Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Categories:
Fandoms:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-02-11
Words:
2402
Chapters:
1/1

A Not So Green Boyfriend

Entire Work

Work Text

Yejun mengalami mimpi aneh. Mimpi ini sudah ia alami 3 hari berturut-turut. Bukan mimpi hantu, juga bukan mimpi dikejar titan. Ia memimpikan crush nya. Mimpi itu juga bukan mimpi ditembak oleh pujaan hati, bukan mimpi berpapasan dan bertabrakan dengan BGM Syalalala~, bukan pula mimpi kencan di restoran Italia dengan dua gelas wine.  Itu adalah mimpi erotis. Setiap kali Yejun tertidur, ia pasti bertemu dengan Yu Hamin, juniornya di kampus, laki-laki yang sudah ditaksirnya sejak Hamin masih mahasiswa baru. Sejauh yang ia ingat, Hamin sama sekali tidak tertarik dengannya, tidak pernah bersinggungan dengannya, bahkan berbicara atau sekedar menyapa juga tidak pernah. Mereka hanya berpapasan singkat kemudian saling menjauhi satu sama lain. Ya karena memang tidak ada urusan apapun antara dirinya dan Hamin. Jadi ketika Hamin muncul di dalam mimpinya dan melakukan ‘ini-itu’ padanya, ia sangat terkejut. Apakah ia begitu sukanya, begitu naksirnya dengan yang lebih muda sampai-sampai ia tanpa sadar membuat Hamin menjadi objek mimpi basahnya selama tiga malam berturut-turut karena tidak ada interaksi lebih sepanjang semester ini membuatnya gila.  Yejun menghela napas dalam-dalam melihat gundukan yang basah di bawah celana pendeknya. Ia benar-benar lelah. ‘Lelah’ dalam makna sebenarnya. Setiap kali ia bangun dari mimpi-mimpi itu, Yejun selalu merasakan tubuhnya nyeri-nyeri, tenggorokannya kering, suaranya menjadi serak dan chrysanthemum-nya terasa agak pedih. Padahal, ia tidak mengakhiri harinya dengan olahraga maupun pekerjaan berat lainnya. Ia juga TIDAK PERNAH memasukkan APAPUN ke dalam hrysanthemum itu. Keanehan ini tidak selesai di situ saja. Yejun bahkan menegang hanya karena memikirkan atau melihat Hamin dari kejauhan. Sialan memang. Yejun bangkit, segera membersihkan diri dan berangkat ke kampus. Ia hanya berharap tidak melihat bahkan sepucuk hidung Yu Hamin hari ini atau ia bisa onani di toilet kampus (lagi). Sayangnya, semesta memang bangsat. Dari sekian banyak yang sudah ia lakukan sampai saat ini, ia harus berpapasan dengan crush-nya di toilet gimnasium saat sedang menonton sahabatnya, Noah bertanding basket dengan tim dari universitas lain.  ‘Astaga. Yang bener aja, in the fucking men’s toilet?????’ Yejun mengumpat keras dalam hatinya. Saat ia mencoba pura-pura tidak mengenal yang lain, hanya menunduk dan mencuci tangannya di wastafel, ia dikejutkan dengan suara maskulin yang memanggilnya, “Kak Yejun?” ‘Mampus. Kok bisa dia tau namaku????’ Yejun mengangkat kepalanya, bertemu pandang dengan Hamin melalui cermin di depannya. “Y- Ya? Kamu kenal aku?” Tanya Yejun dengan suara yang bergetar. Ia tahu Hamin pasti merasakan kegugupannya juga. Ia mencoba berdehem, menghilangkan rasa gugup itu. Di selangkangannya, ia sudah merasakan sesak bukan main. Tangannya yang masih basah spontan menyatukan kedua sisi kemeja oversizednya, mencoba menutupi sesuatu yang memalukan di bawah perutnya. Tiba-tiba,  
Klik.
 Suara pintu toilet di kunci. Oleh Yu Hamin. Terkejut, Yejun sontak ingin berbalik menatap Hamin di belakangnya. Tetapi belum sempat ia berbalik, Hamin sudah berada tepat di belakangnya. Punggungnya dan dada yang lebih tinggi menempel. Hamin menurunkan kepalanya dan berbisik di samping telinga Yejun, “Jahatnya, padahal kita udah ngelakuin itu beberapa kali, masih pura-pura nggak kenal aku?”  “... fuck ” Yejun tanpa sadar mengumpat. “Ka- kamu, kok bisa?” “Heh…” Hamin terkekeh pelan. Suaranya yang dalam membuat Yejun bergidik. “Karena aku juga mimpi itu. Aku mimpi Kak Yejun ada di bawahku, telanjang–” “SSSTTTT!” Yejun dengan cepat memblokir perkataan saru yang keluar dari mulut Hamin dengan telapak tangannya. “Kamu udah gila ya?! Kalo ada orang lain denger gimana?” Mata Hamin menyipit, ia tersenyum dibalik telapak angan Yejun, “Nggak bakal, orang di luar lagi seru-serunya, semua pada teriak” Bantah Hamin. Ia masih bisa berbicara karena Yejun tidak terlalu menekan mulutnya. “Bisa aja ada orang lain yang mau ke toilet!” Balas Yejun mencoba menyadarkan Hamin. “Nggak ada. Aku bisa pastiin nggak ada” Hamin kemudian memegang dan menurunkan pergelangan tangan Yejun yang sedang menutupi mulutnya. Setelah itu, tanpa aba-aba, diciumnya pergelangan tangan yang lebih kecil dari miliknya itu. Setiap ciuman menghantarkan aliran listrik yang melemahkan hatinya. Perlakuan ini membuat Yejun membeku, ia merasakan detak jantungnya yang semakin memburu. Ia yakin orang di depannya dapat mendengar suara itu melihat bagaimana yang lebih muda semakin memperkecil jarak di antara mereka. Meskipun ia ingin menarik tangannya, namun genggaman Hamin sangat kuat, sangat kontras dengan sentuhan bibirnya di kulit pergelangan tangan Yejun yang lembut. “Kamu mau apa?” Yejun memberanikan diri bertanya. “Mau bantu kamu” Jawab Hamin sambil mengaitkan jemari mereka berdua. Yejun semakin gugup, namun ia sangat menyukai sensasi tangan mereka yang terpaut. “Ban- bantu apa?” Setelah mendengar pertanyaan itu, Hamin memeluk pinggang ramping Yejun dengan satu tangannya. Ia menarik tubuh Yejun ke arahnya lalu menyatukan tubuh bagian bawah mereka dan menggesekkannya. “Bantu ini” “Nghhh” Yejun refleks melenguh karena rangsangan yang tiba-tiba. Ia menjadi panik. Tangan Yejun meremas bagian depan baju Hamin dengan lemah, “Jangan…” Namun, Hamin mengabaikan itu. “Kenapa? Kak Yejun mau keluar kayak gini? Toh di dalam sini cuma ada kita”  Sejujurnya, Yejun juga tidak mengerti. Saat ia berkata ‘Jangan’, apa yang sebenarnya ia inginkan? Di depannya berdiri utuh sang pujaan hati, yang entah karena setan apa menggodanya di dalam toilet gimnasium. Ratusan orang sedang berada di luar, Yejun dapat mendengar sayup-sayup suara penonton yang sedang menyaksikan pertandingan. Dan kemungkinan satu atau dua orang penonton akan ke toilet juga tidak nol. Membayangkan apa yang akan terjadi jika ada yang mendengar atau melihat mereka berdua di sini, Yejun merasa agak takut. Namun, jauh di dalam dirinya, ia menantikan apa yang akan terjadi antara dirinya dan Hamin dengan antusias. Meskipun ia tahu bahwa ia gugup dan takut, namun ada perasaan lain yang membuatnya tidak ingin keluar dari sini. Sepertinya rubah licik di depannya ini berhasil membuatnya luluh. Tanpa ada kelanjutan dari dialog yang terputus tadi, dua orang yang berada di dalam ruangan kecil itu mulai merasakan suasana kental akan nafsu. Setelah bertatapan intens, Yejun perlahan memejamkan matanya.  Melihat lampu hijau telah dinyalakan, Hamin dengan cepat menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang tergesa-gesa. Tanpa menunggu lama, ia langsung menjamah rongga mulut seniornya. Ia menggigit dan menghisap bibir ranum itu dengan nikmat. Lidah keduanya beradu, menimbulkan suara kecapan yang memenuhi toilet itu. Saat Hamin merasakan bahwa Yejun mulai menikmati ciuman itu, Hamin menangkup pantat sintal Yejun dengan kedua tangannya. Ia meremas-remas dan mencubit pelan sambil menggerakkan pinggulnya, menirukan gerakan bercinta yang lambat dan syahdu. Ia bermain-main dengan gundukan lembab milik Yejun di depan dan gundukan kenyal di belakang, membuat yang lain mulai merintih karena tidak tahan dengan rangsangan yang diterima. Saat Hamin baru mulai akan mempercepat gesekannya, ia mendengar suara lenguhan panjang dari Yejun yang gemetar hebat karena orgasme pertamanya. Kini, kedua kaki Yejun tidak lagi mampu berdiri. Ia terjatuh lemas di bahu lebar Hamin, terengah-engah.  “Keluar?” Tanya Hamin dengan lembut yang hanya bisa dijawab anggukan lemah oleh Yejun. Dia juga mengeluarkan suara rengekan pelan. Perilaku itu membuat dada Hamin gatal karena gemas. Ia mengecup leher Yejun satu kali, lalu terus naik ke atas ke belakang telinga yang lebih tua.  “Ah…” Yejun merasa geli, ia berusaha menjauhkan telinganya dari Hamin, namun ia malah semakin dikejar, digigit dan dijilat seolah dirinya adalah es krim rasa buah yang segar. Tanpa Yejun sadari, resleting celananya sudah dibuka, dan celananya terjatuh ke lantai. Belum sempat terkejut dengan kulitnya yang terekspos, dua jari Hamin sudah menerobos masuk ke dalam lubangnya.  “Tung, AH! Hngg…” Yejun merasakan bahwa jari-jari itu dengan mudahnya masuk. Saat ia fokus merasakan sentuhan itu, ia merasakan ada sensasi dingin dan licin menyatu di dalam dirinya. “NGh, siapa yang… bawa pelumas, Ah! Ke pertandingan basket?” Hamin mulai melonggarkan lubang belakang Yejun lebih dalam, ia sampai kesulitan berbicara.  “Aku. Karena aku tau kalau kita bakalan ngelakuin ini” Yejun membelalakkan matanya tidak percaya. Kemudian Hamin menjelaskan, “Aku tau kamu juga mimpi hal yang sama karena setiap kita papasan dalam 3 hari terakhir, wajah kamu merah kayak kepiting rebus, kamu juga gak sadar kalo kamu selalu nurunin baju atasan kamu setelah itu, terus ngibrit. Aku tau, Kak. Dan itu lucu banget aku bisa gila. Bisa gila karena mimpi itu terasa nyata. Bisa gila karena orang itu Kamu, Kak Yejun... Aku bisa gila karena orang yang aku suka juga punya mimpi yang sama kayak aku”. Semakin mempercepat gerakan tangannya, Hamin mencium bibir Yejun lagi, tidak membiarkan yang lain merespons dengan kata-kata, namun dengan desahan yang semakin cepat mengikuti gerakan tangannya yang ahli. Yejun semakin mengeratkan kedua tangannya di bahu Hamin dan beberapa saat setelah itu ia kembali mendapatkan klimaksnya. “Ungh!” Yejun seperti melayang. Menerima pengakuan cinta dari pujaan hatinya sambil diobok-obok, Yejun takut keberuntungannya sepanjang tahun ini akan habis begitu saja. Ia baru akan menenangkan dirinya setelah turun dari puncak pelepasan ketika Hamin membalik tubuhnya. Membuatnya berhadapan dengan cermin besar di depannya. Ia bertemu pandang dengan iris hitam kehijauan Hamin yang berkabut, penuh nafsu. Tangan besarnya membuka celananya dengan buru-buru dan mengeluarkan pistol daging dengan ukuran yang sangat… Besar. Panik, Yejun memegang tangan Hamin dan menggelengkan kepalanya, “Nggak bakal bisa masuk” Hamin hanya tertawa pelan, “Makasih Kak atas pujiannya. Tapi maaf aku udah nggak tahan nggak nerima penolakan” Setelah itu ia membuka satu sachet pelumas lagi dan menuangkannya ke seluruh batang penis yang berurat itu. Ia mengocoknya dua kali lalu mengarahkannya pada lubang Yejun yang sudah kembang-kempis, seolah mengundang dan menggodanya.  Dengan perintah mutlak, Hamin berkata, “Nungging”. Yejun seketika melemah, ia memegangi wastafel sambil perlahan menurunkan tubuh bagian atasnya dan memamerkan bokongnya yang sintal. Penisnya sendiri sudah kembali menegang bahkan tanpa diberikan rangsangan langsung. Ia menantikan penyatuan tubuh mereka. Kedua tangan Hamin berada di sisi pinggang Yejun. Setelah itu, ia mulai memasukkan penisnya ke dalam. Keduanya sama-sama mendesah kuat saat seluruh batang kemaluan itu memenuhi liang senggama si surai biru. Setiap gesekan dan remasan oleh otot-otot lubang Yejun terasa sangat nikmat. Hamin ingin lebih. Ia lalu mulai menggerakkan pinggulnya dengan tempo cepat. Setiap hentakan mengundang desahan dari Yejun, “Ah, ah! Ngh…Eutttt”  Melihat tubuh senior cantiknya itu bergoyang-goyang karenanya, Hamin semakin bersemangat. Ia menggenjot lebih kuat, lebih dalam, memporak-porandakan lubang yang sempit dan hangat. Setiap lekuk tubuh sampai suara erotis yang keluar dari bibir Yejun sama persis seperti apa yang ia lihat dan dengar dalam mimpinya. Mereka benar-benar terhubung. Kini tidak lagi dalam mimpi, namun di dunia nyata. “Hah…” Hamin menghela napas berat, ia lalu mengangkat tubuh atas Yejun dari belakang, membuat yang lebih tua kini berdiri tegak. Yejun dapat melihat dirinya sendiri dalam cermin; bibirnya basah, wajahnya berkeringat, saliva mengalir di ujung bibirnya. Dan turun ke bawah, ia bisa melihat bagaimana pilar daging sebesar itu bisa memasuki lubangnya dan bergerak bebas.  Seketika, Yejun merasa malu. Ia menggeliat, menggelengkan kepalanya dan berkata lirih, “Nggak mau, nggak mau kayak gini!”. Dibelakangnya, Hamin masih sibuk mencari pelepasannya sendiri sambil menggigit dan menjilat bahu Yejun yang entah sejak kapan kemejanya sudah turun dan tergantung di lengan atasnya. Merasa diabaikan, Yejun dengan susah payah mencubit tangan Hamin yang ada di perutnya.  “Nghh, Yu Hamin!” Bentak Yejun ditengah-tengah desahannya. Yang dipanggil tersadar, ia melihat wajah Yejun dan matanya birunya yang indah berkaca-kaca. Namun entah bagaimana ia tahu kalau itu bukan karena kenikmatan seksual yang sedang mereka lakukan. “Kenapa? Sakit?” Tanya Hamin pelan. Yejun hanya menggelengkan kepalanya, lalu menjawab lirih, “Mau liat wajah kamu….” ‘Fuck, imut banget’ Kali ini, Hamin yang mengumpat. Itu semua karena si cantik yang merengek dipelukannya. Hamin tentu saja langsung menurut. Membalikkan tubuh Yejun sehingga mereka berhadapan. Yejun otomatis mengalungkan tangannya ke leher Hamin, sebelum ia merasakan bahwa tubuhnya diangkat. Kedua kakinya mengangkang dan menggantung di bagian dalam siku tangan Hamin. Setelah itu Hamin berjalan ke arah pintu dan menyandarkan punggung Yejun yang berkeringat. Hamin menenggelamkan penisnya ke dalam lubang Yejun lagi, lalu menggerakkan pinggulnya dengan cepat. Menusuk-nusuk bagian paling sensitif dari sang senior. “Ahh.. AH!” Tanpa ampun, genjotannya semakin lama semakin cepat, membuat Yejun hanya bisa mengeluarkan desahan, bukan, teriakan kenikmatan karena rangsangan kuat pada prostatnya. Masa bodoh jika ada yang mendengar suaranya.  “Uhg, Kak.. Kak Yejun.. Sayang, Nghh!” Setelah beberapa sentakan, Hamin akhirnya merasakan langit ketujuh. Tubuhnya gemetar. Semburan demi semburan air mani memenuhi lubang Yejun yang menjadi becek. Sementara itu, sang senior yang sudah mendapatkan pelepasan seksualnya yang ketiga kali hanya bisa menempel lemah pada sang junior. “Hnggh… Yu Hamin penjahat, Yu Hamin bajingan” Protes Yejun dengan sedihnya dari leher Hamin. Yang diumpat kelabakan, “Loh, kenapa kok kamu bilang gitu sayang?” “Lambemu itu ‘sayang’… Hnggh… bawa pelumas, tapi, kondom nggak bawa. Jadi ngalir.. Gimana aku keluar dari sini nanti, bangsat, Yu Hamin….”  “Haha, kan aku dateng mau perkosa Kak Yejun, masa repot-repot pake kondom” Yejun menjambak rambut belakang hamin sekuat yang ia bisa, dengan sisa-sia tenaganya. “Bullshit, terus kenapa ada pelumas?” “Karena aku nggak mau Kak Yejun luka” Jawab Hamin sambil mengelus-elus punggung Yejun dengan sayang. Ia mencoba menenangkan Yejun. “Kok bisa kamu tau aku lagi di sini?” “Karena aku yang minta Bang Noah. Aku tau kamu nggak pernah mau ngumpul sama yang lain selain dia. Aku minta dia paksa kamu nonton pertandingan hari ini” “Noah setuju? Kamu bilang apa emangnya?” “Aku bilang mau ngewe sama Kak Yejun di toilet dia langsung setuju” Jawab Hamin sembarangan. Yejun sontak bangun, matanya melotot, “Bohong!”. Hamin cepat-cepat menahan punggung Yejun dan menyeimbangkan mereka berdua agar tidak terhuyung dan jatuh. Hamin hanya tertawa, “Iya bohong, aku bilang mau nembak Kak Yejun soalnya udah lama naksir. Tapi karena kamu jarang main atau nongkrong kayak Bang Noah, aku jadi nggak punya kesempatan banyak buat deketin kamu. Makanya minta tolong dia” Mendengar itu, Yejun mendadak batal marah. Ia malah tersipu. “Turunin” “Kalo turun tar lepas dong… Akkk!” Yejun menjambak rambut Hamin sekali lagi. “Iya, iya, turun. Galak banget ternyata pas udah jadi pacar” “Nggak suka nggak usah aja, AH! Nghhh” Hamin dengan tiba-tiba menggerakkan pinggulnya lagi keluar-masuk beberapa kali.  “Bilang gitu terus atau aku nggak bakal ngeluarin ini sampe Kak Yejun bilang setuju kita pacaran” “Kamu yang bilang aku galak…” Kata Yejun merengut. “Iya aku yang salah ngomong… Maaf ya? Galak tapi gemesin” Mohon Hamin sambil menurunkan Yejun pelan-pelan. “Tanggung jawab. Baju jadi kotor gini mau keluar gimana?” “Ck, serahin aja ke pacar ganteng kamu ini, Kak” Setelah itu Hamin membuka pintu toilet. Di depan, sudah ada beberapa paperbag yang berisi pakaian ganti dan tisu basah. Melihat itu, Yejun melihat Hamin dengan tatapan ngeri. “Penjahat seksual, penguntit cabul” Gumamnya pelan, tapi masih terdengar di telinga Hamin. Namun, sang pacar tidak membalas apa-apa, hanya tertawa renyah lalu dengan sigap dan cekatan membantu Yejun bersih-bersih dan berganti pakaian. Yejun menerima dengan senang hati pelayanan khusus yang diberikan pacarnya itu. ‘Kayaknya aku dapet pacar yang agak ekstrim… Tapi, yaudahlah :))’ Setelah itu, Hamin tidak lagi muncul sebagai pemeran utama dalam mimpi Yejun. Karena sekarang, ya… Mereka bisa melakukan ‘itu’ sesuka hati mereka tanpa harus terlelap lebih dulu. Dunia nyata, lebih baik dari dunia mimpi.

*** Dalam sebuah chat room : [Gimana min, mantra sihir warisan nenek gue?] [Top markotop bang 👍🏻] [😏]

↑ Top · Fandoms