Work Text
Sungchan mendapati konsep memori itu sebagai sesuatu yang magis dan mengerikan—mengirimkan teror tepat di belakang kepalamu, karena tak peduli seberapa keras kau ingin melupakannya, ia akan tinggal di sana, bersembunyi tepat di pojok-pojok gelap, seperti bagaimana Sungchan masih secara samar-samar menyimpan konversasi pertama yang dimilikinya dengan Dewa Alam Bawah begitu rohnya mencapai alam baka.“Kapan persisnya Anda mempekerjakan malaikat maut untuk membantu mengantar nyawa seseorang ke alam baka?”Dewa dunia alam bawah memiliki wajah yang duniawi sekali—kontras dengan namanya, ia mempunyai raut yang mengingatkan Sungchan akan kehidupan yang lama sekali tidak ia miliki. “Ketika pembunuhan pertama dilakukan oleh manusia kepada manusia lain,” adalah jawaban yang ia berikan kepada Sungchan atas pertanyaan yang dilemparkan. Sungchan masih mengingat bagaimana sang dewa menggenggam sebatang sigaret di antara jari telunjuk dan jari tengahnya. Asap itu mengepul ke udara, meliuk-liuk, dan terhempas ke wajah Sungchan secara pelan, bak sapuan tangan lembut seorang ibu. Sigaret Dewa Dunia Bawah tidak seperti satu yang pernah ia temukan semasa hidup, tidak juga terlihat seperti apa yang kerap ia saksikan di dunia manusia ketika mencabut nyawa seseorang yang akan mati akibat penyakit paru karena terlalu banyak menghirup nikotin lewat rokok. Tembakaunya berasal dari lahan alang-alang¹) yang dulu diciptakan oleh Izanagi dan Izanami. Sungchan tidak tahu bagaimana bedanya, tidak tahu juga bagaimana rasanya. Rerumputan dari tanah yang dilahirkan oleh Izanagi sudah semuanya binasa. Namun, hal yang barangkali Sungchan bisa pastikan adalah rasanya jelas seperti mencecap kematian.“Sejak saat itu aku tahu, kebencian sudah mulai lahir, dan kebencian itu, Sungchan, mereka menyebar seperti wabah penyakit. Manusia adalah medium yang membawa wabah itu. Mereka turun dan dibiarkan menempati tanah dunia sebab mereka mencari sesuatu untuk dijangkiti.”“Menurutmu mengapa kami mencari sesuatu untuk dijangkiti, Kaisar?”“Karena kalian tidak bisa berdamai dengan kesendirian,” balasnya sembari mengembuskan asap sigaretnya ke hadapan muka Sungchan. “Kalian akan terus menjangkiti, menjangkiti, dan menjangkiti, sebab kamu tahu apa yang disukai manusia? Mati dengan tangan seseorang yang menggenggamnya. Mati sendirian adalah hal terakhir yang ingin mereka alami.”
Kesendirian, ya?
Sungchan kira, seperti bagaimana seluruh perasaannya juga turut mati ketika rohnya mengecup kematian, ia sudah berdamai dengan kesendirian. Seperti bagaimana ia dulunya juga mati seorang diri, Sungchan pikir dengan naifnya, ia sudah berdamai dengan kesepian.Namun bayang-bayang itu masih kerap menghantuinya.“Hiduplah lebih baik daripada aku, ya?”Sungchan sempat mempertanyakan apa esensi dari para malaikat maut seperti dirinya diberikan waktu nyaris beberapa abad lamanya hanya untuk menjadi kurir—tidak, salah, maksudnya untuk membantu Dewa Dunia Bawah (manusia mungkin menyebutnya sebagai “Malaikat Maut”, tetapi itu jelas miskonsepsi sebab dewa bukanlah seseorang yang menjemput nyawa mereka secara langsung dan tugasnya lebih ke ongkang-ongkang kaki saja) mengantarkan roh-roh manusia yang tenggat hidupnya telah usai tersebut menuju alam baka sebagai bagian ritual dari pembersihan dosa. Alam Baka itu tempat yang suci, katanya. Kejahatan jelasnya adalah hal yang telak tidak diinginkan. Dendam tidak bisa diterima di sana. Penyesalan apalagi. Kurir malaikat maut seperti dirinya kerap kali diambil dari golongan pendosa paling menjijikkan—yang dosanya nyaris tak akan diampuni bahkan jika lahar panas api neraka menggerogoti tulang mereka sampai habis. Semua pengabdian ini dilakukan untuk membantu meringankan timbangan dosa yang mereka punya. Namun, destinasi terakhir mereka tetaplah neraka.Jadi, kita tetap ditahan di dunia, dibiarkan setengah hidup tapi juga setengah mati sampai beratus-ratus tahun lamanya, mengantarkan jiwa-jiwa manusia yang tak terkira jumlahnya hanya untuk tetap dilemparkan ke kawah neraka?Mereka pasti bercanda. Sungchan jelas salah kaprah jika menganggap dewa-dewa itu dengan berbaik hati memberlakukan hal ini untuk mengampuni dosa-dosanya.Ini adalah siksaan yang lebih keji daripada harus dipasung di atas lahar api neraka.Setiap kali Sungchan mencabut nyawa seseorang, ia merasakan kematian yang turut menyambut jantungnya—bagaikan nyawanya juga turut diambil dari raga. Hal ini harus terus dilakukannya sampai tenggat masa malaikat maut sudah habis. Itu artinya, Sungchan masih punya seratus lebih tahun untuk dibuat mati berkali-kali, lagi, lagi, dan lagi ketika mencabut nyawa manusia yang dijemputnya.Namun begitu, meski ia sudah dibuat mati beribu kali, tidak bahkan sekali saja ia merasakan ketenangan yang menghampiri.
Bukankah itu adalah bentuk hukuman yang luar biasa jenius untuk diberikan kepada seorang pendosa?
Sungchan mengamati jarum jam yang melingkar di pergelangan tangan, lantas ia bersedekap. Ia berdiri di bawah pohon rindang pada taman dekat jembatan yang lampunya tak kunjung juga dibenarkan dari beberapa bulan yang lalu. Sinar bulan yang menggantung di langit saat ini jelas tidak membantu banyak untuk menerangi kegelapan yang menyelimuti taman. Sependengarannya, taman ini baru dipugar kembali beberapa tahun yang lalu. Namun, untuk ukuran taman yang baru saja dipugar, taman ini terlampau sepi akan presensi manusia.
Oh, tentu saja.
Memangnya, siapa yang mau menghabiskan waktu berjalan-jalan santai di tempat bekas orang bunuh diri?Sungchan mengamati lamat pemuda paruh baya yang ada jauh di depannya. Ia berdiri di tepian pagar jembatan dengan tangan mencengkram pagar kuat sampai buku-buku kukunya memutih. Sungchan jadi tahu kenapa spot ini kerap dijadikan opsi untuk tempat mengambil nyawa sendiri. Sungchan bisa melihat bagaimana rautnya dipenuhi oleh banyak sekali pikiran yang berkelindan; carut-marut layaknya benang jahit yang berselilit satu sama lain. Sungchan pikir, ia mempelajari satu atau dua hal tentang mereka-mereka yang memutuskan untuk menjemput kematian dengan kedua tangan sendiri: mereka membutuhkan lebih banyak tenaga untuk membulatkan desisinya melakukan bunuh diri daripada melakukan bunuh diri itu sendiri.Kematian itu sementara, tetapi pikiran tentang mati akan mencekik manusia selamanya.
Tinggal sepuluh menit lagi.
Rasanya seperti tercekik — Sungchan paham. Bagi manusia, ada lebih dari sekadar ketidakinginan untuk hidup lebih lama, tetapi juga ketidakpuasan, ketidakpantasan, keputusasaan, dan kelelahan. Ada lebih daripada sekadar ketidaksanggupan ketika memutuskan untuk mengakhiri hidup sendiri.Sungchan mengerti.Sungchan melirik lagi ke arah arlojinya. Hanya tinggal menunggu tujuh menit sebelum waktu kematian pemuda itu tiba. Jika waktu kematian pemuda itu tepat pada waktunya, maka ia akan melompat melewati pagar jembatan dalam dua menit, jatuh dan tenggelam selama satu menit, dan menunggu sampai air dari sungai itu memenuhi paru-paru dan menghancurkan semua kerja sistem tubuhnya selama empat menit lamanya. Total tujuh menit sampai Sungchan bisa mengantar arwahnya ke alam baka.Tiba-tiba pemuda itu terisak, ia jatuh terduduk dengan satu tangan masih berpegangan erat pada pagar. Samar-samar dari kejauhan, Sungchan bisa mendengar erangannya.“Ibu … aku tidak mau melakukan ini,” tangisnya. “Ibu kalau hidup tanpa aku, bisa, ‘kan?”“Wonbin, kalau kamu hidup tanpa aku, bisa, ‘kan?”Sungchan merasakan kepalanya berdenging, seperti sebuah mikrofon dinyalakan tepat di samping telinga. Ia memegangi kepala sebab degung itu membuat tubuhnya sejenak terhuyung dan ia dibuat tidak mampu menopang berat tubuh seperti seharusnya. Suara barusan … kenapa datang lagi?“Wonbin, hiduplah lebih baik daripada aku. Janji, ya?”Persetan.Pemuda di depannya lalu bangkit kembali. Ia merenggangkan jari-jari tangannya, memasok jumlah napas begitu banyak ke dalam paru-paru. Air matanya barangkali sudah kering, begitu juga dengan yang sudah ia cucurkan dari hari-hari sebelum ia memutuskan untuk datang kesini di ambang keputusasaannya.
Satu menit tersisa.
Beberapa sekon selanjutnya, kaki pemuda itu kemudian memanjat pagar, berpindah ke sisi yang berbatasan langsung dengan sungai gelap di bawah kakinya. Ia mengambil napas hingga bahunya terangkat.
Tiga puluh detik tersisa.
Tangannya masih mencengkram pagar erat. Mungkin saja, ia tengah mencoba mengumpulkan kepingan diri yang sedang hancur berantakan; mencari kepingan diri dimana ia merasa takut mati.
Sepuluh detik.
Barangkali, pemuda itu telah sadar di sana kalau ia sudah menelan keputusan ini bulat-bulat.Mungkin kepingan-kepingan itu juga turut larut dalam air matanya yang tumpah.
Lima detik.
Lima detik selanjutnya, pemuda itu melepaskan cengkeraman dari pagar dan menjatuhkan diri ke sungai. Sungchan memegangi lehernya yang terasa seperti dicekik. Paru-parunya terasa penuh dan ia hampir tidak bisa mengambil napas. Matanya memerah dan penuh darah. Ia lalu memegangi dadanya yang naik turun seiring ia mencoba untuk meraup oksigen sebanyak-banyaknya.“Kau ini malaikat maut tapi masih tidak kuat dengan momen yang seperti itu?”Sungchan menoleh ke sumber suara. Ia mendapati presensi lelaki dengan surai menutupi nyaris seluruh bagian matanya. Si lelaki mengenakan coat hitam panjang yang lebih formal dan lebih rapi dari miliknya. Tangannya dilipat ke belakang punggung. Lelaki itu lantas mengikis jarak dari Sungchan.“Aku cuma perlu seratus tahun untuk terbiasa dengan rasa sakitnya. Tapi kamu? Ini sudah tiga ratus tahun untukmu, Sungchan. Tiga ratus tahun. Itu waktu yang sangat lama sekali di dunia manusia.”Sungchan tak menjawab apa-apa. Seiring rasa sesak di dadanya perlahan pergi dan matanya kembali normal, manik Sungchan lalu beralih ke arloji untuk mengamati waktu kematian dari si pemuda sebelumnya. Beberapa saat selanjutnya, ia menyaksikan roh sang pemuda yang muncul di tempat ia terakhir kali memijakkan kaki sebelum melompat ke sungai. Sungchan mengeluarkan sebuah bel dan mendetingkannya empat kali. Roh itu lalu berubah wujud menjadi asap dan menghilang dari hadapannya. Sungchan mengembuskan napas lega.“Kamu sudah memikirkan tawaranku yang sebelumnya?” tanya lelaki itu.“Diam, Shotaro. Aku sedang bekerja.”“Kau masih bisa diajak mengobrol, ‘kan? Berbicara itu cuma perlu mulut, tahu.”Sungchan hanya memberikan lirikan tajam sebelah mata.“Aku memang bisa mengajak Minjeong atau Heeseung, tapi kurasa kali ini akan lebih seru jika mengajakmu.”“Karena aku lahir di sana?”“Nah, itu, kau juga paham cara kerjanya.” Shotaro menurunkan lipatan tangannya. “Tidakkah kamu mau pulang ke kampung halamanmu?”“Aku tidak tertarik.”“Jangan bilang kamu trauma dengan dosa yang kamu lakukan sendiri.”“Aku tidak tertarik dengan Konferensi Seratus Tahun atau apalah itu, Shotaro. Jangan libatkan aku pada urusan politik seperti itu. Cari saja orang lain.”“Semuanya saja kau tidak tertarik.”Sungchan memasukkan kembali loncengnya, “Aku duluan.”Lelaki itu—Shotaro—melipat kedua tangan di depan dada begitu menyaksikan bagaimana Sungchan hendak melengang pergi tanpa mendengarkan perkataannya terlebih dahulu.“Memang kamu tidak penasaran akan sesuatu?” tanya Shotaro, lantang. Sontak membuat Sungchan berhenti melangkahkan kaki tetapi tak cukup membuat Sungchan menoleh.“Kamu tidak penasaran kenapa roh kekasihmu dulu tak pernah terlihat melewati Jembatan Alam Baka padahal sudah tiga ratus tahun berlalu?” [] ¹) Referring to Ashihara no Nakatsukuni (葦原の中つ国, transl. The middle country of reed beds) which is, in Japanese mythology, the world between takamagahara (heaven) and yomi (hell).
----- CHAPTER BREAK -----
“Kamu tidak penasaran kenapa roh kekasihmu dulu tak pernah terlihat melewati Jembatan Alam Baka padahal sudah tiga ratus tahun berlalu?”366 tahun.Lebih tepatnya, sudah 366 tahun sejak Sungchan pertama kali menginjakkan kaki di dunia bawah dan selama itu juga, ia tak kunjung menemukan roh kekasihnya melintas di Jembatan Alam Baka — tidak bahkan sampai detik ini. Tak peduli jika banyaknya roh yang sudah ia saksikan menyeberangi jembatan itu berjumlah jutaan, atau bahkan milyaran, ia berani sumpah kalau Wonbin tak pernah ada di antara mereka. Tiga ratus lebih tahun sudah berlalu. Sungchan yakin ia masih bisa mengingat dengan jelas rautnya yang cantik dan merona. Tiga ratus lebih tahun sudah berlalu. Sungchan tidak yakin ia bisa melupakan satu-satunya manusia yang ia cintai dengan semudah itu. Ia tak mungkin melewatkan sesuatu. Ia tak mungkin membiarkan Wonbin melintasi Jembatan Alam Baka tanpa menemuinya begitu saja, sebab ada hal yang sangat ingin ia katakan.Wonbin belum mati, setidaknya itu yang ia yakini, kendati hal itu terdengar mustahil sekali.Sungchan mendapati konsep memori itu sebagai sesuatu yang magis dan mengerikan, sebab tak peduli seberapa menyakitkan, kamu akan mendapati diri selalu berjalan di atasnya lagi dan lagi hanya untuk tetap berpegangan pada sesuatu yang kamu cintai setengah mati.Bagi Sungchan, ia tak masalah dengan mimpi-mimpi buruk yang kerap menghampiri. Ia tidak masalah dengan bagaimana ia kerap mengulang tragedi itu seratus juta kali dalam kepalanya yang kecil jika itu adalah hukuman yang sepadan untuk diberikan kepadanya. Selama ia tidak melupakan bagaimana rupa, suara, dan kenangan yang ia miliki dengan Wonbin, ia tidak peduli dengan itu semua.Hanya saja, meskipun ia tahu adalah hal yang mustahil untuk Wonbin tetap hidup selama tiga ratus sekian tahun lamanya, Sungchan bahkan tak bisa menerka apakah Wonbin benar-benar selamat dari tragedi api besar itu.
Tragedi besar yang ia ciptakan.
“Siapa yang tahu kalau tanah ini sudah berkembang sebegini jauhnya? Terakhir kali aku turun ke Bumi, tempat ini masih berupa dataran alang-alang.” Sungchan menoleh ke arah Shotaro tatkala berceletuk di tengah-tengah keheningan mobil yang melaju dengan tenang menuju Izumo-taisha—tempat kediaman Kaisar Oho²), sekaligus tempat Konferensi Seratus Tahun akan digelar. Keduanya duduk di jok tengah. Shotaro menumpu dagunya dengan tangan yang sikunya diletakkan di atas handle, sementara Sungchan duduk sembari menyilangkan kaki dan melipat kedua tangan di depan dada.Shotaro dan Sungchan memulai pekerjaan ini dari posisi dan tempat yang berbeda. Shotaro dulunya turun bersama para dewa kecil lainnya dari surga, sementara Sungchan hanyalah manusia biasa. Sungchan berpikir, rasanya seperti nyaris tak masuk akal bagaimana dosa bisa membuatmu sepadan dengan dewa di sudut pandang akhirat. Sekali pendosa, tetaplah pendosa, begitu setidaknya apa yang pernah dikatakan Kaisar Oho padanya.“Kau sudah sangat tua sekali, Shotaro.”“Aku tidak ingat aku setua itu.”“Justru itu yang membuatmu sangat tua.”Shotaro lalu terkekeh sejenak. “Kalau perasaanmu sendiri bagaimana, Penduduk Lokal?” tanyanya, dengan nada meledek saat menyebut nama Sungchan dengan nama panggilan yang selalu ia benci di akhir kalimat. Masih dengan kepala yang ditumpu di atas tangan, Shotaro kini menoleh ke arah Sungchan yang memilih mengatupkan mata daripada harus bersirobok dengan milik Shotaro yang sudah pasti menatapnya dengan penuh cemooh, “Bagaimana perasaanmu mengenai kembali ke tanah kelahiran?”“Aku tidak merasakan apa-apa.”“Begitu?” Alis Shotaro terangkat sebelah, “Tidak bahkan rasa bersalah? Tidak bahkan selayang pandang kejadian itu menghampiri kamu lagi? Aku yakin pasti ada sesuatu yang terjadi di kepala kecilmu ketika kembali melihat tanah yang hampir kamu bumi hanguskan ini, benar begitu?” lanjutnya.Sungchan kini membuka matanya dan menatap Shotaro datar. Shotaro menurunkan tangannya dari handle, lalu menyandarkan kepala di jendela mobil. “Ngomong-ngomong, aku mendengar desas-desusnya dari Alam Baka,” tuturnya. “Tentang hal yang kamu lakukan, atau mungkin tidak kamu lakukan.”“Kalaupun ada hal yang kau pikir kau tahu tentang itu, ketahui saja, Shotaro,” Sungchan membalas tatapan mata Shotaro, “Kau tidak tahu apa-apa.”“Oke, baiklah, tenangkan dirimu.” Shotaro menarik kepalanya dari sandaran, “Aku hanya penjaga kuil. Aku tidak tahu sebanyak apa yang dewa-dewi surgawi mungkin dengar. Namun tetap saja, beritanya menyebar dengan begitu cepat di antara para penjaga kuil. Aku sampai berpikir, oh, dia akan terjebak sangat lama di bawah pekerjaan Kaisar Oho. Tapi ternyata, aku juga terjebak di tempat yang sama. Dunia itu sangat sempit, ya, Sungchan?”Sungchan hanya melirik Shotaro dari ujung maniknya, lantas berpaling kembali ke arah jendela mobil.Sungchan menampaki hamparan pesisir pantai yang ada di luar batas jalanan. Cuaca di luar terik, sehingga permukaan airnya memantulkan cahaya matahari hingga menciptakan lautan yang dipenuhi oleh gumpalan kilau. Sebelum ia sempat mengetahui fakta ini dari Minjeong, Sungchan kira gumpalan kilau itu adalah kumpulan harta karun yang disembunyikan oleh dewa — sengaja disamarkan di dalam lautan agar tidak pernah bisa digapai oleh makhluk fana. Mendengar hal itu, Shotaro tertawa terbahak-bahak. Ia berkata, kalaupun dewa hendak mencari tempat untuk menyembunyikan harta karunnya, mereka akan lebih memilih untuk meletakkannya di dalam saku pakaian orang yang telah tiada. Alasannya? Agar ketika sudah mati, manusia bisa membawa dan mengembalikan harta karun yang dibawanya kepada para dewa di Alam Baka. “Tidak perlu repot-repot mengambil sendiri, bukan begitu?” celetuk Shotaro sesudahnya.“Aku turun di depan sana.”“Apa?” Shotaro menoleh cepat, “Kita baru sampai Hongo. Masih tersisa empat jam lagi untuk mencapai Izumo.”Mobil pun dihentikan. Sungchan membuka pintu mobil pelan seusai berkata, “Ada hal yang harus aku lakukan.”“Kau tahu Kaisar Oho selalu marah jika melihat satu orang saja terlambat masuk gerbang Kuil Izumo, ‘kan? Lalu bagaimana kamu akan kesana tepat waktu?”“Aku akan mencari cara,” ucap Sungchan, ia menunduk untuk bisa balas menatap Shotaro sebelum akhirnya menutup pintu mobil usai berkata, “Katakan pada Kaisar, aku sedang mencoba menebus dosa. Dia akan mengerti.” Hongo. Honmyoji.Api, dan furisode³) yang terkutuk.Empat hal itu adalah apa-apa yang selama ini bangkit dan menggumul dalam ingatan kala mimpi buruknya sedang terjadi. Rasanya seperti empat hal itu menjebak jiwa Sungchan selamanya di sana dan tidak membolehkannya keluar.“Jadi, dosa apa yang kau lakukan, Anak Muda?”“Aku membakar habis dataran alang-alang milik Izanagi.”Kala itu, Sungchan baru datang di alam baka sesudah ia mati menggantung diri. Sungchan masih bisa mengingat segalanya dengan jelas—tentang bagaimana Kaisar Oho menatapnya datar. Tidak menghardik. Tidak juga menghakimi. Raut Kaisar saat itu terlihat begitu pualam seperti lantai keramik yang baru saja dipoles. Manusia di hadapannya bisa melakukan kejahatan paling keji sepanjang masa, tetapi Kaisar Oho tidak akan menarik satu sisi rautnya sedikitpun.“Kenapa kamu melakukannya?”Sungchan kembali dibawa ke dalam memori yang ingin ia hempaskan cepat-cepat. Sekonyong-konyong Sungchan mengingat bagaimana sebuah api menjalar cepat ke seluruh kuil dan ditiup oleh angin kencang yang berhembus dari barat laut. Sungchan ingat bagaimana ia menyaksikan semua orang berlomba-lomba mencekik leher sendiri. Sungchan mengingat bagaimana ia dikutuk. Sungchan mengingat bagaimana tubuhnya perlahan luluh lantak di dalam panasnya api yang berkobar. Sungchan mengingat bagaimana ia sampai di Alam Baka dan hal pertama yang didengarnya adalah, “Bisa berdiri di hadapanku, kamu harus tahu kalau dosamu itu sangatlah besar. Namun kendati begitu, seseorang memanggil namamu—menjerit, mungkin, lebih tepatnya. Ia meminta pengampunan atas kamu.”Sungchan tidak perlu menerka siapakah seseorang itu.“Wonbin, kalau kamu hidup tanpa aku, bisa, ‘kan?”“Wonbin, hiduplah lebih baik daripada aku. Janji, ya?”Sungchan tidak perlu menerka siapakah seseorang yang memintakan ampunan untuk pendosa sepertinya.
Wonbin. Mantan kekasihnya yang tidak pernah ia temukan di Alam Baka.
“Sungchan, kamu tidak bisa melakukan itu.”“Kenapa tidak bisa?”“Kamu akan menghancurkan prosesi pernikahannya — pernikahanku.”“Harus berapa kali aku jelaskan kalau kamu itu hanya dijadikan tumbal, Wonbin!” Sungchan mendorong Wonbin sampai jatuh terduduk ketika ia bersikeras mencoba merebut pakaian yang Sungchan cengkeram dengan kuat. “Sudah begitu, kenapa kamu harus berpura-pura menjadi perempuan hanya untuk menuruti perkataan dukun yang bahkan tidak kamu kenal siapa dan hanya mengatakan omong kosong itu? Dia hanya membual, Wonbin. Dunia tidak akan berakhir jika kamu tidak menikah dengan pangeran itu. Kamu bahkan tidak mencintainya.”Wonbin terisak kencang, memegang dadanya yang seperti diremat sampai tipis. Wajah Sungchan memerah akan amarah yang meledak-ledak di atas kepala. Ia masih melanjutkan bahkan saat Wonbin belum selesai merasa ditampar akan segala fakta yang Sungchan katakan ketika berujar, “Pernikahanmu itu hanya kedok. Aku dengar semuanya. Furisode yang diserahkan padamu itu terkutuk. Kamu akan mati setelah mengenakannya untuk dijadikan persembahan kepada para dewa agar kerajaan mereka bisa lebih makmur. Itulah sebabnya mereka tidak peduli entah kamu perempuan atau sesama lelaki—mereka tidak repot-repot memeriksa kamu. Karena kamu tetap akan mati nantinya.” Sungchan menyodorkan pakaian kimono yang ia bawa. Lelaki itu lantas menarik wajah Wonbin, meraih kedua pipinya dengan kedua telapak tangan, “Aku tidak akan membiarkan kamu dikorbankan semena-mena seperti itu.”“Sungchan, jangan begini,” tutur Wonbin sambil menggelengkan kepala.“Apa? Kenapa, Wonbin? Kamu mau dikorbankan? Kamu mau menjadi tumbal untuk orang-orang yang belum tentu akan menghargaimu di Alam Baka nanti?” Nada bicara Sungchan semakin tinggi. “Bukan mereka yang akan kehilanganmu, Wonbin! Aku! Aku yang akan kehilanganmu! Kau mengerti, tidak?!” Sungchan menunjuk dirinya sendiri. Matanya memanas dan segelimang air mata bermuara pada ujung maniknya. Ia tidak pernah ingin berperilaku seperti ini terhadap Wonbin. Seperti orang jahat. Seperti bajingan. Seperti keparat. Seperti lelaki yang terpaksa dinikahkan dengan Wonbin.Pertahanan Sungchan runtuh di sana. Ia turut terisak sampai tak mampu menopang berat tubuh sendiri di atas kedua kaki. Ia lalu meraih Wonbin dan mendekapnya.“Maaf, maaf, maaf, Wonbin. Maafkan aku,” ucap Sungchan, “Semua yang aku lakukan — itu untuk kebaikanmu.”Sungchan meminta Wonbin untuk lari dari rumahnya dua hari sebelum pesta pernikahan dilaksanakan. Sungchan meminta Wonbin untuk lari sejauh mungkin, karena sesuatu barangkali terjadi dan Wonbin bisa saja celaka. Wonbin sempat menolak, tak ingin pergi jika itu berarti Sungchan akan mencelakakan diri sendiri demi dirinya.“Lalu bagaimana dengan dirimu?” tanya Wonbin.“Aku tidak akan kemana-mana. Aku tetap di sini, dan akan terus di sini,” balas Sungchan. “Wonbin, kalau kamu hidup tanpa aku, bisa, ‘kan?” tutur si lelaki selagi mengelus rambut Wonbin yang halus.Wonbin meraih kekasihnya itu dalam satu pelukan erat. Ia menggeleng dalam ceruk leher Sungchan. “Tidak, Sungchan. Jangan lakukan ini. Larilah saja bersamaku, ya? Kita bisa cari kehidupan baru.”“Mereka akan mencari kamu sampai ke ujung dunia, Wonbin,” ujar Sungchan, mengelus rambut Wonbin yang jatuh ke belakang leher. Wonbin. “Wonbin, hiduplah lebih baik daripada aku. Janji, ya?”Wonbin menggeleng kembali. “Aku tidak ingin membuat janji yang tidak bisa aku tepati.”“Kalau begitu, aku juga tidak janji bisa kembali dan kau temui lagi.”Wonbin punya dua hari untuk lari dan Sungchan punya dua hari untuk menikmati sisa-sisa hidupnya sebagai manusia. Dalam dua hari itu, ia putuskan untuk jadi seorang pendosa. Sungchan datang di pagelaran pernikahan Wonbin dan membakar furisode yang seharusnya pria itu kenakan. Api meluber membakar kuil. Pula seakan-akan semesta juga turut serta dalam melindungi kekasihnya, angin berhembus dari arah barat laut, membuat api menjelma menjadi destruksi di sepanjang tanah kelahirannya. Sungchan harap, Wonbin sudah pergi sejauh mungkin agar apinya tidak sampai padanya. Sungchan harap, dalam tragedi ini, ia berhasil menyelamatkannya.Sungchan tidak masalah menjadi pendosa. Semua yang ia lakukan, adalah untuk melindungi Wonbin.Jika hal itu terlalu egois untuk dipinta oleh sekadar manusia sahaja, maka tidak akan egois jika ia adalah seorang pendosa. “Oh, lihat siapa yang datang,” ujar seseorang ketika Sungchan menginjakkan kaki pada sebuah honmyoji di hadapannya. Seseorang yang Sungchan yakini sebagai roh penjaga kuil itu melipat kedua tangannya di belakang, menatap Sungchan dengan raut terkejut. “Butuh tiga ratus lebih tahun untukmu datang ke sini setelah membakar kuil milikku, Tuan Pendosa?”“Aku butuh mengetahui sesuatu.”“Kamu pikir aku mau membantumu?”“Aku butuh tahu dimana jiwa Wonbin berada.”“Ia bahkan tidak di sini ketika tragedi itu terjadi,” decak roh itu. “Kamu yang menyuruhnya pergi jauh dari sini.”“Aku yakin kamu tahu dimana ia berada.”“Mungkin, tapi aku tidak akan memberitahumu.” Roh itu mengeluarkan tawa lepas sebelum berbalik arah, hendak melangkah masuk kembali ke dalam kuil. Namun sebelum ia benar-benar menghilang dalam udara, ia memutar kepala menghadap Sungchan, lalu berkata, “Kenapa tidak coba kau tanya pada Kaisar Oho di Konferensi Seratus Tahun? Aku yakin Kaisar mengetahui sesuatu.”“Kaisar tidak peduli dengan hal itu.”“Oh, begitu?” Ia membalikkan kepala lagi. “Kudengar, Kaisar punya kebijakan tersendiri terhadap tubuh yang mati tanpa jiwa. Mungkin, kekasihmu itu salah satunya.” [] ²) Referring to Ōkuninushi (historical orthography: Ohokuninushi), also known as Ō(a)namuchi (Oho(a)namuchi) or Ō(a)namochi (Oho(a)namochi) among other variants, who’s a kami (god) in Japanese mythology and the god of the underworld.³) Furisode is the most formal style of kimono worn by young unmarried women in Japan.
----- CHAPTER BREAK -----
Sungchan yakin seseorang pernah membisikkan keping-keping nyanyian pengantar tidur padanya dulu sekali. Ia tidak yakin siapa yang melakukannya. Ia tidak yakin dengan suara siapa yang ia dengar. Sungchan hanya bisa mengingat suaranya yang lirih berkata, "Kalau kamu merasa putus asa, carilah Tuhan di celah bawah pintumu."Sungchan, pula, tidak yakin dengan arti dari perkataan itu. Namun, mengerti atau tidak, salah menangkap atau tidak, Sungchan telah mencoba. Sungchan sudah coba mencari Tuhan di bawah celah pintunya. Namun Sungchan tak kunjung temukan Tuhan di sana.Sesuatu mengganggu Sungchan dini hari itu. Ia tahu sebentar lagi matahari akan segera menggantung di ufuk timur dan ayam akan segera berkokok. Namun matanya tidak dapat terpejam. Matanya tidak kunjung terpejam. Kepalanya terasa begitu berisik dan ada banyak sekali pikiran yang bergelut di dalam tengkorak yang kecil itu. Sungchan tidak tahu cara agar membuat mereka diam. Sudah tiga hari ia lalui seperti ini dan Sungchan kelelahan. Pada titik ini, Tuhan barangkali datang dalam bentuk halusinasinya saja.Sungchan berbaring telungkup menghadap bantal dengan wajah yang dimiringkan. Tangannya dibiarkan terlentang di sisi kasur lantai tempatnya tidur. Di tangannya ada ramuan obat herbal yang konon kata suatu tabib, bisa membantunya tertidur. Sungchan enggan tenggak mereka karena rasanya pahit dan ia tak pernah ahli soal menggelegak obat. Namun kesunyian sudah terlanjur melahapnya habis terlebih dahulu. Ia merasakan sesuatu mengoyak retak tubuhnya—mungkin itu kesendirian. Mungkin itu temannya yang lain—kalau tidak salah namanya keterasingan. Mereka mencabik-cabik isi hatinya; meninggalkan ruang yang luar biasa kosong di sana. Waktu terasa seperti berjalan semakin lambat, pula Sungchan mengira ini akhir dari hidupnya—sebab ia tak kunjung temukan Tuhan di celah bawah pintu.Sungchan dapati diri sendiri kesulitan bernapas; mungkin Tuhan sudah sampai di dalam kamarnya tetapi ia tak mampu melihat. Mungkin Tuhan sudah injakkan presensi di hadapan wajahnya, tetapi ia tak sanggup mendongak. Sungchan hanya bisa menatap celah bawah pintu dengan mata yang berkedip setiap lima belas detik sekali. Sedikit lagi, barangkali setelah deru napas yang ia hembus satu kali, Sungchan menyerah cari Tuhan di sana. Sungchan akui diri sebagai seorang pecundang, sebab bahkan Tuhan enggan menghampiri di depan pintu dan menyelamatkannya.
Sungchan lupa jika Tuhan tidak bekerja dengan cara yang seperti itu.
“Tuhan tidak akan menghampiri hanya karena kamu menunggu, Tuan Sungchan,” ujar seseorang di hadapannya. Sungchan lupa perihal namanya padahal ia baru saja memperkenalkan diri beberapa menit lalu. Pemuda itu duduk bersila, tangannya dengan sibuk menumbuk beberapa tanaman herbal dalam mangkuk tanah liat berukuran kecil dengan sebuah batu. Si pemuda mungkin berusia jauh lebih muda darinya. Mukanya terlihat begitu bersih, bersinar, dan menawan. Sungchan hampir keliru menganggapnya tabib perempuan kalau bukan karena rambut pendeknya. Lalu jika melihat bibirnya yang tebal dan merah ranum dengan alami tersebut—tunggu, apa? Mengapa Sungchan memiliki urgensi untuk memperhatikan bibirnya?Sungchan perlu semua orang tahu kalau pemuda ini cantik sekali—itu pun jika mengatakan hal yang sedemikian rupa tidak akan membawanya untuk dipasung karena mewanitakan pria.“Para dewa-dewi itu hanya perlu diam dan mengamati, di sisi lain, kita-lah yang menghampiri mereka.” Si pemuda lalu menambahkan sedikit air ke lumatan tanaman herbal di dalam mortarnya. Ia memasukkan semua campuran itu ke dalam sebuah gelas keramik kecil yang permukaannya kemudian ditutupi dengan plastik dan diikat di sekeliling gelas menggunakan tali.“Jadi, jangan menunggu sampai Tuhan datang untuk berobat ke sini,” tuturnya sambil menyerahkan gelas itu kepada Sungchan. “Ini, minum ini untuk mengatasi susah tidurmu.”“Siapa namamu tadi?”Pemuda itu memiringkan kepala, meletakkan gelas di lantai dan melipat kedua lengan di depan dada. “Astaga, kamu belum tua tapi sudah cepat lupa?” Pemuda itu terkekeh, lantas menjulurkan tangan ke arah Sungchan. “Namaku Wonbin. Tolong ingat dengan baik.”“Wonbin?”Wonbin mengangguk. “Ingat dengan baik sampai kamu mati,” lanjutnya.Sungchan terbelalak, membuat ekspresi terkejut yang terkesan lambat. Wonbin lalu terbahak pelan, mengibaskan tangannya. “Aku bercanda saja, Sungchan. Tidak perlu terlalu serius begitu.”Wonbin memiliki bakat untuk menyembuhkan orang lain. Ia mungkin saja lebih baik daripada ayah atau ibu yang keduanya merupakan tabib istana. Barangkali ketika diciptakan, Tuhan begitu mengasihinya. Tuhan menuangkan banyak sekali rasa cinta, sehingga Wonbin juga dipenuhi perasaan sedemikian rupa kepada sesama. Sementara Sungchan? Tuhan menciptakannya karena terpaksa. Ia tahu ia hadir di dunia sebab tidak sengaja. Kalau bisa berharap, ia berdoa supaya ia tidak pernah lahir saja dan dengan begitu, ibunya akan bahagia. Ibu tidak akan membenci Sungchan hanya karena ia membawa figur ayahnya yang mengingatkan Ibu akan sosok yang merenggut masa depan cerahnya. Ibu bilang, ia ingin menjadi seorang penyanyi. Ibu bilang, ia ingin tersenyum di hadapan banyak orang usai melakukan pertunjukkan. Seharusnya, ibunya punya karir cemerlang saat ini dan bukannya menjadi pemuas napsu hanya untuk menghidupi dirinya sejak kecil. Seharusnya, Sungchan tak pernah hadir.“Begitu, ya,” balas Wonbin yang saat ini terduduk di sampingnya. Sungchan mampu melakukan segala hal yang berbahaya jika itu perihal bisa bertemu dengan Wonbin, seperti bagaimana ia menyelinap ke dalam kediaman keluarganya pada malam hari untuk membawa pergi putra sematawayangnya. Wonbin pernah berkata kepada Sungchan untuk menemuinya jikalau membutuhkan kawan bicara. Akhirnya, keduanya memutuskan pergi ke tepian lahan sawah yang baru saja dibuka dan merupakan tempat Sungchan bekerja. Di sana, mereka bisa melihat langit malam dengan lebih cerah sebab tidak ada rumah-rumah yang menutupi cahaya rembulan. Hanya ada lahan kosong, hamparan bintang, dan dua insan yang diterpa angin malam.“Kamu tahu, Sungchan? Aku juga sebenarnya tidak diinginkan di dunia ini.”Sungchan menaikkan satu sisi alisnya ketika menoleh ke arah Wonbin. Yang ditatap kini hanya menatap ke arah langit sambil memeluk kedua lutut di depan dada. “Orangtuaku menginginkan seorang anak perempuan untuk melanjutkan pekerjaan tabib mereka. Menurut mereka, perempuan lebih mengerti tentang rasa sakit. Perempuan juga lebih penyayang. Mungkin juga mereka menginginkan seorang anak perempuan yang bisa dinikahkan dengan keluarga kerajaan nantinya. Ketika tahu bahwa aku ini laki-laki, mereka mengabaikan aku selama lima hari dan tidak memberikanku nama. Bahkan, aku dulu disusui oleh pembantu ibuku. Mungkin nasibku tidak lebih buruk atau baik darimu, tapi tetap saja, merasa tidak diinginkan itu menyedihkan sekali, ya? Setidaknya, aku mengerti soal perasaan kamu yang satu itu.”Tidak, Wonbin.Merasa tidak diinginkan itu sangatlah menyiksa.Ini terasa aneh, tetapi ada satu perasaan yang tumbuh di dalam dadanya. Sungchan pikir, mungkin itu adalah perasaan familiar yang sudah lama ia dambakan. Sungchan pikir, mungkin karena kini, ada orang yang bisa memahami dirinya dan ia tidak harus menyimpan derita tersebut sendirian saja. Sungchan pikir, mungkin itu adalah perasaan kagum. Namun, pastinya bukan suka. Harusnya bukan cinta. Wonbin itu lelaki, ucap Sungchan berkali-kali dalam hati. Tidak sepatutnya ia bisa jatuh cinta pada lelaki, bukan begitu?
Sungchan … tidak mungkin jatuh cinta pada Wonbin, ‘kan?
Karena Wonbin itu laki-laki. Bukan begitu aturan dunia bekerja.“Kamu sudah bisa tidur dengan lelap, Sungchan?”Sungchan yang tanpa sadar menatap lurus ke raut Wonbin akhirnya berdeham, menepiskan segala isi pikiran yang mengganggunya. Ia lantas menggeleng. “Obatnya sepertinya tidak bekerja.”“Bukan obatnya yang tidak bekerja, tetapi kamu yang menumpuk terlalu banyak penyakit di dalam sini,” ucap Wonbin sambil menyentuh kepala Sungchan dengan jari telunjuknya. “Kamu pernah dengar bahwa otak adalah salah satu ciptaan Tuhan paling magis, karena dia menggunakan diri sendiri untuk memahami dirinya sendiri?”Sungchan menggeleng, lantas menjawab, “Aku tidak pernah tahu itu. Aku tidak mendapat pelajaran seperti kamu, Wonbin.”“Sekarang kamu tahu,” ucap Wonbin, sembari tersenyum. “Orangtuaku bilang, semua penyakit itu datangnya dari kepala. Untuk bisa menyembuhkan penyakit itu, kamu harus membersihkan apa-apa yang mengotori di dalam sana.”Wonbin memutar tubuhnya menghadap Sungchan, menumpu tangan di atas kedua lututnya yang beradu, lalu melemparkan tanya, “Memang, apa yang sedang kamu pikirkan, Sungchan?”
Banyak sekali hal. Tak terkira jumlahnya.
Sungchan merasa bagaikan hidupnya sudah tidak seperti miliknya sendiri. Ia pikir, dirinya dikendalikan oleh suatu kuasa yang jauh di sana dan tak dapat ia tampaki atau sadari eksistensinya, membuat Sungchan menjadi manusia tak utuh. Seperti mainan. Seperti boneka. Sungchan tak merasa seperti menghidupi kehidupannya sendiri. Ia hanya melihat dunia dari balik kaca yang memerangkap dirinya. Sungchan menyaksikan semuanya berlalu tanpa memiliki kendali penuh atas hidupnya sendiri.Sungchan memikirkan banyak sekali hal. Tak terkira jumlahnya dalam kepala. Namun, dari semua pikiran itu, mereka memiliki muara yang sama. Tanpa Sungchan sadari, itu mungkin adalah depresi pertama yang tak pernah terekam dalam sejarah dunia.
Sungchan tidak mau hidup lagi.
“Aku tidak mau hidup lagi.”Wonbin menoleh dengan raut penuh teror ketika mendengar apa yang baru saja Sungchan ucapkan. Sungchan mengatakan hal itu dengan mudah seolah kematian tidak pernah benar-benar membuatnya gentar. Ia menoleh ke arah Wonbin yang matanya sejenak berkaca-kaca, lalu membulatkan mata panik.“H-hei, kenapa, Wonbin? Aku mengucapkan sesuatu yang salah?”“Kenapa kamu bisa berkata begitu, Sungchan?”“Aku ….” Sungchan mengalihkan pandangannya dari maniknya yang bersirobok dengan punya Wonbin. Tanpa tahu alasannya, Sungchan merasa tak bisa membalas tatapan nanar yang satu itu. Ia lalu menggeleng dan menjawab getir, “Aku … tidak tahu, Wonbin. Mungkin, aku lelah? Mungkin, aku tidak mau berlama-lama ada di dunia ini. Mungkin, aku tidak mau merepotkan ibuku lagi. Mungkin, aku hanya butuh istirahat. Istirahat yang sangat panjang.”Sungchan meneteskan air mata dari pelupuk matanya yang membuat Wonbin dan bahkan dirinya sendiri terkejut. Tunggu, ini bukan dari mataku, ‘kan? Sungchan mendongak ke atas untuk mengecek apakah hujan sedang kebetulan turun di atas kepalanya. Namun, tidak. Itu bukan hujan. Itu bukan air embun. Itu air matanya yang tanpa sadar mengalir sebab ia menyimpan semua rasa sakit itu terlalu lama.“Menangis saja, tidak apa-apa, Sungchan.”“T-tidak. Aku tidak menangis. Ini hanya—”“Aku tahu, rasanya berat di dalam sana, benar, ‘kan?” Wonbin menekan dada Sungchan, tepat di bagian jantung. Benda itu berdetak sangat cepat seiring dengan Sungchan yang kesusahan menghirup napas. Wonbin lalu berkata, “Di sinilah kamu akan melepaskan semuanya. Di sini, kamu bisa membuat dirimu sendiri lega. Kamu boleh menangis kalau kamu mau, Sungchan.”Tangan Sungchan bergetar hebat seolah ia sedang disengat oleh petir. Kedua telapak tangannya menutupi mata yang mengeluarkan banjiran air yang tak dapat ia hentikan. Kepalanya sakit, rasanya seperti ditekan. Pun kerongkongannya tercekik. Namun, Sungchan bisa merasakan segala batu ganjalan yang ada di dalam dirinya sirna. Tidak ada lagi yang menghalanginya. Tidak ada lagi tempatnya bersembunyi. Hanya Sungchan dan semua lukanya yang bertelanjang kaki di hadapan Wonbin.Wonbin lantas membawa Sungchan ke dalam ceruk lehernya, mendekapnya, dan membawanya ke dalam kehangatan.“Aku berjanji, akan membantumu sembuh. Sesegera mungkin. Sampai segalanya berakhir.”“Kenapa kamu mau membantuku sejauh itu, Wonbin?”“Kudengar, Kaisar punya kebijakan tersendiri terhadap tubuh yang mati tanpa jiwa. Mungkin, kekasihmu itu salah satunya.”
Mati tanpa jiwa? Apa artinya itu?
Apakah itu artinya jiwa Wonbin tidak pernah benar-benar mencapai alam baka selama ini? Apakah itu artinya, jiwa Wonbin yang indah itu tak pernah berada di surga sekarang? Lantas, dimana jiwanya berada?
Apakah Wonbin masih hidup? Apakah Wonbin masih di sini?
“Hei, Sho.” Kepala Sungchan mereminisensi percakapannya dengan Shotaro beberapa tahun yang lalu. Ia mengambil suatu buku di perpustakaan—buku riwayat kematian dari beberapa malaikat maut terdahulu yang sekarang telah purna. Shotaro yang awalnya tengah menyilangkan kaki, kini melepas kedua tautan kakinya untuk bisa mendekatkan tubuh pada buku yang disodorkan oleh Sungchan.“Aku sedang menyelidiki data jumlah kematian penduduk suatu daerah dengan data kematian yang ada di buku riwayat ini. Dan kau tahu apa yang kutemukan?” Sungchan menunjuk ke arah suatu angka dari kedua buku, lalu melanjutkan, “Jumlahnya tidak sama. Berbeda satu. Apakah ini salah isi?”“Malaikat maut tidak pernah salah mengetik, mereka tidak boleh salah isi.”“Lalu, mengapa?” tanya Sungchan. Sebelum Shotaro mampu menjawab, buku riwayat kematian tersebut tiba-tiba seperti hidup—ia bergerak dan menutup dirinya sendiri, membuat Sungchan dan Shotaro berjengit dan terbelalak. “Kamu melakukan kesalahan.”“Apa?”“Kalau buku itu tertutup seperti itu, artinya ada hal yang tak patut kamu ketahui, Sungchan.” Shotaro lalu bangkit dan meluruskan ujung jas hitamnya. “Aku tidak akan melaporkan apa-apa pada atasan, tapi sebaiknya kamu lebih pandai menutup mulut dari aku.”Kejanggalan angka itu … apakah Wonbin salah satunya? []
