Work Text
_____________Di pinggir laut pelabuhan Yokohama, udara malam kala itu terasa sedikit dingin—sebab musim sudah memasuki bulan November. Samatoki asyik merokok tidak jauh dari stasiun pemadam kebakaran Tsurumi. Tidak ada yang berani menegur sosoknya yang merupakan orang penting, bahkan kepala pemadam kebakaran itu sendiri yang membantunya menyalakan api.“Silahkan, detektif.”“Sudah kubilang, Mr.Hardcore.”“Mr.Hardcore—” Staff di belakang sedikit terkekeh, sampai suaranya terdengar cukup untuk membuat Samatoki menoleh, “Ah, maafkan kami.”Maklum saja, julukan itu sedikit kekanakkan untuk seorang detektif kesohor dengan bayaran tertinggi di Jepang. Sampai sekarang masih jadi misteri kenapa Samatoki juga enggan dipanggil dengan namanya dan memilih julukan itu untuk diedarkan kepada massa. Rio selaku asisten pun hanya menggeleng tiap kali fans Samatoki datang untuk menanyakan info pribadi yang tidak pernah membawa hasil apa-apa.“Yaah, entah harus berapa kali saya ucapkan betapa anda sangat membantu kasus kali ini, Mr.Hardcore. Walau tidak besar kerugian yang diciptakan, tetapi pencuri cilik itu benar-benar merepotkan.”“Ini cuma karena kau janji akan bayar kebodohan ini dengan tiket yang kuminta.”“Ah, ya—tentu saja. Tentu saja! Kartu undangannya sedang disiapkan oleh kenalan saya. Kalau boleh tahu, kenapa anda ingin menonton konser akbar Femme Fatale di Facifio? Sebuah hobi atau—ada kasus lainnya yang—? ah! Apa saya terlalu banyak bicara?”“Ya. Terlalu banyak bicara.”Rokok dimatikan di atas asbak yang tengah dipegangi oleh sang kepala stasiun Tsurumi. Wajah nampak terheran-heran dengan Samatoki yang sungguhan tidak memberi penjelasan lebih. Sudah berdiri santai memandangi panorama di pulau seberang yang berkelap-kelip—Pelabuhan Minato Mirai 21 saat malam sungguhan cantik nan futuristik. Mengaguminya cocok untuk menutup hari yang bodoh ini.Bodoh—karena, ia baru saja menghentikan si pencuri APAR dengan menarik celananya hingga melorot—lalu membuat sang pelaku jatuh dengan wajah telak menghantam tanah. Usut punya usut, kejahatan itu dilakukan hanya supaya bisa bertemu dengan Samatoki yang adalah idola. Konyol memang cara penangkapan yang berujung jadi sesi jumpa fans itu. Yah, berhubung ini bukan kasus yang serius juga, Samatoki jadinya tidak keberatan. Tentu saja, kalau bukan karena bayaran tiket VIP Pacifio Yokohama yang tengah dibutuhkan untuk misi selanjutnya—ia tentu tidak akan menyanggupi kasus yang jelas hanya membuang-buang waktunya.“Riou.”“Ya?”“The Kahala Hotel menurutmu bagaimana?”“Tidak mau kemah saja? Shoukan baru beli kasur udara yang bagus.”Samatoki melirik malas rekannya sambil meninju bahu kokoh itu, “Bodoh. Kalau ditawari tempat yang nyaman, jangan ditolak begitu.”“Bukankah akan mahal kalau menyewa hotel untuk pekerjaan berikutnya?”“Siapa bilang pakai uang?”Gantian Riou yang terlihat bingung mendengar pertanyaan itu, “Lantas?”“Si polisi sialan sudah mengurus biayanya. Kubilang kalau tidak menginap di hotel, tidak usah minta bantuan mengurus si Pemburu Malam.”“Kamu kejam juga. Seperti mafia.”“Tsk. Itu bayaran yang normal tahu?” ponsel dikeluarkan hanya untuk memandangi satu foto malam dengan bulan menyala terang—di tengah-tengahnya ada siluet hitam yang seolah terbang di angkasa. Melompat dari gedung ke gedung seperti ia bukan manusia, “Yang kita buru sepertinya binatang entah apa. Bukan sembarang orang.”Riou cuma tersenyum mendengar komentar blak-blakkan Samatoki di situ.“Jadi, misinya sungguhan kamu ambil, ya?”“Tentu saja. Mau taruh muka dimana kalau sampai menolak permintaan dari Inspektur Kepolisian Yokohama yang datang secara personal ke tendamu sambil membawa bakpao daging kesukaanku?”“Dan es krim choco-mint?” Riou menambahkan seserahan yang belum disebut sebelumnya.“Dan es krim choco-mint, ya. Terserah.” Samatoki mengafirmasi.“Shoukan rasa, Samatoki lebih suka es krimnya daripada bakpao itu karena merk mahal yang tidak biasa kamu beli, ya?”“Berisik sekali.”Tepuk lagi bahu Riou, tapi kali ini dengan pipi sedikit merah....Dua bulan sebelumnya, Jyuto Iruma mengunjungi tenda Riou yang terletak di hutan Yokohama.Seperti yang bisa ditebak—ia membawa tugas baru yang jujur saja, tidak bisa diselesaikan oleh kepolisian setempat. Selain warga biasa dan pejabat, kadang kala—badan resmi sekalipun dapat mendatangi Samatoki sebagai tempat bergantung terakhir mereka. Lucu kalau diingat pertamakali Jyuto meminta Samatoki agar membantu kepolisian dengan gengsinya yang masih menjulang tegak. Lakukan ojigi kalau mau dibantu, kelinci bodoh. Jyuto butuh satu minggu sampai benar-benar sanggup menebus itu—sebab Samatoki yang pongah dan bermulut pedas, benar-benar menggelitik syaraf. Rasanya malas kalau sampai harus ditertawakan oleh gelegar suara yang seperti geledek di musim panas itu.Tapi kali ini Jyuto sudah terbiasa meladeni ego sang detektif yang memang betulan punya kemampuan. Memohon dengan kata tolong bukan lagi jadi masalah—terlebih, karena kasusnya kali ini diprediksi dapat menghilangkan dua nyawa manusia. Ojigi, sujud, atau apalah—semua akan dia lakoni asal Samatoki mau memakai otaknya.“Saya tidak akan basa-basi,” Jyuto memulai dengan satu kotak bakpao disodorkan di atas meja, “Akhir-akhir ini, kami dapat kabar soal pencuri yang selalu mengincar rumah seni sebagai lokasi kejahatannya. Lukisan, guci, patung—awalnya, itu tidak jadi masalah, sampai mereka mulai mencuri mahluk hidup.”“Manusia?”“Binatang,” Jyuto mengoreksi, “Terakhir dia mencuri dua ekor singa dari sebuah rumah sirkus. Gila—saya rasa. Tidak ada yang tahu apa tujuannya, tetapi kasus-kasus ini memiliki satu karakteristik yang membuat saya yakin kalau pencurinya adalah orang yang sama.”“Dan itu?”“Semua yang dicurinya dalam satu malam, jumlahnya selalu dua.”Alis Samatoki naik sebelah. Melanjutkan pertanyaan yang seketika muncul di dalam kepala, “Dua ini maksudnya untuk benda yang sama atau berbeda?”“Sama. 2 singa, 2 guci, 2 lukisan, dan lain-lain.”“Dan lain-lain? Ada berapa kasus sih?” Samatoki sudah bersandar malas sekali di sofanya. Siapa yang mengira Jyuto baru melapor setelah kasus sudah sejauh itu terjadi.“Sekitar enam bulan, totalnya 10 kasus pencurian.”“HAAA? Sebanyak itu dan belum bisa ditangkap juga?!?” Jyuto cuma diam saat diteriaki. Diamnya lebih kepada sibuk menahan emosi—sabar, sabar. Dia tidak bisa menyahut dan menyulut Samatoki di saat penting begini. Kendati lawannya yang berteriak malah lanjut memprovokasi. Mengangkat satu kakinya ke atas meja, tidak tahu diri. Dilanjutkan dengan merokok—tidak peduli, “Oke. Katakan saja kalau kasusnya sulit karena nggak jelas begini. Tapi kenapa inspektur hebat sampai harus repot-repot ngurusin hilangnya kucing orang? Ada yang lebih penting daripada itu, kan?”“Karena prediksi saya bilang, yang selanjutnya bisa jadi manusia.”Riou mencatat segala percakapan seperti notulen ulung. Membiarkan Samatoki yang menatap si kacamata dalam diam, tidak terlihat panik ataupun tertarik. Tatapan itu lebih seperti orang yang sedang menimbang-nimbang.“Cuma prediksi dari polisi yang nyari satu orang saja nggak mampu, kan?”“Dengar, Samatoki.”“Siapa yang suruh manggil kayak gitu?”Dahi Jyuto sudah dibuatnya mengkerut. Menampar meja yang menjadi sandaran dari kaki sang detektif dengan keras untuk membangunkan rasa kantuk yang kali saja menghantui lawan bicaranya saat itu.“DENGAR. Kamu sudah tahu jelas ada yang namanya pemanasan sebelum eksekusi betulan. Pembunuh banyak yang seperti itu. Mula-mula mereka mencari target yang remeh seperti kucing jalanan, sebelum ia menghabisi nyawa orang. Pencuri ini? Dia seperti pemburu. Sedari awal, barang yang diambilnya hanya sebesar cincin. Lalu? pelan-pelan menjadi guci dan akhirnya menyentuh mahluk hidup. Dia benar-benar menyusun segalanya seperti ini adalah sebuah performa. Membuat teori Darwin dengan barang-barang yang telah ia ambil. Biar saya tebak—kamu memang tidak peduli dengan kasus yang tidak menarik jaringan otakmu yang sulit dimengerti itu. Tetapi ini menyangkut nyawa. Walaupun hanya prediksi saya—kamu lebih suka membiarkan prediksi ini menjadi nyata?”“Memangnya menurutmu siapa yang bakal mati selanjutnya? Pejabat tinggi?”“Ini bukan waktunya untuk bercanda.”Samatoki mendengkus lagi, tetapi kali ini kakinya diturunkan saat punggung itu menegak di kursi. Catatan yang sudah dibuat Riou, diminta saat itu juga. Dibaca tidak lebih dari lima detik setelah buku menyentuh tangannya. Samatoki mengambil kesimpulan dengan mudah.“Ya sudah. Nanti minta keterangan lanjutan semacam tkp, kronologi, jejak bukti, dan detail barang yang diambil selama 6 bulan ini. Lalu—” Samatoki berhenti saat ia melipat kedua tangannya, “Semua dana yang dibutuhkan selama proses pencarian, kau yang tanggung. Setuju?”“Hah?”“Tidak mau juga terserah saja.”Jyuto mendecih kencang. Tidak terima dengan keegoisan Samatoki yang terang-terangan di sana—kendati kepala itu ditundukkan perlahan untuk menyetujui permintaan, “Mohon bantuannya.”Cengiran Samatoki melebar, terang-benderang....Malam itu Riou sudah memesan susu hangat dan duduk di ranjang hotel Kahala dalam posisi canggungnya. Tentu saja, untuk seseorang yang hampir seumur hidup dihabiskan di dalam tenda atau markas kecil Samatoki di pinggir kota, berada di dalam kamar mewah dengan busa ranjang yang empuknya bisa membuat kantuk lekas datang, sangat tidak biasa. Bahkan plafon pendek di kamar itu membuat Riou merasa ia berada di dalam rumah boneka.“Nggak suka ya?” Samatoki baru saja keluar dari kamar mandi pasca menikmati air hangatnya. Duduk di salah satu sofa dengan desahan lega. Rambutnya masih basah, handuk kecil melingkari pundak—kuat digosokkan pada tengkuknya, “Padahal nyaman begini. Sesekali liburan gratis, jangan ditolak.”“Kamu betulan pesan kamar ini cuma untuk bersenang-senang, Samatoki?”“Kan nggak ada yang memaksa. Kelinci itu sendiri yang menyanggupi.”Susu mulai diseruput Riou di antara obrolan mereka. Samatoki masih asyik mengeringkan rambutnya.“Tapi, shoukan rasa—tidur di tenda masih lebih baik.”“Bicara begitu lagi setelah kau sudah coba ranjangnya. Kalau sekarang, pendapatmu nggak berguna.”Samatoki sudah meraih bungkus rokoknya dari saku celana—bergegas keluar balkon dengan segera. Tidak perlu disuruh karena sudah tahu kebiasaan Riou yang akan mengomelinya kalau membuat asap di dalam ruangan. Riou—dengan susu yang sudah dihabiskan, diam-diam menyusul punggung lebar sang detektif yang terlihat kesepian. Udara malam hari itu sedikit dingin, jadi dengan perhatian ekstra, Riou menawarkan sedikit bantuan, “Mau diambilkan selimut?”“Umurku 30 tahun, tahu.”“Manusia umur 30 tahun juga bisa terkena flu kalau kedinginan.”“Heh,” sambil menepuk puntung rokoknya yang menjatuhkan abu di langit, Samatoki merespon, “Kalau gitu ambilkan satu yang bisa kita pakai bersama.”Saat disuruh demikian, Riou segera pergi dan kembali dengan bed cover yang ditariknya dari ranjang. Samatoki menatap heran kala pundaknya sudah diselimuti oleh seprai putih yang menjuntai. Riou hanya membalas gampang, “Selimut di hotel mewah sangat kecil. Tapi kalau Samatoki mau, kamu bisa pakai—”“Tidak usah. Ini saja,” Pria itu tidak melawan dan menerima saja apa yang sudah Riou beri. Merepotkan kalau harus memakai selimut ganda di saat ia sedang merokok begini, “Thanks.”“Sama-sama.”Di antara kerlap-kerlip lampu gedung pencakar yang menghiasi sekitar, keduanya berdiam diri menikmati suasana. Memang normalnya mereka tidak bercakap-cakap saat sedang menghabiskan waktu berdua—kalaupun harus bersuara, biasanya itu keluar dari mulut Samatoki yang selalu punya banyak komentar untuk dimuntahkan, positif ataupun tidak. Riou memang lebih suka berperan sebagai pendengar yang khusyu.Tetapi hari ini, entah kenapa—seperti ada sesuatu yang merasuki sang pria untuk berbasa-basi di sana, “Samatoki.”“Apa?”“Kenapa pilih The Pacifio sebagai tempat untuk diselidiki?”“Kau nggak ngerti?”Riou hanya mengangguk pelan.“Bagaimana ya? Ini cuma logika dasar. Kalau membicarakan orang sebagai korban, ya sudah pasti tempat yang dipilih adalah gedung-gedung pertunjukkan seperti teater, atau bioskop.”“Tidak museum? Bagaimana kalau korban selanjutnya adalah petugas museum?”“Mh—nggak. Jadi nggak masuk akal kalau cuma petugas museum yang diambil.”“Kenapa begitu?”“Kau nggak baca catatan yang dibawa oleh Jyuto ya? Semua yang dicuri adalah barang-barang yang pada hari itu dipamerkan. Bukan koleksi simpanan. Bahkan, singa itu juga punya jadwal pertunjukkan di hari mereka hilang. Dan tujuannya—” Samatoki berhenti sebentar. Selimut di pundaknya sampai melorot, dan Riou yang tanpa pamrih menyelimutinya lagi dengan sabar.“Tujuannya?”Serta-merta pucuk kepala putih berputar hanya untuk menatap mata Riou, dalam-dalam. Rokoknya sampai dimatikan pada railing yang menjadi sandaran lengannya, “Semacam ingin dilihat orang? Kurasa.”“Menurutmu—ia sosok yang suka pamer, begitu?”“Bukan, bukan begitu. Maksudnya dalam konteks—eksposur. Ada sesuatu yang dia butuhkan dari media yang memberitakannya. Tidak lihat bagaimana ia mencuri segala hal dengan konsisten?”“Hm, memang konsisten.”“Terkesan seperti, ‘Hei, tolong buat cerita tentang aku seperti ini’. Seperti orang yang sedang menyusun ending besar.”“Ending seperti apa menurutmu?”Samatoki sudah bertopang pipi di railing balkon yang terasa dingin karena terbuat dari besi. Ia bergumam pelan.“Ada beberapa yang terpikirkan. Tapi sejujurnya, nggak yakin betul juga.”“Shoukan ingin dengar.”“Hm?” Samatoki melirik dari sudut mata, sebelum lirikan itu ia buang ke pemandangan di bawah—tepat pada jalanan yang masih dipenuhi oleh lalu-lalang kendaraan, “Misalnya—dia mau melenyapkan dua orang penting di pertunjukkan. Karena—yah, anggap saja demi kepuasan pribadi.”“Menghilangkan dua orang penting—maksudnya penyanyi dari Femme Fatale?”Samatoki cuma tertawa dan menepuk pelan pundak Riou, bersahaja. Dari gestur yang dia tunjukkan, sepertinya sang detektif sudah tidak punya keinginan untuk berlama-lama lebih dari itu, “Entahlah. Kita cuma bisa tahu setelah tiba di lokasi kan?”“Kalau menurut pendapatmu sendiri, bagaimana?”Pertanyaan Riou tak dijawab dan menghilang di udara, seperti buih pada bibir pantai di malam hari yang sepi....Konser Femme Fatale sungguhan ramai dipenuhi oleh pengunjung di malam perdana mereka. Kendati sebagiannya tidak datang hanya untuk mendengar nyanyian. Desas-desus soal akan ada kasus besar telah merambat sampai telinga rakyat. Berbondong-bondong mereka menabung hanya untuk menyaksikan hari yang diprediksi akan bersejarah. Penjagaan polisi di setiap pintu keluar juga telah ditambah. Kamera CCTV menyala dengan semestinya. Di barisan kursi tengah, Samatoki dan Riou duduk—dikelilingi oleh kerumunan yang malah sibuk memerhatikan mereka alih-alih panggung yang belum memulai aksinya. Sebenarnya risih juga—menyadari popularitas Samatoki yang justru malah membuat mereka menjadi tontonan mengalahkan artisnya. Entah siapa orang dari kepolisian yang tidak bisa menjaga mulut dan menyebarkan berita soal penangkapan si Pemburu Malam seperti menyebarkan dongeng dari situs menulis gratis. Satu kaki Samatoki sudah digoyangkan karena tidak sabar untuk lekas mendengar keheningan kecuali nyanyian yang bersumber dari panggung itu sendiri.“Kenapa duduk di sini? Shoukan pikir, Samatoki akan pilih balkon atas yang jauh dari kerumunan?”“Cuma ingin membuat pelakunya kesal.”“Kesal?”“Jelas, kan. Dengan segala perhatian besar yang dia dapat, bagaimana cara untuk melancarkan aksinya? Keramaian akan meningkatkan kesulitan yang dia hadapi.”“Kamu bicara apa? Menjangkau panggung itu sangat mudah, Samatoki.”“Kalau targetnya betulan Femme Fatale.”Satu alis Riou terangkat mendengar pernyataan itu.“Jadi kamu tidak benar-benar berpikir mereka yang akan diculik malam ini ya?”“Ichijiku dan Otome? Awalnya kupikir memang ada kemungkinannya. Tetapi setelah lihat pengumuman soal anggota baru yang akan diperkenalkan di sini—” Samatoki tiba-tiba saja menggoyangkan selebaran panduan yang belum lama ia dapat dari area ticketing, “Aku jadi lebih yakin siapa yang akan dia hilangkan, Riou.”Selebaran iklannya diam-diam sudah diperhatikan dari sudut mata kebiruan yang menyerupai elang. Ada wajah dari gadis ketiga yang dicetak di antara Ichijiku dan Otome. Namanya NemuA. Tidak tahu itu singkatan atau apa, tetapi—rambut putih dan matanya yang merah, semua menyerupai Samatoki yang sudah seperti—“Kenapa ya—aku bisa kalah cepat dari orang ini?”“Soal apa?”“Dia lebih paham dimana adikku berada. Ketimbang aku yang kakaknya sendiri,” Riou cuma terdiam dan tidak membalas lagi. Sudah tahu kemana arah pembicaraan yang dibawa Samatoki, “Apa memang aku betulan nggak berguna kalau mengurus keluarga ya?”“Samatoki sudah membantu banyak orang. Nggak ada manusia yang bisa melakukan segala hal.”“Hari ini tanggal 11. Sama seperti saat adikku diculik orang.”“Hari ini ulangtahunmu, Samatoki.” Riou meralat kalimat itu menjadi lebih positif untuk didengar.“Yeah. 18 tahun yang lalu, hadiahku kehilangan Nemu,” kedua tangan sudah masuk ke dalam saku celana saat Samatoki mulai bersandar malas di kursinya, “Tapi tahun ini, hadiahnya cukup bagus karena bisa melihatnya sehat-sehat saja.”Kekehan dari mulut yang sama meluncur, saat lampu teater meredup—menyisakan panggung yang kemilau seperti berlian. Tiga perempuan lantas muncul perlahan dengan dongkrak panggung yang mendorongnya ke atas. Musik mengalun di saat mereka menyambut keramaian. Samatoki tidak berhenti menyaksikan dan mendengar suara yang sudah lama tidak ia dengar—hampir saja dilupakan.“Mau menyapanya setelah pertunjukkan? Aku rasa, sebagai seorang detektif, kamu bisa dapat privilese untuk bertemu dengan Nemu di belakang sana.”Samatoki tergiur dengan tawaran yang sempat menguasai emosinya itu—tetapi, tidak. Pada akhirnya kepala itu menggeleng juga.“Sudahlah. Kalau tiba-tiba datang setelah lama nggak ada di hidupnya, nanti kehadiranku cuma bikin kacau saja.”“Kamu yakin?”“Yah, setelah dapat alamat, kondisi, dan semacamnya—aku sudah cukup puas.”“Seperti stalker ya?”“Memang kenapa?! Ah sial. Ayo kita pergi sekarang.”“Bagaimana dengan kasusnya? Kita belum melihat ada pergerakkan dari si Pemburu Malam.”Telapak tangan sudah menekan pundak Riou saat Samatoki mencondongkan wajahnya pada telinga lawan dan berbisik pelan. Pergerakkan itu amat tiba-tiba, sampai membuat bulu kuduk Riou meremang.“Kalau begitu, cepat lakukan.”“Apa maksudmu?”“Jangan berpura-pura lagi. Ide perayaan ulangtahun yang ada di kepalamu itu sungguh aneh sekali.”Hening menyambut—terparalisasi oleh jawaban yang seolah menghipnotis akal. Butuh waktu bagi Riou untuk menjawab dengan kondisi tenang, “Rupanya sudah tahu ya?”“Dipikir siapa yang kau lawan?” Samatoki nyengir lebar kemudian, “Ayo Lenyapkan aku.”“Sekarang?”“Yeah.”Riou membalasnya dengan senyuman. Satu kembang api dia lempar cepat—meluncur nyaring di langit-langit ruangan. Ledakkan massif menyusul dan percikkan api lekas mencuri perhatian. Lampu di dalam teater kemudian padam secara bersamaan—tak menyisakan setitik pun cahaya, termasuk panggung yang gelap gulita.“AAAHHHHHHH!”Jeritan spontan mengudara—di saat para polisi diperintah untuk menjaga pintu teater rapat-rapat. ‘Jangan biarkan satupun manusia keluar dari sana!’ hanya butuh waktu 3 detik sebelum lampu kembali menyala—dan dua kursi di tengah kosong begitu saja. Orang-orang di sekitar saling pandang, menyadari kehilangan sang detektif dan asistennya yang seperti ditiup angin malam.
‘Hei betulan ada yang hilang!’
.
.
.
Samatoki tertawa dalam dekapan si Pemburu Malam yang membawanya terbang melompati langit seperti mereka tengah melakukan perjalanan waktu.
Menyisakan satu pesan teronggok di atas bangku. Pesan yang mengakhiri segala rangkaian panjang ini seperti sedang mengantar orang-orang pada tidur mereka.___
Kepada seluruh penonton yang tengah menikmati pertunjukkan.
Dengan ini saya—yang kalian sebut sebagai Pemburu Malam—akan mengakhiri acara sebenar-benarnya. Tidak ada lagi keresahan yang akan mengganggu, ataupun berita yang meneror rumah seni apapun. Tiap-tiap harta yang telah saya ambil juga akan dikembalikan pada tempat asalnya, kecuali dua orang yang malam ini ikut dengan saya.
Mereka adalah harga yang harus kalian bayar untuk dapat mengembalikan pusaka dan perhiasan negara.
Terimakasih karena telah menyaksikan semuanya sampai akhir.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Epilog
Yang shoukan inginkan sebenarnya sederhana saja.
Melihat Samatoki bisa beristirahat dan bersantai di sisa hidupnya. Tidak kurang, tidak lebih.
Selama ini waktu yang dihabiskannya begitu melelahkan untuk dilihat. Kalau tidak memelototi berkas, kerjanya hanya merenung—memikirkan adiknya yang hilang sudah cukup lama. Kadang ditemani oleh alkohol murah. Hidup pada saat itu memang sulit—bahkan sampai sekarang, nasibnya masih tidak bisa dibilang baik juga. Sebab pekerjaannya sebagai detektif tidak dilakoni untuk mencari uang. Tetapi mencari sang adik. Ia hanya tertarik pada kejadian-kejadian yang entah secara langsung atau tidak menghubungkannya pada Nemu. Samatoki tidak pemilih karena hanya tertarik pada teka-teki atau pongah seperti kata orang-orang kebanyakan. Dia hanya kehabisan waktu—kehabisan waktu untuk mengharapkan Nemu kembali.
Itulah mengapa shoukan jadi ingin turun tangan dan membantu. Tidak mudah dan sudah cukup lama rencana ini shoukan simpan sendiri. Berkeliaran mencari informasi sembari mencuri. Shoukan tidak tahu kalau ada rencana yang lebih baik lagi—tetapi, pencarian itu mulai berbuah di detik Shoukan menerobos rumah seorang perdana Menteri.
Shoukan tidak tahu bagaimana ceritanya tetapi—yang memergoki saat itu adalah Nemu Aohitsugi.
Setelah diselidiki lebih jauh lagi—Nemu rupanya sudah menjadi anak dari keluarga Kadenokoji. Dengan sedikit cocoklogi dan analisa situasi, akhirnya shoukan mengerti, gadis ini tidak sedang dalam kondisi tertekan dan diperlakukan dengan begitu baik oleh keluarga barunya yang penuh cinta. Sekalipun tidak ada Samatoki Aohitsugi di antara mereka. Di saat yang sama, shoukan tidak tahu apakah shoukan benar-benar harus meceritakan semuanya kepada Samatoki—sebab Samatoki tidak pernah membicarakan Nemu lebih jauh bersama shoukan. Mengatakannya secara tiba-tiba cuma akan membuat Samatoki tersinggung—shoukan rasa. Jadi shoukan putuskan biar Samatoki saja yang memilih mau melakukan apa.
Enam bulan sebelum hari ulangtahunnya, shoukan ingin memulai rencana kejutan. Kasus pencurian di sepenjuru gedung seni dilakukan supaya shoukan punya alasan untuk membawa Samatoki pada adiknya. Rencananya selain mempertemukan mereka, shoukan juga ingin melepas belengu detektif yang sudah lama mengikat kehidupan Samatoki seperti berada di dalam penjara.
Shoukan tidak tahu apa ini akan berhasil dan membuat Samatoki bahagia.
Tetapi semisal tidak berjalan dengan baik juga—yang selanjutnya akan shoukan pikirkan lagi, rencana cadangan sampai kesuksesan itu benar-benar bisa diraih.
Sebanyak apapun sumber dan informasi yang dibutuhkan untuk menyusun segalanya, shoukan akan selalu punya seluruh waktu di dunia untuk membahagiakan Samatoki.
Sebab Samatoki adalah satu-satunya yang shoukan punya di dunia ini.
