Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Categories:
Fandoms:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-12-16
Words:
1756
Chapters:
1/1

Deep Inside Him

Entire Work

Work Text

“Kenapa malu-malu gitu? kayak baru sekali aja diajak ngewe.” celetuk Anton yang bukannya masuk ke kamar malah diam di ambang pintu.Jelas saja dia bisa merasakan sikap aneh dari pacarnya yang baru 2 hari itu. Rasa canggung dan kikuk yang ada pada diri Wonbin begitu besar, sampai-sampai Anton bisa ikut merasakan ketegangan juga.“Lagian ini bukan pertama kalinya ngewe. Kenapa harus canggung gitu, sih?”“Ya kan, ini pertama kalinya mau ngewe pas udah jadian.” sergah Wonbin, mencoba memvalidasi perasaannya yang dianggap “aneh” saat itu. Dia juga agak kesal melihat Anton yang tampak biasa saja, seolah tidak ada yang spesial.Bukannya sensasi seks dengan status hubungan yang jelas itu bakal kerasa beda ya? pikirnya begitu.“Mau mandi dulu?”“Eh?”Anton menutup pintu kamar dengan kakinya, lalu berjalan santai mendekati Wonbin yang sedang menatapinya bingung di atas kasur. “Kenapa ngeliatin aku kayak gitu?”“Ngga apa-apa.” kilahnya cepat, “Emangnya kamu mau mandi dulu?”Anton berdeham dulu sebentar lalu menggelengkan kepalanya, “Nggak deh, buang-buang air.” katanya, “Abis ngewe aja kita mandi bareng, soalnya bakal lengket sebadan-badan. Udah lama juga kan ngga dipejuin?”Anton bangsat.Anton sialan.Anton bajingan.Jawaban itu membuat Wonbin mencelang beberapa detik, dia beneran kaget dengan balasan bejat yang spontan keluar dari mulut Anton. Walaupun mereka sudah menjalin hubungan intim sebagai “teman ranjang” selama 2 tahun sebelum akhirnya jadian, ada kalanya Wonbin menolak fakta kalau pacarnya ini memang cowok hyper yang sulit mengendalikan hasrat seksualnya.Lagi-lagi Anton menatap Wonbin dengan sorot dalam yang nakal, tapi kali ini sambil menanggalkan kancing kemejanya satu persatu, membuat dada bidangnya terekspos. Sedetik setelahnya dia udah telanjang setengah badan, entah kemana dia lempar kemejanya. Pemandangan itu membuat Wonbin tercekat namun kemudian dia bersimpuh tanpa disuruh, seolah tau apa yang harus dilakukan setelahnya.Mau gimana pun, Wonbin tetaplah lonte-nya Anton.
slurp slurp slurp
“Ngghhh —” desah Anton yang mulai terdengar saat pacar cantiknya itu menjilati pusarnya dengan lumatan binal. Lidahnya makin bergerak liar naik ke atas menuju puting kecoklatan Anton yang sudah mengeras. Tangannya ngga dibiarin bebas, tentu saja Wonbin pakai untuk memelintir puting satunya lagi. Dia jilat-jilat permukaan putingnya bergantian lalu menyesap kuat keduanya hingga terdengar suara menyeruput.Sialan.“Tadi lagaknya malu-malu, sekarang kok jadi kayak lonte gini? Ahhhh – mana pinter banget nyesepnya.”Wonbin terkekeh tapi mulutnya ngga mau lepas menaut puting Anton. Dia suka dengan pujian “lonte”. Mendengar itu malah ngebuat Wonbin makin bersemangat ngelumat puting Anton. Rasa canggung dan kikuknya yang dia tunjukin 5 menit lalu seolah sirna begitu saja, yang ada sekarang ini emang Wonbin binal yang nakal.Nafsu si muda dibuat makin meledak, dia ingin cepet-cepet masukin penisnya ke anal Wonbin. Dengan dua tangan Anton mengangkat tubuh Wonbin yang sudah setengah badan menindihkan, lalu dilempar begitu saja ke tengah kasur. Dengan gusar dia turunin resleting celananya, memamerkan batang penisnya yang sudah mengacung ke atas. “Buka mulut!” perintah Anton sambil menarik tubuh Wonbin ke posisi duduk, “Suka kan makan kontol kayak gini?”Boro-boro menunggu jawaban, penis besar Anton sudah langsung menyengap masuk ke mulut Wonbin dalam hitungan detik.“Emutnya yang kuat dong, sayang.” pinta Anton, sambil dia lesakkan penisnya lebih dalam lagi hingga hampir menyeruak masuk ke liang tenggorokan Wonbin.Sekarang pinggulnya ikut bergerak maju mundur dengan tempo pelan-sedang. Sebenernya dia kurang dibuat puas dengan gerakan lamban itu, tapi Anton ngga mau bikin mulut pacarnya luka seperti terakhir kali mereka berhubungan intim. Langit-langit mulut Wonbin dibuat bengkak sampai dia kesulitan menelan makanan selama beberapa hari. Anton ngga mau kejadian traumatis itu terulang lagi.Anton ngga mau bermain kasar, tapi Wonbin maunya dikasarin. Buktinya sekarang ini, pacar cantik yang lebih tua darinya itu malah meremas kuat pantat Anton dan membuat penisnya masuk sampai ke ambang batas. Dengan sengaja dia tusuk-tusuk lubang pipis Anton menggunakan ujung lidahnya, ngebuat si empu mengadah keatas sambil mendesah panjang.“Ahhhh — jangan ditusuk gitu, Bin. Nggghhh — ntar malah pipis.”Wonbin menggelengkan kepalanya, malah makin gerilya dengan permainan lidahnya. Dia terus lumat kepala penis Anton tanpa ampun, sampai yang disepong udah ngga bisa nahan lagi, akhirnya Anton tarik paksa penisnya keluar dari mulut Wonbin, “Nakal ya sekarang? udah dibilang jangan tapi malah makin gila nusuknya.”Yang diomelin malah nyengir ngga jelas, terus dia seka mulutnya yang basah karena liur itu dengan lengan kemeja yang masih membalut utuh badannya, “Kamu ngga akan telanjangin aku gitu?”“Lonte haus kontol! mancing banget buat diperkosa, ya?”Wonbin mengangguk girang, “Rusakin aku, please. Bikin usus aku anget sama peju kamu itu.”Tanpa pikir panjang, Anton langsung mendorong tubuh Wonbin hingga terbaring di tengah kasur. Hal pertama yang dia lakukan setelah itu adalah menanggalkan semua pakaian Wonbin hingga telanjang, bener-bener dibuat telanjang bulat. Paha mulus dan putih itu dia lebarin sampai dibuat ngangkang penuh, masa bodoh dengan ringisan yang lepas dari mulut Wonbin sekarang.Siapa suruh mancing Anton buat kasar kayak gitu?Kendali tubuh Wonbin ada di tangan Anton sepenuhnya, sekarang ini tangan si muda berada tepat di selangkangan Wonbin. Penisnya ngaceng lagi dan dirasa sudah berkedut berkali-kali minta masuk ke lubang pantat Wonbin yang sempit itu, tapi Anton ngga suka main terburu-buru.Anton membenamkan kepalanya di antara paha Wonbin. Mulutnya langsung melahap penuh biji kembar milik pacar cantiknya, diemut sampai pipinya kempis sampai rintihan nikmat keluar dari mulut yang punya.“Ahhhh— enak banget, Nghhhh”Wonbin menggeleng kuat saat Anton menggigit biji kembarnya berkali-kali, rasa nikmat dan ngilu bergabung menjadi satu. Anton terus-menerus bermain disana, menyedotnya kuat lalu dilepas, dimasukan lagi ke dalam mulut terus digigit-gigit sampai ngebuat Wonbin kelojotan setengah badan.“Nghhh pelan-pelan. Ahhh— sakit.”Paha Wonbin yang sudah menegang itu makin menghimpit kepala Anton. Emang dasar lonte plin plan, yang diomongin ngga pernah sinkron sama yang dilakuin. Katanya sakit, tapi malah makin menekan kepala Anton buat tenggelam lebih dalam lagi ke kejantannya yang sensitif itu.“Enak ya kontolnya diemut kayak gitu, hm?”Sekali-kali Anton remas kuat penis Wonbin, sangat kuat sampai urat-uratnya keluar. Lagi-lagi ngebuat si empu meringis nyeri, pinggulnya naik ke atas mengikuti gerak tangan Anton yang dengan sengaja menarik penisnya ke atas.“Ahhhh—sakit, Ton.” katanya sambil mendesis nyeri, “Ampun, udah – mau udahan.”“Loh? belum juga dipejuin kok mau udahan lagi aja?”“Nghhhh sakit, Anton. Jangan tarik kontol gua kayak gitu— “Anton makin narik penis mungil yang pas di genggaman tangannya itu ke atas, “Apa kamu bilang tadi? Gua?”“Anu— aku! aku! Ahhhh —jangan ditarik, Ton.”“Katanya mau dirusakin? harus ditarik gini biar rusak.”Kepalanya menggeleng kuat, sekarang Wonbin hanya bisa pasrah menerima setiap stimulasi seksual yang diberikan pacarnya itu. Mukanya yang sudah merah sengaja dia tutupin dengan bantal, sambil diremas kuat-kuat dalam upaya meredakan rasa nyeri yang luar biasa di bawah sana.“Mukanya jangan ditutup gitu dong cantik.” kata Anton, malah menampik bantal yang nutupin muka Wonbin yang cantik. Dia mau lihat sampai mana Wonbin bisa tahan sama permainannya.“Ahhhh— dubur aku udah gatel, nghhhh mau dikontolin aja hhhh”“Mau dikontolin langsung?”Wonbin mangut-mangut, matanya merem-melek menatap Anton penuh harap. Dia suka kalau liang anusnya dirojokin sama penis besar Anton. Sedikit cekat cekit memang, tapi akhirnya bakal nikmat juga kalau dipejuin sampe ususnya kerasa anget.Ngga mau buang-buang waktu, kini Anton meludahi kerutan lubang pantat Wonbin sampai basah lalu dia jilat dari bawah ke atas berulang kali ngebuat pinggul yang dijilat bergelinjang ke atas. Wonbin berusaha mendorong kepala Anton untuk menjauh, tapi dia kalah telak sama kekuatan tangan Anton yang menahannya di selangkangan, pahanya dibuat terus mengangkang lebar.Giliran Anton yang bikin Wonbin gila sekarang, lidahnya sengaja nusuk-nusuk lubang anus si cantik yang udah becek, seperti hal nya yang Wonbin lakuin ke lubang pipisnya.“Ahhhhh anton udahhh—”Desahan panjang itu disertai dengan spontanitas tubuh melengking ke atas saat jari telunjuk Anton berusaha masuk ke kerutan anusnya, terus dia sodok makin dalem dengan 3 jari sekaligus ngebuat liang sempit itu berkedut. Setelah dirasa sudah cukup, dia langsung gesekin kepala penisnya ke dalam.Wonbin tersentak sekali lagi saat batang penis Anton berhasil masuk penuh ke dalam anusnya yang masih sempit. Tapi untungnya kejantanan Anton sudah dibuat basah dan licin lebih dulu, jadi bisa lebih legowo masuk tanpa menimbulkan lecet.“Ahhhh anjing! Anton anak anjing!” Umpat Wonbin, dia kaget karena Anton langsung menghentakan pinggulnya maju mundur. Sedangkan yang mendengar umpatan hanya terkekeh pelan, matanya ngga pernah lepas dari Wonbin.Melihat Wonbin udah putus asa kayak gitu, memancing Anton makin mempercepat tempo genjotan penisnya ngga ada ampun, pokoknya dia harus bikin Wonbin kliyengan dalam menanggapinya. Badannya udah kelojotan berkali-kali pun masih tetep aja dirojokin sampai dalam, jelas bikin Wonbin teriak-teriak minta ampun. Tapi sama sekali ngga digubris, justru momentum itulah yang Anton tunggu-tunggu sedari tadi. Niat awalnya emang mau ngebuat Wonbin teler mampus sampai ngga berdaya kayak gini.“Ahhhh ngggg— aku pejuin di dalem ya?”Wonbin hanya bisa mengangguk pasrah aja sekarang, menerima segala perlakuan dari Anton. Lubang anusnya robek pun dia ogah buat peduli, kalau sudah puas Anton pasti akan melepasnya tanpa disuruh. Sekarang dia ngerasa kalau cairan kental itu sudah memenuhi sepanjang liang anusnya. Bener aja, dilihat dari reaksi Anton yang tiba-tiba diam menengadah ke atas dengan mata terpejam. Sudah bisa dipastikan dia sedang ejakulasi.Tangan anton memilin penisnya sendiri, dia mau ngeluarin semua spermanya di dalam anus Wonbin. Setelah itu, dia benamkan penisnya dalam-dalam, ngebuat Wonbin meringis sekali lagi.“Shhhh— kok dimasukin lagi, sih?”Sedangkan yang ditanya malah cengengesan, rupanya dia masih mau menghangatkan penisnya di dalam sana. Liang anus Wonbin yang sampai sekarang pun masih sempit itu ngejepit penisnya, sesekali Anton bisa merasakan otot-otot anusnya berkedut.“Ahhhh— udahan, mau udahan aja!” keluh Wonbin hampir menangis, air matanya emang udah berlinang di ujung mata tapi tak kunjung jatuh. “Anton! ampun, Ton. Mau dilepasin aja kontolnya nggghhh—”Wonbin yang udah geleng-geleng frustasi malah ditekan dagunya sama Anton, dibuat berpindah ke posisi duduk. Mulutnya emang meracau terus dari tadi, kalau ngga ngedesah ya ngerengek minta udahan kayak gitu.“Sssshhh! jangan berisik ya, cantik.” perintah Anton, tapi si empu masih aja geleng-geleng kepala menolak untuk bungkam.Mau ngga mau, dia akhirnya bungkam mulut Wonbin dengan lumatan yang terkesan kasar dan terburu-buru. Lidahnya melesak masuk ke dalam mulut Wonbin, menyedot lidah si cantik itu untuk keluar. Dia lumat terus bibir atas dan bawah Wonbin yang tebal secara bergantian. Kepalanya miring-miring mencari posisi nyaman untuk hidung mancungnya bisa bergerak.“Mmmpphhh—”Anton keluarin penisnya dari anus Wonbin tanpa melepas tautan bibir mereka, terus dia kocok lagi sendiri. Sampai dirasa sesuatu akan keluar lagi, dia langsung berdiri dan menyemburkan sisa-sisa spermanya ke dalam mulut Wonbin yang masih menganga.“Nggghh enak, pejunya enak.” kata Wonbin, sambil dijilat-jilatin semburan sperma di ujung bibirnya.Sedangkan Anton langsung menjatuhkan badannya begitu saja, ditarik pinggang Wonbin ke dalam pelukannya. Lalu dia ndus-ndus punggung si manis dari belakang. “Lengket banget, sayang. Mau mandi?”Wonbin menggeleng sebagai balasan, “Mau gini aja, sampe besok pagi.”

↑ Top · Fandoms