Work Text
Love You BetterIyo tidak ingat apa saja yang terjadi malam sebelumnya, kini tubuhnya meringkuk di sudut tilam Bambang, mencoba menyembunyikan wujudnya dari teriknya dunia. Mencoba kembali tidur, berharap pada satu-satunya obat yang mampu membuatnya lupa.Kesadaran yang perlahan kembali tak bisa ditolaknya lagi, bersama semua memori menyakitkan yang memaksanya berada di sini.“Bang, Bang Janu nyariin lu.”Iyo bisa mendengar suara Bam, setengah mencolek pundaknya yang membelakangi dirinya.“Gimana, nih? Anak-anak juga pada nanyain.”Iyo menghela napas panjang, melepas selimut dan berpaling perlahan. Wajah kusut bukan main, matanya sembab dan pipinya pun tampak merona bengkak. Bam tahu abangnya itu menangis semalaman dan baru tertidur menjelang subuh.“Lu gak ember, kan?”Bam menggeleng cepat sambil mengangkat tangannya mengacungkan dua jari telunjuk dan tengah.“Sumpah, gue gak ngasih tahu siapa-siapa lu ada di sini. Tapi bentar lagi Yoga datang…”Iyo mendesah panjang lalu menyeret tubuhnya bangkit menuju kamar mandi, kandung kemihnya memberi sinyal untuk segera dibuka.“Jam berapa dia datang? Masih lama, kan?”“Biasanya sih dua jam lagi, tapi ini dari tadi anaknya gak balas chat gue… Takutnya dia OTW ke sini gak ngasih tahu, sorry gue bangunin lu,” Bam meracau cepat tak seirama dengan gerakan Iyo yang lambat.“Ya udah, gue beberes dulu, paling gak lama.”“Terus lu mau ke mana?” cecar Bam.“Ke mana aja, asal bukan kostan Januar.”“Kostan Bang Janu kan kostan lu juga, Bang?”Iyo melirik dua kardus dan satu koper di sudut kamar Bam, lalu menatap si cowok yang enggak bisa diledeknya cungkring lagi itu dengan tatapan lemah.“Udah bukan, Bam. Semalam kan lu sendiri yang bantuin gue bawa nih barang-barang semua,” balas Iyo sebelum masuk ke kamar mandi, meninggalkan Bam tercenung di sana.*Hampir sepuluh menit Iyo mengeram di bilik kakus, rasanya masih sama, dia ingin menyembunyikan dirinya dari dunia. Dia ingin terkurung di sini selamanya, jika itu mungkin.Suara gaduh menyadarkan Iyo, Bam kedatangan tamu. Dia makin tak siap menghadapi siapa pun itu, paling buruk dia tak ingin bertemu Janu.“Ini barang-baran Bang Iyo? Terus Bang Iyo-nya, mana? Lu bo’ong ya? Bang Iyo mana?”“Diem, Yog,” Bam tak bisa menahan sohibnya itu agar tenang dan ia juga tak punya penjelasan bagus untuk apa yang Yoga tanyakan.“Orang-orang di group pada nyariin, Bam, kok lu bisa-bisanya bilang gak tahu apa-apa, toh nyatanya Bang Iyo di sini.”“Bukan hak gue buat ngasih tahu, Yog! Gue juga udah janji ama Bang Iyo buat tutup mulut!”Iyo tak ingin kekisruhan itu makin menjadi, tetapi serangan panik menahan tubuhnya dari gerak yang aktif. Yoga tak hentinya membombardir Bam dengan pertanyaan, hingga ancaman segera menghubungi Januar membangunkan Iyo dari lamunan panjang.“Gue telepon anak-anak sekarang—”“Yog,” bukan suara Bam yang mencegahnya, Iyo membuka pintu kamar mandi, wajahnya serius meskipun tampak lemah, “Jangan telepon siapa-siapa, tolong banget, gue gak mau ketemu siapa-siapa.”Yoga membeku di tempatnya, tangannya yang semula sudah bersiap mengeluarkan handphone dari celana diurungkannya segera. Iyo membuatnya tak bisa berkata apa-apa.“Thanks, Yog.”Dan, Yoga tak bisa memahami ke mana akhirnya keadaan ini pergi. Iyo yang ia kenal selalu menjahili dirinya dan Bam tak nampak sama sekali. Sekarang yang berdiri di depannya hanyalah seorang pemuda yang telah kehilangan separuh hatinya bahkan mungkin nyawanya.*“Ini salah gue, nyaranin lu buat datang di kafe itu.”Bam mengelus punggung Yoga, sohibnya terisak sejak mengetahui fakta apa yang telah terjadi.“Enggak, ini bukan salah lu. Mungkin emang gini caranya biar gue yakin dengan keputusan gue…”“Tapi kalau lu gak dateng ke sana, lu gak bakalan ribut sebegininya ama Bang Janu, Bang. Gue iming-imingi lu dengan bilang itu kafe nyaman buat pacaran, agak pelosok dan gak terlalu narik perhatian, gue baru dua bulan kerja di sana dan ternyata gue belum sepenuhnya kenal dengan habit pegawai di sana.”Iyo mencoba menenangkan Yoga, itu salah satu alasan mengapa ia tak segera menelpon Yoga yang biasanya paling getol ia recoki, melainkan meminta bantuan Bambang.“Udah, yang terjadi biarlah, gue gak mau permasalahin itu lagi. Gue ama Janu juga mungkin gak bakal sejauh ini kalau gue ama dia bisa menjaga batasan,” Iyo menghela napas panjang, kenangannya bersama Januar bagaikan duri-duri yang menghunjam otak pun hatinya, tajam menusuk, ada juga yang mengiris, “Ini salah gue, kok. Gue nyangka dia bakalan fine aja, ternyata enggak.”“Bang, sorry banget,” Yoga masih tersedak dengan tangisnya, “Harusnya lu yang gue tenangin, tapi jadi lu yang nenangin gue. Enggak, lu gak salah, Bang, pilihan lu udah tepat buat pisah sekarang.”Bam berdecih di sisi Yoga, sambil meninju lengannya, “Pilihan Bang Iyo udah tepat untuk sekarang dan masa depannya! Bang Janu harusnya gak gitu! Dia udah tahu Bang Iyo luar dalam tapi dia seakan-akan tutup mata hanya karena mereka lagi di tempat yang gak semestinya. Lagian ya, dia yang ngajak Bang Iyo pacaran, ya dia harusnya tahu konsekuensinya anjir.”“Udah-udah, kalian berdua ribut lagi, gue minggat sekarang.”Yoga yang baru mau menyangkali Bam langsung tutup mulut, Sang Pemilik kamar juga tak berkomentar apa-apa lagi.“Jadi, gue minta tolong ama kalian berdua jangan ngasih tahu siapa-siapa, gue perlu jernihin pikiran dulu sebelum milih buat lanjutin hidup,” tandas Iyo membuat kedua krucil-krucil itu menghela napas lega, seenggaknya abangnya ini sudah bisa berpikir dengan benar.*Di luar dugaan, kedua pengacau tetaplah pengacau.Dua hari berlalu sejak Iyo menginap di kostan Bambang, dan pertemuan emosionalnya bersama Yoga, kini kamar itu ketambahan satu lagi orang yang sebenarnya Iyo tak tega terus bersembunyi darinya.“Bang,” Yosi tak melepaskan pelukannya hampir lima menit lamanya, “Please jangan ngilang, semua orang khawatir.”Iyo tak percaya semua orang mengkhawatirkannya, setidaknya pasti ada satu orang yang merasa bebas ia tak lagi berada dalam jangkauannya.“Gue udah tahu cerita Bang Janu, kalau kalian berantem tiga hari lalu. Terus gue ceritain ke Bam ama Yoga, eh merekanya ngamuk, katanya gue harus mihak ke elu dan jangan dengerin sisi Bang Janu aja. Gue heran, dong, akhirnya Bambang ngasih tahu lu di sini, jangan marahin mereka, gue tahu lu lagi gak pengen diusik sekarang, tapi please kasih tahu gue apa yang terjadi? Gue gak bisa nyimpulin ini kalau cuma dari sisi Bang Janu aja.”Yoga dan Bam menyimak sebagai latar, ia tahu Iyo tak akan memarahi mereka selahi Yosi berada bersama dengannya.Iyo tahu ia tak akan pulih jika berulang harus menceritakan sakitnya, atau mungkin ini adalah cara di mana ia bisa membagi rasa pedihnya dengan teman-temannya, walau ia tak tega telah menguras semua kepedulian mereka hanya untuknya yang hatinya sedang patah.Iyo mulai berpikir, ia hanya sedang dramatis. Mungkin Januar benar, ia hanya sedang sensi, dan sisi emosional itu menguasai dirinya. Namun, ia tidak ingin juga invalidasi perasaannya sendiri, ia merasakannya karena ia mengalaminya.Selepas mendengar penjelasan Iyo, ruangan lima kali enam itu hening, hanya helaan napas perlahan yang menjadi penenang. Reaksi Yosi mungkin bisa dibilang sama dengan Yoga, hanya saja dia mampu menahan diri untuk tidak sesenggukan. Mereka akan ikut menyalahkan diri sendiri, karena telah mendukung hubungan ini.“Sekali lagi gue bakal ingetin kalian buat jangan merasa menyesal karena ini terjadi, gue yang jalanin, gue yang tahu bagian manis dan pahit yang gak kalian lihat, cuma sekarang aja, gue bener-bener butuh jarak,” Iyo menelan ludahnya, “Mungkin dengan jarak bisa membuat gue paham di mana bagian dari diri gue yang gak baik buat Januar.”“Lu secara gak langsung larang gue buat gak nyalahin diri sendiri, tapi lu mikir ini semua salah lu,” Yosi memegang tangan Iyo, “Gue marah, gue juga kesel, gue gak terima lu diperlakuin seperti itu, dan ya, gue gak tahu apa aja yang sedang lu lewatin, tapi gue mau di sini bareng-bareng lu buat ngelewatin semuanya.”“Kami bakalan nemenin lu, Bang,” ucap Yoga dan Bam bersamaan.“See? We are here for you…”Dan pelukan hangat mereka, meredam radang di dalam dada Iyo, mencairkan bekunya hati yang melumpuhkannya untuk merasakan segala yang berada di sekitarnya.*“Elu!”Jaka melempar bola futsalnya ke arah Januar yang tengah duduk di bangku panjang tepi lapangan, ia lengah dan tak menyadari kedatangan Jaka yang marah-marah tak jelas.“Gue tanya baik-baik ya, Nu. Di mana Iyo?”“Jak, kalau gue tahu juga gue gak nanyain lu kemarin-kemarin.”Jaka meludah di sudut kaki Janu, “Seminggu, Nu, seminggu Iyo gak bareng ama lu! Dan lua gak ngasih tahu gue semua kejadiannya, Iyo keluar kan dari kostan?”Januar terdiam, ia menatap Jaka nyalang.“Iya, kan, Nu?!”“Iya, Jak! Dia pergi, pergi gitu aja.”“Apanya yang gitu aja goblok!”Bogem mentah hampir melayang ke wajah Januar, kalau saja Malik tidak segera menangkis dan memiting tangan Jaka.“Tenang, kalau mau bicara tuh jangan pakai amarah, yang ada gak kelar ini masalah.”“Biarin gue tonjok! Biar dia sadar!”Januar bergeming, ia tak tahu mengapa dan perihal apa Jaka bisa semarah itu. Malik menarik Jaka mundur dan memberi kode Januar agar mengikutinya meninggalkan lapangan. Beberapa rekan pemain tim futsal yang datang mulai memberikan tatapan ingin tahu, tak biasanya serangkai itu saling beradu dan ingin mengangkat tinju satu-satu.“Okay, jadi Iyo beneran keluar dari kostan?” tanya Malik hati-hati, Janu mengangguk pelan tak mengeluarkan suara, “Cerita lu bener?”“Bener enggaknya, dia tetep gak nyeritain semuanya,” cela Jaka, “Dia gak bilang kenapa Iyo pergi. Dia pura-pura bego padahal dia yang salah!”“Jak, tenang dulu,” Malik mencoba diplomatis, “Gimana, Jan?”“Well, gue gak nyeritain semuanya karena menurut gue itu urusan hubungan gue ama Iyo, kalian gak perlu ikut campur sejauh itu.”“Lu tahu Yoga resign dari kafe Icarus?” tanya Jaka dengan senyum miring tersungging.Januar termangu, heran dengan kabar itu. Ia menggeleng dan terkekeh menyembunyikan gugupnya.“Lu gak tahu, Yoga nahan malu karena kerja di sana, di tempat di mana Iyo dilecehin di depan muka lu—”“Jak,” Malik masih berusaha mengontrol Jaka, “Calm down, man.”“Maksud lu apa?”“Lu pikir aja sendiri!” Jaka memukul angin dan membuang wajahnya, muak berbicara dengan Januar, jika saja tak ada Malik menjadi wasit sudah babak belur wajah Januar dibikinnya, mungkin sedikit patah tangan dan kaki bisa menjadi toping tambahan.“Yoga gak di sana pas gue dateng ama Iyo,” kata Januar memulai, “Gue gak tahu kalau dia kerja di sana.”“Dia emang baru dua bulan kerja di sana,” balas Malik tetap tenang, Januar tahu dia hanya mencoba tenang, ujung telinganya merah menandakan ia juga menahan kesal luar biasa, “Yoga yang nyaranin tempat itu ke Iyo, katanya udah lama gak kencan bareng elu. Belum lagi kesibukan kalian berdua dan mumpung proyek Iyo udah kelar dan elu ada waktu luang, dia ngajakin lu ke sana.”“Yoga gak pernah cerita kalau dia kerja di sana,” ucap Januar pelan.“Dia gengsi, lu tahu sendiri kan? Kafe Icarus itu kafe sekaligus bookshop, kita-kita selalu ngeledekin tuh anak kalau deket ama buku, dan selama dua bulan dia diem-diem aja kerja di sana karena dia nyaman, dari sana dia mulai cerita ke Iyo pertama, tapi gue yakin Bam ama Yosi juga tahu dia kerja di sana, cuma karena gak pengen diledekin ama kita aja makanya dia gak ngasih tahu. Okay, itu cerita Yoga, intinya dia yang nyaranin Iyo tentang kafe itu, karena dia tahu tempat yang kayak begitu bakalan jadi tempat favorite kalian.”“Nyatanya, sekarang tuh anak benci banget ama tuh tempat, ama orang-orangnya dan mungkin lu juga,” sambar Jaka, “Lu gak nyadar kalau dia ngindarin lu? Si Yoga? Oh iya, elu mah gak peka.”“Jak,” Malik menepuk pundaknya, “Pelan-pelan.”“Gue beneran gak tahu, sorry.”Januar tertunduk, tak tahu harus mengungkapkan kalimat apa sebagai pembelaannya. Jika Yoga seberusaha itu, maka Iyo berusa mewujudkannya. Namun, sore itu berubah menjadi mimpi buruk malamnya.“Terus kabar Iyo?”“Gampang banget lu nanya!” Jaka pergi dari sana dengan menubrukkan bahunya pada tubuh Januar, enggan melanjutkan latihan futsal dan memilih pulang.Malik tak mencoba mengadangnya, ia menatap Januar prihatin.“Dia pulang ke Semarang,” jawab Malik, “Kerjaannya udah remote, kayaknya dia bakalan gak balik lagi ke sini.”“Tapi di sini udah kehidupan dia, Lik, dari SMA kita udah bareng-bareng di sini ampe kuliah ama kerja, proyek dia juga kantornya di sini.”Tatapan tak percaya Januar, menumbum netra Malik yang pasrah, “Bahkan lu orang terdekat dia di sini gak paham tentang dia, Nu. Apalagi gue yang selalu lu anggap orang terluar dari hubungan lu berdua. Lu tahu semua orang yang relain Iyo buat lu, Jaka ama gue cuma dua dari sekian banyak orang yang mau milikin dan jadi bagian hidup dia. Lu punya free pass buat itu, tapi udah lu sia-siain.”Malik menepuk dada Januar dua kali sebelum pergi meninggalkannya merenungi kesalahannya.*Malam minggu sepekan yang lalu.Sudah lama akhir pekan tak terlaku dinantikan oleh Iyo, malam minggu kali ini ingin dihabiskannya bersama sang pacar. Januar.Segalanya berjalan mulus sesuai rencana, Januar meluangkan waktunya sejenak menutup laptop yang berisi laporan-laporan kantor yang dibawanya pulang.Segalanya berjalan mulus, meski rasa lelah menghinggapi Jiyo dan Januar, tapi kapan lagi mereka bisa menyempatkan waktu berdua bersama-sama.Seakan sudah berbulan-bulan mereka LDR padahal aslinya berada di bawah atap yang sama. Pekerjaan dan kesibukan menjadi orang ketiga di antara mereka, menciptakan jarak pemisah yang terlihat cukup terjal jika dilalui tak saling berpegangan.Mungkin hal itu juga yang menjadi pemicunya, jarak, kejenuhan, kebosanan, rasa lelah yang entah obatnya apa. Mungkin ada adrenalin lain yang bisa mengisi kekosongan, yang mampu menguji nyali.Pertengkaran dan berselisih adalah hal biasa dalam hubungan, pun mereka sudah paham. Namun, ada satu hal yang membuat itu bisa tak termaafkan.Iyo bersandar di pundak Januar, asyik membaca salah satu novel yang disediakan kafe Icarus. Hingga ketentramannya itu terusik dengan Januar yang terus mencoba agar Iyo berhenti menyandarkan diri padanya.“Kenapa sih? Aku berat, ya?”“Malu ih, dilihatin orang.”Satu hal yang pernah jadi perjanjian, mereka tak akan melakukan sentuhan terutama pegangan tangan di depan umum. Mereka sama-sama setuju dan menjalaninya bertahun lamanya.Iyo melihat sekeliling, kondisi kafe lengang dan orang-orang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Iyo menatap Januar garang, “Siapa yang lihatin, wong pada sibuk.”“Tunggu, mau refill gak?”Januar bangkit dan meninggalkan Iyo, yang jelasnya minuman Iyo belum habis, masih ada setengah tetapi Januar sudah pergi ke meja bar dan mengobrol asyik dengan pelayan di sana.Iyo mengamati dari jauh, Januar masih asyik sendiri menunggu pesanannya disiapkan, beberapa karyawan wanita ikut nimbrung di sana. Iyo tak merasa cemburu, ia mencoba menekan rasa yang mulai mencuat itu.Saat Januar kembali ke mejanya, suara pesan masuk bertubi-tubi membanjiri pemberitahuannya. Iyo menatap tak senang, Januar mengabaikannya dan tetap berfokus membalas pesan masuk itu.“Katanya malam minggu gak ada kerjaan,” sindir Iyo.“Hm, bukan kerjaan kok.”Iyo kembali mendekatkan tubuhnya, ingin tahu pesan masuk dari siapa yang membuat Januar tak memedulikan keberadaannya. Beberapa staff cekikikkan di belakang meja kasir, makin menguatkan dugaan Iyo bahwa Januar tengah berbincang dengan mereka via pesan.“Mas, beneran gay?” seorang pelayan pria lewat di sisi meja, Iyo tidak akan menghakimi gayanya yang gemulai, “Top atau Boti?”Iyo berharap Januar bisa memberikan tanggapan atau menyuruhnya pergi, ini sama saja dengan ia direndahkan. Iyo paling tak senang membahas orientasinya dengan orang asing, pertama itu bukan urusan mereka. Cukup satu itu saja yang jadi alasan terpentingnya.“Maksud, Masnya apa ya?” Iyo mencoba mencolek kaki Januar di bawah meja.“Apa sih, Yo. Tinggal jawab aja biar dia pergi, orang cuma nanya juga,” kata Januar yang bagai setruman listrik di kulit Iyo.“Jadi gimana, Mas? Bagi ID Line dong,” tawar staff itu.“Sorry, ya, enggak dulu.”“Masnya udah punya pacar?”Iyo melirik Januar yang acuh tak acuh, Iyo menggeleng, “Belum. Cuma gak lagi pengen deket aja sama orang lain..”“Oh, lagi PDKT sama orang lain nih pasti.”Iyo bersyukur pramusaji itu pergi karena dipanggil untuk membawa pesanan yang lain.Melihat Januar yang tak memberikan tanggapan apapun mengenai hal barusan memaksa Iyo mengemas barang-barangnya, ia ingin pergi dari tempat ini secepatnya. Ia juga ingin memberi rating terendah atas pelayanan yang didapatnya, sampai ia teringan Yoga bekerja di sini belum lama dan tak ingin mematahkan semangatnya dengan kejadian yang menimpa Iyo.Suara cekrekkan foto dan silau dari lampu kamera membuat Iyo terpaku, cekikikan dari sudut lain kafe kembali terdengar.“Banci sis, banci pick me,” darah Iyo berhenti mengalir, “Boti sok jual mahal.”“Jadi itu lakinya apa bukan?”“Temennya aja paling, lu gak lihat dia kek alergi dimepet-mepetin gitu.”“Gak semua orang bisa digoda pake nyepong kali ye?”“Muka-mukanya keseringan nyepongin tuh.”“Boolnya udah melar,” Iyo meremas jari-jarinya, entah sejak kapan suara bisik-bisik di belakang meja bar menjadi sejelas itu, belum lagi pengunjung yang berada di dalam ruangan tersisa dirinya dan Januar, “Udah mah boti gak usah sok suci, pasti tuh jual diri.”Iyo berdiri dari kursinya, tanpa memberi aba-aba pada Januar ia pergi dari sana, mengeluarkan lembaran uang seratusan ribu, membayar tunai pesanannya kalau bisa dengan mulut-mulut mereka.“Yo, mau ke mana? Udah mau pulang?” Januar mengekori dengan wajah bingung.“Gue lupa sesuatu,” kata Iyo di depan kasir sambil menyerahkan uang, “E-mail proyek di Singapura belum gue terusin ke kantor pusat. Tipnya ambil aja, cukup kan buat kalian berlima?”Semua orang itu diam dan hanya menerima sebelum Iyo menghilang di balik pintu keluar.“Katanya udah gak ada kerjaan?”“Terus apa gunanya, Nu?” Iyo berbalik sekilas pada Januar, tangannya sibuk memesan ojek online, “Bukannya kamu juga sibuk sendiri?”Ia tahu, kebersamaan mereka memang tak tentang kata-kata dan obrolan panjang, hanya keberadaan satu sama lain semuanya sudah terasa lengkap. Namun malam ini, Iyo menyadari bahkan kehadirannya tak berarti apa-apa di mata Januar.“Yaelah, Yo, gitu aja marah.”“Aku gak marah,” Iyo menepis tangan Januar yang mencoba memegangnya, “Aku mempertanyakan eksistensiku di hidupmu, Nu. Aku masih sepenting dulu atau kamu udah gak peduli dengan apapun yang terjadi di aku?”“Aku masih peduli, Yo, buktinya kita di sini sekarang.”Iyo mengusap wajahnya kasar lalu menjulurkan tangannya, “Lihat Hp kamu, tadi kamu ngobrolin apa aja sama orang yang kamu chat?”“Yo, akutuh gak pernah ya nanya atau kepo ama orang yang kamu chat…”“Semuanya serba kebetulan atau aku yang paranoid, aku cuma mau buktiin satu hal, Nu.”Ponsel Januar berbunyi tanda pesan masuk, Iyo menatap Januar dengan pandangan menantang.“Kamu tuh ada-ada aja,” Januar membuka notifikasi pesannya, kali ini membiarkan Iyo ikut melihat.Terpampang dengan jelas, wajah Iyo yang sudah zoom in dengan pesan tak kalah menyeleneh seperti komentar yang didengarnya secara langsung.“See… Cepet banget ya akrabnya, sampai berani banget foto-foto orang.”Sumpah, saat ini Iyo ingin sekali masuk ke dalam dan bertemu manajer atau siapapun yang berwenang menjadi penanggung jawab para karyawan itu. Bukankah ini melanggar etika? Bukankah ini adalah pelecehan?“Jangan diambil hati mereka cuma bercanda…”“Kamu denger gak sih? Kamu denger yang mereka bilang kan? Mereka ngomentarin aku, Nu. Mereka foto-foto aku sembarangan dan ngasih komentar begitu? Bahkan tadi aku ngerasa dilecehin secara verbal, tapi gini tanggapan kamu?”Iyo memejamkan matanya, “Aku mau kita break.”“Apaan sih Yo, sensi banget. Apaan coba break-break, kalau mau putus sekalian aja, ngapain nunda-nunda,” kata Januar terkekeh tak senang.Januar tahu maksudnya bukan demikian, ia tahu Iyo orang yang blak-blakan dan itu hanyalah pancingan agar Iyo mengurungkan apa yang ia sampaikan, karena bagi Januar itu tidak logis sama sekali.Sayangnya bola yang dilemparnya bukanlah bola umpan, Iyo membiarkan itu tepat sasaran.“Kalau itu yang menurutmu bener, okay. Kita putus, aku rasa kamu perlu waktu lebih banyak buat duniamu sendiri sekarang. Aku gak mau ganggu-ganggu kamu lagi, jadi beban kamu lagi, aku juga butuh waktu buat ngurus diriku sendiri.”Ojol pesanan Iyo datang dan segera ia meninggalkan Januar yang kelimpungan balik ke parkiran mengeluarkan motor yang ia tumpangi bersama Iyo.Malam itu, malam yang memutuskan segalanya. Iyo pergi, setelah Januar kembali ke kostan mereka semuanya sudah kosong. Ia terlambat karena memilih menepi untuk mencerna segala sesuatunya yang berjalan terlalu cepat.Kini adrenalin itu tak surut, entah tembok mana yang akan runtuh karena marah. Januar enggan menghakimi siapa-siapa, enggan mengaku salah, hingga penyesalan menggerogoti di belakang hari.*“Bang Iyo nitip surat,” Yosi setelah sebulan lamanya menghilang dari radar Januar kembali memunculkan dirinya tiba-tiba, setelah kabar memprihatinkan dari teman-temannya akhirnya Yosi kembali mau bertatap muka dengan tampang lusuh nan kuyu milik Januar jauh dari kata terawat.Rambut panjangnya dibiarkan tergerai acak-acakan, rambut di wajahnya dicukur asal-asalan, Yosi ingin mengerang semestinya ia bersorak girang karena tampaknya Januar menerima ganjaran, tetapi yang tampak di depannya sekarang sungguh menyedihkan.“Memangnya kita hidup di tahun berapa sih, kan ada teknologi, Yos.”“Lu apa gak inget, lu nembak dia juga lewat surat,” Yosi meringis sedikit, Januar lebih hebat lagi terguncangnya.“Iya sih, hahha konyol ya…”Lebih konyol lagi kehidupan percintaan mereka.Yosi meninggalkan surat itu bersama Januar, membiarkan satu lagi pemuda patah hati berkubang dalam lara.Januar memandangi surat Iyo lama sebelum akhirnya keberaniannya datang.
________________________Untuk : Deffandi JanuariDari : Mario Trisnamukti
________________________
Tangan Januar bergetar, hanya ada kertas kosong di depannya, tanpa tulisan selain kata bermakna dua asma.Januar mencoba mengingat jauh ke dalam masa, ke sebuah kesepakatan bahwa cinta mereka itu bagaikan kertas kosong. Di mana setiap harinyalah yang menjadi isi cerita.Kini surat itu diterimanya, dengan kepolosan, kekosongan dan ketiadaan. Sebuah kesimpulan bahwa Iyo telah memberikan maklumat padanya, bahwa surat cintanya yang penuh kata mutiara telah berbalas sesuatu yang isinya harus Januar tulis lagi. Sekuat apapun Januar mencari jejak kata di sana, mungkin ditulis dengan pena kehabisan tinta, tak jua ia jumpa.Iyo telah menegaskan maksudnya. Mereka kembali ke titik nol, ke titik ketiadaan. Kosong berisi kehampaan.***
