Work Text
Mari kuceritakan kisah tentang sebuah bintang yang jatuh …
Ketika malam menjelang, di mana seluruh planet di tata surya segaris dalam orbitnya, keajaiban akan terjadi—katanya,
sih
. Legenda para elf mengatakan demikian. Mereka akan berputar mengitari api unggun, menyalakan setiap bunga lili lembah dengan kunang-kunang, mengubah seisi Lembah Gua Redup menyala seperti kantong berbintang.
Ujung tinggi rumput akan menari dalam irama, helai dedaunan menyahut dengan nada jenaka. Para elf tertawa-tawa, bermain saling tebak kata, lantas memetik helai bunga dan mengubahnya menjadi kembang gula—atau petasan kecil jika lawannya salah menebak.
Gemintang di angkasa akan menatap mereka yang sepanjang malam terjaga,
aduhai
, tampak ceria sepanjang malam yang sunyi—seharusnya.
Kali ini, mereka menunggu. Perhitungan semesta mereka tidak mungkin meleset.
Lihat ke angkasa!
Telinga-telinga panjang itu terangkat.
Ada apa? Ada apa?
Satu jemari pendek menunjuk.
Sebentar lagi tiba! Bintang Kejora dan Biru Bercincin akan menyusul dalam lintas histori yang sama!
Mereka berkeriap, gegap gempita terdengar di antaranya. Beberapa menepuk-nepuk tanah, menyuruh kunang-kunang bangun. Beberapa lagi mengambil debu bintang, melemparkannya di atas lembah,
Tetapi sayangnya,
bum!
Bintang pertama yang terlalu dingin, terlalu jauh, terlalu cepat jatuh.
Para elf nyaris melompat dari tempat mereka berdiri, kunang-kunang terbang dan pergi, meninggalkan lili lembah tempat mereka tadi bersemayam dalam sunyi. Debu bintang yang mereka taburkan, pun, meredup dan tenggelam.
Maka aku melompat dari galaksi ke galaksi, mengejar ekor komet yang hangat.
Lalu—
brak
. Tanpa undangan. Tanpa rencana. Aku mendarat di semesta antah-berantah ini, yang lebih mirip kisah fantasi kusut di sudut berdebu dari sebuah perpustakaan.
Aku terbatuk, kepulan debu kosmik membuat mata dan hidungku perih. Aduh, bikin repot saja, bukannya tadi aku hanya berharap untuk—
Tunggu.
Ini.
Tempat ini.
Di mana?
Makhluk-makhluk pendek dengan telinga panjang mereka datang menghampiriku dengan curiga. Sekumpulan elf, mungkin? Mata sejernih air mata bintang mereka terarah. Menatapku dengan rasa ingin tahu, seolah aku adalah alien—
Tunggu, memang benar aku aliennya di sini.
Aku mengusap hidung, menepuk-nepuk kain baju demi membersihkannya dari debu. Dengan mereka, yang ternyata banyak sekali jumlahnya, mengelilingiku.
Tanpa peringatan, sekumpulan elf itu berseru dalam bahasa yang asing di telingaku. Sebelum sempat bertanya atau membela diri, mereka mengangkatku—bukan dengan tangan, tapi dengan tandu anyaman cahaya yang entah dari mana munculnya.
Aku tergagap, berusaha bangkit dan duduk tegak. Aduh, rasanya seperti dijadikan
sesajen
yang dikorbankan.
Tunggu.
Mereka tidak sungguhan menjadikanku
sesajen
, kan?
Para elf berduyun-duyun membawaku melintasi hutan dengan pepohonan menjulang tinggi, daun-daunnya berkilauan seperti serpihan kaca yang memantulkan benderang remang dari rembulan. Cabang-cabangnya berayun lembut, seakan berbisik satu sama lain. Gemerisik angin yang bertiup membawa aroma manis, entah dari bunga atau dari sesuatu yang lebih … ajaib.
"Lembah Gua Redup," bisik seorang elf yang berjalan di sampingku, dengan nada yang terasa lebih khusyuk daripada sekadar menyebutkan nama tempat.
Aku mengernyit. Apa barusan? Barusan itu apa?
Di telingaku, suara mereka semua seperti cicitan ramai yang nyaris berisik, tidak jelas apa yang mereka katakan.
Namun, sebelum sempat aku bertanya, pemandangan di hadapanku, menyuguhkan cerita yang tidak biasa.
Di tengah lembah yang tersembunyi ini, berdiri gerbang batu alami yang dipenuhi ukiran aneh yang bersinar, membentuk citra serupa rasi bintang. Cahaya kehijauan berpendar dari celah-celah batu, menghidupkan bayangan yang dinamis seolah-olah memiliki jiwanya sendiri. Air terjun berkilauan
mengalir terbalik, memanjat dinding gua dan menghilang ke langit-langit.
Beberapa elf melompat begitu saja ke dalam pusaran air yang bercahaya, menghilang dalam sekejap seperti menembus dimensi lain.
Aku menelan ludah. Ini… sudah bukan dunia yang kukenal.
Saat tanduku berhenti di tengah sebuah pelataran yang dikelilingi kristal bercahaya, para elf itu tiba-tiba menunduk dengan hormat. Aku mengikutinya, meski tidak tahu kepada siapa atau apa aku sebenarnya membungkuk.
Lantas, netraku, dan aku melihatnya.
Seseorang berdiri di ambang bayangan gua, jubah hitamnya bertabur kilauan bintang, seolah ia mencuri sepotong langit malam dan menjadikannya pakaian. Rambutnya panjang, helai-helai maru gelap tergradasi oleh perak hingga ke ujungnya jatuh bagai sungai perak yang berkilauan dalam cahaya redup.
Pasti, dia melangkah perlahan, seakan tak tersentuh oleh batasan atau pasir bintang di kakinya, seperti bayangan yang dipandu oleh cahaya bulan.
"Nona Pengembara," bisik para elf dengan takzim.
Dan aku?
Aku hanya bisa terdiam, bergeming di posisiku saat ini, sedang sepasang keping netraku menatapnya dengan campuran rasa ingin tahu dan kesadaran bahwa aku mungkin baru saja terseret ke dalam dongeng yang tak pernah kutahu ada di antara bintang-bintang.
Hei, apa yang kau lakukan padaku?
…
Jadi, sekadar membunuh waktu, haruskah aku menggodamu?
...
“Tidak,” jawabmu, berpaling dari padaku dengan menyembunyikan wajahmu. Aku menyeringai, rupanya, tokoh fantasi pun bisa malu-malu juga?
“Kau yakin, Nona Pengembara?”
Bahunya terkendik, untuk sesaat. “Ya.” —
eh
, dingin sekali.
“Aku sudah punya rencana: mengejar ekspedisi ilusi di sini.”
Alisku terangkat sebelah. “Oh? Dan kau akan membawaku ikut serta, Nona?”
Dia berpaling, menutup wajahnya kembali dengan jubah.
“Bagaimana jika kita menari di antara nebula, meninggalkan teka-teki di debu bintang?” Aku menahannya, berpindah ke arah ke mana ia akan pergi. Matanya, mata semerah mirahnya, mendadak terarah padaku. Pipinya bersemu sedikit ketika ekspresinya kesal.
Aku nyengir lebar.
“Tuan, yang bahkan tak mengenal namaku, aku tidak tertarik. Sama sekali.” Tangannya bergerak menyilang di depan dada. “Sekarang, silakan menyingkir dari jalurku.”
“Atau apa?” tantangku.
“Atau kusuruh para elf menggantungmu di pohon baobab.”
Aduh, seramnya
.
…
Menari bersama dengan iramamu, melintasi orbit-orbit tak beraturan, demi menjelajah semesta dengan langkah ringan yang pasti,
Aku ingin tahu lebih banyak tentangmu; atau barangkali juga: cinta semesta.
Agar kau terus mengejar, terus bertanya:
Siapa sebenarnya yang memimpin tarian kosmik ini?
…
“Ayolah, Nona.”
Hari ini pun aku membujuknya. Seekor—entah bagaimana aku harus menyebutnya—balita elf berlarian di sekelilingnya, memetik bunga-bunga saturnus yang merekah di padang. Ia lincah menembus rerumputan yang bahkan lebih tinggi dari tubuhnya, sibuk memetiki bunga-bunga saturnus dan sulur-sulur kejora yang subur.
Lagi, kau menggeleng. “Tidak. Mau.” Kau kembali menegaskan, yang membuatku semakin ingin untuk menarikmu untuk ikut serta.
Balita elf itu kembali. Mahkota bunga, ia lantas meletakannya di atas kepalamu, Nona Pengembara.
Si balita elf berbalik ke arahku, menarik-narik lengan bajuku, menunjuk si Nona Pengembara yang memunggungiku. Seolah dia bilang,
Bagaimana jika kau tinggal sedikit lebih lama?
Aku mengernyit.
Bintangku berbisik, katanya ia kesepian.
Oh. Sedikit banyak, aku tahu artinya. Memintaku tinggal lebih lama untuk menemaninya yang kesepian.
Dia sudah lama berkelana
, ucap si balita elf,
Nona Pengembara kehilangan navigasi ilusinya, lalu memutuskan berhenti di sini.
Aku mengangguk-angguk, mengerti artinya.
Kamu
, dia menunjukku, lalu ke arah si Nona Pengembara.
Kamu sama seperti dia. Jadi mungkin kamu bisa sedikit menghiburnya?
Aku tertawa, nyaris tak bersuara hingga menggema dalam hampa udara.
Jadi begitu.
Gelombang suara yang tersesat di angkasa, tetapi entah bagaimana tetap sampai padaku.
Kau, Nona Pengembara mengetuk-ngetuk jam pasir dan kompasnya, berulang kali menatap keduanya seraya menatap rasi penunjuk di angkasa. Desahan pelan tiba ketika ia bertanya, "Ini takdir, atau sekadar kesalahan navigasi?"
Dan untukmu, aku menjawab, "Apa bedanya? Kau ada di sini sekarang."
Dan kau mengernyit. Oh, barangkali kau jengkel padaku, hingga barangkali di detik selanjutnya kau ingin menjauh dariku?
Namun, engkau kalah cepat, Nona, sebab aku telah lebih dulu menarikmu. "Ayo ikut denganku," bisikku, menyepak gunungan kecil dari debu bintang di hadapanku, seperti sekumpulan daun maple kering di jejalanan musim gugur.
"Kita jelajahi hal-hal yang tak pernah dilihat mata manusia," kataku lagi. “Namun, kau, harus membanuku pula, jangan sampai kita tersasar, ya?”
Lalu untuk kali pertama.
Pertama kalinya.
Kau ikuti aku tanpa ragu.
Bintang-bintang berkedip penuh rahasia. Di suatu tempat yang tak dikenali oleh jiwa manapun, sekelompok elf dari Lembah Gua Redup yang menunggu keabadian menghela napas, menyaksikan kita saling mengejar; antara sebuah jiwa dari bintang jatuh dan pelukis jejak pengembara yang bertemu.
Mari menuliskan kisah ini di atas bentang rasi, Nona.
Dan akan kita ingat untuk pergi malam ini, demi mencari bintang yang tersembunyi dari pandangan.
Mari kita beri mereka nama, satu per satu, tak peduli dengan keabadian yang berlalu.
Lantas kita akan menari di atas iramamu, melintasi tata surya dan seisi semesta, coretan nebula.
Dan irama jantungku yang sama seperti milikmu; sebagaimana aku ingin tahu lebih banyak tentangmu, hei, Nona Pengembara.
.
