Work Text
Yogyakarta, 1943 - Rumah Seni Ivankov ‘Okama King’
Alunan gamelan dan nyanyian sinden memecah sepi rumah berinterior eropa klasik peninggalan para
gaijin
pengecut. Tubuh-tubuh setengah kekar hasil perbudakan siang hari kini meliuk-liuk indah, memamerkan kepiawaian mereka meronggeng. Tarian
lengger lanang
sedang disuguhkan pada serdadu Jepang, beberapa diantara mereka menggenggam tiket merah. Termasuk dirinya, matanya tak pernah lepas pada satu penari dengan alis melingkar unik.
Tirai menutup, menyembunyikan para pria penari tersebut ke belakang layar. Muncikari mengambil alih tahta sang pemilik rumah seni, Ivankov. Matanya nyalang, dengan setengah hati membiarkan muncikari keparat itu membawa para penari ke bilik senggama.
Para serdadu bertiket merah, dengan tak tahu malu memampangkan ereksi mereka sambil mengantri masuk ke bilik senggama. Zoro meremas tiket merah miliknya, tak ada ereksi nampak dari sela celana seragam. Hanya wajah tanpa ekspresi dan kepala yang dipenuhi oleh pertengkaran seru antar dirinya sendiri.
Zoro membuka bilik senggama, hanya dibatasi papan tipis dan tirai kain sebagai pintu. Lenguh sudah seperti menjadi perlombaan antar bilik, berlomba siapa yang paling keras kenikmatan dan paling lama bermain. Perlombaan pilon menurut Zoro, atensinya kini dia pusatkan pada pria yang masih lengkap dengan konde dan pakaian tari. Ia tengah membersihkan diri, terlihat menulikan kedua telinga dan air mata yang terlewat kering untuk dibagikan pada teman sejawat.
“Hai.” Sang penari terperanjat, konde yang sedang ia lepas terjatuh dan menampilkan rambut kuning keemasan miliknya.
“Maaf, saya mengagetkanmu.” Matanya terbelalak tak percaya.
“Bisa bahasa Indonesia?” Zoro hanya mengangguk, merasa bangga pada perjuangannya belajar bahasa selama setahun ini.
“Baiklah, mau langsung saja atau bagaimana?” Kasur rotan berderit, dinaiki oleh sang penari hanya terbalut kutang dan celana pendek. Ia nampak tak acuh, mengangakan kakinya siap digagahi.
“Malam ini, mari kita mengobrol saja.” Mata sang penari menyipit sanksi tak percaya.
“Kalau kau memang tidak ingin bercinta denganku, cepat keluar dan berikan pada para bajingan selanjutnya di luar sana.” Sang penari bangkit dan hendak mendorong Zoro keluar.
“Saya telah menyewamu satu malam penuh, malam ini hanya saya saja pelangganmu. Saya ingin membiarkanmu keluar, tetapi saya pikir itu bukan pilihan yang tepat. Kamu akan diberikan pada pelanggan lain, kalau kamu keluar saat ini,” jelas Zoro dengan logat Jepangnya yang belum bisa hilang. “Saya hanya ingin mengobrol denganmu, apakah boleh?”
“
Wong edan
!” umpat sang penari. Ia kembali duduk pada kasur rotan, melinting tembakau, membakarnya, dan menyesap
tingwe
murahan tersebut. Asap tengik khas tembakau lama menguar memenuhi bilik sempit mereka.
“
Rene.
” Sang penari menepuk kasur rotannya, mempersilahkan Zoro untuk duduk. “
Jenengmu sopo?
”
Zoro menatap bingung, “Mohon maaf saya tidak mengerti bahasamu.”
Asap dikepulkan tepat di depan wajah Zoro, dia terbatuk kecil. Tak terbiasa dengan bau rokok sekuat ini. “Namamu,
your name, onamae wa?
” Telunjuk lentik itu menekan dada bidang Zoro berulang kali, masih diselingi dengan kepulan asap tengik dari kedua bilah bibirnya.
“Zoro, nama saya Zoro. Namamu?” tanya Zoro sembari balik menunjuk dada sang penari.
“Sanji, para bajingan lain memanggilku begitu. Namaku sebenarnya Sangaji, terserah kau mau memanggilku apa.” Linting tembakau kian menyusut pendek, Sangaji kembali mengambil linting keduanya dan menyalakan asap tengik itu lagi.
“Jadi, mau apa kesini? Kurasa untuk menyewa sepanjang malam tidak akan murah. Kenapa kau membuang uangmu untuk hal tak berguna ini?”
Zoro mengeluarkan kotak merah bertuliskan ‘Shiseido’ dari saku lalu menyerahkannya pada tangan Sangaji yang bebas, “Untukmu, saya rasa warna merah akan cocok denganmu.”
Sangaji menatap serdadu Jepang di hadapannya dengan takjub, ia mengerjap tak percaya. Linting tembakau tertahan menggantung di udara, membiarkan residu jatuh pada celana pendek kusamnya.
“Pakaikan padaku,” pinta Sangaji. Segera ia taruh sisa
tingwe
pada nakas reyot, memposisikan diri menghadap sang serdadu Jepang. Menawarkan bibir sintalnya untuk dipoles dan dihias oleh pria berambut hijau.
“Baiklah, izinkan saya.” Zoro membuka kotak tersebut, di dalamnya terdapat gincu dengan wadah kayu. “Saya mendapatkan dari teman yang baru kembali dari Jepang, kuharap kamu menyukainya.”
Zoro dengan canggung mengusapkan gincu dengan warna yang mengingatkan diri pada selendang Sangaji pakai pada pertunjukkan pertamanya. Iya, dirinya telah mengikuti pria ini sedari pertama dia menginjakan kaki pada kota ini. Terpikat pada magis yang disuguhkan dari tarian serta aura sang penari.
Tidak terlalu rapi, ada bagian gincu yang tercoreng di bagian luar bibir Sangaji. “Maafkan saya, saya tidak terlalu pandai memakaikan ini. Biar saya bersihkan dahulu.”
Jemari Zoro merengkuh lembut dagu Sangaji, mengusap perlahan gincu merah yang tercoreng. Sangaji tak pernah diperlakukan selembut ini oleh siapa pun, tubuhnya menegang, bulir-bulir letih mulai menggenang pada pelupuk yang kian lelah menampung kejamnya dunia. Sebelum jatuh menapak bumi, ia pagutkan gincu merah pada bibir sang serdadu. Menyapa para penghuni rongga kunyah dan komunikasi tersebut. Kucup daging tak bertulang ia lumat, berbagi rasa tengik sisa tembakau murah miliknya.
Gincu merah ia bubuhkan, ia cap kepemilikan sang serdadu dengan gincu merah. Miliknya, miliknya seorang. Kadung lama, ia tak memiliki sesuatu untuk dirinya sendiri. Untuk kali ini saja ia biarkan diri menjadi budak para penjajah, memanfaatkan status samar
jugun ianfu
yang tersemat pada penghuni Rumah Seni Ivankov ini. Fantasi para Bala Tentara Nippon terlalu liar, tidak cukup para gadis mereka jadikan budak pemuas nafsu. Anak ronggeng adam yang mengabdikan diri pada kecintaan mereka dengan dunia tari, mereka gagahi dengan paksa dan lebih kejam.
Zoro masih terpaku, dirinya tak membalas atau menolak. Dia nikmati setiap curahan sesak dari gincu merah tersebut. Bulir-bulir sendu mulai jatuh menapak pada wajah pria beralis melingkar. Dengan perlahan Zoro melingkarkan kedua tangan pada pinggang kecilnya dan dia rengkuh jiwa rapuh tersebut. Patriotisme dia kesampingkan, Sangaji terlalu candu bagi tubuh tak pernah bercumbu dan dicumbu.
Sebelum berahi mengambil alih sisa kewarasan, Zoro menyudahi kegiatan bertukar saliva tersebut. Dia kecup kedua mata Sangaji perlahan dan mengucap janji akan membebaskannya dengan segera. Keduanya bertaut, hingga membuat malam terlalu malu dan cemburu lalu bercerita pada mentari yang datang menghampiri.
Yogyakarta, 1943 - Hutan Kaliurang ‘Gua Jepang’
Bulan tampak indah menghiasi langit, bak lampu penerangan alami ia menuntun jalan tertatih Sangaji. Napasnya memburu, paru-paru kian rakus memasok udara. Ia sudah berlari, terjungkal, dan bangkit berulang kali. Kian lelah, ingin mengistirahatkan diri di Ndalem Mijosastran -pos pejuang kemerdekaan di Sleman- setelah berhasil mengetahui tempat persembunyian para tentara Jepang. Sepuluh gua persembunyian sudah terungkap, hasil racauan para serdadu saat ia beri nikmat.
Sesungguhnya tak ada satupun sejawat di Rumah Seni Ivankov mengetahui bahwa ia adalah mata-mata Indonesia yang sedang menyamar.
Lima tahun ia habiskan dalam balutan mekak, jarik, dan sampur tari. Bersolek diri, meliukkan badan menggoda genit para menir serta serdadu Belanda dan Jepang. Menggoyangkan pinggul, terpaksa digagahi oleh entah berapa ratus orang hanya untuk dibayar dengan segelintir informasi yang terucap di kala mereka mengejang nikmat memuntahkan bibit penerus dan membiarkannya mati pada lubang anal.
Langkah kaki ia paksakan, takut tidak lagi masuk dalam kosa kata hidupnya. Rasa takut telah dicuri ketika ia menyaksikan ibu dan kakaknya diperkosa dan dirajang di depan mata. Menuruni bukit secepat mungkin, lelah berhasil menumpulkan insting. Sangaji tak menyadari bahwa ada seorang yang mengikutinya sedari tadi.
Lengah, timah panas berhasil menghiasi kaki putih jenjangnya dengan lautan merah anyir. Sangaji menggigit lidah dan memaksa pita suara untuk tak beresonansi. Terjerembap kemudian berguling menyusuri jurang pendek dan berhenti ketika ia menghantam sebuah pohon besar.
Tubuhnya terlalu sakit untuk digerakkan, beberapa tulang kemungkinan patah dan anyir pada kaki masih enggan untuk berhenti. Mati, hanya satu kata itu yang mampu terpikirkan. Namun, ia tak peduli.
“
ASU!
” umpat Sangaji kesal, ia memukul kedua kakinya geram. Otaknya menumpul, tak ada satupun cara yang berhasil terpikirkan untuk keluar dari situasi ini.
“Aku arep ning Kaliurang.” Hanya itu informasi terakhir yang ia sampaikan pada teman seperjuangan. Mereka akan menjadi juara menunggu di Ndalem Mijosastran tanpa trofi kemenangan yang dijanjikan
Terlalu larut dengan perdebatan sengit di kepala, ia tak menyadari bahwa sang penembak telah menghampirinya. Menodongkan padatan laras logam dingin tepat di pelipis, Sangaji membeku. Semua bising pada kepalanya terhenti, menutup mata, berdoa untuk terakhir kali. Namun, timah panas tak kunjung menjemput raga, hingga ia mendengar suara yang terlalu akrab memanggil namanya. “Sangaji.”
Membuka mata perlahan, manik itu menemukannya. Dengan wajah datar, pria gincu merah berdiri di samping dan menyapanya dingin, “Kita bertemu lagi, Sanji.”
“Keparat, kau!” teriak Sangaji. “Aku seharusnya menyadari akal bulus kalian, menyodomi diriku ternyata berhasil menumpulkan semua instingku. Kalian berhasil, selamat!”
“Cepat bunuh aku! Aku tak butuh tipuan ibamu lagi!” desak Sangaji menekankan pelipisnya pada laras logam dingin tersebut.
“Saya, menyukaimu. Kamu sangat cantik dengan gincu merah.” Zoro mulai menyelisik sekujur tubuh Sangaji, tanpa waktu lama ia menemukannya. Sebuah gincu merah dengan isi yang berkurang banyak karena terlalu sering dioleskan pada bibir sang pemilik.
Persetan, Sangaji mengumpat dalam hati. Menyumpahi diri karena memuja gincu merah dan membawanya kemanapun bagai sebuah jimat keberuntungan. Iba setitik berhasil menghancurkan seluruh rencana serta pertahanannya.
“Kamu membawanya ternyata. Izinkan saya.” Seperti mesin waktu, dengan posisi yang sama, sosok yang sama, gincu merah yang sama, Zoro mengoleskannya pada bibir Sangaji. “Saya, sudah lebih mahir sekarang. Berlatih dengan para
jugun ianfu
memang berguna sekali.”
“Sudah cantik.” Zoro tersenyum. Tak ada lagi desir aneh pada perut Sangaji, hanya rasa jijik saat tangan berkalus merengkuh kedua pipinya. “Kamu sudah cantik, aku tidak ingin membunuhmu dengan cepat. Kamu mau merokok? Akan kubunuh setelah kamu selesai dengan tembakau tengik itu.”
Linting tembakau Zoro keluarkan dari saku Sangaji. Membakarnya dan menyisipkan pada dua bilah bibir itu. Dengan tertatih, Sangaji menyesap cepat lalu menghembuskan asap terlampau banyak tepat di muka Zoro. “Persetan, kau! Bunuh aku sekarang!”
Dengan kasar Sangaji mematikan lintingnya paksa dan segera dentuman terdengar memekakakan telinga. Timah panas menembus kepala, membiarkan isinya berceceran. Cairan senada dengan gincu merah mengalir menghias wajah tak berbentuk. Sangaji menjemput keabadian sempurna.
Terkulai lemas, tubuhnya kian bergetar hebat. Matanya nyalang dan bergerak liar, panik, ia seperti lupa cara untuk bernapas. Mengais udara yang seakan enggan untuk menyinggahi pendosa ini. Perang berkepanjangan turut andil mengacaukan dirinya, atas dalih kecintaan dan kesetiaan pada negara dia harus membunuh semua yang dianggap musuh. Termasuk pada penari yang membuatnya kembali merasa sebagai manusia. Penari dengan selendang merah, meliuk indah di atas panggung, mengepulkan asap di belakang panggung.
Gayang, Zoro meraih linting tembakau yang dipaksa mati tadi. Gincu merah membekas pada ujungnya. Ia sesap dalam, terasa getir dan tengik. Bibir dia pagutkan pada dua bilah ranum bergincu merah dan bersimbah darah. Mengucap cinta, ia menyusul dengan luka yang sama.
Selinting tembakau dengan gincu yang membekas tergeletak di tanah anyir, menjadi saksi terakhir kisah keduanya.
