah menggesek memek becek milik Jeonghan, matanya menatap ke atas dan akhirnya kedua mata mereka saling bertatapan."Seksi." Ujar Seungcheol, ia mendorong kontolnya perlahan hingga bisa merasakan becek dan hangat saat setengahnya sudah masuk."Ah! Daddy ahh kontolnya gede banget sshh." Jeonghan berujar, ia bisa merasakan dinding kemaluannya terbuka lebar secara mendadak, desahnya semakin kencang saat sang suami langsung bergerak."Ngh! Nnhh! Kontol gede nnghh kontol gede enak bangeet nnghh." Jeonghan berujar di sela-sela desahnya yang tidak tertahan, tubuhnya secara perlahan terlonjak-lonjak di atas kasur rumah sakit.Ia masih berusaha menahan desahnya agar tidak terlalu kencang, bagaimanapun di depan pintu ada penjaga, pintu kamar mereka tidak dikunci dan ruangannya tidak kedap suara.Jeonghan memeluk Seungcheol, tubuhnya yang setengah berbaring memberikan keuntungan baginya untuk melihat bagaimana kontol sang suami yang bergerak keluar masuk tanpa hambatan dapat terlihat, selain memeknya yang berkedut, lubang analnya pun ikut berkedutan. Hingga cairan lengket yang berasal dari memeknya kini membasahi bagian dalam lubang analnya juga."Aaah sayang sshh kamu kalau hamil gini tuh memeknya tembem banget." Gumam Seungcheol, satu tangannya berada di atas kepala ranjang. Memperlihatkan urat-urat yang menyembul dilengannya, celananya kini sedikit basah oleh cairan dari memek Jeonghan."Daddy hamilin terus ya kalau dedek udah lahir?" Kedua tangan Seungcheol sudah berada diperut Jeonghan, mengusap-ngusap perut bulat dan besar itu. Pinggulnya bergerak semakin cepat, cukup dalam hingga Seungcheol bisa merasakan pintu rahim milik Jeonghan. Yang malah membuat Seungcheol merinding karena ia bisa masuk sangat dalam, dan membuat Jeonghan menggulirkan kedua bola matanya."Hhhh mauuh nnghh mau hamil terus nnghh daddy ah ahh hamilin aku terus daddy nnghh." Kedua tangan Jeonghan meremas bantal, baju rumah sakit yang ia pakai sudah berantakan sekali. Kancing bagian atasnya sudah terbuka karena Seungcheol tadi menyusu pada kedua dadanya, bagian bawahnya sudah tersingkap hingga memperlihatkan perutnya yang besar dan basah oleh keringat itu."Iya sayang aah habis ini daddy hamilin lagi biar bisa nyusu sama pentil kamu terus." Jawab Seungcheol, ia menunduk dan mengecup bibir Jeonghan yang terbuka dengan air liur yang menetes dari ujung bibirnya, Seungcheol jilati bibir yang basah oleh liur itu."Ahh sayang mau keluar lagi?" Tanya Seungcheol suaranya memberat, Jeonghan mengangguk. Tubuhnya lemas bukan main, tetapi seluruh sarafnya masih bekerja dengan sangat baik. Hingga semua rangsangan yang diberikan oleh Seungcheol tentu saja tubuhnya terima dengan baik."Aahh nnghhh itil aku daddy nnghh cubit itil aku." Gumam Jeonghan disela-sela ciuman keduanya, Seungcheol langsung menempatkan tangannya diatas perut bagian bawah Jeonghan, jempol dan telunjuknya langsung mencubit tonjolan kecil yang sudah memerah itu. Dalam hitungan detik penis Seungcheol diremas cukup kuat."Sssh Jeonghan aah memeknya sempit banget sayang." Seungcheol meremas kedua paha Jeonghan, tidak terlalu kuat karena takut meninggalkan bekas. Seungcheol melihat ke arah bawah, melihat lelehan cairan kental yang kini membasahi handuk yang menjadi alas pinggul Jeonghan.Nafas keduanya sangat tidak teratur, bahkan tubuh Jeonghan kini sudah sangat melemas sekali, baju yang ia pakai sudah basah oleh keringat dan rambutnya lepek, matanya semakin sayu. Tetapi ia meringis saat bayinya menendang perutnya cukup kuat, mambuat kedua matanya terbuka. Sang bayi seolah-olah memberitahu bahwa Jeonghan belum boleh tertidur karena sang daddy yang belum ejakulasi."Sayang, masih kuat?" Tanya Seungcheol, mau menjawab tidak kuat tetapi Jeonghan tidak tega, jadi ia mengangguk saja. Toh sejak tadi kan posisinya hanya berbaring dan tidak banyak bergerak, tetapi kenapa dirinya yang sangat kelelahan?Jeonghan bisa merasakan batang besar itu berkedut di dalam memeknya, kedua tangan Jeonghan kini dikalungkan dileher Seungcheol, sedangkan tubuh Seungcheol kini sudah sedikit maju hingga ia menekan perut bagian bawah Jeonghan, dan tentu saja penisnya masuk semakin dalam. Bibir bengkak itu terbuka, menghela nafasnya. Desahnya sudah tidak keluar karena keringnya kerongkongan."Sayang aah enaknya kamu hamil daddy bisa keluar di dalem terus." Tangan Seungcheol meremas pinggul Jeonghan yang berisi, ia gemas sekali dengan tubuh Jeonghan yang berisi diberbagai tempat.Jeonghan mengangguk, ia pusing sekali dengan seluruh rangsangan yang tubuhnya dapatkan."Daadhh.. Nnnhh geli nngh geli geli daddh berhenti dulu ssh aku mau pipis." Jeonghan meminta, ia meremas lengan Seungcheol sangat kuat. Karena kini kedua kakinya terasa kejang."Keluarin aja sayang, ngga apa-apa." Seungcheol mengecup bibir Jeonghan cukup dalam, hingga lidah keduanya memenuhi mulut Jeonghan yang kini terbuka. Tubuh yang berbaring, sedikit kejang, Jeonghan bisa merasakan perut bagian bawahnya terasa kencang sekali."Memek aku.. nggh daddy memek akuu." Jeonghan kini menangkup kelaminnya dengan tangannya, sedangkan Seungcheol bergerak semakin cepat. Ia dapat merasakan cairan hangat yang mulai membasahi kontolnya dan memuncrat secara perlahan setiap ia mendorong kontolnya masuk kedalam memek Jeonghan lagi."Jangan ditahan aah jangan ditahan sayang." Seungcheol menengok kebawah, ia bisa merasakan jari-jari Jeonghan yang kini bergesekan dengan batang kontolnya yang semakin berkedut, semakin cepat Seungcheol bergerak semakin banyak pula cairan encer yang keluar dari lubang lain didalam memek Jeonghan."Nggh ah dadh aah aahh aku pipis nnghh." Tangan Jeonghan kini malah mengusap perutnya dari bawah, seperti menekan kantung kemihnya agar cepat mengeluarkan muatannya. Semakin Seungcheol bergerak cepat, semakin bergejolak juga kantung kemih Jeonghan.Tangan Jeonghan dibawa oleh Seungcheol menuju perutnya, hingga tangan keduanya saling bergenggam di atas perut Jeonghan."Sayang aah sayang aku keluar." Seungcheol menatap kebawah, melihat handuk yang kini basah dan memek Jeonghan yang kini semakin licin dan halus, ia masukan penisnya cukup dalam hingga Jeonghan melenguh, merasakan sperma sang suami yang kembali memenuhi tubuhnya.Tubuh Seungcheol seperti kejang, pinggulnya bergerak tidak karuan merasakan rangsangan dari dalam, merasakan dinding vagina Jeonghan yang berkedut-kedut, hingga penisnya pun kini ikut berkedut dan mengeluarkan seluruh spermanya.Seungcheol mengecup kening Jeonghan, tangannya mengusap perut gendut yang bergerak perlahan. Ia pun menunduk dan mengecup perut itu secara perlahan."Maaf ya daddy ganggu dedek lagi tidur, dedek cepet keluar ya. Kasian papah kurang nyaman sama badannya, kalau dedek keluar kan bisa ketemu Daddy sama Papah." Seungcheol mengecup perut itu, menggesekan wajahnya."Dadh.. nngh keluarin.. memek aku penuh banget." Jeonghan berujar, setelah Seungcheol selesai melakukan tummy time."Iya sayangku." Perlahan Seungcheol menarik penisnya keluar dan bersamaan dengan itu spermanya juga mengalir ke atas handuk yang menjadi alas. Dengan handuk yang sama, Seungcheol membersihkan memek Jeonghan yang belepotan sperma dan kencingnya sendiri."Semoga besok dedek udah mau keluar." Ujar Jeonghan, sambil mengusap perutnya yang basah oleh keringat."Besok dedek pasti keluar, soalnya udah ditengok daddy." Seungcheol mengecup kening Jeonghan dengan sayang, ia membetulkan kembali baju yang dikenakan Jeonghan. Dan sisa malam itu, Jeonghan tertidur dengan sangat nyenyak sekali.Tentu tidurnya yang nyenyak itu terganggu dengan rasa mulas yang tiba-tiba ia rasakan, dan Jeonghan pun merasakan kontraksinya esok pagi. Seungcheol tersenyum senang walaupun bajunya menjadi sasaran bagi Jeonghan untuk di remas karena rasa mulas yang tidak tertahankan.

↑ Top · Fandoms