Actions

Work Header

Tanpa Jawab

Entire Work

Work Text

Takanobu Aone itu pendiam.Takanobu Aone itu tak banyak bicara.Tak jarang mereka, orang-orang di sekitar pemuda itu, hanya bisa mendengar suara Aone sekali dalam tiga hari. Itu pun, yang ia ucapkan, bukanlah sebuah kalimat panjang seperti wejangan ataupun nasihat, melainkan hanyalah kalimat pendek yang wakili seluruh pikirnya.Semua orang yang mengenalnya mengetahui fakta tersebut.Semua orang, terlebih Futakuchi Kenji.Digadang sebagai seorang yang paling dekat dengan Aone, Futa tentu saja mengetahui bagaimana pendiamnya sang wira putih. Bahkan, dirinya terkadang bisa membaca pemuda itu hanya dengan melihat gerak mata maupun bahasa tubuh yang ditunjukkan secara samar.Futakuchi begitu memahami Aone, begitulah yang dipandang oleh manusia lain.Namun, di sini, kini, Futakuchi Kenji merasa bagai orang bodoh yang tak memahami Takanobu Aone sama sekali.Dalam sepetak ruang kecil yang diketahui sebagai kamar kos milik Aone, Futa duduk terdiam di kursi. Maniknya menembak lurus pada milik sang wira putih, mencoba menerka isi pikir sang lawan bicara melalui sorot matanya yang dalam. Namun, yang ia temui hanya kehampaan.Dan Futa memilih untuk mengalihkan pandang pada langit-langit kamar tanpa hias maupun corak.“Aone, ngomong dong.”Futa angkat bicara, memecah keheningan diantara keduanya. Ia tidak menyukai keheningan ini. Meski hening dan Aone begitu lekat, untuk kali ini saja, Futa tidak ingin memaklumi keheningan yang membalut keduanya.Itu membuatnya sesak. Mencekiknya.Namun, Aone lagi-lagi tak membalas, tentu saja, dan hanya menaikkan sebelah alisnya, tanda bertanya ‘harus bicara apa’ pada Futa, yang mampu pemuda bersurai cokelat itu saksikan dari ujung matanya. Sungguh, diamnya Aone terkadang sama sekali tidak membantu.Helaan napas keluar dari bibir Futa. Tidak keras, tetapi cukup panjang. Ia bagai mencoba keluarkan seluruh kesah dan resah yang membentangi diri dalam satu hela napas itu. Meski begitu, ia sama sekali tak merasa lebih baik.Justru, ia merasa jauh lebih buruk.Begitu menyedihkan.“Gue mau balik.” kata Futa pada akhirnya, yang hanya dibalas dengan anggukan Aone, juga pemuda itu yang berdiri dari duduknya untuk mengantar Futa kembali ke kos miliknya yang tak jauh dari sana.Sepanjang perjalanan, Futa hanya mampu mengumpat dalam batin. Lagi dan lagi, ia gagal untuk memperjelas status antara keduanya. Lagi dan lagi, Aone memilih untuk diam membisu. Lagi dan lagi, sang wira kecokelatan harus pulang sembari memikul sesak di dada yang menggerogoti diri.
*
Awalnya, semua baik-baik saja. Hubungan keduanya sama seperti sejak mereka pertama berkenalan semasa Sekolah Menengah Atas. Mereka berdua berteman. Benar-benar berteman tanpa embel-embel apapun.Hanya saja, malam itu, perkataan omong kosong milik Futa mengubah keadaan mereka. Dalam sebuah permainan yang berisi kejujuran dan tantangan yang kerap kali dimainkan oleh anak muda zaman sekarang, Futa dengan mulut lancangnya dengan bodoh mengutarakan bahwa kerap melakukan hal-hal bertemakan dewasa yang cukup lumrah dilakukan oleh teman-temannya.
“Gue pernah kok!” kilah Futa, tidak mau mengakui bahwa sebetulnya ia belum pernah menjamah ranah tersebut lebih dari sekadar berciuman.

“Halah!” salah satu teman satu tongkrongan mereka menyahut cepat, “Mana mungkin. Gue aja lihat lo selalu sama Aone. Nempel mulu berdua dari pagi sampai malem. Kapan coba lo ngelakuinnya?”
Seharusnya, malam itu, Futa mengiyakan saja perkataan temannya yang satu itu dan beralih ke temannya yang lain, bukannya malah terbawa oleh obrolan dan menyahut sembarangan.
“Ya itu, pernah, sama Aone.” Sanggah Futa secepat kilat. Perkataan asalnya membuat seluruh manusia yang berkumpul di sana terdiam membisu, seperti yang biasa dilakukan Aone yang kini duduk dengan nyaman di sebelah Futa.

Namun, bedanya, malam itu, Aone justru angkat bicara setelah seminggu lamanya ia membisu. “Kenji?”

Namanya yang teralun singkat dari bibir sang wira putih membuat Futa terperanjat dari angannya sendiri. Alunan tersebut selembut sutra, terdengar begitu lirih, tetapi cukup untuk menusuk indera pendengar si pemilik surai cokelat hingga ke jantung.

“Kalau gitu, lo lakuin di sini dah, sama Aone.” Balas salah seorang yang berada di sana yang disambut dengan sorakan persetujuan maupun umpatan dari yang lain. Namun, seorang yang diberi tantangan justru terdiam membisu dalam duduknya.
Futakuchi Kenji sudah hampir menolak tantangan yang diberikan oleh salah satu teman gilanya, tetapi Aone justru memperparah keadaan dengan menarik dirinya untuk pindah ke pangkuan yang lebih besar, serta mendaratkan sebuah ciuman basah dan dalam yang Futa tak pernah pikir akan ia dapatkan dari seorang yang selalu ia anggap sebagai teman baik.
Malam itu, ketika dirinya tak menolak perlakuan yang diberikan oleh Aone secara tiba-tiba dan justru melingkarkan kedua tangannya ke leher pemuda yang mencumbunya dengan penuh afeksi itu, ketika mereka berdua pergi menjauh dari keramaian untuk pergi ke kamar milik sang wira putih, ketika ia tak menolak saat tubuhnya dikecup dan didamba di bawah temaram sinar rembulan yang mengintip malu-malu dibalik tirai kamar, pun ketika ia mengelukan nama sang wira putih bak memuja satu-satunya dewa yang berikan nafas kehidupan baginya,
… Futakuchi Kenji menyadari bahwa hubungan keduanya telah berubah.Hanya saja, kala itu, ia tidak mengerti perubahan tersebut menuju ke arah yang lebih baik atau buruk.Namun, satu hal yang pemuda itu yakini sekarang. Mereka sama sekali tidak berubah menuju arah yang lebih baik. Justru, ia merasa, bahwa keduanya menggali jurang masing-masing kala mereka memutuskan untuk melangkahi garis batas yang kerap mereka elukan dengan nyaring.Benar. Keduanya sudah tidak bisa lagi disebut sebagai teman baik ataupun sahabat.Tidak ada sahabat yang memperlakukan sahabatnya seperti itu. Pun, tidak ada teman baik yang akan berbuat demikian pada teman baiknya. Terlebih, tak hanya sekali.Kecelakaan, ketidaksengajaan, mungkin masih bisa melabeli keduanya jika mereka hanya melakukannya sekali. Namun, kali kedua, ketiga, juga keempat mereka bercumbu dan saling mendamba, maka itu sudah bukan sebuah ketidaksengajaan. Mereka telah berubah, tetapi ia tidak tahu mereka ini apa.Sebab, tidak ada teman yang tidur dengan temannya sendiri. Lebih dari sekali.Mungkin, friends with benefits?“Tapi nggak ada fwb yang cemburu dan posesif, anjing,” umpat Futa pelan pada dirinya sendiri di atas motor yang dikendarai Aone.Karena, sungguh, Futa tidak mengerti sama sekali. Jika keduanya memang benar hanya sekadar teman, lalu mengapa Aone mau-mau saja melakukan perbuatan yang melangkahi batas itu lebih dari sekali? Lalu, jika mereka hanya fwb, mengapa Aone bersikap begitu cemburu dan posesif padanya kala beberapa kali terpergok diajak bermain oleh beberapa kenalan maupun orang asing yang ia jumpai, seperti malam itu?
Seperti biasa, Futa akan pergi keluar bersama dengan teman tongkrongannya, apalagi hari ini adalah akhir pekan. Biasanya, teman-temannya itu akan mengajak nongkrong hemat di salah satu kos mereka secara bergilir, namanya juga anak perantauan, tetapi siapa sangka bahwa malam ini, semuanya sepakat untuk pergi ke salah satu bar yang cukup ternama di kota. Karenanya, Futa tak mungkin meninggalkan kesempatan ini. Ia sudah sibuk bersiap sejak sore. Siapa tahu ‘kan, di sana, dia bisa tebar pesona dan menemukan seseorang yang bisa ia ajak untuk menghabiskan malam akhir pekan itu berdua.

Begitulah rencana yang selalu tertanam di otaknya sepanjang siang. Begitulah juga yang ia harapkan untuk terjadi saat malamnya ia habiskan waktu di bar bersama teman satu tongkrongannya.

Setidaknya, itulah yang ia harapkan.

Futa sama sekali tidak mengantisipasi bahwa Aone akan secara cuma-cuma mengantarkan dirinya juga ikut serta untuk masuk ke dalam dan menemani dirinya di sana.
Pemuda bersurai cokelat yang terkenal dengan mulut asal bunyi-nya itu sama sekali tidak memperkirakan bahwa ini akan terjadi. Tentu saja ia tidak mampu melakukannya, lagipula, sejak kapan Aone menyukai tempat yang begitu bising dan penuh aroma menyengat seperti bar dan diskotik? Dalam benak Futa, tak pernah sekalipun bahwa Aone akan bersedia untuk pergi bersama dengan mereka. Terlebih, di sinilah pemuda dengan wajah datar tanpa ekspresinya itu, melingkarkan tangan kirinya dengan sempurna ke pinggang milik sang wira cokelat sembari mengeluarkan tatapan permusuhan pada orang asing yang mendaratkan perhatian padanya.
“Ayolah, dia bukan cowok lo, ‘kan? Boleh kali kalau buat gue malem ini.” Kata orang asing itu dengan santai. Futa meringis bagaimana ia bisa merasakan rasa tidak suka yang menguar begitu jelas dari pemuda yang kini berdiri di sampingnya.

Baru saja Futa hendak membuka mulut untuk menolak, terlebih kala ia merasa bahwa hangat tangan Aone di pinggangnya berubah menjadi cengkeraman yang cukup kuat, Aone sudah lebih dulu mengeluarkan suaranya yang sangat jarang ia tunjukkan ke muka publik.

“Gak. Dia punya gue.”

Satu penolakan tegas yang dikeluarkan Aone, sebelum pemuda itu menyeret mereka berdua untuk pergi dari sana. Tanpa diketahui, satu kata itu mampu membuat Futa hilang akal. Meskipun ia tahu bahwa kemungkinan besar Aone berkata seperti itu untuk ‘melindunginya’ dari orang asing yang memiliki kemungkinan untuk mencelakainya (ini hanyalah asumsi Futa pribadi), tetapi perlukah Aone berkata seperti itu? Perlukah ia mengucapkan sebuah kata yang maknanya begitu dalam dan memabukkan dirinya; sebuah kata yang bisa membuatnya berpikir bahwa dirinya memang merupakan milik Takanobu Aone?

Malam itu, Futa hilang akal dan tenggelam dalam angannya sendiri. Tentang mereka yang lebih dari teman. Tentang mereka yang miliki sebuah hubungan yang jelas.

Sebab, meski ia cukup terbuai dengan angan dan omong kosong, sudut kepalanya masih menyadari bahwa teman tidak mungkin melakukan hal itu.
Benar. Teman tidak mungkin melangkahi batas lebih dari sekali, dengan disengaja pula. Jika malam pertama mereka saling mencumbu dan mendamba merupakan kesalahan, seharusnya, baik dirinya maupun Aone akan sama-sama menolak untuk melakukannya lagi. Fwb juga tidak akan cemburu maupun menunjukkan sifat tidak suka dan kepemilikan yang begitu besar kepada fwb-nya karena… mereka sebetulnya tidak terikat apapun? Benar, ‘kan?Lalu, mengapa?Banyak pertanyaan yang ingin Futa tanyakan pada pemuda yang fokus mengendarai motor dan mengantarnya pulang ini. Namun, tiap kali ditanya, tiap kali Futa mencoba membicarakan hal ini dengannya, ia selalu kembali dengan tangan kosong.Futakuchi tidak pernah sekalipun mendapatkan jawaban.Sebab, kala ia bertanya;“Kita ini apa?”Satu-satunya jawab yang menanti ialah bisu yang renggut seluruh eksistensi diri ‘tuk dilepaskan dalam jurang gelap tanpa dasar.

↑ Top · Fandoms