Actions

Work Header

Zhun Bei Hao Jiu Qi Zou

Entire Work

Work Text

Tidak ada orang yang berniat untuk senang-senang dan berakhir tidak merasakan hal itu semua. Terkadang, faktor-faktor lain merubah perasaan seseorang dalam sekejap. Entah itu karena pekerjaan orang lain atau keadaan itu sendiri. Kebanyakan dihasilkan oleh keadaan sebenarnya, beberapa kali terjadi di lingkaran pertemanan kota-kota besar. Namun untuk Hansol, kali ini disebabkan oleh orang lain. Niatnya hanya ingin menghabiskan waktu bersama teman-teman nya. Mungkin sekaligus mempertemukan mereka lagi dengan sang kekasih. Seorang perempuan cantik yang memang tidak sesering itu dipertemukan olehnya dengan teman-teman nya. Pergi ke klub malam memang bukan kegiatan rutin baginya. Hansol hanya ikut karena sudah lama ia tidak menghabiskan waktu bersama mereka. Beberapa kali Chan mengirim pesan untuk mengajaknya ikut berbaur di tempat itu. Bukan karena Hansol tidak suka dengan tempat tersebut, hanya saja ia memiliki hal yang lebih penting untuk diselesaikan.

chani

berantem lagi?

ngapain lagi cewek lo ituu?

ngga bukan salah dia

salah gue lagi kok

salah apa lagii

kemaren gue ngga ngasih tau kalo nongkrongnya ada kak jeonghan

jadi gitu deh

???

apa nama gue keseret lagi

ngga ngga

ngga akan

ngga bakal lagi

ngga akan gue biarin

aw

tau aja siapa yang lebih jago cium bibir lo

chan

iya iya

tapi jadi dateng ngga?

nanti gue usahain

okkk

Hansol ingat ia harus memandang layar ponselnya beberapa saat sebelum memutuskan keputusan nya. Ruang obrolan dengan sang kekasih dan Chan berdekatan atas bawah. Salah satu dari mereka ditandai agar tidak terlewat setiap notifikasi pesan nya. Namun entah mengapa ruang obrolan Chan juga tidak pernah tertinggal olehnya. Sudah beberapa bulan semenjak Hansol menjalani hubungan oleh perempuan yang ditemui di salah satu kelas kuliahnya. Saat itu, ia memang sedang mengambil beberapa jadwal kelas dari jurusan lain. Salah satu program kampus yang akhirnya dapat dipetik manfaatnya oleh Hansol. Ditambah ia berakhir dapat seorang kekasih juga di akhir semester. Lalu, bagaimana hubungan nya dengan Chan? Ah, Lee Chan, betul. Lelaki yang tidak kalah cantiknya dengan sang kekasih. Hansol kenal lebih dahulu dengan Chan semenjak mereka masih menjadi mahasiswa baru di kampus ini. Bisa dibilang Hansol yang memperkenalkan Chan kepada lingkaran pertemanan mereka sekarang. Hubungan keduanya memang bisa dibilang rumit. Kalau kata Mingyu, terlihat rumit jika dilalui dari perspektif Hansol saja. Karena Chan sama sekali tidak merasakan kerumitan itu. Toh, apa yang mereka lakukan bersama diberi izin penuh dari Hansol sendiri. Termasuk kegiatan mereka berdua di balik pintu kamar masing-masing. Bagi teman-teman keduanya, hal yang mereka lakukan memang sudah marak dinormalisasi oleh lingkungan. Teman tanpa status, kalau bahasa keren nya, friends with benefits. Afeksi fisik maupun tidak, Hansol menerima segala benefits yang diberikan oleh Chan. Karena memang hubungan mereka berawal dari sekedar berteman. Sebelum Hansol menjalin hubungan romansa serius dengan sang kekasih, ia sudah memiliki Chan di sampingnya. Seperti yang Chan bilang di obrolan virtual mereka, bahwasanya kedua bibir mereka pernah bersentuhan satu sama lain. Bersenggama tanpa perasaan namun meninggalkan bau masing-masing di sprei kasur yang bisa tertinggal selama berhari-hari. Hansol sering merasa kesusahan untuk bernapas setiap mencium Chan. Ditambah dengan hubungan mereka kala itu yang masih berada di garis abu-abu. “Kenapa berhenti?” Chan menghembuskan napas lembut di sela ruang kosong kedua bibir mereka. Kedua lelaki dewasa itu sedang berbaring di kasur Hansol beberapa bulan lalu. Chan menciumnya dengan lembut dan penuh gairah seperti biasa, menarik raga Hansol kembali menyentuh teras depan surga di langit ketujuh. Kepala Hansol digelengkan pelan, meremas pinggang ramping milik lelaki itu tanpa ia sadari sampai meninggalkan bekas kemerahan, “Nggak, nggak kenapa-kenapa. Aku cuman lagi banyak pikiran.” Jawaban bohong yang sama kerap lolos dari bilah bibirnya. Beberapa kali Hansol harus bekerja keras untuk menutupi kegiatan nya menemui perempuan itu di sela menjalin hubungan abu-abu bersama Chan. Entah untuk apa sebenarnya ia lakukan hal itu sejak awal. Bukan nya Chan memang bukan siapa-siapanya? Lalu mengapa Hansol merasa bersalah jika ia sedang bersama orang lain? Namun Chan juga bukan tipe orang yang mudah dibohongi begitu saja. Jika ada orang yang menyandang gelar Sarjana Chwe Hansol, Lee Chan merupakan orangnya. Tidak sekali-dua kali Hansol berlagak tidak berada di tempatnya secara mental, walaupun fisiknya sedang didekap erat oleh Chan. Tidak ada orang yang ingin merasakan hal itu semasa hidup. “Hei,” panggil Chan sampai Hansol mengangkat pandangan nya untuk menatap kedua mata lelaki di depan nya lekat-lekat, “Aku nggak pernah mempermasalahkan kalo misalnya kamu emang sukanya sama orang lain.” Hansol mengejapkan kedua mata beberapa saat, “Kenapa tiba-tiba –” “Hansol, aku tau.” “Maksudnya?” “Aku tau kamu jalan sama cewek lain,” potong Chan lagi, jemari-jemari lentiknya itu digerakkan mengusap pipi yang lebih tua, “Aku liat sendiri kok kamu cium bibir cewek itu dengan bibir yang sama buat cium aku juga setiap harinya.” Hansol merasa tenggorokan nya mengering seketika, tidak bisa berkutik di bawah sentuhan lelaki itu. Chan terkekeh kecil, menggesekkan memeknya ke kontol Hansol di bawah sana. “Mungkin nanti cewek itu bakal ngerasain apa yang aku rasain sekarang. Tapi seenggaknya, aku duluan yang ngerasain ini, ya?” Chan mengalungkan kedua tangannya di leher Hansol sebelum mengecup bibir lelaki itu dengan lembut, “Fuck me raw again, mas.” Sampai matahari terbit di ufuk timur, keduanya bersenggama tanpa mengenal waktu. Sebagai keseharian mereka yang melakukan aktivitas seksual tanpa memakai kondom atas permintaan Chan sendiri, Hansol merasa puas. Tidak bisa berkomentar secara verbal karena selama semalaman, ia hanya menginginkan Lee Chan seorang. Pikiran nya tidak memikirkan nama-nama lain selain lelaki yang tidak berhenti menerima cairan pejunya di dalam liang memek dan lubang pantat sempit secara bergantian tanpa henti. Mingyu mengatakan fenomena itu sebagai break up sex. Walaupun Hansol dan Chan tidak menjalin hubungan serius sejak awal. Namun perasaan tercekik setiap Hansol menemui Chan bersama orang lain, entah laki-laki atau perempuan di tempat publik, tidak dapat diberi komentar oleh dirinya sendiri. Semenjak malam itu, kedua melanjutkan hidup mereka tanpa bertemu satu sama lain di kamar tidur masing-masing. Sampai malam ini pun akhirnya tiba. Hansol memakai pakaian kasualnya, tidak terlalu nyentrik karena bukan seleranya. Cukup untuk membuat dirinya hangat dan tidak kedinginan jika AC klub malam tiba-tiba diturunkan temperaturnya. Hansol pergi ke klub malam dengan menggunakan transportasi umum, berjalan kaki menuju tempat tujuan dari pemberhentian bis terdekat sembari melewati antrian barisan orang-orang yang ingin masuk ke lantai dansa di dalam sana. “Loh,” langkah kaki Hansol terhenti saat mendengar suara familiar di depan nya, “Tumben dateng.” Kepalanya terangkat untuk menemui Joshua yang sedang mengangkat sebelah alisnya, “Diajak siapa? Biasanya sibuk kalo malem-malem begini.” Hansol mendapati dirinya menggaruk belakang leher dengan rasa canggung menggerogoti organ dalam. Ekspresi kebingungan Joshua pun sekejap berubah menjadi tawa kecil, “Nggak usah dijawab. Gue cuman bingung aja soalnya lo udah lumayan lama nggak muncul di depan kita-kita. Chan kah yang ngajak?” Hansol mengangguk dan gestur itu sudah cukup menjadi jawaban untuk lawan bicaranya, “Pantes. Dia masih di jalan katanya. Kita ngantri dulu aja di sini.” Hansol berakhir mengikuti instruksi yang lebih tua. Ia sendiri sudah lupa dengan kebiasaan dirinya selama berkunjung ke klub malam. Memperlihatkan identitas pribadi kepada para karyawan keamanan yang menjaga di luar gedung tersebut, memastikan kalau dirinya memang cukup umur. Walaupun sudah berada di semester akhir perkuliahan, Hansol masih harus memperlihatkan identitasnya agar tidak mengakibatkan perdebatan internal. Suara dentuman musik pun langsung menyapa kedua telinganya. Tidak mengganggu sama sekali untuk seseorang yang hidup hampir setiap saat memakai headphone. Hanya saja volume suara lagu di tempat ini tidak bisa dikontrol sesuka hatinya. Pandangan Hansol beredar ke setiap penjuru tempat tersebut, menyaksikan beberapa orang sudah mengambil kuasa di lantai dansa sembari mengikuti alunan lagu yang mengaung keras. Hansol mengikuti langkah Joshua yang mendekat ke area bar. Menolak saat ditawarkan minuman beralkohol namun menerima penawaran soda. Ia tidak berniat untuk hilang akal malam ini. Hansol tidak mengerti mengapa Joshua terus tersenyum ke arahnya, seperti ada yang ingin ditanyakan.  “Trouble in paradise?” tanya lelaki itu seraya menyeruput minum yang ada di genggaman nya. Hansol bersandar ke meja bar itu, mengangkat kedua bahunya tak acuh. “Nggak,” balasnya, “Nggak tau sebenernya. Gue juga bingung harus ngapain lagi biar dia nggak marah.” Gumaman halus terdengar dari si lawan bicara, ajaib untuk Hansol karena klab malam ini semakin kencang volume tiap lagunya. “Emang tiap hubungan itu nggak bakal langsung ketemu yang cocok. Gue sama mantan gue yang cowok itu juga nggak jelas kok. Emang orangnya aja, bukan orientasi seksualnya,” balas Joshua menempatkan gelas minuman alkohol itu di atas meja, “Kalo sekarang gue udah bahagia sih.” “Ya, laki lo dua.” “Hmmm. Jeonghan juga bingung kenapa nama dia keseret tiba-tiba. Padahal kemarin dia bela-belain ketemu lo juga karena harus ke luar negeri.” “Iya, gue juga udah minta maaf sama dia. Tapi dia nggak mau gue yang minta maaf.” Joshua memutar matanya malas, “Udah, jangan didengerin dia mah. Iseng anaknya.” Hansol membiarkan dirinya tertawa sejenak di malam ini. Sudah lama ia menahan diri untuk setidaknya merasa ringan, menurunkan beban yang terkumpul di pundak. Sebuah hubungan asmara seharusnya tidak menjadi beban untuknya. Kalau begitu, di hubungan ini siapa yang salah? Apa Hansol yang memang terlalu terlena dengan ide dicintai seseorang? Atau karena memang ia naif saja mengejar impian membangun hubungan di masa kuliah? Sepertinya apa kata Mingyu saat itu memang benar; udah lah, nggak usah sinefil-sinefil amat, mending nyeleseiin skripsi.  Ah, betul, skripsi yang sudah menunggu untuk dilanjut oleh Hansol selama seminggu. Beberapa pesan yang diberikan oleh sang dosen pembimbing dibalas dengan balasan template. Kalau misalnya Hansol sedang di tengah tahap revisi. Hanya tinggal beberapa langkah sampai pengumpulan berkas dan maju di tahap sidang, namun Hansol tidak berekspektasi masalah romansa ini sampai menghentikan segala aktivitasnya. “Oh, hai! Kalian udah dateng,” suara Joshua menyapa seseorang pun membuat Hansol menoleh. Dari di mana pintu utama itu berada datanglah segerombolan orang masuk ke dalam klab malam yang kini semakin ramai. Pandangan nya bertemu dengan Chan yang berjalan bersama Soonyoung dan Minghao. “Lah, beneran dateng dia,” Soonyoung terkejut seraya memberikan jabatan tangan yang diterima oleh Hansol dengan erat, “Aman bang skripsinya? Gue kira nggak bakal ngikut. Bukan nya jadwalnya pacaran kalo malem-malem begini,” rentetan tawa pun bergema di sekitar dan Hansol sendiri hanya bisa memutar matanya malas, “Libur dulu hari ini.”  Jawaban macam apa, Hansol mengumpat di dalam hati setelah atensi Soonyoung berpindah ke Joshua, bego, bego, bego. Namun seperti biasa, hanya akan ada satu orang yang selalu mengamati gerak-geriknya. Hansol menoleh dan mendapati Chan yang juga sedang menatapnya. Pakaian yang dipakai oleh lelaki itu juga termasuk kasual, karena memang Chan lebih suka tubuhnya tidak terlalu terekspos ke khalayak umum. Sangat berbeda dengan bagaimana ia beraksi di ranjang. Hansol menggelengkan kepalanya, mencoba untuk tidak mengingat memori itu di tengah dentuman suara musik EDM yang semakin kencang di tempat ini. “Hai,” sapa Chan seraya mengulas senyum di bibir, “Masih berantem?” Hansol mengusap tengkuknya lembut sebelum menganggukkan kepala. Tawa renyah pun lolos dari mulut Chan. Seperti lelaki itu sedang mengejeknya, namun di waktu yang sama Chan tidak bermaksud seperti itu. “Udah coba dijelasin belum gimana kronologinya? Bukan nya cewek lo tau ya kak Jeonghan udah punya pacar. Ditambah dia emang harus lanjut S2 di luar. Nama dia kan kebanggaan kampus,” tutur Chan setelah memesan minuman nya kepada bartender setempat, “Udah, gue udah ngejelasin kalo kemaren tuh cuman farewell. Orang ada abang gue juga kok di sana. Tapi di foto yang dia kirim tuh bang Seungcheol emang lagi cabut bentar. Entah ngambil apa itu di mobil dia. Cuman bentar doang gue ditinggal berduaan sama kak Jeonghan.” “Ini nggak kejadian sekali nggak sih? Kok masih belum introspeksi diri aja.” “Mungkin emang guenya yang salah.” “Nggak, nggak,” Chan menggelengkan kepalanya, “Kalo lo salah, gue juga pasti ngasih tau lo. Masalahnya di sini cuman ada kesalahpahaman aja. Coba dijelasin, nanti juga ngerti.” Chan menerima pemberian minuman pesanan nya sebelum meneguk sampai hanya tersisa setengah. Hansol baru saja ingin membalas kalimat tersebut, setidaknya sebatas terima kasih ke sesama teman sebelum ponselnya kembali bergetar di dalam saku celana yang ia kenakan. “Sebentar,” ujarnya terburu-buru dan berjalan menjauhi dari di mana teman-teman nya berada. Bisikan permisi, permisi, maaf pun keluar dari mulutnya. Hansol berhenti saat ia menemukan tempat yang tidak terlalu ramai dilewati oleh para tamu klub malam itu. Saat punggungnya sudah bersandar ke dinding, ia membuka pesan yang baru saja dibaca melalui layar ponselnya. Hansol menatap isi ruang obrolan itu dengan seksama, tidak ada perasaan yang menggebu-gebu terasa dari dalam benak.

kamu kalo misalnya emang ngga ada niat buat perjuangin hubungan kita mending selesai aja

ngga sekali dua kali loh kita selalu ngga sepakat sama suatu hal

iya emang ngga sekali dua kali cuman kalo ini kan aku udah jelasin

emang kamu harus dijelasin kayak gimana lagi biar aku dimaafin?

kamu tuh cuman mau aku mohon2 ke kamu doang kah kayak selama ini aku lakuin?

dikira aku ngga punya harga diri kali jadi orang

kok ngomongnya gitu sih tiba2

aku ajakin kamu ngomong langsung tapi kamunya selalu ngga bisa

sekarang kamu di mana? ayo ngobrol

aku bisa langsung cabut dari sini

ngga ah ngapain ngomong lg sama kamu

putus aja mendingan

?

kok [retry sending]
woi [retry sending]
bah bocah bener2 [retry sending]
 
“Cewek aneh anjir,” gerutu Hansol yang masih menatap ke layar ponselnya lekat-lekat, “Aduh, bukan maksud gue nyalahin jenis kelamin, Tuhan. Cuman tuh, aduh, emang orang aneh aja ini satu.” Saking terlalu sibuknya berurusan dengan masalah sendiri, Hansol tidak mendengar suara yang berasal dari sekitarnya. Hal selanjutnya yang Hansol ketahui adalah dirinya mendapati Chan sudah berdiri di hadapan nya lagi. “Gimana? Udah ngobrol sama cewek lo?” Hansol tersentak sedikit, sedangkan Chan hanya menatap ke arahnya seraya mengejapkan mata beberapa kali, “Oh, nggak. Gue malah diputusin sama dia.” Informasi tersebut tentu saja membuat mulut Chan menganga lebar. Genggaman tangan nya terhadap gelas yang awalnya diniatkan untuk diberikan kepada Hansol itu diperkuat. Karena kalau tiba-tiba lemas, gelas itu akan terjatuh dan membuat mereka berdua menjadi pusat atensi orang-orang lain yang berada di klub malam tersebut. Tentu saja hal itu enggan diinginkan untuk terjadi bagi Chwe Hansol sendiri. Hansol sendiri sudah tidak peduli setan. Tanpa berpikir dua kali, ia mengambil minuman yang digenggam oleh Chan dan meneguknya sampai habis. Rasa panas yang menjalar di tenggorokan membuat Hansol harus menghembuskan napas kasar. Sebelum ia akhirnya sadar dengan jenis minuman apa yang baru saja ia konsumsi. “Eh, itu ada alkoholnya,” ujar Chan dengan intonasi khawatir, “Orang mah nanya dulu jangan asal ambil. Gue tadinya cuman mau nawarin – mmmh.” Kalimatnya terhenti di tengah saat bibir Hansol melulat bibirnya dengan lembut. Langkah kaki Chan bergerak beberapa langkah mundur sampai punggungnya menyentuh dinding terdekat. Seketika suara dentuman lagu itu perlahan terkubur di belakang kepala mereka. Untuk Hansol sendiri, ia tidak mengetahui apa alasan dia melakukan hal ini semua. Seperti dirinya sudah menunggu momen ini sejak lama. Lalu mengapa ia tidak bersama Chan sejak awal? Hansol memejamkan kedua matanya erat-erat di sela bercumbu lembut dengan bibir lelaki itu. Genggaman tangan di sekitar gelas minuman itupun dipererat seraya melingkarkan lengan di pinggang ramping Chan yang berada di dekapan nya saat ini. Seperti potongan puzzle yang kembali mempersatukan suatu lukisan. Hansol kembali ke pelukan Chan dan begitupun sebaliknya. Bukan di tempat yang diekspektasikan, karena Hansol tidak terlalu suka suara berisik. Pengecualian untuk desahan maupun lenguhan serta tawa renyah yang keluar dari mulut Chan. “Hei,” ciuman mereka berhenti sejenak saat Chan menarik dirinya untuk menatap Hansol. Pandangan nya sudah sedikit mengabur, namun wajah tampan lelaki itu masih jelas untuk ditatap lekat-lekat. “Kenapa tiba-tiba nyium?” tanya Chan dengan bisikan halus seraya mengusap tengkuk Hansol, “Kangen, kah? Memek ceweknya nggak sesempit memekku ya, mas?” Remasan di pinggang membuat lelaki itu terkesiap sesaat. Chan menghela napas panjang, menggenggam erat pundak Hansol dan merasakan tungkai kakinya semakin melemas. “Ah – fuck, fuck. Maaf mas, aku nggak bermaksud kayak gitu –” Chan mendesah kembali saat hidung Hansol bergerak untuk digesekkan ke ceruk lehernya, meninggalkan gigitan-gigitan dan tanda merah di sana, “Ah, ah, ah. Hansol, Hansol, jangan di sini. Diliatin orang-orang.” Apakah Hansol peduli akan hal itu? Tidak sebenarnya. Chan juga tidak terlalu peduli jika ia dilihat oleh orang lain. Adrenalin yang menjalar ke sekujur tubuh membuat dirinya lupa kalau ia sedang berada di tempat publik. Mungkin karena penerangan tempat yang berada di pojokan klub malam itu sudah redup dan tidak dipedulikan oleh pengunjung lain. Chan menyandarkan punggungnya di dinding, napasnya tercekat di tenggorokan saat tangan Hansol bergerak menelusup masuk ke dalam tubuh. Perlahan mengusap kulit putih pucat miliknya dengan lembut. Chan bahkan tidak sadar ia mulai membuka kedua kakinya hanya untuk sang tuan. Membiarkan dengkul Hansol ditempatkan di tengah kedua tungkai rampingnya dan perlahan menggesekkan memek yang masih dibalut oleh material celana yang dikenakan. “Hei,” panggil Hansol seraya mengeratkan dekapannya terhadap pinggang Chan. Menarik tubuh yang lebih kecil itu untuk semakin mendekat ke tubuhnya. “Siapa suruh gesek-gesek, cantik?” Chan merengek pelan, meremas pundak Hansol menggunakan energi yang tersisa, “Hahh –! Ah, ah, ah. Maaf, maaf, maaf mas aku nggak kuat. Enak banget gesek-gesek ke dengkul mas.” Kedua bola mata Chan berguling ke belakang, kepalanya dibiarkan bergantung dengan Hansol yang semakin menarik tubuhnya mendekat. “Aku padahal belum ngapa-ngapain. Kamu mau muncrat kayak gini doang, Chan? Nggak mau mas sodok atau makan memek kamu dulu?” bisikan Hansol di telinga Chan sudah sedikit mengabur, tidak terdengar sepenuhnya karena lelaki itu kini dibaluti oleh nafsu menjalar di peredaran darahnya, “Jawab pertanyaan mas, sayang.” “Hahh – mas, mas, mau dikobel.” “Hm? Mau diapain?” “Mau dikobel sampe muncrat, mas. Aku bisa lepas celanaku sekarang – ah! Hhah… jangan ditampar. Aku sange banget ih nanti muncrat tiba-tiba gimana. Malu.” Kekehan renyah pun keluar dari bilah bibir Hansol. Ia meneguk habis sisa minuman yang berada di gelas itu sebelum ditempatkan kembali di meja terdekat. Menarik tangan Chan dan membawa lelaki itu ke toilet terdekat. Chan sendiri mendekatkan tubuhnya ke tubuh Hansol, memeluk lengan panjang sang tuan seraya mereka melewati lautan manusia yang semakin meramaikan tempat hiburan malam tersebut. Hansol sendiri mempelajari bahwa toilet di klub malam memang tidak terlalu sering dikerumuni oleh orang-orang. Karena kebanyakan mereka memperlihatkan hal-hal yang memalukan di lantai dansa di luar sana. Toilet memang masih termasuk ruangan privasi. Hal privasi di sini juga termasuk memakan memek lelaki lain di salah satu bilik toilet tersebut. “Mmmh! Hnnn!” Chan menggigit ujung baju yang ia kenakan dan menahan tubuhnya agar tidak menggeliat di bawah sentuhan Hansol. Hal terakhir yang diinginkan Chan adalah membuat Hansol tidak nyaman di tengah kegiatan penuh kenikmatan ini. Hansol mengulas senyum kecil di bibir, menggesekkan hidungnya di bibir memek Chan sebelum kembali mendesak lidahnya masuk ke dalam. Seketika Chan langsung berhadap ke pintu surga di atas sana, menahan jeritan yang mengganggu ketertiban pengunjung lain di toilet itu, “Ah! Hahh! Hansol! Hansol, Hansol, Hansol.” Tubuhnya menegang sempurna, Chan menahan jeritan nya dengan menutup mulut menggunakan telapak tangan. Walaupun kerja kerasnya sia-sia, karena suara decakan dan kecipak basah dari bawah sana menggema kencang di bilik toilet tersebut. Pengunjung yang masih belum mabuk total juga memiliki akal sehat untuk mengetahui jenis suara itu. Chan tidak bisa berpikir dengan akal sehat lagi sebelum akhirnya cairan orgasmenya pun keluar dari liang memeknya. Helaan napas lega terdengar dari antara kedua tungkai kaki sang tuan. Hansol membuka mulutnya lebar-lebar dan membiarkan cairan orgasme itu turun membasahi rongga mulutnya. Kedua tangan mencengkram pinggang bagian kanan maupun kiri Chan agar tidak terlalu banyak bergerak di bawah sentuhan nya. Sampai tetes terakhir, Hansol menjilat dan melahap memek Chan sampai tidak ada cairan yang tersisa di sana. Di sisi lain, Chan sudah terlihat berantakan. Kedua pipi memerah dan dada bergerak naik-turun kehabisan napas. Terasa sesak karena ruang yang mereka pakai tidak terlalu luas dibanding kamar tidur masing-masing. Kecupan lembut yang diberikan Hansol di memeknya membuat Chan mengerang manja, menarik lelaki itu agar kedua bibir mereka kembali bertemu. “Basah…” rengek Chan mengusap memeknya, “Nggak basah banget sih. Aku lupa kamu emang suka makan memek orang.” Hansol terkekeh kecil, melingkarkan kedua tangan nya semakin erat di pinggang lelaki tersebut. “Memek kamu masih enak,” bisik Hansol lembut seraya mengecup bibir Chan sekilas, “Mau mas masukin, cantik? Nggak ada yang nyariin juga.” Chan melebarkan kedua matanya seketika mendengar pertanyaan tersebut. Orang normal mungkin akan menolak ajakan itu. Setidaknya kalau mereka masih memiliki rasa malu di dalam benak masing-masing. Namun Chan tidak pernah berpikir secara logis jika bersama Hansol. Begitupun juga dengan lelaki itu sejak mengenal Chan di hidupnya. Pengaruh buruk? Bukan, jauh dari panggilan tersebut. Mereka berdua memiliki suatu hal yang lebih dari sekedar sepasang kekasih. Hansol berdecak disaat Chan mencium ceruk lehernya. Meninggalkan bekas-bekas kemerahan hasil gigitan setelah ia sudah melakukan hal yang sama kepadanya barusan.  Sepasang kekasih, gumam Hansol yang membiarkan Chan membuka ikatan celananya, gue aja nggak pacaran sama dia. Lebih tepatnya Hansol baru saja putus dengan kekasih perempuan nya beberapa menit lalu. Namun ia sudah berada di posisi di mana kontolnya akan kembali terkubur dalam-dalam di liang memek Chan. Kedua pandang mata Chan yang sudah dibalut oleh nafsu itu dikerahkan untuk menatap ke arahnya. “Mas, mas,” panggil Chan, “masukin, masukin. Masukin aku, mas. Udah lama kosong nggak disodok kontol gede punya kamu.” Jemari-jemari lentik Chan bergerak mencengkram kerah Hansol selayaknya ia berpegangan kepada serabut-serabut akhir dari kehidupan. Hansol mengangkat sebelah alisnya, usapan lembut pun diberikan di tiap titik kulit yang diekspos oleh Chan sendiri di hadapan nya kini. “Beneran? Bukan nya kamu udah sering biarin banyak orang sodok memek kamu itu, sayang?” Chan merengek pelan, menggelengkan kepalanya untuk berbohong namun ia mengingat bahwa dirinya memang hanya seorang pendosa, “Nggak ada yang enak kayak kamu, mas. Kontol mas selalu mentok di rahim Chan – hahhh… oh, oh God. Mas, mas, baru kepalanya aja udah gede banget. Penuh banget mas.” “Berisik banget sih. Emang mau ketauan sama orang lain, ya?” “Hhnn… mau, mau, mau. Biar mereka tau kalo aku lacur buat mas doang. Memek aku lebih enak dari memek pacar kamu, mas. Biar mas lebih ketagihan ngentotin aku daripada orang lain.” Hansol tidak pernah membiarkan egonya meledak sendirian. Ia tidak pernah membiarkan orang lain mengoles egonya dengan pujian-pujian yang tidak murni dari hati mereka sendiri. Namun, untuk Chan, kasusnya berbeda sendiri dari yang lain. Chan tidak pernah dengan sengaja memoles ego Hansol tanpa ada rasa hanya untuk membuatnya senang dalam rentan waktu sebentar saja. Setiap afirmasi yang diberikan Chan akan tertinggal selama minimal seminggu di dalam benak Hansol. Maka dari itu, ia selalu kembali ke pelukan Chan setelah menghabiskan waktu bersama di keesokan hari. Sampai di mana mereka harus terpisah karena hubungan romansa serius yang dijalin oleh Hansol. Tanpa ada ucapan selamat tinggal terucap kepada satu sama lain. Hansol masih merasa bersalah dengan bagaimana perlakuan nya kepada Chan selama ini. Ditambah dengan posisi mereka yang sedang meringkuk di bilik toilet sempit. Bersiap untuk kembali bersenggama dan jatuh ke rutinitas mereka berdua sebelum Hansol berpacaran dengan perempuan itu. Jika belum terlambat, Hansol tidak ingin kembali ke rutinitas itu. Kalau boleh, ia ingin menjalin hubungan romansa dengan Chan. “Chan,” panggil Hansol lembut, “Chan, sayang.” Chan mengangkat pandangan nya lagi, menatap lekat-lekat ke lelaki di depan nya, “Iya? Kenapa?” Bulu mata lentik yang terkibas cantik di bawah sinar lampu membuat detak jantung Hansol berhenti sekejap. Beberapa detik Hansol tidak mengutarakan kata apapun karena ia lupa niat awalnya ini berkata apa. “Aku –” kalimatnya menggantung dengan posisi kontol yang sudah bergesekan dengan memek Chan di bawah sana, “Aku nggak mau kita balik lagi jadi tanpa status.” Chan terdiam sejenak, mencoba mencerna kalimat yang baru saja didengar, “Oh, iya, aku juga kok. Nggak mungkin aku biarin kamu ngentotin aku di sini terus kamu balikan sama cewek itu. Aku kerangkeng kamu di depan staff-staff kampus, seriusan.” Hansol terdiam, karena biasanya ucapan Chan tidak bisa dicerna dengan serius dan memiliki niat untuk bercanda di waktu-waktu seperti ini. Tetapi melihat bagaimana seriusnya ekspresi Chan saat ini, sepertinya ia memang berniat untuk mempermalukan Hansol di depan khalayak umum jika mereka tidak berhenti berlagak seperti sepasang kekasih tanpa status. Hansol tertawa renyah dan menganggukkan kepalanya. Mengambil waktu sejenak untuk mencium bibir Chan kembali dan mengusap setiap lekukan tubuh lelaki itu yang menggeliat di bawah sentuhan kulitnya. Ciuman mereka harus terhenti di tengah saat Hansol mendorong masuk kontolnya ke dalam liang memek Chan. Lelaki itu menghembuskan napas pasrah di bibir sang tuan. Bibir bawahnya bergetar merasakan benda lebih besar dari koleksi dildonya kembali masuk ke dalam memek sempitnya. Air mata pun dibiarkan jatuh ke pipi saking tidak bisa membelenggu kenikmatan yang sedang dirasakan saat ini. “Enak?” Bisikan halus bak malaikat menyapa telinga kanan Chan. Lelaki itu hanya bisa mendesah pelan, membiarkan Hansol mengangkat kedua kakinya dan dilingkarkan erat di pinggang. “Enak, enak – ahh… dalem, dalem banget, sayang,” desah Chan manja memeluk leher Hansol dengan mengerahkan sisa energi yang tersisa dari tubuhnya, “Pake badan aku aja, mas. Sampe penuh di dalem, ya? Pake aja, aku rela mas.” Hansol hanya bisa tertawa kecil dan mengecup pipi kekasihnya itu, “As you wish, princess.”  Pergerakan pinggang Hansol dimulai dengan gerakan pelan. Sangat pelan hanya untuk Chan merasakan tiap sodokan yang diberikan. Lenguhan-demi lenguhan pelan terdengar di antara kedua bibir mereka. Chan harus memejamkan kedua matanya erat-erat, mencoba untuk tidak mengeluarkan suara sekecil apapun di tempat umum itu. Namun Hansol berpikiran lain; tentu saja ia akan selalu berpikiran hal lain di situasi seperti ini. Hentakan tiba-tiba di dalam liang memek Chan membuat sang empu tubuh tersentak seketika. Menjerit kencang hanya untuk kembali menutup mulut lagi. Kedua matanya semakin membulat sempurna setelah mendengar suara yang terdengar dari luar bilik tersebut. “Ada orang nggak sih di dalem?” tanya salah satu orang tersebut. Hansol hanya bisa menyeringai kecil sedangkan Chan mencoba untuk mencubit lengan lelaki itu. Namun sayangnya energi yang tersisa di dalam tubuhnya hanya bisa dihitung jari. “Berisik-berisik doang. Lagi ngentot kali kayak biasa,” timpal teman orang yang tidak dikenal itu sebelum terdengar suara pintu toilet ditutup kembali. Chan mencubit pipi Hansol kuat-kuat sampai lelaki itu meringis kesakitan. “Eh, orang gila.” “Kenapa?” “Yang bener aja! Kita udah ketauan sama orang,” Chan merengek pelan. Tidak sebentar untuk rengekan itu berubah menjadi desahan bersamaan dengan gerakan kontol Hansol di dalam memeknya. “Kan kamu yang minta diewe di sini, sayang,” tutur Hansol lembut seraya merapikan beberapa helai rambut Chan yang terjatuh dan hampir menutupi pandangan nya, “Jadi mau dilanjut nggak? Aku udah di dalem kamu nih. Nanggung banget kalo nggak keluar.” Chan mengerucutkan bibirnya, kedua pipi dan telinga sudah merah padam sebelum menganggukkan kepala, “Iya, mau. Keluarin di dalem aja biar nggak berantakan di lantai.” Dengan itu, kegiatan bercinta mereka kembali berlanjut di bilik toilet sempit itu. Desahan-desahan bak melodi telinga Hansol pun menggema di ruangan tersebut. Sesekali Chan masih mencoba agar suaranya tidak terlalu keras terdengar orang lain. Terlebih di saat pintu kamar mandi itu terbuka dan tertutup beberapa kali. Tanpa ada peringatan sebelumnya, Chan kembali memuncratkan orgasme dari dalam memeknya. Melumuri basah sekujur kontol Hansol yang masih terkubur di dalam tubuhnya. Gerakan pinggang Hansol juga semakin berantakan. Menumbuk titik kenikmatan kekasihnya sampai peluh keringat jatuh di pelipis. Chan menghela napas banyak-banyak, merasakan dadanya sesak seketika. Perasaan penuh yang menjalar ke sekujur tubuh tidak bisa dibelenggu lagi. Tubuhnya menggeliat di dekapan sang tuan, kembali mengeluarkan cairan orgasme untuk kesekian kalinya. Terlalu lelah untuk menghitung berapa kali ia sudah mencapai puncak orgasmenya sendiri di tengah kegiatan bercinta di tempat publik ini. “Chan – fuck, kamu masih sempit banget, sayang,” desah Hansol di tengah sodokan erotisnya. Tiap kulit Chan yang sudah terekspos memperlihatkan rona merah bekas tanda-tanda remasan darinya sendiri. Chan hanya bisa mendesah pelan, semakin melebarkan kedua kakinya demi memberi ruang yang cukup bagi sang kekasih. “Lagi, lagi –! Ah, ah, mas – mentokin, mentok di memek aku, mas! Hahh!” Merasakan kontol Hansol semakin membesar dan menegang di dalam sana, tubuh Chan menegang sempurna sebelum kembali mencapai puncak orgasmenya, “Nnnh! Hhhn! Hansol, Hansol, Hansol –!” Perasaan penuh dan puas dirasakan keduanya saat cairan peju kental Hansol kembali memenuhi liang memek Chan seperti sebagaimana mestinya. Deru napas Hansol menggema di bilik sempit tersebut. Indera penciuman nya hanya diletakkan di ceruk leher Chan untuk menghirup aroma tubuh kekasihnya itu. Membiarkan ia kembali ke rumah sejenak sebelum mereka menyelesaikan semua hal yang keduanya mulai bersama-sama. Chan merengkuh tubuh Hansol erat-erat dengan mengerahkan energi yang masih tersisa. Menitikkan air mata yang membasahi pundak lelaki itu setelah sadar bahwa akhirnya Hansol kembali pulang ke pelukan nya. Untuk beberapa saat mereka tetap berada di posisi seperti itu dan Hansol sama sekali tidak ada kewajiban untuk komplain akan hal tersebut. Setidaknya ia kini sudah merasa aman di dekapan Chan. Sebagaimana mestinya ia harus melanjutkan sisa hidupnya.  Sudah diekspektasikan bahwasanya mereka berdua tidak memiliki cukup energi untuk berjalan dengan kedua kaki tanpa terlihat mencurigakan. Mungkin karena suasana klub malam yang semakin ramai dan penuh dengan berbagai macam orang-orang. Namun hal tersebut tidak menahan keduanya dari tertawa renyah seraya menggenggam tangan satu sama lain. Hansol yang menuntun dan membuka jalur untuk dirinya dan Chan berjalan berusaha agar tidak membuat lelaki di belakangnya itu merasa tidak nyaman di dekatnya. Sepertinya panggilan kekasih sudah cukup untuk mendeskripsikan status Chan di hidupnya. Sebenarnya sudah dari tadi juga Hansol menganggap Chan sebagai kekasihnya. Namun apakah Chan mengetahui hal itu? Atau semuanya hanya tipu belaka semesta yang diinginkan Hansol? Seketika langkah kakinya berhenti di tengah jalan di mana orang-orang sedang sibuk berlalu-lalang. Sampai wajah Chan harus menabrak punggung bidang Hansol di depan nya. “Aw,” ringis Chan mengernyitkan dahi, “Kalo berhenti bilang dulu kek. Udah tau gelap banget ini tempat.” Chan sama sekali tidak melebih-lebihkan pernyataan itu, karena sekarang mereka memang hanya dibantu oleh sinar lampu utama yang termasuk redup untuk penerangan ke penjuru klub. “Eh, sorry, sorry,” Hansol berbalik dan menarik Chan agar tidak menghalangi jalan, “Itu aku tiba-tiba berhenti soalnya baru sadar kayaknya anak-anak udah pada cabut atau sibuk masing-masing. Kamu masih mau minum? Mending di sini aja, aku yang ambil minumnya,” tawar Hansol seraya merapikan helai rambut Chan yang terjatuh dan menghalangi pandangan nya. Chan menganggukkan kepala kecil, melingkarkan genggaman tangan nya dengan jari-jemari kekasihnya, “Hansol.” “Hm? Kenapa? Ada apa, sayang?” “Mau ciuman lagi.” “Loh, tadi kan udah ciuman.” Chan mengerucutkan bibirnya dan di bawah sinar lampu yang redup ini, Hansol menahan diri agar tidak melahap habis lelaki yang lebih kecil darinya itu. “Mau dicium di depan orang-orang,” bisik Chan lagi, memainkan ujung jari Hansol agar mengusap pinggang rampingnya, “Emang kamu nggak mau cium aku di depan orang-orang? Aku nggak mau ngumpet lagi.” Entah dari pemilihan kata Chan yang membuat hati Hansol mencelos semakin dalam di benak. Hansol mengusap pelipis Chan dengan lembut seraya mengukir senyum tipis di bibir, “Nggak, sayang, nggak ada yang nyuruh kita buat ngumpet lagi kok. Aku cuman kaget aja kamu tiba-tiba minta dicium lagi. Soalnya tadi kamu sendiri yang panik kalo ketauan dientot sama aku di toilet.” Kedua pipi Chan kembali memunculkan semburat merah. Menjalar sampai ke ujung telinga lancipnya dan terlihat jelas di bawah sinar lampu klub malam tersebut. Hansol hanya bisa tertawa kecil sebelum mengecup pipi Chan berkali-kali. Chan mengerang pelan dan membuka rongga mulutnya sedikit, membiarkan lidah Hansol mendesak masuk untuk menjamah tubuhnya lagi setelah beberapa sekon mereka baru selesai bercinta di bilik sempit barusan. Suatu hal yang sudah didambakan Hansol sejak lama untuk berbagi afeksi dengan Chan di depan publik. Tanpa harus memikirkan hal-hal lain yang kini sudah tidak penting baginya. Untuk sekarang dan pastinya di sisa hidupnya, hanya Chan yang menjadi bagian penting di kehidupan Chwe Hansol. Entah mengapa pula Hansol merasa dirinya juga bisa memenuhi janji untuk membuat Chan bahagia, lebih dari orang-orang yang pernah ditemui oleh kekasihnya itu. Keduanya menghabiskan beberapa menit hanya untuk berciuman mesra. Chan bahkan kembali merasakan selangkangan nya basah di balik celana yang baru saja kembali dipakai. Digesekkan ke dengkul Hansol yang kini ditempatkan di antara kedua tungkai kakinya. Mencari friksi untuk memberi kenikmatan yang sudah dicari-cari oleh Chan tanpa ia sadari selama ini. “Sayang, hei,” panggil Hansol pelan yang dibalas oleh lenguhan kecil dari mulut Chan, “Kalo kamu ngegesek terus nanti muncrat lagi. Celana kamu basah, makin ketauan sama orang-orang, sayang.” Deru napas Chan terdengar lebih keras dan jelas dengan jarak yang tidak bisa dibilang jauh di antara kedua bibir mereka. Kedua mata Chan bergerak menatap bola mata Hansol yang mulai remang-remang, pandangannya kembali dibalut oleh nafsu bergejolak dari dalam benak. “Maaf, maaf – aku nggak kuat. Ah! Hhah –” tekanan dengkul Hansol semakin menekan memek Chan yang dibiarkan memuncratkan cairan orgasme sampai membasahi celana hitamnya, “Hansol, Hansol, Hansol. Aku mau pulang – fuck, entotin aku lagi di kasur, mas. Nggak kuat.” Sebelum ada kesempatan bagi Hansol untuk membalas permintaan tersebut, ponselnya bergetar dari dalam saku celana. Detak jantung seketika berhenti sejenak memikirkan skenario-skenario paling buruk yang bisa saja terjadi di saat ini juga. Chan sudah terasa lemas, hanya bisa menyandarkan kepala di ceruk leher Hansol. Sedangkan lelaki yang lebih tinggi itu melingkarkan lengan nya di pinggang Chan agar tetap berdiri menggunakan kedua kaki. Hansol membuka layar ponsel dengan menggunakan satu tangan saja dan, benar saja, jantungnya berhenti tidak karena alasan semata.

bang jihoon

bawa dia pulang

gue gamau liat adek gue digesek2 memeknya di depan mata gue sendiri

ditambah masih di luar rumah

mikir hansol

iya iya maaf bang

ini mau dibawa pulang kok

ke tempat gue aja

seokmin lg pergi juga berapa hari

abis masalah lo berdua kelar gue mau ngomong ya

gue juga tau bukan lo doang yang setuju mau ngentot di kamar mandi tadi

jangan marahin chan bang

chan udah gede dan lo juga

gue bakal ngomong ke seungcheol

bang

cuman mau ngomong biasa bukan ngelarang lo berdua pacaran

asal masalah lo berdua selesaiin dulu

masalah lo selesaiin dulu

iya oke gue selesaiin

janji

yaudah

cabut sana

makasih bang

Hansol memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celana. Pandangan nya diedarkan ke penjuru klub malam, memastikan tidak ada mata memandang berfokus kepada mereka berdua. Entah dari mana Jihoon mengetahui keberadaan mereka, karena seingat Hansol juga lelaki itu tidak memutuskan untuk datang ke tempat ramai ini. Walaupun Mingyu memutuskan untuk ikut, Jihoon bukan tipe kekasih yang akan mengikuti belahan jiwanya kemana pun dia pergi. “Chan, hei,” hobi yang Hansol tekuni malam ini adalah memanggil nama Chan berkali-kali. Terasa mudah dilafalkan dari ujung lidah di malam ini dibandingkan dengan kemarin-kemarin, Hansol pun tidak tahu entah mengapa. Karena mungkin hubungan mereka tidak berada di angan-angan lagi? Mungkin itu salah satunya. Chan menengadahkan kepalanya ke belakang, menyandarkan belakang kepala ke pundak Hansol, “Ya? Maaf, aku udah lemes banget,” bisiknya pelan seraya mengerucutkan bibir, “Kayaknya aku mau pulang aja deh. Nggak mau di sini lagi.” “Iya, ini aku juga mau ajak kamu pulang.” “Mau naik apa, mas? Naik bis? Aku bisa naik bis kok. Tapi kliyengan dikit, masih lemes.” Hansol mencoba untuk menahan tawa dan Chan sadar akan itu. Sampai perutnya harus disikut sampai meringis kesakitan, karena sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk tertawa. Tapi memang pada dasarnya Chan terlahir sebagai komedian. Bukan sarkas, memang keseharian nya suka membuat orang-orang di sekitarnya tertawa lepas. Pada akhirnya mereka berdua benar-benar memutuskan untuk menggunakan transportasi umum menuju kediaman Chan dan kedua kakaknya. Tidak terlalu ramai di malam hari, sesuai prediksi Hansol. Walaupun ia tidak sering menaiki jalur bis yang satu ini, karena dia juga jarang mendatangi klub malam tersebut. Selama perjalanan, Chan menyandarkan kepalanya di tubuh bagian samping Hansol. Karena perjalanan mereka yang tidak akan menempuh waktu sebentar, Hansol memutuskan untuk membuka ponselnya kembali. Kali ini, ia tidak membuka aplikasi obrolan seperti sebelum-sebelumnya. Melainkan ia membuka aplikasi kamera yang langsung memperlihatkan raut wajah masam milik Chan terpampang jelas di layar ponsel. Hal tersebut membuat Chan mengerang pelan, semakin menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang kekasih. “Hansol, apaan sih,” gerutunya pelan dan semakin melingkarkan tangan di lengan Hansol. Lelaki itu hanya tertawa renyah, mengambil banyak gambar dari posisi ponsel mengarah ke wajah Chan yang malah semakin menyembunyikan wajahnya sendiri. “Kamu lucu tau. Ini kita kayak orang pacaran di Pinterest gitu. Do you know about Pinterest?” tanya Hansol tiba-tiba dengan nada bercanda yang dijawab tanpa ada sela jeda dari Chan, “Of course I know Pinterest. Emang aku kalo ngedit feeds IG dari mana inspirasinya? Eh, udah sih jangan bercanda mulu kalo ngobrol. Pantesan diseriusin nya lama.” Sudah lama Hansol tidak merasa seringan ini, setidaknya untuk tubuhnya sendiri. Tidak berhenti sejak bertemu kembali dengan Chan ia merasa dirinya yang lama kembali lagi. Mungkin selama ini Hansol menyembunyikan dirinya di balik bilik pintu. Kamar yang ia bangun sendiri tanpa dituntut orang lain melainkan dirinya sendiri. Mengapa ia melakukan itu? Hansol saja tidak mengerti juga. Insting? Validasi? Keinginan yang masih tidak bisa ditentukan sendiri? Entah. Namun setidaknya Hansol kini sudah keluar dari kamar itu. Ia sudah kembali duduk di samping Chan dan membiarkan dirinya tertawa lepas sebagaimana demikian. Mereka turun dari bis sembari masih tertawa dengan satu sama lain. Bahkan Chan kini yang memegang ponsel Hansol, mulai merekam perjalanan mereka dari halte bis terdekat menuju kediaman nya. Mengeluarkan beberapa pertanyaan layaknya seorang wartawan kepada Chan. Tidak pernah membantah dugaan sebagai seorang yapper.  Saat keduanya berhenti di depan pintu kediaman Chan, rekaman-rekaman itu disimpan dengan rapi di galeri ponsel Hansol. “Terus, ini nanti mau diapain? Mau kamu upload di Instagram?” mulut Chan terbuka tiba-tiba, “Oiya, mana ada orang tau kamu putus sama cewek itu. Terus sekarang pacaran sama aku! Wah, digebuk gue besok.” Sedangkan Hansol mengangkat kedua bahunya tak acuh, ia merupakan orang terakhir yang peduli dengan drama kampus. Namun jika drama itu menarik nama baiknya atau Chan, tentu Hansol harus ikut turun membersihkan segalanya, “Tinggal ngomong kronologinya. Kayak nilai aku bakal langsung jelek terus nggak bisa ngurus berkas sidang aja kalo ketauan putus sama orang.” Realistis dan idealis adalah dua kata yang kerap dipelajari Chan setiap ia bercengkrama dengan Hansol. Terkadang mereka jika tidak berciuman intens berujung bersenggama di kamarnya, Chan rela mendengar tiap topik diskusi yang disuguhkan oleh Hansol. Entah di saat laptopnya masih memutar film yang mereka tonton bersama seraya Chan melahap tiap kripik pisang kering di genggaman, hal itu tidak akan menahan nya untuk membalas argumen dari opini Hansol. Sering pula opini mereka bertabrakan dan berbeda jauh dari satu sama lain. Tetapi mereka berdua sudah tumbuh besar menjadi laki-laki dewasa. Jika bukan mereka yang mempelajari bagaimana berdebat dengan benar, siapa lagi? Kehidupan seperti ini sudah bukan waktunya memberi kepercayaan kepada pemerintah – oke, cukup sampai sini saja. Menutup pintu utama dan memastikan semuanya sudah terkunci, Hansol sedikit menoleh ke kanan dan kiri sejenak. Sudah lama ia tidak menginjakkan kaki di kediaman keluarga Lee. Lorong yang menyambungkan area bagian depan bangunan itu ke ruang tamu dan meja makan kembali dilihat oleh Hansol. Tangga menjalar ke atas untuk menemukan beberapa kamar pribadi milik ketiga bersaudara yang sudah tinggal bersama bertahun-tahun. “Hansol,” kepalanya menoleh ke arah tangga dan menemukan Chan yang sudah lebih tinggi beberapa sentimeter darinya, “Nyari siapa? Nggak ada orang di rumah.” Hansol terdiam sejenak seraya mengikuti Chan dari belakang. Sampai di mana ia baru sadar dengan kalimat yang baru saja didengar. “Kamu tau bang Jihoon ke klub?” tanyanya langsung, “Iya, dia ngomong sebelum aku pergi. Tapi emang nyusul, soalnya masih kerja kalo nggak salah pas kita pada mau pergi. Jangan nanya kenapa, dia disuruh pacarnya biar nggak pacaran sama kerjaan nya mulu,” jawab Chan sampai keduanya sudah berdiri di depan pintu kamar pribadinya. “Ih, kok nggak ada yang ngomong kalo abang kamu juga ke klub sih.” “Nggak penting juga. Emang dia ngapain?” “Nggak, tadi aku di chat aja sama dia.” Chan otomatis langsung memutar tubuhnya, “Chat apa? Dia ngomong apa?” intonasi yang keluar terdengar khawatir. Hansol mengangkat sebelah alisnya, krisis antara ingin memberitahu yang sebenarnya atau berbohong di tempat pun bergejolak di benak. Karena Hansol membangun setengah hidupnya dengan berbohong, maka dari itu ia memilih demi memastikan Chan tidak mengkhawatirkan nya, tidak di saat mereka sedang memiliki dunia hanya untuk berdua. “Nggak, dia nggak chat aneh-aneh kok,” balasnya seraya mengukir senyum simpul di bibir, menahan Chan agar tidak berkomentar lagi dengan mengecup bibir lelaki itu berkali-kali sampai kedua tungkai mereka berjalan masuk ke dalam kamar kekasihnya, “Aku mau ciuman lagi.” Tentu Chan tidak bisa menolak ajakan tersebut. Tidak di saat mereka sudah berbaring di ranjang empuk miliknya dan mempersatukan bibir masing-masing kembali jatuh di ciuman yang sudah ditahan. Hansol membuka mulutnya untuk membiarkan lidah Chan mendesak masuk. Kedua tangan bergerak mengusap kulit putih pucat sang kekasih di balik pakaian yang dikenakan. Mengingat ia belum melihat Chan tanpa menggunakan sehelai busana di malam ini. Seketika Hansol merasakan panas di sekujur tubuhnya. Kekehan kecil lolos dari bilah bibir Chan di sela ciuman mereka. Menggesekkan hidung mereka ke satu sama lain seraya mengecup bibir Hansol berkali-kali yang dihasilkan dari perasaan gemas. Hansol mengejapkan kedua matanya berkali-kali, bulu mata lentik yang terkibas lebih jelas dibanding di bawah sinar lampu redup di bilik toilet sempit barusan membuat Chan ingin berteriak di gelapnya malam. Sedikit dramatis tapi siapa yang menyalahkan nya? Di saat ia akhirnya merengkuh Chwe Hansol di dekapan. Chan sama sekali tidak bertemu dengan Hansol selama lelaki itu mulai berpacaran. Keduanya memang tidak bertukar kabar seperti biasa, hanya melalui teman-teman mereka, itupun jika salah satu dari mereka memang ingin mengetahui kabar masing-masing. Alasan mengapa Jihoon sangat sensitif dengan hubungan mereka dikarenakan Hansol sama sekali tidak ingin mengetahui kabar Chan. “Hansol,” panggil Chan lagi untuk mengambil atensi yang lebih tua. Hansol mengejapkan kedua matanya, menyadari bahwa ia baru saja melamun untuk beberapa detik. “Kamu mikirin apa lagi?” tanya nya dengan lembut, mengangkat tangan untuk mengusap pipi Hansol, “Kamu tuh bisa bohong ke orang lain yang nggak kenal kamu. Tapi kamu nggak bisa bohong ke aku.” Sebuah pernyataan yang valid dan Hansol seketika menyesal memutuskan untuk berbohong barusan, “Bang Jihoon ngeliat kita kah di klub?” pertanyaan yang membuat hati Hansol semakin mencelos di dalam benak, namun ia tidak memiliki pilihan lain selain menganggukkan kepala, “Yaudah, nggak apa-apa. Nanti tinggal dengerin ceramah dia kayak biasa. Apa dia bakal bawa-bawa abang kamu juga? Santai, aku telepon pacar-pacarnya.” Hansol tidak bisa menahan dirinya dari mengeluarkan tawa. Karena solusi itu bisa saja dilakukan oleh Chan dan output dari perlakuan tersebut juga kerap berhasil. Bagaimana Hansol tau? Karena ia juga sering melaporkan kakaknya kepada pacar-pacarnya. Sebuah perlakuan spesial kepada yang paling muda di pohon keluarga Choi. Chan membiarkan Hansol berbaring di dadanya. Menempatkan dagu di atas kepala sang kekasih seraya mereka terdiam sejenak di kamar tidur. Hansol mengabadikan suasana kamar tidur Chan yang sudah lama tidak ia singgahi. Beberapa benda masih berada di tempatnya dan sebagian sudah dipindahkan entah kemana. “Malem ini lucu juga ya,” gumam Hansol yang membuat Chan langsung tertawa mendengar pernyataan tersebut, “Lucu karena kamu akhirnya putus atau gimana? Atau faktanya kamu juga mau ke klub malem? Jujur, awalnya aku nggak mau ngajak demi apapun. Cuman liat lah temen-temen kamu yang aneh itu.” Hansol tidak memiliki opsi lain selain setuju dengan fakta tersebut. Karena lingkaran pertemanan mereka tidaklah lain dan jauh dari kata aneh. “Kayak, gimana ya, semuanya berlangsung begitu cepet aja sih. Aku juga udah lama nggak ngobrol sama cewek itu karena dia masih marah. Padahal aku juga udah sampe nanya kak Jeonghan gimana ngadepin pacar yang lagi ngambek, soalnya abang juga suka ngambek kan,” Chan menggelengkan kepalanya, “Abang kamu suka nggak bersyukur udah punya dua pacar. Tapi susah sih kalo mereka bertiga juga yang punya kampus. Jadi nggak heran banyak orang yang nerima-nerima aja. Gimana kalo kamu sama aku? Aku pasti yang bakal ditanya orang-orang,” Hansol langsung mengangkat kepala untuk menatap kekasihnya lekat-lekat, “Ih, bawel banget sih. Nggak usah ngomong-ngomong kayak gitu. Nanti aku yang bakal mastiin kamu nggak ditanya-tanya aneh-aneh. Orang aku cuman putus terus dapet pacar lagi. Kedengeran nya kayak aku jadi kriminal aja, kampus aja susah ngurus kriminal beneran.” Entah mengapa Chan terus memikirkan bagaimana reputasinya di hadapan orang banyak. Bukan mereka-mereka juga yang akan menentukan masa depan keduanya atau Chan sendiri. Hansol menghembuskan napas pelan dan menarik tubuh Chan agar duduk di pangkuan nya. Sedikit terkesiap karena ia tidak berekspektasi Hansol akan menarik tubuhnya. Kedua pandang mata mereka bertatapan di bawah sinar lampu kamar tersebut. Chan mengernyitkan dahi karena tidak ingin menatap mata Hansol di waktu seperti ini. Di mana ia merasa bersalah karena sudah berpikir seperti itu. Namun Hansol juga tidak ingin Chan berpikiran demikian di saat mereka sudah kembali bersama. “Udah, jangan pikirin yang belum terjadi. Nggak bakal terjadi malahan kalo aku ada di samping kamu,” bisik Hansol seraya menggesekkan hidung mereka ke satu sama lain. Aksi afeksi yang kerap dilakukan layaknya mereka berdua berlagak seperti seekor kucing. Namun anehnya, Chan mendapati kenyamanan yang tidak akan diterima dari siapapun selain Hansol. Menggenggam tangan Hansol erat-erat, Chan membalas dengan menganggukkan kepala, “Oke.” Bibir mereka kembali bertemu dalam satu ciuman lembut. Pelan-pelan, hanya terasa perasaan cinta yang mengalir di masing-masing peredaran darah tanpa harus ditahan oleh apapun lagi. Hansol mencium Chan dengan lembut, melingkarkan tangan nya kembali di pinggang sang kekasih. Menempatkan nya di bawah rengkuhan dan tidak akan dilepaskan lagi. Ciuman itu harus terlepas sejenak demi Chan untuk melepas pakaian nya. Melemparnya asal ke lantai kamar sebelum kembali mencium bibir Hansol. Deru napas pelan yang perlahan menjadi lebih cepat pun menggema di kamar. Sentuhan-demi sentuhan yang dikerahkan di permukaan kulit pucat Chan pun membara di tiap ujung jemari Hansol. Chan melenguh pelan di sela ciuman mereka. Merasakan kehangatan yang menjalar pelan-pelan ke sekujur tubuh dari sentuhan Hansol. Kedua pandang matanya dibiarkan tertutup sejenak, ciuman mereka terlepas untuk bibir Hansol kembali meninggalkan kecupan-kecupan di dagu maupun ceruk leher. Menarik tubuh Chan semakin mendekat di pangkuan seraya melingkarkan kedua kakinya erat-erat di pinggang. “Sayang, sayang,” panggil Hansol terdengar putus asa. Chan hanya bisa mendesah, membiarkan jemari-jemari lentiknya mengusap leher Hansol dengan lembut. Menengadahkan kepala kekasihnya itu agar kedua pandang mata mereka kembali bertemu, “Kenapa? Ah – nnnh… ciumin lagi. Kenapa berhenti, mas? Chan nggak seksi lagi, ya? Udah nggak bisa bikin mas tegang lagi?” kembali dramatis dan sukses membuat lelaki di hadapan nya harus mengernyitkan dahi tiba-tiba. “Nggak, siapa yang mikir kayak gitu? Nggak, sayang. Aku cuman mau minta sesuatu,” Chan berdehem pelan, menunggu permintaan itu, “Kamu bisa duduk di mukaku?” Keheningan pun menyelimuti kamar pribadi milik Chan. Entah mengapa mereka harus tiba-tiba jatuh ke dalam keheningan ini, bukan pertama kali pula Hansol meminta hal itu kepada Chan selama mereka bersama. Menekankan di mana Hansol memutuskan untuk bertanya kepada Chan terlebih dahulu, takut jika lelaki itu sedang tidak ingin melakukan hal tersebut. Namun, entah mengapa, Chan merasa benaknya hangat seketika. Saking hangatnya, pucuk kedua telinganya juga terlihat merah total. Pemandangan itu membuat Hansol menatap Chan dengan tatapan aneh, kebingungan lebih tepatnya. “Kamu kenapa tiba-tiba merah?” “Nggak, nggak apa-apa.” “Kamu malu aku mau makan memek kamu?” “Nggak gitu!” Wajah Chan semakin merah padam, sedangkan Hansol hanya bisa tertawa lepas. Dengan demikian, ia memberikan Chan waktu untuk mempersiapkan diri. Mengikuti laju yang ditentukan oleh kekasihnya, seperti biasa. Sebagai tamu di kamarnya, Hansol hanya bisa menghormati sang pemilik saja. Hansol pun ikut melepas pakaian yang dipakai dan juga celananya. Dilipat dengan rapi serta meraih pakaian Chan yang tergeletak asal di lantai agar ditempatkan di kursi terdekat. Sedangkan Chan sedang berada di kamar mandi. Sudah hampir 5 menit lelaki itu melakukan persiapan yang Hansol saja tidak tahu-menahu, namun ia membiarkan Chan melakukan apa saja. Saat Chan keluar, ia sudah tidak memakai sehelai benang apapun. Menempatkan celana yang ikut dilipat rapi di atas kursi sebelum menghampiri Hansol di ranjang empuk miliknya. Keduanya berciuman sejenak, Chan terkesiap sedikit merasakan tamparan halus di kedua bokongnya. Mengerang pelan dan berubah menjadi desahan saat jari-jemari besar Hansol mengusap liang bokong sempitnya. Perlahan Hansol pun didorong untuk berbaring di atas kasur. Chan bergerak menempatkan selangkangan nya di atas mulut Hansol sesuai keinginan sang kekasih. Menghembuskan napas pelan, mencengkram sandaran tempat tidurnya sebagai pegangan. Selayaknya ia berpegangan kepada benda itu seperti hidupnya menjadi taruhan. Jika ingin dibuat dramatis, Chan benar-benar sedang mempertaruhkan nyawanya saat ini. “Chan,” suara lembut Hansol menggema kembali ke dalam telinga Chan. Sedangkan Chan hanya membalas dengan pekikan kecil, hampir menjerit, walaupun tidak ada yang sedang menyakitinya. “Chan, liat aku,” panggil Hansol lagi. Chan pun menundukkan kepalanya, melihat Hansol yang hampir dihimpit oleh kedua kakinya, “Aduh, maaf banget, ini bukan waktu buat ketawa tapi kenapa lucu banget ya,” tuturnya menahan tawa, “Nah, gitu aja mikirnya. Jangan kayak aku mau makan kamu beneran, sumpah. Tegang banget ini badan kamu, aku takut kamu kenapa-kenapa.” Chan perlahan mengikuti perintah dari Hansol. Menutup kedua mata sejenak untuk mengatur deru napasnya. Menghirup dan membuang sirkulasi udara itu melalui hidung, lalu dikeluarkan dari mulut. Mencoba menenangkan diri atau ia akan menyesali ini semua di masa depan. Kedua matanya kembali terbuka saat merasakan kecupan-kecupan lembut di selangkangan nya. Lenguhan pun lolos dari bilah bibir, seraya membiarkan Hansol yang mengontrol pergerakan tubuhnya. Perlahan tubuh Chan semakin diturunkan sampai bibir memeknya menyapa bibir sang kekasih di bawah sana. Satu jilatan di memeknya cukup bagi Chan untuk hampir tersungkur ke depan. “Ah! Fuck –” jerit Chan seraya mencengkram sandaran ranjang itu sampai tangan nya memerah, “Hhah – Hansol, Hansol, Hansol.” Sedangkan Hansol sedang tidak di mode di mana ia akan mendengar racauan orang lain. Suara kecipak basah yang perlahan menggema di kamar tidur pun membuat Chan semakin mendesah panjang. Tubuh menggeliat di atas wajah Hansol namun pergerakan nya dibatasi karena lengan lelaki itu melingkar di pinggang Chan erat-erat, “Oh! Oh – oh my God… Hansol, Hansol, Hansol – fuck. Jorok banget… mas, mas, jangan – nanti aku muncrat. Aku nanti pipis, mas.” Seperti bagaimana ia berlaku di agenda ranjang, Hansol tidak mendengar rengekan tersebut. Sebaliknya, Hansol membiarkan Chan sampai mencapai puncak orgasme. Merasakan tubuh sang kekasih bergetar pelan di bawah tiap sentuhan nya. Cairan orgasme yang menetes keluar dan jatuh ke dalam rongga mulutnya, sama sekali tidak membuat Hansol terbesit hal-hal lain. Di dalam pikiran nya hanya ada Lee Chan, Lee Chan, dan Lee Chan; sebagaimana mestinya sejak awal. Jeritan Chan pun menggema di kamar tidurnya. Cairan orgasmenya ikut membasahi selangkangan dan bibir memeknya, sedangkan Hansol memastikan tiap tetesan itu tidak menyentuh sprei ungu yang menjadi alas tidur mereka nantinya. Chan membiarkan kepalanya terjatuh di atas sandaran ranjangnya. Deru napas yang terdengar lebih berantakan dari biasa ikut terdengar, dada Chan bergerak naik-turun, masih mencoba untuk mengambil napas sebanyak-banyaknya. Hansol menjilat memek Chan sampai tidak meninggalkan sisa-sisa lengket di sana. Chan mengerang pelan saat jari-jemari Hansol mendesak masuk ke dalam liang memeknya. Bergerak menyodok sampai dalam, hampir membuat tubuhnya tersungkur ke depan. Puncak orgasme yang sepenuhnya belum turun itu harus kembali naik. “Hhahh – ah, mas, mas,” Chan merengek pelan lagi, meneteskan air mata yang jatuh membasahi bantal di bawahnya, “Hnn… ganti posisi, mas. Aku nggak mau dikobel di posisi ini.” Kedua alis Hansol mengernyit, kegiatan nya pun terhenti sejenak. “Mau gimana, sayang?” tubuh Chan diposisikan untuk kembali duduk di pangkuan nya, “Mau gimana? Mau gimana? Aku turutin.” Wajah Chan otomatis kembali memerah sempurna, sudah telat baginya untuk mencari tempat persembunyian, “Mau sambil ngangkang aja, mas. Sambil ciuman, nanti langsung masukin aja. Nggak usah pake kondom juga, aku nggak bisa hamil.” “Bukan nya maunya hamil anak mas?” “Ih, kata siapa? Ngawur.” “Oh, bentar, mas buka video-video kita –” “Ihhh! Jangan! Bisa nggak sih serius dikit? Mau ngentot kita ini, ampun.” Tawa mereka kembali terdengar di kamar tersebut. Chan meraih wajah Hansol untuk mempertemukan kedua bibir mereka. Berciuman lembut seraya mengusap pipi dan merapikan helai rambut Hansol yang sebagian sudah hampir menutupi pandangan matanya. Hansol menggigit bibir bawah Chan, berniat untuk jahil, dan kekasihnya kembali mengerang protes karena hal itu. Saat jari-jari Hansol kembali mendesak masuk ke dalam memek Chan dengan posisi kedua kakinya yang kini sudah terbuka lebar, desahan pun lolos dari bilah bibir merahnya. Air liur sudah keluar membasahi area mulut Chan. Membuka kedua kaki lebar-lebar untuk memberi ruang yang cukup bagi tubuh Hansol. Lelaki itu sedang sibuk meninggalkan kecupan-kecupan lembut di tiap bagian tubuh Chan yang terekspos di hadapan mata telanjang manusia biasa. Bekas-bekas gigitan di leher, pundak, dan dadanya pun terlihat jelas. Hansol menghisap kedua pentil tegang milik sang kekasih dengan rakus. Alhasil Chan tidak memiliki pilihan lain selain menengadahkan kepalanya ke belakang. Merasakan tiap gesekan jemari Hansol yang lebih besar bergerak semakin cepat di dalam tubuhnya. “Hhh! Fuck, fuck, fuck – mas, mas, mas, mau muncrat lagi,” rengek Chan di sela deru napasnya yang berantakan. Hansol tidak pernah mengecewakan jika sedang menggerakkan jari-jarinya di dalam tubuh Chan. Sampai ia merasakan tubuh Chan menegang sempurna, meremas pundak telanjangnya, bahkan menenggelamkan kuku-kuku panjang itu untuk meninggalkan bekas yang tidak bisa ditutupi oleh merk rias wajah apapun. Puncak orgasme Chan pun kembali tercapai, merasakan tubuhnya langsung melemas di atas ranjang empuk itu, “Ahhh… hahh… nnh. Lemes banget… fuck, aku nggak bisa jalan besok.” Hansol hanya membalas dengan mengukir seringaian kecil di bibir. Mempersatukan bibir mereka kembali, menghirup tiap oksigen yang dihembuskan oleh Chan dari rongga mulutnya. Mengusap ceruk leher sang kekasih seraya menggesekkan kontolnya di memek lelaki itu. Menelan semua desahan yang keluar dari mulut Chan sebagaimana seharusnya. Chan terkesiap kecil saat merasakan Hansol mulai mendorong kontolnya masuk kembali ke dalam memeknya. Perasaan sensitif yang dirasakan belum sepenuhnya hilang dan memeknya sudah harus kembali merasakan suatu hal didesak masuk ke dalam. Chan terpaksa harus melepas cumbuan mereka, menjerit pelan saat merasakan kontol besar Hansol mulai bergesekan dengan titik kenikmatan nya. Air mata pun jatuh membasahi pipi merahnya dan Hansol dengan sigap menyeka dengan mengerahkan ujung ibu jarinya. “Nangis karena saking enaknya?” bisik Hansol dengan seringaian di bibir. Chan mengerucutkan bibir, hendak mengeluarkan rentetan protes namun pergerakan kontol Hansol mematahkan segala niatnya. Dengan demikian, hanya ada desahan-desahan keras yang akan didengar oleh Hansol saat ini. “I can make you cry even more, a happy one, of course,” bisik Hansol seraya menggesekkan ujung hidungnya di pipi Chan dengan lembut, “I love you, Lee Chan.” Terdengar terlalu terburu-buru, namun perasaan itu yang selama ini sudah dirasa oleh Chwe Hansol. Memang tidak salah bagi orang-orang untuk memiliki perasaan suka dalam platonik kepada beberapa orang. Namun tidak kepada Lee Chan, setidaknya bukan dari perasaan seorang Hansol. Selama ini ia memang menyukai Chan dengan intensi romantis, hanya saja mungkin kemarin-kemarin belum waktunya; ditambah Hansol juga sedikit tidak terlalu pandai mengerti hal percintaan, tidak bisa dimaklumi. Kegiatan bercinta mereka berlangsung sampai larut malam. Entah berapa posisi yang sudah dilakukan oleh keduanya. Karena masing-masing dari mereka sudah dimabuk oleh euforia afeksi yang dikerahkan kepada satu sama lain. Sama sekali tidak mengganggu tetangga kanan dan kiri, toh, tidak ada orang lain selain mereka berdua di dalam rumah tersebut. Puncak euforia mereka tercapai bersama-sama saat Hansol kembali memenuhi liang memek Chan dengan cairan pejunya. Mengusap permukaan perut sang kekasih, merasakan kontolnya bergerak di bawah kulit itu. Sedangkan Chan sudah terkulai lemas di ranjang, meremas bantal yang menjadi sandaran nya dengan lemas. Kedua mata berguling ke belakang merasakan kontol Hansol yang masih bergerak di dalam memek, menumbuk titik kenikmatan nya tidak henti-henti sampai terisi penuh oleh cairan kental milik orgasmenya. Bisikan yang lolos dari mulut Chan membuat Hansol memicingkan atensinya di tengah gairah bercinta. “Chan –” 
“I love you, I love you –”
 “Chan, sayang.”  “I love you, I love you,” bisik Chan berkali-kali. Hansol menurukan tubuhnya untuk mendengar lebih jelas tiap bisikan Chan yang keluar dari mulut. “I love you, I love you,” tutur Chan lebih jelas terdengar di telinga Hansol, “I love you, Hansol.” Kalimat itu tentu berhasil mengukir senyum tipis di bibir Hansol, “I love you too, sayang.”  Always have been, lanjut Hansol dalam hati. Sampai di mana mereka berdua berbaring mendekat ke satu sama lain menuju alam mimpi, wholeheartedly.

↑ Top · Fandoms