Actions

Work Header

lentera

Entire Work

Work Text

“Aku pulang.”Natsu melepas sarung tangan dan sepatu bot yang dikenakannya, berjalan masuk ke dalam rumahnya yang selalu terasa hangat. Ibunya sudah menunggu, berjalan mendekatinya sambil tersenyum.“Selamat datang, Natsu.” Dia menepuk kepingan salju yang menempel di jaketnya dan menatapnya khawatir. “Apa kamu lupa membawa payung? Hidungmu jadi memerah.”Natsu hanya tersenyum. “Aku hampir lupa membeli telur dan miso yang diminta ibu. Bahan makanan lain kan juga hampir habis, Bu.”Ibunya hanya menghela napas, tapi kemudian mengambil alih tas belanja yang dibawanya dengan cukup susah payah di antara hujan salju dan jarak rumahnya yang tidak sedekat itu dengan transportasi umum.“Mandi lah. Ibu akan menghangatkan sup untukmu.”Dia mengangguk, beralih ke kamarnya yang sudah setahun terakhir kembali ditempatinya. Beberapa dekorasi sudah diganti dengan beberapa hal yang dibawanya dari apartemen, tapi foto-foto lama dan beberapa penghargaan yang diterima Natsu sebelum pensiun sebagai atlet voli masih berada di sana.Begitu juga fotonya dengan Shoyo, kakak laki-lakinya, ketika dia memenangkan liga voli nasional.Natsu berganti dengan baju yang nyaman lalu kembali ke ruang makan. Ibunya sudah menata piring, lengkap dengan lauk pauk dan sup yang dibicarakannya.Tatapannya tertuju pada Natsu. “Ayo, duduk.”“Terima kasih, Bu. Selamat makan.”Ibunya mengangguk. “Selamat makan.”Mereka makan. Natsu menikmati sup yang terasa menghangatkan tubuhnya, terutama setelah mandi dengan air yang tidak terlalu hangat. Air panas otomatis rumah mereka rusak dan harus menunggu beberapa hari untuk bisa berfungsi lagi.Biasanya dia bisa membuat air panas lebih dulu, tapi dia sudah merasa lapar dan Natsu tidak ingin membuat kakaknya menunggu terlalu lama untuk makan malamnya.Ibunya menghentikan Natsu ketika berniat untuk mencuci peralatan makannya. “Ibu saja. Kau antarkan makan malam untuk kakakmu, setelah ini ibu mau langsung istirahat.”“Ah. Baiklah, Bu.”Natsu meletakkan peralatan makannya di wastafel, kemudian mengambil nampan yang sudah disiapkan ibunya. Makan malam yang serupa dengan yang baru saja disantapnya bersama ibunya.Dia tahu kalau ibunya sama lelahnya dengan dirinya yang bekerja di tempat penitipan anak. Ini hari terakhir dari hari kerjanya sebelum liburan akhir tahun, tapi perawatan untuk Shoyo masih akan terus berlangsung dan melibatkan dirinya dan ibunya.Ibunya lah yang menemani kakak laki-lakinya sepanjang hari, menemani Shoyo beraktivitas sebisanya dan mengurus rumah, sementara Natsu bekerja sebagai tulang punggung keluarga.Pemasukan mereka yang stabil hanya berasal dari pekerjaannya, selain dari tabungan kedua bersaudara itu selama menjadi atlet, serta ibu mereka.Natsu membuka pintu kamar Shoyo, melangkah masuk ke dalam kamar yang juga sudah ditempati kakak laki-lakinya selama setahun terakhir. Sudah beberapa kali dia melakukan ini, tapi kamar kakaknya tidak pernah berubah.Dia sedang bermain game dengan earphone di telinganya, tapi kemudian menoleh ketika melihat Natsu yang melangkah menghampiri.Pria itu tersenyum. “Hai, Natsu. Kau baru saja pulang?”“Sudah sejak tadi. Aku makan malam dengan ibu dulu.” Natsu menjelaskan, menyiapkan meja kecil di tempat tidur kakaknya itu dan meletakkan nampan di atasnya. “Kau sudah selesai main?”Dia mengangguk. “Aku kalah lagi, tapi paling tidak bukan di urutan terakhir hehe. Rasanya menyenangkan.”Natsu menatap kakak laki-lakinya, ingin mengatakan sesuatu, tapi mengurungkan niat dan beralih dengan mengucapkan hal lain. “Kau memang tidak berbakat, tapi setahun bermain game yang sama sepertinya mempunyai efek yang bagus.”“Aku tahu. Usaha memang tidak menghianati hasil ‘kan.” Pria itu tertawa.Natsu hanya menggumam mengiyakan, sambil membuka tutup dari makan malam kakaknya itu lalu menyodorkan minuman dan obat yang harus diminum padanya. “Minum dulu, habis itu makan, Kak.”Shoyo mengambil kepingan obat dari bungkusan yang sudah disiapkan dan meminumnya. Dia mengernyit dengan ekspresi yang aneh. “Rasanya masih tidak enak.”Natsu hanya terkekeh.Semua ini dimulai dari meninggalnya pasangan sehidup semati kakak laki-lakinya, mate-nya, sekaligus sponsornya sebelum mereka memutuskan untuk hidup bersama. Kenma Kozume.Di hari yang dingin itu, kakak laki-lakinya tampak seperti kehilangan separuh dari bagian dirinya. Dia masih bisa tersenyum pada semua tamu yang hadir di hari pemakaman pasangannya, tapi semua orang terdekatnya bisa tahu kalau pandangan mata pria itu tampak kosong.Setelahnya, Shoyo mengurung diri di apartemennya selama seminggu.Dia tidak menerima telepon, mengabaikan semua pesan yang masuk, sekaligus semua orang yang mendatangi apartemennya. Tidak ada siapapun yang mendengar kabarnya selama itu. Dia seperti benar-benar menghilang dari peradaban.Ibunya tentu saja khawatir. Tidak ada hari di mana ibu mereka menunggu telepon rumah berdering atau menanyakan keadaan Shoyo pada Natsu, yang juga sedang menunggu kabar dari kakak laki-lakinya, setelah gagal menghubungi pria itu berulang kali.Pada hari kelima Natsu dan Ibunya datang, tapi seperti teman-teman Shoyo, mereka juga tidak mendapatkan tanggapan apapun dari pria itu, selama apapun mereka memanggil, mengetuk maupun menghubungi ponselnya.Di hari ketujuh, barulah sebuah pesan muncul di notifikasi ponsel Natsu.[Tolong datang ke apartemenku.] Dari Shoyo.Ibunya dan Natsu kembali ke apartemen pria itu yang sebelumnya ditempatinya bersama dengan Kenma.Pintu apartemen terbuka setelah beberapa kali pencetan bel. Shoyo terlihat berantakan dan tidak butuh waktu lama hingga dia terjatuh ke lantai kalau saja Natsu tidak menangkapnya dalam pelukan. Mereka segera membawanya ke rumah sakit.Diagnosis dari dokter menyatakan kalau Shoyo mengalami shock akibat kehilangan pasangannya, yang mengakibatkan berangsurnya kehilangan ingatan pria itu terhadap mate, orang-orang disekitarnya, bahkan dirinya sendiri.Hal itu tidak terhindarkan. Shoyo adalah seorang omega, walaupun resesif, sama seperti Kenma yang seorang alpha, tapi mereka sudah melalui knot dan menandai diri masing-masing. Berbeda dengan anggota keluarga pria itu yang semuanya adalah beta.Natsu tidak tahu banyak mengenai hal itu, begitu juga dengan ibunya. Hal yang hanya diketahuinya adalah jika sekali alpha dan omega berpasangan, maka mereka akan terikat selamanya, tapi tidak pernah terbayangkan jika salah satu dari mereka akan pergi secepat ini."Apa ada obatnya?" Ibunya bertanya pada saat itu, meremas tangannya dengan erat. "Paling tidak … untuk ingatannya."Dokter itu mengangguk, memberi penjelasan jika obat itu tersedia dan aman untuk dikonsumsi, tapi kesembuhan dari pasien yang mengonsumsinya hanya lima puluh persen. Shoyo juga akan membutuhkan pendampingan dari keluarganya dan tidak boleh terlalu lama sendirian agar hilang ingatannya tidak memburuk dengan lebih cepat dari yang sudah diperkirakan.Natsu menelan ludah. "Berapa lama batas waktunya?""Setahun." Dia menjawab dengan melihat pasangan ibu dan anak itu. "Saya sudah memberikan resep dan bisa anda tebus setelah konsultasi ini."Natsu melihat ke arah ibunya setelah keluar dari ruangan dokter yang memeriksa Shoyo. Dia dan ibunya saling bertatapan dengan perasaan yang campur aduk, tapi kemudian ibunya meraih tangan Natsu.Tatapannya terlihat menguatkan. "Tidak apa-apa. Kita bisa melakukannya, Natsu."“Iya, Bu.” Dia membalas genggaman tangan ibunya dengan erat. Mereka harus bisa menghadapi hal ini.Kakak laki-lakinya baru sadar keesokan harinya. Dia masih tampak lemah, tapi lebih ingin untuk kembali ke rumah. "Aku rindu masakan rumah."Perkataan itu membuat ibu mereka memeluk Shoyo dengan erat, sebelum keduanya kembali ke rumah keluarga mereka, sementara Natsu ke apartemen kakaknya untuk mengambil beberapa barang pribadi pria itu.Apartemen itu sudah tampak kosong.Hanya ada beberapa tumpukan kardus yang menumpuk di ruang tamu dan satu tempat tidur di kamar yang kosong melompong. Di atasnya, terdapat bingkai foto dengan wajah Kenma yang tersenyum dengan kakak laki-lakinya.Natsu membawa bingkai foto itu dan tas berisi beberapa pakaian untuk kakaknya.Sejauh ini, Natsu sadar kalau kakaknya sudah tidak mengingat pasangannya.Wajah maupun nama pria itu, apalagi kenangan-kenangan yang hanya mereka ketahui. Setiap melihat foto Kenma yang dibawa oleh Natsu dari apartemen keduanya, Shoyo selalu merasa sakit dan berakhir menangis di dalam tidurnya.Foto itu pun pada akhirnya disembunyikan di tempat aman dan yang tersisa hanya foto-foto masa remaja Shoyo dengan teman-temannya, masa-masa kejayaan pria itu sebagai atlet voli, serta foto keluarga mereka yang hanya menampilkan ketiganya dari liburan terakhir.“Kak, kamu masih baik-baik saja kan?” Natsu bertanya di antara suapan Shoyo.“Tentu saja." Dia mengangkat wajahnya, tampak tenang. "Ada kamu dan ibu yang sudah merawat aku selama ini, jadi tidak masalah.”Kakak laki-lakinya itu juga sudah mengetahui kondisi yang dialaminya, tapi hal itu pun pada akhirnya dia lupakan.Dia hanya tahu dan merasakan sendiri kalau kondisinya memburuk, mulai dari staminanya, hingga hal-hal remeh yang cepat dilupakan dan diakui sendiri oleh pria itu, karena itu lah Natsu hanya bisa tersenyum tipis dengan kenyataan yang sekarang hanya diketahui oleh dirinya dan ibu mereka di dalam keluarga ini.Natsu menghela napas, memperhatikan kakaknya yang masih bisa makan dengan lahap. "Pelan-pelan makannya, Kak. Kamu bisa tersedak."Dia hanya mengiyakan sambil lalu.Lebih dari dua tahun yang lalu, Natsu melihat sendiri kakaknya yang tidak bisa berhenti menempel pada Kenma ketika berkunjung ke rumah ini. Keduanya tampak bahagia, bahkan setelah 21 tahun kebersamaan mereka.Shoyo selalu terlihat penuh pada saat itu, dengan Kenma yang berada di sisinya, tapi sekarang hal itu sudah tidak bisa terlihat lagi. Dia tampak redup, walaupun Natsu selalu menyayangi kakaknya, tapi dia juga merindukan saat-saat ketika pria itu bisa melakukan apapun yang diinginkannya dan bisa bersama pasangannya itu.Kondisi kakaknya membuat dia sedih, tapi dia juga tidak bisa melakukan apapun untuk bisa mengubah keadaan Shoyo dengan lebih cepat selain dari obat-obat pria itu, maupun perawatan berkala yang diserahkan dokter kepadanya dan ibunya..Setahun kembali berlalu. Keadaan Shoyo semakin melemah.Sebelumnya, dia masih bisa berjalan-jalan di sekitar rumah dan membantu kegiatan rumah sesekali, tapi sekarang kakak laki-lakinya itu hanya bisa duduk dan berbaring, lalu bangun dari tempat tidurnya untuk ke toilet, itu pun harus dibantu ibu mereka ketika jam kerja Natsu masih berlangsung.Pada akhirnya mereka kembali konsultasi di rumah sakit untuk memperbaiki keadaannya, tapi pengobatan yang diberikan tidak mengubah kondisi kakaknya, begitu juga dengan ingatan pria itu yang semakin parah.Pria itu sudah tidak pernah lagi menyentuh ponselnya, begitu juga game yang sudah sering dimainkannya di tahun lalu. Dia sama sekali tidak mengingat Kenma dan mulai melupakan teman-temannya dari sekolah, maupun rekan setimnya.
Natsu masih ingat dengan panggilan akhir Shoyo dengan beberapa rekan setimnya yang mengadakan pertemuan, mengajaknya ikut dengan melakukan panggilan video hingga akhir dari reuni mereka, tapi telepon itu sudah lebih dari setengah tahun yang lalu."Kak, lihat siapa yang datang." Natsu tersenyum ceria, membuka pintu kamar kakak laki-lakinya dengan dua orang yang mengikuti.Shoyo melihat ke arah mereka dengan bertanya-tanya. "Siapa, Natsu?"Kageyama dan Yachi termasuk yang paling sering berkunjung ke rumah keluarga mereka. Selain karena mereka adalah beta, keduanya pun sama-sama belum memiliki anak dengan pasangan masing-masing dan secara tidak resmi menjadi perwakilan dari Karasuno.Sudah lebih dari setahun mereka datang untuk menjenguk Shoyo sekaligus membantu keperluan pria itu, tapi kakak laki-lakinya kadang melupakan nama mereka walaupun masih bisa mengobrol dengan akrab.Di saat-saat seperti itu, Natsu akan mendengar suara mereka yang mengobrol, sekaligus tawa Shoyo yang sudah jarang terdengar sekeras itu..Setahun yang lain kembali berlalu. Kali ini, kakak laki-lakinya dipindahkan ke rumah sakit yang sudah menjadi tempat yang paling sering dikunjunginya selama tiga tahun terakhir.Shoyo sudah tidak bisa beraktivitas seperti orang-orang biasa dan cuma bisa berdiam di tempat tidur. Natsu yang mendampingi hari-hari pria itu selama di rumah sakit, ibu mereka sudah terlalu tua untuk sering berkunjung dan ikut merawat selama berhari-hari, tapi ada alasan lain yang membuat ibunya memilih untuk mengikuti permintaan Natsu.Kakak laki-lakinya sudah tidak bisa mengingat mereka sebagai keluarganya.Ibu mereka merasa terlalu sedih untuk menghadapi Shoyo setiap waktu dan Natsu menyadari hal itu. Mereka sudah menyiapkan diri, tapi kenyataan jauh lebih menyakitkan dari perkiraan.Dia juga merasakan kesedihan, tapi lebih tidak sanggup untuk meninggalkan kakaknya sendirian. Apapun yang terjadi, mereka adalah keluarga dan pria itu sudah melakukan hal yang sama untuknya sejak dia masih kecil.Natsu menyayangi kakaknya sebesar Shoyo yang selalu mendukung apapun yang dilakukannya selama ini. Terutama dalam hal voli.Keduanya bisa menjadi bagian dari tim nasional dalam waktu yang tidak jauh berbeda dan mereka selalu menyemangati satu sama lain ketika tidak sengaja bertemu di antara jadwal yang padat.Sekarang, hal seperti itu mungkin tidak akan pernah terjadi lagi.Shoyo masih bisa tersenyum, tapi pandangan matanya tidak fokus dan suaranya menjadi lebih pelan. Dia juga memanggil Natsu sebagai Hinata, nama keluarga mereka dan terkesan formal, sama seperti panggilannya ke perawat rumah sakit lainnya.Walaupun Natsu mengenalkan diri sebagai adiknya, tapi kakak laki-lakinya itu cuma bisa menatapnya dan bilang kalau dia tidak bisa mengingat apapun soal itu."Kamu sama sekali tidak bisa mengingatnya, Kak?" Natsu bertanya dengan pelan.Dia kembali menggeleng. "Aku hanya tahu kalau kamu yang selalu merawatku selama di rumah sakit ini, Hinata-san. Selain para perawat lain yang sesekali datang menjenguk."Natsu tidak bisa mengatakan apapun, menahan sesuatu yang terasa berat di hatinya, tapi pria itu kembali berbicara dengannya."Aku tidak tahu kalau aku bisa mengatakan ini atau tidak, tapi kau bisa menganggapku sebagai kakakmu, Hinata-san." Dia tersenyum samar. "Meski aku tidak ingat apa-apa, tapi aku mengakui kalau kita lumayan mirip."Natsu berusaha untuk membalas senyumnya. "Aku selalu menganggapmu sebagai kakakku dan memang begitu adanya, tapi, terima kasih…."Dia pamit ke toilet umum setelah itu, meluangkan waktu untuk dirinya sendiri selama beberapa saat, lalu kembali ke kamar kakak laki-lakinya, berpura-pura kalau dia merasa baik-baik saja sepanjang hari.Beberapa hari berlalu, lalu minggu dan bulan.Suatu hari, Shoyo tahu-tahu saja terbangun di malam hari, tepat di saat Natsu akan tidur. Nama seseorang yang sudah lama tidak terdengar tahu-tahu saja keluar dari mulut kakak laki-lakinya."Kenma…."Natsu langsung terbangun dari posisi tidur dan melihat ke arah kakaknya. "Apa? Apa kakak ingat Kozume-san?"Dia melihat Shoyo yang menangis, tatapannya lurus ke langit-langit kamar dan tidak melihat ke arahnya.“Kamu … ke sini untuk menjemputku?" Dia kembali bicara sendiri. "Kenapa ada banyak lentera di belakangmu?”Natsu terdiam, melihat Shoyo yang hanya menatap ke satu arah, seiring bertumbuhnya sebuah ketakutan di dalam dirinya. Dia langsung menghubungi perawat yang berjaga, lalu mendengar kakak laki-lakinya kembali bicara.“Natsu.”Matanya melebar.Natsu segera mengalihkan perhatiannya kembali pada pria itu, yang akhirnya memanggil namanya setelah sekian lama. “Kakak, kamu mengingat—”Dia mengetuk jari Natsu, membuatnya segera meraih tangan kakak laki-lakinya dan menggenggamnya.Pria itu tersenyum. “Terima kasih untuk selama ini, Natsu. Beri salamku untuk ibu…. Aku menyayangi kalian. Selamat tinggal.”“Kakak—”Salah satu perawat datang untuk memeriksa keadaan Shoyo, tapi Natsu sudah melihat hembusan terakhir kakaknya dan merasakan tangan pria itu yang sudah tidak lagi membalas genggamannya.Dia sudah pergi.

↑ Top · Fandoms