Work Text
Siapa tidak kenal Boo Seungkwan?Sebagai vokalis band Cosmics, dia sangat dikenal di kampusnya. Jika bertanya siapa yang kau tahu dari band Cosmics, Seungkwan menjadi nama pertama yang terlontar dari mulut mereka.Meski begitu, dia hanyalah seorang mahasiswa tingkat dua yang mengikuti klub band sebagai hobi.Tidak, sebenarnya tak hanya itu.Dia sudah lama memerhatikan seorang gadis dari fakultas seni. Base camp klubnya yang berada dekat dengan fakultas tersebutlah yang membuatnya memutuskan untuk mencuri tatap pada gadis itu. Sayangnya, sampai dia sering tampil di festival pun, gadis tersebut jarang muncul di kerumunan orang.Seungkwan ingin bertanya, tapi dia gengsi."Masih naksir tuh sama cewek itu?" tanya Mingyu, lelaki yang merupakan senior beda satu tahun dengannya."Iyalah," jawab Seungkwan mantap. "Tapi gue gak tahu harus gimana deketinnya, bang."Padahal dia sudah sejauh ini sampai ditetapkan menjadi vokalis band Cosmics, tetapi dia tetap tidak mendapat titik terang mengenai kenaksirannya itu."Aneh, padahal lo humble ke semua orang.""Ya semua kecuali dia, bang," rungut Seungkwan. "Gue cuma tahu nama sama jurusan dia doang, selebihnya gue gak tahu. Apalagi katanya dia gak punya Insta, gue bingung gimana nge-stalk-nya. 'kan gak mungkin gue tiba-tiba minta nomor WA dia.""Minta aja kali, bilang aja koleksi kontak," Soonyoung menyambung, meski tangannya tengah memetik senar gitar. Mendengar itu membuat Seungkwan mendecih."Lo kalau ngomong minimal pake otaklah, bang."Mingyu terkekeh. "Mau gue bantu gak?" Ia menawarkan. "Tapi dikit aja, selebihnya lo yang gerak, ya.""Oke, setuju."Maka itulah, hari ini, usai latihan mereka berakhir, Mingyu dan Seungkwan buru-buru menunggu di depan kelas sang gadis. Papan yang tergantung di dekat pintu bertulis "Kelas 1A", masih kokoh walau terkena angin kencang sekali pun. Namun, kokohnya papan itu tak sekokoh kaki Seungkwan yang mulai lemas karena dirinya akan bersiap menemui gadis yang disukainya.Terdengar orang-orang menggerakkan kursi mereka, menandakan bahwa perkuliahan saat itu berakhir. Kedua lelaki tersebut sedikit membungkuk dan tersenyum saat seorang pria—yang merupakan dosen seni rupa—keluar dari kelas.Satu persatu, lelaki perempuan ke luar dari kelas. Namun, Seungkwan tak menemukan gadis yang ingin ditemuinya."Mana, bang?""Kwan, dia itu sering pulang paling akhir. Lo gak tahu ya?" Lawan bicaranya menggeleng, membuat Mingyu menggeleng pelan. "Ya elah, effort lo nol besar begini, masa' mau ngarep lo di-notice?"Seungkwan merasa tertohok mendengar ucapan seniornya, tetapi Mingyu benar. Ia tak memiliki keberanian untuk melangkah lebih jauh selain memerhatikannya saja."Ayo masuk." Mingyu mengajaknya, menarik tangan adik tingkatnya itu dan masuk ke dalam kelas.Hanya ada satu perempuan yang tersisa di kelas tersebut. Ia mengenakan rok plisket putih, blus biru dongker yang dipadu dengan sweatshirt rajut berwarna krim. Rambut hitam sepinggangnya dibiarkan tergerai, di hadapannya pun adalah buku tipis dan sebuah buku catatan, juga pena yang masih dipegangnya."Hai, Haeun," sapa Mingyu, membuat si pemilik nama tersenyum tipis."Oh, hai, kak," balasnya, beralih pada Seungkwan. "Tumben sama teman, biasanya sendiri."Mendengar itu membuat Seungkwan melongo tak percaya. Maksudnya, Mingyu sering datang gitu? Ia akan menghutangi penjelasan dari seniornya."Iya, kemarin-kemarin emang perlu sendiri aja. Sekarang gue bawa teman," Mingyu menjawab. "Lo sibuk gak?"Haeun menggeleng. "Enggak, kak. Kenapa?""Ada yang mau kenalan."Gadis itu menoleh pada Seungkwan yang malu. Pandangannya dialihkan, enggan melihat Haeun."Boleh aja."Bagaikan cinta yang berbalas, Seungkwan ingin sekali melompat saking bahagianya.Dia selalu memikirkan skenario buruk jika Haeun menolaknya untuk berkenalan, maka itu dia masih belum bisa melangkah maju meski namanya sudah terkenal sekalipun.Yah, cupu juga sih karna harus dibawa Mingyu dulu, tapi lebih baik daripada gak sama sekali 'kan?"Kalau gitu gue tinggal, ya."Haeun mengangguk sembari tersenyum. Mingyu beralih pada Seungkwan—yang memintanya untuk tidak pergi, tetapi seniornya itu menepuk punggungnya dan memberi gestur semangat. Kedua lelaki dan perempuan itu pun ditinggalkan di dalam kelas.Seungkwan merasa canggung. Ia mengelus tengkuknya, menoleh pada sang gadis yang masih duduk di kursi."Ayo duduk," ajaknya, menepuk kursi kosong di sebelahnya. Seungkwan pun mengiyakan, mengambil posisi di samping Haeun dengan jantung berdebar.
Kalem, plis.
"Anu ... Kayaknya kita harus kenalan dulu gak sih?" Seungkwan bertanya, menoleh pada sang gadis."Boleh," jawabnya. "Tapi aku udah kenal kamu. Boo Seungkwan 'kan? Vokalis Cosmics?"Lelaki itu terkekeh. "Iya ... Aku," Ia merespon. "Lo—Kamu ... Hong Haeun....""Iya, aku Hong Haeun," Sang gadis membalas. "Kak Mingyu beberapa kali ketemu aku buat nanya soal poster band kalian, makanya kami bisa kenal," jelasnya, membuat Seungkwan mengangguk—walau dia belum tahu hal itu. "Dia juga cerita kalau kamu sering merhatiin aku.""Bang Mingyu?? Cerita??"Haeun terkekeh saat melihat respon lawan bicaranya. "Iya, dia bilang kamu udah lirik aku dari semester dua tapi belum berani deketin."
Bang Gyu ... Awas aja lo.
"Ehm yah ... Abang gue yang itu emang ember.""Gak papa, seenggaknya aku tahu ternyata ada yang naksir aku," Haeun menjawab, lalu tersipu. "Maaf ... Kayaknya aku malah kepedean ya.""Enggak kok enggak!" Seungkwan menggeleng, menolak pernyataan sang gadis. "kamu cantik, manis, pintar, berbakat. Wajar kalau ada yang naksir.""Haha ... Makasih," Haeun menjawab canggung.Tak ada pembicaraan membuat suasana sunyi menjadi tak enak. Haeun bingung apa dia harus kembali merangkum materi atau tidak.Seungkwan bingung apalagi yang harus dia bicarakan, padahal dia sangat talkative bahkan dengan orang asing sekalipun."Ehm ... Kalau boleh ... Minta WA, dong." Seungkwan berucap, mengulum bibir.Haeun mengangguk. "Boleh, kok. Nanti tes aja ya, hape-ku ketinggalan di rumah.""Oke oke!" Ia menjawab dengan semangat, mengetik nomor WA sang gadis dan menyimpannya di kontak ponsel.Sepertinya, ini menjadi awal baru kisah cintanya di kehidupan mahasiswa.
