Actions

Work Header

Dari teman kabur jadi

Entire Work

Work Text

“Jen, ikut nongkrong gak?” Jeno yang sedang fokus memeriksa berkas di tangannya kemudian menoleh ke sumber suara. Aheng, sobat karibnya sedari SMA sedang membawa segelas kopi di tangannya sambil menyerahkan ponsel—ingin menunjukkan sesuatu. Ah, ternyata grup tongkrongannya memang sedang ramai karena Haechan mengajak mereka untuk kumpul. “Gue tanya Mark dulu deh ya,”“Oh iya, lupa gue. Lu pada kan udah nikah ya,” “Yowis, izin dulu yang bener sama suami ya dek,” Wajah Jeno bersemu merah, menyuruh Aheng untuk segera kembali ke tempat duduknya. Jeno dan Aheng memang satu tempat kerja, Posisi yang saat ini Jeno tempati tidak lain dan tidak bukan memanglah rekomendasi dari Aheng. Oh, tapi bukan itu masalahnya, Jeno buru-buru mengecek ponsel untuk membuka grup, Haechan menandai semua orang untuk membaca pesannya, dan bisa ia lihat bahwa suaminya sudah menolak secara halus, ‘next time ya Chan, lagi tugas keluar kota nih.’ Sebenarnya, Jeno ragu untuk bertanya kepada Mark apakah ia boleh ikut nongkrong atau tidak. Ia merasa segan jika harus pergi tanpa Mark, namun di sisi lain, sudah lama sekali ia tidak ikut acara kumpulan seperti ini. Terlebih Mark masih melakukan perjalanan bisnis diluar kota, jadi kalau ia pulang ke rumah pun akan tetap merasa kesepian. Akhirnya lelaki itu memberanikan diri untuk mengirim pesan pada suaminya. YouMarkGue mau ikut yang lain kumpul boleh gak? Mark Lee (suami)Kalo gue udah pulang aja YouLama dongPengen mainnya sekarang Mark Lee (suami)Dua hari lagi Jen wkwkKangen banget ya lo sama gue YouOGAAAH Mark Lee (suami)Yee malu-malu kucingTapi seriusan Jen, nanti aja ya? pas udah pulang gue ajak anak-anak main deh You😟Aku kesepian banget kalau di rumah Mark… takutJanji gak bakal sentuh minum atau apalah itu pretty pleaseee? 🥺 Mark Lee (suami)You always know my weakness and use it as your weapon.Fine, boleh kumpul, tapi pulang gak lebih dari jam 11. No alcohol.Oh satu lagi, use your pheromone suppresant dulu YouAY AY CAPTAIIIN terimaaci Mark suamiku paling ganteng Tidak ada balasan lagi, Jeno berasumsi mungkin Mark akan akting muntah saat melihat jawabannya. Jeno pun sama, setengah merinding saat menulis kata-kata itu. Here’s the thing; Mark dan Jeno adalah sobat karib sedari SMA, sedari kecil malah. Rumah mereka masih satu komplek, hanya beda beberapa blok saja. Mark lebih tua satu tahun dari Jeno, tapi karena terlambat daftar sekolah, ia menjadi satu angkatan dengan Jeno. Hal itu tentu membuat mereka sangat amat dekat, Mark sering mengunjungi rumah Jeno untuk bermain PS, pun Jeno yang sering pergi ke rumah Mark untuk bermain alat musik.Bahkan saat Mark dan Jeno mengetahui second gender mereka, mark merupakan seorang dominan alpha dan Jeno seorang omega. Sebuah kombinasi yang menurut beberapa orang jadi akan canggung untuk berteman, namun tidak ada satupun yang berubah dari mereka. Bagi Mark, Jeno adalah bayi kecil yang sering merengek saat ia jahili dulu, dan bagi Jeno, Mark hanyalah abang-abangan usil yang senang mengambil mainannya. Tidak ada seorangpun yang mengira bahwa akhirnya mereka akan menikah. Mark dan Jeno pun berpikir seperti itu. Pernikahan mereka bermula dari Jeno yang berkali-kali dicampakkan mantan pacarnya, meskipun Jeno memiliki wajah rupawan, orang seringkali mengira Jeno adalah seorang alpha karena perawakan tubuhnya yang besar. berkali-kali Jeno diputusi dengan alasan klise; ia tidak tampak seperti omega. Mark yang saat itu sudah amat lelah mendengar rengekan Jeno lalu iseng berkata; “Yaudah, nikah sama gue aja.” Jeno awalnya mengira itu hanya lelucon belaka, namun Mark benar-benar menunjukkan keseriusannya. Belum lagi fakta bahwa Mark pernah bercerita pada Jaemin—teman tongkrongan mereka, bahwa Mark memang sudah lama menyukai Jeno. Namun ia memilih untuk tidak menyatakan perasaannya karena saat itu Jeno tampak bahagia dengan pacar barunya, atau Jeno memang tidak melihatnya sebagai seorang ‘alpha’ dan hanya sebatas teman akrab, Mark tidak ingin ambil resiko. Namun sikap Mark yang menjadi lebih lembut membuat Jeno luluh, dan singkat cerita mereka akhirnya menikah. Tentunya, banyak hal yang masih perlu dibiasakan dengan status baru mereka. Memanggil pun masih nama, mereka masih menggunakan ‘lo-gue’, dan sebagainya. Tapi mereka berdua memutuskan untuk menjalani hubungan ini dengan santai, hal-hal seperti panggilan, sikap pada satu sama lain pasti akan berubah seiring berjalannya waktu. “Aheng, Gue jadi ikut ya, nanti gue nebeng.” merupakan isi pesan yang Jeno kirim kepada Aheng.“Feromon lo nyengat banget Mark, lagi ada masalah?” Jung Jaehyun, teman kerja sekaligus kakak kandung Jeno menyadari perubahan feromon yang berbeda dari adik iparnya. Mereka adalah rekan satu kantor, dan kebetulan ditugaskan untuk melakukan perjalanan bisnis bersama keluar kota bersama. Mereka sedang istirahat sambil menyantap makan, namun Jaehyun merasakan perbedaan atmosfer yang cukup intens ketika Mark membuka ponselnya. “Jeno buat masalah, Mark?”“Engga sih bang, lagi pengen nongkrong aja anaknya tapi gak gue izinin,”“Tumben? nongkrong sama temen-temen yang biasanya kan?”“Iya. Tapi kan gak ada gue, bang. Tau sendiri Jeno toleransi alkoholnya jelek, gue takut dia kobam.”“Ada Aheng, Haechan, sama yang lain kan?”“Duh bang, they’re alphas.” Jaehyun yang tadinya kebingungan kini tertawa, “You’re jealous right?”
“wajar dong? i’m his husband, his alpha.”
“Iya iya, wajar kok Mark.” Jaehyun bisa disebut sebagai salah satu orang yang melihat perkembangan Jeno dan Mark secara langsung, sedari dulu, Jaehyun memang merasakan aura berbeda yang diberikan Mark kepada sang adik. Ada rasa ingin mendominasi dan posesif yang timbul ketika Mark sedang bersama Jeno, dan ia tidak bodoh untuk mengetahui kalau Mark memang sangat amat menyukai adiknya. Ia adalah satu-satunya orang yang tidak terkejut atas kabar pernikahan Mark dan Jeno. “Tapi diomongin baik-baik ya Mark, adek gue suka ngambek soalnya,”“Pasti bang, udah gue izinin kok asal dia gak nyentuh alkohol dan pulang terlalu malem.”“Thanks ya Mark udah mau sabar sama Jeno.”“Udah kewajiban gue kok, bang.” Setelah selesai makan, mereka memutuskan untuk kembali ke kamar. Acara akan berlanjut nanti malam, jadi Jaehyun berpesan untuk menyimpan sisa tenaga agar nanti malam tidak terlalu kelelahan dan tetap fresh saat bertemu klien. Di kamar, Mark membuka roomchat pribadinya dengan Jeno, ternyata suaminya itu mengirimkan foto. 
‘Gue berangkat bareng Aheng, nanti dikabarin terus.’
 Mark mengirimkan emotikon jempol sebagai tanda mengiyakan pesan Jeno. Namun entah mengapa, ia merasa sedikit kesal dengan aheng, ini tidak biasanya terjadi, ia dan Aheng selalu berkomunikasi dengan baik, dan ia juga tau bahwa Aheng sudah memiliki pasangan. Namun tetap saja timbul rasa kesal ketika melihat seorang alpha ada disamping Jeno-nya, omeganya. “Mark?”Pintu kamarnya diketuk “Ini Jaehyun. Gue mau pinjem charger,”“Oit bang.” Mark mengambil chargeran dan membuka pintunya, Jaehyun sudah di depan pintu, namun pria itu langsung menutup hidungnya saat Mark muncul. Hal itu tentunya menimbulkan rasa heran bagi Mark. “Mark, control your pheromone, please? jangan bilang lo lagi rut?”“Am i? gue ngerasa biasa aja.”“Feromon lo kuat banget, coba cek lagi kalender lo, gue ambilin supressant dulu di kamar.” Jaehyun berjalan ke arah kamarnya untuk mencari supressant yang biasa ia bawa, sedangkan Mark buru-buru membuka ponselnya dan mencari kalender. Sial. Jaehyun benar, rut-nya datang sebentar lagi. Mark benar-benar melupakannya karena terlalu sibuk bekerja dan harus mengurus Jeno. Perkiraannya sih 3 hari lagi, namun bisa saja meleset—melihat gejala yang ada di tubuh Mark sudah seperti rut. Kakak iparnya datang lagi untuk memberikan suppresant kepada Mark. Menyuruh sang adik ipar untuk langsung meminum pil kecil tersebut. Sebagai orang yang melihat Mark tumbuh dewasa, sedikit banyak Jaehyun tau bagaimana harus menangani alpha leo itu. Saat melihat Mark yang tampaknya sudah lebih stabil, Jaehyun mengirim pesan kepada atasannya untuk memberitahu kondisi Mark, karena tidak mungkin lelaki itu akan tetap mengikuti perjalanan bisnis dengan kondisi seperti ini. Untungnya, kantor mereka sendiri mempunyai cuti untuk omega yang heat maupun alpha yang rut, jadi harusnya tidak terlalu susah untuk membuat pengajuan pulang. “Mark, kata mbak Irene pulang aja. Pak Pram bisa nganter sampe rumah.”“Bang… ngerepotin gak? nanti yang back up gue siapa?”“Yaelah Mark, ada banyak kali, gue ada, Johnny ada, Mbak Seulgi juga ada. Sekarang lo balik aja ke rumah, bikinin gue keponakan.”“Sinting.”  Jaehyun tertawa, ia juga membantu Mark untuk membereskan barangnya yang ada di ruangan tersebut. Mengingat suppresant akan menimbulkan reaksi yang berbeda-beda di setiap pengguna, Jaehyun mengimbau Pak Pram—supir kantor mereka untuk segera mengantar Mark pulang. Untung saja perjalanan bisnis kali ini tidak begitu jauh, jika tidak macet, harusnya dua jam saja Mark sudah sampai. “Mbak Irene, bang Jaehyun, gue pamit pulang ya. Kalau ada yang bisa gue bantu kerjain dari rumah, langsung kontak gue aja.”“Malas. Udah sana pulang, gak usah mikirin kerjaan dulu, bikinin kita keponakan aja.”Mark terkekeh mendengar jawaban Irene, “Doain aja ya, mbak.”Jauh dari perkiraannya, Jeno malah tidak enjoy dengan acara kumpul kali ini. Ada sesuatu yang rasanya mengganjal dan membuatnya tidak nyaman. Ia sudah memakai suppresant yang memiliki fungsi meminimalisir feromonnya untuk keluar, namun ia merasa tetap ada mata yang mengawasinya. Seakan ingin menggodanya atau hal-hal semacamnya yang membuat Jeno tidak nyaman. Lelaki itu mendekatkan dirinya ke arah Renjun, sesama omega yang juga pasangan Haechan. Renjun menyadari sikap aneh yang tidak biasanya Jeno lakukan, “Jen, you okay?”“Gak tau Jun, gue ngerasa ada yang ngeliatin… terus walaupun disini rame…” Jeno tercekat. Menyadari apa yang hampir diucapkan lidahnya. Renjun tersenyum, seolah mengerti meskipun Jeno tidak bilang secara gamblang. “Kangen Mark ya, Jen?” Jeno menunduk dengan telinga yang memerah. Hal itu sontak membuat Renjun tertawa. Pernikahan Mark dan Jeno adalah topik yang seringkali menjadi bahan lelucon di tongkrongan mereka, berbeda dengan Haechan dan Renjun yang sedari awal menunjukkan ketertarikan pada satu sama lain, Mark dan Jeno terlihat seperti kawan biasa yang tiba-tiba menikah. Tapi Renjun amat sangat paham, entah bagaimana cara bertemunya, cara menjalin hubungannya, omega yang telah terikat dengan alpha pasti akan merasa lebih manja pada pasangannya. Mungkin Jeno juga seperti itu, terlebih ia sedang ditinggal Mark keluar kota, pasti sebenarnya Jeno rindu—namun malu untuk mengakuinya. “Mau gue anter pulang aja, gak?” Mata Jeno langsung berbinar,“Boleh? Renjun gapapa antar Jeno?” Renjun tertawa kecil dan mengangguk. Ia paham sekali kenapa Mark seakan jatuh cinta mati dengan Jeno.“Pamitan dulu sama yang lain, nanti gue pinjem mobilnya Echan.” Dan begitulah, Jeno akhirnya pamit pada semua orang disana. Renjun yang berada di belakangnya memberikan tatapan menyeramkan—memberikan isyarat sebelum ada yang iseng bertanya kenapa Jeno tiba-tiba ingin pulang. Untungnya, tempat mereka nongkrong tidak jauh dari rumah Jeno, jadi tidak butuh waktu lama agar ia segera sampai di tujuan. “Jen, di depan rumah lo kayak ada mobil deh,”“Loh… siapa ya? Mark gak bawa mobil,”“Yaudah bentar kita ngedeket,” Renjun memarkirkan mobilnya di dekat mobil berwarna hitam itu, kemudian turun lebih dahulu daripada Jeno. Meskipun perawakan Renjun imut mungil seperti omega kebanyakan, ia sesungguhnya amat berani dan jago berkelahi, Jeno sekarang bersembunyi di belakang Renjun, takut-takut kalau itu adalah orang aneh. “Mark?” Renjun bergumam, membuat Jeno mengintip ke depan.“Lah, udah balik lo Mark?” Mobil hitam itu ternyata mengantar Mark. Jeno yang tadinya takut-takut kini mendahului Renjun untuk mendekat, membuat alpha dengan perawakan tinggi itu menoleh. Itu betulan Mark. Jeno tidak bisa menahan senyumnya dan berlari memeluk Mark. “Mark!”“Lo gak ngasih tau gue kalau pulang cepet? katanya pulang dua hari lagi!” Jeno masih dikerubungi rasa senang, Sedangkan Mark yang baru datang langsung memeluk Jeno, menciumi muka hingga leher omega tersebut. Jeno berusaha menjauhkan diri dari Mark, oh ayolah! kegiatan mereka ini dilihat Renjun yang masih diam di tempat—ia tidak tau apa yang harus dilakukan. Namun semakin Jeno berontak untuk lepas, semakin keras pelukan Mark diberikan. Wajah Jeno bersemu merah, ia kemudian mengisyaratkan Renjun untuk segera pulang saja. Jeno memberikan gestur terima kasih dan lambaian tangan, ‘Hati-hati!’ tanpa suara karena ia sungguh kesusahan bicara—sebab mulutnya dibungkam oleh bibir Mark. Di sela-sela itu, ponsel Jeno bergetar, pesan masuk. Bang JaehyunDekMark tadi dipulangin Udah masuk gejala rutTadi udah minum suppresant, tapi abang gatau berapa lama itu bakalan works di diaKabarin abang kalau Mark udah sampe, buat laporan ke atasan Oh. OH. Pantas saja. Jeno langsung memasukkan ponselnya ke dalam tas. Berupaya keras menangkup wajah Mark dengan tangannya, membuat kedua mata mereka bertemu. Mata Mark sudah sayu, dapat Jeno lihat bahwa Mark tidak sepenuhnya dalam kondisi sadar. “Mark…”“You can eat me whenever you like, tapi di dalem ya? malu kalau disini. Nanti diliat tetangga.”Setelah susah payah membuka pintu, mereka akhirnya tiba di dalam rumah. Mark langsung mencumbu ganas bibir Jeno—mengajaknya ciuman brutal dan perang lidah, hingga Jeno memukul dada Mark, memberikan tanda kalau ia sudah kehabisan napas. Jeno mengambil napas seakan tidak ada lagi oksigen di sekitarnya, wajahnya merah sepenuhnya dan ada sisa saliva di ujung bibirnya akibat ciuman brutal yang Mark lakukan. Ah. Mark yakin ia sudah sepenuhnya gila. “Jeno,”“iya?”“Sayangku,”“Kenapa?”“Omegaku,”“Mark…”“Cantikku, aku gak tau nanti bisa sepenuhnya sadar atau engga. kalau nanti aku kelewatan, langsung tonjok aku aja ya—seperti yang aku ajarin kalau ada alpha brengsek yang jahatin kamu.” Inilah salah satu alasan mengapa Jeno jatuh cinta pada Mark. Di saat seperti ini, alphanya itu masih meminta consent dari Jeno untuk menyentuh omeganya sendiri. Bahkan, Mark menyuruhnya untuk memukul dan menyadarkan lelaki itu jika memang sudah berlebihan. Jeno mengalungkan tangannya di leher Mark, menjilat sensual telinga lelaki itu sebelum berbisik; 
“It’s a honour to serve you, alpha. So please, do me as you like.”
 Dan setelahnya, Mark menggendong Jeno ke kamar mereka, melempar Jeno ke arah kasur—menelanjangi omega itu, kemudian berdiri di samping kasur sembari membuka bajunya sendiri dan menunjuk ka arah celananya. “Open and lick, Jeno.” Jeno dengan ragu membuka celana Mark beserta dalamannya, dan hal yang terjadi adalah penis besar Mark yang muncul dan menampar pipi Jeno. Gila. Jeno rasa ia bisa gila. penis Mark belum sepenuhnya keras, namun sudah besar sekali—jangan lupakan wangi khas kelamin yang entah mengapa malah membuat Jeno lebih terangsang. Jeno menatap mata Mark, seakan meminta penjelasan ‘kenapa bisa sebesar ini?’ namun sudut pandang Mark melihat hal yang berbeda—di bawahnya, Jeno dengan tatapan sayu seakan meminta untuk segera dipuaskan. Mark mengocok penisnya sendiri kemudian menamparnya ke arah mulut Jeno. “Aku bilang jilat, sepongin, gitu aja gak ngerti. Udah jadi anjing bodoh, kamu?”“E-enggak… Tapi kenapa jadi lebih bes—HUUFFF—MAWKK…”“Berisik, Jeno. Mulut kamu ini sekarang fungsinya cuma buat sepongin kontolku, ngerti?”“Nghh-ngertii Mark.” Mark menarik rambut Jeno dan menuntun mulut kecil sang omega untuk mengulum penisnya. Bisa Mark rasakan bahwa Jeno masih seorang amatir, kadang giginya masih terkena kulit penis Mark, namun itulah yang menimbulkan sensasi tersendiri bagi Mark. “Sepongin yang bener, anjing! nghh gigi kamu jangan kena—Ahhh bangsaat pinter banget, emutin lagi sayang lobang pipisnya.”“Pinter banget sayang, uhhh mulut kamu sempit banget… iya mainin juga pake tangan, AHHHH pinter banget anjinggg!”“”Mhawkk—ufhhh ufdaaah!” Mark seakan tuli, tangan kirinya dipakai untuk menarik rambut Jeno, membuat penisnya masuk lebih dalam ke tenggorokan sang omega, sedang tangan kanannya digunakan untuk memainkan puting Jeno. Di bawahnya, Jeno sudah terisak, air matanya sudah menumpuk di sudut mata dan liurnya menetes. Hal itu membuat Mark menggila, ia akan sampai—penisnya membesar di mulut Jeno, membuat lelaki itu panik dan memukul-mukul paha Mark. “AHHH Terus! Sepongin terus yang bener, Jen! Aku bentar lagi keluar.”“mHArk—Markkhh…”“Jangan banyak ngomong bangsat! kulum aja yang bener—AnGHH.. AHHH.” Sekali lagi Mark menarik rambut Jeno dan menghentakkan penisnya di mulut sang omega, setelahnya bisa Jeno rasakan ada cairan kental yang mengalir di tenggorokannya. Mark mencabut penisnya, membiarkan sisa spermanya mengotori bibir dan muka Jeno. “Telen pejunya, jangan sampai kesisa.”“Iya, alpha…”“Oh my sweet omega, cantik banget kamu kalau dikasih peju aku kayak gini.”“Aku pejuin terus ya nanti? aku keluar di setiap inchi badan kamu, di dalem kamu, bikin kamu kembung sama peju aku, sampai kamu hamil anak-anak aku,”“ngHH—Jang-Janganhh dimainin terus pentil akunya,”“Biarin sayang, biar nanti kamu siap nyusuin anak kita. Duh, kok bagian bawahnya basah gini sih?” Tangan Mark menjalar ke bagian bawah Jeno, meraba vagina sang omega yang sudah sangat tegang, awalnya hanya usapan-usapan halus, namun akhirnya tak sabar dan memasuki liang Jeno. tangan yang satunya juga masih aktif memainkan puting Jeno. “Kamu sebecek ini karena mau aku entot, ya?”“Kok makin banyak keluar slick-nya? suka kamu dikasarin? dikata-katain pake bahasa jorok? di depan orang-orang ramah dan malu-malu, tapi kalau di depan suaminya sendiri malah jadi lonte ya Jeno? pengennya diewe terus, iya?”“ANGHHH—enggaaaa…Mark… pleashhh..”“Please what, babe?”“Gatel…” Jeno sudah mulai merengek“Apanya yang gatel?”“Bawahnya Jeno gatel…”“Bawah mana Jeno? sebutin yang jelas!”“Lubang aku gatel! mau—mau kontol kamu di dalam memek aku, nanti keluarnya didalem, hamilin aku, ewein aku terus—Aduh—Mark.. pelan..AHHHH!” Jeno keluar. Lebih banyak, membuat feromonnya semakin menguar. Mark tersenyum culas, merasa tinggi karena telah membuat omeganya keluar dengan pegitu cepat. “Lebarin kakinya coba. Tunjukin mana memek kamu yang pengen dipejuin itu.” dengan sisa tenaga yang tersisa, Jeno membuka kainya lebar-lebar, menampakkan paha yang mulus dan vagina yang sudah basah akan cairan cintanya— 
PLAKKK!

PLAKKK!
 “AHHH—AMPUUUN SAKIIT!!”“M-markkhhh satu jari dul-UHHH,” Lidah Jeno menjulur keluar ketika Mark langsung memasukkan tiga jarinya ke dalam vagina Jeno, lagi—Mark yang sudah tidak dalam kesadarannya sekaan tuli dan memasukkan jarinya dengan lebih cepat. Keluar, masuk, keluar, masuk, keluar, masuk. Begitu terus, ia tersenyum bangga saat Jeno mendesah dengan keras. “AnGHHH Ahhh nghhh Markhh jang-AHHH jangan dalem-dalemhhh,”“AHHH iyAAH disituhhh nghh LAGIII…”“Markhh aHHH itilnya, mainin juga itilnya uhhh huh IyAHH mainin terus itil Jenooo,”“Rojok lagi huhuhuu pleaseee AHHH iYAAAH rojokin terus memek akunyaaa.” Tak berselang lama, Jeno keluar. Cairannya sangat banyak hingga membasahi kasur. Jeno sudah ambruk, ia sudah merasa lemas sekali. Melayani Mark di hari biasa saja terasa sangat melelahkan karena lelaki itu memiliki stamina tinggi, ini kali pertama ia menemani Mark yang sedang dalam rut-nya. Berbeda dengan Mark yang lemah lembut dan selalu memastikan Jeno nyaman, kali ini Mark seperti menunjukkan kepribadian yang 180 derajat berlawanan, kasar, semena-mena, dan ucapannya sangat frontal. Namun Jeno malah lebih menikmati ini semua, entah mengapa itu semua malah membuatnya lebih terangsang. Mark tidak repot menunggu Jeno menikmati pelepasannya. Lelaki itu langsung membalikkan badan Jeno, mengocok sekilas alat kebanggaannya sebelum dimasukkan ke dalam lubang Jeno, “ANGHH! Penuh-UHHH Sebentar! Markhhh jangan masuk duluuu,”“Jangan manja, Jeno, ini belum sampai setengahnya,”“bangsatt—ahhh sempit banget lontee,”“Uughh Mark Mark Markk…” Jeno terus mendesah dan memanggil nama Mark ketika lelaki itu memasukkan kejantanannya ke dalam Jeno. Bohong jika rasanya tidak sakit, air mata berlinang di pelupuk mata sang omega, punggung Mark sudah menjadi sasaran empuk pelampiasan rasa sakit Jeno. Namun Mark tidak peduli, yang ia pikirkan adalah Jeno, hanya Jeno, ia menghamili Jeno. “Memek kamu sempit banhet bangsaat jepit kontol aku banget.”“Jeno sialaaan anghh jangan dulu diketatin sayang,”“Markhh UHHH Masuk ke dalem, terla—Anghh masuk dalem banget…”“Gapapa sayang, biar cepet ada dedek bayinya, Ahh sempit banget anjingg memeknya, kamu tuh harusnya dikontolin setiap hari, aku masukin lobang kamu sampe melar, sampe kamu inget bentuk kontol aku, yang ada di pikiran kamu cuma kontol aku, ngemis-ngemis supaya diewein, mau ya?”“Anghhh IYYAHh!! Jeno mauuHh dikontolin terus Mwarkk AGHH ITUU—diSItuu, kontolin lagi rojokin terus Jenoo disituhhh Aghh besar banget alphaa urat kamu berasa di memek aku,”“Please—hhh Ughh CEPETIIN Masukin kontolnya yang dalem-hhh enyakkkhh iyaaHH teruush, keluarin di dalem jenoo, Hamilin Jenooo!! jeno mau hamil anak Mark! Nanti UHHH kalau lagi hamil juga mau diewein, mau dipake terus sama Mark, nanti Mark ngewein Jeno sambil nyusu—ahhh”“Lonte.” Mark menunduk, mempercepat gerakan di bagian bawahnya hingga yang keluar dari bibir Jeno hanyalah desahan yang diiringi dengan kata ‘cukup, penuh, mentok’. Tangan sang alpha meraba perut omeganya, merasakan bagian yang menonjol dan menekannya, Jeno terbelalak, merasakan sensasi baru “Janhh—janganhh diteken Markk, Aghh—Mau pipishhh… Mark.. Jeno aneh, rasanya kayak mau pipisss!! HIkss lepasinn! hikss lepashh!”“Biarin sayang, pipis aja. keluar bareng ya?”“EngGGAKK! AHH ahh JAngan dikerasinn AnGHHH Mau pipishhh jangann.. JEno KELUARRR!!”“ahhh sempit banget sayang,”“Mark.. Mark Jeno minta maaf udah pipis, Mark… di dalem kenapa jadi tambah besar? Mark… sakit, keluarin. Jeno linu.” Jeno memeluk Mark erat-erat, tiga tusukan dan Mark menyemburkan spermanya di dalam Jeno. Sang alpha menggeram, bagian bawahnya terasa amat becek karena cairan Jeno dan pipisnya, ditambah spermanya yang masih terus keluar. Mark menatap wajah Jeno, matanya amat sembab, wajahnya kemerahan dan rambutnya berantakan. Sangat cantik. Ingin Mark isi terus menerus, Mark buahi hingga hamil anaknya. Sang omega tampak lemas dan linglung, mengaduh merintih bahwa bagian bawahnya masih terasa sakit. “Mark.. kok masih di dalem? sakit.. jadi besar banget,”“shhh maaf ya sayang, Mark knot dulu ya biar pejunya gak keluar, biar di perut Jeno ada bayi.”“Bayi? yaa.. jeno.. bayi.” Benar-benar sudah kosong, Jeno pass out. “Jeno, aku belum selesai sayang, bangun lagi yuk.”“Jeno cape Mark…”“Ini baru awal rut-ku, Jen.”“Iyahh, aku tidur dulu, tapi Mark bebas lakuin apa aja ke aku, ngewein aku pas tidur juga boleh.” Mark yang awalnya merasa sedih langsung tersenyum, “siap-siap ya, omega.”
satu bulan kemudian…
 “MARK LEEEE!” Mark yang sedang memasak sarapan di minggu yang tenang ini buru-buru berlari ke kamar, takut terjadi apa-apa kepada Jeno yang tiba-tiba berteriak keras memanggil namanya. “MARK LEE SINI LO!”“Iya sayangg, kenapa? bangun-bangun udah teriak—”“Tanggung jawab!” Yang lebih muda memberikan sesuatu, benda putih panjang. Mark menatapnya lamat-lamat sampai akhirnya menyadari— “Sayang! kamu hamil! ya ampun, Jeno makas—”“ADUUUH gimana aku harus jelasin ke keluarga kita Mark, nanti mereka tau kalau kita udah ngewe! anak tongkrongan juga! pasti pada ceng-cengin kita! kamu sih brutal banget waktu itu,”Mark tertawa keras sebelum memberikan banyak kecupan manis pada wajah Jeno, “nanti aku yang ngaku bersalah deh udah hamilin kamu. Makasih ya sayanggg, kita jaga dede bayinya sama-sama yaaa.”

↑ Top · Fandoms